Waiting for You (Chapter 4)

 

 

Author : @frissilia12

 

Cast     : – You/OC

 

– Xi Luhan

 

Supporting cast : Oh Sehun & Park Hanna (OC)

 

Genre  : Romance, Little Sad

 

Ratting            : G

 

Length : Chapter

Summary : “Kau ingat janji kita dimasa kecil?”

Picture12

 

Happy and enjoy reading<3

                Perview

Kamu balikkan tubuhmu menghadapnya, sebulir air mata jatuh dipipimu. Luhan menyadari hal itu. Luhan bangkit dari duduknya “Suatu saat kau akan mengerti.” Luhan balik membelakangimu dan pergi meninggalkanmu. Sendiri.

 

***

 

Kamu hentikan langkah kakimu ketika kamu hendak memasuki gerbang kampus. Kamu hirup napasmu dalam-dalam dan perlahan kamu hembuskan  lewat mulutmu. Sedikit rasa takut dalam dirimu, baik untuk bertemu dengan Luhan ataupun Sehun. Setelah kamu merasa sedikit tenang, kamu lanjutkan langkahmu.

“Yak! [Your Name]-ah gwencana? Bagian mana yang masih sakit? Apa kau sudah sarapan? Apa kau sudah minum obat? Apa kata dokter dengan keadaanmu ini? “ cerca Hanna ketika kamu berada di koridor kampus.

“Hahaha kau seperti ibuku saja. Sudahlah aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir.” Ujarmu menenangkan.

“Apa… emm.. dia merawatmu dengan baik?” Tanya Hanna ragu. Kamu tahu siapa yang dimaksud Hanna. Kamu membalas dengan anggukan dan gelengan kepala. “Yak! Apa maksudnya?!” Bentak Hanna. “Aku tidak tahu. Sudahlah tidak perlu membahasnya. Hey! Mengapa kau tidak merawatku, eoh? Malah mementingkan orangtuamu?” mendengar ucapanmu, sontak Hanna menjitak kepalamu.

Ck. Dasar bodoh!” Decak Hanna.

Sesampainya kamu di depan pintu kelas, Sehun memanggilmu. Kamu menoleh kearahnya. Sehun memberikan isyarat untuk menghampirinya dengan lambaian tangannya. Kamu mencoba untuk tidak menganggap Sehun, kamu mengacuhkannya.

“Tadi Sehun-kan? Mengapa kau tidak menghampirinya?” Tanya Hanna.

“Kurasa aku harus menjauh dari mereka berdua.”  Hanna membalikkan badannya mengahadapmu dan menatapmu dengan penuh keyakinan. Sebelumnya, Hanna menghirup napas perlahan dan menghembuskannya. “[Your Name] dengar! Cinta adalah anugrah yang Tuhan berikan untuk umatnya. Mungkin Tuhan akan memberikan cinta yang salah kepada umatnya sebelum akhirnya cinta yang sejati-lah datang. Banyak orang yang bergunta-ganti pasangan dalam waktu yang singkat dan tak jarang pula itu terjadi pada pasangan yang sudah menikah. Tapi pada akhirnya… mereka akan tertuju pada satu orang dan akan hidup dengannya untuk seumur hidup, yaitu cinta sejati. Cinta sama seperti hidup. Sebuah pilihan. So pilihlah pria yang menurut kata hatimu benar. Janganlah membuang kesempatan itu, karena kesempatan hanya datang sekali seumur hidup.”

Setelah itu, beberapa detik kemudian dosen pun masuk. “Kau jenius Han. Hahaha.” Ejekmu.

 

***

Seluruh mata pelajaran hari ini pun selesai, kamu dan Hanna bergegas untuk pulang. Saat digerbang kampus ternyata Oh Sehun telah menunggumu. Kamu mencoba untuk mengacuhkannya tetapi Oh Sehun terus mengejarmu. Kamu berhenti dan membalik ke hadapan Sehun. “Mau apa?” Ujarmu sarkatis.

“A… Aku hanya ingin…” hening sejenak. Sehun mendekatkanmu dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. “Maukah kau menjadi pacarku?” matamu sukses membulat, bukan karena Sehun menyatakan cintanya kepadamu tetapi seseorang yang ada dibelakang Sehun dan menatapmu dengan intens.

“Maaf aku harus pulang.” Dengan tergesa-gesa kamu pergi meninggalkan Sehun.

Merasa dirinya diacuhkan, Sehun memutuskan untuk pergi. Sungguh tak disangka ketika Sehun membalikkan badan, Luhan telah lebih dulu memberikan tinju-nya kewajah Sehun. “Ku peringatkan jangan sekali-kali kau mendekati wanita-ku!” Bentak Luhan. Sehun yang mulai merasa sakit dengan rahangnya mencoba untuk bersikap baik-baik saja.

“Mwo?! Wanita-mu?! Kau pikir kau siapa setelah kau bersama dengan wanita lain dan bermesraan dengannya kemudian?! HAH! Kau tahu bagaimana perasaan [Your Name] ketika melihat itu, eoh?” Bentak Sehun balik.

“KAU TIDAK TAHU APA-APA!” Bentak Luhan. “Kalau kau tidak menyukai [Your Name] lebih baik kau menjauhinya, aku bisa membahagiakan-nya.” Sehun pergi meninggalkan Luhan sendiri karena dia sedang tidak mau berkelahi dengan siapapun.

 

***

Sesampainya di rumah, kamu langsung masuk ke dalam kamarmu tanpa menghiraukan eomma-mu yang menawarimu makan. Didalam kamar kamu terus memikirkan kejadian tadi, kamu benar-benar gelisah saat ini. Untuk beberapa menit kamu terdiam dan merenungi keadaan ini. Terbesit diotakmu satu nama dan entah kenapa hatimu seolah berkata ‘Ya itu orang yang tepat untukmu’ . Kamu garuk rambutmu gusar. Akhirnya kamu putuskan untuk menelpon Hanna. Kamu raih ponselmu dari dalam tasmu dan mencoba menghubungi Hanna.

Yeoboseyo?”

“Hanna apakah aku harus memilih?” Tanyamu ragu

Memilih ap-. Mwo?! Kau sudah putuskan siapa yang akan kau pilih?!” Tanya Hanna antusias.

“Iya, aku sudah memutuskannya. Tetapi aku masih ragu dengan pilihanku.”

Memangnya siapa yang akan kau pilih?”

 

***

 

Kamu berjalan dikoridor kampus dan tidak sengaja kamu bertabrakan dengan Luhan. “Mianhae..” Ujarmu sembari membungkukkan badan. Kamu dongakkan kepalamu dan kamu terkejut bahwa orang yang kamu tabrak adalah Luhan. Kamu mencoba menghindar darinya tetapi Luhah sudah lebih dulu menarik tanganmu dan membawamu ke halaman belakang kampus.

“Luhan-ssi aku harus masuk kelas sekarang.” Ujarmu tegas seolah ada penekanan disetiap katanya.

Luhan berbalik dan menatapmu intens. “Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu.” Ujar Luhan dengan tatapan penuh dengan keyakinan dan… serius. “Apa jawabanmu untuk pria itu?” Lanjutnya.

Kamu kini mengerti dengan jalan pembicaraan diantara kalian. “Apa pun jawaban yang aku berikan tidak ada urusannya denganmu.” Terlihat aura kekesalan dari wajah Luhan yang kini mengarah kepadamu. “Kau marah?” Lanjutmu sembari menyunggingkan senyuman kepada Luhan.

Luhan berdecak dan membuang muka darimu. “Untuk apa aku marah. Kau bukan siapa-siapaku.” Jawabnya acuh tak acuh.

“Lalu untuk apa kau menarikku kesini?” Tanyamu kembali.

“A… Aku hanya…” Hening. Terlihat kebingungan ketika Luhan akan menjawab pertanyaanmu. Kini Luhan seakan-akan mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaanmu. Belum sempat Luhan menjawab, Oh Sehun telah datang  menghampiri kalian.

“Sedang apa kalian disini. Berdua?” Tanya Sehun dengan tatapan sinis kepada Luhan.

“Kami tidak sengaja bertemu disini,” Jawabmu berbohong.

Luhan mulai gerah dengan keadaan ini. “Aku harus pergi.” Baru saja Luhan melangkahkan kakinya, kini tubuhnya mulai mati rasa ketika Sehun mengajukan sebuah pertanyaan terhadap kamu dan ini membuat jantung Luhan berdetak kencang. “Apa jawabanmu terhadap pertanyaanku kemarin?”

“A-apakah harus aku jawab sekarang?” Tanyamu ragu-ragu. Sehun menganggukkan kepalanya mantap. “Sehun-ah mungkin ini keputusan yang terbaik. Entahlah kenapa aku jadi seperti ini.” Kamu melirik sekilas ke arah Luhan yang masih memunggungimu. “Tetapi… a-aku menerimamu menjadi kekasihku.” Lanjutmu dengan ragu.

Bagaikan belati yang menusuk jantungnya, Luhan benar-benar diam membeku dan tak bisa bicara lagi. Dia tak pernah berfikir bahwa kamu akan menerima pria lain selainnya. Menyesal? Tentu Luhan sangat menyesal dengan apa yang telah dia perbuat. Marah? Jelas Luhan sangat marah dengan dirinya dan juga dirimu.

‘Apakah kau sudah tidak bisa lagi untuk menungguku? Maaf aku telah membuatmu sakit.’

 

***

“What?! Kau menerimanya?! Ckckck kau ini!”

“Hanna-ya tak ada lagi alasan untuk aku tetap mengejar masa laluku. Lagipula orang yang aku harapkan tidak mengharapkanku kembali.”

“Kau tahu cerita romeo dan juliet?” Kamu hanya mengangguk sebagai jawabanmu atas pertanyaan Hanna. “Mereka terus bersama walaupun berbagai rintangan menghadang. Juliet dan romeo tak pernah mundur demi yang namanya cinta. Tembok besar pembatas cinta mereka begitu kokoh dan tak mungkin mereka hancurkan.  Hingga satu-satunya jalan yaitu kematian yang bisa mengabadikan cinta mereka.” Lanjut Hanna.

Kamu terdiam, kamu tidak berniat untuk mengeluarkan sepatah katapun, hingga akhirnya Hanna membuka percakapan diantara kalian. “Intinya, seberat apapun rintangan yang ada, seberat itu pula kau harus menghadapinya. Huh… terserahmu [Your Name]-ah aku tak ada hak untuk mengatur kehidupanmu karena aku hanya sebatas sahabat. Kamu yang menjalani hidup ini dan kamu juga yang merasakannya. Keputusanmu adalah takdirmu, ku harap kau tak menyesalinya.” Hanna meninggalkanmu sendiri yang masih termenung dengan keputusanmu ini.

‘Apakah aku salah? Tetapi apakah aku harus menunggu seseorang yang tak dapat ku pastikan bahwa dia akan membalas apa yang telah aku lakukan padanya? Aish!’  batinmu.

Kamu bangun dari dudukmu dan berjalan menyusuri koridor. Entah mengapa rasanya setiap kakimu melangkah setiap itu pula kamu merasakan kehampaan yang tak dapat dideskripsikan walaupun banyak sekali orang yang berlalu lalang. Kamu terkesiap ketika tiba-tiba ada seseorang yang menghalangi jalanmu.

Kamu tatap wajahnya dan tak kamu sangka orang tersebut adalah Luhan. Kamu mencoba menghindar seperti tadi, tetapi Luhan tetap menghalangimu. “Apa maumu?” Tanyamu angkuh.

“Kau bohong. Kau pembohong.” Kamu bingung dan tak mengerti dengan apa yang telah Luhan ucapkan. “Apa maksudmu?” Ulangmu.

“Kau mencintaiku! Kau tidak mencintainya! Kau pembohong. Kau membohongi dirimu dan juga Sehun. Sudahlah kau tidak perlu me-“ Belum sempat Luhan menyelesaikan ucapannya, sudah lebih dulu kamu potong. “Apa pentingmu dengan diriku, eoh?! Kau bicara seolah-olah kau mengertiku! Kau bukan temanku, kau bukan kakakku dan kau bukan siapa-siapaku. Kau tidak berhak mengatur hidupku dan kau tidak berhak untuk segala keputusanku. Aku berbohong pun itu bukan urusanmu. Sehun lebih baik darimu!”

Kamu menatap Luhan dengan penuh amarah, ini baru pertama kalinya kamu menatapnya dengan tatapan seperti itu. Luhan diam seribu kata, kemudian kamu meninggalkan Luhan yaang masih tidak percaya dengan kamu yang sekarang. Ingin rasanya kamu menangis kemudian memeluk erat tubuh hangat Luhan, tetapi itu hanya mimpi. Kamu sadari kamu tak dapat melakukannya.

Sesampainya kamu digerbang, ternyata Sehun telah menunggumu. “Bagaimana kalau aku mengantarmu?” Ajak Sehun. Kamu mengangguk sebagai tanda atas jawabanmu. Sebelum kamu benar-benar meninggalkan kampus, sempat kamu palingkan wajahmu kebelakang dan kamu melihat Luhan menatap kalian –Kamu&Sehun- dengan tatapan sendu seolah ada selintas penyesalan yang sangat besar.

‘Mianhae…’

 

TBC

 

Maaf ya kalau FF nya makin gaje… Cuma ini yang bisa aku tulis:D jangan lupa RCL nya gomawo^^

Iklan

15 pemikiran pada “Waiting for You (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s