When I Fall in Love

When I Fall In Love

WHEN I FALL IN LOVE [Two-Side Version ]

Title : WHEN I FALL IN LOVE [Two-Side Version ]

Main Cast :

Kim Joonmyun–Suho EXO

Member EXO

OC/YOU –Nami

Genre :  Angst, Romance, Life Slide

Author : Aulia (@2ulya9)

Length : Oneshot  (4694 words)

Rating : PG-17

Fanfic ini merupakan kelanjutan dari FF WHAT IF… yang juga udah pernah saya kirimkan kesini. Sebelumnya saya mohon maaf jika ada yang tidak berkenan, tapi namanya juga FF ya jadinya seperti ini LOL. Dan itu kenapa saya tulisin Two Side Version? Nah, itu karena dulu FF WHAT IF…. hanya menceritakan satu sisi saja yaitu sisi kehidupannya Joonmyun. Kalau FF ini, dua-duanya. Happy reading…. J

 

Cerita ini hanya tentang kelanjutan dari cerita cinta pada pandangan pertama. Banyak yang tidak meragukan kemurnian cinta jenis ini. Hampir semua orang mengharapkan cinta semacam ini. Terlebih ketika rasa jenuh itu datang. Cinta pada pandangan pertama akan terasa seperti oase yang menyejukkan.

Tidak peduli seberapa besar perbedaan, tapi ketika sudah jatuh cinta rasanya hati ini akan selalu berdesir tak nyaman. Selalu mengharapkan hal lebih dari si dia. Bahkan ketika hanya tahu sebatas nama, tidak masalah. Angan-angan kosong pasti akan menjadi pemanis di setiap kesempatan. Walaupun ada juga kesempatan tak terduga yang datang. Keduanya bertemu. Bersitatap. Salah tingkah.

Tapi Tuhan selalu memberi kebebasan untuk memilih. Tetap bertahan dengan cinta macam ini, atau melepaskan diri untuk pilihan yang lain.

Manusia itu manusiawi…

Sekarang siapa diantara manusia yang tidak tertarik dengan manusia berparas menarik?

Sekarang siapa diantara manusia yang tidak mencelos jantungnya ketika dilempari senyum oleh orang special diantara banyak orang di muka bumi ini?

Sekarang siapa diantara manusia yang tidak merasa istimewa jika hanya dia saja yang mendapatkan sapaan eksklusif macam itu?

Tidak ada yang tidak. Semua akan menjawab iya, tidak peduli diucapkan atau dalam diam. Karena manusia itu manusiawi. Termasuk Nami.

Masih berdesir rasanya dada Nami ketika dia ditanya tentang satu group idola yang tengah booming di negara gingseng akhir-akhir ini. Walaupun gadis itu hanya terkikik pelan sambil menjawab ‘tahu’ tapi jauh di dalam dirinya, jantungnya berdebar keras sekali.

Itu hanya nama groupnya. Lain lagi jika dia ditanya atau mendengar nama leader group idola yang tengah nge-hit itu. Aduh, rasanya Nami sudah tidak bisa deskripsikan lagi. Bahkan untuk menjelaskan kepada dirinya sendiri pun, dia tidak tahu. Karena yang Nami tahu hanya kondisinya saat ini bukan kondisi normal. Yang Nami rasakan hanya dadanya yang menyempit, perutnya yang terasa tidak enak, dan suaranya yang bergetar ketika menjawab ‘tahu’.

Nami sudah lama tidak mendengarkan musik-musik yang beredar di kalangan remaja. Selama 22 tahun kehidupannya, Nami hanya sempat merasakan nge-fans dengan group band, idol group, atau apalah itu namanya ketika masa SMA hingga semester awal kuliahnya. Ketika itu Nami masih tidak tahu bagaimana caranya bersikap sebagai seorang wanita. Nami belum paham bagaimana caranya dalam menjaga diri sebagai makhluk istimewa yang diciptakan Tuhan untuk selalu dijaga.

Masa SMA seperti masa tak berguna jika Nami mengingat semua kegiatannya. Karena baru-baru ini Nami sadar jika semua hal yang mati-matian dia kumpulkan, sama sekali tidak berguna. Apalah itu barang-barang koleksi. Aksesoris, jepitan rambut, parfum mahal,  blablabla, toh sekarang Nami memutuskan untuk memilih menutup rambut dan seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan.

Tapi Tuhan Maha Pemurah dan Penyayang. Siapa yang akan menyangka jika Nami berhasil lolos seleksi beasiswa kuliah di Korea? Bahkan Nami sendiri sempat tidak percaya jika dia akan kuliah di negeri yang dulu hanya dia lihat di drama-drama download-an atau di MV-MV koleksi dan hasil ngrampok teman sekolahnya. Ajang iseng-iseng Nami berbuah manis untuk daftar CV Nami. Bahkan tidak ada yang peduli jika dulu Nami hanya bisa berkata ‘Annyeong Oppa Saranghae’.

Karena Tuhan selalu memiliki rencana untuk kehidupan hamba-Nya. Rencana yang tak terduga.

Seperti kehidupan Nami yang terbolak-balik setelah dia menginjakkan kakinya ke negara ini. Tiga kata ‘Annyeong Oppa Saranghae’ meningkat menjadi satu kalimat perkenalan nama. Satu kalimat perkenalan nama meningkat menjadi sebuah obrolan sederhana. Dan semua itu meningkat menjadi sebuah kebiasaan yang mulai mendarah daging di diri Nami. Membuat Nami yang memang suka berpetualang, lebih terbuka hati mata dan telinganya. Membuat Nami menemukan saudaranya disini.

Nami sempat menangis diam-diam ketika menemukan saudaranya disini. Menangis bahagia dan menyesal. Sungguh, Nami masih suka menangis jika dia diminta menceritakan hal macam apa dia sesalkan. Penyesalan yang membuat Nami berjanji untuk selalu bersama saudaranya. Dimanapun dia berada!

Tapi setelah sekian lama Nami berada dalam ketenangan ini, semua itu mengusik dirinya. Benar-benar mengusik sekali. Musik-musik yang sudah sekian lama tidak dia hiraukan, entah kenapa lebih tajam menusuk ke telinganya setelah kejadian itu. Apalagi musik-musik group itu.

Nami sama sekali tidak tahu mana yang suara sang leader group dan mana yang suara main vocal, tapi entah kenapa feelingnya kuat sekali jika mendengar satu suara lembut yang terdengar diantara suara-suara unik group itu.

“Ah, Nan molla Nami-ya… tapi bukankah suara Suho terdengar paling khas diantara yang lain?,” Yoorin yang berdiri di sampingnya tampak menoleh sesaat kearah Nami yang pura-pura sibuk memilih buku di rak toko. “Tapi kenapa manajemen itu menjadikan Baekhyun sebagai vocal utama ya? Ah, mungkin karena dia memiliki vocal yang kuat. Menurutmu begitu Nami?”

Yoorin memang suka sekali dengan group itu.

Gadis ini merupakan satu-satunya teman Korea paling terbuka yang pernah Nami punya. Hanya Yoorin yang dengan sukarela menemani Nami kemanapun Nami akan pergi.

Tidak baik menebak-nebak, tapi mungkin Yoorin merasa jika perbedaan itu bukan penghalang dalam persahabatan. Toh selama ini Nami juga tidak pernah dirugikan Yoorin. Bahkan Yoorin selalu mengalah jika tengah bersama Nami, terlebih dalam makanan. Hmm… Nami tahu jika bagi Yoorin makan di restoran halal itu agak sedikit mahal daripada makan di pinggir jalanan Myeongdong, tapi selama Yoorin masih say oke, kenapa tidak?

Nami tersenyum lalu menoleh. Di dekapannya tampak sebuah buku tebal berjudul ‘Keajaiban Alam Semesta’.

“Mungkin saja begitu. Lagipula, aku juga tidak tahu  lagu itu milik idol group yang mana Yoorin-a,” jawab Nami tenang. Tidak peduli jika sebenarnya jantungnya sudah berdentum keras dan tangannya bergetar hebat.

Yoori mengerucutkan bibirnya, “Hya… neon!! Makanya jangan baca buku saja. Sekali-kali kau juga harus tahu tentang dunia remaja,Nami! EXO! Mereka EXO, masa kau tidak tahu? Universitas kita pernah mengundang EXO dalam rangka tahun ajaran baru, kau ingat?”

Nami menaikkan satu alisnya. Bagaimana dia bisa lupa dengan tamu itu? Tapi apakah dia harus menunjukkan jika dia ingat? Ah, tidak.

Nami tidak akan pernah menceritakan hal ini kepada siapapun. Hanya Tuhan dan dia yang tahu. Walaupun sebenarnya, ingin sekali dia berteriak ‘TENTU SAJA!’.

“EXO? Aku–”

“Eiii… aku baru ingat…” Yoorin sudah memotong kalimat Nami sebelum dia berkata ‘tidak ingat’. Membuat Nami menghela napas lalu menatap Yoorin yang sudah memasang tampang sok tahu-nya yang lucu.

“Bukannya kau yang waktu itu jadi sie acaranya? Kau kan yang sibuk mengatur kapan harus ini, harus itu? Tsk, kau pasti ingat dengan EXO!” Yoorin mulai mengibaskan tangannya kearah Nami. Nami tertawa pelan. Ya, ya, kalau begini caranya Nami sudah tidak bisa mengelak lagi. Konyol juga jika dia tetap besikeras berkata tidak tahu.

“Oh.. ye, Gieokhanda. EXO!”

“Yap, EXO!! Geu EXO neomu jalhae!!! Sungguh. Mereka tampan, menawan… ah, Kim Joonmyun-a,” Yoorin mulai mendongak dengan tangannya yang mengepal di depan dada.

Mendengar nama itu, rasanya semua terhenti bagi Nami. Ingatannya seakan terputar jauh ke distrik Myeongdong satu tahun lalu. Pikirannya seperti terobrak-abrik untuk mencari senyum yang sempat dia terima beberapa bulan lalu. Pertahanan Nami goyah. Hatinya kembali berdesir tak karuan. Sesak.

“Joonmyun…. Aku berharap kita bisa saling menyapa dengan nama itu, Joonmyun. Jang Yoorin Kim Joonmyun, neomu joahae. Benarkan Nami?” suara Yoorin membuat Nami tersentak dan segera bersikap normal.

“Ah, jeongmal!! Neon! Apa yang kau bayangkan Yoorin-a? Hya…. ” Nami memukul pelan kepala Yoorin sesaat setelah gadis itu menoleh kearahnya. Pertahanan diri yang bagus. Goyah dan bangkit disaat yang sama. Walaupun tangan Nami masih saja bergetar hebat.

Tuhan, tolong.

☻☻☻

Kegelisahan ini muncul lagi. Tepat di sepertiga malam terakhir.

Satu bulir airmata Nami mengalir di wajah asia tenggaranya. Tidak mungkin jika rasa ini datang  untuk laki-laki itu. Tidak akan mungkin. Tapi rasa ini nyata sekali. Akankah?

Nami menutup wajahnya. Menangis sejadi-jadinya di keheningan malam. Ya Tuhan, Nami sadar jika dia telah jatuh cinta. Hijab ini tersingkap Tuhan.

☻☻☻

In Other Place…

“Satu level lagi!! Satu level lagi!!!”

“Hya, aku bilang kau harus tidur, hyung!! Jadwal kita untuk besok padat, kau tahu!!!” Joonmyun merebut PSP dari tangan Luhan. Matanya menatap tajam laki-laki berwajah kecil yang sudah memasang tampang melas di depannya. Kalau begini, rasanya usia Luhan tidak berarti apa-apa di hadapan Joonmyun.

“Ayolah, Joonmyun-a!!! Kau sayang hyung-mu kan? Aku hyung-mu yang paling mnggemaskan kan? Ayolah.. satu level saja!!”

“Anni!! Ini jam 3 pagi, hyung. Tidur!!”

“Hya… aku tahu ini jam 3 pagi. Makanya beri aku PSPnya, satu level hanya 10 menit”

Joonmyun menggeleng sembari melipat tangannya di depan dada.

“Lagipula kau juga belum tidur. Lebih baik kau duluan yang tidur, Joonmyun!,” lanjut Luhan membela diri.

Joonmyun menoleh, “Aku sudah tidur sejak pukul 1 tadi dan terbangun untuk ke kamar mandi. Tapi aku malah menemukanmu meringkuk di depan sofa sambil bermain PSP. Tsk, hyung, kau harus mencintai dirimu sendiri. Jangan hanya karena PSP, kau begadang seperti ini!”

Luhan mendengus, “Ye, ye, kau memang Suho, Suho! Na jalge, ije!!” tanggap Luhan sewot.

“Ayo masuk kamar, hyungireul bwayo, jigeum. Ja, masuk kamar!”

“Geurae, geurae!!! Gomawo nal suho, suho-ya!!! Suho neon suhohae jalhae!!” ‘BLAM’ pintu kamar tertutup–dan tidak ada yang terbangun. Meninggalkan Joonmyun sendirian di ruang tengah dorm mereka. Laki-laki berparas lembut itu tampak menghela napas. Sedikit kecewa telah memperlakukan hyung-nya seperti tadi.

“Mworago Suhohae?” gumam Joonmyun tiba-tiba. Tidak ada yang laki-laki itu pikirkan kecuali keinginannya untuk menatap PSP di tangannya. “Tsk, jika diadakan kompetisi the most stealing heart for boys, kau aku pastikan menang, PSP. Kau ini perebut perhatian terbesar setelah Girls Generation dan Sistar” lanjut Joonmyun lalu memutar-mutar PSP di tangannya.

Sekali lagi Joonmyun menghela napas dengan matanya yang menatap kearah langit-langit apartemen. Berbicara tentang penarik perhatian, benarkah jika Girls Generation dan Sistar akan menang jika diadakan kompetisi semacam itu? Ah, pikiran konyol Joonmyun mulai berkelana tak jelas. Laki-laki itu mengurungkan niatnya ke kamar mandi dan memilih untuk duduk di sofa yang memang pas sekali berada di dekatnya.

Joonmyun melanjutkan pandangannya ke langit-langit apartemen. Baru kali ini dia menatap langit-langit apartemen dalam kondisi remang seperti ini. Sendiri. Hening. Di tengah malam. Tampak dua cicak diam di dekat lampu gantung ruang tengah. Tanpa sadar, seulas senyum terukir di bibir Joonmyun.

“Kalian berdua sepasang kekasih eoh? Romantis sekali,” gumam Joonmyun tak jelas, yang diikuti oleh kekehan gelinya.

Laki-laki itu terus terkekeh sembari menyandarkan dirinya ke sandaran sofa. Matanya menatap lurus ke depan. Menatap kearah bayang-bayang nakas dan meja di depannya. Yang entah kenapa, malah membawanya ke dalam khayalan lain yang sebelumnya tidak pernah dia pikirkan.

“Bagaimana jika aku memiliki seorang kekasih?” gumamnya lagi. Kali ini diikuti oleh senyum konyol yang entah apa artinya. Tsk, pikiran Joonmyun benar-benar tak jelas untuk malam ini.

“Joonmyun bodoh. Tidak mungkin!” Joonmyun kembali terkekeh setelah menyadari betapa konyolnya pertanyaan retoris yang baru saja dia lontarkan. Yang entah kenapa malah mengawali putaran ingatan yang brutal sekali datang di tengah malam ini.

Nami.

Segala bentuk lengkungan di wajah Joonmyun langsung lenyap seketika. Nama itu masih saja diingat Joonmyun hingga detik ini. Laki-laki itu masih sangat ingat bagaimana penampilan Nami dan cara gadis itu menanggapi kehadirannya. Dan Joonmyun pun masih sangat ingat dengan debaran tak tentu yang selalu terjadi ketika dia melihat wajah teduh Nami dalam beberapa kesempatan. Karena tidak ada seorang pun yang lupa jika dia tengah jatuh cinta.

Joonmyun menghirup napas dalam, sementara tangannya memutar-mutar PSP Luhan tanpa tujuan.

Sudah beberapa bulan ini kesempatan itu tidak datang kepada Joonmyun. Beberapa modal Joonmyun agar merasa mampu menyanyikan lagunya dengan bagus hanya kenangannya ketika dompetnya di kembalikan, obrolan singkatnya di Myeongdong, dan senyuman Nami di konser off air sebuah Universitas beberapa bulan lalu. Hanya itu. Selebihnya, Joonmyun hanya berharap.

Joonmyun tahu jika mustahil menemukan gadis itu di tumpukan fans ketika fanmeeting. Tapi Joonmyun tetap berharap jika Nami muncul secara tiba-tiba untuk dirinya.

Joonmyun pun tahu jika mustahil menemukan gadis itu ketika mereka bernyanyi di acara music, atau acara-acara lain. Tapi Joonmyun tetap saja berharap jika Nami terlihat diantara ribuan penonton. Joonmyun benar-benar telah dibuat gila dengan semua ini. Joonmyun, sudah tidak bisa menahan hatinya untuk tidak selalu memikirkan perasaan aneh ini.

“Na..mi…” ucap Joonmyun lirih. Bersamaan dengan desiran aneh yang menjalar dalam dirinya.

“Nami…Nami…”

Sesak. Cinta ini sudah terpendam lama dan semakin berkembang di dalam dada Joonmyun. Membuat Joonmyun memejamkan mata dan memegang perutnya yang mulai terasa tak nyaman. “Kenapa harus kau?” lanjut Joonmyun diantara desiran dalam dadanya.

☻☻☻

“Liburan musim panas nanti kau pulang?” pertanyaan Yoorin membuat Nami yang tengah menyendok makanannya segera menoleh. Gadis itu mengurungkan niatnya untuk memakan menu timur tengah yang di sediakan kantin kampus. Nami tersenyum.

“Kenapa kau tanya seperti itu?” Nami balik bertanya.

“Ah, anni.. aku hanya ingin tahu saja,” jawab Yoorin tidak semangat. Gadis berambut pendek itu tampak memainkan jjajangmyeon-nya untuk beberapa detik. “Karena aku tidak akan pulang ke Ilsan selama libur musim panas tahun ini,” lanjut Yoorin lirih–hampir tak terdengar, lalu memasukkan sumpit jjajangmyeon ke mulut.

Nami lagi-lagi mengurungkan niatnya untuk menyendok makanan. Ya, dia sudah bisa menangkap maksud pertanyaan Yoorin. Gadis itu terkekeh lalu menepuk keras punggung Yoorin. Membuat Yoorin tersentak dan langsung melemparkan death-glarenya kearah Nami.

“Santai saja. Aku bisa menelpon keluargaku untuk tidak menantikanku pulang kali ini,” kata Nami semangat.

“Hya!!! Kau ingin membunuhku? Aku bisa tersedak sumpit jika kau memukulku sekeras itu, Nami!!!”

“Benarkah? Pukulanku keras ya? Ah.. mian…” tanggap Nami acuh sembari kembali memakan makanannya. “Tapi setidaknya kau bahagia,kan?” lanjutnya.

“Anni!!! Kalau begini caranya, lebih baik kau pulang sekarang saja!! Ga… pulang sana!!! Dasar kau, Nami! Pulang sekarang!” jawab Yoorin sok sewot.

Nami terkekeh mendengarnya. Gadis itu langsung merangkul Yoorin dan mencium gemas pipi Yoorin di sampingnya. “Hya!!! Dan sekarang kau menciumiku!! Andwae!!! Jeongmal museoun yeoja, Nami-ya!”

“Saranghae!!!”

“HYA!!!!”

Nami tidak peduli jika dia mungkin akan dianggap sebagai gadis aneh atau lain sebagainya. Tapi semua yang dia lakukan siang ini, setidaknya berhasil mengalihkan perhatiannya dari kegelisahan yang semakin lama semakin menganggunya. Terlebih dalam keheningan.

Nami tahu jika semua ini wajar terjadi pada orang yang jatuh cinta. Tapi haruskah Nami melanjutkan pikirannya untuk sesuatu yang sama sekali tak tertebak?

Lagipula, perasaan semacam ini tidak boleh Nami pelihara secara berlebihan. Siapalah itu Kim Joonmyun? Laki-laki mana itu Kim Joonmyun? Tahu lebih dari sekedar nama dan posisinya di EXO pun tidak.

Dulu ketika SMA, Nami selalu berkhayal untuk bisa saling jatuh cinta dengan orang-orang yang diidolakan. Menurut Nami saat itu, akan sangat beruntung jika dia mendapatkan perhatian lebih dari the most wanted guy yang dielu-elukan banyak orang. Itulah kenapa dulu dia selalu saja jatuh cinta kepada laki-laki tampan manapun yang membalas senyumnya, dan menyimpan rasa itu secara berlebihan.

Tapi sekarang pengertian itu datang ke dalam kehidupan Nami.

Tidak wajar jika sebuah berlian mahal diumbar di depan pengunjung yang belum jelas akan membelinya atau tidak. Tidak pernah ada cerita sebuah baju mahal diijinkan disentuh  oleh sembarang orang yang akhirnya hanya mampir untuk melihat. Dan tidak pernah juga ada orang asing yang menyicipi kue mahal jika dia tidak berniat untuk membeli atau membayarnya mahal. Itulah pengertian yang berhasil tertancap di dalam diri Nami.

Dalam kehidupan ini, Nami tahu dia istimewa. Nami tahu jika Tuhan telah memuliakan kaumnya. Tuhan menjadikan kaum Nami ibarat perhiasan mahal yang selalu dijaga. Airmata bahagianya begitu berharga. Airmata kesedihannya selalu diusahakan untuk tidak buncah keluar. Belaiannya menenangkan. Suaranya lembut, dan selalu mudah untuk dikenang. Tidak peduli sekasar apapun dia, tapi selalu ada titik kelembutan yang muncul di setiap kesempatan. Itulah Nami dan semua orang yang memiliki posisi seperti Nami. Wanita.

Dan itulah alasan kenapa Tuhan ingin wanita mendapatkan jaminan yang pasti-pasti saja. Yang pasti bisa menghargainya, yang pasti bisa melindunginya, yang pasti bisa memimpinnya, yang pasti bisa menghidupinya, yang pasti bisa membawanya di jalan yang semestinya, dan yang pasti akan membuatnya ingat jika Tuhan adalah pencipta mereka. Nami sadar akan hal itu.

Itulah kenapa rasanya malu jika Nami benar-benar jatuh cinta kepada laki-laki itu. Laki-laki yang belum pasti, atau mungkin tidak akan pernah pasti.

Kim Joonmyun. Suho. Leader. Apalah julukan untuk laki-laki berparas lembut itu, rasanya sesak sekali bagi Nami jika dia ingat dia telah jatuh cinta.

☻☻☻

“We are ONE! Annyeonghaseyo, EXO-imnida!!!”

“Gyaaaaaaaaaa”

“A, yeoreobun, aku sangat terkejut sekali,” suara Joonmyun terdengar menggema di dalam salah satu mall di Seoul. Tampak laki-laki itu memegang dadanya sembari melihat ke-sebelas teman-temannya yang lain.

Siang ini, mereka tengah mengadakan fanmeeting untuk mini album ketiga mereka.

Wajah-wajah bahagia ke-12 pria ini tampak sempurna sekali. Membius ratusan atau mungkin ribuan gadis yang sibuk menahan pekikannya di belakang garis pembatas. Mereka ber-12 memang seperti ini. Selalu saja berhasil membuat fans terpesona dan lupa jika ke-12 pria ini juga sama seperti mereka. Memiliki cerita kehidupannya sendiri, rahasia yang tersembunyi, dan harapan-harapan lain yang timbul-tenggelam seiring dengan tuntutan karir.

“Aku tidak menyangka jika kalian akan sehebat ini. Dan sungguh, aku benar-benar merasa gugup setelah melihat kalian” lanjut Joonmyun.

“Ye.. sama, kami juga!!!” teriakan Xiumin tanpa mic terdengar sayup diantara suara-suara kecil para gadis itu. Membuat member lain terkekeh dan meninju lengan Xiumin secara bergantian. Begitu pula Joonmyun.

Siang ini, semua benar-benar sempurna bagi fans. Menatap wajah-wajah tampan di hadapan mereka, mendapati ke-12 laki-laki itu mau menuliskan apapun di barang-barang yang mereka bawa, berjabat tangan, menyerahkan hadiah, mendapatkan ucapan ‘Aku cinta kamu’, semuanya! Semuanya benar-benar sempurna. Bahkan keduabelas laki-laki itu seakan tidak memiliki rasa lelah untuk melayani histeria fans mereka. Sungguh, ajaib. Terlebih untuk Joonmyun.

Joonmyun yang duduk di paling ujung tampak sempurna dengan senyum yang selalu melengkung untuk setiap fans yang menghampirinya. Laki-laki itu selalu saja menjabat tangan fans, mengucapkan terimakasih, berkata jika dia sangat terkejut dengan hadiah fans, dan melakukan hal-hal menawan lainnya untuk fans. Tidak peduli jika jauh di dalam dirinya dia masih saja berharap.

Sesekali dalam detik-detik luang Joonmyun ketika terdapat fans yang tidak menghampirinya, laki-laki itu melongok kearah tumpukan fans. Mengharapkan hal yang tidak seharusnya dia harapkan di tempat seperti ini.

Nami.

Sejak malam tadi, sebenarnya pikirannya tidak pernah terasa tenang. Kegelisahan misterius yang menghampirinya entah kenapa semakin terasa menyesaknya. Padahal Joonmyun ingat jika kemarin-kemarin, mengingat Nami rasanya begitu menyenangkan. Kemarin-kemarin, ingatan tentang Nami seakan memberikan jaminan kebahagiaan tersendiri bagi Joonmyun. Tapi, tidak untuk hari ini. Joonmyun gusar. Untuk pertama kalinya dalam hidup, dia ingin sekali menangis dan menumpahkan segala kegusaran yang sudah sangat menganggunya. Tapi, Joonmyun tahu. Dia tidak bisa.

Tidak mungkin bagi Joonmyun untuk tiba-tiba menangis tanpa alasan yang jelas. Joonmyun akan terlihat konyol jika menangisi seorang wanita yang dia sendiri pun hanya tahu sebatas nama dan universitas tempat wanita itu kuliah. Bahkan Joonmyun berani bertaruh jika wanita itu sudah melupakan perkenalan mereka satu tahun lalu.

“Oppa… kau bisa menuliskan ‘Jangri Fighting, saranghae’ untukku?”

Joonmyun sudah kembali ke kondisi normal ketika fans menyodorkan foto group kepadanya. Tanpa pikir panjang, laki-laki itu tersenyum. Lembut sekali.

“Ne, Jangri-a. Aku harus menulis dimana?”

“Yeogi. Dan tambahkan juga symbol love disini”

“Geurae, Jangri. Cha… hanya untuk Jangri,” balas Joonmyun lembut. Membuat fans melompat-lompat kecil sambil berkata terima kasih secara berlebihan. Joonmyun hanya terkekeh geli. Inilah pekerjaannya.

☻☻☻

Tuhan itu Maha Pemurah dan Penyayang. Tuhan itu Maha Pemilik Rahasia langit dan bumi. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kepada manusia di bumi ini.

Joonmyun tidak pernah menyangka jika dia akan mematung seperti ini. Semua seakan terhenti bagi Joonmyun di pinggir sungai Han yang memantulkan cahaya matahari sore kearah wajah mereka berdua. Joonmyun tidak pernah menyangka jika 4 jam waktu luangnya dalam sehari akan mendapatkan kejutan seperti ini.

Masih hangat dipikiran Joonmyun, manajer mengatainya orang aneh ketika dia merujuk agar diijinkan untuk jogging di sore hari. Mati-matian Joonmyun meyakinkan manajer jika dia akan baik-baik saja dan akan segera kembali ke dorm sebelum mereka berangkat untuk syuting di salah satu stasiun televisi. Joonmyun perlu refreshing. Rasa sesak di dadanya benar-benar sudah tak tertolong hari ini.

Tapi kesempatan itu kembali datang setelah sekian lama menghilang dari kehidupan Joonmyun. Tidak ada yang menyangka jika Joonmyun akan bertemu dengan gadis itu di pinggir sungai Han. Jantung Joonmyun mencelos seketika. Mata Joonmyun seakan tak mau lepas ketika memandang wajah teduh di hadapannya.

Sore ini, gadis itu memakai penutup kepala berwarna hijau toska yang menjulur hingga ke dada, dengan hiasan permata kecil-kecil di dada sebelah kanannya. Kaos putih lengan panjang, dan rok hijau dengan motif bunga-bunga tampak serasi dengan panorama sore ini. Dia duduk di bangku pinggir sungai sembari menatap kearah ponsel di genggaman tangannya. Matanya sama sekali tidak teralih dari layar ponsel. Joonmyun yakin seratus persen jika kehadirannya sama sekali tidak disadari. Debaran jantungnya sama sekali tidak terdengar oleh gadis berwajah teduh yang duduk tenang di depannya. Joonmyun, lagi-lagi berada dalam sebuah kebingungan yang tak jelas. Haruskah dia yang menyapa? Atau menunggu hingga gadis itu menoleh kearahnya? Atau mungkin dia harus per–

Joonmyun menelan ludahnya. Gadis itu menoleh kearahnya, dan terdiam untuk beberapa detik sebelum akhirnya kembali memalingkan wajah.

Sial, seluruh tubuh Joonmyun terasa kaku dan sulit untuk digerakkan. Joonmyun sama sekali tidak memiliki alasan untuk menyapa gadis itu. Blank. Pikiran Joonmyun seakan hilang dan terhapus dari dirinya. Joonmyun tidak tahu harus berbuat apa.

Sementara gadis itu mulai beranjak dari bangku, tanpa menoleh sedikit pun kearah Joonmyun.

Rasanya, sesak sekali Tuhan. Sungguh.

☻☻☻

Segala cara yang dilakukan Nami untuk melupakan kegelisahannya siang tadi hanya mampu bertahan beberapa jam saja. Perasaan ini terlalu menyiksa untuk sekedar dilupakan dengan cara-cara biasa. Nami perlu sebuah ketenangan.

Berada di pinggir sungai Han dan merasakan angin sepoi yang membelai wajahnya terasa sedikit menenangkan sore ini. Kilauan yang tampak di permukaan sungai membuat Nami sadar jika begitu banyak hal yang harus dia syukuri, dan yang tidak boleh terlupakan hanya karena perasaan ini. Nami tahu, hijab dalam dirinya telah tersingkap. Kerinduan yang tak seharusnya, telah datang dan hinggap untuk orang yang tidak akan pernah tepat bagi dirinya. Nami bukan seorang gadis sombong atau pun pilih-pilih. Tapi saat ini Nami sadar jika ada masanya dia harus menolak. Termasuk menolak perasaan ini.

Nami menghela napas panjang dan mulai mengeluarkan ponselnya. Dia harus sering-sering melihat petunjuk hidupnya sebelum terlarut ke dalam urusan yang tak seharusnya melarutkannya. Samar-samar Nami lantunkan ayat-ayat Tuhan. Gadis itu seakan ingin memasukkan setiap lantunan ayat ke dalam dadanya sendiri. Mencoba sekuat tenaga untuk meredam segala bentuk perasaan yang timbul-tenggelam dalam dirinya.

Nami tahu, tidak hanya dirinya saja yang mendengar lantunan indah ini. Seluruh alam mendengarkannya, malaikat-malaikat yang diutus untuk mengawasi tiap-tiap jiwa pun mendengarnya, para penganggu manusia mendengarnya, begitu pula Tuhan yang akan selalu mendengar Nami. Baik lantunan ayat, perkataan Nami, atau suara hati Nami. Itulah kenapa Nami memohon untuk bisa melupakan perasaan ini.

Angin sore di pinggir sungai Han terasa semakin sering menerpa wajah Nami. Membuat Nami ingin melihat ke sekeliling. Dan Tuhan benar-benar menunjukkan kuasa-Nya atas kehidupan Nami dan seluruh makhluk di alam ini. Tidak ada yang menyangka jika laki-laki itu sudah berdiri di sampingnya. Mematung dan menatap Nami dengan tatapan yang entah berarti apa.

Nami sempat terperangkap beberapa detik untuk melihat laki-laki itu. Tapi kesadarannya begitu cepat kembali dan membuatnya segera memalingkan wajah. Tidak boleh. Nami harus melupakan semua perasaan dan kerinduan ini. Itulah kenapa Nami segera beranjak dari bangku tanpa menoleh kearah Joonmyun sedikitpun.

Ada sedikit rasa bersalah karena tampak sombong dan angkuh. Ada sedikit rasa aneh ketika memilih untuk melangkahkan kaki menjauhi laki-laki itu. Tapi Nami tidak boleh memikirnya. Dia sudah melakukan hal yang benar dengan menjauh seperti ini.

“Jeogi…” suara Joonmyun terdengar diantara desiran angin sore sungai Han.

Nami mendengarnya. Sumpah, 100% Nami mendengar seruan itu. Tapi Nami pura-pura tidak tahu. Gadis itu terus saja melangkah menjauh sembari mempertahankan raut wajah tenangnya.

“Jamsimanyo, Nami-ssi. Apa kau mengingatku?” kali ini Joonmyun berteriak. Yang membuat Nami mau tidak mau harus tetap menghentikan langkahnya. Mati-matian Nami meredam degup jantungnya yang kacau sekali terdengar di dalam dadanya. Mati-matian juga Nami menahan tangannya agar tidak mengepal di samping jahitan rok hijau toskanya. Gadis itu segera menggenggam tangannya sendiri, sembari perlahan-lahan menoleh. Nami tersenyum.

“Maaf, kau memanggilku?” pertanyaan Nami terdengar tenang diantara atmosfir tak menyenangkan yang secara mendadak tercipta.

Entah perasaan Nami atau bagaimana, tapi di matanya Joonmyun tampak tertegun dengan pertanyaan itu. Walaupun satu detik kemudian, laki-laki itu tersenyum dan mendekat. Tolong, jangan terlalu dekat–jerit Nami dalam hati.

“Nami? Namamu Nami,kan? Kau tidak mengingatku?” pertanyaan Joonmyun terdengar bergetar di telinga Nami. Membuat Nami semakin merasa aneh dengan perasaannya. Untuk sekejap dalam otak Nami dia sempat bersorak. Harapannya ketika SMA seakan terkabul. Tapi, tidak. Joonmyun bukan orang yang tepat. Apapun alasannya.

Dan hal itu berhasil membuat Nami merasa seperti berada dalam berbagai kondisi yang membingungkan. Antara takut, bahagia, sakit, sedih, dan lain sebagainya.

“Ah, biar aku tebak, kau Kim Joonmyun?” hati-hati sekali Nami mengucapkan nama itu. Menjaga agar suaranya tetap terdengar normal di telinga siapapun yang mendengar.

☻☻☻

Joonmyun seakan dibuat melayang setelah mendengar namanya disebut oleh gadis di depannya. Pikiran Joonmyun yang sempat terhenti seakan kembali berputar dan langsung bersiap-siap merekam setiap momen yang terjadi saat ini.

“Ye, Kim Joonmyun-eyo. Amm….” Joonmyun sempat kehilangan kata-katanya setelah melihat gadis itu tersenyum lagi dan lagi. Ah, seandainya dia bisa, dia pasti sudah mengabadikan gadis itu di ponsel miliknya. Tapi, jangankan minta foto, sekedar menanyakan kabar saja sulit sekali.

“Am… sudah lama sekali kita tidak bertemu, Nami-ssi. Bagaimana, bagaimana kabarmu?” kalimat itu berhasil  Joonmyun ucapkan setelah mati-matian menahan gejolak dalam dadanya.

“Ye, sejak di distrik Myeongdong”

Assa!! Dia ingat –Joonmyun bersorak dalam hati.

“Kabarku, baik. Aku lihat, kau juga baik Joonmyun-ssi”

Tak begitu baik hingga bertemu denganmu–balas Joonmyun dalam hati.

Laki-laki itu tersenyum, “Ah, ye, seperti yang kau lihat. Aku sehat-sehat saja”

Seketika itu angin berputar pelan diantara mereka. Membuat mereka seketika terdiam dan tidak tahu harus melontarkan kalimat apa. Keduanya sama-sama salah tingkah. Keduanya sama-sama terperangkap dalam kondisi kritis yang harus segera diakhiri.

☻☻☻

Nami ingin sekali menangis di tempat. Terperangkap dalam kondisi seperti ini sama sekali bukan harapannya. Jarak 1,5 meter mereka seakan tereduksi karena atmosfir yang semakin lama semakin terasa tidak enak. Nami harus segera mengakhirinya.

“ngng, Joonmyun-ssi. Sepertinya aku harus segera pulang ke apartemen,” Nami memecah keheningan mereka. Membuat Joonmyun yang hanya menatap sayu kearah Nami, sekarang sedikit membulatkan mata.

“Pulang? Ah, bagaimana jika aku antar?”

“Terima kasih Joonmyun-ssi, tapi tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri,” Nami langsung menolak tawaran Joonmyun. Gadis itu terkekeh sambil menggoyangkan tangannya cepat. Benar-benar menolak.

“Wae? Setidaknya keamananmu akan sedikit lebih terjamin jika aku antar,” suara Joonmyun terdengar sedikit kecewa. Tapi perasaan Nami terasa lebih kecewa lagi.

Sial! Nami merasa iba dengan Joonmyun. Nami kecewa kenapa dia bisa iba seperti ini? Tapi tidak, Nami harus kuat. Nami harus bisa mempertahankan dirinya. Bak mawar indah yang selalu diliputi duri, Nami harus bisa menghalau segala bentuk gangguan luar yang tidak diinginkan dan diijinkan Tuhan untuknya.

“Aku sudah merasa aman Joonmyun. Ada yang selalu menjagaku. Kau tenang saja” tidak ada pilihan lain bagi Nami selain menjawab dengan pernyataan itu. Walaupun Nami tahu jika kalimatnya akan banyak mengundang banyak persepsi, tapi masa bodoh. Dia ingin segera pergi dari hadapan Joonmyun.

“Yang selalu menjagamu? Kekasihmu ya?” suara Joonmyun terdengar semakin mengiba di telinga Nami. Nami tahu jalan pikiran Joonmyun, dan Nami hanya tersenyum untuk menjawab pertanyaan Joonmyun. Biarkan saja Joonmyun bertahan dengan segala macam pikiran dalam dirinya.

“Kau su–”

“Aku harus pergi Joonmyun-ssi. Annyeong” Nami segera memotong kalimat Joonmyun. Gadis itu segera berbalik dan berjalan menjauh tanpa menunggu balasan Joonmyun. Walaupun jauh di dada Nami, semua ini terasa sesak sekali. Tapi, dia sudah memutuskan untuk segera mengakhirinya. Karena memang tidak seharusnya mereka bertemu dalam bingkai perasaan aneh macam ini.

Nami sudah bulat dengan pilihannya. Nami harus meninggalkan cinta ini.

Selamat tinggal, Joonmyun.

☻☻☻

Joonmyun merasa jika dia bisa saja tertiup angin yang berhembus sore ini. Sekujur tubuhnya lemas setelah mendengar pernyataan Nami beberapa detik lalu. Kakinya seakan hilang kekuatan ketika melihat gadis itu berbalik dan berjalan menjauh.

Nami, setelah sekian lama Joonmyun tidak melihatnya, kali ini Joonmyun seperti ditampar oleh kenyataan pada dirinya.

Popularitas dan segala hal yang selalu dia banggakan seakan tak berharga sore ini. Kemewahan dan elu-eluan fans yang selalu menjadi prestise tersendiri, seakan lebur setelah melihat gadis itu pergi menjauhi dirinya.

Sore ini Joonmyun sadar, dia bukan manusia sempurna.

Joonmyun menelan ludah. Wajahnya bergetar tanpa bisa dia tahan. Matanya memanas seiring dengan rasa sesak yang naik ke kerongkongannya. Semua ini benar-benar terasa gila!

Gadis itu tampak semakin menjauh dan menjauh. Terlihat dia berjalan dengan langkah tenang tanpa menoleh ke belakang sedikitpun. Beberapa orang tampak berpapasan dengannya dan langsung mendapat sapaan hangat yang masih bisa Joonmyun rasakan dari kejauhan.

Joonmyun tersenyum dan memalingkan wajahnya. Bersamaan dengan sebulir airmata yang mengalir tanpa ijin dari pelupuk matanya.

“Bodoh,” Joonmyun bergumam lalu terkekeh. Tangannya menyeka airmata yang semakin deras mengalir di wajah lembutnya.

“Bisa-bisanya kau berharap untuk punya kekasih jika mendapat perhatian dari gadis yang kau suka pun kau tidak bisa, Joonmyun. Kau ini bodoh,” lanjut Joonmyun diantara isakan tertahannya.

Permukaan sungai Han yang berwarna kemerahan karena pantulan sinar matahari sore seakan menjadi saksi diantara kehidupan mereka berdua. Tidak ada yang mengatakannya, ataupun mendeklarasikannya. Tapi keputusan diantara mereka sudah bulat.  Walaupun tetap tidak ada yang tahu dengan rahasia Tuhan.

Tapi cinta ini tetap tidak bisa dipertahankan. Cinta yang tidak pernah bertepuk sebelah tangan ini, tidak akan bisa menyatukan mereka berdua.

Selamat tinggal, Nami.

END

Oke, end!!!

Author menerima segala bentuk complain dan protes dari readers… J

Iklan

6 pemikiran pada “When I Fall in Love

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s