XOXO (Kiss and Hug) The Series (3.6.5 – Chanyeol ver)

PhotoGrid_1381153088620

XOXO (Kiss and Hug) The Series (3.6.5 – Chanyeol ver)

Athor        : Laelynur66

Maincast     :  Park Chanyeol, Han Chaerin (oc)

Support cast : All members EXO

Length              : Chapter or series (?)

Genre        : friendship, romance(?)

Rating       : PG-15

Author note: Nothing else i can say, tapi sekali lagi saya ingatkan harap baca series yang sebelumnya udah di post dulu ^^ (ini bukan promosi loh yahh!!!) *nyengirkuda* enjoy it!

 

 

 

 

Selalu seperti ini. Aku mendapatkan pesan darinya mengatakan kalau dia membutuhkanku. Tanpa berpikir dua kali aku berlari mencarinya. Dan saat menemukannya dia sudah tidak sendiri, seseorang sudah bersamanya, menenangkannya. Dan dengan bodohnya aku hanya tersenyum lalu berjalan menjauh meninggalkannya.

Selalu seperti ini. ketika dia mencariku saat mata indahnya berurai airmata, hanya saat dia benar-benar membutuhkanku. Lelah? Tentu saja tidak. Jika memang kata itu ada di di kepalaku, mungkin selama ini aku sudah menyerah. Sahabatku, baik dulu, sekarang dan  nanti. Tapi aku mencintainya, baik sekarang ataupun nanti. Pun ketika dia lebih memilih sahabatku yang lain aku tetap mencintainya. Aku percaya suatu saat akan ada waktu di mana dia menyadarinya atau bahkan tidak menyadarinya pun aku tidak masalah.

Aku memutar tubuhku berjalan menjauhi 2 orang yang sedang berpelukan tidak jauh di hadapanku ini. “sepertinya kalian sudah berbaikan kembali” bisikku pada diri sendiri. sebuah senyum bodoh terkembang di bibirku. Terkadang, aku membenci diriku yang seperti ini, hidup dengan rasa optimisme yang besar. Tapi hanya itu yang bisa membuatku hingga sampai sekarang ini bukan? Hidup itu untuk dijalani bukan untuk diratapi. Jadi, jalanilah!

***

Dengan langkah gontai kulangkahkan kakiku memasuki SM  Building, perasaanku tidak enak, sepertinya Suho hyung akan murka padaku karna aku berlari saat sedang berlatih dan tanpa memberitahunya.

“awaaaaaaaaaasssss!!!!!” sebuah teriakan yang cukup memekikkan telingaku membahana di lobby SM Building. Aku berbalik, ‘braaaaaaaaak’ belum sempat aku menghindar sebuah hantaman keras membuatku terdorong dan terjatuh beberapa langkah dari tempatku. Bokongku menghantam lantai dengan suksesnya, bukan itu yang membuatku berjengit, aku tidak bisa merasakan kakiku, kurasa kakiku terkilir. Aku berusaha bergerak menyingkirkan tubuh mungil yang menindih tubuhku ini. Aku meringis saat tubuh itu perlahan berpindah dan berjongkok di hadapanku, menatapku dengan ekspresi paniknya.

“Gwenchana?” Tanyanya dengan logat yang terdengar aneh di telingaku.

“N.. ne! Tapi..” sahutku lalu melirik pergelangan kaki kiriku. Mata besarnya mengukuti arah pandangku dan melotot membuat mata besarnya nyaris meloncat keluar.

“Aigooo, kakimuu!!” Ucapnya panik lalu menyentuh pergelangan kakiku.

“Awww!!” Pekikku. “Appo!”

“Aduuhh, bagaimana ini? Sakitkah?” Wajah imutnya semakin panik tanpa kusadari aku tersenyum melihat ekspresinya yang menurutku lucu dan nada berbicaranya yang tampak aneh di telingaku.

“Ne, kurasa kakiku terkilir!” Jawabku dan ikut menyentuh pergelangan kakiku. Kepalanya mendongak mengalihkan perhatiannya dari kakiku pada wajahku. Aku tertegun saat menatap matanya, matanya bulat sempurna dengan warna bola mata yang tidak dimiliki orang korea kebanyakan, kelabu.

“Heii?” Serunya dengan melambaikan tangannya tepat di wajahku.

“Ne?” Sahutku sedikit gugup.

“Bagaimana ini? Apa kau terburu-buru?” Lagi-lagi aku tersenyum mendengar dialeknya yang sedikit aneh di telingaku.

“Akuu? Tidak juga!” Jawabku dengan cepat. “Tapi..” aku menggantung ucapanku.

“Tapi apa???”

Aku terdiam sesaat, bagaimana bisa aku beringsut dari tempatku ini, menggerakkan kakiku saja rasanya aku tidak sanggup. Ahhh, sial, aku juga tidak membawa ponselku, tadi aku berlari begitu saja tanpa memperdulikan apapun.

“Heii? Kenapa kau melamun?” Suara jernih milik yeoja di hadapanku membuyarkan lamunanku. Aku hanya menggeleng.

Aku mencoba berdiri, tapi aku gagal, yeoja ini menarik nafasnya lalu membantuku berdiri. Tubuhnya sangat mungil, tingginya hanya sebatas ketiakku. Dengan sigap dilingkarkannya kedua lengannya di pinggangku, membantuku menjaga keseimbanganku. Refleks aku mengalungkan lengan kananku pada lehernya.

“Sekarang, cobalah melangkah perlahan!” Perintahnya. Aku mengangguk dan melakukan apa yang di perintahkannya. Aku berjalan selangkah demi selangkah dengan terpincang. Kuakui, yeoja yang menuntunku ini kekuatannya lumayan, tubuhnya mungil tapi mampu menahan bobot tubuhku.

“Sekarang, kau mau kuantar ke mana?” Tanya dan mendongak menatap wajahku. Aku kembali terdiam, hahh lebih baik aku kembali saja ke dorm beristirahat.

“Antar aku ke dorm saja!” Ucapku dan  menunjuk bangunan yang bersebelahan dengan SM Building. Dia mengangguk dan kembali menuntunku.

Aku bisa melihat keringat yang mengalir dari dahi ke dagunya. Tanganku pun sudah gatal hendak menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi wajahnya, tapi aku menahannya dan memilih berkonsenterasi pada langkahku.

***

Aku melirik yeoja yang berdiri di sebelahku ini yang sedang menatap kosong pada tombol di lift di hadapan kami. Kusandarkan punggungku pada sisi lift dengan tangan bertumpu pada sisi lift juga. Rasa nyeri di kakiku semakin bertambah.

“kau tinggal di sini?” Tanya memecah keheningan. Aku mengangguk.

“Siapa namamu?” Akhirnya pertanyaan yang sedari tadi muncul di otakku untuknya ditanyakannya kepadaku. Tapi saat itu juga aku merasa aneh, dia tidak mengenaliku?

“Aku Park Chanyeol!” Jawabku. Aku terdiam menunggu reaksinya, dan kembali terheran saat yeoja ini hanya mengangguk dan kembali menatap pada tombol lift. Dengan ragu aku bertanya, “kau tidak mengenalku?”

Yeoja ini berbalik menatapku bingung, “tentu saja kau Park Chanyeol, bukankah tadi kau tadi sudah menyebutkan namamu?” Sahutnya dan memiringkan kepalanya menatapku datar.

“Bukan itu, maksudkuu.. ahh sudahlah!!!”” Seruku dan menatapnya heran seolah dia ini makhluk dari luar angkasa. Hey, tentu saja! Siapa yang tidak mengenal Park Chanyeol, rapper hallyu star dari Exo, dengan deep voicenya yang terkenal di seluruh dunia.

“Ting”

Pintu lift di hadapan kami terbuka, refleks aku kembali mengalungkan lenganku pada lehernya, dengan kedua tangannya kembali melingkar di pinggangku menuntunku keluar dari lift.

“Ke kanan!” Seruku. Dia mengangguk.

“Hey, kau belum memberitahukan namamu!”

“Benarkah?”

“Tentu saja!”

“Ahaha, aku lupa!” Ucapnya.

“Jadi, siapa namamu?” Tanyaku.

“Aprodith Han!” Sahutnya.

“Apa? Apro.. apa?” Tanyaku mengulang namanya.

“Aprodith Han!” Ulangnya. Kukerutkan keningku mendengar namanya. Namanya yang aneh menurutku.

“Hahh, itu namaku saat aku di Yunani Chanyeol-ssi!”

Aku kembali terheran.

“Nama Koreaku Han Chaerin!”

“Ahh, Han Chaerin, aku lebih mampu mengingatnya!” Seruku lalu berhenti di depan pintu dormku.

Aku memencet bel dengan tidak sabar, sebenarnya aku bisa membukanya sendiri dengan kombinasi password yang sudah kuhafal mati, tapi ada orang luar di sampingku, aku tidak bisa menjamin.

Saat pintu terbuka Kyungsoo memunculkan kepalanya dari balik pintu.

“Hyyuuung! Kau dari mana saja!” Serunya saat melihatku berdiri di balik pintu dan terdiam menatap Chaerin yang berdiri menopang tubuhku.

“Kau kenapa hyung? Ayo masuk!” Ucapnya dan membantu Chaerin memapahku. Dengan perlahan aku melangkah masuk, Kyungsoo dengan menggunakan kakinya mengenyahkan sepatu yang berserakan di pintu masuk membukakan jalan untukku. Chaerin mengernyit menyaksikan belasan sepatu berserakan dengan berbagai merk dan ukuran dilantai.

“Duduk dulu hyung!” Perintah  Kyungsoo padaku. Aku mengangguk, perlahan Chaerin melepaskan lengannya dari pinggangku dan membiarkan aku duduk di sofa.

“Tolong ambilkan es dan handuk kecil!” Seru Chaerin. Kyungsoo mengangguk dan menghilang ke dapur.

“Kau tinggal di sini?” Tanya Chaerin dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Aku mengangguk.

“Aku tinggal bersama sebelas orang lainnya!” Sahutku. Mata Chaerin melotot.

“Benarkah?”

“Hmm” aku menangguk.

“Pantas saja, di sini sedikit berantakan!” Ujarnya dan menunjuk beberapa baju dan boxer entah milik siapa yang berceceran. Aku hanya tertawa.

“Chaerin, kau benar-benar tidak mengenaliku?” Tanyaku masih penasaran. Chaerin menatapku heran.

“Aku..”

“Ini esnya hyung!” Seru Kyungsoo dari arah dapur menginterupsi perbincangan kami. Aku menangguk ke arah Chaerin pada Kyungsoo. Kyungsoo mengerti dan memberikannya pada Chaerin. Chaerin beringsut dari duduknya dan duduk di lantai, mulai mengompres pergelangan kakiku. Aku mengernyit saat dinginnya es menyentuh pergelangan kakiku.

“Tahan sedikit, ini akan membuatnya lebih baik!” Ujar Chaerin tanpa mengalihkan pandangannya dari kakiku. Aku mendongak menatap Kyungsoo yang menatap dengan tatapan siapa-dia-hyung Padaku. aku mengendikkan bahuku.

“Kemana yang lain?” Tanyaku pada Kyungsoo.

“Suho hyung, Sehun, dan Tao pergi entah ke mana, Jongin dan Lay hyung belum kembali dari berlatih, sisanya sedang istirahat di kamar!” Jelas Kyungsoo dan masih menatapku dengan tatapan meminta penjelasannya.

“Sudah! Sedikit membaikkan?” Tanya Chaerin dan mendongak menatapku. Aku mencoba menggerakkan pergelangan kakiku. Lalu mengangguk.

“Chaerin-ssi, ini Do Kyungso temanku, kami memanggilnya D,O” Aku memperkenalkan Kyungsoo pada Chaerin. Chaerin tersenyum, “Anneyeong Haseyo! Aku Han Chaerin, senang bertemu denganmu!” Chaerin memperkenalkan dirinya masih dengan dialeknya yang aneh. Kyungsoo melongo sesaat dan akhirnya tersenyum lalu kembali menatapku meminta penjelasan.

“Dia, yang menolongku Kyungsoo-ya!” Jelasku singkat. Kyungsoo mengangguk.

“Aku lapar, kau memasak apa?” Tanyaku pada Kyungsoo yang masih menatap Chaerin dengan seksama sementara yang ditatap tampak sibuk dengan handuk dan es di tangannya.

“Kyungsoo?” Ulangku.

“Ne?”

“Kau memasak apa? Tanyaku lagi.

“Aku belum masak apapun hyung, baru mempersiapkannya. Tapi kalau lapar, di meja makan ada beberapa kue sisa tadi pagi” jawab Kyungsoo masih dengan memperhatikan tingkah Chaerin.

“Kalau begitu ayo!” Kataku dan berusaha berdiri. Refleks Chaerin ikut berdiri dan memegangiku.

“Berhati-hatilah, kakimu belum sepenuhnua pulih!!!” Tegur Chaerin dan memukul pundakku. Aku mengangguk, Kyungsoo terdiam dan memilih ikut memapahku bersama Chaerin menuju ruang makan.

“Jadi, Chaerin-ssi kau tinggal di mana? Dan apa yang kau lakukan di SM Building?” Tanya kyungsoo dan menyodorkan sepiring cookies di hadapan Chaerin. Chaerin mencomot satu dan menatap Kyungsoo. Setelah menceritakan kronilogis terkilirnya kakiku, kami sedikit lebih akrab.

“Karena temanku mengirim rekaman videoku saat bernyanyi dan menari pada website SM Entertaiment, dan mungkin aku beruntung aku lulus audisi dan menjadi Trainee di Agensi ini!” Jawab Chaerin sedikit cemberut.

“Wahh, kau seorang trainee?” Seru Kyungsoo semangat. Chaerin mangangguk dan kembali mencomot cookies di hadapannya. Percakapan kami berlangsung begitu saja, semuanya tampak wajar, sesekali gelak tawa terdengar saat pengucapan Chaerin dalam berbahasa Korea sedikit salah. Chaerin bercerita kalau ibunya adalah keturunan Yunani sementara ayahnya berdarah Korea. Orangtuanya bercerai, ibunya kembali ke Yunani bersamanya dan ayahnya menetap di Korea namun sesekali mengunjungi ayahnya di Korea, walaupun orangtuanya berpisah hubungan mereka tetap terjalin baik. Sekarang aku tau darimana dia mendapatkan bola mata kelabu itu, dia mandapatkannya dari ibunya yang keturunan Yunani. Hanya itu, selebihnya dia mewarisi darah ayahnya yang orang Korea tulen. Pantas saja dialeknya saat berbahasa korea sangat aneh, dia menguasai bahasa korea, hanya saja dia tidak begitu terbiasa berbicara menggunakan bahasa korea, jadilah terdengar sedikit aneh, begitu katanya.

“Chaerin-ssi, kau benar-benar tidak mengenaliku?” lagi-lagi Kyungsoo bertanya pertanyaan yang sama untuk sekian kalinya. Chaerin menggeleng dengan yakin. Lalu Kyungsoo berbalik menatapku frustasi. Biarkan saja, tohh itu lebih bagus, batinku.

“Ini enak, kau membuatnya?” Tanya Chaerin saat menguyah cookies di mulutnya. Kyungsoo mengangguk sedikit malu.

“Waahh, kau hebat Kyungsoo-ssi!” Pekik Chaerin memuji. Kyungsoo tersipu malu dan aku hanya tersenyum.

“Hyung, aku dataaang!” Teriak Jongin yang baru saja memasuki dorm.

“Jongin-ahh, di ruang makan!” Sahut Kyungsoo.

Terdengar derap langkah menuju dapur. Jongin muncul dengan keringat membasahi sekujur tubuhnya.

“Mana Lay hyung?” Tanya Kyungsoo.

“Langsung ke kamarnya, mungkin mandi!” Jawab Jongin, “hyung minta air!” Tambahnya lalu menarik kursi di sampingku dan duduk di sana. Kyungsoo mengangguk dan berbalik mengambilkan air minum untuk Jongin, aku hanya terdiam. Memandang Chaerin yang masih menguyah Cookies dan sesekali menatap sekelilingnya. Dan kembali menatap Jongin yang meneguk air di gelas. Jongin mendongak, tatapannya tertuju pada Chaerin yang sedang tersenyum ke arahnya dan melambaikan tangan padanya. “Halo!” Sapa Chaerin. Jongin nyaris terjengkal karena kaget kalau saja aku tidak menahannya, matanya melotot ke arah Chaerin dan bergantian menatapku dan Kyungsoo minta penjelasan.

“Dia Chaerin Jongin-ahh, dia membantu Chanyeol Hyung saat kakinya terkilir!” Jelas Kyungsoo pada Jongin yang masih mengelus dadanya karena kaget.

“ha.. hai!” Sapa Jongin. “Aku Chaerin!” Kata Chaerin dan tersenyum.

“Aku Kim Jongin, kau bisa memanggilku Kai!” Jongin memperkenalkan dirinya. Lalu mengernyit saat melihat reaksi Chaerin yang hanya mengangguk lalu kembali mengunyah cookiesnya.

“Hyung?” Gumam Jongin.

“Ne?” Jawabku dan Kyungsoo bersamaan.

“Dia..?” Jongin tidak melanjutkan perkataannya. Dan memilih diam saat melihat Kyungsoo mengangguk.

“Dia tidak mengenali Chanyeol hyung, dia tidak mengenaliku, bahkan dia tidak mengenalimu juga!” Bisik Kyungsoo pada Jongin. Jongin menatap horror ke arah Chaerin.

“Aku kira kita sudah cukup terkenal hyung!” Gumam Jongin tidak terima.

“Ne, tapi buktinya masih ada yang tidak mengenali kita!” Timpalku.

“Makhluk ini, berasal dari planet mana hyung?” Tanya Jongin dengan mimik wajah yang cukup serius seolah dihadapkan pada ujian tingkat akhir. Kyungsoo memukul pelan kepalanya. “Hati-hati dengan ucapanmu! Kau lupa  kita juga berasal dari exo planet kan!” Sahut Kyungsoo dan di tanggapi dengan tawa sumbang olehku dan Jongin.

***

Tidak seperti biasanya, ruang makan cukup hening, sangat hening padahal semua member minus Sehun, Tao dam Suho hyung berkumpul duduk memandang Chaerin yang tampak kebingungan karena dirinya menjadi sorotan.

“Darimana kau menemukan mahkluk ini Yeollie?” Baekhyun berkomentar cukup pedas tanpa menatapku. Chaerin cemberut saat mendengar Baekhyun menyebutnya makhluk. Aku mengangkat bahuku  aku sudah mengatakannya berkali-kali pada mereka bahwa Chaerin yang menolongku saat kakiku terkilir. Aku Sudah bosan mengatakannya.

“Aku Baekhyun! Lihat baik-baik, kau tidak mengenaliku?” Teriak Baekhyun sedikit frustasi. Tidak ada satupun dari kami yang dikenalinya dan tentu saja ini membuat kami frustasi.

“Kau yakin dia manusia?” Tanya Xiumin hyung padaku. Dan tangannya sibuk menjawil-jawil pipi Chaerin yang menggembung karena cemberut.

“Aku ini manusia tau! Kau tidak lihat aku memiliki hidung, mata, mulut, rambut seperti kalian!” Pekik Chaerin dan menunjuk hidung, mulut, mata dan rambutnya.

“Ahh, dia marah!” Lay hyung yang sedari tadi diam akhirnya bersuara.

“Tentu saja aku marah, kalian pikir kalian siapa, seenaknya menanyakan padaku apa aku mengenal kalian atau tidak. Memang kalian siapa? Keluarganya Obama? Atau bintang terkenal mungkin??” Pekiknya lagi. Kami terdiam sedetik saat Kris hyung di ujung sana tertawa dengan nyaringnya disusul yang lain. Chaerin semakin cemberut lalu bangkit berdiri dari duduknya. “Aku pergi saja!” Serunya. Chen yang duduk di sampingnya menahannya dan menyuruhnya kembali duduk.

“Kami tidak menertawaimu, kau tau, cara bicaramu yang membuatku tertawa!” Ucap Luhan hyung setelah berhasil mengontrol dirinya. Aku hanya bisa menatap iba pada Chaerin.

“Ahh, kau seorang trainee di agensi ini?” Tanya Jongin sedikit terkejut. Chaerin mengangguk. Sepertinya dia mulai nyaman berada di antara kami. Aku bisa melihatnya dari caranya berinteraksi dengan Xiumin hyung dan Chen yang duduk di sebelahnya. Dan sesekali melotot pada Kris hyung yang mengejek cara berbicaranya.

“Aku harus pergi!” Ucapnya tiba-tiba

setelah sebelumnya melirik jam di tanganya.

“Sebentar lagi ne, tinggallah sebentar lagi!” Pinta Jongin. Chaerin menatap gusar pada Jongin dan bergantian menatapku.

“Ne, Chaerin-ssi, sebentar lagi jam  makan malam, tinggalah makan malam bersama kami. Masakan Kyungsoo sangat enak!” Lay Hyung menimpali dan mendapat pelototan dari Kyungsoo.

“Ne, anggap saja sebagai ucapan terima kasihku!” Sahutku  Chaerin berpikir sejenak, menimbang-nimbang antara pergi atau tetap tinggal. Dirogohnya sakunya dan mengeluarkan ponselnya, cukup lama menatap layar ponsel dan kemudian mendekatkan ponselnya pada  telinganya.

“Dad, I will go home late! Dont wait for me, okay!” Serunya pada ponselnya dan kembali menjauhkan ponselnya meletakkannya begitu saja di meja.

Chaerin mengedarkan pandangannya pada kami.

“Xiumin, Kris, Kyungsoo, Jongin, Lay, Baekhyun, Chanyeol, Luhan dan Chen!” Serunya menyebut nama kami satu persatu.

“Kau bilang, kalian berduabelas. Kemana sisanya?” Tanyanya dan memeringkan kepalanya menatapku.

“Sisanya keluar, mungkin sebentar lagi kembali” sahutku.

“Berapa usiamu Chaerin-ssi?” Tanya Luhan Hyung  padanya.

“Mmmm, sembilanbelas tahun!” Jawabnya sedikit ragu.

“Benarkah? Mana mungkin sembilan belas tahun tubuhmu mungil begini!” Seru Jongin terkejut. Chaerin kembali cemberut.

“Kalau begitu, kau harus memanggilku oppa!” Ujar Kyungsoo.

“Aku juga!” Seru kami bersamaan minus Jongin.

“Kecuali dia, usianya sama denganmu!” Tambahku. Chaerin mengangguk dan tersenyum penuh arti pada Jongin yang tampak kesal.

“Kalau kau seorang traine, berarti kau juga bersekolah di SM Entertaiment Art School?” Tanya Jongin tiba-tiba.. Diikuti anggukan oleh yang lain. Chaerin menggeleng.

“Eh? Benarkah lalu?” Tanyaku sedikit tidak percaya.

“Aku bersekolah di Kirin School!” Jawabnya dan menatap kami bergantian.

“Benarkah? Bukankah sekolah itu di khususkan hanya bagi  siswa yang berbakat dalam musik?” Xiumin hyung sedikit heran. Kami terdiam, aku bahkan tidak tau Kirin School itu ada.

“Ne” Chaerin mengangguk.

“Lalu, untuk apa kau menjadi trainee di agensi ini jika kau bersekolah di sana? Sepanjang pengetahuanku yang bersekolah di sana akan menjadi musisi handal!” Chaerin mengangguk lagi. Ekspresi wajahnya mendadak berubah keruh.

“Ibuku tidak menyetujui aku menjadi seorang trainee!” Jawabnya lesu. Kami terdiam, mengerti.

“Tapi karena aku terus membujuknya, sampai pada akhirnya ibuku setuju tapi dengan syarat aku harus bersekolah di sana dan tinggal bersama ayahku di sini” Tambahnya dengan sangat pelan. Kami semua mengangguk mengerti, betapa beratnya menjadi seorang trainee di agensi ini, wajar saja Ibunya tidak menyetujuinya.

“Kau pandai bermain alat musik?” Kyungsoo berusaha mengalihkan perhatian Chaerin. Chaerin tersenyum dan mengangguk.

“Orang bilang aku menuruni bakat Ayah dan ibuku. Kau tau, di sekolah guruku bilang tanganku ini tangan dewa. Aku menguasai semua alat musik!” Jawabnya bersemangat. Diam-diam aku sedikit merasa lega melihat senyumnya.

“Kami pulaaaaang!!”

Teriakan Sehun membuat kami menoleh padanya.

“Kalian dari mana saja, lama sekali!” Seru Kyungsoo dan berdiri membantu Sehun yang membawa beberapa kantong plastik di tangannya. Tao dan Suho Hyung menyusul kemudian.

“Yaaa, kau! Ke mana kau tadi! Seenaknya saja melarikan diri dari ruang latihan tanpa memberitahuku!” Bentak Suho hyung padaku.

“Hyung?” Panggilku saat dia terdiam tidak melanjutkan marahnya. Aku mengikuti arah tatapan Suho hyung yang tertuju pada makhluk mungil di hadapannya yang sedang tersenyum dan melambai padanya. Suhoo hyung melotot.

“Si.. siapa dia?” Tanyanya tergagap.

“Aku Han Chaerin, senang bertemu denganmu!”  sapa Chaerin lalu berdiri dan membungkuk. Suho hyung mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu menatap kami bergantian.

“A.. aku Suho!” Jawabnya gugup. Lagi Suho hyung menatap kami meminta penjelasan.

“Dia yang menolong Chanyeol hyung saat kakinya terkilir hyung, dia seorang traine!” Kyungsoo angkat suara menjelaskan pada Suho hyung yang masih terdiam.

“Ahh, Chaerin mereka ini dua magnae kami. Ini Tao, dan ini.. Sehun-ahhh!!!” Jelas kyungsoo pada Chaerin dan menunjuk Tao lalu memanggil Sehun yang berada di dapur.

“Ne,, hyung!” Sahut Sehun dan menghampiri Kyungsoo.

“Ini Oh Sehun!” tambah Kyungsoo dan menepuk bahu Sehun. Sehun hanya terdiam menatap Chaerin dengan wajah datarnya.

“Braak”

Kami semua menoleh pada sumber suara, Chaerin menggebrak meja di hadapannya.

“Aku mengenalnya! Aku tau dia Chanyeol-ssi!!!” Serunya bersemangat.

“Apa? Siapa?” Tanyaku panik.

“Dia, dia yang ada di musik video itukan?” Pekik Chaerin dan menunjuk Sehun. Kami semua melotot.

“Chaerin, kau mengenalinya?” Tanya Jongin tidak terima.

“Ya, tidak salah lagi itu benar dia! Wajah datarnya yang menyebalkan itu! Dia yang ada di musik video itu!!!”

“Hyuuung, sudah kubilangkan, meletakkan Sehun pada formasi terdepan itu membuat kita tidak dikenali karena semua hanya tertuju pada wajahnya!” Pekik Baekhyun pada Suho hyung yang juga melongo heran menatap takjub pada Chaerin.

“Haii, aku juga ada di musik video itu!” Seru Kris tidak terima.

“Ne, aku juga!” Luhan hyung menimpali.

“Kami semua ada di musik video itu, tapi kenapa kau hanya mengenali Sehun?” Tanya Kris hyung tidak terima.

“Entahlah, mungkin karena wajahnya sedikit menyebalkan” jawab Chaerin dan menunjuk Sehun. Sehun cemberut mendengar jawaban Chaerin

“Hei, wajahku tidak menyebalkan!” Bantah Sehun tidak terima.

“Aku juga ada di sana!” Seru Chen lalu menyanyikan bagiannya. “Aku juga Chaerin-ahh!” Lay Hyung bahkan menarikan bagiannya saat di musik video itu. Diikuti Jongin yang tidak mau kalah.

“kami juga ada di sana!” Kataku dan menunjuk Xiumin Hyung.

“Hyuung, kukira kita sudah cukup terkenal!” Gumam Tao pada Suho yang masih terbengong tidak mengerti dengan apa yang terjadi.

“Ahh, sudahlah! Apa itu penting?” Gumam Chaerin pelan.

“Tentu sajaaa!!!!” Jawab kami bersamaan. Chaerin melongo, lalu mengerjapkan matanya berkali-kali.  Dan cemberut karena kami membentaknya serempak.

“Ya sudah, aku minta maaf, maafkan aku tidak mengenali kalian dan hanya mengenali si wajah datar menyebalkan ini!!” Ucapnya dan menunjuk Sehun. “Dan aku akan rajin menonton tvku” tambahnya.

“Yaaa!!!!” Bentak Sehun tidak terima. Kami semua tertawa. Aku hanya menggelengkan kepalaku. Han Chaerin!

***

Aku berdiri menatap kosong pada layar ponselku. Saat ini aku beradar di koridor ruang latihan. Beberapa traine lewat di hadapanku dan membungkuk tersenyum padaku. Sudah kuduga, dia tidak akan menghubungi. Mungkin nanti saat dia kembali membutuhkanku. Aku berbalik memutar tubuhku berjalan kembali ke ruang latihan dengan sedikit terpincang. Kakiku belum sembuh sepenuhnya, tapi dengan sedikit memaksakan diri aku bisa berjalan bahkan sedikit berlatih.

“Oppaaa!!!!” Seseorang berteriak memanggil. Dengan sekuat tenaga aku berbalik menghadapnya dan mendapati Chaerin sedang berlari ke arahku.

“Hati-hati!” Seruku saat jaraknya sudah dekat dariku. Chaerin tersenyum lebar dan menghentikan langkah kakinya beberapa langkah di depanku.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanyanya heran dan menatap kakiku.

“sedang latihan!” Jawabku santai. Matanya yang besar itu membesar dua kali lipat mendengar jawabanku.

“Latihan? Bagaimana dengan kakimu?” Tanyanya sedikit histeris. Aku mendelik dan menunduk menatap pergelangan kakiku.

“Tidak apa!”

“Kau darimana?” Tanyaku dan menatapnya dari ujung kaki hingga kepalanya. Seragam sailor khas musim gugur, rok lipit kotak-kotak di atas lutut, di padukan dengan kemeja berwarna krem, dasi berbentuk pita yang manis dan blazer yang sama persis dengan roknya, membalut tubuh mungilnya dengan pas. ransel di pundaknya dan sebuah kotak biola yang ditentengnya di tangan kanannya.

“Aku baru pulang sekolah dan langsung kemari!” Jawabnya dan berjalan mendekatiku.

“Benarkah?”

“Hmmm” dia mengangguk dan berjalan di sampingku. Aku melirik sekilas pada nametag di dadanya. Aprodith Han dan Kirin High Scool tercetak di sana. Kami terdiam cukup lama sampai akhirnya aku berbelok memasuki salah satu ruang latihan.

“Chaerin-ahhh!!!” Teriak Xiumin hyung saat melihat Chaerin berjalan memasuki ruang latihan. Yang lain tersenyum dan melambai padanya. Aku memperhatikan Chaerin yang meletakkan biola yang dibawanya dengan hati-hati tapi ranselnya diletakkannya begitu saja dan melepaskan blazernya lalu melemparnya sembarang tempat. Aku hanya menggeleng melihatnya. Kembali tersenyum saat Chaerin berlari dengan sedikit melompat-lompat menuju Jongin yang sedang menari di temani Lay hyung.

“Di mana lagi kau menemukannya?” Suara Suho hyung mengalihkan perhatianku dari Chaerin kepadanya.

“Aku tidak sengaja bertemu di luar” jawabku dan kembali menatap Chaerin yang sudah menari dengan lincahnya mengikuti Jongin dan Lay hyung.

“Aku lelah!” Teriak Chaerin setelah beberapa saat menari dan menjatuhkan dirinya duduk di lantai. Aku berjalan ke arahnya dan ikut duduk di sampingnya. Yang lain mengikutiku.

“Baru begitu saja kau sudah lelah!” Ejek Jongin. Chaerin cemberut menatapnya.

“Bukan tubuhku yang lelah, tapi otakku tau! Otakku!!” Chaerin membela dirinya

“Bodoh, bagaimana mungkin otakmu lelah, dia tidak melakukan apapun!” Tambah Kris hyung membuat Chaerin semakin kesal. Kris hyung sedikit berbeda jika menghadapi Chaerin dia menjadi sedikit menyebalkan, entahlah, mungkin karena Chaerin memang bullyable.

“Meeh, guru biolaku sedikit menyebalkan! Dia memaksaku menguasai satu lagu sebelum pulang, padahal aku lelah!” Rungutnya pada kami.

“Kau bermain biola Chaerin-ahh?” Tanya Suho hyung dan Chen bersamaan. Chaerin menatap mereka lalu mengangguk.

“Sebenarnya, tidak hanya biola hyung, dia juga menguasai cello, harpa, piono dan flute!” Ucapku. Chaerin menatap mereka bergantian dengan ekspresi polosnya. Tidak ada sedikitpun wajah membanggakan dirinya di sana.

“Waaahh, Daebak!” Seru Luhan hyung dan bertepuk tangan. Chaerin tersenyum lebar.

“Kalau begitu mainkan kami sebuah lagu dengan biolamu!” Seruku menatangnya. Dan diikuti anggukan oleh yang lain. Aku melihat Chaerin menggigiti bibir bawahnya, berpikir.

“Baiklah!” Ucap Chaerin. Dan berdiri berjalan ke sudut ruangan di mana dia meletakkan biolanya.

Aku mengikuti pergerakannya dengan ujung mataku. Chaerin kembali dengan menenteng biola di tangannya. berdiri di tengah-tengah kami yang menatapnya dengan seksama.

“Baiklah, Aprodith Han akan memainkan sebuah lagu untuk kita!” Seruku.

“Beethoven Violince Romance pada mayor c!” Gumamnya lalu meletakkan biolanya di bahu kanannya. Aku menatapnya heran, Chaerin kidal? Batinku.

Perlahan Chaerin menggesek biolanya, alunan musik klasik terdengar merdu namun mengayat hati. Aku sama sekali tidak mengerti musik klasik, tapi saat Chaerin yang membawakannya aku bisa menikmati dan perlahan mengerti. Kuperhatikan Chaerin yang memejamkan matanya, jari-jari tangan kanannya dengan lincah bergerak pada senar-senar besi biola. Sementara tangan kirinya  menggesek biolanya dengan perlahan. Perlahan sosok Chaerin yang sedang bermain biola menjadi tampak berbeda dari apa yang kutau selama ini. Sosoknya seolah bersatu dengan biola yang digeseknya dan melebur bersama nada-nada yang di hasilkan dari harmonisasi petikan jarinya dan gesekan dari dawainya. Kualihkan pandanganku menatap Hyung dan dongsaengku yang juga menatap Chaerin dengan terpesona tanpa mengedipkan mata mereka sama sekali.

Perlahan Chaerin membuka matanya dan menurunkan biolanya dari pundaknya.

“Kamsahamnida!!” Ucapnya dan membungkuk. Aku masih terdiam, masih tidak mampu berkata-kata.

“Wahh, Chaerin-ahh!” Seru Tao membuyarkanku dari lamunan.

“Kau luar biasa!” Kali ini Chen yang memujinya. Suara tepuk tangan membahana dan bergema di ruang latihan ini. Chaerin tersenyum malu-malu dan menjatuhkan dirinya duduk di sampingku.

“Chaerin-ahh, lain kali bawa alat musik yang lain ne!” Seru Baekhyun dan menepuk pundak Chaerin. Chaerin mangangguk dan menatapku dengan seringai lebarnya.

Aku hanya mengangkat kedua jempolku padanya.

***

Kami berjalan meningalkan ruang latihan, setelah menyaksikan penampilan spektakuler dari Chaerin. Sosoknya yang sedang bermain biola tadi masih terbayang di benakku.

“Aku tidak menyangka Chaerin yang itu begitu berbakat!” Ucap Suho hyung yang bejalan di sampingku.

“Ne, aku juga hyung!” Sahut Baekhyun. Aku memperhatikan Chaerin yang berjarak beberapa langkah di depanku yang sedang mengejar Sehun dan Jongin dan kembali bergantian Jongin dan Sehun yang mengejarnya. Chaerin berlari ke arahku dan melesat ke balik punggung. Mendadak aku menghentikan langkahku, jantungku terasa berhenti berdetak saat kurasakan kedua lengan Chaerin melingkar di pinggangku memelukku dari belakang.

“Oppa lindungi aku!!!” Pintanya. Aku membeku di tempatku.

“Hyung, minggir! Jangan lindungi dia!” Timpal Jongin dan Sehun bersamaan. Aku tersadar dari diamku dan tertawa terbahak berusaha menetralkan perasaanku saat Chaerin kembali mengeratkan pelukannya di pinggangku.

“Minggir Hyung!!” Ucap Jongin kesal.

“Tidak oppa, lindungi akuu!” Ujar Chaerin suaranya sedikit teredam karena dia menggelamkan wajahnya pada punggungku.

“Minggir Hyung!” Seru Jongin lagi dan beringsut ke belakangku bersama Sehun lalu menarik Chaerin menjauh dariku. Chaerin berteriak histeris saat Sehun dan Jongin mengacak rambutnya. Setelah puas mereka melepasnya dan berlari meninggalkan Chaerin yang sedikit menggerutu dan merapikan rambutnya.

“Chaerin-ahh, mana ransel dan biolamu?” Tanyaku.

“Xiumim dan Kris oppa membawanya sebagai sandera agar aku ikut bersama kalian ke dorm!” Jawabnya dengan cemberut. Aku tersenyum sedikit rasa senang menghampiriku saat tau dia akan ke dorm kami lagi.

“Baguslah kalau begitu, ayo cepat!!” Sahut Baekhyun dan menarik tangan Chaerin berjalan lebih dulu meninggalkanku disusul Suho hyung. Aku mengendikkan bahuku dan berjalan menyusul mereka dengan susah payah. Untuk sesaat sepertinya aku melupakan nyeri pada kaki dan hatiku. Karena Chaerin.

***

Sudah hampir dua minggu aku dan yang lain tidak bertatap muka dengan Chaerin. Kesibukan kami begitu menghalangi kami untuk bertemu. Namun sesekali juga Chaerin mengabari kami tentang keadaanya dengan  mengirim pesan pada Suho hyung. Hey, sejak kapan mereka akrab seperti itu? Bahkan mereka saling bertukar nomor ponsel.

“Chaeriiin-ahh makan yang banyak!!” Kata kyungsoo pada Chaerin dan menyodorkan segala macam makanan yang ada di meja ke hadapan Chaerin. Chaerin mengangguk lalu tersenyum, senyum khas kekanakannya. Seluruh member duduk mengelilinginya. Tadi sepulangnya dari sekolah, Chaerin datang ke dorm  setelah Suho hyung menghubunginya untuk datang. Dengan wajah tampak lelah dan seragam sekolahnya yang sedikit lusuh Chaerin menikmati makanan yang di sodorkan Kyungsoo di hadapannya.

“kalian sibuk sekali oppa! Kalian seperti melupakanku saja!” ucapnya dengan mulut dipenuhi makanan.

“jangan berbicara saat kau makan!” seru Kyungsoo dan mengusap punggung Chaerin pelan.

“Chaerin, kau datang?” Seru Kris hyung yang baru saja bergabung dan dengan nada girang yang sangat tergambar jelas.

“Wae? Kau senang aku datang karena ada bisa kau bully sepuasnyakan?” Ucap Chaerin dengan mulut dipenuhi makanan. Aku menatapnya ngeri.

“Oppa, jauhkan tiang listrik ini dariku! Bisa-bisa aku tersambar petir!!” Serunya padaku dan menunjuk Kris hyung. Kris hyung yang ditunjuk hanya tersenyum samar lalu menyahut “Apa bedanya aku dengannya? Dia juga salah satu tiang listrik di sini!”

Kulihat Chaerin berusaha menelan makanan di mulutnya sebelum menjawab,

“Setidaknya jika aku bersama dengannya aku akan mati dengan damai!”

Aku tersentak mendengar perkataannya dan tersenyum simpul.

Setelah puas memakan makanan kami, setelah puas menjambak rambut Kai dan Sehun yang kalah saat bermain ular tangga, setelah berhasil meyakinkan Suho hyung agar meminjamkan kaus padanya kaus dengan label harga yang belum terlepas, Chaerin mendudukkan dirinya di lantai dengan kepala yang bersandar pada sofa dan mendongak menatap langit-langit. Aku duduk di sofa seorang diri. Sehun Jongin, Xiumin hyung Suho hyung  dan Kris hyung mengikutinya di lantai. Sementara yang lain istirahat di kamar masing-masing.

“Kau tidak pulang Chaerin-ahh?” Tanya Suho hyung pada Chaerin setelah sebelumnya melotot pada Sehun yang mengganti-ganti Channel tv. Jongin sedari tadi sudah tertidur, aku bisa mendengarnya dari dengkuran halus dan deru nafasnya yang beraturan.

“Sebentar lagi, aku malas pulang ke rumah!” Sahutnya masih dengan mata terpejam.

“Daddymu tidak mencarimu?” Kris hyung menimpali dengan nada bicara yang sedikit meledek.

Chaerin menendangnya pelan. “Dadku sibuk mengurus persiapan konser tunggal orkestranya, kurasa dia tidak akan punya waktu untuk sekedar mencariku!” Jawabnya malas lalu mengangkat wajahnya menatapku. Aku bisa melihat sinar matanya yang meredup.

“Ehh, dadmu akan mengadakan Konser tunggal?” Seru Sehun sedikit terkejut.

Chaerin cemberut, “bukan dadku, tapi orkestranya!” Sahutnya kesal.

“Apa bedanya!!!” Sahut Sehun tidak terima.

“Tentu saja beda! Dasar bodoh!!” Chaerin kembali mendebat Sehun tapi Sehun memilih diam, mungkin membenarkan perkataan Chaerin ataukah karena Suho hyung memelototinya.

“Ahh, ne, berbicara tentang konser tunggal dadku, kalian datanglah! Aku akan mempersembahkan satu lagu di sana!” Serunya bersemangat.

Kami menatapnya bergantian.

“Kau yakin?” Tanya Sehun. Chaerin hanya mengangguk, mungkin malas menanggapi.

“Kau akan memberi kami tiket gratiskan?” Chaerin menyeringai lalu menatap Suho Hyung dan mengedipkan matanya. Suho hyung mengangguk mengerti dengan kode yang diberikan Chaerin.

“Aku akan menyimpan 12 kursi Vip untuk kalian!” Serunya semangat.

Kami terdiam cukup lama, hanya suara tv dan suara dengkuran halus milik Jongin yang terdengar. Chaerin beringsut dari tempatnya dan duduk di sampingku. Kusandarkan kepalaku pada sandaran kursi saat Chaerin meletakkan kepalanya pada bahuku, aku tersentak tapi tidak menggerakkan tubuhku. Dengan sangat jelas aku bisa mencium aroma shampoo pada rambutnya dan bau khas dari kaus yang di kenakannya.

“Oppa!”

“Hmmm”

Lalu chaerin menarik tanganku, meletakkanya di kepalanya memintaku mengelus rambutnya. Aku melakukannya dalam diam, cukup lama sampai aku mendengar deru nafas yang beraturan dari Chaerin di pundakku.

***

Aku menarik dan menghela nafasku dalam untuk kesekian kalinya. Menatap kosong pada jejeran pohon cherry dan pohon maple di hadapanku. Tanganku mencengkram kuat kertas kaku berwarna biru dan pita berwarna pink yang di sematkan dengan manis di sampulnya tapi sama sekali tidak mampu menghilangkan rasa nyeri di dadaku. Dari awal aku memang sudah menduga semua ini akan terjadi, aku juga sudah mempersiapkan diriku untuk kemungkinan buruk seperti ini.

“Kalian akan bertunangan rupanya” gumamku pelan. Saat ini aku berada di taman yang tidak begitu jauh dari dorm, mencoba menenangkan diriku di tempat ini. Menggigit bibir bawahku saat kurasakan mataku berembun dan perlahan airmataku mengalir melewati pipiku. Kutelungkupkan wajahku pada kedua tanganku yang masih memegang undangan manis ini, berusaha meredam suara tangisku saat seseorang menghempaskan dirinya duduk di sampingku

 Aku mengusap pipiku dengan kasar sebelum mendongak menatap seseorang itu. Chaerin tersenyum di hadapanku dengan senyum khas kekanakannya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanyaku. Aku benar-benar heran, mengapa anak ini selalu menemukanku.

“Aku sedang berjalan di sekitar sini dan tanpa sengaja melihatmu!” Sahutnya. Aku bisa melihat pergerakan matanya yang melirik pada undangan di tanganku.

“Oppaa!”

“Aku baik-baik saja!”

Chaerin menarik nafasnya dan matanya bergerak mengikuti pergerakan daun-daun berwarna cokelat yang berguguran.

“Kau ingin mendengar kisahku?” Tanyanya. Aku memilih diam, tidak menjawab.

“Dua tahun yang lalu, saat usiaku 17 tahun, ahh tepatnya saat ulangtahunku yang ketujuhbelas tahun, momku mengajakku menonton konser Dadku!” Chaerin mulai bercerita, sesekali memejamkan matanya menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya.

“Saat itu, dadku mempersembahkan sebuah lagu untukku. Aku bangga, tentu saja. Tetapi ketika seluruh penonton bertepuk tangan seketika itu juga aku tersadar, walaupun dad mempersembahkannya untukku, tapi saat itu bukan hanya aku yang menikmatinya, aku berbagi dengan ratusan orang lainnya bahkan momku sendiri! Saat itulah aku benar-benar merasakan patah hati yang sesungguhnya!” Aku terdiam Mendengarkan Chaerin bercerita. Berbalik menatapnya yang juga menatapku dengan tersenyum, senyum yang sedikit berbeda. Aku tau kisahnya ini tidak ada hubungannya sama sekali denganku, tapi entah kenapa hatiku sedikit lega, bebanku berkurang.

“Oppa!”

“Hmm?” Chaerin menyodorkan sebuah kertas tipis di hadapanku. Aku mengkerutkan keningku.

“Apa ini?” Tanyaku heran.

“Tiket konser!” Jawabnya singkat.

“Untuk?”

“Aisshhh, itu tiket konser dadku, kau harus datang karena aku akan benar-benar tampil di sana!!!” Serunya bersemangat. Aku menatap konser tiket di tanganku ini.

“Kau memberinya secara cuma-cuma??” Tanyaku curiga. Chaerin menggigiti bibir bawahnya dan perlahan mengangguk.

“Benarkah?”

“Tentu saja! Aku sudah meminta agar mengosongkan 12 kursi vip untuk kalian!” Sahutnya membela diri. Aku mengangguk.

“Oppa!” Panggilnya lagi

“Hmmm!” Aku berbalik padanya. “Cup” Chaerin mencium pipiku. Aku terkejut, jantungku nyaris melompat dari rongga dadaku.

“Oppa, annyeong!” Serunya lalu berlari meninggalkanku yang masih belum mencerna apa yang baru saja terjadi. Aku berdiri menatap lama ke arah Chaerin pergi, mengusap pelan pipiku dan tersenyum.

Kutatap kedua benda yang kugenggam di kedua tanganku bergantian. Pilihan yang sulit, batinku.

***

“Hyuung, lihat! Aku mendapatkan ini dari Chaerin!” Seru Sehun pada Luhan yang tepat  berada di depanku.

“Aku juga hyung!” Timpal Jongin. Kulihat Luhan tersenyum simpul lalu menunjukkan tiket di tangannya pada Sehun dan Jongin yang langsung bungkam.

“Aku juga mendapatkannya!” Ucap Chen dan mendapat anggukan dari Tao dan Xiumin hyung.

“Bagaimana denganmu?” Tanyaku pada Baekhyun yang duduk di sebelahku menikmati ramen di hadapannya. Baekhyun merogoh sakunya dan menunjukkannya padaku.

“Aku juga dapat, tapi aku lupa meletakkannya di mana!” Seru Lay hyung dan sedikit kebingungan.

“Hahh, kau menitipkannya padaku Lay!!!” Sahut Kris.

“Chaerin benar-benar memberinya secara gratis!”  ujar Kyungsoo lalu menyangga dagunya pada meja.

“Heii, enak saja!!” Aku mengeluarkan jutaan won demi tiket yang jumlahnya limited edition itu!!!” Suara Suho hyung melengking di pojokan.

“Benarkah hyung? Chaerin bilang dia memberikannya secara gratis!!” Ujar Sehun tidak percaya.

“Enak saja!! Aku membelinya! Chaerin hanya memilihkan tempat saja! Aku yang membelinya!” Sahut Suho Hyung. “Menggunakan uangku!!” Tambahnya lalu menatap kami dengan tatapan mengibanya.

“Aku benar-benar merasa telah di rampok!” Ucap Suho Hyung pelan lalu menatap tiket konser di tangannya pasrah.

Kami semua tertawa.

“Kukira Bocah itu benar-benar memberikannya gratis!” Sahut Kris hyung di sela tawanya.

“aiiisshh, bocah ituu!!” Rungut Suho hyung kesal.

***

Iklan

15 pemikiran pada “XOXO (Kiss and Hug) The Series (3.6.5 – Chanyeol ver)

  1. Ceritanya seru, tapi aku bingung siapa yg bertunangan.

    Kau menggantungkan cerita ini….
    Kau hentikan ff ini tanpa sebab…
    Mau nya apa? Ku harus bagaimana….
    Chanyeol….
    Sampai…kapan kau gantung ff yg menarik bagiku
    Membuatku sedih..
    Hingga mungkin ku tak danggup lagi……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s