The End Of Love Story (Suho-Tiffany Ver.)

Suho-Tiffany

The End of Love Story (Suho-Tiffany ver) || By EShyun || Main Cast : Suho, Tiffany || PG – 15 || Ficlet || Sad Romance || Poster by Pearlshafirablue ^^

 

Annyeong~ EShyun is back! Oke, aku nggak mau banyak cuap2, jadi… Happy reading ^^

+++++

 

The End of Love Story (Suho-Tiffany ver)

 

“Suho-ah, kau sudah bangun?”suara lembut Tiffany membuat lelaki yang di panggil Suho itu langsung membuka kedua matanya.

Noona, kau sudah disini?”lelaki itu langsung mengubah posisinya menjadi duduk dan memasang wajah ceria dihadapan Tiffany, gadis yang tak lain adalah kekasihnya itu.

“Iya, aku baru saja datang,”jawabnya sembari tersenyum. “Tapi, kata perawat kau tak mau minum obatmu, wae?”

“Aku bosan noona,”wajah cerianya berganti dengan wajah kesal. “Sampai kapan aku harus seperti ini eoh? Aku hanya bisa terbaring lemah disini tanpa bisa melakukan apapun, bahkan untuk sekedar menghirup udara bebas saja aku tak diperbolehkan oleh mereka. Aku bosan berada disini terus.”ia mengeluarkan semua kekesalannya pada gadisnya itu.

Arrayo,”gadis itu menghela nafas pelan. “Ini memang membosankan dan aku tahu kau tersiksa berada disini terus menerus. Tapi bukannya kau ingin sembuh? Kau ingin terlepas dari penyakitmu itukan?”

Suho terdiam, hanya wajah kesal yang ia tampakkan.

“Kenapa? Apa aku salah?”

Aniya~ kau benar noona… Baiklah, aku akan meminum obatku.”ujarnya akhirnya.

Tiffany tersenyum puas, dengan segera ia menyerahkan obat yang sudah tersedia di meja kecil dekat tempat tidur Suho. Dengan malas, lelaki itu menelan obatnya, sedangkan Tiffany kembali tersenyum melihat tingkahnya itu.

“Anak pintar…”ujarnya sembari mengelus-elus rambut Suho.

“Aish, hentikan noona. Ya! walaupun kau lebih tua dariku, tapi aku ini kekasihmu, jadi berhenti memperlakukanku seperti anak kecil.”ujar Suho sembari memasang wajah kesal.

Ya, berhenti memasang wajah seperti itu jika kau tak ingin aku perlakukan seperti anak kecil.”godanya lalu tertawa kecil.

“Aish, noona…”

Tawa Tiffany semakin kuat, membuat Suho menjadi ikut tertawa bersamanya. Hanya saja wajah gadis itu tak mengisyaratkan kebahagiaan, wajahnya malah lebih cenderung dengan kesedihan. Bagaimana tidak? Lelaki yang telah lama mengisi relung hatinya, selama empat bulan terakhir ini hanya bisa terbaring lemah di rumah sakit.

Leukimia. Penyakit itu kini bersarang di tubuh Suho, kekasihnya. Hanya tranplantasi sumsum tulang belakang yang bisa menyelamatkan nyawa lelaki itu, namun hingga saat ini mereka belum menemukan pendonor yang cocok untuknya. Dokter mengatakan mereka bisa melakukan tranplantasi allogenik, yang artinya tranplantasi yang didapatkan dari saudara kandung sehingga tingkat keberhasilannya sangat tinggi. Tapi berhubung Suho tak memiliki saudara kandung dan berasal dari sebuah panti asuhan, jadi mereka masih mencari-cari orang yang tepat.

+++++

Tiffany POV

Aku masih tertawa, walau hatiku terasa amat sakit. Aku sengaja tak ingin memperlihatkan kesedihanku dihadapannya, karena aku tahu itu hanya akan menambah penderitaannya.

“Suho-ah..,”panggilku setelah tawaku reda. “Aku ada sedikit urusan jadi harus meninggalkanmu sebentar, gwaenchana?”

Gwaenchana~ Tapi kau jangan pergi lama-lama, aku terlalu bosan bila harus disini sendirian. Arrachi?”

Ne, aku tak akan lama. Kau istirahat ya chagi. Annyeong~”pamitku lalu mengecup keningnya sekilas.

Ia tersenyum ke arahku, senyum yang amat manis tapi masih menampakkan wajah pucatnya itu.

Annyeong~ Hati-hati ya noona.”

Aku membalas senyumannya, lalu mengangguk kecil. Dan setelah itu aku mulai melangkah meninggalkan ruangan itu.

Sebenarnya aku tak pergi kemana-mana, aku tetap berada di rumah sakit itu. Diam-diam aku mendaftarkan diri sebagai pendonor untuknya, entah kenapa aku merasa aku harus melakukan hal itu. Kemarin lusa aku telah melaksanakan pemeriksaan dan hasilnya akan keluar hari ini.

“Bagaimana dok? Apa aku bisa menjadi pendonor untuk pasien bernama Suho?”tanyaku ketika telah berhadapan dengan sang dokter.

“Sebelumnya aku ingin bertanya satu hal denganmu, apa kau dan Suho adalah saudara kandung?”tanyanya yang berhasil membuatku tersentak kaget.

“Saudara kandung? Aniya~ aku hanya kekasihnya dok. Ada apa?”

“Begini, menurut hasil pemeriksaan kalian memiliki DNA yang sama dan itu hasilnya lebih dari 95% yang artinya kalian adalah saudara kandung.”penjelasannya itu berhasil membuatku kembali tersentak kaget.

“Dia bilang, aku dan Suho saudara kandung?”batinku masih tak percaya.

Aku terdiam, tentu saja sangat terkejut.

“Aku dengar Suho berasal dari sebuah panti asuhan.”

“Iya, dia memang berasal dari panti asuhan yang….”aku menghentikan perkataanku, tiba-tiba segelintir ingatan bermain-main di pikiranku.

-FLASHBACK-

“Joonmyun-ahNoona akan pergi sebentar, kau di rumah saja ya. Eomma, pasti akan pulang sebentar lagi. Ingat, jangan pergi kamana-mana. Arrachi?”terdengar sebuah suara gadis kecil tengah berbicara dengan seseorang yang lebih kecil darinya.

Ne, noona. Arrachi~”

Gadis itu tersenyum. “Anak pintar…”ujarnya lagi lalu mengelus-elus rambut lelaki kecil itu perlahan. “Noona pergi dulu ne? Annyeong~”

Annyeong noona~”

+++++

“Joonmyun-ah..,”ucap Tiffany lirih. Setitik airmata mengalir dari sudut matanya. “Joonmyun-ah… Suho-ah…”

Waeyo? Apa kau mengingat sesuatu?”tanya sang dokter bingung.

Ne. Aku ingat, dulu aku memiliki seorang adik laki-laki bernama Joonmyun. Saat itu aku hendak pergi sebentar, tapi ketika aku pulang dia sudah tak berada dirumah. Awalnya aku merasa sangat kehilangan tapi, ingatan itu lama-lama memudar seiring dengan berjalannya waktu.”ucapnya datar dengan mata yang masih menerawang kosong.

“Apa kau yakin dia itu memang adikmu?”

“Entahlah, tapi… hanya dia saudara yang aku punya.”

Sang dokter menghela nafas berat. “Tapi dari hasil DNA, kalian memang seharusnya bersaudara. Apa dia tak memiliki tanda lahir atau bekas luka?”

“Tanda lahir? Ah aku ingat, Joonmyun memiliki tanda lahir di punggung kirinya. Iya, aku sangat mengingat itu.”gadis itu langsung berdiri dan hendal melangkah.

“Kau mau kemana? Bagaimana dengan tranplantasinya, kita belum membicarakan hal itu.”tahan sang dokter.

“Aku hanya pergi sebentar untuk memastikan hal itu. Tentang tranplantasi, apapun yang terjadi aku akan melakukannya. Segera setelah aku menyelesaikan ini.”ujarnya lalu hendak keluar dari ruangan itu.

“Sebentar. Keadaan pasien sangat tidak memungkinkan untuk menunggu lebih lama lagi, jadi aku…”

“Sudah ku bilang aku akan melakukannya. Apapun yang terjadi kau harus menyelamatkan adikku, walaupun itu artinya aku harus mengorbankan nyawaku sendiri.”ujarnya mantap lalu berlari keluar menuju ruangan Suho.

“Suho-ah…”panggilnya sedikit berteriak, membuat lelaki itu sedikit kaget dan langsung mengubah posisinya menjadi duduk.

“Ada apa noona? Kenapa kau terlihat terburu-buru?”

“Aku ingin memastikan satu hal.”ujarnya dengan nafas tak teratur. “Suho-ah, apa kau memiliki tanda lahir di punggung kirimu?”

“Tanda lahir?”ujarnya bingung.

“Aish! Cepat jawab, ah~ sudahlah.”gadis itu segera mendekat dan dengan sekali gerakan ia menarik lengan baju Suho di sebelah kiri.

Tangan Tiffany bergetar hebat, di punggung kiri lelaki itu terdapat sebuah tanda lahir yang sama persis dengan kepunyaan adiknya, Joonmyun. Perlahan gadis itu berjalan mundur, dan kembali airmatanya mengalir membuat Suho menatapnya bingung.

Noona… kau kenapa? Apa ada yang salah dengan tanda lahirku?”

Aniya~ tak ada yang salah Joonmyun-ah….”ujarnya sambil terisak.

Joonmyun?”

A-ani… aku hanya, aku… Mianhae Suho-ah, mianhae…”lagi-lagi tangisan gadis itu semakin menjadi-jadi. “Jeongmal mianhae… a-aku, mianhae….”gadis itu segera belari keluar dengan airmata yang mengalir deras.

Noona… noona…,”panggil Suho khawatir. “Ya! Noona…”panggilnya lagi.

Suho merasa sangat khawatir, tanpa berpikir apa lagi ia segera mencabut selang infus di tangan kanannya lalu mencoba untuk berdiri guna mengejar gadisnya itu. Awalnya ia merasa sakit di sekujur tubuhnya, tapi ia mengabaikan rasa sakit itu.

Suho berlari, mengikuti Tiffany yang masih tampak oleh kedua matanya.

Noona… noona..,”panggilnya berusaha menghentikan langkah Tiffany. “Berhenti noona…”pekiknya lagi.

Tiffany mendengar panggilan Suho, tapi ia tak menghiraukannya. Gadis itu masih berlari dan terus berlari, hatinya masih tak bisa meneriman kenyataan bahwa Suho adalah Joonmyun, adik kandungnya yang menghilang saat mereka masih kecil. Lelaki itu telah mengisi relung hatinya, ia telah mencintainya melebihi rasa cinta pada adiknya.

Gadis itu masih terus berlari keluar dari rumah sakit dan kini hendak menyebrang jalan. Namun karena ia tak berhati-hati, tanpa disadarinya sebuah mobil berkecepatan penuh telah berada beberapa meter darinya dan akhirnya, kecelakaanpun tak bisa di hindari. Tubuh gadis itu terjatuh bersamaan dengan jeritan Suho yang melihat kejadian itu dengan amat jelas.

“TIFFANY!”pekiknya shock.

Ia berlari ke arah tubuh Tiffany yang telah terbaring tak berdaya dengan darah yang menghiasi sekujur tubuhnya. Beberapa orang telihat berkerumun disekitarnya.

“Tiffany… Tiffany…”Suho mengangkat tubuh lemah gadisnya itu dan berusaha membawanya kembali ke rumah sakit. “YAA! Siapa saja, tolong!”pekiknya lagi.

Beberapa orang perawat keluar dan mengambil alih tubuh Tiffany. Darah segar menghiasi tubuh gadisnya yang dalam keadaan tak sadarkan diri. Suho menangis kuat, dia tak tahu kenapa gadisnya tiba-tiba bertingkah seperti itu hingga mencelakai dirinya sendiri.

Perawat-perawat itu tengah membawa Tiffany ke sebuah ruangan dan Suho tetap mengikutinya ketika tiba-tiba ia merasakan sakit yang menjalar diseluruh tubuhnya. Kepalanya terasa amat berat dan pandangannya mengabur. Semua tenaganya seakan terkuras habis sehingga membuatnya terjatuh lemas dan tak lama kemudian iapun kehilangan kesadarannya.

+++++

“Apa yang harus kita lakukan dok? Kondisi pasien saat ini semakin memburuk.”

“Kita harus segera melakukan tranplantasi.”

“Tapi, bukankah pendonor baru saja mengalami kecelakaan? Dan dia tidak dalam kondisi yang memungkinkan untuk melakukan tranplantasi.”

“Aku tahu. Hanya saja sebelumnya ia berkata padaku untuk segera melakukan tranplantasi apapun yang terjadi.”

“Tapi kau akan menghadapi resiko yang besar. Kau bisa di tuduh sengaja menghilangkah nyawa orang lain karena…”

“Cukup! Apa kau pikir jika kita tak melakukan apa-apa maka semuanya akan baik-baik saja? Gadis itu telah berpesan padaku, ia ingin adiknya selamat walaupun harus kehilangan nyawa.”

“Adik? Bukankah mereka sepasang kekasih?”

“Cerita mereka cukup rumit. Huh, sebenarnya aku berat melakukannya tapi kita bisa kehilangan keduanya jika hanya berdiam diri seperti ini. Cepat siapkan ruang operasi, satu jam lagi tranplantasi akan kita lakukan. Semoga kita bisa menyelamatkan keduanya.”

+++++

Lima bulan kemudian…

Noona annyeong,”sapa seorang lelaki dengan senyuman manis yang terukir di bibirnya. “Kau masih mengingatku bukan? Suho, atau mungkin hmm Joonmyun?”lanjutnya lagi.

Lelaki itu menghela nafas.

“Huh, mianhae karena aku baru bisa menemuimu. Aku baru menemukan keberanianku sekarang. Mungkin ini memang terlalu lama, tapi lima bulan masih tergolong waktu yang singkat bagiku. Ku harap kau bisa memakluminya.”

Senyum lelaki itu memudar, mungkin merasa bersalah.

Jeongmal mianhae noona…”setetes air mata tiba-tiba jatuh membasahi pipi lelaki itu. “Mianhae…”

Lelaki itu menengadahkan kepala, berusaha menahan airmatanya.

“Haha, mengapa aku harus menangis?”ucapnya getir. “Noona, kau tahu bukan betapa aku mencintaimu? Kau tahu rasa sayangku padamu bahkan melebihi rasa sayangku terhadap diri sendiri. Tapi…”lelaki itu berhenti berbicara ketika airmata kembali menetes.

Kini ia memejamkan matanya sejenak.

“Mengapa aku masih bisa mengeluarkan airmata?”sesalnya. “Aku… aku selalu menangis seperti ini setiap saat, tapi kenapa airmata ini seakan tak pernah habis untukmu?”ia terisak. “Noona, kenapa kau meninggalkanku? Kenapa kau membiarkanku sendirian di dunia ini? Bukannya kau berjanji akan selalu ada di sampingku saat aku membutuhkanmu? Bukannya kau bilang kau tak akan meninggalkanku sedetikpun? Bukannya kau… kau…”tangis lelaki itu pecah.

Suasana yang awalnya hening menjadi sedikit terusik dengan tangisan lelaki itu. Ia menumpahkan segala emosi yang telah ia pendam selama lima bulan terakhir ini.

Noona, kau ingin aku sembuh bukan? Lihatlah, sekarang aku sudah sembuh, aku bahkan sudah keluar dari rumah sakit dan bisa pergi kemanapun aku suka. Kau senang bukan?”ucapnya di sela-sela isakan tangis. “Ini berkat seseorang yang mau melakukan tranplantasi itu, walau aku tahu itu adalah tindakan terbodoh yang pernah di ambilnya. Bagaimana bisa ia ingin menyelamatkan nyawa seseorang ketika ia sendiri sedang bertarung untuk menyelamatkan nyawanya? Kau mau tahu siapa dia? Orang itu, kau noona.”

Kali ini lelaki itu membekap mulutnya, mencoba menahan isakannya.

“Kenapa kau melakukan hal ini? Apa kau fikir aku senang? Aku bahagia? Aniyo! Aku tak merasakan hal itu sedikitpun, ketika kau tak ada lagi disampingku, ketika kau telah hilang dari pandanganku, ketika aku membuka mata dan bukan kau yang pertama kali kulihat, melainkan orang-orang berseragam putih yang mengatakan bahwa kau telah, tiada. Mereka menceritakan semuanya padaku, semuanya! Bahkan mereka juga mengatakan bahwa kita, bersaudara..,”lagi-lagi airmata tak bisa tertahan olehnya. “Apa hal itu yang membuatmu pergi saat itu hingga kau harus mengalami kecelakaan yang.. merenggut nyawamu? Aniyo! bukan kecelakaan itu yang merenggut nyawamu, tapi aku! Aku yang membuatmu harus meninggalkan dunia ini noona, aku yang membuatmu pergi, aku… aku… ini semua karenaku noona… kau pergi karenaku…”

Tangisannya kembali pecah, kali ini lebih dari yang sebelumnya.

Mi-mianhae… Jeongmal..,”ucapnya lirih. “Aku benar-benar berasalah padamu, aku yang membuatmu harus pergi noona, aku menyesal, sangat menyesal. Kumohon, maafkan aku… maafkan aku sebagai adikmu dan juga, kekasihmu… Maafkan aku…”

Suho menjatuhkan kepalanya di atas nisan dihadapannya itu. Tiffany Hwang. Nama itu terukir indah disana. Nama seseorang yang tak lain adalah kakak kandungnya sendiri sekaligus, kekasihnya. Ia menangis dan terus menangis, membiarkan dirinya larut dalam kesedihan dan membiarkan tubuhnya menderita untuk saat itu. Dia tahu penderitaannya tak sebanding dengan penderitaan gadis yang amat di cintainya itu.

“Aku sangat mencintaimu noona, bukan rasa cinta sebagai seorang adik, melainkan rasa cinta kepada seorang gadis. Walau aku tahu itu salah…”ucapnya lirih.

_END_

Finally~ Kyaaaa! Mianhae chingudeul, aku tahu ini ff hancur banget T__T Maaf kalau ada typo, alur kecepata, atau hal-hal yang membuat kalian merasa tidak nyaman membaca ff ini. Dan jangan lupa, after read please leave a comment ^^

Kamsahamnida *bow 😀

Iklan

2 pemikiran pada “The End Of Love Story (Suho-Tiffany Ver.)

Tinggalkan Balasan ke anti95line Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s