Full Moon (Chapter 2)

Title: FULL MOON [Part 2]

Author: Myka Reien

Main Cast: KaiSoo, HunHan (other couple will appear later)

SC: Super Junior Kibum, Super Junior Shindong

Genre: Drama, Supernatural

Rate: T, GS

Lenght: Multichapter

Note: No bash, no flame, no peanut please~^^ Let’s be a good reader and good shipper~^^

HAPPY READING 뿅~뿅~

.

.

.

FULL MOON

[Part 2]

.

.

.

Kyungsoo’s POV

Namaku Kyungsoo, lengkapnya Do Kyung Soo. Usiaku sudah 17 tahun dan sekarang aku duduk di kelas 2 SMA Soram. Impianku, bisa lulus dengan nilai memuaskan dan mendapat rekomendasi ke universitas favorit lalu mendaftar beasiswa. Jika tidak, setidaknya aku harus memiliki pekerjaan yang layak.

Sebagai seorang siswi SMA aku hanya ingin melewati kehidupan SMA-ku dengan tenang dan lulus dengan tenang juga meski kenyataannya tidak semanis itu. Dua tahun hidupku di SMA Soram, selama dua tahun itu juga cobaan datang silih berganti. Salah satunya adalah cobaan menjadi orang penting di kelas tapi punya anak buah yang tidak bisa diajak kerjasama. Empat semester ini aku selalu menjabat menjadi wakil ketua kelas dan selama empat semester ini juga tekanan darahku naik-turun gara-gara tanggung jawab besar dalam mengurus kelas.

Dari semua pengalaman yang sudah-sudah, semester genap di kelas dua inilah yang aku nobatkan sebagai cobaan terberat seumur hidup. Tidak hanya karena aku ditempatkan di kelas paling sensasional (problematikanya) di sekolah, tapi juga karena rekan yang sulit diajak kerja sama. Ketua kelasku, Oh Sehun, adalah orang yang irit ngomong dan selalu bersikap tidak peduli pada apapun. Kerjaannya hanya membaca buku dan bermain game. Dia terpilih menjadi ketua kelas karena dia keren dan cool (?).

Belum berhenti di Ketua Kelas yang selalu sibuk dengan dunianya sendiri, teman-teman satu gengnya juga tidak kalah memusingkan. Tao, Chanyeol, dan Kai. 3 namja yang terkenal keren, fashionable, dan ulzzang seantero sekolah itu adalah oknum utama yang bertanggung jawab dalam masalah turunnya nilai rata-rata kelas. Kebiasaan mereka adalah datang terlambat, tidur di kelas, membolos, dan tidak mengerjakan tugas. Duo TaoYeol juga selalu menjadi sumber provokasi dan keributan di kelas.

Aku masih agak mending bila berhadapan dengan TaoYeol yang meskipun sangat ribut dan menyebalkan tapi mereka easy going, masih bisa diajak bicara baik-baik. Sehun juga, meskipun dia sangat cuek tapi dia sadar posisinya sebagai ketua kelas dan hingga saat ini dia melakukan tugasnya dengan baik walau dengan ekspresi yang selalu malas-malasan.

Hanya satu masalah yang belum bisa ‘ku atasi sampai sekarang sebagai seorang wakil ketua. Benar, hanya orang satu itu! Orang paling hemat suara dan tidak bisa ditebak pikirannya, dan mungkin dia menjadi orang yang paling misterius di dunia karena matanya yang dingin dan datar itu tidak pernah memancarkan sirat apapun kecuali ruang kosong. Tak ada yang tahu isi hati dan kepalanya. Hingga kini pun aku masih belum bisa dekat dengannya dan sangat sulit memahaminya. Orang yang benar-benar membuatku penasaran, tapi juga menjadi orang yang ingin ‘ku hindari karena rasanya aku harus selalu berhati-hati bila berhadapan dengan dia yang sama sekali tidak pernah menampakkan emosi apapun.

-o0o-

Author’s POV

Kyungsoo mendesis dan kembali merapatkan pintu yang tadinya sudah hampir dia buka. Hatinya bimbang antara melakukan permintaan gurunya atau takut menghadapi orang yang berada di balik pintu itu. Bukannya takut karena penampilan fisik atau apa, tapi dari semua teman Kyungsoo di sekolah hanya dialah satu-satunya yang memiliki jarak paling jauh (dalam hal hubungan pertemanan). Dia bukan orang yang bisa dihadapi sembarangan karena sikap diamnya bisa menjadi senjata makan tuan yang akan berbalik membuat lawan bicaranya menjadi salah tingkah sendiri. Bahkan Luhan yang begitu fleksibel dan berhati lembut pun bisa dibuat kelelahan mengurus murid satu itu, apalagi Kyungsoo yang bahkan akan marah setiap digoda oleh duo TaoYeol.

Kyungsoo-ya, kuatkan hatimu, Kyungsoo merapal doa dalam hati.

Oke…fighting fighting fighting! Dia mengepalkan tangannya dan membuka pintu dengan cepat. Pemandangan yang menunggunya adalah sesosok namja yang tengah duduk sendirian membelakangi pintu. Dia bahkan tidak terlihat menoleh ataupun ingin tahu siapa yang masuk ke dalam ruangan.

Kyungsoo menutup pintu perlahan dan berjalan mendekati namja yang masih duduk tenang itu, Kyungsoo menarik kursi dan duduk di sebelahnya. Untuk sesaat yeoja tersebut terdiam, mencoba menemukan kalimat yang tepat sebagai kalimat pembukaan.

“Xi Sonsaengnim…memintaku…untuk menjemputmu,” ujar Kyungsoo seperti membaca teks di buku pelajaran.

Kai masih diam, tidak menampakkan gerakan apapun dan hanya lurus menatap kertas kosong di atas meja. Sudah pasti dia diminta untuk menulis pernyataan permohonan maaf karena datang terlambat. Juga ada dasi yang tergeletak di atas meja. Pastilah itu kerjaan Luhan mengingat Kai tidak pernah memakai dasi dan berpenampilan rapi di sekolah.

“Kau belum menulis pernyataan maafmu?” tanya Kyungsoo dengan suara rendah.

Mendadak Kai bangkit berdiri dan menyambar tas, mengagetkan Kyungsoo.

“Tunggu, Kai!” seru gadis mungil itu gelagapan. Kaki Kai berhenti begitu saja sesuai komando Kyungsoo.

“Kalau kau tidak mau menulis pernyataan, tidak apa-apa. Tapi sebaiknya kau berpenampilan rapi hari ini karena akan ada pemeriksaan,” ujar Kyungsoo.

Kai tidak menjawab dan hanya berdiri membelakangi teman sekelasnya.

Kyungsoo mengambil dasi yang tergeletak di atas meja dan meraih lengan Kai perlahan untuk berbalik. Kai menurut ketika badannya digiring lembut untuk kembali mendekati meja. Kyungsoo naik ke atas kursi dan berlutut supaya bisa menyamai tinggi badan Kai. Tanpa banyak bicara dia memasangkan dasi ke balik kerah baju namja itu.

Kai sendiri juga tidak mengatakan apa-apa meski jarak di antara mereka begitu dekat. Bahkan dia bisa mencium wangi aroma parfum dari tubuh Kyungsoo dan melihat tiap helai rambut hitamnya yang bergerak lembut seirama dengan gerakan tubuhnya.

Kyungsoo merapikan kembali dasi yang sekarang terpasang manis di leher Kai dan menatap mata namja yang tepat berada di hadapannya itu. Sepasang mata hitam Kyungsoo terbeliak.

“Ya, Kim Jong In. Apa kau sedang memakai contact lens sekarang?” tanya Kyungsoo kaget melihat warna mata Kai yang merah.

Kai hanya memutar matanya tanpa menjawab.

“Segera lepas contact lens itu atau usahaku memakaikan dasi untukmu ini akan sia-sia. Araji?” ujar Kyungsoo lantas turun dari kursi.

“Ayo ke kelas, Xi Sonsaengnim sudah menunggu,” ajak Kyungsoo sebelum membuka pintu dan keluar.

Begitu yeoja mungil tersebut menjauh, Kai menarik turun ikatan dasinya, melonggarkan jalan napasnya yang terasa tercekik.

-o0o-

Luhan berjalan terburu-buru dengan setumpuk buku dan map di pelukannya. Bel tanda pelajaran jam pertama dan kedua sudah berdentang sejak tadi, sekarang gilirannya untuk mengajar pelajaran bahasa Cina di kelas 2-2. Gerakan Luhan terhenti ketika dia berpapasan dengan Kai yang berjalan ogah-ogahan menuju kelas.

“Aigoo, kau benar-benar tampan kalau rapi begini, Kai-ya,” puji Luhan sambil memegang dasi yang menggantung di leher Kai.

“Tidak salah aku meminta bantuan Kyungsoo. Dia memang benar-benar bisa diandalkan,” ujar Luhan lagi. “Ayo masuk.”

Luhan membuka pintu kelas sebelah depan bersamaan dengan Kai membuka pintu di bagian belakang.

“Selamat pa…”

“WAH, Kai-ya! Apa ini!?” suara bass Chanyeol menggelegar memotong sapaan Luhan. Seisi kelas termasuk Luhan sendiri sampai menatapnya dengan pandangan tidak mengerti.

“Kau pakai dasi? Ya, siapa yang memakaikanmu ini? Siapa yang sudah mengikatmu begini? Daebak~!” puji Chanyeol disambut anggukan girang Tao.

Kyungsoo yang ikut memandang ketiganya, hanya memanyunkan bibir tidak mengerti maksud kehebohan mereka. Pakai dasi, apa istimewanya?

“Diamlah,” tukas Kai pendek sambil meletakkan tas di atas meja dan duduk di kursi.

Chanyeol dan Tao tidak bertanya lagi meski mereka masih berbisik-bisik dan cekikikan di pojok kelas.

“Park Chanyeol, Huang Zi Tao, kalian sudah selesai diskusi?” tegur Luhan.

“Ne~!” jawab duo ribut itu bersamaan lalu mereka cekikikan lagi. Luhan menghela napas walau senyuman menghiasi wajah cantiknya. Melihat hal itu, diam-diam Sehun juga mengulum senyuman.

“Baiklah, sampai dimana pelajaran kita minggu kemarin?” Luhan membuka buku paket diikuti oleh semua siswa.

.           .           .

Bel istirahat berdentang bersamaan dengan Luhan menutup pertemuan untuk pelajarannya. Dia menata buku-bukunya tapi kemudian tumpukan itu diambil oleh Sehun.

“Biar aku bawakan,” ujar Sehun kalem sambil merapikan buku-buku Luhan dan menyusunnya berdasarkan tinggi.

“Aku bisa bawa sendiri,” tolak Luhan mencoba mengambil kembali bukunya tapi Sehun lebih dulu mendekap buku itu dan berjalan keluar kelas. Luhan sudah membuka mulut tapi tak kuasa mengatakan apa-apa.

“Sonsaengnim.” Mendadak Kyungsoo mendekat ke meja guru.

“Ne?” Luhan sedikit kaget dengan kedatangan Kyungsoo.

“Ketua dan aku punya rencana untuk mengadakan perayaan natal di Pyeongchang. Sonsaengnim ikut ya?” ujar Kyungsoo.

“Perayaan natal di Pyeongchang?” ulang Luhan seraya turun dari lantai pijakan di depan papan tulis, Kyungsoo membalas dengan anggukan.

“Kami bermaksud untuk membuat moment bersama teman-teman sekelas. Masa’ kami mengadakan perjalanan bersama-sama hanya waktu event sekolah? Sekali-kali event pribadi seperti ini seru untuk dilakukan. Sonsaengnim ikut ya? Kalau Sonsaengnim ikut, nanti partisipannya pasti lebih banyak karena ada wali kelas sebagai pendamping. Terus mereka juga tidak akan sulit mendapatkan ijin keluar dari keluarga mereka,” bujuk Kyungsoo.

“Tapi kalau waktu natal…” kalimat Luhan menggantung.

“Sonsaengnim punya janji?” serobot Kyungsoo khawatir.

Luhan tidak menjawab.

“Pacar ya?” tebak Kyungsoo.

Deg. Ayunan kaki Sehun berhenti sekejab, kedua telinganya terasa memanas dan tanpa sadar dia sudah menggenggam tepi buku Luhan dengan kuat. Perlahan kakinya bergerak mundur, menjauhi pintu ruang guru.

“Bukan sih, tapi biasanya aku berkumpul dengan teman-temanku. Aku akan menghubungimu setelah mem-fix-kan jadwalku,” ujar Luhan membuat wajah Kyungsoo berseri-seri.

“Batas waktu berpikirnya masih sampai minggu depan, Sonsaengnim. Jadi santai aja. Soal bus, penginapan, dan makan sudah diatur semuanya oleh Ketua Oh. Bahkan vila tempat menginap kita adalah vila pribadi milik keluarga Ketua Oh, lho,” cerita Kyungsoo bersemangat.

“Benarkah? Kedengarannya menyenangkan.” Luhan menanggapi dengan senyuman manis.

-o0o-

Srekk, Luhan menggeser pintu ruang guru dan langsung tersenyum menyapa beberapa guru yang duduk beristirahat di bilik kerja masing-masing.

“Xi Sonsaengnim terlihat cantik hari ini, sampai-sampai Kim Sonsaengnim tidak bisa berkedip.” Suara seorang guru menyeletuk mengakibatkan tawa riuh di ruang guru, membuat seorang pria muda menjadi salah tingkah. Sementara Luhan hanya tersenyum menanggapi.

Luhan melihat mejanya yang bersih tanpa ada tumpukan buku yang baru saja dia pakai mengajar.

“Han Sonsaengnim, apa tadi Ketua Oh belum ke sini?” tanya Luhan pada guru wanita yang menyeletuk pertama.

“Ketua Oh? Tidak, dia belum kemari hari ini. Apa dia membuat masalah lagi?” jawab Han Sonsaengnim heran.

“Tidak. Tadi dia bilang akan membawakan bukuku kemari. Biar ‘ku cari dulu,” ujar Luhan kemudian berjalan keluar dari ruang guru.

“Wah, menyenangkan sekali menjadi Xi Sonsaengnim. Dia begitu cantik sampai-sampai muridnya mau membawakan buku-bukunya,” puji Han Sonsaengnim kagum.

“Terlalu cantik bukannya malah menakutkan? Bagaimana kalau nanti ada siswa yang menyukainya?” sahut guru lain.

“Itu artinya siswanya yang tidak tahu diri. Sudah tahu dia guru, kenapa masih disukai?” bantah Han Sonsaengnim.

“Tapi Xi Sonsaengnim orang yang sangat baik. Bukankah ada kemungkinan dia tidak akan tega menolak perasaan tulus muridnya sendiri?” suara seorang namja terdengar ke permukaan.

“Kim Sonsaengnim, apa kau khawatir bila sainganmu adalah murid SMA?” celetuk Han Sonsaengnim kembali menuai tawa.

“Bukan begitu. Aku cuma khawatir pada pergaulan remaja jaman sekarang. Mereka sangat emosional dan nekad akhir-akhir ini,” sangkal Kibum.

“Halahh, bilang saja kau tidak percaya diri menghadapi mereka.” Guru lain ikut menggoda.

“Bukan, bukan begitu.” Kibum masih mencoba menyangkal.

.           .           .

Setengah berlari, Luhan berkeliling sekolah mencari Sehun yang membawa kabur bukunya. Langkah sepasang kaki ramping yeoja itu terhenti di depan ruang BP, dengan ragu Luhan membuka pintu dan menghembuskan napas lega melihat punggung Sehun lengkap dengan tumpukan bukunya di atas meja.

“Kenapa kau ke sini? Seharusnya kau membawa buku ini ke ruang guru,” omel Luhan. “Aku pikir kau membolos lagi.”

Guru berperawakan mungil itu meraih buku-bukunya dan memeriksa kelengkapannya sementara Sehun hanya diam melihat kesibukannya.

“Bel akan segera berbunyi, kembalilah ke kelas,” ujar Luhan setelah memastikan tidak ada yang kurang dari barang miliknya. Yeoja tersebut berdiri hendak membuka pintu ketika suara Sehun terdengar.

“Sonsaengnim…” panggil Sehun tapi kemudian dia segera mengkoreksi kalimatnya sendiri. “Anniya, maksudku…Luhanie.”

“Ketua Oh…”

“Bisakah kau tidak memanggilku begitu ketika hanya ada kita berdua?” ucapan Sehun memotong kalimat Luhan.

Luhan menghela napas panjang.

“Kembalilah ke kelas, pelajaran akan segera dimulai.” Guru muda tersebut berbalik begitu selesai bicara.

Dalam sepersekian detik gerakan Luhan terhenti. Tubuhnya terkunci, tak bisa bergerak karena sepasang lengan panjang Sehun telah mendekapnya dengan erat.

“Sehun-ah…” Luhan merintih mencoba melepaskan diri.

“Luhanie…saranghae…” bisik Sehun tepat di telinga Luhan.

“Sehun-ah, lepaskan…” yeoja mungil itu masih berusaha melepaskan kutatan lengan Sehun yang terasa kuat melingkar di badannya.

Sehun melepaskan Luhan dan dengan cepat memutar tubuh gurunya, mendorong yeoja itu hingga punggungnya menempel di dinding ruangan. Sekarang mereka berdiri saling berhadapan, tubuh Sehun yang menjulang mendesak tubuh mungil Luhan hingga hampir hilang merapat pada dinding.

“Jangan bersama siapapun,” bisik Sehun. “Aku tidak yakin bisa mengendalikan diriku jika kau dekat dengan orang lain,” imbuhnya dengan napas mulai terengah-engah dan tidak teratur.

“Sehun-ah, kendalikan dirimu,” ujar Luhan ketika merasakan kulit putih Sehun mulai memanas dan sepasang matanya memerah.

Chanyeol menghentikan gerakan bermain kartu-nya bersamaan dengan Tao yang melepaskan headphone di kepalanya.

“Sehunie? Ini bau Sehunie ‘kan?” tanya Chanyeol dengan hidung mengendus udara seperti anjing.

“Ada bau Luhanie juga,” timpal Tao. Sedangkan Kai tak berkomentar meski matanya terlihat menyelidik.

Napas Sehun berangsur-angsur mulai teratur dan seiring waktu warna matanya kembali abu-abu. Tubuhnya nampak lemas duduk bersandar di dinding, keringat membasahi keningnya seolah dia merasa kepanasan padahal cuaca siang itu masih cukup dingin.

Luhan berlutut di depan Sehun dan meraih sebelah pipi namja tersebut dengan lembut. Sehun menutup mata, meresapi usapan tangan sejuk Luhan yang seperti melelehkan bara api di dalam tubuhnya. Pemuda itu bergerak mendekatkan diri pada Luhan, menempelkan kepalanya dengan manja ke dada gurunya. Meski ragu-ragu, tangan Luhan bergerak memeluk tubuh Sehun yang masih terasa panas.

“Jika kau masih begini, bagaimana aku bisa meninggalkanmu?” desis Luhan sambil mengusap pelan rambut Sehun.

“Kalau begitu jangan pernah tinggalkan aku,” balas Sehun.

Ekspresi wajah Luhan berubah sendu walaupun senyuman getir kemudian muncul di bibirnya. Dengan mata terluka dia mempererat pelukannya.

-o0o-

Kyungsoo menghentikan langkah kakinya sebentar ketika angin berhembus cukup keras meniup rambut dan ujung rok sekolahnya, membuat seluruh tubuhnya merinding kedinginan. Yeoja itu mengusap hidungnya yang meler lalu kembali berjalan secepat yang dia bisa.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah 11 malam dan jalanan dipenuhi oleh remaja berseragam sekolah yang baru pulang dari sekolah maupun dalam perjalanan menuju tempat bimbel. Udara dingin dan langit yang telah pekat seolah tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk menuntut ilmu, ditambah dengan lumrahnya pemandangan anak-anak sekolah yang masih berseliweran di jalanan di tengah malam begini.

Dengan terburu-buru Kyungsoo memasuki sebuah kedai makanan khas Korea dan langsung berlari ke pojok ruangan mendekati mesin pemanas. Bibir gadis itu hampir biru karena terus menerus berpeluk hawa dingin sejak 30 menit meninggalkan sekolah tadi.

“Kyungsoo-ya? Kau datang lagi?” sapa seorang ahjussi yang memakai celemek putih begitu melihat Kyungsoo yang meringkuk menghangatkan diri di depan mesin pemanas.

Kyungsoo tak kuasa menjawab dan hanya bisa menganggukkan kepala kaku.

“Apa kakakmu pulang malam lagi?” tanya Shindong sambil membersihkan meja pelanggan di sebelah Kyungsoo yang duduk jongkok.

Lagi-lagi yeoja itu hanya mengangguk membenarkan pertanyaan manager-nya.

“Hangatkan dirimu dulu lalu bantu aku di depan ya. Aku harus mengupas kentang untuk besok,” pesan Shindong sebelum masuk ke bilik dapur.

“Ne…” bisik Kyungsoo berusaha mengeluarkan suara walaupun parau.

Kyungsoo melanjutkan menghangatkan tubuh untuk beberapa menit baru kemudian beranjak masuk ke ruang ganti pegawai dan keluar sudah dengan memakai celemek putih. Dia memposisikan diri di meja penerima pesanan dan selagi Kyungsoo sibuk menghitung uang receh di mesin kasir, seorang yeoja mungil ber-coat coklat gelap panjang, memakai kacamata hitam, dan bertopi, masuk dengan terbu-buru ke dalam toko dan langsung berhenti di depan meja penerima pesanan. Yeoja yang baru masuk itu menoleh ke belakang beberapa kali seperti sedang mengamati apakah dia diikuti atau tidak. Sementara Kyungsoo hanya dapat memandangnya dengan tatapan tidak mengerti.

“Permisi, apa Agasshi ingin memesan makanan?” tegur Kyungsoo sambil terus mengamati tingkah yeoja di depannya yang masih terlihat panik.

“Kyungsoo-ya, sembunyikan aku,” ujar yeoja itu lalu tanpa menunggu jawaban Kyungsoo dia langsung melewati zona batas pegawai dan bersembunyi di bawah meja kasir. Kyungsoo yang melihatnya hanya membeliakkan mata sedangkan yeoja tadi malah memberikan isyarat untuk menutup mulut.

Brak! Beberapa pria tegap ber-coat hitam panjang memasuki toko hampir bersamaan membuat Kyungsoo terlonjak kaget di tempat. Seorang dari pria itu berjalan mendekati meja Kyungsoo dengan wajah sangar.

“Apa ada seorang Agasshi memakai coat coklat datang ke sini?” tanya pria yang sepertinya seorang bodyguard itu dengan nada tegas.

“Ngngng…” Kyungsoo mendengung dengan ekor mata melirik yeoja yang makin rapat mendekam di bawah meja kasir.

“Anneyo, aku tidak melihatnya,” bohong Kyungsoo.

“Benarkah?” bodyguard itu menyelidik.

“Ne,” jawab Kyungsoo dengan tegas.

“Baiklah, terima kasih.” Bodyguard itu berbalik dan mengajak temannya yang sedang memeriksa ruangan toko untuk pergi.

“Aku selamat…rasanya seperti akan mati…aigoo~” yeoja mungil yang bersembunyi di bawah meja kasir mengucapkan syukur berkali-kali.

Kyungsoo berjongkok mengamati gadis mungil yang sekarang sudah melepas topi dan kacamatanya itu sekali lagi.

“Baekhyun-ah, kau kabur dari manager-mu lagi?” tanya Kyungsoo begitu mengenali yeoja di hadapannya.

Baekhyun keluar dari bawah meja sambil merapikan rambutnya yang berantakan karena habis memakai topi.

“Jadwalku seharusnya sudah berakhir jam 11. Aku hanya mengajukan protes karena mereka tidak segera membawaku pulang,” jawab Baekhyun manyun.

“Tapi ini masih setengah 11,” tandas Kyungsoo.

“YA, Do Kyung Soo! Kenapa kau jadi ikut-ikutan seperti mereka!?” teriak Baekhyun frustasi mendengar komentar temannya yang malah membuat mood-nya makin buruk.

“Mianhe…” desis Kyungsoo. “Tapi kau jangan sering-sering kabur seperti ini, kau hanya akan mempersulit dirimu sendiri.”

“Ara!” tukas Baekhyun. “Aku capek…” cicitnya kemudian.

“Itu konsekuensi menjadi seorang idola, Byun Baekhyun.” Sambil berkata demikian Kyungsoo meraih kedua pipi Baekhyun dengan gemas membuat yeoja mungil itu tertawa dan sebagai balasannya Baekhyun juga mencubit kedua pipi tembem Kyungsoo.

“Wah, wah, coba lihat. Kita punya siapa di sini?” celetuk Shindong yang baru keluar dari dapur membawa satu baskom kentang yang baru saja dikupas.

“Anneyong hasseo, Bujangnim. Aku datang mengganggu lagi.” Baekhyun langsung menundukkan badan dengan sopan.

“Mengganggu apanya? Tokoku dikunjungi oleh idola remaja nomer satu di Korea, bagaimana bisa aku merasa terganggu? Benar ‘kan, Kyungsoo-ya?” balas Shindong.

“Anneyo, Bujangnim. Baekhyun menjadi idola hanya waktu di depan kamera saja, begitu tidak ada kamera dia hanya gadis kecil yang sangat berisik,” ujar Kyungsoo sambil memberikan tatapan remeh pada Baekhyun yang memelototkan mata coklatnya.

“Ya, tarik kembali ucapanmu, Kyungsoo. Apa kau pikir badanmu besar, hah?” ancam Baekhyun sambil mengacungkan telunjuk ke depan hidung Kyungsoo.

“Setidaknya aku merasa aku lebih tinggi SATU SENTIMETER darimu,” balas Kyungsoo lalu berlari keluar dari zona khusus karyawan menuju ke deretan meja untuk pelanggan.

“YA, DO KYUNG SOO! Aisshh!” teriak Baekhyun dan mengejar Kyungsoo. Mereka berdua saling berkejaran di antara meja-meja pelanggan seperti anak kecil, Shindong yang melihatnya hanya dapat tertawa hingga kemudian sekelompok gadis muda masuk ke dalam toko dan terbengong-bengong melihat kehebohan yang ada.

“Oh, selamat datang. Agasshi ingin memesan apa?” pada akhirnya hanya Shindong-lah yang bekerja.

-o0o-

Bulan menggantung di puncak langit, menjadi background indah puncak menara Seoul malam ini. Bentuknya yang belum sempurna purnama nampak terbelah dengan siluet ramping Seoul Tower tepat di tengah-tengah badannya.

Tap, sebuah bayangan yang terlihat hitam karena membelakangi cahaya bulan melesat dari angkasa dan mendaratkan kakinya di salah satu besi Seoul Tower. Rambutnya yang pendek nampak berkibar dimainkan oleh angin dingin musim gugur yang tiupannya menjadi semakin keras karena dipengaruhi oleh ketinggian. Sosok itu mengangkat kedua lengannya yang panjang dan terlihat kuat, merenggangkan otot-ototnya.

Drap, dua sosok lain ikut mendaratkan kaki tak jauh dari sosok pertama, nangkring dengan santainya di atas sebuah besi dengan ketinggian lebih dari 20 meter.

“Mana Sehunie?” tanya Tao sambil mengucek mata, mengantuk.

“Molla. Di tempat Luhanie mungkin.” Chanyeol mengedikkan kedua bahunya.

“Sssh…” Tao mendesis. “Apa kalian tidak berpikir jika obsesinya pada Luhan jadi semakin parah akhir-akhir ini?”

“Tidak ada yang bisa dia lakukan. Imprinting membuat dia obsesif secara natural,” ujar Chanyeol.

“Lalu? Apa kita harus menunggunya?” tanya Tao.

“Tunggu saja setengah jam, kalau dia tidak datang kita tinggal,” jawab Chanyeol.

“Arasseo.” Tao mengangguk-angguk.

“Ngomong-ngomong, Kai-ya. Yang memakaikan dasi padamu tadi pagi itu Wakil Ketua ‘kan? Ada bau Wakil Ketua di bajumu.” Chanyeol mengarahkan perhatian pada Kai yang duduk di sebelahnya. Kai terlihat kaget dan jadi salah tingkah.

“Apa kau menyukai Wakil Ketua?” tebak Tao dengan mata memicing dan senyuman sarkastik.

“Su~ka~?” Chanyeol menambahi.

“Anniya,” jawab Kai pendek dan lirih.

“Kalau suaranya pelan berarti BENAR!” sorak Chanyeol girang.

“ASSA!” Tao bersorak tak kalah keras.

“ANNIYA! Aku bilang ANNIYA!” Kai meninggikan suaranya membuat kedua Hyung-nya diam mendadak.

“Jeongmal? Ssh, padahal tidak masalah kalau kau pacaran dengan Wakil Ketua.” Chanyeol nampak kecewa.

Tao mengangguk-angguk, “Dia tidak buruk. Seperti permen stroberi. Kecil, wangi, menarik, tapi waktu marah-marah rasanya jadi asemmm banget!”

“Benar, benar! Tapi itu sisi terbaiknya Wakil Ketua. Semakin dia marah-marah dia semakin kyeoptaa~!” imbuh Chanyeol lalu tertawa bersama Tao.

“Kalian keterlaluan. Berhentilah menggodanya seperti itu,” ujar Kai ketus membuat Chanyeol dan Tao saling berpandangan.

“Ya, kenapa kau jadi peduli pada Wakil Ketua? Tao-ya, kau lihat? Uri Jonginie yang selama ini hidup untuk dirinya sendiri tiba-tiba marah karena kita membicarakan orang lain,” ujar Chanyeol.

“Kau yakin kau tidak menyukai Kyungsoo? Kau yakin, Kai-ya?” Tao bertanya intensif pada adiknya.

Kai menatap lurus ke mata merah Tao. “Anniya,” jawabnya dengan tegas.

Tao kembali mendesis. “Sepertinya Jongin memang mulai kena sindrom ‘keadilan’,” kata namja yang meski badannya tidak terlalu besar tapi terlihat memiliki otot yang kuat tersebut.

“Ihhh…menakutkan.” Chanyeol memeluk dirinya sendiri dan memasang mimik ngeri. “Apa mulai sekarang dia akan jadi pembela kebenaran?” tanya namja berbadan jangkung itu pada Tao.

“Matilah kita kalau Jongin berubah jadi Super Jongin.” Tao mendesah.

“Ssshh! Apa kalian tidak bisa diam?” Lama-lama kuping Kai gatal mendengar percakapan absurd kedua Hyung-nya itu.

“Uhhh…Super Jongin menakutkan!!” koor TaoYeol bersamaan sambil berpelukan satu sama lain. Sementara Kai hanya bisa memegang kepalanya tanpa tahu harus berkomentar apa.

Angin berhembus sedikit keras membawa bau orang yang dikenal baik oleh 3 namja yang sedang mengobrol di puncak Seoul Tower itu. Dari kejauhan terlihat sebuah sosok yang melompat lincah dari satu atap rumah ke atap rumah yang lain. Tubuhnya nampak ringan ketika melayang di udara, nyaris terlihat terbang.

Hup, Sehun menapakkan kedua kakinya dengan baik di salah satu besi yang melintang di bawah tempat ketiga Hyung-nya duduk.

“Kau datang?” sapa Chanyeol.

“Ne, apa aku terlambat?” balas Sehun heran.

“Ne, darimana kau? Ke tempat Luhan lagi?” kali ini Tao yang bertanya.

“Anniya, aku harus mengerjakan PR dulu tadi. Cukup sulit. Hyung, apa kau sudah mengerjakan PR?” jawab Sehun polos.

Chanyeol dan Tao saling berpandangan.

“Memang ada PR? PR apa?” tanya Chanyeol heran.

“Kimia, Fisika, dan Bahasa Cina,” jawab Sehun.

“Aissh, ada PR dari Luhan,” desis Chanyeol horror.

“Dia pasti akan mengomel sangat panjang kalau sampai kita tidak mengerjakannya.” Tao meringis.

“Kalian belum mengerjakan PR?” Sehun bertanya dengan wajah lugu.

“Jangankan mengerjakan, aku bahkan tidak ingat kalau ada PR!” ketus Chanyeol. “Bagaimana denganmu, Kai?”

Kai memandang Chanyeol lalu menyunggingkan senyum innocent.

“Kau juga belum mengerjakannya.” Chanyeol membuat kesimpulan tersirat dari senyuman adiknya.

“Sudah ‘ku bilang, tidak seharusnya kita jadi murid SMA lagi. Aku benci dengan sekolah!” Tao terlihat frustasi disambut anggukan oleh Chanyeol dan Kai.

“Ini semua salahmu! Kenapa kau harus mengejar Luhan sampai masuk ke sekolah yang dia ajar? Tidak bisakah kau menemuinya tanpa harus jadi muridnya? Haisshh!” Tao menyalahkan Sehun.

“Gara-gara harus menjagamu, kami jadi disuruh Umma begini. Kau benar-benar Maknae yang kejam pada Hyung-nya,” tambah Chanyeol.

Sehun yang menjadi tersangka cuma bisa cemberut sambil memainkan ujung-ujung jarinya.

“Tadi siang kau hampir lepas kendali ‘kan? Bagaimana kau bisa marah semudah itu? Waee!?” Tao makin frustasi.

“Itu karena…” Sehun mencoba memberikan alasan tapi dipotong oleh Chanyeol.

“Biarkan saja kalau ada gosip Luhan punya pacar. Dia itu masih single, percayalah padaku, DIA MASIH SINGLE! Apa kau tidak bisa tidak peduli pada gosip murahan seperti itu? Jangan mudah emosi!” Chanyeol ikut-ikutan mengomel.

“Hyung…” Sehun mencicit pada Kai dengan mata berkaca-kaca karena dimarahi habis-habisan.

“Bertahanlah, Maknae,” desis Kai menuai bentakan langsung kedua Hyung-nya.

“YA! JANGAN MANJAKAN DIA!”

“Teknik puppy eyes-mu tidak akan mempan lagi pada kami,” ujar Tao ketus, masih ditujukan pada Sehun.

“Kalau kau mau minta maaf, besok pinjami kami buku PR-mu.” Chanyeol memberikan persyaratan.

Wajah Sehun berubah masam begitu mendengar niat asli para Hyung-nya. Ternyata, ada udang di balik batu.

-o0o-

“Kau tidak mau pulang?” tanya Kyungsoo pada Baekhyun yang sibuk menyeruput kuah ramyun langsung dari tepi mangkuk di tangannya. Sangat tidak mencerminkan image seorang idola sama sekali.

“Aku mau pulang bersamamu,” jawab Baekhyun sambil mengelap bibirnya dengan selembar tissue. Dia menyodorkan mangkuknya yang sudah kosong pada Kyungsoo.

“Beri aku semangkuk lagi,” pinta yeoja mungil itu membuat mata Kyungsoo membulat.

“Ya, Byun Baekhyun, kau sudah makan 3 mangkuk ramyun dan sekarang kau masih mau tambah? Kau manusia apa babi, hah?” tanya Kyungsoo heran.

“Aku mesin pencetak uang perusahaan. Selagi ada waktu aku harus mengisi bahan bakar sebanyak mungkin, arasseo? Sudahlah, beri aku semangkuk lagi.” Baekhyun menyodorkan mangkuk di tangannya dengan setengah memaksa.

“Aigoo, anak ini benar-benar…” desis Kyungsoo sambil menerima mangkuk Baekhyun dan berjalan ke dapur.

“Bujangnim, Dwaeji-hyun minta tambah lagi,” ujar Kyungsoo pada Shindong yang kemudian terdengar tertawa keras.

“YA! Siapa yang kau panggil ‘babi’, hah!?” bentak Baekhyun dari kursi tempatnya duduk.

“Neo,” tegas Kyungsoo dengan dagu menunjuk ke arah Baekhyun duduk membuat artis remaja itu mendesis kesal.

Kyungsoo membawa mangkuk Baekhyun yang telah diisi penuh oleh ramyun yang mengepulkan asap, disambut tepuk tangan senang sahabatnya.

“Selamat makan~!” kata Baekhyun gembira sambil menyumpit mie ramyun dengan senyum bahagia.

“Apa kau tidak takut berat badanmu naik?” tanya Kyungsoo pada Baekhyun yang makan dengan lahap. Dalam hati dia takjub melihat nafsu makan Baekhyun yang masih sangat bagus karena rata-rata artis wanita akan terkena gangguan nafsu makan dengan dalih menjaga bentuk tubuh mereka supaya tetap kurus.

“Anniya. Saat bekerja, manager tidak pernah membiarkanku makan makanan berkalori tinggi. Mereka bahkan membatasiku untuk makan nasi dan roti. Aku hanya disuruh makan buah dan sayuran mentah, bahkan aku tidak boleh memakai mayonaise. Dan setiap kali aku mau tidur, aku harus memakai lotion pembakar lemak yang benar-benar panas sampai aku tidak bisa tidur. Aku diperlakukan seperti itu setiap hari, tapi mereka malah memintaku untuk terus memperlihatkan wajah tersenyum di depan kamera seolah kehidupanku baik-baik saja. Aku benar-benar hidup dengan penuh penderitaan, jadi jangan halangi aku makan,” tutur Baekhyun dengan emosi menggebu-gebu.

“Jika kau begitu benci menjadi artis, lalu kenapa kau menerima tawaran untuk jadi idola dulu?” tanya Kyungsoo yang sebenarnya juga pernah ditawari untuk menjadi idola seperti Baekhyun tapi dia menolaknya sementara Baekhyun menerimanya.

“Aku tidak benci jadi artis, aku hanya tidak suka sistem dietnya. Aku suka bernyanyi di atas panggung, kau tahu itu ‘kan?” jawab Baekhyun.

“Menyanyi tidak harus selalu di atas panggung…”

“Haisshh! Aku bukan orang yang flows like water sepertimu. Aku punya passion. Passion! Dan aku harus melakukan segala cara untuk mencapai passion-ku itu,” potong Baekhyun.

“Maksudmu ‘ambition’ ?” koreksi Kyungsoo.

“Hu um, apalah itu namanya.” Baekhyun mengibaskan tangan tidak peduli. Sebentar kemudian dia melanjutkan.

“Kau juga. Seharusnya kau memikirkan lagi prinsip hidupmu yang ‘menyanyi tidak harus selalu di panggung’ itu. Kau punya suara yang bagus dan bisa menghasilkan uang jika kau jual di depan kamera. Percayalah, dunia hiburan tidak sekejam yang diceritakan orang. Yang perlu kau lakukan hanyalah bekerja mengikuti jadwal yang ada seperti sebuah mesin, tutup mata dan telinga pada komentar orang lain, lakukan apa yang harus kau lakukan dan isi waktu dengan permainan seru seperti kabur dari manager.” Baekhyun memprovokasi Kyungsoo.

“Kau benar-benar pandai memprovokasi orang,” decak Kyungsoo.

Baekhyun mengangguk mantap.

“Walau kau bilang begitupun, sebenarnya kau hanya ingin mencari orang untuk menemanimu menderita ‘kan?”

Kalimat Kyungsoo membuat Baekhyun nyengir saat itu juga.

“Ah, kau tahu saja, Kyungsoo-ya.” Suara Baekhyun berubah kecil dan manja.

Kyungsoo mendengus. “Byun Baekhyun terkenal sebagai idola yang tidak terlalu punya banyak teman di dunia hiburan dan dikenal sebagai gadis kesepian,” ledeknya pada sahabatnya yang langsung berubah manyun.

“Itu karena kau mengkhianati aku. Kau bilang kau juga akan menjadi artis, tapi buktinya sampai sekarang kau malah membiarkan aku menderita sendirian. Kau pasti akan terkena karma,” sungut Baekhyun.

“Ya, jaga ucapanmu.” Kyungsoo mendelik. “Aku tidak pernah bilang aku mau jadi artis, aku hanya bilang aku mau jadi penyanyi.”

“Sama saja! Jadi penyanyi, menyanyi di panggung, sama dengan jadi artis!” tandas Baekhyun.

“Menyanyi tidak harus selalu di atas panggung!” balas Kyungsoo.

“Kalau kau tidak menjual suaramu, kau tidak akan mendapatkan uang. Bukankah kau ingin mengumpulkan banyak uang untuk sekolah?” kalimat terakhir Baekhyun seolah menjadi skakmat bagi Kyungsoo, terbukti dari terkatupnya mulut yeoja itu, tak mampu membalas lagi.

“Ya, ya, ya. Apa kalian sedang bertengkar lagi? Masalah apa lagi kali ini? Kalian itu jarang bertemu, tapi setiap kali bertemu selalu saja bertengkar. Apa kalian tidak bosan?” tegur Shindong pada dua gadis yang sudah dia kenal sejak mereka SMP tersebut.

“Anneyo, Bujangnim. Kami hanya berargumen,” jawab Baekhyun sambil tersenyum.

Kyungsoo bangkit berdiri dari kursinya dan berjalan masuk ke ruang karyawan tanpa sepatah kata pun. Shindong mengikuti gerakan gadis itu dengan mata menyiratkan tanda tanya, lalu pandangannya beralih pada Baekhyun yang mengaduk-aduk isi mangkuknya dengan sumpit, terlihat bila gadis itu juga sudah kehilangan nafsu makannya. Perlahan Shindong menghela napas.

Di ruangan pegawai, Kyungsoo melepas kancing seragam karyawannya dengan tarikan napas terisak. Beberapa kali dia mengusap air bening yang jatuh di pipinya tanpa banyak bicara. Dia tahu Baekhyun tidak berniat buruk padanya meski memang kalimatnya sedikit tajam. Kyungsoo hanya sedang merutuki dirinya sendiri yang tidak pernah mau melihat kenyataan. Dia yang ingin melanjutkan sekolah dengan kondisi keseharian yang pas-pasan, tidak mungkin meminta uang pada Lay yang sudah memberikan seluruh tenaganya untuk mencari biaya makan setiap hari. Memang benar apa yang dikatakan Baekhyun, mungkin satu-satunya cara adalah dengan menjual suara di depan kamera seperti dia. Tapi untuk hidup sebagai mesin pencetak uang, Kyungsoo yang cinta kebebasan merasa tidak sanggup mengorbankan harga dirinya seperti itu.

Kyungsoo keluar dari ruang ganti karyawan setelah memastikan isakannya sudah berhenti. Terlihat Shindong baru selesai menaikkan kursi-kursi ke atas meja. Mata gadis itu berputar mencari sosok Baekhyun.

“Baekhyunie sudah pulang. Dia menitipkan ini untukmu. Dia bilang kalau kau menutupi kepalamu dengan topi, kau akan merasa sedikit hangat,” ujar Shindong seperti tahu isi hati Kyungsoo. Dia menyodorkan topi yang tadi dipakai Baekhyun sebagai penyamaran. Kyungsoo menerima topi itu dengan wajah murung.

“Dia tidak mengatakan apa-apa selain itu. Sepertinya dia ingin menemuimu sendiri untuk minta maaf. Itu bagus ‘kan? Setidaknya kalian tidak akan menjadi jauh satu sama lain,” sambung Shindong seraya menepuk pelan bahu Kyungsoo.

Kyungsoo tersenyum getir. “Ne,” desisnya lalu memakai topi Baekhyun.

“Berhati-hatilah di perjalanan pulang nanti. Akhir-akhir ini berita tentang perampokan dan pemerkosaan sedang heboh-hebohnya,” pesan Shindong ketika Kyungsoo pamit pulang.

“Ne, Bujangnim. Aku akan berhati-hati,” ujar Kyungsoo sambil tersenyum.

“Sampai jumpa besok.” Yeoja itu menundukkan badan sopan dan berbalik berjalan keluar toko dengan langkah-langkah kecil yang ringan.

“Aigoo, gadis itu benar-benar cantik dan imut. Aku jadi was-was membiarkannya pulang sendirian. Apa aku temani saja dia?” gumam Shindong khawatir.

-o0o-

“Mau kemana kita malam ini?” tanya Tao sambil memakai sarung tangannya.

“Jalan saja dulu, kalau ada yang menarik baru kita berhenti,” jawab Chanyeol sambil memakai topi untuk menjaga rambutnya agar tetap rapi karena angin semakin keras bertiup.

“Aku ada urusan sebentar. Aku akan menyusul,” ujar Sehun membuat para Hyung-nya melengos.

“Oke, oke, urus saja Luhan terus!” decak Tao kesal. Sehun hanya merengut mendengarnya.

“Aku juga mau pergi sebentar, nanti aku menyusul,” timpal Kai.

“Ya, mau kemana kau?” tanya Chanyeol heran.

“Ada urusan,” jawab Kai pendek.

“Yeoja? Apa ini menyangkut yeoja?” selidik Tao.

Kai tidak menjawab dan hanya memandang saudaranya dengan tatapan datar.

“Kalau begitu aku juga.” Chanyeol ikut-ikutan.

“YA!” bentak Tao marah.

“Waee? Mereka boleh, kenapa aku tidak?” protes Chanyeol.

“Kau pengkhianat…!” umpat Tao tertahan.

“Wae? Apa karena aku punya pacar dan kau tidak? Makanya cari pacar sana! Apa gunanya kau selalu membanggakan wajahmu kalau satu yeoja saja kau tidak punya,” balas Chanyeol.

“Yeoja-yeoja ingusan itu tidak sesuai dengan tipeku?” sangkal Tao.

“Lalu kau mau tipe yeojachingu yang seperti apa? Ahjumma?” Chanyeol menantang.

“Kau…!” Tao menggeram. “Yang pasti yeoja yang lebih mandiri, realistis, dan dewasa.” Namja ber-eye line tegas itu terlihat begitu mantap mengucapkan kriteria idamannya.

Chanyeol menyeringai. “Bukankah itu sama saja dengan tipe-tipe Ahjumma? Ya, Tao-ya, jangan sampai kau memilih yeoja yang lebih tua dari Umma. Memalukan.”

“Bukan yeoja-ku yang akan lebih tua dari Umma, tapi Umma yang wajahnya terlalu muda,” kilah Tao.

“Makanya aku bilang jangan mencari yang wajahnya lebih tua dari Umma atau akan ‘ku hasut dia setiap hari supaya dia kabur meninggalkanmu,” ancam Chanyeol.

“YA, KAU…!”

“STOP!!” seru Kai dan Sehun bersamaan membuat TaoYeol berhenti berargumen.

“Bisakah kalian menjaga sedikit harga diri di depan Dongsaeng? Kalian seorang Hyung,” desis Kai.

“Bukan salah kami, kalian saja yang terlalu diam,” bela Chanyeol diiyakan oleh Tao.

“Aku duluan. Melolonglah supaya aku tahu posisi kalian nanti,” pamit Sehun dan langsung melompat turun dari tempatnya berpijak tanpa menunggu jawaban Hyung-nya, tubuhnya sudah jatuh dengan bebas ke udara.

“Ya, ya, ya…! Aissh, Maknae itu…!” gerutu Tao.

“Haruskah kita ke Hongdae? Atau Myoongdae?” tanya Chanyeol memberi pilihan.

“Shinjuku,” celetuk Kai.

“Woo…ide bagus!” sahut Chanyeol girang tapi dalam sedetik senyumnya hilang.

“Sana renang sendiri ke laut,” ketusnya. Kai manyun.

“Jalan saja dulu. Kalau ada tempat menarik baru berhenti.” Tao mengulangi kalimat Chanyeol tadi.

“Oke.” Chanyeol dan Kai mengangguk-angguk.

“Mau melolong?” tanya Tao dijawab senyum sarkastik oleh kedua saudaranya.

Ketiga namja itu berdiri dan menegakkan leher mereka. Menatap ke langit hitam yang membentang. Perlahan namun pasti warna mata mereka berubah dari abu-abu menjadi merah. Seperti dikomando, ketiganya kemudian mengeluarkan suara yang mirip seperti lolongan anjing. Suara yang terdengar bersahut-sahutan, menggema dan melengkapi hiruk pikuknya dunia malam Seoul.

AUUU~~~!

Kyungsoo terkejut ketika telinganya mendengar suara seperti lolongan seperti ada beberapa anjing kelaparan. Yeoja itu mengedarkan pandangan dengan tubuh gemetar antara takut dan kedinginan. Jika yang dihadapinya adalah manusia, masih ada harapan untuk bernegosiasi. Tapi jika lawannya adalah binatang, komunikasi tidak akan bisa berjalan dengan lancar. Kyungsoo mencoba menepiskan pikiran buruknya dan kembali berjalan dengan langkah lebih cepat tanpa menyadari ada bayangan yang mengikutinya dari belakang.

-TBC-

Will be continued in [Part 3]❤

Let me know if you have something to say about this story^^

And please support me with your comment and review below^^

Hamsahamnida~ *bow*

NB: FF ini pernah di-publish di www.fanfiction.net a/n author Myka Reien

12 pemikiran pada “Full Moon (Chapter 2)

  1. lagi iseng cari ff yg pairnya kaisoo ketemu ini…..menarik ceritanya….karna udah banyak chapnya ak baca dulu ya biar gak penasaran…..

  2. Waahh aku baru sadar kalo ff ini bergenre fantasy..
    Jadi mereka manusia serigala yaa? Dan yg tau mereka manusia serigala tuh hanya luhan?
    Emang pacarnya chanyeol siapa thor? Baekhyun kah? Penasaran~~
    Oke lanjut baca ya thor.. 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s