TRUST YOU

Title : TRUST YOU

Genre: Romance

Rating: PG 15

Main Cast: Sehun, Yeonshin(OC)

Author: Fauzi Jung

Summary: Kau akan mencintai orang yang kau percaya sepenuhnya

 

Disclaimer: Ini FF buatan abangku tersayang. NO COPAS! Ini FF hanya aku share ulang soalnya aku suka cerita ini^^

 

Yeon Shin memandangi foto pernikahannya. Ia lalu beralih pada foto bersama teman-temannya saat di hari kelulusan dua bulan yang lalu. Yeon Shin menghela nafas. Ia sendiri seperti tak berpijak pada bumi saat menyadari kini dirinya sudah menyandang status sebagai istri dari mantan kakak kelasnya.

Yeon Shin menatap pintu yang menghubungkan pada balkon. Pintu itu terbuka sehingga membuat tirai-tirai yang terpasang pada pintu kaca itu sedikit tertiup angin.

 

Yeon Shin tanpa sadar berjalan menuju balkon. Lalu berhenti kaku menatap punggung seorang pria yang dua hari lalu mengucap janji suci untuk hidup berdampingan dengannya, selamanya.

 

Gadis berambut panjang itu memutuskan untuk berdiri tepat di samping suaminya.

 

“Apa yang kau suka dariku?”

 

Yeon Shin mengangkat wajahya. Terkejut mendengar lontaran pertanyaan itu di tengah dinginnya malam.

 

“Yang kusuka darimu?” alih-alih mencari jawaban yang tepat, Yeon Shin malah mengulang kalimat Sehun—yang kini berstatus seorang suami untuknya.

 

Sehun menghela nafas. “Ya. Kupikir semua orang mempunyai alasan mencintai seseorang. Atau setidaknya, kau memiliki alasan mengapa kau menerima perjodohan ini.”

 

Yeon Shin menelan ludah. Ia tak memiliki alasan. Bahkan saat ia mengetahui perjodohan ini dari neneknya, Yeon Shin tak merasakan apapun. Yeon Shin tak terkejut, tak senang, tak marah. ia hanya bingung. Mengapa ia harus dijodohkan dengan Sehun? Pria yang selalu membantunya mengerjakan soal-soal sulit disekolah. Juga merangkap sebagai pelindungnya dari gangguan teman-temannya.

 

“Sehun, aku tak memiliki alasan.” Ujar Yeon Shin akhirnya. Ia tertunduk takut-takut Sehun memarahinya atau apapun itu.

 

“Yeon Shin, ini masalah serius. Kau dan aku sudah menikah. Dan kau juga tahu aku masih memiliki pacar. Kau tidak keberatan dengan itu semua?” Sehun kini menatap wajah Yeon Shin dari pinggir.

 

Yeon Shin tersenyum samar. “Kau akan menginjak umur dua puluh tahun. Mungkin perjodohan ini sangat berat untukmu yang memiliki banyak teman untuk bersenang-senang. Tapi aku tidak mengerti apakah aku senang atau mungkin cemburu kepadamu. Atau keduanya. Aku hanya bingung. aku sekarang seorang istri dan aku tidak bisa memasak, tidak bisa bersikap dewasa, tidak bisa melakukan hal-hal ibu rumah tangga yang biasa eomma lakukan. Aku masih.. kekanak-kanakan.”

 

Sehun menghela nafas berat. Ia menjadi sangat bersalah. Ia tak tega melihat Yeon Shin menjadi sebegitu bersalahnya. Ia tak tahan melihat Yeon Shin mengungkapkan rasa bersalahnya. Ia sudah bosan mendengar semua pengakuan Yeon Shin. Menurut Sehun, Yeon Shin tak pernah bersalah. Yeon Shin lah yang memiliki hati semurni emas. Kecantikan hati Yeon Shin yang selalu menjadi alasan mengapa Sehun selalu sukarela membantu Yeon Shin memecahkan soal-soal sulit di sekolah. Sehun bahkan selalu melindungi Yeon Shin dari kenakalan anak-anak kurang ajar di sekolah dulu.

 

“Maafkan aku Yeon Shin.” Bisik Sehun.

 

Yeon Shin, si pemilik bola mata secerah matahari itu mengangkat kepalanya. Lalu menatap Sehun dengan senyumannya. “Kau tidak bersalah. Adat keluarga kita yang mengubah semua kesenanganmu. Seandainya orangtuamu tidak mengalami kecelakaan, kau mungkin bisa meminta membatalkan adat bodoh ini.”

 

Sehun menerawang langit. Ya.. mungkin saja orangtuanya bisa membantu mengelak perjodohan ini. Eomma mungkin akan mengeluarkan jurus merayunya pada kakek dan nenek. Dan menghilangkan adat bodoh ini selamanya.

 

Tapi mereka semua—orangtua Sehun—sudah pergi menghadap Tuhan. Kecelakaan satu bulan yang lalu seolah merenggut masa depan Sehun yang sudah direncanakannya. Sehun kini hanya bisa pasrah pada takdirnya. Sehun tak masalah menikah dengan Yeon Shin karena memang Yeon Shin gadis yang baik. Yeon Shin adik kelas yang sopan. Ia tak menyangka kakeknya dan kakek Yeon Shin memiliki perjanjian aneh sedunia.

 

Kakek Yeon Shin memang sudah meninggal. Tapi perjanjian itu akan terus hidup. Perjanjian akan menikahkan cucu pertama mereka.

 

Sehun menghela nafas. Ia memeluk Yeon Shin, merengkuh tubuh mungil Yeon Shin kedalam kehangatan tubuhnya. “Aku menyayangimu, Yeon Shin. Kau harus ingat.”

 

Yeon Shin yang terkejut dengan pelukan dari Sehun, kini lebih terkejut mendegar kalimat yang baru saja terlontar tulus dari mulut Sehun. Otak Yeon Shin berputar mencari kalimat yang pas untuk membalas pengakuan Sehun, tapi ujungnya, ia malah memeluk Sehun lebih erat lagi.

 

*** ***

 

Yeon Shin menatap tumpukan bukunya. Besok ujian dan Ia harus semangat! diliriknya jam dinding yang menunjukkan jam sembilan malam.

 

Sudah satu tahun ia hidup di bawah satu atap bersama Sehun. Dan sudah setahun pula mereka merahasiakan tentang kekasih Sehun dari sanak saudara mereka.

 

Yeon Shin bersandar pada kursinya. Ia sebenarnya tidak suka jika Sehun harus tertawa bersama gadis itu. Hyun Ae Eonni memang gadis berlesung pipi yang sangat memesona. Ia sangat cantik dan pintar. Hyun Ae Eonni pernah mengunjungi rumah Yeon Shin dan Sehun satu kali. Dan itu membuat kenangan terburuk yang pernah ada.

 

Yeon Shin menatap ponselnya, gusar ingin menelfon Sehun. Tapi bagaimana jika Sehun sedang bersama Hyun Ae Eonni?

 

Dengan setengah hati, Yeon Shin mencoba menelfon Sehun. Dua menit kemudian hanya hentakan kaki yang terdengar di ruangan remang itu. “Dimana Sehun? Apa dia sudah makan?” gerutu Yeon Shin. Sehun jelas tak menjawab telfonnya.

 

Yeon Shin tak pernah menggunakan kata sopan untuk memanggil Sehun. Sehun yang memintanya. Tapi Hyun Ae boleh memanggil Sehun dengan sebutan Oppa. Itu membuat Yeon Shin sedikit cemburu.

 

Yeon Shin kembali menelfon Sehun. Tapi hasilnya sama. Tak diangkat. “Akan kutelfon sepuluh menit lagi.” Ucap Yeon Shin sambil memegang erat ponselnya.

 

Yeon Shin awalnya tak merasakan apapun pada Sehun. Ia tak pernah merasakan emosi yang membuat jantungnya berdebar-debar. Tapi semenjak Sehun selalu memeluknya sebulan terakhir ini, Yeon Shin merasakan sesuatu yang menggelitik jiwanya. Ia bahkan takut Sehun mendengar debar jantungnya.

 

Sehun sedikit manja pada Yeon Shin belakangan ini. Yeon Shin tak keberatan jika pagi-pagi sekali ia harus memeluk Sehun sebelum berangkat menuju kampus. Yeon Shin dan Sehun memang berbeda universitas. Yeon Shin sendiri bingung mengapa Sehun selalu mewanti-wantinya untuk tidak mendekati laki-laki lain. Padahal toh Yeon Shin membiarkan Sehun berpacaran dengan Hyun Ae.

 

Yeon Shin sedikit terlonjak mendengar suara deringan dari ponselnya. Ia merasa berdebar karena pikirannya langsung berpusat pada Sehun sepenuhnya.

 

Tapi betapa kecewanya ia saat melihat nama di layar ponselnya bukan Sehun. Melainkan Ibunya.

 

“Yeoboseyo.” Ujar Yeon Shin dengan suara mengecil.

 

Sayang? Kukira kau belum tidur. Dimana Sehun hm? Apa dia baik-baik saja?” suara Eommanya yang lembut menyembuhkan kekecewaan Yeon Shin.

 

“Eomma! Mengapa kau tak menanyai putrimu dulu?” Yeon Shin cemberut kesal.

 

“Hahaha. Baiklah, baiklah. Lagi pula aku selalu tahu kau hidup bahagia bersama dengan Sehun. Bukankah begitu?”

 

Yeon Shin terhenyak. Ia memang bahagia. Tapi selalu diliputi rasa cemburu yang makin waktu makin dalam jika mengingat Sehun masih memiliki kekasih. “Tentu Eomma. Aku selalu bahagia disisni.”

 

“Jadi, mana Sehun? Aku ingin bicara sebentar dengannya.”

 

Tiba-tiba saja kecemasan menyadari Yeon Shin. Ia kembali menatap jam. Hampir jam setengah sepuluh. Ia tak tahu harus berkata apa pada Ibunya.

 

“Ng.. Sehun sedang dikamar mandi. Baru saja ia masuk ke kamar mandi. Kau bisa menghubunginya besok, Eomma.” Bohong Yeon Shin.

 

“Kau tidak memasak racun kan? Hahaha. Baiklah akan kuhubungi besok.”

 

“Aah, Eomma! Tentu tidak! Aku memang tidak bisa memasak—tapi aku belajar memasak, tenang saja.”

 

Derai tawa Eommanya terdengar oleh Yeon Shin. “Tidurlah yang nyenyak Yeon Shin-ku sayang. Selamat malam.” Eomma Yeon Shin menutup pembicaraan malam itu. Yeon Shin hanya bisa terpaku dengan wajah masih mendongak menatap jam dinding.

 

“Ya, Eomma. Selamat malam.” Tiba-tiba saja ia merasa takut sekarang. Sehun melanggar janjinya sendiri. Sehun dan Yeon Shin memang membuat peraturan tak ada yang keluar rumah sendirian lewat jam sembilan malam. Dan kini, Sehun belum pulang juga.

 

Dengan cepat, Yeon Shin menelpon Sehun. Yeon Shin segera tersenyum senang saat panggilannya di jawab oleh Sehun.

 

“Yeoboseyo.”

 

Yeon Shin tertegun. Ia ingin mendengar suara Sehun. Tapi Itu suara Hyun Ae Eonni! Dimana Sehun?! Tiba-tiba saja wajah Yeon Shin terasa panas.

 

“Y-Yeoboseyo.” Yeon Shin tergagap.

 

“Yeon Shin? Apa itu kau?” Hyun Ae membalas di sebrang sana.

 

“N ne. Ini aku. Apa Sehun.. bersamamu?” Yeon Shin mencoba untuk tenang. Tapi ia tak bisa! Bibirnya sudah bergetar dan sesuatu tengah menyumbat tenggorokannya hingga membuatnya tiba-tiba saja tercekik. Tercekik oleh perasaannya sendiri.

 

“Ne. Sehun bersamaku.” Terdengar helaan nafas dari sebrang sana. “Dia sedang tidur.”

 

Mata Yeon Shin membulat sempurna. Apa? Tidur?! Tapi dimana??

 

“Jangan bangunkan dia Eonni. Ia pasti sangat lelah.” Yeon Shin bahkan tak menyadari ia telah berkata sebegitu entengnya. Ia ingin berteriak. Sehun miliknya! Bukan milik perempuan itu!

 

“Tentu saja Yeon Shin. Kasurku sangat nyaman sehingga kau tak perlu khawatir.” Hyun Ae sedikit terkekeh pelan.

 

Yeon Shin membeku. Sehun sedang berdua bersama perempuan itu dikamar! Dan Sehun tertidur di ranjang yang dimiliki oleh Hyun Ae! Segera saja pandangan Yeon Shin menjadi kabur akibat air matanya yang tiba-tiba saja mencuat keluar tanpa izin.

 

“Aku akan tutup telfonnya, Hyun Ae Eonni.” Hanya itu kata-kata yang sanggup dikeluarkan Yeon Shin.

 

“Baiklah. Selamat malam Yeon Shin-ah.”

 

Yeon Shin tak menjawab. Ia menurunkan tangannya dan membiarkan ponselnya terjatuh diatas lantai berkarpet tebal. Ia tak sanggup berkata-kata. Yeon Shin menangis dalam diam. Sehun tidur di ranjang perempuan itu!

 

Tiba-tiba saja dada Yeon Shin merasa sangat sakit. Ia bahkan sudah menekan dadanya agar tak terlalu terisak malam itu. Tapi Yeon Shin tak mampu melawan hatinya. Hatinya seakan hancur dan ia merasa sangat dikhianati. Ia merasa sangat dibodohi.

 

Yeon Shin mengepalkan tangannya kuat-kuat. Membiarkan air matanya terus mengalir. Ia tak sanggup mengatakan sesuatu. Yang ia tahu ia sudah terjebak dalam diri Sehun. Ia sudah terkunci pada pria itu. Ia mencintainya!

 

“Aku.. aku mencintaimu Sehun.. aku mencintaimu!” Yeon Shin terjatuh dari tempat duduknya. Ia menangis dan terus menangis. Berharap mendapat ketenangan setelah meluapkan segala emosinya malam itu.

 

*** ***

 

Mata Yeon Shin terbuka pelan-pelan. Ia mendapati dirinya sudah berada di atas kasur. Padahal, setahu dirinya ia tak tidur di kasur. Ia menunggu Sehun sambil menangis seperti orang gila di atas karpet tebal ruang belajarnya. Apakah Sehun yang memindahkannya?

 

Yeon Shin merasa kepalanya sangat pening. Ia melirik jam. Lalu teringat pada ujiannya. Matanya segera membulat saat sadar ini sudah jam sepuluh pagi. Ujiannya dimulai jam delapan pagi ini dan ia masih berada di ranjang?

 

“Ya Tuhan!” Yeon Shin terpekik. Ia mencoba terbangun tapi yang ia dapati hanya rasa pusing yang berdenyut tak sopan di kepalanya.

 

Sehun datang dengan sebuah baki ditangannya. “Selamat pagi tuan puteri!” ucap Sehun berseri-seri. Yeon Shin menatap semu Sehun dan segala perlakuannya.

 

“Aku ada ujian jam delapan pagi.” Ujar Yeon Shin datar.

 

“Kau ujian dengan matamu yang bengkak itu? Tidak lucu Yeon Shin. Lagi pula.. kau sepertinya kurang tidur. Maafkan aku telah membuatmu menunggu malam tadi, Yeon Shin.” Sehun berkata sungguh-sungguh.

 

Yeon Shin tak mempercayai penglihatannya, apalagi pendengarannya. Sehun berkata seolah-olah ia tak melakukan kesalahan besar. Yeon Shin lalu menyadari sesuatu. Mungkin dirinya terlalu berlebihan. Ya, Aku memang terlalu berlebihan.Yeon Shin merutuk dalam hati.

 

“Terima kasih makanannya Sehun.” Ucap Yeon Shin menyerah. Kalah karena rasa cintanya. Ia tak pernah kuat berteriak di depan Sehun. Ia tak akan pernah kuat marah pada laki-laki berwajah polos itu.

 

“Aku mungkin akan sembuh kalau kau tak menatapku seperti itu.” Ucap Yeon Shin spontan. Ia  merasa risih dengan tatapan Sehun yang seakan meneliti wajahnya dengan lekat-lekat.

 

“Aku menikmatinya Yeon Shin. Kau cantik sekali pagi ini.” Sehun sendiri tak sadar sudah berkata seperti itu pada Yeon Shin.

 

Yeon Shin menahan rona pipinya yang mungkin saja sudah terlihat saat ini. “kau tidak kuliah?” Yeon Shin mengalihkan pembicaraan.

 

“Aku mau menemani tuan puteriku.” Ucap Sehun sambil tersenyum. Ia dengan hati-hati menyuapi Yeon Shin.

 

“Kau aneh hari ini.” Yeon Shin berkata jujur. Sehun menangkap raut heran Yeon Shin dan ia tertawa melihatnya.

 

“kau mengataiku aneh setelah aku memujimu cantik. Kurasa itu balasan yang menggelikan Yeon Shin.” Sehun kembali menyuapi Yeon Shin disusul tawa kecilnya. Sehun yang mendadak jail menarik kembali sendok saat Yeon Shin membuka mulut siap melahapnya. Sehun kembali tertawa penuh kemenangan.

 

“Tidak lucu tahu!” Yeon Shin melipat tangannya. Mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Tak mau membukanya meski ujung sendok yang disodorkan Sehun sudah menyentuh bibirnya.

 

“Oh, ayolah Yeon Shin.. kau ini seperti anak kecil saja.” Sehun terkikik memandangi Yeon Shin yang sedang cemberut.

 

Yeon Shin menggeleng kuat-kuat. Matanya menatap penuh menantang pada Sehun. Ia lalu beralih menidurkan tubuhnya diatas kasur dan menutupi tubuhnya dengan selimut.

 

Sehun sendiri jadi merasa sangat geli mendapati istrinya begitu lucu di pagi ini. ia menyimpan mangkuk bubur di atas meja dan memutuskan untuk ikut berbaring di sebelah Yeon Shin. Ia tak mempedulikan Yeon Shin yang memunggunginya.

 

Yeon Shin sendiri merasakan Sehun di sebelahnya. Ia tak mengerti mengapa Sehun sangat aneh. Ia bahkan menjadi sangat berdebar dan merasa geli pada punggungnya.

 

Tiba-tiba saja tangan itu akhirnya memeluk Yeon Shin. Sehun memeluknya! Yeon Shin menjadi tegang dan tak dapat mengendalikan dirinya. Ia hanya bisa terdiam di posisinya dan tak berniat melakukan hal-hal lainnya.

 

“Cepat sembuh Yeon Shin.” Bisik Sehun penuh harapan dan dukungan. Ia membenamkan kepalanya pada rambut Yeon Shin. Sehun merasa sangat nyaman memeluk Yeon Shin. Seolah-olah energi baru menyelimuti hatinya dengan hangat.

 

Yeon Shin mulai merasa nyaman. Ujung bibirnya terangkat keatas penuh keyakinan. Ia percaya Sehun juga mencintainya. Meski kata itu tak pernah keluar dari mulut Sehun secara terang-terangan untuknya.

 

 

*** ***

 

Ini sudah jam tujuh pagi. Tapi Yeon Shin malah duduk cemas di atas ranjang. Memegang tangan Sehun erat. Badan Sehun panas. Baru saja ia mendapati suhu 40 derajat dari termometer yang baru saja mengukur suhu tubuh Sehun.

 

Yeon Shin sangat takut. Ia tak bisa menghubungi dokter karena Sehun memintanya begitu.

 

“Yeon Shin.” Suara Sehun melemah. Matanya sedikit membuka. Ia sedikit tersenyum mendapati Yeon Shin di sebelahnya.

 

“Sehun, aku memang tidak bisa memasak. Tapi aku sangat pandai membuat bubur. Kau makan ya?” Yeon Shin dengan cepat mengambil mangkuk bubur dari atas meja.

 

Yeon Shin membantu Sehun menata bantal agar bisa menjadi sandaran Sehun untuk duduk. Sehun dalam diam menerima semua perlakuan Yeon Shin terhadapnya. Ia memakan bubur yang disodorkan Yeon Shin. Matanya lekat-lekat menatap wajah istrinya. Tersirat kekhawatiran yang besar di mata Yeon Shin.

 

“Kekebalanmu buruk sekali Sehun. Kau cepat sekali tertular demamku. Aku sembuh dan kau sakit. Lucu sekali.” Yeon Shin memecah keheningan.

 

Sehun sedikit terkekeh. “Aku akan selalu merasakan apa yang kau rasakan Yeon Shin.”

 

Yeon Shin masih mencerna perkataan Sehun. Apa Sehun juga merasakan kecemburuannya selama ini? Yeon Shin berpikir ragu.

 

“Aku selalu percaya padamu Sehun.” Yeon Shin tersenyum yakin.

 

Sehun menatap wajah Yeon Shin yang kini berseri itu. Jauh dalam lubuk hatinya, Sehun merasa sangat pengecut tak mampu mengeluarkan segalanya untuk Yeon Shin.

 

“Sehun, boleh kutelfon Hyun Ae Eonni? Kurasa itu akan membuatmu lebih membaik.” Ucap yeon Shin pelan. Sangat pelan.

 

Sehun terkejut. Ia bahkan tak ingat pada gadis berlesung pipi itu. Ia hanya ingin ditemani oleh Yeon Shin saja saat ini. tapi entah mengapa kepalanya mengangguk pelan. Membuat Yeon Shin mau tak mau segera mengambil ponsel dan menelfon Hyun Ae.

 

Sehun menyuruh Yeon Shin untuk me-loud speaker ponselnya.

 

“Yeoboseyo.” Yeon Shin berucap hati-hati.

 

“Ya. Siapa ini?” tersengar suara serak dan yang membuat terkejut Yeon Shin maupun Sehun adalah, suara itu suara laki-laki.

 

“A-apakah Hyun Ae Eonni ada?” ucap Yeon Shin di tengah kekagetannya. Ia melirik Sehun yang sepertinya menahan nafas—Tak mau menerka apa yang terjadi di sebrang sana.

 

“Yun Ae-ku masih tertidur. Siapa ini?Akan kusampaikan pesanmu nanti jika kekasihku sudah bangun.”

 

Yeon Shin melebarkan matanya. Yun Ae-ku? Kekasih? Pikirnya merasa marah.

 

“Ini..Yeon Shin. Katakan padanya-“ Yeon Shin kaget saat ponselnya tiba-tiba direbut oleh Sehun dan langsung dilemparnya kearah meja. Sehun terlihat kesal dan terlihat tersengal-sengal. Yeon Shin hanya bisa menunduk, menatap semangkuk bubur di tangannya.

 

“Aku lapar.” Hanya itu yang keluar dari mulut Sehun.

 

*** ***

 

Sudah jam dua belas siang. Sehun sedang duduk di sofa sambil menonton TV. Menunggu Yeon Shin memasak bubur. Ia tak menyangka Yeon Shin bisa memasak bubur sangat lezat. Mungkin ia akan menyuruh Yeon Shin membuka kedai bubur nantinya. Sehun terkikik sendiri menyadarai pemikirannya yang aneh itu.

 

Ting.. Tong.. *bel rumah kek apa sih?-_-* /apa ini author nongol2-_-

 

Sehun mendongak. Menatap pintu rumah dan beralih pada TV. Ia kemudian mendengus, ia tak mau menggangu pekerjaan Yeon Shin yang sedang membuatkan makanan untuknya. Dengan malas, ia berjalan membuka pintu.

 

Yeon Shin yang masih asyik mengamati panci buburnya, tersadar ada tamu yang datang. Ia lalu beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju pintu utama. “Sehun, biar aku yang membukanya.” Ujarnya cepat-cepat saat Sehun berjalan mendekati pintu.

 

“Tak usah. Aku saja,” balas Sehun sambil membuka pintu.

 

Betapa terkejutnya Sehun. Hyun Ae berdiri disana sambil menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Sehun merasa ini lucu. Tadi pagi ia dan Yeon Shin baru memergokinya sedang bersama seorang laki-laki yang entah siapa itu.

 

“Mau apa kau?” seru Sehun tajam.

 

Yeon Shin yang berdiri di belakang Sehun menagkap atmosfer yang mengerikan disini. “Hyun Ae Eonni! Ayo masuk dulu,” cerocos Yeon Shin berusaha ramah. Padahal hatinya ingin sekali menjambak rambut perempuan kurang ajar itu.

 

Hyun Ae sedikit tersenyum.

 

“Ini rumahku bersama Yeon Shin. Dan aku kepala keluarga disini, dan sebagai kepala keluarga, aku menegaskan kau untuk tak menginjak lagi kawasanku bersama istriku Yeon Shin!” Sehun berucap tegas dan penuh penekanan terhadap Hyun Ae yang sedang terpaku di tempatnya.

 

“Aku.. aku bisa menjelaskan semuanya Oppa!” Hyun Ae akhirnya berucap.

 

“Tidak Hyun Ae. Kau menghianati kepercayaan Yeon Shin padamu. Yeon Shin percaya padamu! Tapi kau malah bermain busuk di belakangku dan Yeon Shin! Kau menjijikkan!” Sehun berteriak.

 

Yeon Shin sedikit melebarkan matanya. Tubuhnya menjadi tegang dan ia tak percaya bahwa kata-kata itu keluar dari mulut Sehun. Ada rasa bahagia yang perlahan mengangkatnya menuju padang bunga. Ia kini sangat percaya bahwa Sehun benar-benar mencintainya.

 

“Oppa! Tolong dengarkan aku! Maafkan aku telah memberimu obat tidur kemarin! Kau tahu aku sangat iri pada Yeon Shin karena dia bisa memilikimu selamanya! Sedangkan aku—kekasihmu—tak akan pernah bisa mendapatkan itu semua! Aku mencintaimu Oppa!” isak Hyun Ae.

 

Yeon Shin terhenyak mendengar ungkapan Hyun Ae. Ia menjadi merasa masih terlalu kecil mengetahui masalah seperti ini yang merumitkan. Ia tak mengerti mengapa Hyun Ae bisa mengucapkan kata seperti itu pada Sehun.

 

“Pergi dari rumahku Hyun Ae. Kita tak ada hubungan apa-apa lagi sekarang. Aku ingin hidup bersama Yeon Shin. Aku mencintai Yeon Shin.” Sehun mengakhiri pembicaraan dengan datar. Ia menutup pintu perlahan dan tak menghiraukan tangisan Hyun Ae.

 

“Sehun..” Yeon Shin berdiri kaku. Ia masih mencerna drama singkat itu di kepalanya.

 

Sehun berbalik dan memeluk Yeon Shin. “Aku mencintaimu Yeon Shin. Aku akan terus mencintaimu.. maafkan aku yang terlambat menyadarinya..” bisik Sehun sepenuh hati.

 

Yeon Shin mengeratkan pelukannya. Ia sudah tahu Sehun pasti mencintainya. Ia akan selalu percaya pada Sehun. Karena dengan percaya, walaupun itu pahit, Yeon Shin tahu semua akan berbalas mempercayainya juga. Karena kehidupan ini hanya soal mengerti dan percaya..

 

 

-THE END-

 

Atas nama Bang Ozi, saya sebagai adik mohon maaf bila ada typo menyebar di FF Trust You. Hanya menegaskan, mengapa saya mengirim ini karena Abang saya itu orangnya pemalu -_- dia post ini di FB dan walhasil accountnya ia tinggalkan begitu saja. Saya nemu file ini di laptopnya abang ._. trus saya copy in ke laptop saya ._. hehehe. Ada banyak cerita Bang Ozi yang udah aku simpan di folder laptop saya ._. yang berminat membaca hubungi twitter saya^^

Terima kasih atas waktunya untuk membaca tulisan ini J semoga bermanfaat J

Iklan

14 pemikiran pada “TRUST YOU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s