Unpredictable You (Chapter 6)

Unpredictable You (Chapter 6)

 

Title                        :               Unpredictable You

Author                  :               Mee-icha

Length                   :               Chapter

Genre                     :               School LIfe, Friendship

Main Cast              :               Nam Ji Hyun, Kris , Kai

Support Cast         :               Min Young, and others (find when you read it ^_^)

Author Note       :               Annyeonghaseyo chingudeul, yorobeun… I’m back, I’m back, I’m back #sambil kibar-kibar bendera… haha ga penting# here is the new chapter. Hopefully you will enjoy it.and Happy reading chingudeul. Jangan lupa komen dan sarannya yang selalu aku tunggu. Don’t be silent reader or plagiator on my FF.

Satu informasi lagi, kalau FF ini juga akan aku publish di blog pribadiku, asniishere.wordpress.com. Ini blog udah lama aku buat, tapi mati suri untuk sementara waktu. Sementara, baru ada FF yang pernah aku publish aja J. I hope you want to visit my blog as well.

unpredictable you

~Lanjut ya ~

“Ji hyun-a, kau sudah mengerjakan PR dari Yun Songsaenim? Ah, aku tak mau lagi jadi bahan tertawaan siswa lain terus mendapat sindiran super tajam karena tidak mengerjakan tugas darinya. Cukup sekali. Cukup sekali Ji hyun-a.” Ucap Min young sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat insiden memalukan itu.

Ji hyun hanya tersenyum tipis melihat konyolnya sikap Min young. “Makanya, kalau ada tugas tuh dikerjain, jangan didiamin.” Ledek Ji hyun.

“Berhenti meledekku. Mana PR-mu. Pinjam.” Sungut Min young.

“Ini.” Ujar Ji hyun sambil menyerahkan buku bersampul cokelat tersebut.

Min young segera mengambilnya dengan cepat. “Ji hyun-a, jam istirahat ini kau ke perpustakaan kan? Aku ikut ya? Aku mau menyalin PR-mu disana saja. Kalau didalam kelas, aku tidak akan selesai karena si Ryu jin akan langsung merebut duluan bukumu sebelum aku selesai.” Sambil melirik Ryu jin yang tengah tertidur disudut ruangan.

Dan tepat saat Min young menyelesaikan kalimatnya, lonceng tanda istirahat berbunyi nyaring yang langsung disambut sorak sorai warga kelas. #lebay#

Kajja.” Ucap Min young bersemangat sambil menarik tangan Ji hyun dengan tangan kirinya dan tangan kanan merangkul buku-bukunya. Setelah berjalan beberapa meter dari ruang kelas mereka, Min young kembali membuka suara karena teringat suatu hal “Sekarang, katakan padaku apa saja yang kalian obrolkan saat bertelepon?”

Ji hyun langsung melihat Min young dengan tatapan bingung. “Kalian? Maksudmu?”

“Kau dan sunbae kesayanganmu” Goda Min young. Bukannya jawaban yang diberikan Ji hyun malah kerutan dijidadnya yang semakin bertambah karena bingung karena kalimat barusan. Min young terkikik geli melihat ekspresi temannya itu “Antara kau dan Kris sunbae” Jelasnya dengan senyum usil untuk menggoda Ji hyun.

Ji hyun segera mengalihkan pandangannya kearah lain. Ada sesuatu yang menggelitik perasaannya saat mengingat hal itu. Malu? Senang? Yah mungkin itulah kata-kata yang dapat mewakili suasana hatinya saat Kris menelpon menanyakan kabarnya hari itu. Dia bingung bagaimana menjelaskan pada Min young dan memutuskan untuk berkata apa adanya tanpa ekspresi apapun supaya Min young berhenti menggodanya. “Aku tidak mengobrol apa-apa dengannya. Hari itu dia menelpon hanya menanyakan kabarku saja.” Ujarnya. Mungkin lebihnya tepat, aku yang menelponnya, tambahnya dalam hati.

Min young mengambil satu langkah dan berhenti didepan ji hyun serta meliriknya dengan pandangan aku-tidak-percaya.

Waeyo?” Tanya Ji hyun karena mulai merasa tidak nyaman dengan pandangan temannya itu.

Min young masih kekeuh bertahan dengan tindakannya itu untuk menggali informasi lain. Dia benar-benar penasaran dengan hubungan seperti apa yang tengah terjalin antara dua orang ini.

“Sudahlah. Berhenti dengan sikapmu yang seperti itu atau kembalikan bukuku dan kerjakan sendiri PR-mu.” Ucap Ji hyun mulai kesal.

Arraseo. Keundae. Jinjjayo…?” Tanya Min young kembali berjalan berdampingan dengan Ji hyun. “Kalian tidak ada mengobrol hal lain?” Tambahnya dan langsung mendapat anggukan pelan dari Ji hyun. “Kris sunbae menemuiku 2 kali selama kau tidak masuk, hanya untuk mengecek keadaanmu. Kau yakin dia tidak mengatakan hal lain atau mungkin kau yang terlalu senang sampai tidak mendengarkan ucapannya?” Ledek Min young.

“Terlalu senang? Apalagi ini? Kenapa aku harus terlalu senang?”

Hei, C’mon. He is Kris. One of the popular and the hottest guys in this school.” Ujar Min young bangga dengan bahasa inggris-nya yang (tumben) lancar.

Ji hyun mendelik tidak percaya “Gosh! I don’t know if your English really this good” Balas Ji hyun tidak kalah heboh namun kemudian tersenyum geli.

Well, I am good if we’re talking in this kind of subject… hahaha” Min young tertawa bangga. “Jadi, katakan padaku. Kau, senang ‘kan?”

Stop it. Tidak ada obrolan lain diantara kami. Dan sekali lagi kau bertanya masalah ini, mulai besok tidak akan kupinjami lagi buku PR-ku.” Tukas Ji hyun dan melangkah duluan berusaha mencapai pintu perpustakaan.

“Huh! Pasti ada sesuatu.” Gumam Min young melihat gelagat Ji hyun itu. “Ji hyun-a, tunggu aku!”

Ji hyun dan Min young memasuki perpustakaan dengan santai. Tapi langkah kakinya melambat saat dilihatnya antrian panjang siswa didepan meja administrasi perpustakaan yang akan mendaftarkan buku yang akan mereka pinjam. Niat awal ingin menemui dan menyapa Shin ajusshi langsung dibatalkannya.

“Sepertinya ada kelas yang baru saja mengerjakan tugas disini” Bisik Min young ketika mereka berjalan mencari bangku kosong.

Ji hyun sedang menoleh kanan kiri untuk mencari bangku kosong yang pas untuk mereka duduk saat mendengar Min young menyapa seseorang “Oh sunbae. Annyeonghaseyo”. Serta merta Ji hyun langsung mengalihkan pandangannya kearah orang yang disapa oleh Min young.

Ji hyun mengerjapkan matanya beberapa kali melihat Kai sedang duduk bersama beberapa orang temannya. “Annyeonghaseyo sunbaenim” Sapanya sambil menunduk pelan.

“Hm..” Balas kai cool dengan sedikit mengangguk. Sikap cool dari Kai tersebut membuat Min young semakin mengaguminya.

JI hyun memilih menunduk sambil mengalihkan pandangannya kearah lain sedangkan Kai tampak seakan berpikir sesuatu. Keadaan Min young juga tidak jauh berbeda, dia  bingung harus berbuat apa karena merasa canggung untuk mengatakan sesuatu pada sunbae yang telah lama dikaguminya itu.

“Sebenarnya apa yang sedang kalian lakukan?” Kali ini Xiumin membuka suara melihat tingkah aneh 3 orang dihadapannya. Risih!.

Aniyo sunbae. Kami permisi dulu. Maaf mengganggu kegiatan belajar kalian.” Tukas Min young yang tersadar dari kekagumannya terhadap Kai.

Kajja” Ajak Min young. Ji hyun melirik sekilas pada Kai dan mata mereka kembali bertemu, namun kemudian dia hanya menunduk dan melangkah pergi.

Min young telah duduk disalah satu meja yang ada untuk mengerjakan misi utamanya. Sedangkan Ji hyun seperti biasa, sedang berdiri diantara rak buku mencari novel bagus yang ingin dibacanya siang itu. Ji hyun sedang memperhatikan judul-judul dari novel yang tertata rapi saat seseorang berjalan mendekati dirinya.

“Sepertinya kau sudah sehat?” Sapa orang itu sambil berpura-pura memilih novel di rak buku yang membelakangi Ji hyun.

Ji hyun menoleh kanan kiri untuk mencari kemungkinan bukan dia orang yang sedang diajak bicara tapi nihil. Cuma ada mereka berdua diantara rak buku tersebut. Ji hyun membalikkan badannya untuk melihat lawan bicaranya. Matanya melotot kaget melihat namja itu lagi.

“Ne, aku sudah sehat. Terima kasih atas bantuannya tempo hari.” Jawab Ji hyun setelah kembali ke posisi semula. Mereka memilih berbicara sambil berhadapan punggung alias saling membelakangi.

“Baguslah kalau begitu. Ada hal yang ingin kutanyakan padamu.” Tanya namja itu to the point.

“Apa?”

“Apa maksud pesanmu waktu itu?”

“Pesan?” Ulang Ji hyun sambil berusaha mengingat-ingat sesuatu. “Ah, itu.” Timpalnya mulai mengerti arah pembicaraan ini sambil sedikit mengangguk-angguk kepalanya.

“Sepertinya kau sudah ingat. Sekarang, jelaskan padaku apa maksud teka tekimu itu.” Tukas namja yang tidak lain dan tidak bukan adalah Kai.

“Maksudku supaya sunbae lebih memperhatikan tentang orang-orang terdekatmu.” Jawab Ji hyun santai. “Masa begitu saja tidak mengerti?” Gumamnya sendiri sangat sangat sangat pelan.

“Berhenti bergumam seperti itu, aku mendengarnya. Kalau kau mau tidak ada yang mendengar, sebaiknya kau mengucapkannya dalam hati saja.” Sindir Kai.

Mianheyo” Ujar Ji hyun.

“Orang-orang terdekat itu…” Kai menggantungkan kalimatnya sebentar karena sedikit ragu “Apa Kris dan Hana?” Tanya kai yang sudah membalikkan badannya dan berhadapan dengan punggung Ji hyun.

Untuk beberapa detik, Ji hyun mendelik kaget dengan tebakan langsung dari Kai. Karena memang merekalah orang yang dimaksud olehnya. Entah apa yang ada dipikirannya, gadis itu juga memutuskan membalikkan badannya tanpa tahu bahwa Kai sedang menatapnya dari belakang. Ji hyun kaget dan langsung mengambil satu langkah mundur karena jarak wajah mereka cenderung dekat. Sedangkan Kai hanya terlihat kaget sesaat, kemudian melanjutkan maksud dan tujuannya #halah kalimatnya ribet.

“Sekarang jawab aku” Kalimat dari mulut Kai itu lebih terdengar seperti perintah ditelinga Ji hyun.

Ji hyuh menarik nafas dalam-dalam sebelum memutuskan memberikan jawabannya. Baru saja Ji hyun membuka mulut untuk berniat menjawab,

“Kai, kau dipang…” Kalimat itu terputus. Namja yang tiba-tiba hadir untuk menyampaikan pesan kepada Kai hanya bisa mematung saat melihat kejadian didepannya.

Namja tersebut menatap Kai dan Ji hyun secara bergantian. Begitu pula sikap Kai dan Ji hyun pada namja itu. Secara cepat, kesunyian merayap diantara mereka menciptakan suasana canggung luar biasa.

“Maaf, aku mengganggu urusan kalian.” Ucap namja jangkung bernama Kris yang berusaha menghilangkan kecanggungan tersebut. “Tapi… Kai, kau dipanggil oleh Yoon songsaenim.” Ujarnya sambil menatap hanya pada Kai. “Dan jika kalian ingin berbicara seperti ini, lebih baik memilih tempat yang tidak terlihat oleh siswa lain” Kali ini Kris berkata sambil memandang mereka berdua bergantian. “Jika tidak, kejadian tempo hari mungkin bisa terulang kembali” Tatapan Kris jatuh dan diam beberapa saat pada Ji hyun.

Kalimat Kris barusan seakan mengingatkan Kai pada alasan kenapa Ji hyun bisa terperangkap dalam toilet  tempo hari. Kai langsung menatap pada Ji hyun “Mianhe Ji hyun-si, sebaiknya kita lanjutkan pembicaraan ini ditempat lain atau mungkin diluar jam sekolah saja.” Ji hyun hanya mengangguk pelan mendengar kalimat Kai. “Kalau begitu aku pergi dulu. Yoon songsaenim memanggilku.” Ucap Kai lagi. Namun baru satu langkah dia kembali menghadap Ji hyun dan mengeluarkan handphone-nya. “Tuliskan nomor handphone-mu” Tukasnya lagi menyerahkan benda persegi panjang tersebut pada Ji hyun.

Ji hyun melirik Kris sekilas yang masih berdiri ditempatnya sebelum meraih handphone milik Kai dan menuliskan nomor handphone-nya. “Ini sunbae.” Ujar Ji hyun sambil menyerahkan kembali  handphone tersebut ke pemiliknya.

Kris kini hanya diam menyaksikan kejadian itu didepan matanya. Berbagai hal mulai mengisi otaknya. Degup jantungnya terasa bertalu lebih cepat. Ada perasaan ‘panas’ yang menjalari tubuhnya. Ekspresi kesal tergambar jelas diwajahnya saat Ji hyun meraih handphone Kai. Pandangan Kris benar-benar tidak lepas dari Ji hyun. Pandangan mereka kembali bertemu setelah Ji hyun mengembalikan handphone Kai.  Pandangan intens tanpa kata namun menyiratkan berbagai makna. Beberapa detik kemudian, akhirnya Kris memutuskan pergi duluan dari tempat itu.

Sedangkan Kai langsung men-dial nomor tersebut untuk memastikan itu nomor yang tepat sekaligus memberitahukan nomor handphone-nya. “Itu nomorku” Ucap Kai saat melihat Ji hyun mengeluarkan handphone yang sedang bergetar karena ada telepon masuk  dan melenggang pergi begitu saja.

Ji hyun hanya bisa diam. Gadis itu tidak tahu apa yang dirasakannya saat ini. Ada rasa menyesal dan bersalah saat melihat tatapan Kris padanya. Ada perasaan gugup saat Kai meminta nomor handphone. Dia benar-benar bingung dengan suasana hatinya saat ini. Tidak ada lagi mood untuk meraih apalagi membaca novel di rak buku tersebut.

***

Kris berjalan malas melewati gerbang sekolah untuk pulang. Jam tambahan yang harus diikuti para siswa tingkat akhir memang menjadi salah satu beban yang harus dijalaninya. Langkah kakinya cepat untuk segera sampai dirumah. Dia benar-benar ingin mengistirahatkan tubuhnya.

Kilauan matahari senja sudah menyapa masuk melalui jendela kamarnya saat dia masuk menginjakkan kaki diruang tersebut. Tanpa pikir panjang Kris langsung merebahkan diri dikasur empuk tersebut. Sekedar melepas lelah yang menggerogoti kepala dan seluruh tubuhnya.

Mata namja tersebut tidak terpejam melainkan menatap lurus kearah langit-langit kamarnya seakan sedang menerawang jauh entah kemana tapi apapun yang dipikirkannya selalu berakhir pada sosok seorang Ji hyun. Kris juga tidak mengerti bagaimana hal itu terjadi. Awalnya dia berpikir tentang pertandingan basket yang sebentar lagi diadakan tapi hal itu berakhir dengan ingatan tentang permainan basket dari seorang Ji hyun yang pernah disaksikannya. Awalnya dia berpikir tentang tugas sekolahnya tapi hal itu kembali berakhir pada pertemuan Ji hyun dengan Kai di perpustakaan beberapa hari yang lalu.

Ji hyun, Ji hyun dan Ji hyun. Itulah topik utama yang beredar dikepalanya, terutama tentang kejadian diperpustakaan itu. Kejadian itu benar-benar merusak konsentrasi belajarnya yang semakin menipis. Dia penasaran tentang apa yang dibahas antara Ji hyun dan Kai sampai mereka berjanji untuk bertemu lagi, bahkan diluar sekolah. Apa rumor itu benar? Apa Kai juga menyukai Ji hyun?, Pikir Kris. Mata membelalak sempurna saat menyadari pikiran yang baru terlintas diotaknya. “Juga?… Juga?…Juga?” Ulang Kris berkali-kali pada dirinya sendiri yang sekarang sudah berada dalam posisi duduk. Seakan sedang menyakinkan sesuatu pada dirinya. “Aku… menyukai… dia?”…“Gadis itu?”…“Juga?” Ujarnya dengan memenggal setiap kata demi kata.

“Huh…” Kris membuang nafas kasar. Kemudian berdiri dan menatap bayangan dirinya dicermin kamarnya. Perlahan tapi pasti seulas senyum bodoh menghiasi wajahnya “I think I really do.”

***

Kilauan warna jingga yang menghiasi langit sore serta semilir angin yang bertiup pelan menemani dua sosok namja yang sedang berjalan menuju pintu utama sebuah toko buku dari pelantaran parkir mobil yang tersedia. Dengan banyaknya tugas akhir yang semakin menumpuk mereka memutuskan untuk membeli buku tambahan untuk menunjang kegiatan belajar yang tersisa beberapa bulan lagi tersebut. Perbincangan santai tapi bermakna itu sempurna mengisi hubungan pertemanan mereka.

“Kai-ah, kau dapat nilai berapa untuk tes pelajaran Go songsaenim hari ini?” Tanya xiumin santai.

“Jangan dibahas. Sepertinya Go songsaenim itu tidak pernah suka padaku. Nilaiku tidak pernah bagus dengannya.” Jawab Kai asal.

Xiumin yang mendengarkannya tersenyum kemudian berkata “Makanya kau jangan suka cari masalah dengannya. Kau juga sudah tahu kalau beliau paling tidak suka dengan siswa yang terlambat. Tapi kau tetap saja melakukan hal sama sejak berada ditahun pertama. Kurasa kau memegang orang yang paling sering terlambat.” Ucap Xiumin sambil terkekeh kecil.

“Sudahlah jangan mengejekku, mood-ku sedang jelek.”

“Owh… oke”…”Oh ya, tumben sekali kau mau ikut denganku ke toko buku. Hana kemana? Belakangan ini aku semakin jarang melihat kalian berdua?”

“Hana? Entahlah, aku belum menghubungi dia hari ini.” Jawab Kai cuek.

Waeyo? Kalian sedang bertengkar?” Xiumin terdengar penasaran.

Aniyo. Hanya saja ada hal lain yang menyita pikiranku.” Balas Kai santai.

Kini mereka sudah berada didalam Kyobo book store yang cukup besar. Mereka melangkah menuju kategori buku yang mereka cari. Xiumin mulai membuka-buka salah satu buku yang dipilihnya untuk mengecek kecocokan materi yang ada dengan materi ujian sekolahnya.

“Kai-ah…” Panggil Xiumin ditengah kegiatan kroscek buku tersebut. “Apa hubunganmu dengan Kris tidak bisa seperti dulu lagi? Maksudku kalian sudah bersahabat cukup lama, bahkan sebelum aku mengenalmu.” Tanyanya kembali membuka pembicaraan.

Kai menghentikan kegiatannya mencari buku yang baru beberapa saat dilakukannya. “Entahlah. Aku juga tidak tahu.” Jawab Kai yang terdengar pasrah.

“Apa ini masih karena Hana? Kurasa Kris sudah tidak memiliki perasaan lagi terhadap Hana, sepertinya dia sedang sibuk dengan urusan sendiri.”

“Kurasa juga begitu.” Ujar kai sambil mengangguk.

“Cobalah untuk saling berkomunikasi lagi dengannya. Kalau kita berkumpul dengan anak-anak lain, selalu saja terasa ada yang kurang saat kalian memilih untuk diam dan seakan tidak saling mengenal satu sama lain. Kau tahu, kami benar-benar merindukan kalian yang dulu.” Ungkap Xiumin jujur.

Mendengar kalimat Xiumin tersebut, Kai merasa ada rasa penyesalan yang kembali muncul. Walau sebentar kelebatan memory tentang persahabatannya dengan Kris telah mengisi pikirannya. Sebuah pertanyaan muncul begitu saja dikepalanya, Kapankah terakhir kali dia merasa begitu akrab dengan Kris dan Kapankah dia akan kembali akrab dengan Kris?. Sejujurnya, dia merindukan hari-harinya yang seperti dulu bersama sahabatnya itu.

Xiumin yang melihat ekspresi Kai yang berubah muram membuatnya merasa bersalah. Dia kembali membuka pembicaraan untuk mengalihkan pikiran Kai. “Oh ya, bicara tentang Hana, apa dia memang hobi belanja? Kau harus menemaninya sampai jam berapa minggu lalu itu?” Celetuk  Xiumin iseng.

“Hah? Minggu lalu?” Kai balas bertanya. Bingung.

“Iya, minggu lalu aku melihat Hana sedang membawa beberapa kantong belanjaan dan bergandengan dengan seseorang. Itu kau ‘kan? Tidak mungkin dia berjalan berdua dengan namja lain. Aku ingin menyapamu tapi takut mengganggu acara nge-date kalian. Hehe” Jelas Xiumin.

Minggu lalu? Aku tidak kemana-mana minggu lalu. Hana bergandengan tangan dengan seorang namja? Siapa dia? Apa dia selingkuh dibelakangku?, pikir Kai. Kekesalan mulai tergambar diwajahnya.

“Kai…? Kai…? Kau melamun?” Panggil Xiumin sambil mengibaskan tangan didepan muka Kai.

Ah, aniya. Kau masih mau mencari-cari buku ‘kan? Aku mau ke toilet sebentar, ok?” Ucap Kai cepat.

“Hmm…” Angguk Xiumin.

Kai langsung berjalan cepat menuju tempat yang tidak terlihat oleh Xiumin. Setelah mendengarkan ucapan Xiumin tentang Hana barusan, dia langsung berpikir tentang suatu hal. Dengan cepat Kai mengeluarkan handphone miliknya dan mencari nomor contact seseorang kemudian langsung men-dial nomor tersebut.

Baru sedetik Kai men-dial nomor tersebut, suara operator langsung mengisi pendengarannya “Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi.”. Kai menggerutu kesal mendengarnya.

Apa benar Hana selingkuh dibelakangku? Apa Ji hyun dan Kris sudah tahu tentang ini?. Dua pertanyaan itu sempurna menguasai otaknya. Saat Kai mengingat pesan Ji hyun padanya dan bagaimana sikap Kris jika membahas tentang Hana, Kai yakin mereka berdua mengetahui sesuatu. Tapi kenapa mereka tidak pernah mau mengatakan langsung padanya?.

Kai terlihat semakin kesal dengan pertanyaan yang semakin bertumpuk mengisi kepalanya yang entah muncul dari mana. Ditambah lagi dengan kenyataan orang yang ingin dihubunginya malah tidak mengaktifkan handphone-nya. Tapi dia tetap butuh jawaban dari orang tersebut. Kai melangkahkan kakinya kembali menuju tempat dimana Xiumin berada. Sambil berjalan, Kai memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat saja kepada orang tersebut dan berharap orang itu segera menghubunginya secepatnya.

***

Eomma, aku pergi ya.” Pamit Ji hyun pada eomma-nya yang sedang menonton drama.

“Pulang sekarang? Eomma akan panggilkan Yoon ajusshi untuk mengantarmu ke apartement.” Ujar eomma ji hyun setelah mengecup pelan kening sang anak.

Aniya. Aku naik taksi saja. Aku mau mampir minimarket dekat rumah untuk membeli sesuatu.” Tolak Ji hyun.

“Tapi ini sudah malam, nan..”

“Ini baru jam 7 malam. Jalanan masih sangat ramai jam segini. Jangan Khawatir. Aku adalah anak eomma yang paling tangguh, ne?” Ucap Ji hyun ditambah dengan cengiran polosnya.

“Baiklah. Tapi janji sama eomma, kalau ada apa-apa, kau akan segera menghubungi eomma.” Tegas eomma Ji hyun.

“Tentu saja. Siapa lagi yang bisa kuandalkan selain eomma-ku tersayang ini” Pujian dan Rayuan Ji hyun berhasil membuat eomma-nya tersenyum simpul.

“Aku pergi. Dagh eomma.” Ucap Ji hyun kembali sambil melambaikan tangannya.

Hari ini Ji hyun memang sengaja pulang dulu ke rumah utamanya karena ada barang yang ingin diambilnya. Selain itu, dia juga ingin bertemu kangen dengan kedua orangtuanya, sayangnya hanya ada eomma saja dirumahnya sedangkan aboeji-nya masih harus bekerja hingga larut malam.

Perjalanan menggunakan taksi tidak membutuhkan waktu lama untuk mengantarnya sampai ditempat tujuan. Setelah sekitar 10 menitan, Ji hyun kini sudah tiba didaerah pertokoan yang terletak dekat dengan tempat tinggalnya. Ji hyun berencana untuk membeli roti untuk sarapan besok pagi dan beberapa kebutuhan lainnya di minimarket. Tapi sebelum itu, dia memilih untuk memasuki beberapa toko aksesoris untuk sekedar melihat-lihat. Dia menghabiskan waktu hampir setengah jam menanyakan harga barang-barang disana dan hanya berakhir dengan membeli sebuah ikat rambut lucu.

Ji hyun keluar dari sebuah toko dengan senyum puas diwajahnya melihat ikat rambut berwarna biru tersebut. Kini dia benar-benar memutuskan untuk menjalankan misi awalnya berada ditempat tersebut. Langkahnya ringan menuju minimarket yang terletak tidak jauh dari toko aksesoris tersebut. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti begitu melihat postur tubuh seorang namja yang cukup dikenalnya meski dengan perawakan tubuhnya dari belakang yang berdiri dekat dengan minimarket tujuannya tersebut.

“Apa yang dia lakukan disini?” Gumam Ji hyun kemudian memilih melanjutkan langkahnya. Rasa ingin tahunya membuatnya berniat untuk menyapa namja tersebut. Namja itu terlihat sibuk dengan handphone ditangannya sehingga tidak menyadari kehadiran Ji hyun yang tinggal beberapa langkah darinya.

Mulut Ji hyun sudah sedikit terbuka untuk menyapa namja dihadapannya itu, ketika seseorang berteriak memanggil namanya. Ji hyun langsung menolehkan kepalanya kearah sumber suara, begitu pula namja dihadapannya itu yang terlihat terkejut dengan keberadaan Ji hyun didekatnya.

“Oh! Kai Sunbae.” Ucap Ji hyun terkejut saat melihat Kai berjalan mendekatinya. Kemudian kepalanya langsung menoleh kearah namja didekatnya yang kini juga menampilkan ekspresi yang lebih terkejut karena kehadiran Ji hyun dan Kai. Sedangkan Kai yang semula ingin langsung menyapa Ji hyun, malah terdiam melihat namja jangkung yang berada didekat gadis itu. Kris? Kenapa dia bisa berada disini juga?, batin Kai. Langkah kaki Kai yang semula bersemangat sekarang terlihat ragu-ragu mendekati Ji hyun.

Kini kedua namja tersebut sudah berada disisi kanan dan kiri Ji hyun. Seketika perasaan gugup dan bingung langsung merayapi tubuhnya. Apa yang harus kulakukan pada kedua orang ini?. Hanya satu pertanyaan ini yang terus menerus berulang dikepala gadis itu. Matanya bolak balik menoleh kedua namja tersebut secara bergantian karena tidak ada yang memutuskan untuk membuka suara diantara mereka.

Ji hyun kini memilih menatap lurus kedepan sambil menghela nafas dan berniat mengakhiri suasana yang sangat awkward ini. Ternyata sebelum niat itu terlaksana, mata gadis itu malah melihat suatu hal yang lebih mengejutkan kali. Hari ini sempurna berisi kejutan-kejutan dahsyat yang pernah diterimanya selama tinggal di Korea.

Kerterkejutan itu kini berubah menjadi sebuah kepanikan saat dia menyadari kedua namja tadi masih berada disisinya yang sepertinya sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing. Kepalanya bergerak cepat menoleh ke arah Kris dan Kai secara bergantian. Sepertinya mereka belum melihatnya, batin Ji hyun. Gadis itu tidak (sempat) berpikir panjang lagi, yang ada diotaknya saat ini adalah bagaimana membuat kedua namja ini tidak melihat hal tersebut saat ini.

Ji hyun menarik nafas dan memberanikan diri menggenggam kedua tangan namja tersebut secara bersamaan. “Kalian berdua ikut aku!”.

To be Continued

 

Hoho… Gimana dengan chapter kali ini? Masih layak dilanjutkankah?

Please leave your comment, so I can know about your opinion. I’m still try my best to improve my skill in writing. Really, I’ve never miss to read your comment .  Don’t be a silent reader. Well, see you in next chapter.

Iklan

5 pemikiran pada “Unpredictable You (Chapter 6)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s