Dreams Jourrnal : Why Did You Come Now (part 1)

Title : Dreams Jourrnal : Why Did You Come Now (part 1)

Author : MinKi

Rating : R-17

Length : Two Shot

Genre : Romance, hurt

Cast :

  • Park Chanyeol
  • Im Yura
  • Lee bokyung
  • Oh Sehun

Summary : Why did you come just now, I Wait you for so long.

Disclaimer : Ini FF original buatan Minki, OC punya Minki juga, Chanyeol dan Sehun punya Tuhan, Orang Tua, para fansnya dan Minki {{}} DO NOT PLAGIARISM

n/b : Warning this ff have a sex  part. If you don’t like it just skip that, I give bold font to that part.

Plotnya mungkin agak kecepatan, dan beberapa Typo juga mungkin akan ditemukan. Semoga yang udah baca enggak kecewa. Minki mohon Sarannya ya. Yaudah cus~~

Malam ini, kemarin dan beberapa bulan lalu sejak aku bertemu dengannya, ada perasaan lain, aneh. Padahal semuanya hanya semu. Tapi kenapa perasaan bisa tumbuh? Semua hanya terasa nyata. Hembusan nafasnya, sentuhan lembutnya, suara cantiknya, parasnya memang tak begitu menarik, tapi aku mengingatnya, semuanya. Setiap hari aku menuliskan disini. menuliskan hal semu yang kualami. Aku ingin sekali bertemu dengannya setiap detik. Hal ini adalah yang kedua kalinya dalam hidupku. Tapi, yang satu ini aneh. Ini diluar akal manusia, ini tidak mungkin.

Author’s Pov

Chanyeol bangun dari tidurnya. Sudah sejak beberapa bulan yang lalu ia selalu bersemangat menjalani hari – harinya. sebelum berangkat sekolah selalu sarapan maskaan ibunya, berangkat berjalan kaki dan yang pasti mengikuti pelajaran dengan penuh gairah. Dari semua kegiatannya yang dijalaninya hanya satu yang benar – benar ia sukai,tidur.

Sejak lebih tiga bulan lalu tidur adalah kegiatan yang membuatnya menjadi Chanyeol enam tahun lalu. Mengapa? Karena didalam tidurnya ia mempunyai mimpi yang indah. Sangat indah. Bahkan ia pernah berfikir untuk tidur selamanya.

#Go back to Chanyeol’s dream 3 month ago

Chanyeol sedang berjalan di jalan sempit yang diapit pohon pohon ceri cantik. Tiba – tiba ia terjatuh, entah apa yang membuatnya terjatuh. Seorang yeoja mendekatinya dan mengulurkan tangannya. “Gwencanha?”  Ujar yeoja itu. Chanyeol tidak menghiraukan uluran tangan yeoja itu. Dan melanjutkan perjalanan tanpa sepatah katapun. Chanyeol tersungkur lagi, tidak berdarah, namun sakitnya menusuk sampai ketulang, membuatnya tak bisa berjalan bahkan satu inci pun. “Hey tiang listrik dingin yang bisu. Kau mau aku bantu atau tidak?” Ucap gadis itu kesal, gaya bicaranya imut-aegyo– Chanyeol tetap diam tak bergeming. Gadis itu berjalan lurus kearah Chanyeol. Bukan ingin membantu Chanyeol lalu memukul bahu Chanyeol keras. Lalu berjalan melaluinya.

Malam berikutnya

Ia masih terduduk ditempat yang sama seperti kemarin kakinya masih sakit. Ia duduk lama karena kakinya sama sekali tidak bisa digerakkan. Hari mulai gelap. Ia bingung, ia rasa ia ingin bangun saja dan melanjutkan tidur dengan mimpi yang berbeda. Chanyeol sadar ia sedang berada dalam dunia mimpi. Ketika ia ingin bangun seseorang menepuk bahunya dari belakang dan membantunya berdiri. “Padahal aku malu sekali membantumu seperti ini, tapi aku tidak tahu ada magnet kuat yang menyuruhku membantumu.” Chanyeol tidak mau dibantu “lepaskan, aku bisa sendiri” ujarnya ketus. “Kau membuatku malu lagi” gadis itu masih membantu Chanyeol. Chanyeol berhasil berdiri, gadis itu masih memegang Chanyeol. Dengan hentakan keras Chanyeol melepaskan tangan gadis lucu itu. Gadis itu terjatuh, lututnya berdarah. Gadis itu menatap sinis Chanyeol. Lalu berlari setengah pincang. Chanyeol merasa tidak enak. Ia mengejar gadis itu. Mengejar? Chanyeol terhenti sejenak. ‘aku berlari?’ Pikirnya. Ia memikirkan itu sambil berlari mengerjar gadis itu. ‘Bagaimana aku bisa berlari, sedangkan kakiku digerakkan saja sakit.’

Ia tiba disebuah hamparan danau indah, ia melihat gadis itu ditepian danau sambil melempari batu.

“Bahkan didalam mimpi pun aku terlihat bodoh. Urggh, f*cking stupid”  gadis itu memukul kepalanya sendiri. Chanyeol bertahan ditempatnya lalu terbangun

‘Seperti itulah kesan pertamamu padaku, aku menyebalkan, aku Tiang listrik dingin yang bisu’

Malam selanjutnya

Masih tempat yang sama saat terakhir kali ia berdiri. ‘Apa ini? mimpiku tidak berubah, malah berlanjut’ batinnya. “Hey kau mengikutiku ya?” Tanya gadis yang kemarin. Lagi, Chanyeol hanya diam. “Ya!! Tiang listrik dingin yang bisu, kenapa kau tidak pernah menjawabku. Untuk apa kau membawaku kemimpimu?” teriak gadis itu. “Bahkan menanyakan namaku saja tidak” timpalnya sambil memanyunkan bibir tipisnya.

Chanyeol mengangkat sebelah alisnya. “Aku membawamu ke mimpiku?? Apa seleraku memburuk saat didunia mimpi” jawab Chanyeol merendahkan. Gadis itu menatap dingin ke arah Chanyeol. “Kalau saja aku bisa menghilang, aku sudah menghilang.”

‘Gadis aneh, siapa peduli kau mau menghilang atau tidak.’ Batin gadis itu. Chanyeol mendengarnya. “kau bicara apa??” Tanya Chanyeol. “Bicara? Siapa yang berbicara.” Gadis itu menatap aneh Chanyeol. “Kau bilang, gadis aneh, siapa peduli kau mau menghilang atau tidak” Gadis itu membelalakan matanya. “Aku hanya berbicara didalam hatiku, kau? Kau bisa mendengarnya?” Tanya gadis itu. “A..a..aku juga tidak tau” jawab Chanyeol.

#Chanyeol’s dream end

Semua mimpinya itu dicatatnya dalam buku yang diberinya nama ‘Dreams Journal’

Tak tertinggal sedetikpun yang dia atau tepatnya dia dan Yura-gadis yang ada dimimpi Chanyeol- lakukan tertinggal didalam lembaran buku itu.

Chanyeol tengah asik mengerjakan tugasnya. Entah kenapa tiba – tiba ia merindukan Yura. Ia mengambil Dream Journalnya lalu membukanya.

3 Desember 2013

Hari dimana aku mulai menjalin hubungan dekat duduk didekat orang aneh yang selalu muncul diduniaku. Hari itu kau tampak cantik, entahlah. Rambutmu yang diurai mungkin membuat sedikit perubahan pada wajah ovalmu itu. ‘Yura, Im Yu Ra’ katamu sambil membenarkan tali sepatuku yang diikat asal. Kau bilang namaku aneh. Menurutku bahkan wajahmu lebih aneh. Im Yura bodoh, jangan temui aku lagi. Apalagi memegang bahuku seperti itu. Dasar gadis tidak tahu malu!!

Chanyeol tertawa sendiri melihat tulisannya sendiri. Dia bingung kenapa ia tidak menyukai Yura pada awalnya.

5 Januari 2014

Kenapa tidurmu lambat sekali? Urg, aku menunggumu lama. Yeoja pabo! Sudah 30 menit, baru saja kau datang.

Hari ini kau tampak sangat lelah. Kau mendatangiku lalu menyandarkan kepalamu yang berat itu kebahuku. Tanpa sepatah katapun. Untuk pertama kalinya aku berkata ‘ada apa’ pada orang lain. Kau bilang, kau sangat lelah. Kau bertanya padaku, “apa aku orang yang terlalu baik atau malah bodoh?”. Pertanyaan macam apa itu. Aku bahkan baru 1 bulan mengenalmu. “Aku mengiyakan semua yang dikatakan teman – temanku, karena aku pikir itu biasa saja. Kalau itu diluar batas aku tentu tidak mau. Tapi temanku mungkin kelepasan bicara dan ia bilang ‘Yura mau aja disuruh ya,bodoh’ aku harus apa? Menjauh? Mengatakan kalau aku orang baik bukan bodoh? Eottae chanyeol-ah??” Pribadi unik. Andai aku bisa melihatmu didunia nyata. Tapi kau hanya sebatas mimpi.

******

Chanyeol seperti mendapat sesuatu dikepalanya, ia menutup bukunya itu dan bertanya pada teman disampingnya “Baekhyun-ah, bagaimana jika kau bertemu seseorang, kau tahu dia akan selalu datang padamu dalam waktu terbatas. Tapi kau selalu ingin menemuinya. Apa yang akan kau lakukan?”

“Kecerdasanmu memang berada dibawah rata – rata. Kalau aku, tentu saja akan meminta biograpi leengkapnya, seprti alamat, nomor telpon, dan jadwalnya” Jawab Baekhyun. “Bukan, maksudku begini, kau punya seseorang dari dunia lain. Dan bagaimana cara agar kau menemukannya didalam duniamu?”

“Hantu, gumiho atau sebagainya sama saja seperti manusia, punya rumah. Tanyakan saja alamat lengkapnya dan juga kalau dia punya nomor telpon tanyakan itu. Ehhm, tapi kau benar – benar melihat hantu perempuan? Apa dia manis?”

“Dia bukan hantu. Sudahlah.” Chanyeol meninggalkan Baekyun, ia pergi ke perpustakaan, menyembunyikan diri. Disuasana perpustakaan yang memang sedikit gaduh ini, Chanyeol membuka lagi Dreams Journalnya

Beberapa halaman ia lewati. Sampai ia menemukan sesuatu yang tak disadarinya selama ini.

13 Januari 2014

Seperti drama yang punya episode bersambung, seperti itulah mimpiku. Hari ini kau terlihat sangat bersemangat, raut wajahmu berbeda, kau lebih ceria dari pada hari – hari sebelumnya. Kau bilang, ‘Chanyeol, aku mengikuti les piano, tidak jauh dari sekolahku. Tapi agak jauh dari rumahku. Sebenarnya, yang membuatku senang bukan karena aku masuk les piano, tapi karena teman – teman les ku berdominasi anak ganteng, ah, aku rasa aku akan betah. Oh iya, waktu aku mau menyebrang, disebelahku ada namja tampan, ia teman selesku. Astaga Chanyeol, ia meminjamkan jaketnya padaku, karena kau tahukan hari ini hujan, suhu jadi lebih dingin setelah hujan. Disebelah tempat lesku ada reestaurant yang menjual sapi panggang, ia tanya mau kah aku membelinya, tentu saja . . . . . . —

Chanyeol menuttup bukunya. Satu – satunya yang menjual sapi panggang terenak diSeoul. Dan disebelahnya adalah tempat les. Mungkin itu tempatnya. Chanyeol tersenyum lebar. Ia tahu dimana tempat itu. Sudah seminggu setelah 13 januari, Chanyeol berharap Yura masih les disana. Yura adalah orang yang sangat mudah bosan dengan les les seperti itu. Jadi ia bisa aaja berganti tempat les. Pulang sekolah ini tujuannya adalah: tempat les piano Yura

.

.

.

.

.

I Don’t Know what ‘Real’ is. You’re Real but You’re Different. I’m Real but I’m still the same

Chanyeol’s Pov

 

Aku menemukan tempat lesnya, dan benar diseberangnya adalah sekolah. Aku belum tahu pasti apa itu sekolah Yura atau bukan, disana ada dua sekolah. Yang pertama diseberangnya, dan yang kedua masih harus berjalan kira – kira 1 km dari tempat les ini.

Tentu saja, yang pertama adalah yang paling dekat. Aku menanyai beberapa murid. Tapi, mereka bilang tidak tahu, bahkan sebagian bilang tidak ada orang bernama Im Yura disekolah ini. Mungkin, ada disekolah yang satunya.

“Park Chanyeol” panggil seseorang dibelakangku. Suaranya mirip sekali dengan, Yura! aku membalikkan badanku. Sebelum aku mendatanginya ia berlari mendatangiku lebih dulu. Mmm, ini sedikit berbeda. “Nuguseo?”  tanyaku. “Aku, Im Yura” jawabnya, aksennya berbeda dari mimpiku. Dan gaya bicaranya, tidak lucu, bahkan aku rasa ia sedikit lebih sexy. Ia memelukku. Aku agak ragu, karena ia terlihat sedikit berbeda. Wajahnya tidak terlalu mirip tapi jika aku perhatikan dengan baik wajahnya sangat mirip denga Yura yang berada dimimpi.

Aku memintanya ketaman bermain anak – anak dekat rumahku.

Kami sampai ditujuan

“Untuk apa kita kesini?” Tanyanya. “Hanya untuk membicarakan sesuatu. Kau tidak suka tempat ini?” Ia menggelengkan kepalanya lalu tersenyum, tentu saja aku menyukainya. Ia menggenggam tanganku. Tangannya dingin. Kami duduk diayunan. Aku mulai menggerakkan kaki kakiku pelan. “Im Yura, apa dimimpimu aku berbeda?” Aku mulai membuka pembicaraan. Ia diam sejenak lalu menjawab dengan pasti “Iya. Memangnya kenapa? Apa aku juga berbeda dimipimu?”

“aku tidak tahu, tapi, kau sangat sangat berbeda. Kau seperti bukan Im Yura.” Yura memberi tatapan dingin padaku. “Aku Im Yura, kau Park Chanyeol, adalah orang yang sangat tampan dalam mimpiku. Sangat berbeda dengan yang kulihat sekarang” aku mengangguk pelan. Apa memang seperti itu? Bagaimana dengan perasaan? Apa pipinya masih memerah saat didekatku. Jika iya. Akulah yang aneh. Perasaan itu, detak jantung yang rasanya hendak lepas saat dimimpi. Di dunia nyata ini, bahkan saat melihatnya aku seperti melihat stranger. 

Yura-ah” ia mengarahkan pandangannya padaku. secara spontan aku mendekati wajahnya, hidung kami hampirr bertabrakan dan aku membuatnya menjadi semakin lebih dekat. Ekspresinya aneh. Dia Im Yura.

Author’s Pov

Dia Im Yura. Chanyeol berkata pasti dalam hatinya. Ia lalu menjauhkan wajahnya yang menempel dengan Yura. Lalu Chanyeol tertawa puas. “Apa yang kau tertawakan?” Ujar Yura jengkel. “Ekspresimu sangat lucu, pasti kau sangat gugup, iyakan?? Hahaha, maafkan aku tadi sempat meragukanmu, marshmallow” Yura memukul keras tangan Chanyeol. “Aww” Chanyeol merintih lalu tertawa lagi.

Hari ini mereka berjanji bertemu disebuah cafe. Dijalan menuju sekolah Yura Chanyeol sempat membandingkan Yura didalam mimpi dan didunia nyata. Ia bahkan menuliskannya di Dream Journalnya itu. Wajah Yura yang dilihatnya sekarang memeang menampakkan perbedaan tapi, perbedaan itu tidak terlalu nampak. Chanyeol meragukan Yura yang sekarang, tapi, jika ia bukan Yura, dari mana ia tahu nama Park Chanyeol.


Didalam mimpi :

  1. Lucu, Gwiyo
  2. Tidak cantik
  3. Tidak sexy
  4. Sangat pemalu
  5. Sopan
  6. Berbicara dengan lebut dan kadang ber-aegyo
  7. Tangan Hangat
  8. Hidung mancung

Di Dunia nyata :

  1. Tidak lucu sama sekali
  2. Canik dan menarik
  3. Sexy
  4. Out Going
  5. Kurang Sopan
  6. Berbicara setengah berteriak
  7. Tangan dingin
  8. Hidung kurang mancung seperti dimimpi

 

Busnya sampai, Chanyeol menutup bukunya itu dan menyimpannya didalam tas. Ia tersenyum lebar setelah sampai didepan sekolah Yura. Yura menggandeng tangan Chanyeol  lebih dulu. Berbeda. Mereka sampai di cafe yang ditentukan. Masing – masing memesan. Tidak ada yang menyenangkan. Tertulis dibawah daftar perbedaan itu.

            Hari Libur ini mereka bertemu lagi. Yura memakai hot pants dan sweater lengan panjang. “aku tidak pernah melihatmu mengenakan pakaian sexy” Ujar Chanyeol. Yura hanya tersenyum. Chanyeol nakal, ia mengetes sesuatu, tangannya awalnya berada di pinggul milik Yura, ia turunkan perlahan sampai menyentuh bokong Yura, dan memberinya sedikit remasan ringan. “Chanyeol-ah” Yura berteriak. Chanyeol melepas tangannya. “Kalau kau mau jangan ditempat terbuka.” Chanyeol terkejut dengan apa yang dikatakan Yura. Bukannya marah, ia malah berbicara seperti itu. Yura tersenyum, ia memegang tangan Chanyeol lalu meletakkannya didadanya. “Kau Mau ke apartement ku?” iblis dibadan Chanyeol menggerakkan kepalanya untuk mengangguk.

            Mereka berada dikamar Yura sekarang. Tentu saja, apa yang dilakukan dua orang perempuan dan laki – laki dalam satu kamar? Hot pants Yura sudah bertebaran dilantai sweater lengan panjangnya pun juga. Kaos Chanyeol juga tergeletak dilantai kamar Yura menampakkan badan Sixpacknya. Hanya celana panjangnya yang terpasang sekarang. Mereka mulai memainkan masing – masing lidah. Yura mengeluarkan suara rintihan menggairahkan yang membuat Chanyeol tambah bersemangat. Perlahan bibir Chanyeol turun ke leher putih milik Yura. Ia mendudukkan Yura yang terbaring dikasur dan mulai membuka bra merah milik Yura, Chanyeol mulai melumati dada besar itu. “aa..hh.. uu..uuuh ya Chanyeol…lakukan….lakukan…uuhhh..ahha” teriak Yura. Yura mengacak penuh gairah rambut Chanyeol. Tangan – tangan nakal Chanyeol hendak membuka celana dalam Yura tapi tiba – tiba ia terhenti.

 

 

 

Chanyeol lalu berhenti. “ada apa Chanyeol-ah?” Chanyeol mengambil kaosnya dan memasangnya. “Aku takut pergi terlalu jauh, Yura-ah. Mianhae, aku pulang dulu. Gomawo untuk hari ini” “Ya! Park Chanyeol”

Chanyeol melangkahkan kakinya keluar dari apartemen Yura. ‘Kau gila Park Chanyeol. Kau hampir melukainya sekarang’ Chanyeol mengacak – acak rambutnya sendiri. ‘tapi, bukan aku yang memintanya, dia yang memintaku’ pikirnya lagi. ‘arrrgg Michigeseo

Ketika di lift ia melihat seseorang mirip sekali dengan Yura. Ia melihat kearah matanya. ‘Bokyung hari ini, apa yang dia lakukan, bahkan telponku tidak diangkat’ ujar gadis yang dilihat Chanyeol itu. ‘dasar teman egois, aku tidak punya teman sekarang, apa kau sedang dengan Sehun? Issh anak ini’ gadis itu marah – marah, ia memaki temannya didalam fikirannya dan Chanyeol mendengarnya. Gadis itu menatap Chanyeol balik tapi lalu pintu lift terbuka. Gadis itu langsung keluar dengan cepat karena jamn tangannya berbunyi. Chanyeol juga keluar. Ia merasa aneh. Gadis itu mirip sekali dengan Yura.

*****

Setiap hari mereka bertemu, hingga tak ada waktu luang yang tersisa untuk sahabat Yura. Setiap hari sahabatnya itu menelpon dan sms bahkan datang ke apartement Yura. Tapi selalu ditolak oleh Yura. Chanyeol bilang,’ kenapa tidak kau ajak dia saat kita jalan jalan’. Tapi Yura tidak mau, ia menolak usulan Chanyeol itu. Memang Chanyeol tidak pernah bertemu dengan sahabat Yura itu, tapi, ia merasa kasihan dan bersalah padanya, ia mengambil Yura yang selalu bersama dengannya itu, kini mereka harus berpisah untuk jarak yang sangat jauh. Chanyeol tahu pasti bagaimana perasaan sahabatnya Yura, tapi, Chanyeol lebih memikirkan perasaan Yura daripada orang yang tidak dikenalnya.

Hari ini, Yura mengajak Chanyeol ke apartementnya lagi. Yura memang hidup sendiri tanpa orang tuanya, orang tuanya berada di Australia. Chanyeol akan datang terlambat, karena ia harus menyelesaikan tugasnya dulu. Sebenarnya akhir – akhir ini Chanyeol malas sekali bertemu dengan Yura. Ia merasa Yura berubah dan pergi sangat jauh. Mungkin orang didalam mimpi itu terlalu indah untuk berada didunia yang berantakan ini, pikirnya. Sebelum ia ke apartement Yura, Chanyeol memikirkan untuk membeli permen, didalam mimpi, Yura suka sekali dengan perment apalagi yang berasa mint. Dia mendapatkannya dan segera menuju apartement Yura. ‘Tok Tok Tok’ Chanyeol menyiapkan senyumnya sebelum Yura membuka pintu. “Anyeong, Yura-ah” Chanyeol mengangkat tangannya. Mereka duduk diruang tamu Yura. “Ini” unjuk Chanyeol pada Yura. Sebongkah permen mint. “Apa ini?” Yura terkejut. “Bukankah itu permen yang kau suka?” Chanyeol mengangkat sebelah alisnya. “Aku benci benda – benda ini. keluarkan mereka sekarang, astaga kau ini, aku benar – benar membenci permen mint.” Chanyeol bingung, sangat bingung. Ia menjauhkan permen permen itu lalu duduk disebelah Yura. “Yura-ah, apa kau Im Yura? Mungkin, nama keluargamu bukan Im?” chanyeol mulai meragukan Yura, lagi. “Apakah setiap kegiatanku, kesukaanku, harus selalu sama dengan dimimpimu. Aku tidak tahu mimpimu seperti apa, memangnya sebaik apa aku dimimpimu, huh?” yura berteriak. Chanyeol sangat tidak suka diteriaki. “Eo. Dimimpiku, kau seseorang yang berbeda,kau sangat unik, kau perhatian, kau gadis lucu dan kau juga gadis sopan yang tidak pernah berteriak. Ternyata didunia nyata ini, kau sama saja, sama seperti gadis lain.” Chanyeol meninggikan nada bicaranya. “Mwo? Apa maksudmu sama saja dengan gadis lain.”

“Kau hanya mengandalkan kelebihanmu itu untuk mendapat perhatianku, kau lupa kekuranganmu”

“Apa maksudnya Park Chanyeol”

Chanyeol diam meredakan emosinya. Yura-pun seperti itu. Mereka diam sangat lama. Hingga Yura membuka pembicaraan. “Mianhae Chanyeol-ah. Aku berteriak, aku lupa kau tidak suka diteriaki, tadi itu aku hanya, aku marah, kau tidak percaya padaku, aku cuma takut kau tidak menyukaiku lagi. Aku takut kau menyukai orang lain.” Chanyeol masih diam. “Park Chanyeol, Mianhanda.” Yura memeluk Chanyeol. ‘aku bisa gila, setengah jam yang lalu kau bukan Yura, semenit yang lalu kau adalah Yura, sekarang kau bukan Yura. Apa yang harus aku lakukan?’ batin Chanyeol. Ia sekarang didalam pikiran yang sangat kacau. Yura melepaskan pelukannya. Ia lalu memberikan ciuman pada Chanyeol. Chanyeol tidak melakukan apapun, membiarkan Yura yang bekerja. Semenit kemudian Chanyeol membalas ciuman Yura yang tidak berhenti itu. Ia juga mulai memainkan lidah lidahnya. Ditengah tengah ciuman panas mereka . . .

Chukkae uri Bo Ky..ky..kyung-ah. Bo Kyung-ah” seorang gadis memakai topi ulangtahun dan dengan sebuah kado ditangannya bardiri didepan pintu apartement Yura yang menghubungkan langsung dengan ruang tamu itu. Gadis itu berlari keluar apartement segera. Mereka melepaskan ciuman itu. “Bo Kyung? Siapa Bo Kyung?” Tanya Chanyeol pada Yura. Belum sempat Yura membuka mulut, seorang namja datang lalu disusul gadis tadi dengan wajah takut dan gelisah. Namja itu memukul Park Chanyeol, hingga hidungnya berdarah. “Sehun-ah hentikan, Sehun-ah, Oh Sehun Stop it” gadis tadi menghentikan namja yang bernama Oh Sehun itu. Yura hanya diam, shock. Gadis itu mendatangi Chanyeol yang hidungnya berdarah dan mengambil sapu tangan dari tasnya.

Saat melihat wajah Chanyeol gadis itu sepertinya mengenal Chanyeol. “Park Chanyeol?” ujar gadis itu. Chanyeol mendudukkan badannya. Ia memperhatikan dengan seksama gadis yang memanggilnya. Nafas Chanyeol serasa akan berhenti, ia mendapati kebingungan yang sangat besar disini. Rahang Chanyeol rasanya kaku untuk menutup atau berbicara. “Park Chanyeol? Yura-ah, kau mengenalnya?” tanya Sehun pada gadis yang memberi sapu tangan pada Chanyeol. Yura kedua itu mengangguk pelan tanpa melihat kearah Sehun, pandangan masih tertuju pada Chanyeol.

“Apa maksudnya ini? Im Yura? Kau bukan Im Yura kan?” Chanyeol berdiri mendekati Yura yang dari tadi terdiam. “Siapa kau?” tanya Chanyeol nadanya mulai meninggi. “Jangan kasar pada wanitaku” Sehun memperingatkan Chanyeol. “Wanitaku? Apa, apa ini? Kau berbohong padaku?” wajah Chanyeol jelas sekali melukiskan ekspresi kecewa sekaligus bingung yang tak habisnya. Chanyeol lalu meninggalkan mereka bertiga. “Park Chanyeol” Panggil Yura seraya mengejarnya, tapi ditahan oleh Sehun. Yura kedua itu juga terkejut. “Bo kyung-ah, kenapa ia memanggilmu Yura?” tanya gadis itu sambil menundukkan kepalanya. “Aku, hanya, ini sangat rumit untuk dijelaskan, tapi, aku akan menjelaskannya, begini Yura-ah . . “ Yura yang asli menaikkan kepalanya dan menatap dingin Bo Kyung. “Sudahlah diam, aku mengerti, aku mengerti sekarang.” Yura asli itu lalu meninggalkan apartement Yura palsu-Bo kyung- Sekarang hanya tersisa Oh Sehun. “Aku akan mendengarkan penjelasanmu, nanti, aku juga sedikit mengerti situasi sekarang ini bokyung-ah.” Oh Sehun pun ikut meninggalkan Bo Kyung sendirian. Bo Kyung terduduk lalu menangis sambil memegangi wajahnya.

Tiba – tiba Sehun kembali dan memeluk Bokyung. “Jangan menangis, aku akan mendengarkan penjelasanmu, apapun itu.” Bokyung masih menangis. “Mianhae Sehun-ah

“Kau bisa mengatakan kapapanpun kau mau.” Sehun mempererat pelukannya. Selang berapa lama Bokyung berhenti menangis dan mulai menjelaskan segalanya.

“Sebenarnya . . . Yura, menyurhku berpura – pura menjadi dirinya, karena ia takut Park Chanyeol, orang yang disukainya itu tidak menyukainya karena dia yang tidak menarik itu. Aku mengiyakan, dan kami mulai berpacaran, tapi aku hanya sebagai Yura.”

Sehun membuang mukanya. “Tapi, kalau seperti itu, kenapa Yura membawaku ke apartemenmu untuk merayakan 1tahun anniversary kita?”

“Itu.itu..mungkin karena Yura ingin menghancurkan hubunganku denganmu. Kau tahu dia selalu iri dengan apa yang aku miliki, terlebih dia tidak pernah punya pacar, dia iri karena aku mendapatkan seseorang sepertimu.”

Sehun terdiam. ia masih tidak mengerti. Kalau Yura menyuruh Bokyung berpura pura, kenapa Bokyung mengiyakan. Bahkan Bokyung mau berciuman dengan Chanyeol. Sedangkan selama setahun berpacaran Bokyung tidak pernah mau dicium oleh Sehun.

“Kau percaya aku kan, Chaggi?

-+-+-+-+-+-

            Im Yura berlari setelah turun dari taxi. Ia seperti akan kehilangan sesuatu jika tidak berlari dengan cepat. Yura menemukannya, Park Chanyeol. Chanyeol sedang duduk disalah satu ayunan ditaman bermain anak – anak. Yura menghampirinya. Ia berdiri agak jauh tapi masih tertangkap pandangan Chanyeol. Yura diam disana sambil memandangi Chanyeol dengan senyuman lebarnya. Air matanya jatuh perlahan, langkah Yura seperti tertahan, jari – jarinya menggemnggam satu sama lain. Chanyeol berdiri dari ayunan yang didudukinya. Ia berjalan perlahan penuh kehati – hatian. Mereka berhadapan sekarang. Yura menungakkan kepalanya mengarah kearah Chanyeol. Dua tangan Chanyeol yang gemetaran perlahan naik menyentuh pipi Yura. Yura tersenyum lagi air matanyapun turun lagi. Chanyeol menghapus air mata itu dengan ibu jarinya. “Pangeran dingin itu ternyata benar – benar ada.” Chanyeol hanya diam, ia takut, terlalu takut untuk percaya gadis yang berada dihadapannya sekarang. Wajahnya sangat mirip dengan Yura yang berada dimipinya. “Tiang Listrik dingin yang bisu. Kau ada didunia mengerikan ini.”

‘Deg Deg Deg’

‘Im Yura? Haruskah aku mempercayainya? Apa dia yang asli? Dia Im Yura yang ada didalam mimpiku?’

Why Did You Come Just Now? I wait you for so long. Let’s begin it, in the real life, NOT A DREAM.

 

 

TBC –

Please don’t be silent reader! Minki sangat berterima kasih kalau kalian ngomen ff ini. Kamsahamnida

4 pemikiran pada “Dreams Jourrnal : Why Did You Come Now (part 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s