Always be by Your Side (Chapter 2)

Untitled-5

 

Judul   : Always Be By Your Side

Author : danastridhn

Genre  : Romance, friendship

Length : Chapters

Rating : PG-15

Main Cast: Oh Sehun, Han Chan Gi

Supporitng Cast: Park Ha Ni, Park Chanyeol, Byun Baekhyun

Annyeong~ Author kembali dengan chapter 2! Semoga para reader pada suka yaa… leave your comment!:D

***

Sehun memijat pelipisnya sambil mendesah pelan. Benar-benar, bukannya membantunya gadis ini hanya semakin merepotkan dirinya. Di saat yang bersamaan, Chanyeol datang dan langsung duduk di samping Sehun.

            “Sehun-ah,” panggil Chanyeol.

            “Hm?”

            “Mulai sekarang kau harus memperlakukan Chan Gi dengan baik, arasseo?” 

            “Hyung, kenapa tiba-tiba bicara seperti itu?” Sehun menatap Chanyeol dengan heran.

            “Wae? Ada masalah? Aku hanya mengingatkanmu saja, berhubung dia baru bekerja di sini, masih banyak yang harus ia pelajari.”

            “Jangan bilang kalau hyungpunya perasaan lain terhadap gadis ini.”

            Chanyeol tersenyum kecil, “Sudahlah, itu tidak penting. Yang jelas berjanjilah padaku kau akan bersikap lebih baik padanya, terutama kendalikan mulut harimaumu itu. Arasseo?”

            Sehun menggerutu pelan, “Kita lihat saja nanti.”

***

            Keesokan harinya aku datang agak terlambat ke kampusku, sehingga saat aku sampai kelas, bangku depan sudah penuh diisi banyak orang. Akupun terpaksa duduk di bangku belakang. Hal yang paling tidak kusukai dari duduk di bangku belakang adalah kau hanya bisa mendengar sekitar 40% dari suara dosen. Sisanya dipenuhi dengan suara orang-orang yang mengobrol, atau mendengkur karena tertidur.

            Aku sedang berusaha untuk berkonsentrasi penuh pada pelajaran. Ketika tiba-tiba ada suara mendengkur yang keras sekali sampai membuyarkan konsentrasiku. Suara itu berasal dari seorang pria yang duduk di sebelahku. Aku mengamati wajahnya yang terasa familiar. Pada saat itulah aku tersadar siapa pemilik wajah itu.

            “Ya Baekhyun-ah, bangun! Suara dengkuranmu menganggu konsentrasiku tahu!” Aku menggoyangkan badannya. Baekhyun mengangkat kepalanya dan menatapku dengan mata setengah terbuka.

            “Ah mianhe Chan Gi. Aku sangat mengantuk, jadi bisakah kau berpura-pura tidak mendengar dengkuranku? Baiklah, terima kasih.” Setelah mengatakan hal itu, Baekhyun kembali tertidur. Aku hanya bisa menatapnya sambil menggelengkan kepala.

***

“Jinjja? Dia memperlakukanmu seperti itu?” Tanya Ha Ni saat kami sedang berjalan di koridor kampus.

“Jinjja yo. Sikapnya kasar sekali kepadaku. Aku tidak tahu kenapa. Apa mungkin ia masih marah karena aku mengotori kemejanya?”

“Ah, kurasa bukan itu alasannya. Mungkin ada hal lain yang membuat dia bersikap seperti itu.” Aku hanya menghela nafas sambil tertunduk.

“Oh ayolah, jangan terlalu memikirkan tentang hal itu. Yang penting, kau sudah memberikan yang terbaik untuk pekerjaanmu. Tinggal terserah padanya mau menerima hasil itu dengan baik atau tidak.”

“Baiklah. Semenyebalkan apapun sikapnya, aku akan terus berusaha untuk melakukan pekerjaanku sebaik-baiknya!” Aku mengepalkan tangan.

“Nah, itu dia Han Chan Gi yang ku kenal!” Ha Ni menepuk-nepuk pundakku sambil tersenyum. Kami berdua pun berjalan memasuki kantin.

***

Usai kuliah, aku langsung berangkat menuju ke gedung SM.

Hhh… bersiap-siaplah untuk menemui mimpi burukmu Chan Gi. Aku mendesah dalam hati. Ketika sampai di lobby, Chanyeol sedang duduk sambil membaca dokumen-dokumen.

“Annyeonghaseo Chanyeol sunbae.” Sapaku sambil membungkuk.

“Annyeonghaseo Chan Gi-ah. Kau sudah datang rupanya.” Chanyeol membalas salamku sambil tersenyum. Kemudian ia berdiri dan mengambil sebuah map dari kumpulan dokumen yang tadi sedang dibacanya.

“Seperti biasa, ini jadwal Sehun untuk hari ini. Kuharap kau bisa bekerja dengan baik, sama seperti kemarin.”

“Ya, dan kuharap hari ini tidak melelahkan seperti kemarin.” Jawabku sambil sedikit merengut. Chanyeol hanya tertawa geli sambil menatapku.

“Fighting!” Chanyeol menepuk pundakku. Setelah itu ia pergi keluar. Aku membaca jadwal yang diberikan Chanyeol padaku. Di jadwal tersebut, terdapat tulisan:

KBS Music Bank Live Concert: 12.00 pm

Setelah membaca tulisan itu, aku langsung melirik ke arah jam. Omo! Sebentar lagi pukul 12!

Secepat kilat aku berlari ke ruangan Sehun. Tanpa berpikir panjang, aku membuka pintu VIP Room itu dan segera masuk.

“Sehun-ssi! Apakah kau sudah bersiap-siap? Kita harus berangkat sekarang untuk mengejar jadwalmu jam 12 nanti!” Kemudian aku melihatnya.

Sehun sedang berjalan menuju pintu tanpa memakai baju. Ia hanya mengenakan celana panjang berwarna coklat sambil memegang bajunya. Ia menatapku dengan ekspresi datar.

“KYAAA!!!” Spontan aku berteriak dan langsung menutup pintu. Aku bersandar di pintu sambil menaruh tangan di dadaku.

Bisa kurasakan jantungku berdegup kencang. Tadi itu… apakah aku baru saja melihat Sehun half naked? Namun aku baru menyadari ternyata dada Sehun lumayan bidang juga, bahunya yang berotot…

Ah! Lagi-lagi aku menghayal lagi. Sadar Chan Gi! Sadar!

Tak lama kemudian Sehun keluar dari kamarnya; sudah berpakaian lengkap. Ia menatapku seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

“Umm… aku minta maaf karena tidak mengetuk dulu tadi.” Aku berusaha menyembunyikan wajahku yang merah padam.

“Lupakan saja, kita harus berangkat sekarang.” Dengan langkah cepat, Sehun berjalan keluar. Akupun segera mengikutinya.

***

            TIIN…! TIIN…!

Suara klakson mobil terdengar dari segala arah. Terlalu banyak mobil yang ingin menyela mobil kami. Saat ini aku dan Sehun sedang dalam perjalanan menuju gedung stasiun KBS, namun apa boleh buat, jalanan di dekat gedung itu sedang macet total. Aku mengeluarkan kepalaku lewat jendela untuk memeriksa penyebab macet total ini. Di depan aku melihat ambulans, mobil polisi dan 2 mobil lain yang rusak parah.

            “Sepertinya ada kecelakaan di depan sana. Karena itulah bisa macet total begini.” Kataku memberitahu Sehun yang duduk di kursi belakang. Namja itu tidak menjawab. Ia terus berkutat dengan ponselnya dengan gurat wajah yang datar.

Sekilas Sehun melirikkan pandangannya ke arah jendela, kemudian kembali ke layar ponselnya.

Ah, benar juga. Rupanya dibalik wajahnya yang tenang itu ia juga bisa cemas. Ya, sebagai seorang idol memang sangat tidak profesional jika dia datang terlambat. Apalagi untuk sebuah konser. Ia pasti akan mengecewakan banyak orang.

            “Apakah kita tidak bisa mengambil jalan lain? Kau kan sudah sering lewat distrik ini.” Tanyaku pada Sehun. Maklum, aku masih belum hafal semua jalan di Seoul.

            Sehun menggelengkan kepala, “Kalaupun ada untuk apa? Tidak ada gunanya. Dalam keadaan yang padat seperti ini kita tidak mungkin berputar balik, kita terjebak di sini.” Sehun melipat tangannya sambil bersandar pada jok mobil.

Aigoo, bagaimana ini? Mana mungkin jika aku baru bekerja selama 2 hari, tapi aku sudah membiarkan seorang idol terlambat untuk jadwalnya seperti ini. Apa kata sunbae nanti?

Aku ikut-ikutan bersandar pada jok sambil menghela nafas panjang. Apa benar-benar tidak ada jalan keluar lain? Aku memandang kosong ke arah jalan, pandanganku menangkap gedung KBS TV yang sudah sangat dekat dengan tempat kami sekarang.

Pada saat itulah sebuah ide gila terlintas di kepalaku. Bagaimana jika kita berjalan ke gedung KBS? Bukan ide yang buruk…

            Tanpa membuang waktu lagi, aku segera keluar dari mobil. Aku membuka pintu belakang, tempat Sehun sedang duduk sambil memejamkan matanya. Dengan cepat aku meraih tangannya dan menariknya keluar mobil.

            “Ya! Mwoya?!” Protes Sehun yang menarik kembali lengannya.

            “Dengarkan aku jika kau tidak ingin terlambat!” Aku kembali menarik lengannya. Kali ini Sehun keluar dari mobil.

***

            Baru sebentar kami berjalan, langkahku terhenti.

            “Kenapa berhenti?” Tanya Sehun yang berjalan di belakangku.

            “Itu…” Perlahan aku menunjuk ke arah lautan penuh orang-orang yang rupanya sedang berkumpul untuk melihat lebih jelas kecelakaan tersebut. Perlahan nyaliku mulai ciut. Apakah mungkin kami bisa melewati kerumunan orang sebanyak ini?

            “Well, ini idemu bukan? Lagipula kita sudah terlanjur di sini.”

            Namja itu benar, ini semua memang ideku dan sebagai manager aku harus bertanggung jawab atas keselamatannya. Demi pekerjaan magangku, aku membulatkan tekad.

“Baiklah, tidak ada pilihan lain. Jangan sampai terpisah dariku, arasseo?” Aku menarik tangan Sehun. Tanpa protes, Sehun menggenggam erat tanganku.

Perlahan kami mulai memasuki lautan orang itu. Sehun menundukkan kepalanya dan menyembunyikan wajahnya di bawah topi, karena jika ia ketahuan seorang idol, maka habislah nasib kami.

            Aku terus menggenggam tangan Sehun sambil perlahan menggeser orang-orang di depanku. Saat kami hampir keluar dari kerumunan itu, tiba-tiba aku mendengar suara pekikan seorang wanita.

            “KYAAA!!! ADA OH SEHUN DI SANA!!!”

            Setelah mendengar teriakan itu semuanya bergerak dengan sangat cepat. Tanpa kusadari, aku dan Sehun sudah dikerumuni oleh banyak orang. Berpuluh-puluh tangan mencoba untuk menyentuh Sehun, atau lebih tepatnya “menerkam” Sehun. Aku tergeser oleh rombongan wanita-wanita sampai jarakku semakin jauh dari Sehun. Melihat wajahnya yang sudah panik, maka sekuat tenaga aku menerjang lautan penuh wanita tersebut.

            Cukup lama aku terdorong dan terpental sana sini, sampai akhirnya aku berhasil mencapai Sehun. Tangan-tangan itu masih mengerumuninya, membuat Sehun sulit bergerak. Aku segera berdiri di depannya dan melingkarkan kedua tanganku di tubuhnya. Sesekali aku menangkis beberapa tangan-tangan ganas itu.

            “Hentikan! Hentikan! Biarkan kami lewat!” Sekuat tenaga aku berteriak, namun suaraku masih kalah jika dibandingkan dengan teriakan puluhan wanita di sana. Beberapa wanita mulai marah ketika aku berusaha menjauhkan Sehun dan menangkis tangan mereka. Sasaran mereka pun berubah dari menyentuh Sehun, menjadi menyerangku.

Aku bisa merasakan tangan-tangan itu mulai memukul lengan dan kepalaku, beberapa tangan sampai menjambak rambutku. Namun aku tidak peduli, karena aku tahu di belakangku ada Sehun yang sedang terburu-buru, dan jika ia tidak bisa datang tepat waktu, kami berdua akan mendapat masalah. Lagipula aku tidak akan membiarkan Sehun datang ke acara program musiknya dengan luka cakar dan memar di sekujur tubuhnya.

Sambil memejamkan mata rapat-rapat dan mencoba mengabaikan semua rasa sakit akibat tangan-tangan itu, aku terus membiarkan diriku menjadi perisai bagi Sehun.

Tahan Chan Gi… tahan!

***

Sehun terkejut letika Chan Gi menarik tangannya, ingin rasanya namja itu melepaskan tangannya. Namun karena tidak ada pilihan lain maka ia pasrah dan ikut menggenggam erat tangan gadis itu.

            Saat sedang melewati kerumunan orang-orang, Sehun mendengar suara wanita yang meneriakkan namanya. Untuk sesaat jantungnya berhenti berdetak. Rasa takut mulai merayapi dirinya. Bukan takut karena ia akan dikepung banyak orang, namun takut akan keselamatan gadis yang sedang menggenggam tangannya ini.

            Benar saja, seketika dirinya sudah dikerubuti oleh banyak wanita, dan ia tidak lagi melihat Chan Gi. Mendadak Sehun panik karena tidak bisa menemukannya.

Jangan-jangan dia… Di saat pikirannya mulai memikirkan yang tidak-tidak, ia melihat gadis itu sedang bersusah payah menuju ke arahnya. Ingin rasanya untuk segera menolong Chan Gi, namun ia tidak bisa karena dirinya sendiripun sangat terbatas ruang geraknya.

            Akhirnya Chan Gi sampai di depannya dan langsung merentangkan tangannya untuk melindungi Sehun. Ia sempat terkejut dengan perilaku gadis itu. Chan Gi mulai berteriak dan menahan segala serangan dari para sasaeng fans-nya. Sehun sempat melihat beberapa tangan yang memukul dan menjambak Chan Gi, namun gadis yang berdiri di depannya tidak berkutik sedikitpun dari posisinya.

            Ini tidak bisa dibiarkan!  Tekad Sehun dalam hati.

***

Tiba-tiba aku merasakan tangan Sehun dari belakang merangkulku dan menarikku ke dalam pelukannya. Pada saat itu aku bisa merasakan kepalaku mengenai bahunya yang keras dan punggungku mengenai dadanya. Sebuah perasaan aneh muncul dari dalam diriku, perutku bergejolak, terkejut akan sengatan dari sentuhan Sehun yang dengan cepat menjalar ke seluruh tubuhku.

Dengan jelas aku bisa mendengar nafasnya yang terengah-engah yang terdengar di antara suara detak jantungnya. Aku mencoba untuk maju lagi, namun lengannya yang kuat menahanku untuk keluar dari pelukannya. Kemudian Sehun mendekatkan kepalanya ke telingaku, dan berbisik pelan.

“Aku akan mengeluarkanmu dari sini. Percayalah padaku.”

            Kini giliran jantungku yang berdegup kencang. Setelah membisikkan kata-kata itu, Sehun berjalan dengan cepat mengarungi lautan penuh wanita itu. Tangan kirinya dengan lincah mendorong banyak orang untuk membuka jalan bagi kami, sedangkan tangan kanannya masih memelukku dengan erat, seakan aku terkunci dalam pelukannya.

            Beberapa saat kemudian kami telah keluar dari kerumunan itu dan sampai di depan gedung KBS. Untungnya kami berhasil sampai tepat waktu, aku berusaha mengabaikan rasa sedih yang kurasa ketika Sehun melepaskan pelukannya.

Aku bermaksud untuk mengucapkan terima kasih padanya, namun saat aku hendak membuka mulut seseorang datang menghampiri kami.

            “Sehun-ssi! Kau sudah kami tunggu backstage! Kau akan tampil 10 menit lagi!” Seorang kru panggung datang mendekati kami. Tanpa kusadari, Sehun sudah berlari bersama kru tersebut dan perlahan menghilang dari pandanganku.

Ya Tuhan, semoga ia masih mempunyai energi untuk tampil di panggung, aku berdoa dalam hati.

***

            Waktu sudah menunjukkan pukul 14.00. Harusnya sekarang Sehun sudah selesai dengan program Music Bank-nya. Aku berdiri di depan mobil kami yang sudah ku ambil dari lokasi macet tadi. Di tanganku sudah siap dengan segelas bubble tea dingin. Tak lama kemudian, perlahan aku mulai melihat sesosok pria yang berjalan mendekatiku.

            “Oh, Sehun-ssi.”

            “Ayo kita pulang.” Ujar Sehun.

            “Oh iya, ini untukmu. Kupikir kau pasti kelelahan habis melakukan program selama 2 jam.” Aku menyerahkan bubble tea itu padanya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Sehun langsung meminumnya.

Benar, dia sangat kelelahan.

Aku masuk ke mobil dan mulai menyetir.

***

            “Terima kasih sudah menolongku tadi siang, Sehun-ssi. Dan aku juga minta maaf karena sudah membuatmu terkena masalah. Kalau saja aku tidak mengajakmu untuk berjalan kaki tadi, maka–”

            “Maka aku sudah pasti akan terlambat.” Potong Sehun. Aku terdiam. Rasanya baru kali ini ia mengatakan sesuatu yang tidak membuatku ingin melakban mulutnya rapat-rapat.

            “Oh iya, ngomong-ngomong…” Sehun menerawang ke arah jendela mobil. “Gomawo.”

            Spontan aku menoleh ke arahnya, Sehun masih mengunci pandangannya ke kaca jendela. Apa aku tidak salah dengar? Seorang Oh Sehun baru saja berterima kasih padaku?

Tanpa kusadari seulas senyum tipis terbentuk di wajahku. Entahlah, mungkin tidak terlalu buruk juga jika ia bisa bersikap seperti ini tiap hari. Membayangkan hal itu, tiba-tiba jantungku berdegup kencang.

Oh god, apa yang terjadi padaku?

***

6 pemikiran pada “Always be by Your Side (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s