Please, Stop The Time (CHAPTER 5)

PSTT2

 

Title : Please, Stop The Time (CHAPTER 5)

Author : Hayamira (HayashiMirai)

Genre : Romance, Friendship, Married Life Story

Rating : PG-15

Length : Chaptered

Cast :

Jung Na Eun/Nana (Ocs)

Kris (EXO-M)

Oh Se Hun (EXO-K)

Kim Jong Hyun (SHINee)

Choi Min Ho (SHINee)

Krystal Jung (f(x))

Byun Baek Hyun (EXO-K)

-oOo-

“Permisi,” sahut seorang laki-laki dibalik pagar. Nana menengok, meletakkan pakaiannya lalu berjalan keluar. Seorang laki-laki tegap tersenyum tipis melihat Nana yang membukakan pagar untuknya. “Halo” kata laki-laki itu. Nana mengamati laki-laki itu, dia tidak mengenalinya.

“Mencari siapa?”tanya Nana. Laki-laki itu menatap balik Nana,“Nami ada?” ternyata kenalan Nami. Nana mengangguk dan berjalan masuk kerumah memanggil Nami. 

“Eonni, diluar ada laki-laki yang menunggumu”kata Nana menepuk badan Nami dari belakang. Nami mendengus kesal

“Bukan dia, kok”ujar Nana seakan mengetahui pikiran Nami. Nami mengangguk, lalu berjalan keluar.

“Him Chan”ujar Nami menemui laki-laki itu. Jadi dia Him Chan sepupu Baek Hyun ya… Nana membatin. Dia pun melanjutkan beres-beresnya.

Selesai.

Nana duduk diteras rumahnya. Disampingnya tas pakaian yang penuh akan kado untuknya. Juga pakaian. Nana dan Kris akan pulang ke Tokyo, sebenarnya Nana masih ingin berlibur namun mengingat dia tidak mengambil cuti maka keinginan itu harus dikunci rapat-rapat.

“Okaa-san, hati-hati ya”peluk Nana mengucap salam perpisahan. Ibunya terlihat tidak rela melepas Nana. Kakak Nana sama, rasa rindunya masih terlalu besar untuk adik perempuannya. “Aku akan kembali, kok. Bye”ujar Nana melambaikan tangan, mengangkat tas pakaian ke Taxi yang sudah ada Kris menunggu.

Taxi itu semakin menjauh. Nami dan ibunya melihat diluar pagar rumah mereka dengan tatapan sendu, namun harapan akan “Nana Bahagia, Pasti” mereka tanamkan kuat dihati mereka. Mereka melepas Nana kembali ke Seoul dengan senyum sumringah.

***

Taxi yang mengantar mereka dari bandara ke rumah mereka masih harus berjalan jauh. Kris merasa badannya pegal, perjalanan 3 jam dari Hokaido Tokyo Seoul menguras tenaganya. Sekarang sudah jam 9 malam waktu Seoul. Disampingnya, Nana tertidur pulas bersandar dijendela, bertumpu pada tangannya. Wajahnya letih, namun tersirat rasa kebahagiaan yang membuncah.

Kris melepaskan tumpuan tidur Nana, lalu menyandarkan kepala Nana dipundaknya. Kris tersenyum, wajah Nana sangat polos jika tertidur. Tangan Kris membelai rambut Nana lembut. Kris menatap wajah Nana itu. Wajah yang sangat dia sayangi. Senyum yang telah menemaninya selama 2 tahun terakhir ini selalu tersirat diwajah itu.

“Nggh”Nana sedikit mengerang, membuat Kris kaget dan berhenti membelai rambutnya. Ternyata hanya mengigau, pikir Kris. Kris kembali menatap Nana. Tangan Kris menggenggam tangan Nana erat, sirat senyuman terukir di wajah Kris. “Saranghae” bisik Kris pelan ditelinga Nana. Nana menggerakkan kepalanya sedikit. Nampaknya dia bermimpi, dan tidurnya nyenyak sekali.

Waktu berlalu begitu cepat. Taxi yang mereka tumpangi sampai dirumah mereka.

“Tuan, tolong angkat tas saya. Saya mengurus istri saya”kata Kris. Sopir itu mengangguk. Sopir itu mengambil tas pakaian di bagasi, lalu meletakkannya di teras rumah Kris. Sopir itu membukakan pintu untuk Kris. Kris membayar tagihan Taxi itu, lalu  Kris meletakkan kepala Nana disandaran jok mobil, lalu dia keluar, dan menggendong Nana dengan tangannya mengangkat bagian pundak dan lututnya.

Kris menggendong Nana sampai ke kamar Kris. Kris menidurkan Nana pelan dikasurnya, tidak ingin membuat wanita itu terbangun dari tidurnya. Lalu, dia melepas boots dan jaket Nana, juga melepas gulungan rambut Nana. Setelah itu, selimut dia tarik untuk menutupi tubuh Nana.

Kris kemudian berjalan keluar mengambil tas pakaiannya. Setelah semua dia anggap beres, dia meraih handuknya kemudian mandi. Rasa segar menjalar ditubuhnya manakala tetesan air mengenai tubuhnya.

Setelah mandi, Kris memakai baju dan beranjak tidur. Tentu saja diranjangnya, dan Nana sedang berbaring disana. Kris berbaring pelan disamping Nana, membelai wajahnya dan mengecup keningnya.

“Selamat tidur, ya. Mimpi indah”ujarnya. Kris meraih tangan Nana dan menggenggamnya, kemudian terlelap dalam mimpi sambil memegang tangan Nana.

***

Krystal menggigit kuku-kukunya. Sudah 2 hari Kris tidak masuk kerja, selama itu pula perasaannya amburadul. Menanti jawaban Kris dengan beribu pertanyaan yang sudah disiapkan Krystal. Namun, saat dia datang ke kantornya, yang didapati nihil. Kris ke Jepang, tanpa ada yang tahu apa tujuannya. Paling tidak, dia ingin liburan, kata asistennya.

Sekarang dia menanti Kris di ruangannya, sudah sejam yang lalu namun Kris belum muncul. Bosan, Krystal beranjak berdiri, namun pintu terbuka dan sosok yang dinantinya muncul juga. Sontak Krystal berlari dan menghamburkan pelukan di Kris, yang membuat Kris kaget.

“Oppa“sahut Krystal manja. Kris melepaskan pelukan dari Krystal, memandang Krystal tajam. “Kenapa kau?”kata Kris dingin. Krystal memicingkan mata, sejak kapan Kris jadi dingin seperti ini. Krystal menggeleng pelan, “Tidak kok. Oppa darimana saja?”

Pertanyaan Krystal membuat Kris risih. Tanpa memerdulikan gadis itu, Kris berjalan ke mejanya. Lalu, Kris sadar bahwa dia lupa akan sesuatu. “Nana mana ya? Kenapa belum kesini…Hmm”gumam Kris. Krystal yang mendengar nama Nana, sontak menoleh dan memicingkan mata.

“Oppa, Nana itu siapamu” tanya Krystal penuh amarah. “Yang jelas dia bukan orang yang menyebalkan sepertimu”jawab Kris. Krystal berjalan ke Kris yang beridi disamping mejanya.

“Ayolah, Oppa. Dia itu siapamu?”tanya Krystal lagi. “Orang yang berharga untukku”jawab Kris lagi, memalingkan wajah dari Krystal. Krystal mendecak lidah.

“Apanya yang penting kalau hanya sebatas istri taruhan? Aku tahu semuanya, Oppa”seru Krystal. Kris membelakkan matanya, “Darimana Kau tahu itu?”gumamnya. Wajahnya terlihat sangat kaget, sementara Krystal tersenyum penuh kemenangan.

”Aku tahu taruhan itu, perjodohan mu dengan orang lain, aku tahu semuanya”Seru krystal tersenyum penuh kemenangan melihat Kris. Kris menghela napas, tidak berharap Nana mendengarnya. Kris mematung dengan pikirannya, sementara Krystal mendekat dan memeluk Kris.

“Oppa, kau kan tidak menganggap Nana, jadi kau bersamaku saja”kata Krystal mempererat pelukannya.

Kris menghempaskan tubuh Krystal kasar, lalu menatapnya tajam.

“Dengar ya, kau tidak berhak ikut campur dalam masalahku ini. Lagipula kau itu siapaku?”hardik kris. Krystal tercengang, lalu meninggalkan Kris dengan wajah penuh amarah.

Kris memandangi sosok Krystal kesal. Sial, sungguh sial.

***

Jam 3 sore. Kris pulang lebih cepat dari biasanya. Pikirannya masih kacau karena Krystal. Sial, umpat kris dalam hati. Kris berusaha melupakan perkataan Krystal, namun itu semua terlalu membekas…

“bukankah Oppa menikah dengan Nana karena Taruhan? Juga menghindar dari perjodohan Oppa dengan gadis lain, begitu?”

Kalau saja dia tidak melihat perempatan menuju rumahnya, dia akan terus melewati jalan itu. Kris membelokkan setir mobilnya, tak lama kemudian rumahnya terlihat. Kris memberhentikan mobilnya didepan pagarnya, pagarnya tidak digembok. Berarti Nana sudah pulang. Dan mood Kris sedikit membaik, apalagi setelah masuk ke rumah dia melihat sepatu Nana bertengger dirak sepatu disamping pintu kamarnya.

Sebersit pikiran muncul di otaknya. Mengajak Nana keluar, ide bagus bukan? Kris langsung mandi dan berganti baju, dan mengetuk pintu kamar Nana. Nana keluar dengan piyama merahnya,

“Ada apa, Kris?”tanya Nana. Kris mendekap wajah Nana dengan tangannya, lalu tersenyum manis kepada Nana.

“Ganti bajumu, pakai baju santai ya. Kalau perlu sederhana saja, jangan dandan! Aku tunggu diluar, oke?”kata Kris. Nana yang daritadi melongo, mengangguk.

Tak sampai 10 menit, Nana selesai berpakaian. Kris langsung mengajak Nana keluar, berjalan kaki ke stasiun kereta. Sepanjang jalan, Nana sesekali memandang Kris heran, ada apa pria dingin ini mengajaknya keluar.

Bukannya Nana tidak mau, tapi ini terjadi sangat jarang. Biasanya Kris pulang larut malam, langsung tertidur pulas. Sekarang malah mengajaknya ke suatu tempat, sepanjang jalan, Kris yang menggenggam tangan Nana justru tersenyum dan terlihat senang. Sambil berdiri, dia terus menggenggam tangan Nana, membiarkan Nana duduk dikursi sementara dia berdiri disampingnya.

Tanpa Ragu Kris menarik Nana ketika kereta sudah berhenti. Ternyata, ke Festival Teh Internasional di daerah Gwang-Ju. Untungnya ada yang memberi informasi tentang festival ini, Kris patut berterima kasih.

“Kris…. Ini kan festival Teh…”Nana tercengang melihat berbagai stan stan teh yang menyerbakkan harum teh yang Nana begitu sukai. Nana tersenyum, lalu membisikkan kata “terima kasih”

#NANA POV#

Tidak ada taksi, jadinya aku dan Kris harus berjalan. Lagipula, sudah tidak jauh dari rumah. Rasanya badanku pegal sekali, seharian ini terus saja berkeliling mencari teh yang kusukai, teh Cianjur dari Indonesia. Tidak sia-sia, karena aku berhasil mendapatkan teh yang langka di Seoul itu. Seandainya aku tinggal di negara Sub-Tropis Indonesia itu, sudah pasti mudah untuk mendapatkannya.

“Nana, kau masih mau jalan kaki?” kesal Kris jalan sambil menenteng hoodies bag berisi cheese cake tea dan segala berbau teh. Aku menoleh menghadap ke Kris, nampaknya dia sudah capek sekali.

“Rumah kan sudah dekat, jalan saja. Malam ini juga indah, tidak terlalu dingin pula”bantahku sambil terus jalan. Kris mendengus, berlari ke Nana dan berjalan ke sampingnya

“Nana….”ujar Kris merangkul lengan Nana.

Aku terhenti.

“kenapa? Salah? Aku kan Suamimu”tarik Kris yang justru malah merangkul pundakku, aku pun menghindar secara refleks, namun Kris menahanku. Kris menyandarkan kepalanya ke pundakku “Aku lelah, Nana. Bolehkah kita beristirahat?”

Aku terdiam. Wajahku pasti pucat pasi saat ini. Namun, Kris menarikku duduk di taman kota, dan kembali menyandarkan kepalanya.

“Kris…. Kau…”

“Aku lelah. Masa bersandar saja tidak boleh?”protes Kris. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Kesunyian pun merasuki kami, yang diiringi suara lalu lalang jalanan.

“Nana….”

“Apa?”

“Bolehkan kita seperti ini…lebih lama lagi?”

“Maksudmu?”

“Aku…ingin bersamamu”

Aku tercengang. Aku melihat wajah Kris, ternyata dia sedang melihatku dengan pandangan yang tak pernah dia berikan padaku sebelumnya. Wajahnya sungguh….teduh dan lembut.

Tiiit…..

“Ah,” Kris bangkit lalu mengangkat handphonenya.

“KenapaMin Ho? Oh? Hah, kau di mana ?….”

Sepertinya Jong Hyun yang menelpon. Aku membiarkan Kris menelpon dengan Min Ho, lalu seseorang menepuk pundakku.

“Jong Hyun?”tanyaku

“yosh! Bagaimana jalan-jalanmu dengan suami-palsu-mu?”tanya Jong Hyun dengan wajah yang sulit ditebak. Senyum namun sedikit sinis. Aku hanya termenung, berusaha mencerna kata-katanya

“Maksudmu?” aku menyerah. Aku tidak mengerti.

“Nana, Kau itu cantik, pintar, juga menawan..”kata Jong Hyun duduk disampingku “Jangan mau ditipu oleh Kris. Dia itu menikah denganmu karena taruhan denganku dan Min Ho. Mengerti?”

Kata-kata itu keluar dari dirinya begitu lancar dan jelas.

Apakah ini ilusi? Jadi yang dikatakan Amber itu…..

“Tidak mungkin, Tidak”sanggahku berusaha setenang mungkin

“Ya sudah kalau tidak percaya, tanyakan saja dengan Kris”jawabnya. Saat itu, Kris menghampiriku dengan wajah sangat marah sekaligus malu. Baru kali ini aku melihatnya seperti itu. Apa yang terjadi ini?

Aku, yang masih belum percaya dengan ucapan Jong Hyun, beranjak berdiri, melihat Kris, lalu

“Kris, apa perkataan Jong Hyun benar?”

#AUTHORPOV#

“Kris, Apa perkataan Jong Hyun benar?”

Kris membisu. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Kris hanya melihat Nana yang mulai berkaca-kaca, menatap matanya, mencari jawaban di matanya.

“Nana, aku bisa jelaskan…”

Tangan Kris berusaha meraih tangan Nana, namun Nana melangkah mundur.

“Aku hanya butuh Ya atau Tidak, Kris”emosi Nana mulai memuncak. Suaranya terdengar lirih namun sangat jelas, kalau dia sedang menahan untuk tidak menangis.

“Kris”

“Ucapan Jong Hyun memang benar, semuanya benar. Tapi, Nana..”

Tidak mungkin, batin Nana. Hatinya sekarang pilu, tersayat badik tajam. Perih, sakit, pilu. Tubuh Nana tersungkur jatuh ke tanah, dadanya sesak, matanya buram. Sebulir air mata jatuh, perlahan lahan namun menjadi deras seiring Nana melihat Jong Hyun dan Kris secara bergantian.

“Nana”

“Menjauh dariku…. Kumohon”pintanya terisak. Air matanya jatuh deras di pipinya. Jong Hyun hanya melihat dan seraya pergi. Kris menarik Jong Hyun, lalu menatapnya penuh amarah. “Jong Hyun, Mau kemana kau” Jong Hyun tersenyum sinis.

“Urusanku sudah selesai. Aku tidak bisa membiarkan kau terus-terusan menipu Nana”

Kris menarik kerah baju Jong Hyun dan menatapnya sangat dingin.

“Apa yang kau inginkan”ujar Kris sangat rendah. Jong Hyun menatap Kris agak takut, belum pernah dia melihat Kris semarah ini.

“aku ingin dia itu berpisah darimu. Kasian dia, dan juga, aku membantu Krystal “Kata Jong Hyun melepas tangan Kris, dan berlalu begitu saja meninggalkan mereka berdua.

Kris berbalik, melihat Nana yang sangat terpukul. Hatinya memberontak. Apa yang telah dia lakukan, apa yang telah dia katakan. Wanita itu, orang yang satu-satunya bisa membuatnya tidak bersikap sombong, menangis. Tubuh bergetar, isakan yang seakan menyayat hatinya. Kris mengumpat dirinya sendiri, menyumpah dirinya sendiri.

“Nana?Nana, maafkan aku” Kris mendekati Nana, namun Nana tidak mendengarkan. Dia terus saja terisak.

“Nana?” sebuah suara memanggil nama Nana. Kris menoleh ke belakangnya, orang itu adalah Onew yang berdiri dengan raut wajah marah. Tangannya menggepal, rahangnya mengeras.

“Kau tidak perlu ikut campur urusan ..” Sebuah pukulan mendarat keras dipipi kiri Kris. Kris terjatuh ke tanah. Tenaga Onew besar sekali. Kris bangkit,

“Beraninya…” Namun, Onew mengangkat Kris dan meninju wajahnya lagi.

“SUDAH KUKATAKAN PADAMU, KALAU SAMPAI NANA MENANGIS KARENAMU MAKA AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANMU BERNAPAS DENGAN LEGA, BUKAN?” bentak Onew ke Kris. Onew mencekik leher Kris. Genggamannya sangat besar dan kuat. Napas Kris tercekat, dia tidak bisa bernapas.

“Sudah..Kubilang…”

“BUKAN URUSANKU, KATAMU? ITU URUSANKU”

Pukulan keras pun medarat dipipinya lagi,. Kris terhuyung lalu berdiri. Onew meninju Kris lagi dengan kekuatan besar. Kris terhempas ke tanah.

Onew menarik Kris lagi. Onew berniat melayangkan pukulannya lagi, kalau saja dia tidak mendengar isakan Nana. Tanpa pikir panjang lagi, Onew langsung melempar tubuh Kris dan berjalan ke arah Nana lalu merangkul Nana yang tidak berdaya. Tubuhnya dipeluk Onew. Pikirannya kacau, hatinya hancur sehancur-hancurnya.

Kris hanya mematung melihat Nana yang menangis dipelukan Onew. Oh tuhan, wanitanya menangis bukan dipelukannya. Wanita yang dia cintai menangis karena dirinya. Dirinya telah menyakiti satu-satunya wanita yang bisa membuatnya merasa nyaman.

“Aku…tidak…mau…pulang….Aku….ingin…menginap…dulu”katanya terisak, menundukkan kepalanya yang tidak berani melihat Kris.

“Nana…Aku bisa jelaskan…”

“Maaf, aku tidak mau …..bertemu denganmu…lagi”

***

Rasa emosi menguat di dadanya setiap detik berlalu. Berbagai kelebat pikiran, kecaman, umpatan, rasa sedih dan rasa benci juga penyesalan menari-nari di pikirannya. Kris pulang dengan amarah, namun lebih mendalam adalah rasa sedih dan kecewa. Kecewa pada dirinya sendiri, kecewa pada hal yang dia lakukan. Kecewa akan semua kebodohan karena dirinya.

Mata Kris terpaku didepan foto close-up Nana di ruang tamunya. Tersenyum, wajah hangat yang selalu menemaninya setiap hari. Yang selalu mengingatkannya hal-hal kecil yang penting, yang selalu ada memberikan kasih sayang yang tak terhingga.

“Padahal aku tidak pernah memberimu kasih sayang sebagai balasan kasih sayangmu, Nana”kata Kris dengan pandangan kosong. Bola matanya tertuju tetap pada foto tersebut.

 

“maaf, aku tidak mau…bertemu denganmu,,,lagi”

Kata-kata itu berputar dikepalanya. Seakan mesin waktu, kata-kata itu memutarkan memorinya dengan Nana, segala hal tentang dia, segala hal yang membuatnya terikat dengan dia, segala perlakuannya.

 

 “Baiklah, aku tidak akan menganggumu”

 

“Kris, ini bekal untukmu. Kumohon, jangan dibuang”

 

“Kris, kenapa wajahmu merah?”

 

“Kris, semuanya sudah siap”

 

 “Kris, kau mau ke tempat kerja?”

 

“Apa kau, menyukai gadis lain sekarang?”

 

“Apa kau, tidak mencintaiku, Kris?”

 

“Maafkan aku”

 

“Maaf, aku tidak mau …..bertemu denganmu…lagi”

Seluruh kata-kata atau sikap buruk Kris, Nana hanya tersenyum dan menjawabnya. Begitu sabar dan setia mengurus Kris. Tidak ada keluhan, tidak pernah Kris melihat Nana marah. Hanya tersenyum, selalu tersenyum manis pada Kris.

Mata Kris kini sesak. Dia akan menangis. Tetap memandangi foto pernikahan mereka, Kris mengedipkan matanya dan air matanya jatuh bebas bergulir. Dan untuk pertama kalinya, air mata Kris mengalir pelan, lama-lama semakin deras, untuk seorang wanita.

Kris menangis, karena Nana. Air matanya mengalir seiring dengan ingatannya tentang Nana.

“Satu hal yang tidak pernah kukatakan padamu secara langsung, Nana”

Hanya isak tangisan Kris yang terdengar di rumahnya. Untuk mengobati rasa sakit dan kecewanya, Kris mencoba masuk ke kamar Nana.   Suasana “Nana”merasuki Kris ketika masuk ke kamar Nana. Pandangan Kris langsung tertuju ke dinding didepan tempat tidur Nana. Ada foto yang cukup besar, foto pernikahannya dengan Nana. Rasa penyesalan kembali merasukinya.

Kris duduk di tempat tidur Nana. Dia mendapati sebuah buku diari berwarna hitam bermotif bunga sakura. Kris mengambil buku tersebut, dan membacanya.

Napas Kris tercekat membacanya. Seluruh perasaan Nana ditumpahkannya di buku tersebut.

“Rasanya sedih. Kris menganggapku apa? Bahkan dia tidak pernah menyebutkan Aku ini istrinya didepan teman-temannya. Apa arti ku untuknya?”

 

“Bukan kah kata-kata itu tidak pantas untukku? Apa sebenarnya salahku padanya? Kenapa dia memperlakukanku seperti ini?”

“Ya Tuhan, Jika Engkau berkenan menjadikan suamiku menjadi jodohku sehidup semati, maka bukakanlah hatinya untukku, agar tidak seperti ini. Aku memohon padamu, Ya Tuhan”

 

“Selingkuh? Benarkah? Apa sebegitu teganya?”

“Jadikan dia cinta pertama dan terakhirku, Ya Tuhan. Engkaulah Yang Maha Esa dan Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hambamu”

“Ya Tuhan, sungguh aku tidak ingin bersedih hati, namun aku adalah manusia. Kris sudah membuatku sedih, namun aku sangat membutuhkannya seutuhnya. Maafkan aku Ya Tuhan, namun aku tidak bisa menahan rasa sedih ini terus. Engkau Yang Maha Penyayang, kumohon , bukakanlah pintu hati suamiku”

 

“Ya Tuhan, Aku mencintainya. Aku membutuhkannya”

 

Can the Time be stop, Please?

I Want To be Her side, always

Take care of Her, hold Her Hands, Hug her so Tightly

Look up the sky together

Make time stop, I want to be with you always

I want to hold you more

As I remembered each and every single thing about you

I simply believed… in eternity

***

Pandangan Nana kosong. Matanya sembab. Hanya isakan yang terdengar. Tidak ada tawa, tidak ada canda juga suaranya yang bercerita. Hanya ada gambaran mengenai kesedihan, kekecewaan yang mendalam dari Nana.

Kepalanya terasa berputar di satu poros bumi. Hatinya masih terasa sesak. Sakit daqn menusuk, terjadi secara bersamaan. Bahkan untuk bernapas pun sepertinya dia lupa bagaimana caranya. Sebegitu sesaknya kah?

“Nana, ini, minumlah”ujar Amber menawarkan teh hangat untuk Nana.

“Terima Kasih”kata Nana mengambil gelas itu, tidak menatap Amber. Nana masih terlalu sibuk dengan pikirannya.

Alunan lagu Big Bang Monster mengalir memenuhi ruangan.

“Nana, Handphonemu”

Amber menyerahkan handphone yang terus berdering tersebut ke Nana. Nana menerimanya, “Siapa?”tanyanya.

“Angkat saja”

Nana mengangkat teleponnya,

“Yoboseyo?”

#NANAPOV#

Nada Dering untuk nomor tak dikenal.

“Yoboseyo?”

Tidak ada suara

“Yoboseyo?”

“Jung Na Eun? Nana?”

“Ya. Siapa?”

“Kris”

Aku tidak menjawab

“Nana? Dengarkan aku, kumohon”

Aku tidak menjawab lagi. Aku tidak sanggup berkata-kata. Aku tahu, sekarang mataku penuh dengan air mata yang siap jatuh.

“Maafkan aku.”

Suaranya membuat tetesan air mata mengalir dari mataku. Segala hal tentangnya, membuat dadaku sesak.

“Nana, maafkan aku”

Air mata ini semakin deras. Dadaku sesak dengan suaranya

“Nana?”

Amber merebut handphoneku, dan bicara dengan Kris

“Jangan ganggu Nana, kau mengerti? Sekarang keadaannya benar-benar hancur karena orang brengsek sepertimu. Enyahlah”

Amber langsung menutup komunikasi. Aku menoleh kearahnya, wajahnya tampak penuh amarah.

“Ini, handphonemu. Jangan urus Kris”perintah Amber. Aku hanya terdiam membisu. Air mata ini tidak berhenti mengalir.

“Nana, berhenti menangis. Kau tidak perlu menangis untuk orang brengsek seperti dia” seru Amber. Aku memandangnya

“Min…Ah… Aku….tidak….bisa….”kataku terbata-bata

“NANA, BERHENTI!!”

Aku terbelak. Amber membentakku

“Kau tidak mengerti perasaanku, Amber. Kau…Tidak tahu bagaimana, bagaimana….bagaima…na….”

“Kau harus berhenti, karena..aku tidak mau sahabatku menangis dan hancur”

Ujar Amber, duduk disampingku, dan menghapus air mataku “Makanya, berhentilah.”

Senyum terbentuk disudut bibirku. Kuharap aku bisa menjalaninya.

***

Suara anak-anak riuh berlarian kesana kemari. Senyum tawa hangat sumringah tergambar jelas diwajah mereka. Nampaknya mereka sangat bahagia dengan musim panas ini, secerah matahari yang menyinari mereka.

Kenapa aku tidak bisa tersenyum dan sebahagia mereka? Kenapa aku tidak bisa seperti mereka? Aku menghela napas berat. Kenapa rasa sakit ini, masih sesak di dada? Padahal sudah satu gelas kuhabiskan teh, namun masih saja sesak.

“Halo, Na Eun” ada yang memanggil namaku. Aku menoleh, ternyata wanita teman dansa Kris waktu itu. Dia tersenyum manis, lalu duduk didekatku.

“Apa kabar?” tanyanya. Aku mengangguk, “Baik.”jawabku tersenyum ramah. Mencoba menyembunyikan kesedihan, yang orang lain pun mungkin bisa melihatnya kalau aku tidak menutupnya.

“Bagaimana hubunganmu dengan Kris Oppa?”katanya dengan nada sinis. Aku mendesah pelan, “Kau tahu Kris”

“Tentu. Dia adalah pacarku”ujarnya ringan. Tunggu sebentar. Pacar? Pacar katanya? Aku melihatnya, seakan dia menatapku memberikan keyakinan, apa yang dia katakan itu benar. Aku menatapnya nanar.

“Aku tahu kau itu Istri taruhannya… “

Napasku tercekat mendengarnya. Kenapa dia tahu hal itu?

“Dan kau baru saja diberitahu. Konyol sekali kau ya, haha” tawanya. Aku menghela napas, tidak berani menyanggahnya. Itu semua benar, bukan?

“Jadi…Apa maumu menemuiku?”tanyaku berusaha tidak menangis, tapi sepertinya suaraku terdengar seperti orang yang menahannya. Oh God.

“Ceraikanlah dia~”serunya riang memutar mutar jari telunjuknya, menatapku tajam dan sinis “Kalian tidak saling mencintai kan? Apa gunanya masih dipertahankan”lanjutnya. Kalimat itu sukses membuatku gemetar.

“Kris yang memintaku loh. Jadi, aku akan secepatnya membawa surat pernyataan berpisah kalian, ya. Selamat tinggal, Na Eun” katanya seraya berdiri dan pergi.

Mataku sudah berkaca-kaca, penuh. Napasku kembali sesak, aku mengatur napas dan tak dapat kubendung, air mataku jatuh.

#AUTHOR POV#

Aku  pasti salah lihat, Kan? batin Sehun. Yang dihadapannya, Nana sedang memandang kosong dihadapannya. Air matanya terus saja jatuh. Tangannya mencengkram kursi panjang itu. Sehun lalu berlari, tanpa memikirkan bahwa dia sedang bersama Nuna-nya.

“Nana”panggil Sehun. Nana menoleh, pandangannya masih kosong, namun tersirat rasa sakit hati yang dalam. Sehun tidak bertemu Nana selama beberapa hari belakangan. Apa Nana ada masalah? Kenapa dia seperti ini? Terlihat hancur dan rapuh.

Sehun segera memeluk Nana erat. Tak lama, Nana menangis. Pelan, dan lama lama semakin terisak. Tangisan sakit hati, seperti menyayat Sehun. Sehun tidak bisa berbuat apa-apa, hatinya sakit mendengar Nana menangis dipelukannya. Sehun semakin mempererat pelukannya di tubuh Nana yang terisak, mengumpat dalam hati. Siapa yang berani membuat Nana seperti ini.

“I promise to you, i’ll kill the one whom make you being like this…”batin Sehun.

***

Hampa. Itu yang Kris rasakan. Hidupnya terasa jauh lebih kosong daripada sebelumnya. Tidak ada semangat yang pasti, yang bisa membuat hari-harinya tidak se’kosong’ sekarang. Mood Kris menguap entah kemana. Yang bisa dipastikan, akhir-akhir ini dia juga bertambah dingin dan sensitif. Sudah beberapa asisten yang kena dampak itu.

Kris mengetuk-ngetuk jarinya dimeja. Matanya memandang kosong layar laptop dihadapannya. Lagi dan lagi, Kris mendesah. Dia kesepian. Sangat kesepian. Matanya kemudian menuju close-up foto disampingnya. Nana yang sedang tersenyum, begitu yang dia tulis diujung sebelah kiri bingkai itu.

Tangan Kris meraih foto itu. Ujung jemari Kris menyentuh foto itu, lalu tersenyum. Nana sangat manis jika tersenyum. Hatinya kembali mencela

“bukannya kau yang membuatnya pergi? Kebodohanmu sendirilah yang membuatnya pergi dari sisimu”

Kris menggigit bibirnya, apa yang dibisikkan nuraninya benar. Dia yang membuat Nana hilang, dan membuat hidupnya sendiri semakin kacau.

Bukankah dulu dirinya begitu menginginkan Nana pergi? Ini dia. Namun, ketika Nana pergi, hanya kehampaan yang dia dapatkan, bukan seperti apa yang dia bayangkan dulu.

“Sial”

“Oppa” sapa seseorang. Krystal. Mau apa orang ini datang, batin Kris.

“Apa?”
“Oppa-ya, kau sudah berpisah bukan? Oppa menyukaiku, bukan? Iya kan”

“Keluar!” kata Kris dengan nada rendah dan dingin

***

3 Minggu Kemudian

#NANA POV#

“Sarapan sudah siap, Nana” ujar Amber dari balik pintu kamarku. Segera aku merapikan riasan serta pakaianku, mengambil tas dan keperluan lain yang telah kusiapkan untuk berangkat ke tempat kerja.

Kulihat diriku dicermin. Jauh lebih baik, itu hanya wajah dan luarnya saja. Tetapi hatiku tidak baik. Lewat tiga minggu sudah, aku tidak bertemu dengan Kris. Apa kabarnya? Apa yang dia lakukan? Apa dia baik-baik saja? Pertanyaan ini terus saja memenuhi pikiranku. Setiap kali aku memikirkannya, dada ini selalu saja sesak. Bagaimana tidak, seluruh hatiku ini hanya ada dirinya, Kris.

Aku menghindarinya, selama 3 minggu ini aku menginap flat tempatku dan ayah dulu tinggal. Selama itu pula, sering aku merindukan wajahnya, segala hal tentangnya. Aku tidak mengerti, sama sekali tidak mengerti, apa yang membuatku menjadi begitu merindukannya. Namun, aku tersadar. Hari itu…. Mengubah segalanya.

Kenyataan pahit, kejadian itu, semua kata-katanya, masih terus melayang di pikiranku.

“Kau masih memikirkannya?”kata Amber didepan kamarku, kepalanya menyembul ke kamar.

Pagi ini, Amber dengan dandanan ekstentriknya, jaket kulit, legging jeans dan kemeja itu sengaja berangkat sangat pagi. Karena dia ingin bersamaku, dia yakin aku tidak bisa tinggal sendiri.

“Masih” jawabku pelan. Amber menghela napas, lalu masuk ke kamarku.

“Jangan dipikirkan lagi.” Katanya merapikan kerah bajuku.

“Kau cantik, pintar, dan baik sekali. Sayang sekali, kau terpuruk. Bangkit, Nana”

Aku memandang Amber. Amber tersenyum, aku pun membalas senyumnya.

“Kau…Baik sekali”

“Tentu, That’s friendship meaning, Nana”

***

Pekerjaan hari ini cukup menumpuk di meja. Aku membuka file-file di map warna-warni itu satu persatu. Banyak klien yang meminta desain, yang terkenal dan up-to-date saat ini itu desain minimalis, bermain corak dan pola dengan warna-warna yang pastel, juga mencolok. Banyak pasangan muda, yang baru menikah, meminta desain seperti itu. Mereka kadang menambahkan unsur-unsur rumit seperti corak bunga, seperti bunga mawar, lili ataupun kembang sepatu. Katanya, bunga itu romantis. Setuju

Ternyata, ada juga yang memesan untuk kamar bayi mereka. Untuk kamar bayi, biasanya aku mengusulkan warna warna lembut dengan sedikit unsur cerah, supaya terlihat ceria dan lucu. Aku mengambil telepon ku, lalu menghubungi pemesan desain. Ternyata, usulku diterima dengan baik. Setelah mengakhiri percakapan, aku segela mengambil kertas dan pensil untuk mendesainnya.

Sedang asyik menggambar, seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh, ternyata Onew , membawa segengggam bunga lili dan lavender

“Ini untukmu, karena sudah ceria kembali”ujarnya ringan. Aku menerima buket bunga itu dengan senyum terkembang di wajahku. Bunganya harum, aku rencana akan meletakkannya di vas bunga air, supaya awet.

“Iya, thanks, Onew”kataku mengangkat buket bunga sambil menggoyangkannya. Onew duduk disampingku

“Now, can you tell me ? Your Feel right now?” tanyanya, menggeser bangku agar lebih dekat denganku. Aku meletakkan pensil,

“Aku, as you know, masih belum baik baik saja”jawabku rendah .

“Kalau kau membutuhkan sesuatu yang membuatmu, Senang, datang saja ke aku. Oke , Nana?” ucapnya sambil seraya berdiri. Aku mengangguk cepat, lalu memberikan senyum untuk Onew. Dia membalas senyumnya, lalu pergi kembali ke mejanya.

Rekan kerja yang baik, pikirku tentang Onew. Dia selalu ada disaat aku membutuhkannya, bahkan seperti tersedia untuk membantuku. Baik sekali.

Aku pun lanjut menggambar desain. Dan teleponku berdering lagi.

“Jung Na Eun dari Desain and Build Factory”

“Nana? Ini Nana kan?”

“Ya, benar. Maaf, saya berbicara dengan siapa?”

“Ini Se Hun. Oh Se Hun”

“Oh, Se Hun. Ada apa? Kenapa kau menelpon di nomor kantor? Bukan di handphoneku saja?”

“Tidak, aku hanya ingin menanyakan beberapa hal padamu. Kau sibuk?”
“Sedikit, tapi aku akan menjawab pertanyaanmu sebisaku”
“Kau bertengkar dengan Kris?”

Pertanyaannya langsung. Lidahku kelu menjawab pertanyaannya.

“Nana?”
“Ah, maaf. Ya, aku bertengkar dengannya”

“Karena dia mempermainkanmu? Dia menikahimu sebagai taruhan?”

Darima dia tahu soal ini?

“Darimana kau…”

“Aku temannya, mereka bertiga bertaruh tapi aku tidak. Begini, bisa kita bertemu? Aku ingin membicarakannya. Jelas dan supaya kau tidak salah sangka”

Salah sangka? Aku bahkan tidak tahu kalau Se Hun mengetahuinya. Tapi, syukurlah dia tidak terlibat. Aku tidak tahu apa jadinya jika dia terlibat. Rasanya aku tidak akan mempercayainya, mungkin.

“Bisa. Kau saja tentukan wkatunya kapan”

“malam ini jam 7 di taman Dong Yo, bisa?”

“Baik, aku bisa”
“Aku akan menunggumu. Sampai nanti”

“Ya”

Kenapa Se Hun meminta bertemu?

“Setidaknya aku mendapat kejelasan”

#AUTHORPOV#

Pukul 6.45 , Se Hun duduk di taman Dong Yo, di bangku panjang dekat pohon beringin yang teduh.

“Nana”sapa Se Hun. Nana tersenyum

“hey, apa kabar” katanya menjabat tangan Se Hun. Setelah Se Hun persilahkan duduk, Nana duduk.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” kata Nana memandang lurus mata Se Hun. Se Hun mengumpulkan sedikit kata-katanya yang akan dia katakan kepada Nana

‘Maafkan aku” kata Se Hun.

“Untuk apa?”

“Karena aku tahu, Kris menikahimu karena….”

“Sudahlah. Aku juga tahu, kau tidak seperti ketiganya. Justru aku mau berterima kasih padamu, karena kau sudah baik sekali padaku” ujar Nana. Se Hun tersenyum lega.

“Jadi, kau bisa menceritakan kejadiannya? Jangan-jangan waktu di taman itu, kau menangis karena… hal ini?” tanya Se Hun. Seketika, raut wajah Nana berubah menjadi sedih.  Rasa bersalah merasuki Se Hun

“Maafkan aku, Nana”

“Tidak, aku mengerti”kata Nana. Nana mengambil napas panjang,

“Waktu itu, aku dan Kris baru pulang dari Tokyo, liburan. Sedang dalam perjalanan, dan sikap Kris pun sama sekali tidak sedingin biasanya. Aku sendiri heran, namun aku menyayanginya, jadi….kau mengertilah. Lalu, Jong Hyun datang, dan dia mengatakan semuanya, semua yang Kris sembunyikan. Dan, Memang benar. Aku tidak tahu harus berbuat apa saat itu. Kurasa batinku benar-benar ditusuk”

“Jadi?”

“Jadi, aku langsung menjauhinya. Aku tidak tinggal serumah dengannya, buktinya dia tidak mencariku. Seharusnya aku tahu dari awal, kalau dia tidak mungkin menyukai ku, aku seharusnya sadar diri, kalau aku ini tidak pantas bersamanya”

“Justru Kris tidak pantas bersamamu. Kau itu istimewa, Kris terlalu bodoh mencampakkanmu dan membuatmu sakit hati dan menderita seperti ini”

“Seharusnya aku sudah sadar pada saat Amber memberitahuku, kalua Kris mencium gadis lain di  tempat karaoke.”

Air mata Nana mengalir.

“Kata Amber, sangat Hot malahan. Bahkan, dia menyentuhku atau melihatku saja tidak. Aku… terlalu tersita oleh dirinya. Aku hanya mendapat cinta searah, tidak seimbang. Kau tahu, aku tidak membayangkan hidup tanpanya. Walaupun perlakuannya, namun, aku…aku…membutuhkannya. sangat membutuhkannya”

Se Hun terus melihat Nana yang menangis.  Nana menutup matanya,

“Aku bodoh, ya? Tapi, Kang Kris adalah cinta pertamaku. Aku… dan aku… kini harus hidup tanpa dirinya. Se Hun, dia…dia…”

Dan Se Hun menarik Nana ke pelukannya. Tidak ada perlawanan sama sekali. Nana pun terisak dipelukannya.

“Aku…Menyukainya…aku…mencintainya….”

Se Hun semakin memeluk Nana erat.

“Menangislah, Nana. Aku disini untukmu”

2 pemikiran pada “Please, Stop The Time (CHAPTER 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s