May I Love You? (Chapter 8)

May I Love You (2)

 

Author: @kim_mus2

Main Casts:

  • Kai a.k.a Kim Jongin
  • Yoon Ahra

Support Casts:

  • Oh Sehun
  • Kim Hana (Just Mentioned)
  • Park Chanyeol (Just Mentioned)

Length: Multi Chapter

Genre: Romance, Angst, Drama

Rating: PG-15

~***~

“Ahra…” Jongin memisahkan tubuh Ahra dari tubuhnya. Dilihatnya gadis itu hampir tak sadarkan diri. Kedua tangannya terus memegangi perut bagian kirinya dan dari sana, darah segar tak hentinya mengalir. Kaos putih yang dikenakannya sudah berganti merah di daerah sekitar ginjal. Cardigan dan rok berwarna cream yang dikenakannya pun tak luput dari bercak darah.

“Hhh… Jongin-ssi,” lirih Ahra. Rasa sakit membuatnya kesulitan bernafas. Melihat Ahra yang seperti itu, sungguh membuat Jongin putus asa.

“Kenapa kau melakukan semua ini, bodoh?” Jongin menahan rasa sakit di dadanya yang terus meledak-ledak. 

“Aku tak ingin kau terluka, tuan.” Jawab Ahra sambil memejamkan matanya kuat-kuat, berharap rasa sakitnya akan berkurang. Sayangnya, usahanya itu tidaklah berarti. Tubuhnya semakin tak kuasa menahan semua itu. Ahra pun kehilangan kesadarannya dan terkulai lemah pada topangan Jongin.

Yah! Bertahanlah Ahra!” Jongin terus mengguncangkan tubuh Ahra, tapi gadis itu tak memberi respon apapun. Dengan perasaan becampur aduk, Jongin memeluk tubuh Ahra sambil menutup kedua matanya. Perasaan bersalah itu muncul lagi. Perasaan bersalah yang seperti akan menelannya hidup-hidup.

Saat pertama bertemu dengan gadis ini, Jongin telah membuat hatinya terluka karena tak bisa bertemu orang tuanya di saat terakhir. Sejak saat itu, Jongin memutuskan untuk melindunginya demi menebus semua dosa yang ia perbuat. Tapi, apa yang ia lakukan sekarang? Gadis itu terluka lagi karenanya. Kali ini, bukan hati gadis itu yang ia sakiti, melainkan raganya. Jongin benar-benar mengutuk semua perbuatannya itu.

“Ahra, kau harus hidup!” Jongin langsung menggendong Ahra kemudian berlari sekuat tenaga untuk mencari pertolongan. Kali ini, tak ada gengsi ataupun ego lainnya dalam diri Jongin. Ia meminta bantuan warga sekitar untuk membawa gadis itu sampai ke rumah sakit. Nyawa Ahra lebih penting dari apapun baginya, saat itu.

~***~

Seorang pemuda dengan pakaian yang dipenuhi bekas darah, duduk tertunduk menopang keningnya dengan kedua tangan yang bertaut, di sebuah bangku depan ruangan bertuliskan Instalasai Gawat Darurat.Dalam kesendiriannya di tempat itu, ribuan doa tak hentinya ia panjatkan demi seseorang yang berada di dalam sana. Di ruangan itu. Di ruangan yang akan menentukan hidup dan matinya.

Berjam-jam menunggu, gadis yang dinantinya belum juga keluar dari tempat itu. Hati pemuda bernama Kim Jongin ini semakin begitu tersayat. Jika gadis itu sampai kehilangan nyawanya, dia bersumpah untuk mengakhiri hidupnya saat itu juga. Tak ada gunanya lagi jika ia harus hidup dengan bayangan dosa yang akan terus memburunya.

Di tengah keputusasaannya yang semakin menjadi, seseorang datang menghampiri dengan nafas yang masih terengah karena banyak berlari. Orang itu kemudian duduk di samping Jongin kemudian merangkulnya.

“Kai! Gwenchanayo?” Tanya orang itu sambil memasang wajah khawatir, karena melihat Jongin yang terlihat kacau dengan wajah babak belur dan baju penuh bekas darah.

“Aku membuat gadis itu terluka, Sehun-ah. Aku pantas mati.” Ungkap Jongin penuh penyesalan. Dia tertunduk lebih dalam, hanyut dalam kalut yang terasa membunuhnya perlahan.

Sehun memeluk sahabatnya erat. Ini adalah kali kedua baginya melihat Jongin yang rapuh seperti ini.

“Kau harus kuat Kai!” Sehun terus menepuk punggung Jongin, mencoba memberikan ketenangan untuk sahabatnya itu. Selama ini, kedua sahabat itu memang selalu berbagi rasa senang dan sedih bersama. Keduanya sudah terlanjur mengerti dengan apa yang dirasakan satu sama lain.

Hampir tiga jam berlalu. Ahra masih belum juga keluar dari ruang operasi. Meskipun lelah kian menerpa tubuhnya, Jongin masih tetap terjaga, tidak seperti sahabatnya yang sudah tertidur di sampingnya. Melihat Sehun yang tertidur itu, Jongin membentuk seulas senyuman. Dia bersyukur, di saat terpuruk seperti ini, masih ada yang peduli pada dirinya.

“Kim Jongin.” Tak dapat dipungkiri, sebuah suara membuat Jongin terkesiap. Saat menyadari siapa yang memanggilnya, Jongin langsung memalingkan muka. Dirinya bahkan tak sudi untuk sekedar menatap orang itu.

“Pak Han, tolong ambilkan kotak P3K.” Tutur lelaki paruh baya pada orang kepercayaannya yang dengan segera kembali bersama peralatan yang diminta.

“Apa yang kau lakukan disini, huh?” Tanya Jongin ketus dan masih tak berniat untuk melakukan kontak mata dengan orang yang ditanya. Tanpa mempedulikan pertanyaan Jongin, lelaki paruh baya yang tak lain adalah Tuan Kim itu berjongkok di depan Jongin dan mulai meraih wajah anaknya yang penuh luka itu.

“Lepaskan!” Tolak Jongin  seraya menepis tangan sang ayah.

“Diamlah.” Tuan Kim terus mengobati luka di sudut bibir Jongin dan beberapa di dekat tulang pipi anaknya itu. Entah apa yang terjadi, Jongin tak melakukan perlawanan lagi. Kenangan masa lalu tiba-tiba membuatnya lemah.

Flashback

“Eomma, hyung, tunggu aku!” Jongin kecil berlari tergopoh-gopoh dengan kaki kecilnya untuk mengejar ibu dan kakaknya yang sedang berlari riang menuju sebuah kolam di belakang rumahnya. Karena tak memperhatikan jalan, kaki Jongin tersandung batu. Badannya langsung oleng dan ia pun akhirnya terjatuh. Bagian depan tubuh Jongin kecil mendarat dengan begitu keras di atas tanah.

BUG

“Aww!” Rintihan Jongin terdengar jelas oleh Tuan Kim yang sedang sibuk dengan kegiatan memancingnya. Tuan Kim pun menoleh dan terkejut luar biasa. Anak bungsunya terjatuh dengan posisi tengkurap. Dengan segera, ia pun berlari menghampiri anaknya itu.

“Jongin-ah, gwenchana?” Diangkatnya si Jongin kecil, kemudian ia dudukkan di pangkuannya.

“Huhuhu… sakit….” Jongin menangis tersedu sambil memegangi lututnya yang berdarah.

 “Ssstt… uri Jongin jangan cengeng dong… Sini biar appa ucapkan mantra agar lukanya tidak terasa sakit.”

“Eh? Mantra apa, appa?Tanya Jongin dengan tatapan polosnya.

“Jongin kuat! Jongin hebat! Fuuh!” Kata-kata yang Tuan Kim anggap mantra itu di akhiri dengan tiupan di lutut Jongin.

“Ahahaha. Gomawoo appa, lukaku tidak terasa sakit lagi.” Jongin kecil tertawa riang. Tuan Kim tersenyum bahagia sambil mengusap lembut rambut anaknya.

“Kau harus jadi lelaki yang kuat Jongin-ah. Arasseo?”

Ne, appa.” Anggukan Jongin membuat Tuan Kim puas. Beliau pun berdiri dengan Jongin yang berada dalam gendongannya.

“Okey! Sekarang kita rawat dulu lukamu ya. Kajja!”

“Kajja!”

Flasback off

“Selesai,” puas Tuan Kim yang telah merampungkan kegiatannya merawat luka Jongin.

“Cepat pergi dari sini. Aku muak melihatmu.” Jongin melontarkan kata-kata yang langsung menusuk hati sang ayah. Tuan Kim hanya tersenyum pahit. Dia tak bisa menyalahkan semua sikap anaknya ini. Kebencian yang tertanam dalam diri Jongin adalah kesalahannya sepenuhnya.

“Baiklah. Aku akan pergi. Kedatanganku ini sebenarnya hanya untuk memberitahumu kalau orang-orang yang menyerangmu dan gadis itu sudah mendekam di penjara.”

Jongin tersentak. Ayahnya telah melakukan sesuatu yang tak pernah diduganya. Dari dalam lubuk hati terdalam, Jongin ingin sekali mengucapkan banyak terima kasih. Tapi, ucapan itu hanya bisa tertahan, hingga lelaki yang dulu menjadi kebanggaannya itu menghilang dari jangkauan matanya.

~***~

Setelah menunggu begitu lama, akhirnya tim medis keluar dari ruang operasi. Mereka terlihat kelelahan, tapi Jongin tak peduli. Ia harus bertanya untuk memastikan keadaan Ahra.

“Dokter, bagaimana keadaan Ahra?”

“Dia sudah melalui masa kritisnya.” Jongin pun bisa bernafas lega. Gadis itu masih bisa bertahan hidup. Beban di pundaknya serasa berkurang perlahan.

“Tapi, masa penyembuhannya mungkin akan sedikit lama. Luka dibagian perutnya sedikit merobek selaput ginjal,” terang sang dokter.

“Jadi, apa yang harus kulakukan agar dia bisa sembuh total dok?”

“Sabar dan berdoa. Hanya itu yang perlu anda lakukan. Selebihnya, biar kami yang berusaha.”

Arasseo. Terima kasih banyak dok.”

~***~

Di ruangan yang serba putih ini Jongin masih menatap lekat-lekat seorang gadis yang terbaring tak sadarkan diri di atas ranjangnya. Tanpa bisa ia kendalikan, tangannya sudah berada di puncak kepala gadis itu dan usapan lembut pun ia berikan dengan tulus.

“Siapa kau sebenarnya? Kenapa aku bisa terjebak dalam duniamu, Yoon Ahra?” Gumam Jongin pelan.

“Kai, ayo kita makan dulu.” Sehun masuk ke dalam ruangan rawat dengan tanpa aba-aba, membuat Jongin kaget dan langsung menjauhkan tangannya dari kepala Ahra.

“Kita makan disini saja,” ucap Jongin datar, berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.

“Baiklah. Tunggu ya.

Sesaat setelah kepergian Sehun, Ahra menunjukkan gerakan-gerakan kecil. Jongin lantas kembali mendekati gadis itu dan segera menghubungi dokter dengan sambungan telpon yang tersedia di ruangan itu.

“Ahra…” panggil Jongin saat gadis itu membuka matanya.

“Jongin-ssi…” gadis itu tersenyum mengetahui Jonginlah yang pertama kali ia lihat setelah masa-masa tersulitnya berlalu. Namun, perlahan senyuman itu pudar karena ucapan Jongin yang terkesan dingin dan membuatnya begitu sedih.

“Jangan pernah melakukan hal bodoh itu lagi. Aku tak suka.”

“Tapi, aku senang bisa menolongmu, tuan,” jawab Ahra sedikit terbata karena bagian perutnya sedikit terasa ngilu.

“Tuan, tolong jangan ajak nyonya untuk banyak bicara dulu.” Lelaki berjubah putih muncul dari balik pintu diikuti dua orang suster, lalu berjalan menghampiri Ahra dan Jongin.

“Baik.” Jongin mundur, lalu memberi kesempatan pada dokter untuk memeriksa keadaan Ahra. Setelah selesai, dokter itu pun memberikan pesan yang cukup panjang pada Jongin yang ia kira adalah suami dari Ahra.

“Tuan, tolong jaga istri anda baik-baik. Pastikan nyonya makan dengan teratur, sesuai dengan menu yang akan kami sediakan. Kemudian, periksa luka di perutnya secara rutin. Kalau ada sesuatu yang terjadi, segera hubungi saya.” Dokter itu pun pergi setelah mengakhiri pesan-pesannya.

Tak berapa lama, kepergian pun berganti dengan kedatangan. Dari luar pintu terdengar suara seorang namja yang membuat Jongin memutar bola matanya bosan. Ahra mengulum senyum memperhatikan raut wajah Jongin ketika melakukan itu.

“Kau tidak cocok menjadi seorang suster nona. Kau lebih cocok menjadi seorang model.” Sehun menggoda seorang suster yang hendak membawakan makanan untuk Ahra. Dengan sangat hiperaktif, Sehun terus berjalan mengikuti suster itu. Dia sama sekali tak mempedulikan Ahra yang terus tersenyum melihat tingkahnya dan Jongin yang menatapnya dengan putus asa.

“Kau tidak percaya padaku nona? Kau benar-benar sangat cantik.” Sehun mengacungkan kedua jempolnya, namun suster itu hanya bisa tersenyum.

Omo! Kau bahkan makin cantik saat tersenyum. Kau memang terlahir untuk menjadi model.” Celotehan Sehun ini akhirnya ditanggapi sang suster tepat sebelum ia  bermaksud meninggalkan ruangan.

“Terima kasih atas pujiannya, tuan. Tapi, suami saya tidak akan mengizinkan kalau saya menjadi seorang model.”

Bagaikan habis disambar petir dan terombang-ambing oleh angin puting beliung, Sehun ambruk di tempat dengan ekspresi yang sangat menyedihkan. Secara natural, Jongin dan Ahra saling bertatapan kemudian membekap mulutnya, menahan tawa.

“Tak usah menertawaiku. Bantu Ahra makan saja, Jongin-ah.” Sehun berjalan gontai menuju sofa kemudian merebahkan tubuhnya disana. Dipandanginya langit-langit kamar itu dan nafas berat pun ia hempaskan begitu saja.

Seperti saran Sehun, Jongin pun mulai membantu Ahra untuk makan. Untuk langkah pertama, Jongin mengangkat punggung dan kepala Ahra untuk bangun. Setelahnya, dengan sangat hati-hati, Jongin menarik tubuh Ahra yang sudah terduduk agar bergeser sedikit ke belakang sehingga gadis itu dapat bersandar dengan nyaman di punggung ranjang. Semua kegiatan ini membuat Ahra terpaksa menahan napasnya kuat-kuat. Jarak wajah Jongin yang terlalu dekat sungguh bisa membuatnya meledak.

Setelah itu, Jongin mengambil semangkuk bubur dari nampan yang dibawa suster tadi. Diaduknya bubur itu ala kadarnya dengan sendok, sebelum akhirnya ia suapkan pada Ahra.

“Buka mulutmu.” Perintah Jongin yang satu ini pun tak hentinya membuat Ahra salah tingkah. Semua ini terasa bagaikan mimpi bagi Ahra. Tapi, lelaki bernama Kim Jongin ini benar-benar melakukannya, memberikan setiap suapan dengan amat hati-hati dan menunggu Ahra menghabiskan setiap suapan itu dengan sabar.

Usai memberi asupan nutrisi, Jongin pun memeriksa luka di perut Ahra, takutnya luka itu masih mengeluarkan darah. Bagi Ahra, kegiatan yang satu ini lebih menyesakkan dada dan membuat jantungnya kelelahan oleh kegiatannya yang semakin ekstrim. Pasalnya, untuk melakukan pemeriksaan itu, Ahra harus mengangkat bajunya dan mengekspos bagian perutnya di hadapan Jongin. Tapi, apalah daya, kegiatan itu sudah diamanatkan sang dokter demi kesembuhannya.

Selama hampir satu minggu, kegiatan yang telah dijelaskan di atas  menjadi kegiatan rutin yang Jongin lakukan setiap harinya. Sehabis pulang kerja, Jongin selalu membawakan barang-barang kebutuhan Ahra, kemudian menginap di kamar rawat gadis itu. Dia tak ingin melewatkan harinya untuk menjaga Ahra. Tak akan pernah lagi dia membiarkan gadis itu terluka barang sedikitpun. Janji itu tertanam kuat dalam dirinya.

~***~

Di hari terakhir masa perawatannya, Ahra terduduk di kursi roda di depan ruang rawat inapnya, masih menunggu Jongin untuk menjemputnya. Ahra dilarang keras oleh Jongin untuk pulang sendiri. Dalam penantiannya yang cukup panjang, tanpa diduga Sehun datang untuk membesuknya.

“Ahra-ssi, kenapa kau ada di luar?” Tanya Sehun keheranan dengan Ahra yang sudah terduduk di kursi roda dengan satu tas pakaian di atas pangkuannya.

“Hari ini aku sudah boleh pulang ke rumah, Sehun-ssi.” Jawab Ahra sambil tersenyum simpul.

“Oh, geuraeyo? Syukurlah, akhirnya kau sembuh juga, Ahra-ssi.” Sehun pun tersenyum senang melihat Ahra yang sudah terlihat lebih cerah.

 “Emm… Sehun-ssi, maaf, waktu itu aku malah pulang duluan.” Sehun berpikir cukup lama untuk mencerna maksud perkataan Ahra ini, sampai akhirnya dia mengingat kejadian petang itu.

“Oh ya, gwenchana. Aku bahkan sudah melupakannya hehe. Emm… kalau begitu, bagaimana kalau kali ini biar aku yang mengantarmu pulang?”

“Tidak perlu. Aku sudah datang.”

Seorang Kim Jongin datang. Ia masih menggunakan stelan jas lengkap dengan kemeja putih dan dasi hitam, serta tatanan rambut disisir ke atas yang membuatnya tetap terlihat fresh meskipun telah berada di kantor seharian. Ahra merasa sangat senang sekaligus tak enak di saat bersamaan saat Jongin datang. Senang karena penantiannya berakhir, namun tak enak karena kali ini pun dia harus menolak ajakan Sehun.

Mianhae, Sehun-ssi.”

“Bukan masalah, Ahra-ssi. Kau bisa pergi dengan Jongin, tapi aku akan tetap mengantarmu.”

“Maksudmu?” Jongin mengarahkan pandangannya pada Sehun, menuntut jawaban. Yang ditanya langsung menyeringai kemudian bersorak heboh.

“Aku akan mengikuti mobilmu, Kai. Let’s go!

~***~

Sesampainya di rumah tujuan, Sehun langsung bergegas keluar mobil, tak sabar ingin melihat isi rumah Ahra yang menurutnya cukup unik meskipun baru tampak luarnya saja. Setelah berjalan mengikuti Jongin dan Ahra ke dalam rumah, kekaguman Sehun pada rumah itu semakin bertambah.

“Wah… ini rumahmu, Ahra-ssi? Aku suka rumah berbahan kayu seperti ini. Terlihat seperti rumah jaman dulu.” Dengan sedikit tidak tahu malu, Sehun terus mengamati setiap sudut ruangan rumah itu.

“Rumah ini bukan milikku lagi Sehun-ssi.”

“Eh?” Ucapan Ahra membuat Sehun menghentikan aktivitasnya. Matanya kini tertuju pada gadis itu untuk meminta penjelasan.

“Ini sudah menjadi rumahku.” Jawab Jongin datar sambil mendorong kursi roda Ahra menuju kamarnya. Jawaban Jongin ini langsung membuat Sehun lebih heboh dari biasanya.

Mwo? Kalian? Kalian tinggal berdua? Wah… wah… wah…. Ini tidak benar. Aku harus tinggal disini untuk mengawasi kalian.” Celotehan Sehun yang sangat mengganggu itu hanya ditanggapi Jongin asal, “sudah tidak ada kamar kosong, pergilah.”

“Aku bisa tidur di kamarmu, Kai. Aku bawa barangku dulu ya. Annyeong…”

Aish! Anak itu selalu seenaknya saja.”

~***~

Siang telah berganti. Waktu makan malam pun telah tiba. Terbatasi dengan kursi rodanya, Ahra cukup sulit untuk memasak malam ini. Meskipun demikian, dia tetap berusaha mengarahkan kursi rodanya menuju dapur. Baru saja ia akan membuka pintu lemari es, seseorang memanggilnya.

“Ahra! Apa yang akan kau lakukan?”

Jongin langsung menghampiri gadis itu dan mendorong kursi rodanya menuju meja makan.

“Makanannya sudah siap. Kau tak perlu memasak. Maaf kalau rasanya sudah tidak enak, tadi aku membelinya sebelum menjemputmu.” Ahra begitu takjub dengan banyaknya makanan yang telah terhidang. Dia tak menyangka Jongin bisa memikirkan hal-hal seperti ini.

“Tunggu apa lagi. Ayo makan.” Jongin segera mengambil tempatnya di depan meja makan. Bersila dan siap menyantap galbi dengan sumpit di tangan. Sementara itu, Ahra duduk di kursi rodanya dengan tak nyaman. Haruskah dia minta tolong untuk di gendong? Itu tak mungkin dia lakukan. Sudah cukup tadi siang dia merepotkan Jongin untuk naik dan turun dari mobil. Karena semua pemikirannya itu, Ahra memilih untuk diam.

Setelah beberapa suap makanan masuk ke dalam mulutnya, Jongin sadar kalau Ahra sama sekali tak mengikutinya makan di meja yang sama. Jongin pun menoleh dan langsung menepuk keningnya. Baru disadarinya kalau gadis itu belum bisa berjalan bebas. Dengan inisiatifnya, Jongin pun mengambilkan semangkuk nasi dan beberapa makanan di atas nampan, khusus untuk Ahra.

“Gomawoo…” Ahra menerima makanan dari Jongin dengan senyuman malu-malu yang selalu dibenci Jongin karena itu selalu berhasil membuatnya kelelahan sendiri mengatur detak jantung dan deru nafasnya.

Selama menyantap makan malam, Jongin dan Ahra hanya terdiam. Ahra terus makan sambil menunduk, sedangkan Jongin hanya mengkonsumsi sekitar 40% dari makanannya. Lelaki itu merasa jauh lebih kenyang ketika memperhatikan Ahra yang makan dengan bahagia.

Selesai dengan makan malamnya, Ahra berusaha membawa nampan dan beberapa mangkuk kotor di atasnya menuju tempat cuci piring di dapur. Kesulitan Ahra yang mengarahkan kursi roda  sambil memegangi nampan, terlihat jelas oleh Jongin. Pada awalnya Jongin hanya diam, membiarkan gadis itu menyelesaikan maksudnya sendiri. Namun, lama kelamaan, Jongin pun jengkel memperhatikannya.

“Kenapa tak meminta bantuanku, huh?” Nampan di tangan Ahra langsung direbut Jongin. Gadis itu hanya terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Sekembalinya dari dapur, Jongin kembali menghampiri Ahra dengan sebuah pertanyaan baru.

“Mau ke kamar sekarang?”

Ahra mengangguk, lalu membiarkan Jongin mengantarkannya. Setibanya di kamar, Jongin langsung mengangkat Ahra dari kursi roda dan mendudukannya di atas tempat tidur. Tadinya, Jongin akan langsung pergi, kalau saja Ahra tak mengucapkan sesuatu yang membuatnya tetap tinggal.

“Tuan, terima kasih banyak untuk semuanya. Hutangku semakin besar saja padamu. Bagaimana aku harus membayarnya?” Lirih Ahra dengan tatapan sendu. Jongin kemudian duduk di pinggir kasur dan balas menatap gadis itu sambil berkata, “kau sudah menyelamatkan hidupku, dan semua itu sudah lebih dari cukup.”

Gomawoo,” lanjut Jongin sembari mengacak rambut Ahra asal. Keduanya kemudian tersenyum tulus sambil menatap satu sama lain. Suasana terasa begitu berbeda malam ini. Sosok Jongin yang tulus telah kembali, sama seperti saat pertama kali Ahra melihatnya.

I’m coming… Kalian dimana?Teriakan seorang namja dengan seketika menghancurkan moment langka Ahra dan Jongin. Lagi-lagi, Sehun datang di saat yang tak tepat.

~***~

Dengan sedikit tak ikhlas Jongin membagi kasurnya dengan pria berisik yang terbaring di sebelahnya.

“Jongin-ah…,” Sehun mencolek punggung Jongin yang tidur membelakanginya.

“Hmm…,” masih sedikit  peduli dengan sahabatnya itu, Jongin pun mengeluarkan suaranya dengan malas.

“Aku tak bisa tidur.”

“Tidurlah…”

“Aku ingin cerita sesuatu.”

“Hmm.”

“Sepertinya aku menyukai Ahra.”

BUG

“Aww! Kenapa menendangku?” Seru Sehun yang mulai kesakitan karena terpental dari atas kasur. Ingin rasanya Sehun membalas perbuatan Jongin, tapi tatapan horor yang diterima dari sahabatnya itu malah membuat nyalinya menciut.

“Kalau kau tak mencintainya, lebih baik jangan.”

 “Apa kau cemburu? Aku lihat kau sangat memperhatikannya.”

Aniyo!”

“Wohohoho lihat… lihat… ekspresi wajahmu aneh sekali. Hahaha, akhirnya Kim Jongin jatuh cinta.” Sehun terus tertawa dengan mata tertutup, membuat wajah tampannya terlihat konyol. Kesal dengan tingkah Sehun, Jongin membentak Sehun dengan suara tertahan.

Yah! Pelankan suaramu! Kalau tidak, aku akan mencekikmu!”

Omo… ara… ara… Jadi, apa kau mencintai Ahra?” Sehun rupanya masih bersemangat untuk mengorek tuntas semua perasaan Jongin. Dan tanpa Sehun sangka, Jongin pun bersedia mengungkapkan semuanya. Bagaimanapun, Sehun adalah sahabat terbaiknya dan urusan seperti ini memang cepat ataupun lambat akan Jongin beritahukan.

“Aku hanya ingin melindunginya. Terlalu banyak dosa yang telah kuperbuat pada gadis itu. Dia tak bisa menemani saat-saat terakhir orang tuanya karena aku. Dia juga sudah berkorban hanya untuk menyelamatkanku. Aku memang wajib melindunginya.”

Usai mendengarkan dengan seksama setiap perkataan yang keluar dari mulut Jongin, Sehun langsung berdecak kagum. Baru kali ini Jongin bersikap serius dalam memikirkan seorang wanita.

“Kim Jongin… daebakk! Tunggu, jangan-jangan kau membeli rumah ini agar bisa selalu bersamanya, huh?“ Sehun kembali duduk di kasur. Dia semakin tertarik untuk mendengar apa yang akan diutarakan Jongin.

“Kau ini bicara apa huh? Sok tahu! Aku membeli rumah ini karena aku tak mau dia sampai tinggal di jalanan hanya gara-gara tak sanggup membayar uang sewa,” ujar Jongin gemas karena Sehun seenaknya saja berspekulasi. Namun, Jongin sungguh tidak beruntung. Alih-alih membuat Sehun berhenti mengoceh, pernyataannya malah mengundang spekulasi baru.

Kau melakukan semua itu demi Ahra? Jinjjayo? Aish jeongmal! Sekarang aku yakin. Kau sudah sampai tahap menyayangi tingkat akhir, Kai. Cepat ungkapkan perasaanmu, sobat!”

Semua ucapan Sehun malah membuat Jongin semakin pusing. Galau, gusar, gundah gulana,  semuanya bersatu melanda dirinya. Perasaan itu muncul karena mungkin yang dikatakan Sehun ada benarnya. Namun, terlepas dari semua ketidakpastian itu, Jongin meyakini sesuatu yang ia anggap pasti.

“Ahra itu perempuan baik-baik. Sementara aku. Kau tahu aku kan? Aku hanya lelaki brengsek yang sering mempermainkan wanita. Aku tak pantas untuknya.”

Sehun dan Jongin kemudian terdiam, terhanyut dalam pikirannya. Keduanya mengingat dengan jelas kapan pertama kali mereka memutuskan untuk menjadi pemain wanita. Menyandang gelar itu pada awalnya memang konyol dan terkesan menjijikan, tapi dunia memaksa mereka untuk tersesat ke jalan itu. Jalan untuk kembali terasa begitu jauh. Mereka sadar bahwa masing-masing dirinya adalah pilihan terburuk bagi para wanita baik yang masih tersisa di bumi ini.

“Sehun-ah, kurasa kau lebih brengsek dariku. Kau sudah melakukan itu dengan seorang nenek kan?” Jongin kembali memulai pembicaraan dengan topik yang membuat Sehun naik pitam.

Yah! Itu tidak benar! Untuk urusan itu aku selalu mengikuti caramu. Tubuhku ini masih suci tahu!

“Kecuali bibirmu.”

“Kau juga, pabo!”

 “Aish, keumanhae! Kau bilang, ada yang ingin kau ceritakan. Tentang Hana?” Jongin mengganti topik pembicaraan yang dirasa semakin menyimpang, dan untunglah Sehun pun sepertinya sudah tak ingin lagi membahas itu. Dunia kelamnya itu memang tak pantas untuk diperbincangkan.

“Besok adalah hari ulang tahunnya, dan aku dengar dari temanku katanya Chanyeol akan melamarnya.” Sehun terlihat tak bersemangat menceritakan semua itu. Hatinya memang terlanjur hancur karena kabar itu.

“Haah… kau ini. Jadi playboy karena tak bisa mendapatkan wanita yang kau cintai. Menyedihkan sekali.”

“Seenaknya saja kau mengataiku seperti itu. Kau juga tak lebih baik dariku. Memberontak pada ayahmu dengan menjadi playboy. What the…”

“Terserah. Oh ya, kalau dipikir-pikir nasib kita ini sama-sama kacau. Apa mungkin kita ditakdirkan untuk bersama, Sehun-ah?”

Yah! Mwoya? Aku ini lelaki normal.”

“Hahahaha!” Jongin tertawa puas karena akhirnya Sehun tak bisa lagi menimpalinya.

“Sudah… sudah… ayo kita tidur,” ajak Jongin kemudian setelah tawanya mereda.

“Jangan memelukku!” Sehun membuat tanda silang di depan dadanya, pertanda penolakan keras. Sayangnya Jongin tak mengindahkan peringatan itu. Dia malah menaikan kaki kanannya di atas pinggul Sehun dan memberi pelukan erat.

“Kau harus menjadi gulingku malam ini. Siapa suruh kau menginap disini?”

“Nyonya Kim Ahra.”

BUG

Pukulan bantal tepat mengenai wajah mulus Oh Sehun.

 “Sakit tahu! Aduuh…”

“Tidurlah dan siapkan hatimu untuk besok.”

Arasseo.”

Tanpa sadar, Sehun menerima pelukan Jongin. Pelukan sang sahabat yang sejujurnya selalu membuatnya tenang.

Gomawoo Jongin-ah.”

“Tidur!”

To be continued…

16 pemikiran pada “May I Love You? (Chapter 8)

  1. ngakak lol sehun dan maknae tertunda/? xD duh kocak banget nih makhluk berdua ^^ duh jongin perhatian banget ama ahra awas jatuh cinta mennn

  2. Hohoho…
    Sebenernya aku geli sendiri ngelihat tingkah Sehun sama Kai, kkk~~
    Kai, kalau suka sama Ahra ya bilang aja suka, jangan ditahan, nanti nyesel lhooo #ehh
    Hana jangan sama Chanyeol, sama Sehun aja, biar Kai sama Ahra bisa bahagia 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s