Werewolf [Chapter 7]

Title : Werewolf [Chapter 7]

Author : gabechan (@treshaaruu)

Genre : Fantasy, Tragedy, Thriller, and maybe Romance?

Length : Chapter (on going)

Rate : T

Main Cast : Park Chanyeol, Lee Hyejin, Wu Yi Fan (Kris), Oh Sehun (new casts will come out soon)

FF ini terinspirasi dari lagu VIXX “Hyde” dan EXO “Wolf”

Annyeong, Gabechan’s here! Di chapter ini, ada cast baru yang muncul. Siapa? Mungkin readers udah tahu, soalnya cast ini udah muncul di chap sebelumnya ^^ Sebenarnya aku agak takut kalau FF ini membosankan, tapi aku usahain biar seru dan readers suka J Aku juga udah buat draft untuk chap selanjutnya karena bulan ini dan seterusnya aku akan sibuk dgn berbagai ujian praktek, TO dan bimbel UN. Jadi kemungkinan besar aku akan hiatus sementara L karena itu silahkan tinggalkan komen atau klik like kalau suka dgn ff ini. Aku minta saran readers tentang kelanjutan cerita ini dan kalau menarik akan aku gunakan dlm ff ini, tapi akan tetap dicampur dengan imajinasiku juga ^0^ oya, secret power apa yg menurut readers keren dan cocok sm cast ff ini? silahkan ksh pendapat kalian yaa di komen~

Happy readingg~~

 

 

NO PLAGIARISM, THIS IS PURE MINE!

 

_____

“Wah, aku lupa mengatakan padamu kalau dengan menatapku langsung seperti itu bisa berakibat fatal.”

_____

 

 

“Sekarang pilih saja,” katanya, “kau mau aku yang mencabut jantungnya atau kau akan melakukannya dengan tanganmu sendiri?”

Chanyeol tidak tahu harus menjawab apa.

Kedua mata sayu beriris merah itu menatap lelaki di hadapannya tajam. Kalau saja kemampuan untuk menghilangkan diri itu dimilikinya, Chanyeol tidak akan menyia-nyiakan keistimewaan yang satu itu.

Yang ada dipikirannya sekarang adalah cara untuk melumpuhkan manusia serigala ini. Ia ingin menghajar telak wajah penuh keangkuhan milik Sehun saat lelaki itu tersenyum remeh. Dan lagi-lagi, kondisi tubuhnya yang penuh luka dan rasa lemas luar biasa menghambat gerakannya. Yang Chanyeol tidak sadari, Sehun sudah memperkirakan semuanya sejak awal.

“ARRGGHH…”

Rentetan cakaran membuat Chanyeol kembali mengerang kesakitan dengan suara pilu.

Chanyeol menundukkan kepalanya, berharap hal itu bisa mengurangi rasa perih yang dirasakannya. Kalau seperti ini, ia bisa mati. Kalungnya bahkan berada pada tangan yang salah, pada waktu yang salah pula. Selama Sehun tidak menyembunyikan kalung itu di tempat yang Chanyeol tidak ketahui, ia masih bisa menyerap kekuatan yang terpancar dari kalung itu.

“Jawab pertanyaanku, bodoh!”

“A, aku.. tidak bisa…”

“Tidak bisa? Sayang sekali. Sepertinya aku akan mendahului kalian berdua.”

Suara berat itu menggema keras, membuat Chanyeol menoleh dengan lemah ke arah sumber suara yang tak lain adalah Kris. Genggaman Sehun pada kalung itu juga semakin erat seiring dengan perubahan pada giginya menjadi taring tajam. Air mukanya langsung mengeras. Kemarahan langsung tersulut setiap ia melihat seringaian pada wajah sempurna Kris.

Lelaki bertubuh atletis itu sudah menempelkan kuku-kuku panjangnya pada leher Hyejin. Chanyeol bisa melihat dengan jelas tatapan takut yang ditujukan tepat padanya. Chanyeol balik menatap gadis itu dan menggeleng lemah. Tidak ada lagi yang bisa dilakukannya.

Sementara itu, Kris yang sudah terlihat pulih dari luka-lukanya itu menyeringai, menunggu apa yang akan dilakukan oleh Chanyeol selanjutnya. Ia mulai menekan kuku-kukunya pada leher Hyejin, membuat rintihan kecil lolos dari bibir mungil gadis itu. Kris menatap Chanyeol sekilas, lalu beralih menatap Sehun dengan senyum licik.

“Kalaupun kau ingin membunuhku, Sehun, aku tidak akan mati. Aku hanya akan kembali memulihkan diri. Lagipula, kau hanya akan menguras tenagamu dan menyia-nyiakan waktumu untuk pencarian itu.”

“Diam! Kau tidak ada hubungannya dengan hal itu!” Sehun menggeram, siap untuk kembali menyerang Kris kapan saja.

Kris tertawa puas, sama sekali mengabaikan tatapan membunuh dari Sehun. Sementara, Hyejin ingin berteriak sekuat tenaga karena rasa perih dari lehernya. Kuku-kuku tajam itu berhasil menembus kulitnya. Walaupun tidak terlalu dalam, rasa perih yang terasa tidak bisa ditoleransi oleh Hyejin.

Kris yang menyadari hal itu, mendekatkan bibirnya pada telinga Hyejin, “Kita lihat, apakah manusia serigala lemah itu akan menyelamatkanmu atau membiarkanmu mati.”

Napas Hyejin tak teratur. Jantungnya memompa darah dengan cepat, membuat degup jantungnya makin keras. Sebelum penglihatannya tambah mengabur, gadis itu kembali memandang langsung kedua mata Chanyeol dan berharap lelaki itu membuat keputusan yang baik. Sayangnya, tatapan yang Chanyeol berikan padanya membuatnya kehilangan harapan.

Sehun juga menyadari tatapan putus asa itu. Lelaki pirang itu memutuskan untuk mengalihkan seluruh perhatiannya pada apa yang sedang dipikirkan Chanyeol.

“K  kau…” Kedua mata Sehun tak bisa lepas dari senyum tipis Chanyeol, berharap lelaki itu tidak bertindak nekat.

Chanyeol menunduk dengan senyum licik, “Sampai bertemu, Wu Yi Fan.”

Senyum licik kembali terlukis di bibir Chanyeol bersamaan dengan kabut tebal yang mengisi ruangan dengan tiba-tiba. Dengan kata-kata itu, lelaki itu mengerahkan seluruh tenaganya untuk menggunakan kekuatannya yang tersisa.

______

“Kita lihat, apakah manusia serigala lemah itu akan menyelamatkanmu atau membiarkanmu mati.”

“K  kau…”

“Sampai bertemu, Wu Yi Fan.”

“Hyejin…”

“Hyejin…”

“HYEJIN!!”

Hyejin tersentak bangun. Ia memandang sekeliling dengan napas terengah-engah, lalu memegang kepalanya. Denyutan itu masih terasa walaupun sedikit berkurang. Tetapi, ia yakin ada yang berteriak memanggil namanya. Hyejin menghela napas dengan susah payah, lalu meringis pelan. Hanya pikiranku saja, batinnya.

Suara-suara itu… Chanyeol? Apa yang terjadi padanya? Lalu, siapa Wu Yi Fan? Arghh! Aku sama sekali tidak ingat apa yang terjadi sebelumnya! Itu bukan mimpi, aku tahu itu. Mimpi tidak akan terasa terlalu nyata, kan?

Gadis itu membenarkan posisi duduknya dan bersandar pada batang pohon tua di belakangnya. Seluruh tubuhnya terasa remuk, seperti habis terhantam sesuatu yang keras. Napasnya juga masih tak teratur. Apa yang sebenarnya terjadi? Yang ia ingat hanyalah tatapan putus asa itu. Selanjutnya, entahlah. Hanya samar-samar.

Tetapi ia menyadari satu hal. Ini tempat lain, ia sudah berpindah tempat. Pepohonan yang tinggi dan rindang seolah mengelilinginya. Suara-suara serangga dan burung pun terdengar bersahut-sahutan.

Hyejin bahkan tidak ingat kapan dirinya pernah berada di hutan yang semenyeramkan ini.

Gwaenchanhayo?

 

Suara ini…

 

Hyejin kenal suara itu dan hal itu membuatnya bergidik. Ia menoleh ke sebelah kanannya dan mendapati wajah itu sedang memandangnya cemas. Awalnya, ia kira itu Chanyeol, tapi ketika ia memfokuskan penglihatannya, lelaki itu bukan Chanyeol. Ia adalah laki-laki yang Chanyeol lawan, dan yang membuat Chanyeol hampir mati.

Lelaki itu mengabaikan tatapan benci gadis di hadapannya dan tersenyum tipis. Ia mengarahkan tangan kanannya pada bahu kiri gadis itu, “Tutup matamu.”

Entah kenapa Hyejin langsung menuruti perkataan lelaki itu. Sebelum benar-benar menutup kedua matanya, ia bisa melihat sebuah cahaya transparan terpancar dari telapak tangan lelaki itu. Hyejin tidak tahu apa yang sebenarnya lelaki itu lakukan, tetapi tiba-tiba saja rasa perih dari luka cakaran pada bahu kirinya mulai berkurang.

“A  apa yang kau lakukan?!”

“Menurutmu?”

Perlahan Hyejin membuka matanya dan mulai memperhatikan dengan saksama apa yang dilakukan lelaki itu. Walaupun sedikit terkejut dengan cahaya transparan yang terpancar dari telapak tangan lelaki itu, Hyejin diam saja.

Luka sayat itu perlahan-lahan mulai menutup sampai akhirnya menghilang tanpa bekas. Kulitnya kembali seperti semula, seolah tak ada luka apa pun yang pernah ada di sana. Hyejin yang sudah tidak bisa membendung rasa takutnya pada apa yang lelaki itu lakukan pun berteriak keras.

Ya! Hentikan!” Lelaki berambut pirang itu pun terpaksa menutup bibir mungil Hyejin dengan kedua tangannya. “Ssstt! Diamlah..”

Hyejin membulatkan matanya sambil mengangguk. Lelaki itu menghela napas dan memandang kesal Hyejin sambil melepas tangannya dari bibir gadis itu. “Ini alam liar. Kau bisa membangunkan makhluk lain hanya dengan berteriak seperti itu. Kalau mereka bangun, kita akan kesulitan.”

“Ta  tapi… kau, ehm, itu…”

“Just like that guy, Chanyeol, I’m a werewolf.”

Hyejin terdiam sebentar, lalu kembali bertanya dengan raut wajah takut. “Kau teman Chanyeol?”

“Bukan. Aku…entahlah.” Lelaki itu memalingkan wajahnya, “Namaku Oh Sehun.”

Hyejin yang menyadari perubahan ekspresi pada wajah lelaki itu tersenyum tipis, “Kalau begitu, kau pasti sudah tahu namaku, kan?”

Sehun menoleh dan memandang gadis di hadapannya lekat-lekat. Dan tanpa sengaja ia membaca apa yang dipikirkan gadis itu. Berbagai pertanyaan seolah ingin keluar dari kepalanya. Hal itu sebenarnya sedikit lucu, tapi bagi Sehun, tidak ada waktu untuknya menertawakan hal yang tidak penting. Ia pun memutuskan untuk duduk di hadapan gadis itu sambil masih memalingkan wajahnya.

“Aku punya kemampuan untuk menyembuhkan,” katanya, “karena itu aku menyembuhkan luka di bahu kirimu.”

Tidak sadar pikirannya terbaca, Hyejin malah sibuk mengurusi ekspresi wajahnya. Gadis itu malu kalau lelaki itu melihat wajahnya ketika ketakutan, berkali-kali. Tetapi, Sehun yang sedang duduk tepat berada di hadapannya bisa melihat dengan jelas ekspresi takut yang berusaha disembunyikan Hyejin.

Sehun memegang lehernya dengan wajah malu, “Tapi aku tidak melakukan hal lain padamu saat kau pingsan.”

Dalam hati, Hyejin sangat bersyukur karena lelaki ini masih tahu diri. Ia lega karena apa yang ia takutkan tidak terjadi padanya. Kalau sampai itu terjadi, Hyejin tidak tahu harus meningkatkan semangatnya untuk mati atau langsung bunuh diri. Ia juga malu mendengar pernyataan lelaki itu, tapi itu membuktikan kalau Sehun masih terbilang tidak berbahaya.

“Apa Chanyeol juga bisa menyembuhkan?”

Sehun mengangguk, “Semua manusia serigala bisa menyembuhkan diri dalam waktu singkat. Tapi ada kelompok yang bisa menyembuhkan dirinya sekaligus makhluk lain. Kelompok itu juga bisa menyembuhkan manusia murni.”

“Jadi, kau termasuk kelompok itu?”

“Ya,” ia mengangguk lemah, “tapi kami sudah terpisah-pisah. Ada yang bersembunyi dan membuat kelompoknya sendiri. Sebagian besar menghilang.”

“Maksudmu, mati?” Hyejin bertanya dengan suara pelan.

Sehun tidak menjawab. Ia malah beranjak dari posisinya dan berjalan ke arah api unggun. Hyejin mengernyit ketika lelaki itu kembali dengan membawa sebuah mangkuk coklat. Ia berjongkok di depan Hyejin dan menyodorkan mangkuk yang dipegangnya.

“Minumlah. Mungkin bisa mengurangi rasa sakit pada tubuhmu.”

Tanpa banyak tanya, Hyejin langsung meminumnya. Rasa manis pun langsung terasa di lidahnya. Gadis itu menenggak cairan manis itu seolah tidak minum berhari-hari. Niatnya pun langsung diketahui Sehun. Lelaki itu langsung merampas dengan kasar mangkuk yang gadis itu pegang dan memandang marah Hyejin.

“Bodoh! Kau benar-benar mau mati?!”

Mianhae..” ucap Hyejin pelan.

“Tubuhmu bisa terbakar kalau meminum semuanya! Cairan itu hanya untuk menyembuhkan organ dalam, bukan sebagai minuman penyegar! Dasar bodoh!”

Hyejin merapat pada batang pohon di belakangnya, lalu menatap wajah kesal Sehun dengan takut-takut. “Mianhae.. A, aku benar-benar tidak tahu..”

Sehun mengacak rambutnya tidak sabar. Mangkuk coklat itupun sudah ia lempar entah kemana. Hampir saja tadi ia hilang kendali dan membahayakan gadis itu. Kalau itu terjadi, ia harus bersiap menghadapi laki-laki sombong itu dan membuang-buang tenaganya. Jadi, sekarang ia hanya harus menjaga sikapnya dan berusaha sebisa mungkin menanggapi tiap pertanyaan konyol yang dilontarkan gadis itu sekaligus tingkah menyebalkannya.

Chanyeol mengatakan padanya untuk membuat gadis itu merasa aman hanya untuk sehari ini saja. Selanjutnya, ia boleh pergi. Bahkan Chanyeol mengatakan padanya agar tidak pernah muncul di hadapannya lagi. Setelah mengatakan itu, tiba-tiba saja laki-laki itu tertawa. Saat itu Sehun benar-benar ingin menghabisinya. Menurutnya, tidak ada yang perlu ditertawakan (terlebih dengan situasi yang tidak mendukung seperti ini).

Sekarang Sehun harus mengubah perilakunya dan cara bicaranya. Hanya untuk sehari ini saja. Karena syaratnya begitu mudah, Sehun tidak keberatan untuk berpura-pura di hadapan gadis itu.

Gomawo..

Sehun memandang Hyejin bingung.

“Eh, itu.. A, aku lupa mengatakannya..” Hyejin tersenyum kikuk mendapati Sehun yang masih memandanginya. “Sejak tadi kau melamun sambil berdiri. Aku takut mengganggumu, jadi aku langsung mengatakannya. Ma, maaf ya..”

 

Gadis ini… Tidak, tidak boleh! Oh Sehun, ingat janjimu!

 

“Jan..ji?”

“Hmm? Janji apa?”

Lelaki pirang itu menggeleng, lalu melangkah begitu saja. Ia duduk di dekat api unggun sambil bersandar pada batang pohon tua tak jauh dari Hyejin. Bisa terlihat dengan jelas bahwa lelaki itu sedang memikirkan sesuatu. Karena itu, Hyejin memutuskan untuk tak bertanya lebih lanjut.

“Kau.. Kenapa begitu polos? Kau tidak perlu berterimakasih seperti itu,” gumamnya.

Sejenak, Sehun memandang kedua mata coklat itu lekat-lekat. Selama hidupnya, kata ‘terimakasih’ itu bahkan sangat asing bagi telinganya. Sehun bahkan hampir bertanya apa arti kata itu.

Ia sudah banyak menyumbangkan kemampuannya itu untuk menyelamatkan nyawa kaumnya. Tapi bayarannya tidak setimpal. Ia tidak pernah diperlakukan sebagai pahlawan dan malah ditemukan dengan kondisi menyedihkan persis seperti saat ini. Seolah-olah ia hidup hanya untuk dimanfaatkan saja. Jika kemampuannya hilang, mungkin ia sudah tidak ada lagi di dunia ini.

“Aku tahu, sebenarnya kau punya hati yang baik,” ucap Hyejin, “tapi kau tidak mau mengakuinya.”

“Hah! Jangan konyol! Kau tidak tahu apa-apa tentangku.”

“Tapi, aku bisa melihatnya! Kau menyembuhkan lukaku, memberiku obat-yang-bisa-membuatku-hampir-mati, membuat api unggun! Itu artinya kau sebenarnya baik!” Hyejin sengaja berteriak agar lelaki itu benar-benar mendengarkan ucapannya.

“Manusia memang bodoh. Memangnya kau pernah membaca dongeng tentang seorang manusia serigala yang berteman baik dengan manusia?” Sehun memandang Hyejin dingin, “Kurasa tidak pernah ada dongeng seperti itu.”

“Kami ini bukan makhluk yang bisa dipercaya,” lanjut Sehun.

Benar…

 

Kenapa ia malah betah berada di tengah-tengah serigala? Kenapa ia tidak kunjung menanyakan bagaimana dirinya bisa selamat dari dua insiden yang bisa merenggut nyawanya? Kenapa ia percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan Chanyeol? Bukannya ia seharusnya mengemis minta belas kasihan pada dua makhluk yang siap memangsanya kapan saja ini? Kenapa  oh sudahlah. Terlalu banyak ‘kenapa’ yang Hyejin pertanyakan.

Mereka…tidak punya hati seperti manusia biasa, kan?

 

“Tepat. Hati tidak digunakan ketika membunuh mangsa.”

Nada dingin lelaki pirang itu membuat Hyejin sadar dari lamunannya. Gadis itu mengerjapkan mata berkali-kali setelah menyadari bahwa lelaki itu baru saja menjawab pertanyaan di kepalanya.

“Kau…mind-reader?” tanyanya.

Anggukan kepala Sehun disertai dengan ekspresi datar membuat Hyejin makin penasaran. “Tadi kau menatap mataku lama sekali. Itu akses paling mudah untuk membaca pikiran seseorang.”

“Ah, benarkah?” Hyejin salah tingkah. Ia lupa dengan kebiasaan buruknya, melamun sambil memandang orang lain.

Ketika restoran itu sedang sepi pengunjung, Hyejin biasanya akan melamun. Membayangkan kelanjutan dari cerita yang sedang ditulisnya itu. Karena itu, Kyungsoo dan ibunya sering menegurnya ketika mendapati dirinya melamun. Tidak disangka teguran itu berguna saat ini.

Hyejin menekuk kakinya, lalu menyandarkan kepala pada lututnya. Tidak ada cara lain untuk menghangatkan diri selain berposisi seperti itu. Api unggun yang berada di tengah-tengah tempat peristirahatan mereka pun tidak cukup memberi kehangatan. Bahkan Sehun yang sudah duduk dekat api unggun masih sedikit menggigil.

Ada banyak hal yang ingin Hyejin tanyakan pada laki-laki itu. Mulai dari ‘kemana perginya Chanyeol?’ sampai ‘bagaimana kita bisa berada di tengah hutan?’. Hyejin tahu, akan sangat mengganggu jika ia terus-menerus bertanya pada Sehun   lelaki yang baru dikenalnya secara resmi hari ini. Jika saja Chanyeol tidak meninggalkannya berdua dengan orang asing ini, Hyejin akan mengoceh pada Chanyeol tentang semua hal yang berkecamuk di pikirannya.

Tanpa sadar, pandangan Hyejin tertuju pada sosok dingin itu. Gadis itu mengerutkan keningnya ketika menyadari bahwa lelaki yang menjadi objek pandangnya sedang meringis kecil.

“Kau sedang apa?”

Sehun mendesah, “Sudahlah, diam saja.”

“Bagaimana kalau   ?”

“Bagaimana kalau kau diam dan alihkan pandanganmu pada hal lain?” Setelah berhasil membungkam Hyejin, Sehun berdecak. “Aku juga butuh privasi.”

Hyejin mengerucutkan bibirnya dan kembali menyandarkan kepala pada lututnya. Semakin banyak saja pertanyaan yang bermunculan di kepalanya saat ini. Terlebih karena sikap lelaki itu yang kadang membuat Hyejin bingung. Selalu ada aura tidak menyenangkan ketika ia mulai bersikap dingin. Sama halnya dengan Chanyeol. Apa karena mereka adalah kaum yang sama?

Tapi yang lebih membingungkan, kenapa Sehun tidak langsung membunuhnya selagi ada kesempatan? Lelaki itu malah menyembuhkan luka di bahu kiri gadis itu dengan cuma-cuma.

 

Apa ia bekerjasama dengan Chanyeol untuk membunuhku? Akkhh! Mana mungkin!

Pandangan Hyejin kembali tertuju pada Sehun. Hyejin mengernyit ketika ia mendapati lelaki itu sedang menekan bagian kiri perutnya dengan keras. Entah apa yang lelaki itu lakukan, Hyejin terus memperhatikan. Ia terluka, batinnya.

Sehun menyandarkan kepalanya ketika lagi-lagi tangan kanannya menekan keras bagian kiri perutnya. Terlihat jelas kalau lelaki itu sedang kesakitan. Peluh membanjiri wajah serta lehernya. Napasnya terdengar tersendat-sendat. Melihat itu, Hyejin semakin membenamkan wajahnya pada lututnya.

“Kau..tidak apa-apa?”

Sehun tidak menanggapi. Melihat kondisinya, sepertinya lelaki itu tidak bisa diajak bicara untuk beberapa saat. Hyejin hanya bisa memandang lelaki itu khawatir.

“Luka itu…karena kau menolongku dan Chanyeol, ya?” ucap Hyejin pelan, takut kalau-kalau lelaki itu marah karena merasa terganggu dengan suaranya.

Sehun menatap Hyejin tajam sambil masih terengah-engah. Ia, lalu, kembali mengurus luka di perut kirinya. “Menolong? Lebih tepatnya mengulur waktu kematian kalian.”

“Kalian? Chanyeol  

“Ya. Chanyeol juga akan mati. Ia akan mati karena jiwanya terus melemah.” Sehun tersenyum remeh, “Dan sekarang kalung itu ada padaku.”

Walaupun tidak melihat bagaimana perubahan air muka gadis itu, Sehun tahu Hyejin sedang berpikir untuk mengambil keputusan. Keputusan yang   menurut Sehun   tidak perlu dilakukan karena hasil akhirnya mungkin sama saja. Hyejin mati, Chanyeol pun mungkin akan mati juga.

“Aku hanya tahu sedikit tentang manusia serigala seperti kalian,” ucap gadis itu, “Jantung dan darah segar adalah makanan sehari-hari kalian. Tetapi, bukan jantung dan darah segar manusia murni. Kalian hanya akan membunuh manusia murni yang sudah mengetahui jati diri kalian sebenarnya, agar keberadaan kalian yang terbaur dengan manusia murni tidak diketahui.”

Senyum licik tiba-tiba menghiasi wajah lelaki berambut pirang itu. Raut wajah kesakitan yang Hyejin lihat tadi langsung lenyap. Lelaki pirang itu berdiri, meregangkan tubuhnya sebentar, lalu mulai melangkah perlahan dengan angkuh.

“Kurang lebih…benar.”

Sehun sudah berdiri di hadapan Hyejin. Ia, lalu, berjongkok dan mengulum senyum, yang menurut Hyejin, sedikit janggal. Gerak-gerik lelaki di hadapannya membuat Hyejin mulai gelisah.

“Dan kau seharusnya sadar bahwa kalimat terakhir yang kau ucapkan tepat ditujukan untukmu.” Hyejin membulatkan matanya. Ia baru menyadari ucapannya sendiri yang bisa membahayakan dirinya saat ini.

Sehun semakin menghapuskan jarak diantara dirinya dan gadis itu. Senyum licik di wajahnya pun masih setia terpampang. Jarak yang semakin dekat membuat Hyejin was-was. Apalagi setelah gadis itu menyadari adanya perubahan ekspresi pada wajah dan…mata Sehun. Gadis itu sudah beberapa kali melihat perubahan iris mata pada manusia serigala, tetapi yang satu ini terlihat mengerikan.

Iris mata lelaki pirang itu seketika berubah menjadi merah darah, menampakkan tatapan lapar pada Hyejin. Hal itu membuat rasa takut Hyejin makin membuncah. Gadis itu langsung merapatkan diri pada batang pohon di belakangnya dengan posisi meringkuk. Sementara, Sehun tampaknya sudah tidak bisa menahan lagi insting membunuhnya.

“Karena itu, ini giliranmu.”

Sebelum Hyejin sempat berteriak, Sehun sudah terlebih dulu mengunci pergerakan gadis itu. Kedua tangan berkuku tajam itu langsung mencengkeram batang pohon dengan kuat saat Hyejin ingin memalingkan wajahnya. Senyum yang tadi menghias wajah Sehun pun lama-kelamaan berubah menjadi seringai.

Hyejin berusaha menjernihkan pikirannya. Ia benar-benar takut kalau-kalau kemungkinan terburuk akan terjadi padanya. Untuk memastikan hal itu, ia menatap langsung kedua mata beriris merah milik Sehun.

Menyadari apa yang sedang dilakukan gadis itu, Sehun menyeringai. “Wah, aku lupa mengatakan padamu kalau dengan menatapku langsung seperti itu bisa berakibat fatal.”

Sehun menyibakkan rambut yang menghalangi wajah Hyejin dengan pelan. Satu lagi kesalahan fatal yang Hyejin lakukan adalah memalingkan wajahnya ke kiri. Gerakan itu membuat leher Hyejin semakin terekspos jelas. Sehun semakin tidak sabar melakukan aksinya ketika melihat hal itu.

Lelaki itu pun semakin mendekatkan wajahnya pada Hyejin, lalu berbisik, “Ini…akibatnya.”

Hal terakhir yang Hyejin lakukan adalah menutup matanya rapat-rapat dan menyebut satu nama dalam pikirannya.

 

Park… Chanyeol…

 

[To be Continued]

19 pemikiran pada “Werewolf [Chapter 7]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s