Fallen Angel (Chapter 1)

Fallen Angel

 

Title: Fallen Angel (Chapter 1)

Author: Jung Rae Mi

Main Cast: -EXO’s Sehun

-OC’s Kim Se Ra

-etc.

Genre: Romance, Angst.

Rating: PG 17 ._.

Lenght: Chapter

A.N.: Annyeong! Ini FF baru~! Entah dapat darimana inspirasi ini.

FF ini dibuat dengan susah payah. Jadi, tolong jangan copas atau plagiat FF ini!!

Mohon maaf jika ada typo dan alur yang aneh.

Jangan lupa RCL! ^^ Tiap komentar dan kritikan kalian adalah motivasi bagi para penulis untuk membuat karya yang lebih baik lagi.

*****

Malaikat adalah  makhluk yang paling taat pada Tuhan.

Tapi, ada kalanya malaikat akan melupakan Tuhan.

Dan Tuhan akan mengusirnya dari surga.

Di dunia ini,

Hanya ada seseorang yang mampu menjatuhkan sang malaikat.

Dan itu adalah,

Oh Se Hun.

.

.

Se Ra menyandarkan tubuhnya di pagar pembatas, menengadahkan kepala menatap langit cerah di atas sana. Sudah 30 menit Se Ra berada di atap sekolah, namun seseorang yang memintanya bertemu disini belum juga datang. Suasana sekolah masih ramai karena akan ada festival sehingga masih banyak siswa yang tinggal di sekolah setelah jam belajar selesai. Se Ra lalu menengok ke bawah, memperhatikan suasana sekolahnya. Hingga matanya tertuju pada sosok seorang lelaki yang berlari cepat menuju gedung sekolah. Seketika jantung Se Ra berdetak cepat.

Oh Se Hun.

Entah mengapa, sejak hari pertama sekolah, Se Ra telah jatuh cinta pada salah satu pangeran sekolah itu. Wajahnya tampan dan memikat. Otaknya pintar, tubuhnya lincah, baik, dan-

Se Ra menoleh mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru. Hingga satu-satunya pintu di atap terbuka, dan terlihat sosok seorang lelaki yang berkeringat dengan nafas terengah-engah.

Se Ra menatap lelaki itu tidak percaya. Lelaki itu mendekat dan kini berhadapan dengan Se Ra. Se Ra ingin segera berteriak melihat betapa mempesonanya lelaki itu.

“Maaf,” kata lelaki itu di sela nafasnya, “aku terlambat. Aku yang menyuruhmu kesini, namun aku yang membuatmu menunggu.” Lelaki itu menggaruk tengkuknya membuat Se Ra terdiam.

Memang tadi, ketika Se Ra baru datang ke sekolah, dia menemukan sebuah surat di bangkunya. Surat itu mengatakan, menyuruhnya ke atap ketika jam pulang. Surat tanpa nama pengirim. Dan Se Ra tidak menyangka. Pengirimnya… Oh Se Hun?

Ada sekitar 10 menit keheningan diantara mereka. Se Ra tahu Sehun sepertinya ingin bicara. Lelaki itu membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi, memainkan jemarinya gugup.

“Aku mencintaimu. Maukah kau menjadi kekasihku?” Itulah yang terucap dari mulut Sehun setelah 15 menit keheningan diantara mereka.

Dan hanya butuh satu detik untuk Se Ra, “Ya. Tentu.”

 

***

 

 

Se Ra tersenyum mengingat kejadian sebulan yang lalu itu. Yang membuatnya kini resmi menjadi kekasih lelaki yang disukainya, Sehun.

Se Ra kini sedang duduk di ruang tengah apartemen Sehun, menunggu Sehun yang sedang berganti baju. Mereka memutuskan untuk belajar bersama. Sehun keluar dari kamarnya dengan rambut basah dan acak-acakan. Dia menaruh sebuah buku tebal di hadapan Se Ra dan duduk di samping Se Ra.

Sherlock Holmes? The Adventure of The Dancing Man! How do you know that?” Tanya Se Ra setelah membaca judul buku itu.

“Karena sejak awal masuk sekolah, kau senang berada di perpustakaan untuk menghabiskan waktu luangmu dengan membaca novel atau komik misteri, ‘kan?” Sehun mengusak kepala Se Ra lembut. Se Ra tertawa. Tawa yang terdengar manis di telinga Sehun.

Se Ra lalu membuka buku itu dan larut dalam bacaannya. Meninggalkan Sehun yang kini menatap Se Ra lembut. Ponsel Sehun bergetar. Sehun mengambil ponselnya dan membaca pesan yang masuk sebelum menghela nafas berat.

Sehun menghentikan bacaan Se Ra dengan menutup buku itu dan mencium bibir Se Ra lembut. Se Ra hanya diam, membuat Sehun melakukan lebih. Sehun mulai melumat bibir Se Ra lembut, dan lama-kelamaan menjadi kasar. Se Ra hanya membalas lumatan Sehun. Mereka bercumbu sangat lama hingga Se Ra mendorong dada Sehun pelan untuk menarik nafas. Sehun segera menggunakan kesempatan itu menenggelamkan wajahnya di leher Se Ra dan mengecupnya lembut, mengalirkan sengatan listrik di seluruh tubuh Se Ra. Membuat Se Ra mengeluarkan suara desahan yang menggoda Sehun berbuat semakin jauh. Menciptakan sebuah tanda kepemilikan. Sehun perlahan mengangkat tubuh Se Ra menuju kamarnya.

Meninggalkan ponselnya yang masih menyala, dengan layar yang menunjukkan sebuah pesan yang dibaca Sehun tadi,

From: Park Chanyeol

You got it, kiddo!

.

.                                                                                                                                 

Se Ra terjatuh. Dia benar-benar terjatuh dengan telak. Sentuhan Sehun terasa begitu magis di tubuhnya. Se Ra tidak tahu apa lagi yang harus dia lakukan. Dia kini hanya bisa berbaring pasrah dan membisikkan desahan juga erangan yang Sehun minta.

Sesekali Se Ra meneriakkan perih yang dirasakannya. Wajar, ini memang yang pertama untuknya. Se Ra berteriak ketika Sehun menembus pertahanannya. Menyatukan tubuh mereka. Membuat darah mengalir diantara kedua kakinya. Seketika Se Ra tersenyum dalam hati.

Dia berhasil.

Sehun kembali mengecup dan melumat bibir Se Ra, melakukan perang lidah di dalam mulut Se Ra. Membuat desahan Se Ra yang semakin membangkitkan gairahnya tertahan.

Sehun suka rasa bibir Se Ra.

Mereka bersama berteriak ketika mencapai puncak kenikmatan mereka. Nafas mereka terengah, lelah. Sehun membenamkan kepalanya di leher Se Ra dan mengecupnya lembut tanpa membuat tanda lagi, membuat Se Ra merinding sejenak. Sehun perlahan melepaskan tubuh mereka dan mengusap rambut Se Ra lembut. Dipeluknya tubuh Se Ra erat, dan terus mengusap kepala Se Ra.

Se Ra tersenyum menatap wajah Sehun yang terlelap, seperti anak kecil. Berbeda sekali dengan apa yang dia dan Sehun lakukan tadi. Se Ra membenamkan kepalanya di dada Sehun dan tersenyum lembut. Se Ra memejamkan matanya bersamaan dengan setetes air mata mengalir dari iris caramel-nya.

.

.

.

Se Ra menatap langit cerah di atas. Awan-awan lucu berbagai bentuk bergerak perlahan dengan lembut. Se Ra seketika teringat akan apa yang terjadi hari sabtu lalu di apartemen Sehun, membuat pipinya seketika merah padam. Se Ra meraba lehernya dan menemukan plester luka. Sengaja menempelkannya untuk menyembunyikan tanda yang dibuat Sehun. Se Ra tersenyum sambil meraba plester luka itu.

Namun sedetik kemudian, air matanya mengalir. Se Ra jatuh terduduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan menangis tanpa isakan.

Memang, hanya Oh Se Hun-lah yang mampu menjatuhkan sang malaikat.

.

.

.

Seperti biasa semenjak mereka pacaran, Sehun selalu mengantar Se Ra pulang. Atas permintaan Se Ra, Sehun  memakai sepeda untuk membonceng Se Ra pulang.

Banyak orang yang menyetujui hubungan mereka berdua. Para penggemar Sehun dan Se Ra tidak ada yang protes. Mereka semua setuju.

Sang Pangeran dan Sang Malaikat. Cocok sekali.

Se Ra gadis yang periang dan baik. Dia dermawan dan perhatian. Penyayang dan lembut. Pintar dan aktif. Belum lagi wajahnya manis dan senyumnya indah. Juga termasuk keluarga terpandang. Dia disebut malaikat karena semua kelebihannya itu. Dia juga rajin, benar-benar seperti sang malaikat. Mungkin ini terdengar berlebihan, tapi kadang orang-orang menganggap adanya sayap di punggung Se Ra.

Sehun. Wajah tampan, tubuh lincah, baik, pintar, kadang dingin, kadang periang, dan lumayan supel. Terlihat sangat cocok dengan Se Ra. Sehun termasuk lelaki yang hobinya mengendarai motor. Namun sejak berpacaran dengan Se Ra, lelaki itu meminta Sehun mengantarnya pulang menaiki sepeda. Sehun bahkan menurutinya. Dia menaiki sepeda ke sekolah, dan pulang menaiki  sepeda. Tak bisa dipungkiri, awalnya Sehun agak risih, lama-kelamaan dia suka.

“Terima kasih, Sehunnie.” Ucap Se Ra begitu sampai di rumahnya. Sehun mengangguk, mengecup bibir Se Ra lembut, lalu mengayuh sepedanya pergi.

Meninggalkan Se Ra yang kini menatap punggungnya sembari menangis tanpa isakan.

Sehun tidak menyadari tangisan Se Ra.

Sehun bahkan tidak menyadari, malaikat itu telah terjatuh.

Se Ra berusaha menghapus air matanya, tapi tidak berhasil. Hingga dia merasakan sebuah tangan menghapus air matanya lembut. Se Ra mengangkat kepalanya dan bertemu pandang dengan seorang lelaki berkulit coklat.

“Hiks, Oppa….” Se Ra membenankam kepalanya di dada lelaki itu dan menangis semakin keras.

Lelaki itu bingung, tapi tidak berkata apapun dan membawa Se Ra masuk ke dalam rumah.

Didudukkannya Se Ra di sofa ruang tengah dan menaruk sekotak tisu di dekat Se Ra. “Jadi, ada apa Se Ra?” Tanya lelaki itu.

“Jika aku memberitahu, maukah Oppa berjanji untuk tidak memasukkan Sehun ke rumah sakit?” Balas Se Ra. Mengingat kakaknya, Kim Jong In atau Kai, lelaki itu, menguasai Jeet Kune Do dan tidak segan-segan menyakiti siapapun yang menyakiti Se Ra.

Kai mengerutkan keningnya sejenak, lalu mengangguk. Dan Se Ra mulai bercerita ke Kai.

 

***

Se Ra kembali datang ke atap. Duduk sambil menengadahkan kepalanya menatap langit cerah. Se Ra tersenyum, indah sekali, batinnya.

Se Ra segera memasang earphone di kedua telinganya, mendengarkan lagu dari iPod-nya, dan memejamkan mata. Sekarang waktunya istirahat sebelum masuk pelajaran terakhir. Mungkin kali ini dia memerlukan waktu sendiri dengan bolos kelas terakhir.

Se Ra tidak tahu berapa lama dia berada di atap. Hingga sebuah tangan menepuk pipinya lembut, dan begitu Se Ra membuka mata, dia bertemu pandang dengan hazel Sehun.

Dan Se Ra membalasnya dengan senyuman manis. Ketika menyadari sekolah mulai sepi dan Sehun membawakannya tas ransel miliknya. Sehun membantu Se Ra bangun, memakaikan tas Se Ra, lalu menggenggam tangan gadis itu, mengajaknya pulang.

Sehun berjalan di depan Se Ra. Sedangkan Se Ra menatap punggung Sehun sendu.

Kenapa?, batinnya pelan.

.

.

.

Sehun membuka plester luka di leher Se Ra, menatap tanda miliknya yang agak memudar disana. Sehun tersenyum dan menjilat tanda itu. Membuat Se Ra melenguh dan memejamkan mata rapat. Jemari Se Ra meremas rambut Sehun, pelampiasan akan perlakuan Sehun yang membuatnya tersesat.

Sekali lagi, Se Ra terjatuh dalam sentuhan Sehun di tubuhnya. Sehun menatap wajah Se Ra yang merah padam. Matanya membalas tatapan Sehun sayu sebelum bibir mereka kembali berpangut.

Yang Sehun tidak tahu lagi adalah,

Sekalipun Se Ra menikmati apa yang dia dan Sehun lakukan sekarang,

Hati Se Ra sedang menangis meraung di dalam.

To be continued…

23 pemikiran pada “Fallen Angel (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s