There is No Rainbow Without Rain (Chapter 3)

KaiHyo Story

“There Is No Rainbow without Rain”

[Chapter 3]

kaihyo rainbow 3

Author             : Inhi_Park (@Inhi_Park) a.k.a. RahmaRiess

Main Cast        : Kim Jongin a.k.a. Kai, Kim Hyora, Lee Chunji & Yoon Jia

Support Cast   : Eomma Kai, Kim Hyorin

Genre              : Romance, Drama

Length             : Multichapter

Rating             : PG-15

Disclaimer       : I do own nothing but the story and OC.

A.N                 : Sebelum membaca part ini, disarankan untuk membaca ‘Our Past Future Life’  terlebih dahulu.

Summary         :

Just like the diamond that needs to be shaped before it becomes wonderful,

Likewise our love,

That storm will only make our love more beautiful.

Because I believe, that there is no rainbow without rain.

~***~

(Hyora’s side)

Aku pertama kali mengenalnya sebagai seorang siswa baru yang kebetulan di tempatkan di kelasku waktu itu. Saat aku duduk di kelas 3 senior high school. 4 tahun yang lalu.

Dia berhasil memberikan kesan yang baik di saat-saat pertama kami berkenalan. Aku melihatnya sebagai siswa yang cukup menyenangkan. Sikapnya yang mudah bergaul dan juga ramah membuatku merasa nyaman berteman dengannya.

Meski pada akhirnya aku tahu kalau sikap baiknya padaku waktu itu semata-mata untuk melukaiku. Tapi nyatanya, sikap ramah dan bersahabat yang ia tunjukkan dulu tidak sepenuhnya acting, karena pada kenyataannya itu memang sifat alaminya.

Yang baru kusadari hari ini.

“Lama tidak bertemu.”

Setelah cukup lama saling berdiam diri. Namja bermata sipit dan berkulit putih pucat, tipikal orang korea, itu akhirnya bersuara.

“Emh…” Anggukku. “Bagaimana Jepang?”

Chunji, ia meneguk hot chocolate yang kini mungkin sudah dingin karena cangkir putih bulat itu sudah hampir 15 menit berada di atas meja tanpa ia sentuh sedikitpun. Sesaat setelah menemukanku yang tengah sibuk mengutuk diriku sendiri ini terdampar di sebuah halte bis, Chunji mengajakku ke sebuah café tak jauh dari tempatku tadi.

“Menyenangkan.” Jawabnya santai.

Tak bisa di pungkiri, ada perasaan aneh yang terasa kental menyelimuti suasana ini. Aku, duduk berdua di sebuah café dengan orang yang pada awalnya ku anggap teman, namun berubah menjadi ‘musuh’, hingga akhirnya sekarang kami kembali bersikap layaknya kawan lama yang setelah sekian lama terpisah jarak yang cukup jauh.

“Bagaimana kabarmu? Ku dengar kalau kau sedang sibuk dengan skripsi mu yang sudah hampir selesai.” Tanyanya.

“Yah, begitulah.” Meski sedikit heran mengenai bagaimana ia tahu tentangku, namun aku cukup senang karena kami sedikit demi sedikit mulai terlihat seperti kawan sungguhan. “Skripsi cukup membantu mensukseskan dietku.” Candaku.

Ia tertawa. “Lalu Kai, apa kabar bocah itu?”

Seketika awan mendung kembali menggelayuti hatiku.

Kai. Ia mungkin sedang pergi dengan Jia.

Mereka mungkin sedang berjalan-jalan berkeliling kota.

Mungkin sambil bercanda.

Mungkin sambil saling berbagi cerita.

Mungkin…

“YA! Kenapa kau malah melamun?” Tanyanya sambil melambaikan tangannya di depan wajahku.

“Ah, ani… Kai? Dia baik. Dia juga sedang menyiapkan skripsinya.” Jawabku setenang mungkin. “Lalu bagaimana denganmu?”

“Aku? Seperti yang kau lihat.” Namja itu merentangkan kedua tangannya. “Sehat, aman, sejahtera. Dan yang pasti, semakin tampan. Iya kan?”

Aku mendengus pelan mendengar penuturannya.

“Akui saja. Aku memang semakin tampan kan?” Katanya lagi. Aku baru tahu kalau ternyata ia memiliki tingkat percaya diri yang teramat tinggi.

Kami tertawa.

Sesaat kemudian kami terlarut dalam suasana yang hangat. Ia banyak bercerita mengenai pengalamannya selama 4 tahun kami tidak bertemu. Tentang hidupnya dan keluarganya di Jepang. Tentang kuliahnya yang telah selesai. Dan tentang segala hal lainnya.

Kini aku yakin kalau perkataanku benar tentangnya. Dia ramah, bersahabat dan juga menyenangkan.

<><><>

Aku beranjak turun lalu berdiri di samping Chunji dan motor besarnya. Tanganku sibuk merapikan rambut yang ku yakini pasti cukup berantakan karena helm yang ku kenakan tadi.

Waktu terasa cepat berlalu. Entah berapa lama kami menghabiskan waktu bersama di café tadi. Yang jelas pasti sangat lama, karena langit yang terlihat masih cukup terang saat kami memasuki café, tiba-tiba berwarna hitam pekat saat kami keluar.

“Kau yakin tidak ingin ku antar sampai ke dapan rumahmu?” Tanyanya. Tangannya bersedekap di atas helm yang ku serahkan padanya.

“Eung…” Anggukku. “Lebih baik sampai disini saja.”

Ia memekik pelan menahan tawa. “Nde. Aku mengerti. Kai pasti marah besar jika sampai dia tahu kalau aku sudah mengajakmu pergi.” Katanya sambil tertawa pelan.

Kai. Benar. Sudah barang tentu Kai akan marah besar jika ia sampai tahu aku pergi dengan namja lain. Terlebih namja itu Chunji. Orang dulu sempat berniat untuk merusak hubungan kami.

Dan mendengar nama itu, hatiku kembali berkecamuk.

Apa dia sudah kembali ke rumah?

Apa yang terjadi sejak kami berpisah tadi?

Apa saja yang tadi ia lakukan bersama Jia?

“Yaa… lagi-lagi kau melamun tiba-tiba. Kenapa?” Lagi. Chunji menghentikan lamunanku dengan pertanyaannya.

“Eoh, aniya.” Dan aku, lagi-lagi, hanya bisa berpura-pura kalau semuanya baik-baik saja.

“Ya sudah kalau begitu. Aku pergi.”

Suara deruan mesin motornya yang cukup memekakan telinga itu mengaum sebelum ia melambaikan tangannya padaku.

“Emh. Jaljayo…” Jawabku.

Aku berbalik dan melangkah pergi seiring dengan suara deruan motor besar itu semakin menjauh, lalu hilang.

Rasanya senyum dan tawa yang tadi ku bagi bersama Chunji tak bisa mengendap lebih lama saat ingatanku kembali pada Kai dan segala persoalan yang secara tiba-tiba muncul di hadapan kami.

Ku langkahkan kakiku pelan dan pendek. Mengulur waktu agar tak segera mencapai rumah. Entah kenapa, aku hanya sedang ingin meresapi perasaan tidak karuaku ini. Perasaan yang rasanya terlalu sulit untuk di deksripsikan.

Sedikit terhenyak. Aku mendapati siluet tubuh tegap dan tinggi tepat di depan rumahku. Ia duduk menunduk dan menumpukan kepalanya pada kedua tangan yang ia lipat di atas lutut.

Perlahan ku dekati tubuh itu. “Kai…”

Namja itu menegakkan kepalanya. Wajah dingin. Tanpa ekspresi. Menatapku tajam.

“Kau… sedang apa malam-malam begini ada disini?” Tanyaku hati-hati.

“Kau sendiri, darimana saja malam-malam begini baru pulang?” Dengan nada suara yang datar, ia membalikkan pertanyaanku.

Aku terpojok.

Dia berdiri di hadapanku, membuat aku merasa terintimidasi.

“A-Aku…”

“Aku kecewa padamu.”

Hatiku mencelos.

Sakit rasanya mendengar satu kalimat, yang meski sangat sederhana namun memiliki makna yang sangat dalam, itu meluncur dari mulutnya. Orang yang ku sayangi.

“Aku kecewa karena kau tidak mencegahku dan malah membiarkan aku pergi dengan dia.” Tambahnya.

Aku yang pada awalnya tertunduk, seketika mengalihkan pandanganku padanya.

Dan saat itulah aku mendapati tatapan mata yang lembut dan hangat. Namun tersirat kesedihan dan kemarahan.

“Maaf.” Lirihku. “Aku… Aku hanya merasa kasihan padanya. Ku rasa dia sangat ingin pergi denganmu. Dan dia bilang eommonim…”

“Aku sangat berharap kau mencegahku tadi.” Katanya.

Dan aku kembali tertunduk.

Aku bisa merasakan hangat menjalari pundakku saat dua tangan besar miliknya mendarat disana. Dan dengan sekali hentakkan, ia rengkuhku, menenggelamkanku ke dadanya yang bidang hingga aku bisa mendengar setiap detak jantungnya.

“Aku milikmu Hyo. Bersikap sedikit egois lah atas diriku.” Lirihnya.

Aku membatu di dalam dekapan hangatnya. Air mataku meleleh. Bahagia, haru dan perasaan cintaku yang semakin besar pada namja ini melebur menjadi satu.

“Berjanjilah kau tidak akan mengulanginya lagi.”

Dan dengan senang hati aku mengangguk. Menyanggupi keinginannya. Yang juga merupakan harapanku.

<><><>

(Chunji’s side)

Aku berjalan menyusuri trotoar yang diterangi cahaya temaram dari lampu jalanan. Ku langkahkan kakiku perlahan. Berusaha untuk tidak menimbulkan suara sekecil apapun. Sesekali kulihat Hyo menendang kerikil kecil di tengah jalan yang ia pijak. Sementara aku terus menjaga jarak darinya yang melangkah dengan pelan dan pendek.

Stalker.

Itulah aku saat ini.

Ku tinggalkan motorku di ujung jalan, kembali menelusuri jalanan menuju tempatku berpisah dengan Hyo, dan lalu berjalan membuntutinya.

Entah kenapa, aku merasa ada yang lain dengan gadis itu.

Mungkin sesuatu telah terjadi hingga membuatnya terlihat seperti setengah bernyawa saat kami menghabiskan waktu bersama tadi sore. Hyo terlihat berbeda.

Tatapan yang kosong. Senyum yang dipaksakan. Dan tawa yang hambar.

Aku tahu persis ada sesuatu yang dia sembunyikan di balik sikapnya tadi.

Kim Hyora.

Satu-satunya alasan yang paling nyata yang membuatku memutuskan untuk kembali ke Negara kelahiranku ini.

Kim Hyora.

Seseorang yang berhasil menawan hatiku untuk tidak berpaling darinya.

Kim Hyora.

Gadis yang, meski terlambat, ternyata aku cintai.

Perkenalanku dengannya 4 tahun yang lalu memang diawali dengan niat yang salah. Niat membalas dendam. Niat untuk menyakitinya.

Aku tidak tahu kalau Kim Hyora yang harus ku hadapi saat itu adalah seorang gadis baik hati dengan senyum ramah yang dengan tulus menawarkan persahabatan padaku.

Dan seketika itu, aku tidak bisa membohongi detak jantungku yang selalu berpacu melebihi batas normal setiap kali aku bersamanya.

Namun janji yang terlanjur terucap dari mulutku memaksaku untuk mengubur dalam-dalam perasaan itu. Dengan susah payah aku kembali menanamkan keyakinan bahwa Hyo lah yang telah menyakiti hyungku, Hyo yang menyebabkan hyungku pergi.

Dan terjadilah kebodohan itu.

Aku menyakitinya. Aku melukainya. Aku membuatnya membayar sesuatu yang sama sekali bukan kesalahannya.

Langkahku terhenti saat tidak terasa kami, atau Hyo, tiba di depan gerbang rumahnya. Gadis itu nampak sejenak terpaku sebelum akhirnya melangkah masuk.

Aku tersenyum saat mendapati seorang pria tengah menunggu kehadiran gadisnya disana. Kai. Kekasih Hyo yang juga merupakan kawanku. Setidaknya dulu aku menyebutnya begitu.

Ya. Dulu.

Sekarang, entah dia masih mau menyebutku kawan atau tidak. Yang jelas, kini dialah sang pemilik hati gadis yang ku cintai.

Aku merasa kalau diriku ini sangat menyedihkan. Berdiri terpaku di depan gerbang rumah orang lain, menyaksikan gadis yang mengisi relung hatiku itu berada dalam dekapan pria lain.

Dan sebelum akhirnya aku berlari dan menghentikan adegan romantis mereka, karena sungguh aku sangat cemburu sekarang ini, aku memutuskan untuk pergi. Meninggalkan sepasang kekasih itu sambil menyelipkan sebuah harapan sederhana dalam hatiku. Harapan untuk kebahagiaan mereka. Dan juga harapan untuk kebahagiaanku yang entah ada dimana.

<><><>

(Hyora’s side)

“Eonni… Kau tidak merindukanku? Sudah beberapa hari ini kau tidak menelponku.”

Dasar gelas bening yang barusaja ku gunakan untuk mengambil air putih itu mendarat di meja TV cukup keras. Aku terlalu focus pada suara di ujung telpon yang sedang jepit diantara punda dan pipi kiriku ini.

“Nde, mian.” Kataku.  “Eonni sibuk akhir-akhir ini.”

Rin. Adikku yang paling menyebalkan itu kini sedang menghabiskan liburannya bersama orang tua kami di Jepang. Sudah hampir 2 minggu aku tidak bertemu dan, dengan berat hati, ku akui kalau aku merindukan gadis nakal itu.

“Bagaimana kabar eomma dan appa?” Lanjutku.

“Kau sungguh keterlaluan eonni. Menanyakan kabar eomma dan appa, tapi kabarku tidak ditanyakan!” Ia menggerutu di ujung sana.

Aku hanya bisa menahan tawa. Usianya kini hampir menginjak dewasa. Ia belum lama lulus dari high school dan segera masuk kuliah, tapi sikapnya masih saja kekanak-kanakan.

“Tck… Eonni sudah tidak perlu menyanyakan kabarmu. Dari cara bicaramu saja eonni sudah tahu kalau kau baik-baik saja. Benar kan? Hehe…” Godaku.

“Ish…” Dengusnya pelan. “Eomma dan appa sehat. Tapi mereka terus menyanyakan kapan kau akan menyusul kesini?”

Aku terdiam. Kapan? Pertanyaan yang aku juga tidak tahu harus menjawab apa.

“Eonni…” Ia membuyarkan lamunanku.

“Eoh… Nde. Bilang pada eomma dan appa kalau sekarang eonni masih harus merapikan skripsi. Setelah itu…”

Kata-kataku terputus.

Meski pelan, aku yakin kalau barusaja aku mendengar suara ketukan pintu dari depan.

“Ada apa, Eon?”

“Sepertinya ada yang datang?” Kataku. “Siapa ya yang bertamu malam-malam begini?” Tanyaku yang lebih kutujukan pada diriku sendiri.

“Jangan bilang kalau sejak aku pergi Kai oppa semakin sering main ke rumah, bahkan malam hari.” Katanya yang diikuti tawa kencang.

“Sembarangan!” Gertakku.

“Ahaha… Aku hanya bercanda, Eon… hehe…” Gadis itu masih menyisakan tawanya. “Ya sudah, cepat buka pintunya. Jangan biarkan pangeranmu menunggu terlalu lama… hahaha…”

“YA! Neo…” Dasar gadis nakal.

“Oh iya… segera selesaikan skripsimu ya Eon, aku ingin jalan-jalan di Jepang bersamamu. Bye…”

~klik~

Tanpa menunggug jawabanku, ia langsung memutuskan sambungan telponnya.

Setelah kuletakkan gagang telpon itu kembali ke tempatnya, aku melangkah menghampiri jendela besar di dekat pintu masuk. Kusibakkan sedikit gordyn biru yang sudah ku tutup rapat itu demi melihat siapa yang datang.

Aku mengerutkan alis saat tak kudapati seorang pun disana. Mataku hanya melihat bayangan yang tercetak di lantai. Aku yakin kalau orang itu berdiri cukup jauh dari pintu hingga aku tidak bisa mengintipnya dari sini.

Siapa yah? Bisikku pada diri sendiri.

Meski sedikit takut, ku putuskan untuk membukakan pintu. Dan saat pintu terbuka lebar, aku terkejut melihat siapa tamuku malam ini.

“Neo…?”

~to be continue~

2 pemikiran pada “There is No Rainbow Without Rain (Chapter 3)

  1. akhirnya dilanjut jg…
    seneng bgt sama cerita couple satu ini…
    KaiHyo story bogoshippo~

    bnr2 suka dg karakter kai disini,dan suka dg cara Kai-yg walau agak posesif- nunjukkin cintanya sama hyo…

    ditunggu lanjutannya ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s