Make You Feel My Love (Begin Again)

make-you-feel-my-love-poster

||Title : Make You Feel My Love | Author : Scarlettli ||

||Main Cast : Song Hwasung [OC], Byun Baekhyun [EXO-K], Xi Luhan [EXO-M]||

|| Minor Cast : Kim Joonmyun [EXO-K] ||

||Length : Chaptered | Rated : 13 | Genre : AU, Romance, Friendship ||

Previous; Before chapteredTeaser OneOneTwoThree. Four.

Credit poster : Zola Kharisa. Thank you so much for the lovely poster!

.

.

.

“Aku sudah memendam ini sedari tujuh tahun lalu. Apakah karena aku terlalu lama bertahan jadi terlalu kebal dengan perasaan perih ini?” 

.

.

.

Hwasung menguap sejenak sebelum beranjak dari kasurnya. Seprai putih itu terlihat kusut bahkan beberapa bagian ujung dari seprai itu sudah terlepas. Dengan separuh mata terbuka, ia berjalan menuju kamar mandi. Setelah membersihkan badan, ia mematut di depan cermin lalu tersenyum tipis saat menemukan wajahnya tampak kacau meskipun air dingin itu sudah mendinginkan otak dan tubuhnya. Matanya yang tampak begitu memerah dan membengkak itu menjadi pusat perhatiannya.

“Sudah kuduga.” Gumamnya kesal lalu menghiraukan kondisi matanya yang seperti bola bisbol itu. Ia hanya menyikat giginya lalu memakai bajunya dan memanggang roti. Karena hari ini tidak ada jadwal dengan direktur menyebalkan—

Xi Luhan. Tiba-tiba saja Hwasung merasa sesuatu yang aneh ketika ia mendengar nama itu. Bukan, bukan. Ini pasti bukan rasa suka. Karena selanjutnya yang ia pikirkan adalah kejahilan direktur bodoh nan menyebalkan itu. Hwasung mendengus lalu tersenyum masam.

Semua pria tampak begitu buruk di hadapannya. Karena menurutnya, mereka sangat menyakitkan.

Dan Hwasung berharap ia segera melupakan Baekhyun. Sudah terlalu lama ia memendam rasa itu dan waktunya untuk melupakan Baekhyun semakin menipis. Sekitar dua bulan lagi sebelum musim semi bermekaran. Jika dua bulan lagi, berarti sekarang masih bulan Desember? Hah. Perasaannya natal saja baru terlewati. Jika sekarang masih Desember, berarti…

Hwasung berjalan cepat mengecek ponselnya. Dan benar saja dugaannya. Tanggal tiga puluh satu bulan dua belas. Jadi hari inilah hari terakhir untuk tahun ini. Sepertinya sehari cukup untuk membuat resolusinya di tahun mendatang. Kebetulan sekali, ia mendengus.

“Waah, waktu berjalan cepat sekali.” Ia menggeleng pelan. Jarinya terdiam sejenak di udara. Ia menggigit bibirnya jika mengingat tentang ponsel ini. Ponsel yang ia nyalakan dua jam setelah ia membuangnya. Agak kejam untuk menyalahinya memang. Tetapi pikirannya saat itu begitu kacau sehinga tak sadar ia telah melempar ponsel itu hingga baterainya terlepas. Dan kini, dengan ponsel yang hampir sekarat itu—awalnya ponselnya berontak dan tidak menyala, namun setelah beberapa kali menekan sadis ponsel itu akhirnya ia menyala dengan layar LCDnya yang telah rusak, jadi semuanya pun terlihat agak kabur—ia berharap ponsel itu tidak akan rusak sebelum ia kembali ke Korea. Setidaknya ia memerlukan alat komunikasi dan terlalu sayang jika ia membeli ponsel itu di sini.

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan kakao talk masuk. Ia menggigit bibirnya saat Joonmyun mengirimkannya sebuah pesan.

Halo, manis. Bagaimana kabarmu? Apakah tidurmu nyenyak semalam? Ah~ aku lelah sekali. Meskipun sekarang ini jam sibukku aku tetap menghubungimu. Aku ini hebat bukan?

Dengan tangannya yang bergetar ia menggerakkan jari-jari itu. Sambil mengetik pesan untuk Joonmyun, dalam benaknya Baekhyun kembali terlintas dan ia malah sempat menghawatirkannya. Hwasung bodoh. Baekhyun bahkan sudah memiliki pengganti, dan ia sudah bahagia di sana. Bagaimana denganmu di sini? Terus memikirkannya tanpa henti meskipun pria itu tidak memikirkannya?

Bodohnya.

Tak sadar Hwasung malah mengirimi Joonmyun pesan bodoh.

Aku juga lelah sekali oppa. Mau mati saja rasanya. Apa dengan mati semuanya akan hilang ya? Lagipula sepertinya aku sudah lama merindukan Hwajung oppa. Bagaimana menurutmu oppa? Oh apa kau baik-baik saja?

Hwasung hendak menghapus pesan itu tetapi tiba-tiba saja ponselnya bergetar hebat dan yang benar saja, Joonmyun meneleponnya!

Sambil menggigit bibirnya dan menutup matanya, ia menjawab panggilan itu dan agak menjauhkan ponselnya dari cuping karena tahu, Joonmyun akan marah besar padanya.

“YA, SONG HWASUNG BAGAIMANA KAU BISA BICARA SEPERTI ITU BODOH? ADA APA DENGANMU? MENGAPA TIDAK BERCERITA KEPADAKU? JANGAN LANGSUNG MENYIMPULKAN BAHWA MATI ITU ENAK, BODOH!” pekik Joonmyun. Mungkin akan lebih menyeramkan jika ia berada dalam satu tempat dengannya. Dan Hwasung berdoa semoga Baekhyun tidak berada dalam satu tempat dengan Joonmyun yang sedang meledak-ledak ini.

Hwasung mendekatkan ponsel itu lalu tersenyum lebar. “Oppa, ada apa denganmu? Pelankan suaramu, aku hanya bercanda saja.”

TIDAK. AKU TIDAK AKAN BERHENTI JIKA KAU TIDAK MENGATAKAN PADAKU YANG SEBENARNYA. DI MANA KAU? DI BELAHAN THAILAND MANA YANG SEDANG KAU TAPAKI? YANG JELAS ADA APA DENGANMU!

Hwasung menghela napas lalu menggigit bibirnya. “Aku baik-baik saja, oppa. Sungguh.” Hwasung meremas kaus putihnya. “Aku hanya… hanya… aku tidak tahu, oppa.”

Tiba-tiba suara Joonmyun melembut dan membuat Hwasung menangis saat itu juga. “Hei, hei, hei. Ada apa denganmu? Ceritakan padaku apa yang terjadi.”

“Aku tidak tahu, oppa. Aku sudah berusaha melupakannya. Aku bahkan hampir melupakannya. Tetapi mengapa hati ini begitu sakit saat mendapatinya bersama orang lain? Padahal aku sendiri sudah mulai beranjak darinya. Tetapi mengapa mendengar ia bersama orang lain membuatku kembali berpaling kepadanya? Kenapa oppa? Mengapa semua itu begitu sakit?”

“Aku sudah memendam ini sedari tujuh tahun lalu. Apakah karena aku terlalu lama bertahan jadi terlalu kebal dengan perasaan perih ini? Ia dekat dengan gadis yang kukenal, aku mengerti. Ia berhubungan bahkan sudah bertunangan dengan Hwang Joohyun, teman kuliahnya yang kukenal baik, aku bertahan. Meskipun hatiku sudah menjerit dan berontak untuk bebas tetapi hatiku akan selalu melemah ketika melihatnya. Dan kini setelah mereka telah menghilang dari Baekhyun, mengapa Baekhyun dengan mudahnya dapat menemukan orang lain sementara aku yang sama sekali tidak bisa melupakannya?!”

Hwasung mengatakan hal sepanjang itu dengan emosi yang meluap-luap. Meskipun tidak berteriak seperti Joonmyun tetapi Joonmyun sadar bahwa teman percakapannya ini menahan tangisnya. Tangis yang sudah terlalu lama terpendam dan kini pecah begitu saja. “Hwasung-ah, tarik napasmu lalu hembuskan. Dan kembali ceritakan padaku.”

“Semuanya begitu rumit, oppa. Jika terus seperti ini percuma saja pelarianku selama ini. Padahal tujuan utamaku untuk melupakannya, tetapi mengapa semuanya malah sia-sia? Jadi aku harus bagaimana untuk melupakannya oppa?”

Terdengar desahan berat dari sana sebelum Joonmyun berkata. “Aku akan menghubungimu kembali Hwasung. Pastikan ponselmu tetap menyala dan jangan lakukan hal bodoh apapun. Apapun. Ingat itu.

Setelah Joonmyun mematikan ponselnya dan kini ia terduduk. Matanya menatap kosong ke depan namun tak ada apapun dalam benaknya. Semuanya kosong.

“Hwasung? Kau di dalam kan? Aku masuk ya.”

Hwasung mengangkat wajahnya kaget ketika pintu apartemen miliknya berdecit terbuka dan menampilkan seorang pria dengan dengan begitu tampannya. Xi Luhan. Pria yang hampir mengalihkan dunia Hwasung sejenak. Pria yang hampir menjungkir-balikkan perasaannya.

Hingga kejadian tadi malam. Ia bahkan masih ingat percakapan Baekhyun dengan wanita tak dikenal itu sampai sekarang.

“Hwasung? Ada apa denganmu?”

Hwasung menunduk dan segera menggeleng. Ia mengepalkan kedua tangannya begitu keras. Meski air matanya telah jatuh terus-menerus tak henti, Hwasung sama sekali tidak mengharapkan rasa simpati sekarang ini.

Ia begitu putus asa dengan perasaan yang meletup-letup dan hampir tumpah ini.

“Kau menangis? Kau bisa ceritakan padaku apa yang terjadi?”

Hwasung menggeleng lemah. Seluruh tubuhnya bergetar menahan tangis terisaknya. Ia bahkan tak berani menunjukkan wajahnya yang tampak begitu kacau dengan matanya yang membengkak dan memerah.

“Hwasung, angkat kepalamu.”

Hwasung terdiam. Ia tidak berani melakukan hal itu. Meski ia berharap Luhan memberinya semangat seperti sebelumnya, tetapi ini berbeda. Ia bahkan merasakan sesuatu ini lebih kuat.

Baekhyun bahkan sudah memiliki tambatan hatinya, lalu mengapa ia tidak?

Tiba-tiba Hwasung merasakan tangan besar Luhan menyentuh dagunya dan memaksanya untuk menatap mata Luhan yang kini membulat kaget. Luhan menghela napas pelan lalu berdiri.

“Ayo pergi.”

Tanpa konfirmasi dari Hwasung, Luhan langsung menarik Hwasung dan membawanya pergi saat itu. Tak peduli Hwasung dengan baju tidurnya, Luhan hanya ingin tangisan itu berhenti.

Setidaknya, Hwasung harus menghentikan tangisan untuk orang lain yang tidak berguna.

.

.

.

Luhan berjalan cepat sambil memegang minuman kaleng. Sesaat setelah ia masuk mobilnya, ia menyerahkan salah satu minuman yang baru saja dibelinya pada gadis yang kini masih berusaha untuk menghapus air matanya.

Hwasung menoleh lalu mengambil minuman dingin itu dan tersenyun tipis. “Terima kasih banyak.”

Hwasung membuka minuman itu dan segera menegaknya. Luhan tersenyum melihat tingkah kekanakan Hwasung di saat-saat seperti ini. “Kau merasa lebih baik?”

Hwasung menoleh lalu mengangguk. “Terima kasih banyak.” Hwasung tersenyum tipis sebelum melanjutkan, “Untuk semuanya. Entah kenapa aku merasa kau selalu berada di waktu yang tepat.”

“Aku seperti superhero bukan?” Luhan terkekeh. Sementara Hwasung terdiam.

“Setiap superhero, ketika sedang menjalankan misinya untuk menyelamatkan dunia, ia harus menuntaskannya bukan? Apapun itu, bagaimana pun itu. Meskipun harus mengorbankan nyawanya sendiri.”

“Dan pada akhirnya jika superhero itu selamat, ia harus pergi. Untuk tetap hidup, dan membantu bagian lain yang sedang kesusahan.”

Hwasung menunduk lalu menghela napas panjang. Tiba-tiba saja perasaan itu kembali membuatnya lemah. Meski alasan yang cukup tidak masuk akal, kini Hwasung  berharap tidak pernah mengenal Baekhyun. Pria itu terlalu menyakitkan untuk diketahuinya.

Ah, bukan. Bukan pria itu yang salah. Salahkan perasaan wanitanya ini yang terlalu menginginkan lebih. Salahkan keinginannya yang terlalu membuncah tinggi tanpa didukung dengan kenyataan. Semua salahnya, dan ia sama sekali tidak bisa menyalahkan Baekhyun. Mungkin seharusnya ia pergi saja ya? Tetapi pergi kemana? Ia sudah melarikan diri ke Thailand pun, Baekhyun masih tetap berputar dalam memorinya. Haruskah ia masuk ke dalam inti bumi agar bisa melupakan Baekhyun?

“Ada apa?” Luhan menatapnya khawatir. Sedari tadi, gadis itu hanya menghela napas panjang lalu memberikan raut wajah muram. Luhan memang tidak begitu mengerti apa yang terjadi, dan ia pun tidak ingin segera menodong Hwasung dengan pertanyaan-pertanyaan yang malah membuat Hwasung semakin buruk.

Hwasung menggeleng lalu kembali mendesah panjang. Ia menunduk dan tiba-tiba mengulurkan tangannya dan memegang baju Luhan. Luhan menatap tangan itu kaget lalu menatap Hwasung yang kini bergetar. Gadis itu tampak begitu rapuh sekarang.

“Tolong jangan pergi, Luhan.”

“Apa?”

“Jangan pergi.” Hwasung menggigit bibirnya, menahan tangisnya. “Kumohon.”

Luhan terdiam sejenak lalu tersenyum. Ia mengelus rambut Hwasung lalu memeluk gadis itu begitu erat.

“Tak akan terjadi.” Luhan tersenyum. “Karena kau yang memintaku untuk tidak pergi.”

Hwasung mengangguk lalu menangis. Ia tidak menahan itu semua sekarang. Pelukan hangat Luhan membuat semua rasa ketakutan itu kini membuncah dan membuatnya merasa lebih baik. Tangan Luhan yang memeluknya erat dan aroma parfum Luhan membuatnya ingat pada sesuatu.

Hwasung segera melepas pelukan itu lalu menunduk. Wajahnya yang memerah yang baru menyadari ia baru saja memeluk Luhan. Ia segera menghapur air matanya lalu berkata. “Maafkan aku. Aku… lancang sekali ya?”

Luhan terkekeh. “Anggap saja aku meminjamkan bahuku untukmu. Oh tidak perlu. Kita adalah teman kencan bukan? Kau boleh memelukku.” katanya lalu mengamit tangan Hwasung dan segera memeluknya.

Hwasung menggigit bibirnya dan menahan suara isakannya. Walaupun ia menenggelamkan wajahnya pada dada Luhan, ia masih merasa canggung dengan pria itu. Bukan, yang pertama adalah kecelakaan. Lalu bagaimana dengan ini?

Dan sekarang, Hwasung bisa merasakan degupan jantung pria itu yang begitu mengelitiknya.

“Kau boleh menangis. Aku terima jika kau membasahi bajuku.”

“Benarkah?” suara kecil Hwasung yang tenggelam oleh air ludahnya. Ia terdiam sejenak lalu mengeratkan pelukan pada Luhan. Dan menangis.

“Hari ini adalah hari terakhir kau menangis karena pria itu. Yang benar saja, kita sedang berkencan dan kau menangisinya? Hah, lalu menurutmu aku ini apa?”

Luhan menghela napas lalu manjatuhkan kepalanya di atas kepala Hwasung. Aroma shampoo Hwasung seketika memenuhi ruang pernapasannya dan kini membuatnya semakin sesak. Ia sepertinya mulai gila.

“Yang jelas, aku pasti tidak menyukai pria itu.”

Dan Hwasung benar-benar berharap ia menyukai Luhan sekarang.

.

.

.

Sesudah kejadian itu—yang, ehem.. agak memalukan bagi Hwasung—Luhan membawanya kembali pulang. Lagipula, Hwasung sama sekali tidak mempersiapkan apa-apa saat Luhan membawanya pergi tadi. Ia bahkan belum membersihkan dirinya yang masih memakai piyama tidur tadi malam. Ia benar-benar kehilangan pikiran saat sebelum Luhan membawanya tadi.

Sementara Luhan kini duduk di sofa, Hwasung berdiri canggung menatap Luhan yang mulai mendapatkan posisi nyamannya. “Anda… em… kau…”

Luhan menatap Hwasung lalu tersenyum. “Kau bisa memanggilku dengan banmal, jika kau tidak keberatan. Bukankah kau biasanya berbuat seperti itu padaku pada waktu di luar kerja?”

“Oh.. ah, benar juga.” Hwasung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Gadis itu menjadi gugup sekarang. Dan Luhan cukup menikmati kegugupan yang gadis itu rasakan sekarang.

“Aku… ingin yah, membersihkan diri. Anda… ehem… kau, Luhan, mau menunggu?”

Luhan tersenyum menahan tawanya. Gadis itu benar-benar telihat polos sekarang. “Ya, aku akan menunggu di sini.”

“Oh, oke kalau begitu.” Hwasung terdiam sejenak. “Ingin kubawakan sesuatu? Seperti minuman dingin?”

“Tidak perlu. Ayolah, Hwasung. Waktumu akan semakin menipis untuk berkencan denganku.”

“Oh, ya.” Hwasung berbalik dan berjalan beberapa langkah sebelum berbalik dan menatap Luhan kaget. “Berkencan?”

Luhan tertawa sekarang. “Cepatlah selesaikan urusanmu itu lalu pergi denganku.”

Hwasung menghela napas lalu berbalik. Sementara Luhan tersenyum lebar melihat tingkah gadis itu. Begitu polos, seperti bunga lily putih.

Ia terlalu putih untuk menjadi hitam.

.

.

.

Sesudah Luhan mengitari mobilnya lalu masuk dan duduk di samping Hwasung, kni giliran gadis itu menatap Luhan. Pria itu memang tampan. Hidung mancung dan potongan rambut yang begitu memukau menjadi daya tariknya. Ia menjamin pria itu mendapat puluhan surat pernyataan cinta sewaktu SMA.

Tanpda sadar kini Luhan menatapnya dalam. Salah satu alisnya tampak sedikit terangkat. “Ada apa?”

Hwasung segera menggeleng dan mengalihkan pandangan menatap ke depan. Tak dapat dipungkiri kini jantungnya berdegup lebih kencang. Meskipun begitu, entah mengapa bayang-bayang Baekhyun masih berada di pikirannya. Sebenarnya ada apa dengannya?

Tidak mungkin ia menyukai dua pria sekaligus bukan?

Baru saja ia menghela napas, kini Hwasung menahan napas ketika Luhan mencondongkan tubuhnya dan kini memiliki jarak yang hamper terhapuskan. Hwasung bahkan merasakan napas Luhan menerpa wajahnya. Hwasung menutup kedua matanya, ia begitu takut menatap kedua mata itu.

“Selesai.”

Selesai? Maksudnya selesai apa? Ia tak merasakan apapun menyentuh tubuhnya. Tetapi saat melihat dirinya yang sudah memakai seatbelt, ia mengerti. Baru saja ia berpikir macam-macam kalau pria itu akan…

Sudahlah. Hwasung merasakan wajahnya memanas.

“Baiklah, kita berangkat.”

Hwasung menghela napas pelan sambil meyakinkan hatinya. Ia baik-baik saja.

Setidaknya saat ini.

.

.

.

“Sampai.” Luhan menarik persneling lalu tersenyum lebar menatap ke depan. “Indah sekali bukan?”

Sementara Hwasung tak mengindahkan perkataan Luhan, gdais itu masih terkagum-kagum dengan apa yang dilihatnya. Lampu-lampu bersinar begitu menyilaukan. Dan sebuah cahaya yang tampak berkilau di antara air yang menggenang luas.

“Hebat sekali. Waah.”

Luhan tersenyum lalu membuka keluar dari mobilnya. Ia berjalan menuju sisi lain mobilnya dan membuka pintu mobilnya untuk Hwasung. Hwasung menatap Luhan kaget sementara yang dipandangi tersenyum.

“Kita harus segera sebelum perahu berangkat. Kau tidak ingin tertinggal kan?”

Hwasung menurut dan membuka seatbeltnya lalu turun. Ia menatap dermaga itu lalu tersenyum lebar. “Aku tak menyangka Thailand seindah ini.”

“Setiap negara memiliki ciri khas masing-masing. Dan salah satu andalan Thailand adalah ini. Asiatique the Riverfront!”

Luhan merentangkan kedua tangannya lalu tersenyum dan menatap Hwasung. “Angin yang berhembus begitu menyenangkan bukan?”

Hwasung mengangguk. “Ya, kupikir begitu.”

“Kalau begitu, ayo.” Luhan mengamit tangan Hwasung lalu tersenyum lebar sebelum berkata. “Ini hanya permulaan.”

Hwasung membulatkan mulutnya sejenak sebelum tersenyum dan mengangguk. “Kalau begitu, tolong bantu aku untuk memulainya.”

“Memang seharusnya begitu, bukan?”

Hwasung mengangguk, tak tahu harus berbuat apa. Meskipun hatinya masih terasa gundah dan sakit. Oh, Joonmyun oppa! Bagaimana dengannya? Bukankah ia menyuruhnya untuk tetap menyalakan ponselnya dan menunggunya untuk menelepon lagi? Hah, bagaimana bisa menelepon, ponselnya bahkan mati beberapa menit setelah panggilan itu.

Hwasung hampir mati putus ketika merasakan tangan kanannya menghangat. Oh ya. Ia baru ingat. Luhan menggenggam tangannya. Hwasung terdiam sejenak lalu mengangkat wajahnya dan berkata,

“Oh, ya. Luhan-ssi. Apa aku boleh meminjam ponselmu?”

.

.

.

Iklan

16 pemikiran pada “Make You Feel My Love (Begin Again)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s