White Love (Chapter 3)

Author: @diantrf

Tittle: White Love

Cast:

Kim Joonmyun/Suho (Exo)

Wu Yifan/Kris (Exo)

Xiao Luhan (Exo)

Oh Sehun (Exo)

Angelina Whiteny (OC)

Shinoda Tenshi (OC)

Xian Tianshi (OC)

Park Cheonsa (OC)

Others

Genre: Romance, Fantasy, Drama

Rating: T

Length: Chaptered

Notes: Hanya fiksi. Jangan terlalu terbawa dalam cerita.

DC:

OC keseluruhan milik author. FYI, Angel, Tenshi, Tianshi, dan Cheonsa memiliki kesamaan arti yaitu malaikat. Dan cast Exo milik dirinya dan semuanya, author hanya pinjam nama. Because my fiance’s still Baekhyun.

 

Summary:

White love. Like an angel with her mystery, hm?

0o0

Exo’s Dorm, December 25th 2012

Seluruh member Exo baru saja pulang dari gereja. Angel yang sedang membersihkan sofa terkejut karena tiba-tiba ada lengan liar yang melingkar di pinggangnya, dan seperti ada beban di lehernya. Namun tak sampai sedetik, ia tersenyum dan mengusap tangan itu.

 

“Kau membuatku terkejut oppa.” ucap Angel pelan. Orang itu, Suho, hanya tersenyum dan masih betah meletakkan kepalanya di leher Angel.

 

“Aku lelah.” ucap Suho. Angel melepas tangan Suho dari pinggangnya dan menarik Suho untuk duduk di sofa.

 

“Kalian semua pasti lelah. Aku buatkan cokelat hangat dulu ne?” Angel tersenyum pada semua member yang baru saja mendaratkan tubuhnya di sofa terdekat.

 

“Aku ikut.” dan Dio langsung berjalan mengejar Angel menuju dapur.

 

 

Tian terlihat sangat berseri hari ini. Sejak tadi ia enggan melepaskan tautan tangannya dengan Luhan. Tian terlalu senang. Luhan kembali. Apa yang ia takuti belum terjadi. Ya, setidaknya belum terjadi sekarang.

 

“Kalian lengket sekali seperti diolesi lem.” ceplos Xiumin yang hanya dibalas senyuman dari Tian. Luhan pun juga merasa ada yang aneh dengan Tian. Tak biasanya Tian ‘menempel’ padanya seperti ini.

 

“Apa ada sesuatu? Kau berbeda hari ini.” tanya Luhan lembut. Tian malah menaruh kepalanya di pundak Luhan. Jika saja Luhan tidak dalam keadaan bingung mungkin ia sudah tersenyum lebar saat ini.

 

“Aku hanya senang masih bisa merayakan natal tahun ini bersama gege dan yang lainnya.” jawab Tian tenang. Walaupun itu hanya alasan semata.

 

 

Tian benar-benar panik dan hampir saja menangis kemarin malam saat Luhan tiba-tiba tak sadarkan diri. Namun, sebuah keajaiban, Luhan masih dapat bangun dengan wajah sumringah tadi pagi dan itu membuat hati Tian sedikit tenang. Ia belum kehilangan Luhan.

 

Dan Tian sangat bersyukur atas hal itu. Ia masih bisa menikmati indahnya natal bersama orang yang ia cintai. Pria yang selalu membuat hatinya nyaman. Pria yang selalu ada untuknya.

 

“Benarkah? Aku juga sangat senang bisa merayakan natal tahun ini denganmu. Semoga seterusnya seperti ini.” Luhan tersenyum sangat manis, dan entah mengapa hal itu membuat senyuman Tian sedikit memudar. Tian sadar, hal seperti ini harus ia nikmati. Sesingkat apapun momentnya bersama Luhan harus ia syukuri.

 

 

Sehun masih setia merangkul Cheonsa. Memang sejak pagi tadi Cheonsa mengeluh jika ia kedinginan, dan itu membuat Sehun tak melepaskan rangkulannya dari Cheonsa. Wajahnya yang putih susu itu terlihat semakin putih, atau bisa dibilang pucat.

 

Sehun menyelimuti Cheonsa dengan sweaternya. Kepala Cheonsa bersandar di dadanya. Begitu sampai dorm Cheonsa langsung duduk dan ternyata tertidur. Sehun ingin memindahkan Cheonsa ke kamar namun takut membangunkan gadis itu. Alhasil, Sehun seakan menjadi bantal favorit Cheonsa.

 

“Cheonsa sepertinya sangat lelah.” ucap Chen yang menunjukkan sirat khawatir. Sehun hanya memandang Cheonsa menerawang.

 

“Tak biasanya Cheonsa sakit seperti ini. Aku khawatir hyung..” Sehun mengusap rambut Cheonsa sayang. Mencoba membuat gadis itu nyaman dalam tidurnya.

 

“Kau tidur di kamarnya kan semalam? Apakah ia tidur dengan nyenyak?” tanya Baekhyun. Sehun mencoba mengingat wajah Cheonsa tadi malam sebelum tidur.

 

“Ia masih bisa tersenyum padaku, walaupun pipinya merah seperti orang demam dan bibirnya agak pucat. Dan sepertinya ia tidur dengan baik” ucap Sehun dengan wajah seakan ia mengingat suatu hal yang penting.

 

 

Hening…

 

 

“Ngomong-ngomong soal tidur.. Seingatku tadi malam aku tertidur di meja makan. Kenapa ketika bangun aku berada di kamar Luhan oppa dan Minseok oppa?” tanya Tenshi dengan wajah polosnya yang lucu.

 

“Siapa yang memindahkanku?” semuanya diam, tak ada yang menjawab. Karena mereka memang tidak tahu siapa yang memindahkan Tenshi ke kamar.

 

Kris dengan wajah polos tanpa dosa hanya terdiam. Ia tak ingin mengaku. Dan beruntungnya, tadi pagi ia bangun lebih dulu dari Tenshi, sehingga Tenshi tak kaget melihat Kris ada disampingnya. Jika Tenshi tahu, mungkin pagi tadi telah terjadi gempa bumi akibat teriakan Tenshi.

 

Tenshi yang merasa diacuhkan para oppanya jadi kesal dan memutuskan untuk pergi dari ruang tamu, menuju balkon. Tempat favoritnya untuk menyendiri.

 

 

“Tenshi ngambek.” gumam Kai. Xiumin yang sedaritadi memikirkan sesuatu kini membulatkan matanya dan memandang Kris curiga.

 

“Pasti Kris yang memindahkan Tenshi.” ucapnya yakin. Semua orang langsung menatap Kris yang masih menunjukkan wajah polosnya.

 

“Pemikiran yang tepat sasaran.” ucap Kris singkat, padat, dan tidak jelas. Semuanya hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan leader mereka.

 

“Kenapa kita punya dua leader yang sifatnya sama-sama aneh?” gumam Chanyeol yang disambut anggukan Baekhyun.

 

Beruntungnya Suho dan Kris tak mendengar ucapannya. Mereka terlalu larut dalam pikirannya masing-masing. Angel dan Dio datang membawa cokelat hangat untuk mereka semua. Sehun membangunkan Cheonsa yang sedaritadi tertidur.

 

“Minum dulu, nanti Cheonsa tidurnya di kamar ne?” ucap Sehun lembut. Cheonsa tersenyum dan meminum cokelat miliknya.

 

“Kemana Tenshi?” tanya Angel yang kini sudah duduk disamping Suho, lebih tepatnya terpaksa, karena Suho langsung menarik tangan Angel untuk duduk disebelahnya. Childish, tapi begitulah Suho jika sudah menyangkut tentang Angel.

 

Kris hendak bangkit dari duduknya untuk mencari Tenshi. Namun naas..

 

“Biar aku yang mencarinya.” ucap Lay sambil mengambil dua gelas cokelat hangat, yang pasti salah satunya untuk Tenshi.

 

Kris menatap kepergian Lay dengan sorot bingung. Sebegitu perhatiannyakah Lay dengan Tenshi?

 

 

Hidup tak akan seru tanpa hadirnya konflik. Entah hal sepele ataupun besar.

 

0o0

Tenshi masih termenung melihat salju yang turun titik demi titiknya. Ia semakin bingung dengan apa yang terjadi semalam. Ia masih menerka-nerka siapa orang yang memindahkannya ke kamar. Apa mungkin..Kris? Hanya Kris yang ada dipikirannya saat ini. Siapa lagi memangnya kalau bukan Kris?

 

Tenshi menghela napas lelah. Ia kini semakin bingung dengan Kris. Segala macam perlakuan pria itu padanya. Ia bingung. Ia masih merasakan adanya keganjilan antara dirinya dan Kris. Ia merasa sangat dekat dengan Kris, namun dengan artian ‘dekat’ yang tak dapat ia definisikan sendiri apa maksudnya.

 

“Kris hyung yang memindahkanmu tadi malam.” ucap sebuah suara dibelakangnya. Dan wajah Lay nampak jelas dalam mata abu-abu gadis itu.

 

“Lay oppa. Gomawo.” Tenshi menerima minuman pemberian Lay. Sekali lagi, Tenshi menarik napas lelah. Ternyata dugaannya benar.

 

“Kenapa ia tadi tidak mengaku?” tanya Tenshi dengan wajah kesalnya yang lucu. Lay tersenyum dan mengacak rambut Tenshi sayang.

 

“Mungkin ia tak ingin kau tahu. Nah, kau sedang apa disini hm? Hari ini sangat dingin.” Lay mencubit pipi Tenshi. Tenshi tersenyum. Oppanya satu ini selalu membuatnya nyaman. Selalu? Tanpa seorangpun tahu, Lay dan Tenshi selama ini sangat dekat. Namun hanya kedekatan antara adik dan kakak, tak lebih.

 

“Aku hanya menjernihkan pikiran saja disini. Ah, selamat natal oppa!” Tenshi tersenyum dan memberikan sebuah kalung persahabatan dengan liontin setengah hati. Lay membulatkan matanya.

 

“Untukmu. Karena aku tadi sedang kesal jadi aku lupa memberkan ini pada oppa. Terimakasih karena telah menjadi oppa yang terbaik untukku. Lihat, aku juga punya pasangannya.” Tenshi mengeluarkan kalung milliknya. Lay tersenyum.

 

“Terimakasih. Pejamkan matamu, dan kemarikan tangan kirimu.” ucap Lay pelan. Tenshi menurut dan memejamkan matanya.

 

Lay membentuk kalung milik Tenshi untuk dijadikan gelang, dan dipakaikan di pergelangan tangan kiri Tenshi. Dan, ternyata Lay juga memberikan sebuah gelang persahabatan untuk adik kesayangannya ini. Lalu tanpa disangka..

 

Mata Tenshi terbuka dengan otomatis begitu merasakan sesuatu menyentuh puncak kepalanya. Lay menciumnya, menghirup harum rambutnya. Tenshi kaget, terpana, dan entah apa lagi yang ia rasakan saat ini. Tangan Lay membawa Tenshi kedalam pelukannya. Pikiran Tenshi buyar. Ia tanpa sadar membalas pelukan Lay. Nyaman dan hangat.

 

“Selamat natal juga dongsaeng kesayanganku. Lihat tanganmu, dan oppa juga punya pasangannya.” Lay tersenyum sambil mengangkat tangannya yang terdapat gelang persahabatan pasangan milik Tenshi.

 

“Jaga gelang itu baik-baik. Kalung ini akan selalu oppa pakai. Sekali lagi terimakasih.” Lay tersenyum lalu pergi meninggalkan Tenshi yang masih terpaku di tempatnya.

 

“Lay oppa..” gumam Tenshi pelan. Ia tak menyangka bahwa Lay akan melakukan hal semanis itu padanya. Kini ia semakin bingung.

 

“Zhang Yixing. Wu Yifan. Sebenarnya kalian makhluk apa?” lirih Tenshi pada salju yang mulai turun semakin deras.

 

Tanpa Tenshi sadar, ada sepasang mata yang melihat adegan manisnya dan Lay. Dan orang itu pergi, seolah ia hanyalah bayangan angin. Yang sama-sama kita ketahui bahwa angin itu tak mempunyai bayangan.

 

 

Hal tersembunyi selalu memiliki dua kemungkinan. Bisa jadi baik, bisa jadi tidak baik.

 

0o0

Seoul, April 20th 2013

 

Keramaian nampak terlihat di salah satu ruangan yang terdapat di dalam sebuah gedung tinggi di seputaran Seoul. Beberapa orang masih asik dengan kegiatannya sendiri sambil duduk menunggu seseorang datang. Terlihat empat gadis diantara mereka memasang wajah yang entahlah apa yang tersirat di dalamnya. Sedih? Kecewa? Atau takut?

 

Perlu dipertegas sedikit, bahwa kabar Exo yang akan comeback sebentar lagi menuai beberapa pendapat dari khalayak ramai. Ada yang senang, ada pula beberapa haters yang semakin membenci mereka. Entahlah, itu hanya pendapat pribadi tiap orang.

 

Seseorang yang telah dinanti pun akhirnya masuk dan segera duduk di tempatnya. Keenam belas orang itu langsung membungkuk hormat dan ikut duduk di tempat semula. Hawa tegang menyelimuti mereka. Bahkan salah satu dari keempat gadis itu sudah hampir mengeluarkan air matanya.

 

“Kurasa kita sama-sama tahu tujuan kita berkumpul disini.” ucap seorang lelaki berumur itu tegas. Salah satu personil yaitu sang leader, Suho, hendak menjawab kalimat barusan.

 

“Tapi sajangnim, bukankah Exo memang project group gabungan? Lalu apa yang mendasari perubahan formasi ini? Kami baik-baik saja dengan formasi ini dalam debut sebelumnya.” ucap Suho sopan. Magnae mereka, Tian, kini sudah membenamkan wajahnya dipelukan Luhan. Ia benar-benar tak menginginkan hal ini terjadi.

 

“Memang benar. Tapi itu pada awalnya. Seperti yang kita ketahui bahwa konsep terbaru kalian bisa dibilang lebih manly, dan kurasa para gadis akan kesulitan dalam hal koreografi dan tata letak konsep.” pria berumur itu masih tenang di tempatnya. Menatap anak asuhannya satu per satu.

 

“Lalu bagaimana? Kami tak akan melepas siapapun disini. Tak bisakah mencari jalan keluar lain?” Baekhyun angkat bicara. Lee sajangnim hanya menghela napas.

 

“Baiklah, aku beri waktu satu minggu untuk kalian berlatih segala koreo dan vocal untuk konsep ini. Jika gagal, kalian akan dipisah menjadi formasi 12-4 seperti biasa, dan pihak kreatif akan membuat konsep berbeda untuk para gadis.” tak terbantah, mereka hanya mampu mengangguk patuh. Dan semua keluar satu per satu setelah memberikan salam hormat mereka.

 

 

Menyakitkan memang. Namun bukan hidup jika rasa sakit itu tak pernah ada.

 

0o0

Exo’s Dorm

 

Semua tertunduk lemas. Mereka terkulai di sofa dengan perasaan yang entah bagaimana deskripsinya. Tian masih menangis, Angel menyiratkan kebingungan, wajah Cheonsa semakin pucat, dan Tenshi yang biasanya paling cuek pun terlihat tidak bersemangat.

 

Tak berbeda pula dengan para pria. Suho tengah menyandarkan tubuhnya sambil menutup wajahnya. Ia bingung. Satu minggu bukanlah waktu yang lama jika menyangkut tentang latihan, apalagi itu konsep baru. Ia jadi teringat dengan masa debut mereka yang memang memakan waktu sedikit lama karena formasi mereka yang terbilang baru di belantika musik Korea.

 

Dan sangat tak rela jika mereka harus terpisah hanya karena hal sepele seperti itu. Formasi 12-4 adalah hal yang paling mereka takuti akan terjadi. Sudah cukup mereka terpisah dengan formasi 8-8 dan 6-4-6. 12-4 adalah formasi terburuk, karena, tentu saja para gadis merasa tidak dianggap. Mengapa mereka dijadikan seperti kelinci percobaan saat ini?

 

 

Ditengah keheningan dorm siang itu, Cheonsa yang entah mendapat dorongan apa segera berlari meninggalkan yang lainnya. Semua menatapnya bingung. Angel mengikutinya yang ternyata pergi menuju kamar mandi.

 

Terdengar gadis didalamnya sedang terbatuk dan muntah. Angel yang panik langsung menerobos masuk kedalam dan melihat apa yang terjadi. Cheonsa sedang terduduk disamping kloset dengan wajah yang sudah sangat pucat. Bibirnya putih dan tak ada aura hidup disana. Terlihat bercak darah di pinggiran kloset. Angel membulatkan matanya dan langsung merengkuh Cheonsa dalam pelukannya.

 

“Cheonsa! Kau kenapa?! Sadarlah kumohon..” lirih Angel. Cheonsa sudah melemah dan tak bisa berkata apapun. Matanya sudah setengah terpejam.

 

Oppa! Siapa saja cepat kemari!” teriak Angel dan orang yang paling pertama sampai adalah Sehun.

 

Nuna kenap.. Cheonsa!” Sehun langsung menghampiri tubuh lemas gadisnya. Angel bahkan sudah mengeluarkan air matanya saat Sehun menggendong Cheonsa keluar dan Suho datang memeluknya.

 

Oppa.. In-ini..terjadi..” Angel sesenggukan. Suho menuntun Angel keluar dari kamar mandi. Mereka masuk kedalam kamar Cheonsa dan Angel.

 

Terlihat Cheonsa yang sudah berbaring di ranjangnya dengan Sehun duduk disampingnya. Suho mendudukkan Angel di ranjangnya dan melihat Cheonsa nanar. Wajah adiknya satu itu sudah sangat pucat. Suho juga melihat wajah Sehun yang datar. Tak ada aura hidup dalam mata Sehun.

 

Member yang lain segera melihat apa yang terjadi. Mereka ternganga di mulut pintu. Tian menangis dan Tenshi hanya terdiam. Para namja membulatkan matanya melihat pemandangan didepan mereka. Melihat adik mereka terbaring lemah di ranjang.

 

“Aku sudah telepon dokter. Sebentar lagi ia kesini.” ucap Sehun datar, lalu keluar dari kamar Cheonsa-Angel menerobos kerumunan didepan pintu.

 

Semuanya membubarkan diri setelah Kris mengeluarkan suaranya. Mereka semua hanya dapat duduk di ruang tengah dengan perasaan campur aduk. Mengapa masalah datang bertubi-tubi seperti ini? Tian yang telah menangis sedari masalah mereka sebelumnya, kini semakin terisak melihat eonnienya terbaring.

 

Air matanya terus keluar tanpa henti. Luhan menatap gadisnya nanar. Mencoba menenangkan gadis kecil itu semampunnya. Dio, Lay dan Chen pergi menuju dapur. Sepertinya makanan manis mampu membangkitkan mood semua orang yang sedang hancur.

 

Tenshi berlalu dari ruang tengah menuju balkon, tempatnya biasa menyendiri. Ia melihat Sehun sedang berdiri menatap langit diatasnya. Siang ini tak terlalu terik, semilir angin memainkan rambutnya yang dicat putih. Tenshi tanpa suara berdiri disamping Sehun. Mereka berdua larut dalam keheningan hati mereka.

 

“Menurutmu semua akan baik-baik saja?” ucap Sehun tenang. Tenshi menghela napas dan memejamkan matanya.

 

“Kurasa oppa lebih senang dengan kebohongan. Ya, semua pasti akan baik-baik saja.” Tenshi tersenyum miris. Ia tertawa. Menertawai berbagai peristiwa buruk yang mereka alami. Sehun masih menatap datar angin yang berhembus melewati mereka. Matanya kosong.

 

“Kurasa saat ini kebohonganlah yang aku butuhkan. Semua akan baik-baik saja.” Sehun tersenyum dan mengacak rambut Tenshi lalu berlalu meninggalkan gadis itu.

 

Tenshi terdiam. Ia dapat merasakan bagaimana perasaan Sehun. Sakit, takut, dan entah apa lagi yang oppanya itu rasakan. Semua itu terasa menusuk hatinya sampai bagian terdalam. Kenapa harus ada hal-hal buruk yang terjadi pada mereka? Tenshi hanya terdiam merasakan permainan angin di sekelilingnya.

 

 

Kisah hidup dan garis kehidupan seorang insan telah ada yang menentukan. Terimalah, atau kau keluar..

 

0o0

Tomorrow..

 

Pagi cerah ini diawali dengan ramainya dorm Exo dengan segala aktivitas pagi hari para membernya. Ada yang berkutat di dapur, ada yang sedang menyiram tanaman, dan juga ada yang sedang berolahraga. Namun, tetaplah seorang pria masih setia mendampingi gadisnya yang masih terlelap dalam mimpinya. Sehun. Ia masih terus memperhatikan wajah Cheonsa. Memang sudah tidak terlalu pucat, namun raut kesakitan masih terpampang disana.

 

Sehun menghela napas. Sepertinya ia tak akan bersemangat memulai latihan tanpa kehadiran Cheonsa. Ia lebih memilih berbaring disamping Cheonsa daripada melewati satu jam saja tanpa gadis manisnya ini. Sehun mengelus rambut kemerahan Cheonsa. Ia sangat rindu saat mata biru gadis menggemaskan itu menatapnya. Ia merindukan Cheonsa.

 

 

Sementara diluar kamar, terlihat beberapa orang yang tengah duduk didepan televisi. Mereka tertawa heboh melihat acara yang lucu. Suho yang melihat Tian dan Tenshi yang sudah bersiap dengan seragam sekolah mereka, langsung beranjak dari duduknya untuk menghampiri dua adiknya itu.

 

“Kalian libur dulu untuk satu minggu ini. Nanti kita mulai latihan pukul sepuluh.” Suho mengacak rambut mereka sayang. Mata Tian membulat dan Tenshi mengangkat sebelah alisnya.

 

“Aish, padahal minggu ini sedang banyak ulangan. Bagaimana nasib kita ya, Tenshi?” gerutu Tian pelan. Mereka paling benci jika harus ikut ulangan susulan.

 

Molla. Setidaknya aku bisa tidur sebentar.” Tenshi berlalu menuju kamarnya. Tian hanya berdiam di tempatnya berdiri. Suho hanya bisa tersenyum lalu meninggalkan magnaenya.

 

Tian memutuskan untuk ke kamar dan mengganti bajunya. Saat pintu dibuka, ia sudah tak melihat Tenshi disana. Cepat sekali Tenshi mengganti bajunya. Bukannya segera berganti pakaian, Tian malah duduk di pinggir ranjangnya sambil melamun.

 

Ia memikirkan Cheonsa. Tak biasanya eonnienya itu sakit parah. Dan jika membicarakan soal penyakit.. Entah kenapa ia malah jadi memikirkan Luhan. Ya, Luhan. Malah tanpa sadar kini pipi chubbynya dialiri air matanya sendiri. Mengingat hal itu membuat hatinya sakit.

 

“Cukup satu orang saja.. Jangan yang lain lagi..” lirih Tian masih dengan tangisan pelannya.

 

Tian akhirnya menghapus jejak air matanya lalu bergegas mengganti pakaiannya. Ia keluar kamar untuk ikut bersantai bersama yang lainnya. Dan tepat saat ia keluar dari pintu kamar, matanya bertemu dengan sepasang mata lainnya. Pria dihadapannya tersenyum. Sangat manis. Senyum yang membuat Tian merasa hidupnya berarti. Luhan.

 

“Enak sekali ya bisa libur sekolah?” Luhan memasang tampang menggoda yang langsung diberi hadiah pukulan pelan oleh Tian.

 

“Tak enak. Aku dan Tenshi harus ikut banyak ulangan susulan minggu depan.” Tian mengembungkan pipinya dengan tangan terlipat di dada. Luhan hanya tersenyum mengacak rambut gadis kecilnya sayang.

 

“Wah kasihan sekali. Lebih baik sekarang kau belajar. Mau kutemani?” wajah Tian berubah sumringah mendengar tawaran Luhan.

 

Gadis itu mengangguk lucu yang membuat poninya bergoyang-goyang sambil tersenyum kekanakan. Luhan semakin gemas dan malah mencubit pipi Tian sampai berubah menjadi merah. Luhan tertawa melihat perbuatan tangannya, lalu dengan senyum ia mencium kedua pipi chubby itu pelan, membuat sang empunya pipi hanya dapat tersenyum manis. Senyum favorit Luhan.

 

“Tapi gege harus menyuapiku eskrim selama aku belajar.” Tian mengedipkan kedua matanya dengan wajah polos. Luhan hanya menggelengkan kepalanya mendengar permintaan gadis didepannya itu.

 

“Baiklah.” lalu Luhan pergi mengambil eskrim di dapur dan Tian sudah masuk kedalam kamarnya.

 

 

Percayalah, dibalik hal yang satu pasti ada hal yang lainnya.

 

0o0

Pukul sepuluh tepat mereka telah tiba di gedung SM untuk latihan. Ternyata omongan Lee sajangnim tidak main-main. Mereka harus berjuang mempertahankan formasi mereka. Satu minggu ini adalah hari-hari dimana mereka harus terus berlatih untuk menampilkan yang terbaik.

 

Cheonsa keluar dari mobil dibantu oleh Sehun. Harusnya ia masih istirahat di dorm. Tapi karena ia memaksa dengan dalih tak mau menambah beban mereka, alhasil sekarang gadis cantik berambut kemerahan itu datang dan ikut latihan, dengan syarat tidak boleh terlalu memforsir diri.

 

Sehun masih setia merengkuh gadisnya agar tidak jatuh. Tak peduli dengan tatapan beberapa staf dan artis yang lewat atau yang mereka lewati. Wajah Cheonsa memang sudah tak sepucat tadi. Namun itu bukanlah jaminan keadaannya tak bisa memburuk.

 

Mereka memasuki ruang latihan. Hari ini mereka akan memulai latihan dengan pembagian vokal dan pengambilan suara. Latihan fisik seperti dance dan koreo akan dimulai besok. Setidaknya keadaan Cheonsa sudah lebih membaik nantinya.

 

“Kata manager hyung kita mulai latihan setengah jam lagi. Istirahat saja dulu, nanti kita langsung ke ruang vocal” Suho memberi instruksi. Yang lain mengangguk lalu memulai acara istirahat mereka. Para namja langsung merebahkan tubuh mereka di lantai dan memejamkan mata. Menikmati waktu luang ini walau hanya sebentar.

 

Berbeda dengan Sehun yang terus berada disamping Cheonsa. Ia lelah, tentu saja. Namun ia sangat menyayangi Cheonsa dan ingin selalu membuat Cheonsa nyaman. Sehun duduk di sofa bersama Cheonsa dan para gadis lainnya. Ia menyuruh Cheonsa memejamkan matanya sebentar. Gadis itu menurut lalu ia memejamkan matanya dan bersandar di bahu Sehun.

 

 

“Sehun, coba pegang keningnya.” Angel yang duduk disamping Sehun tiba-tiba menepuk bahunya pelan sambil memberikan pandangan khawatir pada Cheonsa. Dahi Sehun mengerut. Ia bingung, namun ia tetap mengikuti saran nunanya.

 

Hangat. Cheonsa masih demam, namun tak separah beberapa hari yang lalu. Sehun tersenyum lega karena setidaknya keadaan Cheonsa membaik. Ia mengulas sedikit senyumnya.

 

“Badannya masih hangat, namun sudah membaik.” Sehun tersenyum, menyipitkan matanya pada Angel. Namun malah kini Angel yang mengerutkan keningnya.

 

“Benarkah?” tanyanya, atau lebih tepatnya ia bergumam. Pandangannya kosong menatap lantai didepannya.

 

“Ada apa nun?” tanya Sehun heran. Angel langsung sadar dari pikirannya dan tersenyum pada Sehun.

 

Nothing.” Angel bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan Sehun. Gadis blonde itu menghampiri Suho yang kini sedang terkapar tampan di lantai.

 

Suho lelah, tentu saja. Namun radarnya akan kehadiran Angel memang sangat kuat. Bahkan beberapa langkah sebelum Angel datang padanya pun ia telah membuka matanya dan terduduk. Memandang lembut gadis kesayangannya dengan matanya yang masih terlihat mengantuk.

 

“Bisa ikut aku sebentar?” Angel berlutut didepan Suho yang masih terduduk untuk mencoba mengumpulkan nyawanya. Suho hanya mengangguk dan tersenyum lalu bangkit dari duduknya menyusul Angel yang berjalan menuju pintu keluar ruang latihan.

 

Kepergian mereka diiringi tatapan tanya dari semua member yang masih sadar, tak terkecuali Sehun. Matanya terus memperhatikan pergerakan Angel. Masih bertanya-tanya apa maksud Angel menyuruh Sehun melakukan hal tadi pada Cheonsa. Jujur ia penasaran, sangat. Namun, ia lebih baik diam saja. Walaupun ia yakin bahwa nuna dan hyungnya menyembunyikan sesuatu dari member lainnya. Menyembunyikan suatu hal penting darinya.

 

 

Lingkaran takdir. Sadarkah bahwa kita hanya berlari mengelilinginya?

 

TBC

Iklan

11 pemikiran pada “White Love (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s