Cynicalace (Chapter 3)

 

Project LN1

Title : Cynicalace

Author : NadyKJI & Hyuuga Ace

Length : Chaptered

Genre : Romance, Comedy, Friendship

Rate : G

Main Cast :

Jung Re In (OC)

Geum Il Hae (OC)

Park Chanyeol (EXO)

Kim Jong In (EXO)

Disclaimer : Annyeong, ff ini adalah murni hasil pemikiran author yang kelewat sangat tinggi,  dilarang meniru dengan cara apapun, don’t plagiator. Gomawo #deepbow.

Summary :

Aku tidak membencimu. Aku hanya tidak ingin berurusan lagi denganmu. Tapi mengapa kau selalu hadir di sekitarku layaknya modul akuntansi yang selalu kubawa setiap hari. Wajahmu mengangguku tapi aku mulai merindukannya ketika wajah itu menghilang dari keseharianku. Oh, menyebalkan.

–Jung Rein–

Aku tidak sudi, aku tidak sudi, aku tidak sudi! Dia menyebalkan, cuek, dan dingin. Tapi… terkadang dia baik juga walau dengan muka datar, terlihat tulus, dilihat-lihat juga ia lumayan.. bukan, tampan… Argh! Aku menyerah, sepertinya karma itu berlaku.

–Geum Ilhae–

Sama seperti panggilannya, yeoja itu memang kelewat bodoh. Sialnya, karena terbiasa menjadi dampak dari perilakunya, aku menjadi terbiasa untuk selalu hadir di sisinya. Namun entah mengapa aku merasakan keberadaanya bagaikan pelangi dalam keseharianku yang hanya dihiasi dua warna – hitam dan putih.

–Kim Jong In–

Melihat wajah seriusnya, merasakan kesinisannya padaku. Itulah makanan keseharianku karena ulahku sendiri. Well, kau memang bodoh dan gila jika bersangkutan dengan yeoja itu. Kau terlalu gila Park Chanyeol.. tapi, aku tidak keberatan gila untuknya. It’s a pleasure.

–Park Chanyeol–

Author’s Note:

Helloooo *pasang backsong shinee’s hello* apakah msh ada yang nungguin FF ini? Hehehe.. Inilah chap 3 nyaaa~

Setelah 2 eh 3 chapter berikut prolog, gomawo~ kami berterima kasih dulu buat yang komment mihihihi, terima kasih sudah membuat semangat menulis kelanjutannya wkakakak.. Juga Akhirnya Rein-Chanyeol pny momen rada enakan dikit yah stlh perang dingin terus.. *sbnrnya cmn dari sisi rein doang sih* ahahaha. Dan skrng daripada kebanyakan berceloteh…

HAPPY READING! RCL and DON’T PLAGIARISM!Helloooo *pasang backsong shinee’s hello* apakah msh ada yang nungguin FF ini? Hehehe.. Inilah chap 3 nyaaa~

Setelah 2 eh 3 chapter berikut prolog, gomawo~ kami berterima kasih dulu buat yang komment mihihihi, terima kasih sudah membuat semangat menulis kelanjutannya wkakakak.. Juga Akhirnya Rein-Chanyeol pny momen rada enakan dikit yah stlh perang dingin terus.. *sbnrnya cmn dari sisi rein doang sih* ahahaha. Dan skrng daripada kebanyakan berceloteh…

HAPPY READING! RCL and DON’T PLAGIARISM!

___

-:Author’s PoV:-

”YAK! PPALI!”

Seperti pagi-pagi sebelumnya ketika mereka berangkat kuliah bersama. Ilhae dengan sangat slow motion mengikuti Rein yang sudah berjalan 5 langkah di depannya.

“Chankaman! Kkeut! Jalanmu terlalu cepat!”

Rein berhenti melangkah dan melirik ke sosok di belakangnya dengan wajah siap menerkam. Sedangkan Ilhae yang masih sibuk dengan isi tasnya tidak terlalu memperhatikan seorang Rein yang ternyata menghiraukan perkataannya, dan berakhir pada tubrukan keras dengan pilar.

“Ya… appo…” Ilhae mengusap sikutnya yang mencium lantai lobby.

“Ish..” Rein menggerutu namun pada akhirnya berjalan mendekati Ilhae dan membantunya berdiri. “Apa yang sedang kau kerjakan?”

“Mencari ponselku. Sudah satu hari… hampir 2 hari? Entahlah. Ottoke? Eomma bisa membunuhku kalau ia kebetulan meneleponku kemarin-kemarin dan tidak ada jawaban.” Dengan malas Ilhae bangkit, menepuk-nepuk celana jeansnya. Untung saja kali ini ia memakai lensa kontak, sehingga kacamatanya tidak mendapat resiko terpental dan retak.

Mengkhawatirkan.

Rein tertawa kecil dalam hati, mengingat sahabatnya yang selalu ceroboh luar biasa. Tapi itulah ciri khas dalam diri Ilhae.

“Mungkin tertinggal di kamarmu? Oh ayolah kita bisa mencarinya nanti malam. Kau tahu dosenku yang sangat tepat waktu itu akan membunuhku jika aku terlambat pada mata kuliahnya.” Rein berkata dengan nada penuh ketakutan dan kewaspadaan, tangannya telah menggapai pergelangan Ilhae dan menyeretnya.

“Ahhh, jebal… ini sungguh membuat frustasi! Ponselku!!!!” Ilhae meraung tapi mengikuti Rein yang menyeretnya.

*-*-*

Sebuah mobil mungil tipe-tipe city car yang irit bahan bakar kepunyaan Ilhae telah terparkir sempurna di pelataran parkir Joonmyung University yang sangat lega itu. Rein membuka seatbelt dan melangkah keluar dari mobil dengan langkah tergesa-gesa. Tiba-tiba ia mengingat sesuatu.

“Ilhae-ya, pinjamkan aku kunci mobilmu!”

Ilhae yang baru saja menekan tombol kunci pada remote control mobilnya menaikkan alis, “Wae?”

“Hari ini jadwal mata kuliahku tidak padat, aku ingin meminjam mobilmu sebagai kendaraanku ke cafe. Kupastikan Ilhae-ya, mobilmu sudah berada di tempat ini lagi setelah kau selesai dengan kuliahmu.” Rein mengangkat jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V tanda ia berjanji.

Setelah 10 detik yang menurut Rein sangat lama karena dirinya yang tergesa-gesa, “Tangkap!” Ilhae melempar kunci mobilnya dengan ringan ke arah Rein.

“Thank you honeeeeeey~” Rasanya Ilhae ingin muntah mendengar nada suara Rein yang sangat menjijikan dan berlebihan itu.

Tapi dengan usilnya Ilhae menjawab dengan lebih hina, “Welcome babe!”

Kemudian Ilhae berjalan santai menuju gedung fakultasnya. Hari ini ia hanya ada praktik laboratorium sehingga tidak begitu penat dengan berbagai ceramah dosen.

Sedangkan Rein telah mendahului yeoja yang terlampau santai itu. Namun ketika kakinya menginjak tangga, ujung matanya menangkap Chanyeol dengan gerombolannya yang sering Ilhae sebut sebagai gerombolan si berat.

Di sisi lain, Chanyeol sudah memperhatikan Rein sejak yeoja itu keluar dari mobil Ilhae, dan entah apa yang merasukinya ia ingin sedikit mendapat perhatian Rein sehingga ia berteriak.

“GEUM ILHAE!”

Tentu saja ia tidak berani meneriakkan nama Jung Rein. Jika ia berani tentu saja ia akan kembali membuat yeoja itu membencinya bukannya menarik perhatiannya. Well, ia harus memikirkan suatu cara agar Rein memperhatikannya, tapi kali ini dengan cara yang benar. Bukan seperti kejadian prom yang sudah amat lampau itu.

Rein memutar bola matanya, lalu membalikan tubuhnya lalu menatap Ilhae datar.

“Ilhae-ya, ada yang mencarimu.” Dengan nada super dingin. Lalu ia melanjutkan langkahnya meninggalkan tempat itu.

Chanyeol langsung memasang wajah puasnya sembari melihat sosok Rein yang perlahan menghilang. Menatap punggung tegap penuh dedikasi itu menjauh.

“Ckckckck. Sampai kapan kau akan seperti itu Park Chanyeol?” Ilhae berdiri menunggu 3 namja itu mendekat sembari mengetuk-ngetukkan kakinya.

“Apa?” Chanyeol menaikkan alisnya pura-pura tidak perduli.

“Lupakan!”

“Woah… seorang Ilhae marah…” Ilhae langsung melirik tajam ke arah Chen yang baru saja menggodanya dengan wajah sumringah.

Detik berikutnya Ilhae sudah bersiap menendang ataupun menyiksa Chen atau Kim Jongdae nama normalnya. Sedangkan Chanyeol menghembuskan nafasnya sedikit lega dengan kerusuhan yang baru saja terjadi.

Sebenarnya Rein masih memperhatikan ke 4 orang super absurd dari kejauhan. Dia bertanya-tanya mengapa sahabatnya itu bisa berteman dekat dengan namja-namja seperti mereka? Yang tanpa harus dekat juga kau pasti akan mengetahui bahwa otak mereka itu sedikit bergeser dari tempatnya.

Mungkin saja, mungkin jika ia tidak begitu anti dengan Park Chanyeol. Dia bisa saja berada di antara gerombolan itu menemani Ilhae. Tapi ya sudahlah..

-:Rein’s PoV:-

Aku meluncur sempurna di jalanan, senang rasanya ketika kau tidak perlu berlama-lama di jalanan karena kemacetan. Sesuatu yang perlu untuk disyukuri.

Aku memarkirkan mobil Ilhae di parkiran café dan segera berjalan santai memasuki tempat favouritku setelah kamar selama 2 tahun terakhir. Aku bekerja di café ini bukan hanya karena aku membutuhkan uang –sebenarnya alasan terbesarya adalah hal ini, namun aku memiliki setitik alasan lain yang membuatku senang bekerja part time di tempat ini. Aku merasa nyaman pada tempat ini. Seakan-akan tempat ini adalah rumah keduaku dan pegawai, manager, dan tamu yang mengunjungi café ini adalah keluargaku.

“Long time no see, Jung Rein.” Boram menyambutku dengan nada jahil ketika aku melihatnya.

“Sehari saja, chingu.” Boram terkekeh dan menatapku sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku juga tidak mengerti maksud dari perilakunya.

“Bagaimana Ilhae? Dia tidak membakar tempat ini, kan?” walaupun Boram tahu maksudku namun ia masih membalas perkataanku dengan sesuatu yang menggelikan.

“Jika dia melakukan itu, kau tidak akan bisa bertemu dengannya sepulangnya kau ke apartemenmu. Karena temanmu itu sudah pasti mendekam di penjara dengan predikat ‘tersangka pembakaran Paulo Café’.” Aku tertawa sejenak membayangkan Ilhae dengan baju garis-garis zebra dan gantungan yang berupa nomor tersangka tergantung dari lehernya. Namun karena pikiranku yang mulai tidak-tidak aku menghentikan tawaku.

“Kau benar. Hahaha.” Boram menatapku jahil lalu melanjutkan, “Temanmu itu tidak membakar café ini, namun dia sepertinya sudah membakar emosi Jongin sepanjang hari.”

Aku tersenyum kecil dan sedikit pun raut kaget terpancar dari wajahku, karena aku sudah bisa menebak hal ini akan terjadi.

“Sudah kuduga..” aku melanjutkan jalanku ke ruangan kecil di belakang café –ruang loker, dan meninggalkan Boram berjaga di depan café.

*-*-*

Pakaian seragam yang menurutku sangat charming ini telah melekat dengan sempurna di tubuhku. Saatnya bekerja!

Saat aku hendak menuju meja kasir, posisiku tetapku di tempat ini –ini dikarenakan menurut manager café aku cukup bisa diandalkan ketika menghitung dan memegang uang, mungkin ia juga melihat basic akuntansi dalam diriku – Kai yang berada di balik meja barista memanggilku. Aku menoleh lalu berjalan mendekatinya.

“Eoh?” aku sedikit bingung ketika melihat Kai menyodorkan sebuah ponsel kepadaku. Ia bahkan belum berkata apapun padaku.

“Milik temanmu.” Ah! Aku baru saja berhasil mengidentifikasi ponsel itu bersamaan dengan Kai yang mengatakan siapa pemiliknya.

“Tolong kembalikan padanya.” Lanjutnya yang membuatku bertanya-tanya. Mengapa ponsel Ilhae bisa berada di tangan namja ini?

“Tidak sengaja terbawa olehku.” Jawabnya singkat dengan nada datar, seakan dia bisa membaca pikiranku.

“Ah~ itu tidak sopan jika melalui aku. Bagaimana jika kau memberikannya langsung padanya?” ide jahil baru saja melintas dari benakku. Kai menatapku tajam, jika kau bukanlah aku mungkin saja kau sudah lari melihat tatapannya itu. Namun aku hanya menunjukan cengiranku saja yang membuatnya mendengus.

“Aku tidak mungkin bertemu lagi dengannya.” Ujar Kai singkat yang membuatku tersenyum lebih lebar.

“Aku bisa membuatmu bertemu lagi dengannya, Kai. Aku bisa mengajaknya besok kesini, eotte?” tawarku yang membuatnya memutarkan bola matanya.

“Tidak bisakah kau memilih jalan gampang saja dengan membawa ponsel ini dan memberikannya padanya?”

“Shireo. Itu tidak sopan. Kau bisa mengembalikan padanya sendiri. Habis perkara.” Ujarku santai sambil menggaruk ujung hidungku yang sedikit gatal.

Kai masih diam saja dan menatapku malas, namun aku tahu dia tidak akan membantahku. Aku cukup mengenal baik namja ini, jelas aku mengenal betapa dia sedikit ‘penurut’ terhhadapku. Walaupun aku tidak tahu alasannya. Mungkin mukaku yang terlalu galak? Sehingga ia takut macam-macam denganku?

Tidak mau memusingkan hal itu, aku kembali berjalan ke arah meja kasir. Namun di tengah perjalanan aku berbalik dan menanyakan sesuatu pada namja yang sedang menggosok gelas dengan lap itu.

“Kau memberikan posisi apa padanya saat menggantikanku?” aku bertanya dengan nada khawatir mengingat betapa cerobohnya anak itu dengan hal-hal yang berbau uang –jika anak itu tetap menggantikanku di balik meja kasir.

Kai terkekeh pelan yang membuatku bertanya-tanya adakah hal menarik yang terjadi antara Kai dan Ilhae?

“Tenang saja, aku tidak membuatnya berada di meja kasir. Dia kelihatan terlalu bodoh untuk posisi itu.”

“Ceroboh mungkin?” ralatku cepat namun ikut terkekeh bersamanya.

“Sama saja.” Aku menghembuskan napas lega dan melanjutkan perjalananku ke meja kasir, namun sebelum lupa aku meneriakan sesuatu.

“Gomawoyo, Kai!”

And now, time to work!

-:Ilhae’s PoV:-

“Yosh!” aku mengangkat kedua kepalan tanganku ke atas, merenggangkan seluruh badanku yang lelah. Cukup lama aku berkutat dengan mikroskop, keahlian terendahku, terkadang mataku sangat tidak benar melihat dari kaca kecil tersebut.

“Ilhae-ah!”

OH MY! OK TAECYEON!

Aku langsung mempercepat langkahku ketika mendengar suara yang terlalu mengganguku itu. Seseorang yang entah kenapa membuatku agak risih ketika berada dekat dengannya. Awalnya saat pertama kali bertemu aku baik-baik saja, tapi ketika ia semakin sering menemuiku atau hanya sengaja mengajak ngobrol tidak penting jelas saja aku langsung mengerutkan wajah,

“Ilhae-ah!”

Geuzzz, aku dengan kecepatan kilat langsung menuruni tangga menuju ke pelataran parkir. Ke tempat Rein menjanjikan mobilku disana. Setidaknya aku bisa terbebas darinya. Kakiku dengan semangatnya melangkah lebar-lebar, tapi..

JRENG JENG!

Kejutan yang menyenangkan. Kulirik kesekeliling namun tidak menemukan siluet mobilku.

NIHIL! Tidak ada!

“Ilhae-ah! Chankaman!”

“Ya..yak!” aku berucap panik. Oh tolong, jangan sekarang.

Tanpa pikir panjang aku langsung melanjutkan langkahku, kali ini menuju gerbang. Kalau aku tidak bisa pulang dengan selamat menggunakan mobil, setidaknya sebuah kendaraan umum atau bersembunyi di tempat terdekat, dengan apapun membantu.

Aku berjalan tanpa menghiraukan seorang Taecyeon, dan jujur agak membuatku merasa bersalah. Aku tahu Taecyeon namja yang baik, dan wajahnya pun menawan. Tapi, RISIH. Aku tidak begitu suka di ajak mengobrol untuk hal yang tidak penting, dan Taecyeon selalu melakukannya ketika bertemu atau hanya berpapasan denganku. Perlu dicatat, gedung fakultasnya – fakultas hukum berada disebelah fakultasku dan sangat dekat dengan laboratorium yang menyebabkan hari ini aku tentu berkemungkinan bertemu dengannya. Dari dulu aku memang tidak terlalu ramah terhadap namja. Bahkan terkadang tidak menyukai kalau mereka tiba-tiba dekat-dekat denganku dan sebagainya.

Hanya gerombolan si berat itu yang mungkin jadi pengecualianku, ya… karena pengaruh otak mereka yang diluar jangkauan akal sehat – aku menyatakan, aku merasa nyaman dengan segala tingkah absurd mereka. Menurutku menghibur, menyenangkan, tanpa beban, dan apa adanya. Setidaknya kau bisa menjadi dirimu sendiri.

 

-:Chanyeol’s PoV:-

Aku berdecak sembari mengetuk-ngetukkan kakiku kesal di samping sebuah pintu berwarna coklat. Di atas pintu itu bertuliskan ruang vokal, yang sudah pasti menandakan aku menunggu dua makhluk bernama Byun Baekhyun dan Kim Jongdae. Hari ini kuliahku selesai bersamaan dengan mereka, tapi entah kenapa mereka belum juga keluar. Padahal berjalan dari fakultasku ke fakultas mereka yang walaupun dekat, memakan waktu sepuluh menit. Dari dalam sana masih terdengar suara-suara emas berebut masuk menuju telingaku, sungguh enak didengar tapi tetap saja. Menunggu adalah hal paling menjengkelkan.

Seperti mengasihaniku, detik berikutnya suara pintu terbuka menyambutku. Refleks aku menolehkan kepalaku dan langsung bertatapan dengan seorang yeoja – kalau tidak salah namanya Kwon Choyi, aku mengetahuinya karena yeoja itu cukup menjadi korban keusilan Baekhyun. Kesimpulanku poor yeoja. Aku mengangguk padanya sekilas dan langsung berjalan memasuki ruang vokal yang sudah terbuka itu. Kulihat Baekhyun masih membuka mulutnya untuk bernyanyi sedangkan Chen di sebelahnya sudah duduk dan meneguk air putih.

“Yo! Kenapa lama sekali!” aku menegur mereka.

“Oh, Yeol! Mian. Miss galak sedang sedang melakukan kekejiannya.” Chen berbisik padaku sembari melirik guru vokalnya. Well dosen yang sebenarnya cantik kalau tidak ada penggaris panjang mengancam di tangannya.

“Jadi apakah kalian sudah selesai?” bisikku.

“Tunggu Baekhyun. Dia masih belum menyelesaikan high notenya.” Chen kembali berbisik padaku.

Aku kemudian mengalihkan tatapanku ke arah Baekhyun yang masih menyanyi sampai urat dilehernya muncul. Aku melipat tanganku di dada, menurut pendengaranku suara Baekhyun sudah sangat sempurna, walau belum bisa melampaui Minseok-hyung yang sangat terkenal satu kampus karena keahliannya. Tapi secara keseluruhan Baekhyun berbakat, aku jadi bingung dengan tatapan menyipit dari miss galak yang di sebutkan Chen.

“Hmmm, well done. Pertahankan! Jangan sampai jatuh lagi seperti tadi.”

Aku memutar bola mataku mendengar miss galak berbicara kepada Baekhyun. Baekhyun yang terlihat jengkel dan kelelahan hanya bisa mengangguk walaupun aku bisa melihat kilat mencemooh di dalam matanya. Sungguh, jika miss galak itu bukanlah dosen yang akan memberikannya nilai, Baekhyun sudah pasti mengusilinya. Dengan cara apapun yang dapat dipikirkannya.

“Yeol, kajja.” Suara Chen mengembalikanku dari imajinasi keusilan yang dapat diperbuat Baekhyun.

Dengan suka cita aku mengikuti langkah santai Chen dan juga langkah menghentak Baekhyun. Setelah mensejajarkan langkah aku bisa mendengarkan Baekhyun yang berkeluh kesah pada Chen. Tentang istilah yang terkadang aku tidak begitu mengerti – well istilah pervokalan.

“Hei… tenanglah. Minum dulu.” Karena pusing aku mengambil botol aqua yang menyembul dari tas Chen dan memberikannya pada Baekhyun. Namja itu harus diam dulu.

“Ish! PARK CHANYEOL!”

Chen sudah bersiap-siap memukulku tetapi aku berlari lebih cepat dengan kakiku yang panjang, menuruni tangga menjauhinya. Tapi langkahku seketika berhenti melihat siluet mobil kecil yang sangat kukenal mendekat.

BUGH.

“YA! Sakit!” aku mengusap lenganku yang baru saja dihantam oleh kepalan tangan Chen.

Terlihat sekali raut puas dari namja itu tapi berhubung aku telah memiliki hal lain aku agak mengabaikannya dan kembali memusatkan padanganku pada mobil yang sudah berada di dekat tangga.

Baekhyun yang tidak berada dalam andil apapun hanya berjalan lurus sembari minum, mendekati mobil yang walaupun masih menyala, perlahan menurunkan kaca mobilnya. Dan sesosok Rein langsung memenuhi mataku. Menyita perhatianku. Tanpa banyak berpikir lagi aku langsung menuruni tangga.

“Apakah kau melihat Ilhae?” samar-samar kudengar Rein bertanya pada Baekhyun.

“Tidak, wae?” Baekhyun menjawabnya dengan nada bertanya yang sangat.

“Ehmmm,” gadis itu mengigit bibirnya, “seharusnya aku mengembalikan mobilnya atau menjemputnya atau apapun. Tapi kenyataannya aku telat lima belas menit, tapi aku tidak menemukan keberadaan yeoja itu. Kupikir ia akan menunggu diparkiran dengan wajah jengkel, tapi nihil. Tidak ada.”

“Well, itu tanggung jawabmu. Siapa tau saja Ilhae diculik~.” Chen menyela, rupanya ia sudah berhasil menyusulku.

“Hash! jangan berkata begitu! Lagipula tidak mungkin ada yang akan menculik Ilhae.” Rein memelototi Chen.

Rein, Baekhyun, dan Chen seketika langsung tenggelam dalam perdebatan tentang Ilhae. Sejujurnya aku tidak terlalu peduli jika didiamkan dalam pembicaraan, tapi dalam kasus ini berbeda. Ada Rein, dan jelas sekali ia mengabaikanku. Buktinya ketika aku datang pun, yeoja itu bahkan tidak repot-repot untuk melihatku, meski dengan ekor mata.

Hah…

Langsung saja aku tenggelam dalam keterpurukan. Keterpurukan karena Rein tidak pernah ramah padaku, bahkan seperti yang ia katakan, ia ingin aku dan dia tidak saling mengenal.

Apakah semua usahaku untuk menarik perhatiannya sia-sia belaka? BABO! Aku meruntuki diriku sendiri. Sudah kenyataannya segala yang aku lakukan untuk menarik perhatiannya adalah salah!

Park Chanyeol! Bisakah kau sedikit kreatif dan membuat yeoja pujaan hatimu melihatmu…

“Woah!”

Pikiran depresiku langsung teralihkan dengan suara takjub dari Chen dan Baekhyun.

“IDIOT! Jangan kagum! Mobil ini kehabisan bahan bakar!” tangan Rein sudah menghentak ingin memukul, tapi tidak sampai.

“Tapi sungguh menakjubkan.” Baekhyun memasang wajah mencela.

“Baek! Ayo pergi! Kau lupa kita masih ada pekerjaan lain?!” Chen yang semula masih mengikuti siklus membuat jengkel Rein langsung berubah serius.

“OMO! Jam berapa sekarang? Kita harus mengisi acara di pekan raya itu untuk nilai praktek!”

“Hey! Kalian jangan sembarangan! Bagaimana ini?” Rein keluar dari mobil.

“Gezzz, ayo! Satu jam lagi!”

“YA!”

Namun sayang. Baekhyun dan Chen langsung berlari tanpa menghiraukan Rein. Meninggalkan yeoja dengan wajah kesal itu menggerutu.

“Grrr. Dasar namja-namja hilang otak! Sekarang aku harus mendorong mobil sendiri ke pom bensin terdekat.”

TRING.

“Biar aku bantu.” Aku langsung berjalan mendekati Rein, yang di sambut wajah tidak ramah yeoja itu. Tapi tekadku sudah bulat, aku ingin menarik perhatiannya, dan mungkin bersikap gentleman dengan membantunya – mungkin akan membuatnya melunak.

“Pergi! Aku tidak  butuh bantuanmu!” Rein membentakku dan langsung mendorong mobil.

Mencoba menjadi orang tuli aku berjalan ke sampingnya dan ikut mendorong. Bantuanku membuat mobil Ilhae bergerak maju, lebih terlihat progressnya dengan bantuanku daripada hanya Rein sendiri yang mendorongnya. Aku bahkan sangsi Rein akan bisa sampai pom bensin hari ini jika ia sendirian.

“Minggir! Ck!” sambil mendorong Rein memelototiku.

“YA! Pergilah!”

“…”

“Aku bisa sendiri!” bentaknya.

Aku tetap berkonsentrasi mendorong.

“Kau tuli ya?!” nada suaranya naik.

Well, aku tuli untuk kali ini Jung Rein.

“Gezz, terserah!” katanya kali ini dengan menggertakkan gigi.

-:Rein’s PoV:-

Ilhae.. Geum Ilhae. Manusia cereboh itu lupa lagi mengisi bensin bulan ini? Ah untuk diketahui saja, aku yang selalu mengingatkan Ilhae tentang bahan bakar mobilnya yang tidak bisa terisi dengan sendirinya.

Tunggu, sebenarnya ini juga kesalahanku. Aku tahu jika mobil ini ibaratnya sudah 2% lagi mencapai garis merah yang artinya goodbye, saat mengendarainya menuju Paulo. Cerobohnya aku lupa untuk mengisi bensin saat dalam perjalanan.

Arghhhh. Aku turut mengambil andil dalam penyebab keadaanku sekarang.

Aku mengacak rambutku frustasi, sial di mana pom bensin?!

Seingatku letak pom bensin terdekat dengan Joonmyung tidak sejauh ini? Aku tidak pernah merasakan sebelumnya, perasaan seperti ini. Perasaan ingin sekali bertemu dengan pom bensin.

“Pom bensin sudah tidak begitu jauh, di tikungan depan –” Aku melirik sekilas pada sumber suara, hanya sekilas tapi rupanya namja itu sedang memperhatikanku sehingga tatapan matanya seakan mengkunciku untuk tidak berpaling lagi dari wajahnya. Namja bernama Chanyeol ini menghentikan ucapannya dan menatapku sambil tersenyum.

“Mwo?” ujarku sengit.

“Akhirnya kau melihatku juga, sedari tadi kau terus memandangi aspal jalanan. Seperti hal itu lebih menarik dari padaku.”

Aku menatapnya takjub, “Menurutmu kau menarik?”

“Cukup menarik sehingga membuatmu menoleh padaku.”

Ingin sekali aku membalas ucapannya dan memperdebatkan hal ini. Memang perbicangan yang kurang penting tapi anehnya aku sudah menyusun kata-kata untuk membalas ucapannya dalam otakku.

Mungkin ini adalah pengaruh dari terlalu banyaknya aku memperdebatkan sesuatu dengan Ilhae. Sehingga sifat tidak mau kalah timbul dari dalam diriku.

Namun sayangnya, Chanyeol telah menghentikan perbincangan kurang penting ini dengan menanyakan sesuatu. “Apakah kau tidak lelah? Kau bisa berhenti mendorong dan menyerahkan sisa perjalanan padaku.”

Aku sedikit tercengang dengan nada suaranya yang memancarkan rasa khawatir. Hampir saja aku mempercayainya bahwa ia memang menghawatirkanku. Namun aku tersadar jika ini hanya akalnya saja untuk membuat perasaanku berdamai dengannya lalu mempermalukanku lagi di masa depan.

“Tidak.” Jawabku singkat dan kembali menolehkan pandanganku ke depan.

“Jika kau lelah, katakan padaku.”

Aku tidak menjawab ucapannya. Melainkan memilih untuk bungkam dan menatap ujung sneaker putihku.

Chanyeol, namja yang paling kubenci itu sekarang sedang menolongku. Jelas saja, aku tidak menyukai situasi ini. Tapi aku juga tidak bisa membayangkan aku harus mendorong mobil ini sendirian. Aku tidak mempermasalahkan kelelahan untuk mendorongnya karena kurasa aku bukan yeoja yang lemah. Tapi aku sedikit meragukan kondisi di mana aku harus berjalan sendiri di tengah malam sambil mendorong mobil.

Aku benci gelap. Malam hari berada di tempat terbuka, aku membencinya. Tidak masalah jika berada di dalam mobil atau angkutan umum. Tapi tidak di tempat terbuka.

Sejauh ini, seseorang yang mengetahui ketakutanku akan hal gelap hanya Ilhae dan keluargaku. Sebisa mungkin aku tidak menunjukannya di hadapan orang lain. Ingatanku melayang pada kejadian di mana aku baru tinggal bersama Ilhae selama sebulan, malam itu hujan sangat lebat dan secara tiba-tiba listrik padam. Aku berteriak-teriak seperti orang gila, karena anehnya aku bisa terbangun dari tidurku ketika lampu kamarku mati. Ilhae mendengarnya dan mengecek keadaanku, awalnya ia menyangka aku bermimpi buruk. Namun akhirnya dia menyadari bahwa aku ketakutan dengan kegelapan yang menyelimuti.

“Kau masih takut akan gelap, Rein-ah?” aku menoleh cepat ke arah Chanyeol, aku baru saja menyinggung hal itu dalam benakku. Serta mengingat siapa saja orang yang tahu akan hal ini, tapi Chanyeol tidak termasuk di dalamnya. Jadi mana mungkin ia bisa mempertanyakan hal itu?
Seakan bisa membaca pikiranku, Chanyeol mula bercerita. “Camping beberapa tahun yang lalu saat kita masih menjadi murid Senior High School. Wajahmu stress sekali ketika songsaengnim sedang membacakan rute malam sebelum api unggun. Rute melewati hutan tengah malam sepertinya membuatmu sangat tertekan sehingga kau pingsan saat itu dan tidak bisa mengikutinya. Orang- orang berpendapat kau kelelahan, sehingga meninggalkanmu di pos kesehatan saat itu. Tapi kau terus menginggau dalam tidurmu, ‘Shireo, shireo, shireo’, –”

Ada yang ganjil dalam ceritanya sehingga aku memotong kalimatnya. “Dari mana kau tahu aku mengigau seperti itu?”

Chanyeol hanya tersenyum kecil dan menatapku dengan tatapan yang sangat tenang. “Karena aku yang menjagamu saat itu.”

Aku terdiam, ingin sekali aku menelpon Ilhae saat ini dan menanyakan apakah benar namja ini yang menjagaku saat pingsan di gunung waktu itu. Tapi aku hanya akan terlihat konyol dengan melakukan hal itu sehingga kuurungkan. Selain itu aku berniat untuk tidak memusingkan hal ini.

Aku terbungkam dan kembali menunduk menatap ujung sneaker putihku. Namun kali ini ujung mataku masih menatap gerak gerik seorang Park Chanyeol yang sedang menatapku dengan tatapan yang membuatku lebih baik tidak jadi melihatnya. Tatapannya… ‘aneh’.

Beberapa menit kemudian pom bensin melambai-lambai padaku. Aku bisa merasakan aku bernapas lega akan hal itu, karena aku berlari senang meninggalkan mobilku yang mogok karena bahan bakarnya habis.Aku bisa mendengar kekehan Chanyeol sekilas yang membuatku menatapnya tidak suka.

Mobilku sudah diberi makan, dan bisa kembali bergerak. Aku sudah terlampau bahagia sehingga membuatku menaiki mobilku cepat dan mulai menjalankan mobil. Aku baru menyadarinya ketika Chanyeol melambai padaku.

Walaupun aku membencinya, aku adalah manusia yang diajarkan sopan santun sejak kecil. Hal ini membuatku menurunkan kaca mobil dan menatapnya sambil berkata, “Eung.. Gomawo.” Sangat cepat dan hanya seperti bisikan namun kurasa Chanyeol mendengarnya.

Lalu aku benar-benar menggerakan mobil untuk meninggalkan pom bensin yang sudah sangat sepi itu. Namun aku merasakan sedikit iba melihat Chanyeol harus berjalan lagi ke Joonmyung karenaku.

Sehingga aku memundurkan mobil dan sekali lagi membuka jendela mobil yang membuat Chanyeol menatapku kaget. Baiklah, hanya sekali. Aku menyampingkan perasaan benciku pada manusia ini karena sopan santun.

“Aku hanya menawarkan hal ini sekali, aku bisa mengantarmu kembali ke kampus dengan mobil ini.”

“JINJJA?!” Aku mendesis melihat wajah sumringah namja ini.

“Tidak ja –”

“Ah ne, ne, dengan senang hati aku menerima tawaranmu. Kau baik sekali, Rein-ah.”

“Ish.”

“Bisa kau bergeser?” Aku mengerutkan keningku, pertanyaannya membuatku bingung.

“Mengapa kau menyuruhku untuk bergeser?!”

“Untuk menyuruhmu berpindah posisi karena aku yang akan menyetir.”

“Bukankah jarak dari tempat ini menuju Joonmyung tidak begitu jauh jika memakai mobil? Aku bisa menyetir sendiri.” Argumenku sepertinya membuatnya berpikir sejenak.

“Ah, maksudku. Kita tidak akan kembali ke Joonmyung. Kita akan langsung ke apartemenmu.”

“Wae?!” pernyataannya membuatku makin bingung saja.

“Hari ini aku menumpang di mobil Baek, dan sepertinya dia telah meninggalkanku. Selain itu, kau tidak tahu jika jarak apartemenmu dan rumahku tida begitu jauh? Hanya beda seblok. Akan lebih menyenangkan jika aku bisa langsung pulang ke rumahku dari pada kembali ke Joonmyung.”

Rumahnya dekat dengan apartemenku? Benarkah? Mengapa aku tidak mengetahui hal ini?

“Terserahlah..” Aku sudah terlalu lelah untuk berpikir lebih lanjut sehingga aku menyerahkan posisi kemudi pada namja itu dan segera bergeser ke jok di sebelahnya.

Dalam perjalanan aku merasakan kantuk yang luar biasa, dan tidak heran jika mungkin saja sebentar lagi aku akan terlelap. Sekali lagi aku merasakan, jika keberadaannya untukku hari ini tidak seburuk yang awalnya kuduga.

 

-:Kai’s PoV:-

Sekaleng cola sedang menemaniku berdiam diri di atas motorku. Kepenatan memenuhiku hari ini. Tiba-tiba Kyungsoo memintaku untuk membantunya mengadakan survey untuk tugas sosio-antropologisnya. Ya, mengingat Kyungsoo adalah mahasiswa jurusan psikologi. Sebelum berangkat untuk bekerja di Paulo aku membantu Kyungsoo menyebarkan angket untuk adik kelas di universitasnya. Jelas saja, hal ini sangat melelahkan. Mengingat jumlah angket yang harus disebarkan lebih dari 500. Tapi sebisa mungkin aku tidak mengeluh di hadapan Kyungsoo, bagaimanapun dia adalah sahabatku.

Hal lain yang membuatku cukup pada tahap stress adalah betapa ramainya Paulo hari ini. Mungkinkah sekembalinya Rein dari liburnya –walau hanya satu hari, membawa banyak pelanggan? Atau karena hari ini adalah ulang tahun Deokshin Hyung –manager Paulo, yang menyebabkan keramaian café hari ini?  Aku hanya berpikir secara random, tentu saja.

Sorotan lampu mini market masih terus berpendar. Aku baru saja membuang kaleng cola yang isinya telah kuhabisi beberapa saat yang lalu saat otakku melayang-layang pada pikiran randomku. Lalu mulai menaiki motor dan memakai helmku, aku menoleh sekilas ke kaca spion untuk memastikan tidak ada orang di belakang motorku yang akan tertubruk bokong motorku jika dia berdiri terlalu dekat. Namun pemandangan yang sedikit ganjil menyambutku. Seseorang dengan rambut panjang tergerai dan wajah yang sangat familier sedang melangkah lebar-lebar ke arahku.

Kira-kira 10 langkah lagi dia sampai ketika aku baru menyadari bahwa yeoja itu adalah si Hae Hae! Yeoja nyolot dan keras kepala yang kujumpai kemarin, oh dear. Aku baru saja berniat untuk menjalankan motorku untuk meninggalkan tempat itu, karena tidak ingin berurusan dengan si babo itu. Tapi rupanya aku terlambat mengambil tindakan melarikan diri, karena aku merasakan seseorang baru saja menaikki jok belakang motorku. Tanpa harus menoleh ke belakan atau melirik dari kaca spion aku tahu bahwa orang itu adalah si Hae Hae!

Mau apa lagi sih dia?!

Aku sedikit mendengus menyadari bahwa mungkin saja dia menganggapku tumpangan umum.

Lalu suara cemprengnya menyambut gendang telingaku dengan nada tergesa-gesa –oh, jangan lupaan bahwa dia menepuk-nepuk pundakku secara barbar sambil menyebutkan sesuatu yang sudah pasti merupakan alamat rumah atau apartemennya.

Ingin sekali rasanya berbalik dan mendesis padanya mengatakan apa yang sedang ia lakukan sekarang?

Tapi aku mengingat sesuatu saat memerhatikannya yang terlihat sedang mencari sesuatu di tas dan saku hoodienya lewat kaca spion. Mungkin ponsel?

Ponselnya kan ada padaku?

Dia tidak ingat? Memang bodoh sekali…

Aku  sedikit mempertimbangkan untuk mengantarnya pulang lalu mengembalikan ponselnya. Namun aku merasa ini semua terlalu menyusahkan untukku?

Walau aku berpikiran seperti itu, namun anehnya aku mulai menggerakan motorku dengan sendirinya. Ish, otak dan tubuhku  mulai tidak singkron.

Pertanyaanku, mengapa yeoja ini selalu hadir untuk menyusahkanku?!

Sebenarnya aku ingin sekali menggerutu dan menunjukan identitasku pada si Hae Hae karena sepertinya dia tidak menyadari bahwa tumpangannya sekarang adalah aku –mungkin karena aku sedang memakai helm. Tapi aku tetap bungkam hingga motorku melaju di jalanan malam Seoul.

 

-:Ilhae’s PoV:-

Ottoke?!

Aku memukul-mukul kepalaku sendiri. Sungguh bodoh apa yang telah aku lakukan ini. Bisa-bisanya aku mendesak orang asing untuk mengantarku pulang karena tidak ingin bertatap muka dengan Taecyeon.

Sekarang bagaimana nasibku? Walau namja unknown ini dengan datarnya menanyakan alamatku tapi tetap saja….

GEUM ILHAE! KE MANA AKAL SEHATMU HUH?! BABO!

Tak henti-hentinya perasaan bersalah ini mengalir memenuhi seluruh pikiranku.

Babo. Babo. Babo. Babo.

Kenapa kau tidak memilih untuk bersembunyi di dalam mini market saja? Kenapa menodong orang asing?? Otakmu macet ya? Atau hilang ke ruang angkasa sana?

Apa yang harus kau katakan padanya?

Tunggu… REIN!

Aku bahkan lupa, ke mana yeoja itu dan juga mobilku? Aku harus menghubunginya.

Tanganku dengan sigap membuka tasku, merongoh isinya, namun hanya beda keras berupa buku yang terdeteksi tanganku. Dan langsung saja aku mengingat, bahwa ponselku masih missing in action!

“YA! PONSEL KEMANA KAU?!”

Tarik nafas… buang….

Aku menenangkan diri mencoba merangkai kata-kata yang bagus untuk meminta maaf pada orang asing yang sudah aku jadikan korban ini.

Aku memperhatikan jalan-jalan yang sudah sangat kukenal ini. Jalan-jalan yang menghubungkan kampusku dengan di mana apartemenku berada. Dan, mengingat jarak yang semakin dekat dengan apartemenku aku semakin gencar memikirkan berbagai permintaan maaf yang layak.

Pada hakikatnya aku itu bukanlah orang yang  bisa berdiplomasi atau semacam berbicara di depan umum. Hal yang dapat membuatku menjadi bawel sekiranya hanya eomma, nenekku, Rein, juga yang sangat berat ku akui – gerombolan si berat itu. Yang sangat membuat gemas adalah, aku terlalu sering melakukan hal yang harus membuatku berbicara dengan orang asing – seperti sekarang ini.

Yah… sekarang lupakanlah history tentang diriku ini.

Aku masih memiliki tugas mulia untuk membuat orang yang aku repotkan ini tidak menodongku ke pengadilan terdekat manapun. Karena aku yakin, Rein tidak akan mau repot-repot membantuku setelahnya. Perasaanku saja.

Tanpa terasa, karena pikiranku yang terlalu banyak melayang ke alam berpikir atau memang motor itu kendaraan yang cepat, aku sudah berada di jalan besar di mana apartemenku berada. Dan dengan mataku yang bagus karena memakai softlens aku bisa melihat bangunan yang cukup tinggi itu semakin dekat. Seakan-akan bangunan itu yang berjalan mendekat, bukan aku.

Semakin dekat pandanganku semakin luas, dan aku menemukan mobilku berada di sana, dengan Rein yang sepertinya sedang berbicara atau apapun dengan seseorang. Aku tidak dapat melihatnya karena hanya puncak kepala orang itu saja yang terekspos. Yang membuatku ragu kalau Rein sedang berbicara adalah karena gesturnya yang agak kaku.

Aku – kami, semakin dekat dan aku akan melihat apa yang sebenarnya Rein lakukan sebentar lagi.

-:Author’s PoV:-

Rein membuka pintu mobilnya dengan gerakan cepat, lalu melirik ke arah seseorang yang duduk di belakang kemudi. Seseorang yang masih tidak beranjak sedikit pun. Dan hal itu jelas membuat tanda tanya besar dalam benaknya.

“Kau tidak ingin keluar dari mobilku? Ralat, mobil Ilhae?” tanyanya malas.

Rein membutuhkan sekitar satu menit penuh sampai seseorang yang berada di dalam mobil itu keluar dengan senyuman tipis di wajahnya.

“Mwo?!” Sensitif. Rein merasa ada maksud lain di balik senyuman itu.

“Ani, mobil itu beraromakan dirimu. Jadi.. aku hanya nyaman.”

Skakmat. Entah apa yang harus dikatakan Jung Rein dalam kondisi seperti ini. Rasanya dia ingin melakukan hal seperti biasa –katakan saja, sinis– namun pengalaman yang dijalaninya hari ini bersama seorang Park Chanyeol membuatnya sedikit berhutang budi. Kondisi seperti ini memang tidak pernah mengenakan.

Untunglah bunyi kendaraan yang mendekat menyelamatkan suasana.

Rein menolehkan wajahnya ke arah motor itu dan menemukan sesuatu yang ganjil dalam pandangannya.

Dia tidak mungkin salah karena motor itu adalah motornya Kai.

“Kai?” bisiknya sedikit terkejut.

Disisi lain, Chanyeol sedikit merasakan kekesalan ketika yeoja di depannya menyebutkan nama seseorang. Yang sangat ia yakini adalah nama seorang namja di atas motor hitam besar yang sedang berjalan mendekati mereka.

Kai tersenyum melihat wajah kebingungan yeoja di hadapannya, rekan kerjanya –Rein.

“Wajahmu mirip orang tolol.” Kai bergegas turun dari motor kesayangannya dan menghampiri Rein yang sudah siap melayangkan tinjuannya untuk wajah yang menurut Kai sangat rupawan itu. Wajahnya.

“Untuk apa kau kemari? Rindu padaku, huh?” Ketus, Rein menyapa namja itu dengan sangat dingin membuat kening seorang Chanyeol makin berkerut samar.

“You wish.” Ingin sekali Kai mencubit pipi Rein yang sedang mengembung. Namun kegiatan itu tertunda karena ia menyadari bahwa ada seseorang yang sedang menatapnya dengan tatapan seakan-akan ingin mencekik dirinya hanya dengan tatapannya.

Seakan mengerti keadaan, Kai mundur selangkah dan mengangkat kedua tangannya.

“Aniyo, aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan yeoja ini.”

Entah mengapa Chanyeol terkekeh, dia suka dengan gaya namja dengan rambut acak-acakan di hadapannya ini.

“Park Chanyeol.” Chanyeol mengulurkan tangan kanannya.

“Kim Jongin, atau kau bisa panggil aku Kai.” Balas Kai santai sambil membalas uluran tangan namja yang ia yakini lebih tua darinya ini.

“Apa yang kalian lakukan?” sekali lagi, jurus sinisme seorang Jung Rein kembali mengudara.

“Berkenalan lah.” Speechless. Rein menganga menatap kedua insan di hadapannya yang baru saja mengatakan hal yang sama persis di waktu yang bersamaan. Seakan-akan mereka memiliki ikatan batin yang telah lama terpupuk.

“Kalian menyeramkan.”

Dari jauh terdengar suara langkah kaki yang dihentak – benar-benar dihentak. Sampai ketiga manusia yang sedang berkumpul di depan gedung apartemen tersebut menoleh, khususnya Rein yang memang merasa semuanya janggal terutama mengingat keberadaan Kai yang ganjil disini. Berbeda dengan Park Chanyeol yang clueless dengan situasi.

“YA! DASAR!” terdengar suara teriakan agak tersengal yang sudah sangat dikenal ketiga manusia yang sudah pernah merasakan teriakan marah maut tersebut. Apalagi Rein yang seumur hidupnya tinggal satu apartemen dengannya.

Terlihatlah sosok Ilhae yang berjalan cepat dengan muka yang abstrak, tangannya memegang botol minum yang maaf, kotor terkena debu campuran air. Begitu sampai dengan kerumunan terdekat di hari yang sudah malam itu, Ilhae mengangkat tangannya yang memegang botol. Rein yang memiliki feeling bagus tentang segala tabiat Ilhae sedikit menyipitkan matanya – berjengit dan…

BUKK!

Malanglah sosok Kai yang menerima hantaman mantap dari tangannya yang mengayunkan botol itu.

“HEUSH! NAMJA BABO IDIOT! SAAT TAHU KAU ADALAH SEORANG KAI. AKU LANGSUNG MERASA MENYESAL! DAN BENAR SAJA! BABOYA! SETELAH BERBICARA SINIS BEGITU BISA YA KAU MENINGGALKANKU YANG JELAS-JELAS HANYA MENGAMBIL BOTOLKU YANG JATUH?!” rentetan teriakan tidak tahu diri Ilhae langsung keluar dari lubuk hatinya tidak lupa dengan tangan Ilhae yang sudah membuat botol tidak layak itu menunjuk-nujuk muka Kai.

Rein merasa sangat sanggup untuk tertawa terbahak-bahak dengan kondisi ini. Ilhae anak itu memang sangat memalukan di beberapa kondisi. Chanyeol yang juga berada disitu tidak memperhatikan kedatangan Ilhae yang sangat tidak layak itu, ia lebih memilih memperhatikan wajah Rein yang sangat lucu karena ia sedang menahan tawanya.

Ilhae berusaha mengatur nafasnya yang sudah sekarat, sembari menggerutu yang malah menyebabkan ia kembali mengingat kejadian yang baru saja membuat emosinya bagaikan roller coaster.

Trakkkk….

Saat itu mereka sudah semakin dekat dengan apartemen, tapi suara benda jatuh itu membuat kepalanya menoleh dan menemukan kenyataan kalau botol minum yang selalu setia berada di tasnya itu terlempar menggelinding di jalan raya yang kosong.

“KKEUT!”

Langsung saja motor tersebut mengerem kasar dan ia langsung melompat turun dari motor. Berlari kecil menuju botol minum hijau kesayangannya.

“YA! Bodoh sekali! Menjatuhkan barang…”

Mendengar suara menusuk telinga tersebut ia langsung menoleh dan menemukan sosok Kai – yang ternyata identitas asli dari namja yang ia todong. Kai dengan angkuhnya bersandar pada motornya sembari melipat tangan di dada.

Langsung saja ia sibuk dengan pikirannya yang sudah menyesal semakin menyesal. Ia sebenarnya tidak sudi untuk minta maaf pada namja gila tersebut – tapi… secara kenyataan ia sudah menyusahkan namja itu….

“YA!” ia yang masih berpikir sembari menatap Kai yang perlahan bergerak dari tempatnya.

Dan…

Dash!

Dalam hitungan tidak lebih dari 20 detik melenggang maju meninggalkannya.

Ia masih ingin memikirkan kekesalannya lebih lanjut tapi sebuah helaan nafas mengganggunya dan ia segera mengumpulkan dirinya hanya untuk mendengarkan nada bicara menyebalkan Kai.

“Rein-ah, ternyata kau tidak perlu mempertemukan aku dengan yeoja aneh ini. Jadi kau tidak perlu repot-repot.” Kai menoleh ke arah Rein yang pada akhirnya bisa menghentikan tawanya. Rein hanya mengangguk ringan dan pandangan Kai kembali pada yeoja aneh yang entah mengapa bisa bersahabat dengan seorang Jung Rein –rekan kerja sekaligus temannya. Kai membuka resleting jaketnya dan mengambil sesuatu dari sana dan menyodorkan kotak kecil berawarna putih dengan gantungan itu pada pemilknya. “Igo.”

Ilhae menghela nafas dalam. Menatap dalam ke arah benda mungil yang berada di tangan Kai…

“Ya! Namja menyebalkan! Kenapa ponselku ada padamu – oh ya! Berkat kesempurnaan sikap menyebalkanmu yang merampas ponselku waktu itu bukan?!”

DAK.

Tanpa kasih sayang apapun ia tanpa ragu menendang tulang kering Kai. Membuat celana jeans yang dipakainya ternoda kotoran dari sepatunya. Tangannya dengan sigap menyabar ponselnya. Lalu seakan belum puas ia kembali menendang dan memukul namja yang berada di hadapannya itu. Menyiksanya namja itu hingga terjatuh. Lalu sebagai penutup ia bisa menududuki namja yang sumpah! Membuat dirinya stress karena ponselnya menghilang tanpa jejak. Biarkan saja Rein ataupun Chanyeol yang telah menganga menatap aksi brutalnya.

“Mau diambil tidak?!”

Ilhae menatap tajam Kai, menatapnya sangat sengit. Bayangan pembalasan dendan sempurnanya telah teputus berkat namja itu pula. Tidak ingin menghabiskan tenaga seperti bayangnnya. Walaupun cukup menggoda, Ilhae menyambar ponsel kepemilikannya dan langsung beranjak membuka tasnya.

Tasnya sudah terbuka?

Klik.

Sekarang semuanya menjadi connect. Ia berhasil mengingat kalau setelah ia merogoh tasnya untuk mencari ponsel sia-sia ia tidak menutup kembali tasnya. Lalu membuat botol minumnya terjatuh… oke… dan tadi ponselnya berada pada namja bernama Kai.

Oke… semuanya berkat satu namja hina bernama Kai.

“HAISH!” kali ini Ilhae langsung berjongkok miris, mengacak-acak rambutnya frustasi. Ingin sekali ia…

Cukup…,batin Ilhae. Otaknya telah terlalu mendekati gila atau kriminal.

“Kita seperti penonton saja disini.” Komentar Chanyeol yang tanpa Rein sadari telah berdiri di samping Rein.

“Kau benar. Mereka seperti bocah.”

Chanyeol menolehkan wajahnya ke arah Rein yang masih terkesima melihat pemandangan yang disodorkan di hadapannya –Ilhae dan Kai. Baru kali ini seorang Jung Rein menyetujui ucapannya, dan menjawab perkataannya dengan nada santai.

Park Chanyeol, hari ini adalah hari bersejarahmu.

Sementara telinga Ilhae yang ternyata cukup tajam bisa mendengar perkataan Chanyeol dan Rein, akhirnya kembali pada dunia nyata. Dunia dimana masih ada orang lain selain Kai, yaitu Rein dan Chanyeol yang seakan menatap kejadian barusan seperti atraksi di sirkus yang menarik perhatian.

Tunggu… pikiran Ilhae yang tadi penuh dengan amarah sekarang sudah bisa mengidentifikasikan hal-hal yang seharusnya lebih di perhatikan, seperti…

“Park Chanyeol, kenapa kau bisa ada di sini? Bukankah kau – hmft!” Ilhae tercekat dari perkataannya begitu Chanyeol menyambar mulutnya.

Lalu terdengar bisikan di telinganya, “Aku tidak tahu apa yang akan kau katakan. Tapi kupikir mungkin menyangkut motorku juga apartemenku. Tolong jangan bilang apa-apa. Karena aku baru saja melakukan kebohongan pada Rein.”

Setelahnya wajah datar langsung saja menjadi penghias utama wajah Ilhae.

Sebenarnya Rein melihat adegan bisik-bisik mencurigakan di antara Ilhae dan Chanyeol, namun tidak mau memusingkan ia hanya mengibaskan tangannya dan berkata,

“Hae-ya, aku naik duluan. Terserah padamu ingin melakukan apa pada kedua namja ini. Kai, jangan lupa besok datang lebih pagi. Kau selalu terlambat, bodoh. Dan.. kau. Jalja.”
Lalu Rein menghilang dari pandangan, memasuki pintu lobby apartemen, dan menghilang dibaliknya.

Chanyeol seperti tertampar setelah mendengarkan ‘jalja’ dari Rein, disusul dengan hatinya yang berbunga-bunga.

“REIN! Tunggu!”

Tapi begitu mendengar suara Ilhae yang sudah berniat menyusul Rein ia menarik tangan Ilhae. Berhubung dengan kebodohannya ia harus melakukan sesuatu.

“Ap…” Ilhae yang sudah siap protes tidak jadi mengucapkan kalimatnya karena ia sudah tahu apa yang harus ia lakukan hanya dengan melihat muka memelas Park Chanyeol.

Ia menghela nafas dalam, “Well, sudah malam, dan aku tidak mungkin mengantarmu pulang berhubung rumahmu cukup jauh. Jadi… Kai kau antarkan makhluk bodoh ini ya…”

Lalu dilanjutkan dengan Ilhae yang menarik tangannya dan berlari menuju pintu.

Kedua namja yang malang itu menatap sosok Ilhae berjalan.

BRUK.

Mata mereka langsung bergerak ke bawah mendapati Ilhae baru saja terjatuh karena tersandung tangga pendek menuju lobby.

“YA! SIAL!”

Umpatan kencang itu.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

“PUHAHAHAHA!” koor kompak Kai dan Chanyeol tertawa langsung terdengar di udara.

“Jadi rumahmu dimana?” Kai bertanya setelah meredakan tawanya.

“Sekitar 15 km dari sini.” Ujar Chanyeol santai.

“Kau mengukurnya?” Kai dengan jahilnya bertanya.

“Aku sering datang kesini. Well, alasannya bodoh mungkin. Tapi aku sering kesini untuk melihat Rein. Bolak-balik apartemenku. Jadi aku selalu melihat speedometerku.” Jawab Chanyeol sembari menggaruk tengkuknya.

Kai hanya bisa menganga mendengar penjelasan yang sangat tidak ada kerjaan dari seseorang yang ada di hadapannya sekarang. “Well, kurasa kau sangat menyukai Rein. Aku benar?”

“Definitely. Memangnya kenapa?” Chanyeol beranjak bersama Kai mendekati motor namja itu.

“Tidak apa-apa. Setidaknya kau tidak menyukai yeoja temannya yang sangat gila itu… tunggu siapa namanya? Hae hae?” Kai menaikki motornya dan mulai menyalakan mesin motor.

“Hey, for your information. Yeoja yang kau sebut Hae Hae juga sahabatku.”

“Seriously?”

“For sure. Aku berhutang budi padanya. Jika tidak ada Ilhae, mungkin saja aku tidak akan pernah memiliki kesempatan bertemu dengan Rein lagi.” Chanyeol sedikit bergumam di ujung kalimatnya. Lalu ketika dia menyadari apa yang sedang ia lakukan, ia segera menutup mukanya dengan telapaknya yang lebar.

“Aku seperti sedang curhat saja.”

“Hmm, tidak apa-apa. Kau bisa bercerita banyak padaku. Boleh aku penasaran? Kenapa si Hae Hae itu berjasa? Dan ini belok kanan atau kiri?”

“Kanan. Aneh sekali, kita baru bertemu beberapa menit yang lalu. Namun kita telah bercakap-cakap layaknya sahabat lama yang telah terpisahkan. Rein sangat membenciku karena suatu hal, beruntunglah dia sedikit bersikap baik padaku hari ini. Ilhae banyak berusaha mendekatkanku padanya. Kurang lebih seperti itu.” Chanyeol mengakhiri kalimatnya dengan menghembuskan napasnya panjang.

“Hmmm, rumit juga. Tapi aku tidak menyangka yeoja itu bisa melakukan sesuatu yang berguna.” Kai menatap jalan-jalan malam yang sepi sehingga ia bisa memacu motornya cepat, “Sudah ini belok kiri?”

“Eoh. Ilhae sebenarnya yeoja yang sangat baik. Hanya saja sifatnya yang sangat keras kepala bisa jadi bertentagan dengan karakter sepertimu, Kai.”

Kai hanya mendengus malas.

“Oh yah satu lagi, kau jangan terlalu banyak bertengkar dengan yeoja itu.”

“Kenapa memangnya?”

Dari jauh mata Kai sudah melihat sebuah gedung tinggi – apartemen Chanyeol asumsinya. Kenapa cepat sampai? Sudah pasti karena jalan malam ini sepi dan ia ngebut.

Chanyeol segera turun dari motor Kai dengan langkah lebar 3 menit kemudian.

“Gomawo, senang berkenalan denganmu, Kai.” Chanyeol sengaja mengakhiri perbincangan dan tidak menjawab pertanyaan Kai sebelumnya. Membiarkan Kai mengira-ngira sendiri apa jawabannya.

Kai mengangguk sembari berdecak. Namja bernama Chanyeol itu belum menjawab pertanyaannya.

Apa peduliku juga, batinnya.

Kemudian Kai dengan mudah menepis rasa penasarannya dan berlalu.

To Be Continue…

24 pemikiran pada “Cynicalace (Chapter 3)

  1. Wakakaka lucuuuuuu !!!
    Aku suka moment merekaaa !! Suka suka suka !! Chankaiiii !!!! >.<
    Mereka galak sama pasanganny masing2.. dan itu lucuuu… lanjut thor !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s