Our Marriage (Chapter 4)

Title                             : Our Marriage…… (Chapter 4)

Author                         : Baby Panda

Main Cast                    : Kris Exo, Lee Hyesung

Length                         : Chapters

Genre                          : Romance, Marriage Life

Rating                          : 19+

‘Aku tahu kau pasti akan tetap kerja walaupun sudah ku larang. Dasar keras kepala!’ Kris mendesah melihat Hyesung yang jatuh tertidur dengan beberapa kertas tersebar disekeliling tempat tidurnya. Kris mengumpulkan kertas-kertas tersebut, memindahkan Hyesung agar dia bisa tidur dengan posisi yang nyaman dan menyelimutinya.

‘Sepertinya tadi ada orang yang menyelinap ke kamarku dan membereskan kertas-kertasku yang berantakan. Apa kau melihatnya?’ Hyesung berjalan menuruni tangga dengan bantuan penyangga disetiap lengannya.

‘Nan Gwenchana,’ Hyesung menghentikan Kris yang langsung berlari ke arahnya saat melihat dia menuruni tangga—Kris meninggalkan masakannya.

‘Kau sedang masak?’ Hyesung mengamati Kris dari meja makan.

‘Ne, jadi sebaiknya kau diam saja disana,’ Kris memastikan Hyesung tidak maju sebelum berbalik untuk mengaduk pastanya.

‘Uwaaa, keliatannya enak, apa itu bisa dimakan?’ Hyesung meledek Kris.

‘Aku tidak memasukkan racun ataupun bahan kimia lainnya kesini. Apa itu termasuk bisa dimakan?’ Kris balik meledek. Mereka sekarang sudah bisa bercanda dan saling meledek karena mereka sudah lebih dekat.

‘Kita lihat saja……uhmmmmmmm…………’ Hyesung mencicipi pasta buatan Kris. Dia berakting seolah-olah pastanya sulit ditelan.

‘Waeyo? Keasinan ya? Aku pikir ini tidak terlalu……’ Kris sadar kalau dia sudah ditipu Hyesung saat dia melihat Hyesung menyembunyikan tawanya. Dia memasang senyum palsunya sementara Hyesung menikmati makan malamnya.

‘Ini bisa dimakan dan………enak. Kenapa kau selama ini tidak pernah masak?’ Hyesung agak terkejut dengan bakat terpendam Kris.

‘Kenapa aku harus susah-susah masak kalau sudah ada orang yang mau memberiku makan?’ Kris memamerkan seringainya.

 

 

 

 

 

************

 

 

 

 

 

‘Hyesung-ssi, kenapa kita tidak mulai bicara banmal saja? Kita bisa mulai dengan menghilangkan kata –ssi.’ Kris dan Hyesung sedang berada diruang keluarga. Mereka sedang menonton variety show setelah selesai membuat daftar belanjaan untuk mengisi kulkas mereka yang mulai kosong. Rencananya Kris yang akan berbelanja karena kaki Hyesung belum pulih benar.

‘Begitu ya?’ Hyesung mencoba menyembunyikan senyumnya.

‘Ne, kau tidak perlu memanggilku Oppa kok kan kita Cuma beda 1 bulan saja. Eotteohke?’ Kris berlagak seperti boss yang malah kelihatan lucu dimata Hyesung.

‘Jadi aku cukup memanggilmu Kris-ah~’

‘Ne,’ Hyesung bisa melihat mata Kris bersinar cerah seperti anak-anak yang baru saja mendapatkan hadiah favoritnya. Hyesung tertawa lepas dan membuat Kris kebingungan.

‘Waeyo Hyesung-ah,’ Kris malah membuat Hyesung tertawa makin lebar.

‘YA! Harusnya kau memanggilku nuna. Apa kau tidak tahu kalau aku lebih tua 11 bulan?’ Sekarang Hyesung pura-pura serius.

‘Mwo?’ Kris tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

‘Wae? Aku keliatan masih muda ya? Apa kau pernah membaca surat nikah kita?’

Kris hampir tidak bisa mengingat dia pernah membacanya. Dia hanya ingat pernah menandatangani surat seperti itu.

‘Ah~~~benar-benar bikin frustasi. Yah…setidaknya kau tahu nama nuna.’ Hyesung tidak bisa marah karena sorot mata Kris yang seperti anak kecil tersebut.

‘Tapi kan aku pria dan juga suami yang memimpin dirumah ini. Bukankah seharusnya kau memanggilku oppa?’ Kris berdalih.

‘Ya! Aku kan lebih tua darimu. Harusnya aku yang memberimu ijin untuk menyapa pakai nama saja. Kenapa aku harus memanggilmu oppa?’ Hyesung tidak mau kalah.

‘Karena aku lebih besar dan lebih tinggi darimu,’ Kris masih saja keras kepala.

‘Apa itu masuk akal? Nan sirheo,’ Hyesung berdiri dan bersiap-siap untuk tidur.

‘Sini oppa gendong,’ Kris tersenyum menghalangi jalan Hyesung.

‘Ck, nuna bisa jalan ke kamar sendiri. Kau mau minggir tidak? Kuma?’ Hyesung tidak lupa memasang senyum jahilnya—dia merasa puas memanggil Kris dengan sebutan ‘Kuma’(anak kecil).

‘Kuma?????’ Kris mengangkat Hyesung dan langsung berjalan ke kamarnya walaupun mereka masih saja ribut tentang ‘nuna’ dan ‘oppa’ sepanjang jalan.

 

 

 

 

 

************

 

 

 

 

 

‘Ah…ah…ah…ah…ah…ah…ah…ah…ah…darah…hiks…hiks…hiks…darah…hiks…hiks…hiks…’

‘Dia pasti mimpi buruk lagi,’ Kris bicara pada dirinya sendiri sebelum keluar dari ruang kerjanya yang terletak disamping kamar Hyesung.

Saat Hyesung di rumah sakit, Kris selalu memergokinya mimpi buruk sejak kecelakaan tempo hari tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Kris hanya diam dan memperhatikan Hyesung menangis dalam tidurnya kemudian pura-pura tidur lagi saat Hyesung terbangun. Kris sudah duduk di ujung ranjang Hyesung saat dia tiba-tiba terbangun dan terkejut melihat kehadiran Kris dikamarnya.

‘Apa yang kau lakukan disini?’ Hyesung mencoba menyembunyikan airmatanya dengan menanyai Kris yang kelihatan khawatir.

‘Aku berencana memarahimu,’ Kris menunjukkan wajah pura-pura-marahnya untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.

‘Wae?’

‘Aku tidak bisa konsen memeriksa laporan gara-gara kebiasaan mengorokmu itu.’

‘Eiyyy, memangnya aku mengorok ya? Ah, aneh. Aku sih pernah dengar kalau aku suka menggertakkan gigi, bicara dalam bahasa korea, inggris kadang juga bahasa yang nggak jelas, dan kadang aku menangis. Terakhir sepertinya aku juga jalan sambil tidur. Kalau aku benar-benar mengorok berarti kebiasaan tidurku tambah satu lagi donk.’ Hyesung bicara sambil berusaha keras mengatur nafasnya agar dia tidak terisak.

‘Itu berarti kau tidak boleh tidur sebelum aku menyelesaikan pekerjaanku.’

‘Aku tidak janji ya, kan aku masih seorang pasien yang harus banyak istirahat,’ Hyesung mencoba mengelak saat airmatanya mulai mengalir. Kris memberinya segelas air dan mengusap airmatanya.

‘Indah banget ya? Mimpimu……yang membuatmu menangis bahagia.’ Kris bercanda tentang mimpi Hyesung untuk menenangkannya. Hyesung hanya mengangguk lemah.

‘Apa kau tidak merasa harus membagi kebahagiaan itu denganku?—Setidaknya sebagai kompensasi karena sudah mengganggu pekerjaanku?’

‘Kau harus janji dulu tidak akan marah padaku,’

‘Oke,’ Kris tersenyum seperti anak kecil yang malah membangkitkan naluri jahil Hyesung.

‘Aku bermimpi kau memanggilku nuna,’

‘Eiyyy, mimpi macam apa itu?’

‘Itu mimpi indah karena akhirnya kau mau menghormati orang yang lebih tua,’

‘Bagian indahnya itu Cuma pas aku muncul dimimpimu kan?—Hyesung-ah’

‘Ouwww, lihat sikap narsis itu,’ Hyesung saat ini mulai tenang.

‘Wae? Aku benar kan? Kau harusnya bersyukur karena aku tidak tahu kapan lagi aku punya waktu untuk mampir ke mimpimu.’ Kris mencolek lengan Hyesung.

‘Aishhhhh, aku tidak pernah memintamu untuk datang ke mimpiku.’

‘Kalau begitu anggap saja itu sebagai hadiah untuk merayakan kepulanganmu. Ku pikir kau perlu istirahat lagi. Kenapa kau tidak tidur lagi saja? Kan kau juga belum sembuh, eoh?’ Kris membujuk Hyesung. Dia membaringkan Hyesung dan menyelimutinya.

‘Annyeong-hi jumuseyo,’ Kris bicara dalam nada rendah sambil tersenyum. Dia hendak mematikan lampu saat tangan Hyesung menarik t-shirtnya.

‘Kau takut?’ Hyesung menjawab pertanyaan ini dengan anggukan lemah tanpa menatap mata Kris.

‘Kau mau aku temani?’ Lagi—Hyesung mengangguk lemah.

‘Jangan khawatir, aku akan berada disampingmu.’ Kris tersenyum hangat sambil memegang tangan Hyesung. Bukannya membiarkan Kris tidur dikursi disamping ranjangnya, Hyesung malah minggir—memberikan Kris tempat diranjangnya—dan menepuknya sebagai tanda bahwa dia ingin Kris tidur disampingnya.

‘Gwenchana?’ Kris yang sekarang sudah disamping Hyesung bertanya memastikan. Mereka berbaring saling berhadapan. Saat Hyesung mengangguk Kris menggenggam tangannya untuk menenangkannya.

‘Annyeong-hi jumuseyo…’ Kris memberi Hyesung tanda untuk tidur dengan mengelus rambutnya, ini pertama kalinya Kris dan Hyesung berada dalam satu ranjang.

 

Kris P.O.V

Maaf sudah bersikap dingin dan tidak sadar atas apa yang sudah kau lalui selama ini. Kau pasti sangat kesepian dan takut. Kurasa aku sudah menemukan apa yang aku cari selama ini. Sekarang aku sudah ada disampingmu jadi jangan pernah mengalihkan pandanganmu lagi, tataplah aku! Akan kupegang kau erat-erat dan aku tidak akan pernah lari lagi. Lupakan tentang mendahulukan kepentinganku dan jangan pernah lagi membuat batas diantara kita. Dengan begitu aku bisa menjagamu dengan lebih baik dari sebelumnya.

 

 

 

 

 

************

 

 

 

 

 

‘Kenapa kau tidak bilang kalau hari ini kita mau jalan-jalan? Harusnya tadi aku bawa kill-heel ku. Aaah, bener-bener memalukan berjalan disampingmu tanpa kill-heel, ck,’ Hyesung diseret Kris menuju ke bioskop sepulang dari rumah sakit setelah melepas perban dipergelangan kakinya siang ini.

‘Kau malah harusnya bangga donk, kan kau jalan dengan seorang pria tinggi, tampan lagi. Kau pikir aku akan mengijinkanmu pakai heel Cuma karena perbannya sudah dilepas sejam yang lalu, huh?’ Kris masih menyeret Hyesung.

‘Tapi tetap saja memalukan. Orang-orang itu melihat kita dengan pandangan mereka pasangan beauty and the beast, tau. Benar-benar bikin tidak nyaman saja.’ Hyesung tidak bisa mengangkat kepalanya karena beberapa orang mulai berbisik-bisik saat melihat mereka lewat.

‘Ani, aku malah merasa nyaman sekali. Sepertinya kita harus berlagak lebih layaknya pasangan suami-istri agar mereka tidak berbisik-bisik tentang kita, iya kan?’ Hyesung tidak menjawab. Dia terkejut saat Kris merangkulnya dan berjalan dengan penuh percaya diri.

 

 

 

 

 

 

‘Kau mau minum? Denganku? Kita tidak pernah punya kesempatan untuk minum bersama, kan?’ Mereka baru saja selesai menonton 2 film secara beruntun tapi Hyesung belum merasa lelah sama sekali. Malam ini dia malah ingin mengobrol dengan Kris.

‘Kedengarannya menarik juga. Ayo.’ Kris tersenyum seperti anak kecil dan menggenggam tangan Hyesung.

‘Kita minum dirumah saja ya. Aku Cuma tidak mau mabuk terus muntah ditengah jalan. Kau pasti juga tidak mau malu gara-gara aku kan?’

‘Tentu saja.’

 

 

 

 

 

 

‘Aaaaahhh, senangnya bisa minum dengan orang selain Lay.’ Kris mengangkat gelas ketiganya.

‘Nado. Harusnya kita lebih sering melakukan hal-hal seperti ini.’

‘Uhmmmmm.’ Kris bergumam sambil mencoba menelan sojunya.

‘Kau tadi marah padaku ya? Waktu kita dibioskop?’ Hyesung mulai mengungkapkan rasa ingin tahunya dengan ragu-ragu.

‘Ani………jujur saja, aku marah pada diriku sendiri karena aku sudah merubahmu jadi seseorang yang seperti hari ini.’ Kris berhenti minum.

‘Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan.’

‘Aku pikir sikap dinginku dulu sudah mengubah kepribadianmu.’ Kris memberikan penjelasannya dengan ekspresi menyesal di wajah.

‘Ku pikir aku tidak terpengaruh kok.’

‘Kau hanya belum sadar. Hari ini kau kelihatan ketakutan sewaktu berjalan denganku. Kau tidak bisa ke tempat yang ramai denganku. Aku menakutkan sekali ya?’

‘Bukan begitu, tolong jangan salah paham soal kejadian hari ini. Aku Cuma tidak mau kau terlihat seperti orang aneh karena jalan denganku. Kau tahu………maksudku………yang satu tinggi sekali sementara yang satunya lagi kecil sekali.’ Hyesung menundukkan kepalanya.

‘Persis seperti apa yang mau kukatakan. Kita sudah setuju untuk mulai dari awal lagi kan? Tapi sepertinya Cuma aku yang benar-benar membuka lembaran baru sementara kau tetap membuat batas diantara kita. Tolong berhenti mendahulukan kepentinganku diatas kepentinganmu karena sekarang aku sudah lebih dari sekedar nyaman dan baik-baik saja. Jangan khawatir. Kenapa kau tidak mencoba membuka hatimu? …………Apa kau menyukai seseorang?’ Hyesung tidak merespon. Dia masih menekuk kepalanya dan berpikir kalau semua itu memang benar. Kris sudah banyak berubah sementara dirinya masih tetap sama.

 

Kris meraih dagu Hyesung dan bicara dengan menatap langsung ke matanya.

‘Tatap aku. Aku sudah menemukan jawabanku. Bagaimana denganmu? Apa kau masih mencarinya?’ Kris pikir kesempatannya sekarng 50:50 karena dia menyangka kalau Hyesung menyukai orang lain. Hyesung yang tetap diam malah membuat Kris merasa lebih merana.

‘Dengarkan aku. Ada sesuatu yang ingin kukatakan. Aku menyukaimu. Aku menyukaimu bukan karena rasa kasihan atau terpaksa. Aku tidak tahu kenapa, aku menyukaimu begitu saja. Aku mau melindungimu. Aku mau menggenggammu erat-erat agar kau tidak menderita sendirian lagi. Aku mau jadi bagian dari dirimu agar kau tidak kesepian lagi……saranghae……’ Kris masih menatap mata Hyesung mencari tahu jawabannya. Kris makin mendekatkan wajahnya dengan wajah Hyesung—ekspresi wajah Hyesung tidak berubah. Sekarang wajah Kris tinggal 2 cm dari wajah Hyesung dan dia tidak mundur. Kris memutuskan untuk mendaratkan bibir tipisnya di bibir tebal Hyesung dengan lembut dan penuh kehangatan. Hyesung hanya mengedipkan matanya secara perlahan dan tetap diam. Dia tidak membalas ciuman Kris.

 

Untuk saat ini, ini sudah bagus selama dia tidak mundur. Batin Kris.

 

‘Jangan khawatir. Aku tidak mabuk kok. Aku tidak mau memberimu tekanan. Aku akan bersabar menunggu jawabanmu. (Kris tersenyum). Sepertinya aku harus tidur sekarang. Jalja—‘ Kris sudah setengah berdiri saat Hyesung tiba-tiba saja meraih tangannya—menghentikan dia. Dalam sekejap Hyesung sudah memeluk Kris, mengagetkan Kris.

 

‘Kau harus menepati kata-katamu. Janji?’ Airmata Hyesung mulai menetes. Kris memegang bahunya, menatap matanya dan mengusap airmatanya.

‘Aku janji. Aku akan jadi suami terbaik hanya untukmu,’ Kris tersenyum hangat sembari menunjukkan jari kelingkingnya. Hyesung mulai terisak saat Kris dengan hangat mencium dahinya. Dia menatap mata Hyesung—memastikan—sebelum merendahkan kepalanya  dan mendaratkan bibirnya sekali lagi ke bibir Hyesung dengan lembut. Kali ini Hyesung membalas ciuman Kris—perlahan mereka semakin bergairah.

 

 

 

 

 

 

‘Bukankah kau tadi bilang mau tidur?’ Hyesung berhenti didepan pintu kamarnya saat menyadari Kris yang mengikutinya. Kris hanya mengangguk dengan penuh semangat.

‘Lalu kenapa kau mengikutiku?’ Sekarang Hyesung merasa curiga.

‘Aku kan pria yang sudah menikah jadi aku harus tidur dengan istriku donk,’ Kris menunjukkan senyum nakalnya. Dia meraih lengan Hyesung dan menyeretnya masuk kamar.

 

THE END

 

29 pemikiran pada “Our Marriage (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s