XOXO (Kiss and Hug) The Series (Wolf- Luhan ver)

XOXO (Kiss and Hug) The Series (Wolf- Luhan ver)

Athor        : Laelynur66

Maincast     :  Luhan Exo, Luna f(x)

Support cast : All members EXO

Length              : Chapter or series (?)

Genre        : friendship, sad(?)

Rating       : PG-15

Author note: hai thereee…. Eheheheheheheh..sekarang giliranya Luhan nihh… masih mau baca aja kan? FYI ff inikan series kan yak? Tapi tiap seriesnya emang ngegantung gitu. Tapi tenang ajja, endingnya entar disatuin. Kan kisah tiap member ngewakilin satu judul lagu.. makasih udah mau baca… oh, yak ada yang mau request series member selanjutnya? Komen yaa.. *angkatangkatalis*  #modus

 

 

 

Suara gaduh dari luar kamarku membangunkanku dari tidurku. Aku bangun dari tidurku dan duduk di tepi ranjang saat kulihat layar ponselku berkedip. Kuraih ponselku itu, sebuah pengingat mengingatkan aku hari apa ini. Dengan cepat aku berlari keluar kamar menuju kamar mandi, tak kuhiraukan juga Kyungsoo yang memanggilku.

Tidak perlu waktu lama untuk mandi dan berpakaian, setelah kurasa siap aku berjalan keluar kamarku menuju ruang makan tempat biasa hyung dan dongsaengku berkumpul. Bagaimana kami tidak betah berkumpul di sini ada Kyungsoo yang setiap saat menyuplai makanan untuk perut kami. Kutarik kursi kosong di samping kiri Chanyeol yang sedang sibuk berbeatbox ria ditemani Baekhyun di samping kanannya. Kyungsoo menyodorkan mangkuk berisi sereal coklat padaku tapi kurasa aku harus menolaknya, aku terburu-buru. Hari ini tidak ada jadwal bukan? Aku ingin pergi ke suatu tempat. Kulirik leader Suho yang selalu saja sibuk dengan ipad di tangannya. Akhir-akhir ini Suho selalu membaca artikel yang membicarakan tentang kami di internet. Berbeda dengan Kris yang hanya mencari gambar dirinya. Suho benar-benar membaca artikel tentang kami, komentar dari para netizen.

“Suho-ssi ?” panggilku. Dia hanya menoleh lalu kembali berkutat dengan ipadnya.

hyung, kau mau ke mana rapi sekali!” Tanya Jongin yang baru saja bergabung. Semua mata menatapku, memang saat ini, kurasa hanya aku saja yang tampak rapi, sebagian dari mereka masih menampakan wajah bantal mereka, bahkan Tao menelungkupkan wajahnya pada meja dan terdengar dengkuran halus di sana. Aku tersenyum padanya, “aku ingin pergi ke suatu tempat” jawabku lalu menyuap sesendok sereal di hadapanku niat untuk menolak sereal ini kubatalkan melihat Kyungsoo dengan semangatnya menuangkan susu ke mangkukku.

“kau mau ke mana?” mendengar aku akan pergi ke suatu tempat Suho baru mengalihkan pandangannya padaku.

“aku.. aku tidak bisa mengatakannya!” jawabku misterius. Suho mengembuskan nafasnya lalu kembali sibuk dengan ipadnya.

“yoo. Kau bukan pergi berkencankan?” Tanya Chanyeol dengan gaya rapnya. Aku menggeleng lalu kembali menyuap sesendok sereal ke dalam mulutku.

“kau ingin berbelanja?” Tanya Kris di pojok sana. Aku menatapnya lalu menggeleng. Mendengar kata belanja, Tao yang kukira sedang terlelap itu mengangkat kepalanya menatapku dengan tatapan yang berbinar.

“tidak! Aku tidak pergi belanja, Huang Zhi Tao!” sahutku sarkastik. Tao mendengus lalu kembali menelungkupkan wajahnya pada meja. Kulirik jam tangan yang kukenakan lalu aku bangkit berdiri “aku terlambat, aku pergi dulu!” seruku lalu berlari meninggalkan ruang makan, samar-samar masih bisa kudengar Suho dan yang lain berteriak hati-hati di jalan.

 

***

 

Kurang lebih dua puluh menit aku berjalan meninggalkan dorm, lalu aku menaiki sebuah bis di halte. Aku sengaja berjalan jauh, mencari halte bis yang cukup sepi aku tidak tau apa yang harus  kulakukan jika ada yang mengenaliku. Kurapatkan sweater yang ku gunakan di luar kaos abu-abu yang kukenakan. Angin musim gugur sedikit dingin saat ini. Aku terus menatap keluar jendela. Sudah hampir dua tahun sejak kepergiannya. Terkadang Aku begitu merindukannya, walaupun sudah memiliki penggantinya rasanya tidak ada yang bisa menggantikan kehangatannya. Kuhembuskan nafasku pada kaca bis di sampingku. Lalu dengan telunjukku aku menulis namanya di sana. Luna. Apa kabarmu? Semoga kau bahagia di sana. Aku terus memandang keluar, menatap jejeran pohon maple dengan daun yang mulai menguning dan perlahan akan gugur. Di pinggir jalan yang dilalui bis ini pun sudah di penuhi oleh dedaunan berwarna cokelat yang menambah keindahan musim gugur. Kurasa, dedaunan itu memang sengaja tidak disapu untuk menonjolkan kekhasan musim gugur. Aku tersentak saat kondektur bus menyebut tempat pemberhentianku. Dan aku sedikit berhati-hati saat dua anak berseragam terus menatapku sembari berbisik-bisik.

Kuhirup dalam-dalam udara segar yang sangat susah kutemukan di kota Seoul. Saat ini aku berada di pinggiran kota Seoul, aku sudah hafal betul tempat ini. Tempat yang saat ini kulangkahkan kakiku yang berbalut sneaker putih, ini bukan milikku ini milik Sehun kurasa Sehun tidak keberatan aku memakainya. Lalu aku berbelok menuju sebuah jalan tanjakan yang di kiri dan  kanannya dipenuhi jejeran pohon maple dengan beberapa batang pohonnya sudah tidak memiliki daun, ini musim gugur bukan? Daun-daun dari pohon maple itu berguguran menambah intensitas  sampah organik yang berserakan di jalan mendaki yang kulalui, kembali ku hirup udara segar ini dan sedikit mendongak menatap matahari yang bersembunyi di balik awan kelabu musim gugur ini. Jalan mendaki sudah kulalui, saat menurun, di pinggir jalan menurun itu berderet sebuah pagar kawat yang sudah rapuh. Dengan sigap kusingkapkan beberapa batang pagar kawat ini lalu merundukkan badanku untuk melewatinya. Setelah melawatinya pandanganku disuguhkan dengan padang rumput hijau bercampur kekuningan dengan sebuah bukit tepat di tengahnya terdapat sebuah pohon beringin yang tumbuh rimbun tanpa menggugurkan satupun daun di dahannya. Aku melangkah menuju bukit itu. Sesampainya di sana, kubungkukkan badanku menyentuh sebuah batu nisan tercetak namanya di sana, Luna. Di samping makam itu terletak rantai yang nampak berkarat dan sebuah kalung leher dengan ukiran nama Luna pula di sana.

“Luna, aku merindukanmu!” desahku sambil mengusap kalung leher miliknya. Luna, seekor anjing yang kupelihara sejak kecil, pemberian dari tetanggaku dulu yang memiliki belasan ekor anak anjing. Aku begitu menyayanginya. Bertahun-tahun menemaniku. Dan betapa terpuruknya aku saat dia  pergi karena usianya yang semakin tua.

Aku duduk dengan menyandarkan punggungku pada pohon beringin di belakangku. Udara sejuk dan angin segar yang berhembus membuatku mengantuk perlahan kupejamkan mataku dan terlelap dengan mendekap kalung leher milik Luna.

 

 

Perlahan kubuka mataku yang terpejam saat kurasakan sesuatu yang berat bertumpu pada pundakku dan hembusan nafas hangat dari sebuah wajah yang mengamati wajahku. Aku tersentak kaget. Seorang gadis duduk di sampingku dan terus menatapku dengan tatapan matanya yang berbinar dan sesekali mengerjapkan matanya.

“siapa kau?” tanyaku padanya sedikit gugup. Lalu kuedarkan pandangaku kesegala penjuru berusaha mencari tau dari mana kedatangan gadis ini. Gadis itu masih terus menatapku lalu tersenyum. Manis. Dia bangkit dari duduknya dan berdiri membelakangiku, lalu berbalik menarik tanganku untuk berdiri mengikutinya, dalam hati aku sedikit ragu untuk mengikutinya. Tapi keraguanku itu lenyap begitu saja saat perlahan aku mengikutinya berdiri di sampingnya yang menatap kosong pada padang rumput di hadapan kami. Kemudian  gadis itu menoleh menatapku dengan tatapan matanya yang berbinar dan menyiratkan kebahahagiaan yang tergambar jelas.

“aku suka tempat ini, terima kasih sudah membawaku kemari!” ucapnya dengan suara yang begitu halus di telingaku. Aku terdiam dan perlahan mengangguk.

“ayo!” ajaknya lalu mengulurkan tangannya ke arahku. Tanpa ragu aku menyambut uluran tangannya. Kami berjalan bersama menuruni bukit saat tiba-tiba dilepasnya genggaman tangannya lalu berlari meninggalkanku. Aku tersentak dan berlari mengejar di belakangnya. Sesekali dia menoleh ke arahku dengan senyum dan sesekali pula semilir angin berhembus menerbangkan rambut panjang kecoklatannya. Aku terenyak, membuatku tersadar akan sesuatu, tiba-tiba aku merasakan sesak di dadaku. Kuhentikan langkah kakiku menatap gadis itu yang terus berlari di hadapanku itu dan saat menyadari aku berhenti, dia menghentikan langkah kakinya dan berbalik berjalan ke arahku dengan senyum yang tersungging di wajahnya.

“siapa kau?” tanyaku dengan suara parau, rasa sesak di dadaku semakin menghimpitku. Gadis itu terdiam kembali tersenyum dan mengulurkan tanganya membelai wajahku. Aku tau kehangatan ini. Rasa hangat dari belaian tangannya sama persis dengan kehangatan milik Luna. Perlahan air mataku memaksa keluar dari peraduannya membentuk aliran anak sungai yang mengalir di pipiku.

“Katakanlah sesuatu!” pintaku.

Gadis itu lagi-lagi hanya tersenyum dengan mata berbinarnya yang terus menatapku mengusap pipiku yang telah dilalui aliran air mataku.

“Jangan menangis, kau tau? Aku bahagia di sini! Dan semua itu karena dirimu. Dirimu yang telah membawaku kemari!” ujarnya dengan suara yang sangat lembut.

“kaukah itu Luna?” suaraku terdengar semakin parau. Gadis itu tidak menjawab lalu gadis itu mendekapku. Hangat, rasa hangat yang sama kurasakan saat memeluk Luna. Lalu dilepaskannya dekapannya kemudian berjalan mundur selangkah demi selangkah. Dan saat aku mencoba melangkah menggapainya langkah kakiku terasa berat semakin aku ingin semakin aku tidak bisa melangkahkan kakiku.

“Jangan pergi Luna! Aku menyayangimu!” gumamku pasrah.

“aku harus pergi, aku bahagia Luhan! Hanya ini yang ingin kusampaikan padamu saat sisa terakhir waktuku!” samar-samar aku mendengar suaranya

“Luna!” panggilku lagi. Dia tidak menjawab hanya tersenyum ke arahku.

“terima kasih sudah menyayangiku selama ini! kau sudah menepati janjimu untuk menyayangiku seterusnya!” samar-samar aku bisa mendengar perkataannya. Airmataku kembali membanjiri pipiku kembali membentuk aliran anak sungai di pipiku dan semakin mengalir saat bayangannya memudar dari penglihatanku, sampai pada akhirnya siluet tubuhnya ikut menghilang di hadapanku.

 

 

Aku tersentak bangun dari tidurku. Mimpikah? Kenapa semuanya tampak begitu nyata? Kupandangi kalung leher milik Luna di tanganku. Lalu mengusapnya. Dapat kurasakan air mataku mengalir di pipiku. “Luna aku juga menyayangimu. Kau bahagialah di sana!” bisikku dengan mengusap nisannya.

 

Cahaya jingga dari matahari yang akan terbenam tampak berkilauan di antara deretan pohon maple yang berjejer di kiri dan kananku saat berjalan meninggalkan bukit. Kurogoh saku jeansku mengeluarkan ponsel yang sengaja kunonaktifkan dan saat aku mengaktifkannya belasan pesan dan pesan suara dari Suho memenuhi kotak masukku. Sebuah senyum tersimpul dari bibirku dengan semangat kulangkahkan kakiku menuju halte bis.

***

hyuuuung! Kau dari mana sajaaa!!!” teriak Sehun saat aku memasuki dorm.

Semua member tampak berkumpul di ruang tamu. Sepertinya mereka menungguku.

“kau tidak apa hyung?”

“Kau dari mana saja?”

“kami khawatir tau!”

Beberapa pertanyaan terlontar dengan nada lega terdengar dari para member. Aku hanya bisa tersenyum menanggapinya.

“Dari mana kau?” terdengar suara berat dari Suho di hadapanku. Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal.

“kau tau. Aku sampai berbohong pada manager hyung yang mencarimu! Aku berkata kau diare dan tidak bisa menghadap! Semoga kau tidak benar-benar mengalaminya!” cerca Suho. Aku tersenyum mendengarnya.

“aku mengunjungi Luna tadi!” aku tau suaraku kini terdengar parau. Mendadak suasana berubah hening. Tidak ada yang berani kembali membuka mulutnya. Lalu Suho menepuk pundakku. Diikuti dengan yang lainnya, Sehun bahkan memelukku.

“aku tidak apa oke! Tenang saja” kataku dengan senyum tulus di wajahku.

“baiklah, ayoo kita makaan! Kyungsoo hyung sudah menyiapkan makanan dari tadi!!” teriak Jongin lalu berlari ke arah ruang makan diikuti Tao dan yang lain. Sehun merangkul dan menuntunku bersamanya.

“Sehun-ah, tadi Luna menemuiku!” bisikku di telinganya. Mata Sehun membulat menatapku tak percaya.

“di dalam mimpi, kurasa. Akhirnya aku tau apa yang ada di pikirannya!” kataku menerawang.

“syukurlah hyung!” kata Sehun tulus.

 

***

 

Somewhere in Japan

“kau yakin akan pergi ke Korea dan meninggalkan tempat tinggalmu?” Tanya seorang gadis masih dengan seragam sekolahnya kepada temannya yang sibuk mengepak barangnya ke dalam koper. Gadis itu hanya menoleh ke arah temannya lalu kembali sibuk dengan barangnya.

“jawab aku Luna-chan”’ seru gadis berseragam itu. Dengan kasar dihentakkannya barang milik temannya itu ke lantai.

“aku yakin, bukankah kau lihat sendiri kemarin? Aku lulus untuk menjadi trainee SM entertainment! Ini kesempatanku! Ini mimpiku Yuri!” jelas gadis bernama Luna itu. Yuri, membeku di tempat mendengar jawaban dari satu-satunya sahabatnya itu.

“ya sudahlah, terserah kau saja” seru Yuri lalu meninggalkan temannya itu sendiri. Luna yang menghentikan aktifitasnya lalu menyusul temannya itu.

“Yuri-chan, kumohon mengertilah. Ini kesempatanku!”

Yuri berbalik menatap sahabatnya berdiri dengan kepala tertunduk di belakangnya.

”aku ingin sekali menginjak tempat kelahiranku itu!” ucap Luna dengan suara bergetar.

“jika memang seperti itu, bagaimana denganku Luna-chan? Kau berjanji padaku untuk terus bersamaku, bahkan kau memintaku untuk membunuhmu jika kau meninggalkanku!” seru Yuri dengan suara seraknya, airmatapun sudah memenuhi pelupuk matanya mendesak meminta keluar dari tempat peraduannya. Tapi dengan sekali gerakan Yuri berbalik memutar tubuhnya membelakangi Luna, tidak ingin sahabatnya itu melihatnya menangis.

Luna berjalan mendekati sahabatnya itu, mengulurkan tangannya hendak mengusap pundaknya, tapi diurungkannya saat dilihatnya pundak sahabatnya perlahan bergetar menandakan Yuri sedang menangis.

“Benar ini mimpimu? Benar ini yang kau inginkan?” tanya Yuri setelah berhasil mengontrol perasaannya. Luna mengangguk dalam diam.

“Yuri-chan!” panggil Luna pelan. Yuri tak bergeming.

 Yuri berbalik dan mendekap sahabatnya itu “pergilah, aku mendukungmu dengan segenap hatiku!” bisik Yuri saat memeluk tubuh sahabatnya itu, dengan lembut dan  diusapnya rambut panjang kecoklatan milik sahabatnya itu.

 

***

 

Back to Seoul

 

“hyung!! Kau tidak ingin ikut?” teriak Sehun tepat di telingaku, untung saja aku menggunakan earphone  sehingga teriakannya itu tidak begitu memekik di gendang telingaku.

“Haruskah?” jawabku lalu membuka earphoneku dan mengalungkannya di leherku.

“Tentu saja hyung, aku tidak mau membawa dua gelas bubble tea di tanganku!” Ujar Sehun sedikit kesal.

“Baiklah” jawabku lalu mengikuti Sehun yang berjalan lebih dulu di hadapanku. Bandara Incheon cukup ramai saat ini. Kami akan terbang ke China untuk menjadi bintang tamu sebuah acara di sana.

Kurasa aku tertinggal begitu jauh dari Sehun karena aku sudah tidak melihat sosoknya di hadapanku, saat indra penglihatanku menangkap seorang gadis yang berdiri membelakangiku dengan sebuah koper di tangannya dan sedikit jauh dariku dan membuat mataku membulat sempurna, alam bawah sadarku begitu mengenali postur tubuh dan rambut panjang berwarna kecokelatan itu. Aku berjalan mendekatinya, gadis itu masih membelakangiku, saat jarakku tinggal beberapa langkah lagi darinya aku memanggilnya.

“Luna?” nama itu meluncur begitu saja dari mulutku. Gadis itu berbalik menatapku heran.

“Kau mengenalku?” tanyanya penasaran dan menunjuk dirinya sendiri. Aku mengangguk. “ya, aku mengenalmu!” jawabku dan melangkahkan kakiku ke arahnya memperpendek jarak di antara kami, kening gadis itu berkerut mungkin merasa aneh ada orang asing memanggil namamu dan berusaha mendekatimu dan dengan sigap diambilnya jalan mundur.

“Luna!” panggilku lagi. Kuulurkan tanganku ingin menyentuh wajahnya saat dengan lancangnya seseorang menarik tanganku. Sehun. Dan dengan Perlahan sosok itu menghilang dengan menjauhnya jarak di antara kami.

“Luna!” gumamku pasrah

 

 

***

 

10 pemikiran pada “XOXO (Kiss and Hug) The Series (Wolf- Luhan ver)

  1. aduh, kalo rasa sayang ke hewan kayak luhan gitu, serem juga ya, hehe
    tpi tetep, keren!
    ya cuman author slalu ngegantungin cerita, jadi slalu pnasaran, kekeke
    di tnggu versi yg lainn,, ^^

  2. DEMI APA THOOOR kau pake namaku di ff ini hahahaha
    nih aku bacanya dengan perasaan campur aduk. antara seneng namaku dipake, tapi sedih karna jadi nama anjing, trus bingung karna tiba-tiba muncul cewe dengan nama yg sama. dan langsung aja aku bayangin tuh cewe aku, toh juga namaku, meski ada Luna f(x) juga sih tapi tetep aja wakakak
    ditunggu kelanjutannya~ harus happy ending yg berakhir bahagia bersama Luhan lhoo kekeke

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s