Empat Lima Huruf (Chapter 3)

Title                  : Empat Lima Huruf – Chapter 3

Author               : Vio (@violarosaliya)

Main casts        : Oh Sehun, Aira Miranda

Supporting casts: Find it out through the stories

Genre               : Romance, school life

Rated               : General

Length              : Multichapter

Disclaimer         : Fanfiction ini murni hasil karya author tanpa plagiat dari fiksi manapun.

Author’s note     : I hope you enjoy reading this fan fiction. Please leave comments after that. Every comment is so valuable for me. Thank you.

I also post this story on my blog tigahurufundertherain.blogspot.com

Summary          : Tidak mudah menyatakan cinta. Sungguh tidak mudah. Terkadang itu butuh waktu. Jangankan untuk menyatakannya, untuk menyadari dan meyakinkan diri bahwa hatimu telah lumpuh karenanya pun tidaklah semudah yang kau kira. Terkadang hati sulit menerima penolakan. Atau itu karena kau merasa tidak yakin pada hatinya. Hatinya yang mungkin juga jatuh pada hatimu.

***

(Sehun POV)

“Apa? Dia mengajakku bertemu? Lagi? Besok? Di sekolah?” ucapku dalam hati. Bukan bertemu berdua saja kan? Kami berdua akan bertemu Kim sangsaenim membicarakan pementasan. Akupun menyadarkan diriku sendiri.

“Bagaimana Oppa?” tanyanya lagi.

“Oke. Baiklah”

Entah apa yang aku rasakan saat ini. Senangkah? Mungkin iya. Tapi aku tidak tau pasti kenapa aku bisa begini. Pasti ini karena aku belum makan, pikirku. Haha lucu sekali. Aku tersenyum sendiri.

“Oke. Jangan lupa ya. Jangan lupa juga namaku. Nanti kau bertanya lagi seperti tadi” ujarnya disertai senyum indah itu.

Bagaimana aku bisa lupa, Aira-ssi.

“Haha. Iya kalau aku sedang tidak terserang amnesia lagi ya” gurauku sambil tersenyum juga.

Kamipun beranjak keluar dari kedai kopi saat waktu menunjukkan pukul lima sore.

“Ayo kita pulang sekarang. Aku antar kau pulang kalau kau mau” ajakku. Terdengar canggung untukku karena untuk pertama kalinya aku mengajak seorang yeoja pulang bersamaku. UNTUK PERTAMA KALI. Tolong garis bawahi itu.

“Oh, terima kasih, Oppa. Mungkin lain kali karena aku sedang menunggu seseorang untuk menjemputku. Tapi kau bisa menemaniku menunggunya disini sebentar bila kau tidak keberatan” pintanya padaku.

Apa? Untuk pertama kalinya aku mengajak seorang yeoja untuk pulang bersama dan dia menolak begitu saja? Tidak tahukah dia ini kesempatan yang benar-benar langka? Lebih langka dari kesempatanmu melihat komet Halley melewati lapisan atmosfer bumi. Dan sekarang apa lagi? Dia juga memintaku untuk menemaninya dijemput oleh seseorang? Pasti yang akan menjemputnya adalah seorang namja. Apa mungkin namja bermobil sport tadi? Benar-benar yeoja ini. Apa dia mau mempermainkanku? Atau aku sebenarnya yang sudah gila? Ada apa ini sebenarnya?

“Arasso. Baiklah aku mengerti. Ayo kita menunggu disana saja” ajakku kemudian sambil menahan emosiku yang cukup campur aduk ini. Kami pun duduk di sebuah bangku taman trotoar di bawah sebuah pohon.

Kami berbincang-bincang sejenak sambil menunggu kedatangan sang penjemput Aira. Ternyata tidak buruk juga ide menunggu ini.

“Oiya, Aira-ssi. Kau baru beberapa tahun disini tapi aku dengar bahasa Koreamu lumayan bagus. Tidak terdengar asing sama sekali. Kenapa bisa begitu?” tanyaku padanya. Aku benar-benar ingin tahu. Entah benar-benar ingin tahu kenapa dia bisa begitu lancar menggunakan bahasa yang mungkin asing untukknya atau aku hanya ingin sedikit demi sedikit mengetahui hal-hal mengenai dirinya. Tiba-tiba ia jadi begitu menarik bagiku.

“Umm. Aku punya seorang teman. Dia orang Korea. Kami sudah berteman sejak kecil. Sejak dia tinggal di Indonesia selama kurang lebih tujuh tahun. Jadi, aku sering mendengar kosakata dalam bahasa Korea dan beberapa tahun sebelum aku diterima disekolah ini aku khusus belajar darinya” jelasnya.

“Apa kau pernah mendengar tentang Indonesia sebelumnya, Oppa?” tanyanya padaku. Dia terlihat ingin tahu.

“Iya. Aku pernah mendengar beberapa hal tentang Indonesia, seperti Candi Borobudur dan batik” jawabku sambil mengingat-ingat isi buku pengetahuan popular tentang Indonesia yang pernah aku baca.

“Ooo. Candi Borobudur memang terkenal. Itu salah satu dari keajaiban dunia yang berada di kota Yogyakarta” jelasku.

“Oh, ya. Aku ingat. Candi itu salah satu keajaiban dunia. Tapi bukankah sekarang sudah ada revisi yang baru kan tentang keajaiban dunia?” tanyaku ingin tahu.

“Benar, Oppa. Dan lagi-lagi Indonesia mendapat tempat, namun bukan Candi Borobudur tapi Pulau Komodo. Di pulau tersebut terdapat pusat penangkaran dan pemeliharaan Komodo. Kalau kau berkunjung ke Indonesia, kau harus kesana ya” jelasnya lagi.

“Kedengarannya menarik” kataku kemudian.

Ya. Indonesia sepertinya cukup menarik. Penuturan gadis ini tentang negara asalnya benar-benar menarik. Mungkin aku suatu hari harus berkunjung kesana. Bersamanya mungkin. Akupun tersenyum membayangkan itu.

“Umm. Oppa. Sepertinya jemputanku sudah tiba” ujarnya disaat aku sedang membayangkan perjalanan ke Pulau Komodo. Tiba-tiba senyumku memudar perlahan melihat sebuah mobil sport merah merapat ke trotoar.

“Itu dia disana” katanya menunjuk seorang namja yang keluar dari mobil dan bergerak menuju tempat kami duduk saat ini.

Ting tong. Benar. Tepat 100%. Tebakanku tidak pernah salah. Ternyata benar namja yang tadi siang Aira temui yang datang menjemputnya. Diapun mendekat sambil tersenyum. Manis sekali. Kepada Aira.

Annyeong” katanya pada Aira masih dengan senyum manisnya.

“Annyeong, Oppa” Airapun tersenyum padanya. Oh my God! Adegan apa yang sedang terjadi disini? Apa dia sudah melupakan bahwa aku masih berdiri disampingnya?

“Oh, ya. Sehun Oppa perkenalkan ini Baekhyun.Oppa. ini teman kecil yang tadi aku ceritakan padamu” ujar Aira memperkenalkan namja itu padaku.

Annyeong haseo. Aku Byun Baekhyun” namja itu memperkenalkan diri.

“Oh, Annyeong haseo. Aku Oh Sehun” akupun memperkenalkan diri.

“Memang apa yang sudah Airaceritakan padamu?” tanyanya sambil melirik Aira. Sungguh adegan yang tidak aku harapkan. Aira tersenyum. Cantik sekali. Dan itu membuatku senang sekaligus kesal. Senang karena melihat pemandangan indah itu namun kesal karena sepertinya dia terlihat sangat senang bertemu namja bernama Baekhyun ini.

“Oh tidak. Bukan apa-apa. Benar kan Oppa?” dia buru-buru menjawab pertanyaan Baekhyun.

“Iya. Ngomong-ngomong kau siswa sekolah mana?” jawabku singkat.

“Oh, aku siswa Shinwa High School. Kelas XII. Kau sendiri?” jawabnya menyebutkan sebuah nama sekolah TOP nomor satu di Korea Selatan namun tidak terdengar nada bangga dari suaranya.

“Aku satu sekolah dengan Aira. Sama sepertimu aku siswa kelas XII” jawabku kemudian.

“Hei, kalian berdua. Aku masih disini” kata Aira sambil melambaikan tangan pada kami berdua yang kelihatan seperti akan adu jotos.

“Ayo, Ra. Kita pulang sekarang. Omma pasti sudah menunggu dirumah” ajaknya pada Aira sambil menggenggam tangan yeoja itu. Tepat dihadapanku. Dan apa yang dia katakan? Omma? Mereka tinggal serumah?

“Oh iya, baiklah. Sehun Oppa, sampai ketemu besok” kata Aira sambil melambaikan tangan dan beranjak masuk ke mobil.

Akupun melambaikan tangan dan sesaat saja mobil sport itu sudah menderu dan bergerak cepat membelah jalanan. Akupun melangkah pulang dengan dihujani beribu pertanyaan.

♪ ♪ ♪

(Author POV)

Sehun memarkir BMW hitam miliknya di carport saat melihat ada satu Bentley Mansory putih dan satu motor sport warna merah terparkir dalam garasi rumahnya.

“Yaa, Sehun-ah. Dari mana saja kau? Aku sudah menunggumu dari tadi!” ucap Kai yang sudah berada di kamar Sehun saat dia tiba dirumah tepat pukul tujuh.

“Yaa, Kai. Kenapa kau buat kamarku seberantakan ini? Dasar kau ini” Sehunpun melempar beberapa kaosnya yang tergeletak begitu saja di lantai kamar. Pria ini kelihatannya saja karismatik namun asal kalian tahu ya para penggemar, mantan Ketua Osis yang kalian cintai ini benar-benar jorok sekali. Kalau dia ditinggalkan sendiri dikamar ini selama seminggu, mungkin kamar Sehun sudah jadi hutan rimba.

“Ada apa? Kenapa kau seemosi itu? Aku kan cuma bercanda” tanya Kai kemudian.

Sehun tidak menjawab. Ia mencari sesuatu yang lebih berat untuk menghantam Kai. Ia tau temannya itu hanya bercanda. Tapi entah kenapa emosinya seperti sedang diaduk-aduk saat ini.

“Astaga, apa karena siswi kelas XI itu? Ya, Sehun-ah. Kau sedang jatuh cinta rupanya?” Kai berteriak lantang. Kata-kata jatuh cinta seakan menampar Sehun. Lagi-lagi itu yang ia katakan. Sehun merasa fobia saat Kai mengatakan seseorang sedang jatuh cinta. Itu seperti sebuah kata-kata magis. Saat Kai mengucapkannya seperti dia tahu segalanya.

“Kau mau mati, Kai” teriak Sehun sambil melempar bola basket yang berada di dekatnya pada Kai yang sedang duduk di sofa.

“Nah, itu buktinya, Sehun” ucap Kai lagi sambil bangkit dari kursi menghindari lemparan Sehun.

“Ya, Sehun-ah. Kau tidak usah berisik begitu kalau kau hanya akan membuat kamarmu ini tambah berantakan. Nanti biar aku yang membereskannya” teriak D.O dengan tampang marah dari balik pintu sambil membawa sepiring besar spaghetti.

Apa yang sedang mereka perdebatkan pun tiba-tiba terlupakan saat melihat spaghetti yang kelihatannya enak itu.

“D.O. sayang. I love you” teriak Sehun dan Kai sambil merebut piring dari tangan D.O. Sebelum benar-benar merebut piring, mereka memonyongkan bibir mereka di pipi kanan dan kiri D.O. memperagakan gerakan ingin menciumnya.

“Huaa. Tak sudi aku harus mendapat ciuman dari kalian” teriak D.O. sambil berlari ke balkon kamar Sehun.

“Hahaha. Anyway, thank you D.O. for the spaghetti” kata Sehun dan Kai berbarengan dengan mulut penuh spaghetti.

“Bagaimana? Enak tidak? Aku baru membuat resep spaghettiku sendiri. Kalian yang pertama kali mencoba. Aku butuh komentar” tanyanya kemudian.

“Enak sih. Tapi ada satu yang kurang” jawab Kai.

“Oya? Apa itu? Biar aku catat” tanya D.O. serius sambil menulis catatan pada smartphone-nya.

“Hahaha. Kurang banyak, D.O.” Kai tertawa dan D.O. pun mulai akan marah lagi.

Dalam waktu kurang dari lima menit, satu piring besar spaghetti buatan D.O. Kyungsoo dilahap habis oleh dua orang itu. Mereka seperti belum makan selama satu minggu. Namun, bukan itu saja alasannya. Setiap masakan percobaan D.O. selalu enak terutama enam bulan terakhir. Masakannya tidak kalah dengan masakan chef ternama. Walaupun diawal hobinya memasak, Kai dan Sehun jugalah menjadi kelinci percobaan dengan mencoba beberapa cake yang sangat keras atau yoghurt yang benar-benar asam. D.O merupakan siswa alumni XOXO High School. Mereka bertiga, D.O., Sehun, dan Kai, mulai berteman sejak high school pada kelas VII. Namun, saat kelas X mereka berada di kelas yang berbeda dan D.O. lulus satu tahun lebih cepat karena mengikuti program akselerasi. Sekarang dia sedang mempersiapkan diri untuk studi kulinernya di Amerika.

“Ya, D.O. kenapa semakin hari masakanmu semakin enak saja? Sepertinya kau benar-benar berusaha keras untuk bisa ke Amerika?” tanya Sehun pada D.O. yang masih bertengger di balkon.

“Iya benar itu. Apa kau sedang jatuh cinta?” tanya Kai kemudian. Benar-benar sok tahu. Apa coba hubungan masakan yang semakin enak dengan jatuh cinta?

“Kau ini apa-apaan, Kai. Mana ada hubungan antara masakan D.O. yang semakin enak dengan jatuh cinta. Sok tahu sekali. Benar kan D.O?” sahut Sehun mencibir pernyataan Kai.

D.O. terdiam di pinggir pagar balkon sambil memandang gelap malam bertabur bintang dan jalanan kota yang penuh dengan kilatan cahaya lampu mobil yang berlalu lalang terlihat berkilauan dari kejauhan. Kai benar-benar peramal sejati jika seandainya tidak ada kata lain yang mampu mendefinisikan kemampuannya dalam menebak tingkah pola orang lain terutama dua temannya ini.

Kai berdiri di samping temannya itu. Mencoba ikut merasakan apa yang dirasakan oleh D.O. Kai bukannya peramal, namun ia membaca gerak-gerik D.O. selama beberapa bulan terakhir. Sehun yang masih tidak mengerti dengan aksi diam dua temannya itu beranjak dari sofa menuju balkon.

“Amerika. Dia menungguku disana” ucap D.O. memulai ceritanya.

“Dia? Dia siapa? Jadi benar kau sedang jatuh cinta D.O. Kyungsoo?” tanya Sehun tidak percaya.

“Kau lebih baik diam, Sehun-ah” kata Kai tegas. Itu artinya, kau harus segera diam, jika tidak kau akan tahu akibatnya. Paling tidak tercebur masuk ke kolam atau terlempar ke lantai bawah. Pria itu benar-benar fantastik kalau sudah benar-benar terganggu keseriusannya.

“Hye Ri. Park Hye Ri” D.O. menyebutkan satu nama yang segera membawa mereka bertiga terlempar ke memori tiga tahun lalu saat D.O., Sehun, dan Kai menjadi panitia festival sekolah saat kelas IX. Yeoja itu siswa sekolah Busan yang mengikuti festival sekolah sebagai perwakilan sekolahnya. D.O. sudah menyukai Hye Ri sejak mereka bertubrukan di lorong sekolah saat Hye Ri sedang buru-buru mencari toilet dan D.O. yang juga berlari keluar dari ruangan menuju lantai dua. Sebuah tabrakan yang cukup keras sampai membuat pergelangan kaki yeoja itu terkilir.

Mianheyo. Aku benar-benar tidak sengaja. Apa kau bisa berjalan? Kita harus segera ke UKS untuk mengobati lukamu” tanya D.O. pada yeoja itu.

“Iya. Tidak apa-apa. Aku bisa berjalan kok” katanya masih tersenyum dan mencoba untuk berdiri. Tapi ternyata dia sama sekali tidak bisa berdiri apalagi berjalan.

Entah apa yang dia rasakan saat melihat Hye Ri tersenyum. Rasanya seperti tersetrum aliran listrik puluhan volt. Tapi itu momen yang benar-benar menyenangkan bagi D.O. Bahkan jika hanya untuk diingat. Momen yang terpatri dalam ingatannya hingga saat ini. Tiga tahun kemudian.

“Park Hye Ri? Kau bertemu dengannya? Enam bulan yang lalu kan?” tanya Kai pada D.O. Memastikan bahwa hasil investigasinya tepat.

D.O. mengangguk. Wajahnya terlihat penuh harapan dan bersemangat. Akhirnya dia memiliki kesempatan setelah satu kesempatan yang pernah ia lewatkan dulu.

Sehun pun tertegun dan memori itu berputar seperti potongan film yang di-rewind.

Fall in love. Itu frasa yang tepat untukmu saat ini D.O.” ujar Kai saat mereka bertiga berjalan pulang dari penutupan festival sekolah.

“Hahaha. Tahu apa kau soal cinta Kai. Kau seperti pernah mengalaminya? Memang kau sudah pernah merasakan jatuh cinta? Kau sudah punya pacar?” bantah D.O. saat itu.

“Sepertinya dia juga suka padamu, D.O. Percaya padaku” katanya lagi tanpa mempedulikan bantahan D.O.

“Kalau kau suka padanya dan dia suka padamu, katakana saja. Sebelum terlambat. Sebagai teman itu yang bisa aku sarankan” lanjutnya lagi.

“Haha. Aku saja tidak tahu apa yang aku rasakan Kai. Bagaimana kau bisa tahu?” D.O. tetap saja membantah.

“Aku bisa merasakannya D.O. Kau jadi lebih sering tersenyum sejak pertama bertemu dengannya. Kau juga lebih bersemangat setiap menjalani kegiatan festival padahal sebelumnya kan kau sama sekali tidak tertarik” jelas Kai.

Sehun juga teringat akan kekesalan sekaligus kesedihan D.O. saat Hye Ri telah menerima cinta seorang namja ketika dia sudah lelah menunggu D.O. untuk mengutarakan cinta. Dia saat itu belum yakin dengan perasaannya sendiri. Iapun takut menerima penolakan. Bukan salah siapa-siapa. Namun, cinta perlu perjuangan kan. Saat kau yakin telah jatuh cinta utarakan saja. Kau bukan hanya memintanya menjadi kekasihmu, tetapi lebih pada membuat hatimu lega. Dan mungkin juga membuat hati yeoja  itu bahagia karena mungkin ternyata kalian berdua memiliki perasaan yang sama. Itu yang Kai ucapkan dan aku selalu mengingatnya hingga saat ini.

Dan kini ia memiliki kesempatan kedua. Ia bertemu Hye Ri enam bulan lalu. Cintanya pada Hye Ri masih seperti dulu. Yang ia perlukan saat ini adalah kesempatan untuk menyatakannya. Kesempatan itulah yang membuatnya bahagia. Ia bukan hanya akan datang menyusul yeoja-nya. Tapi membuktikan bahwa Ia punya sesuatu untuk perempuan itu. Ia akan lulus seleksi dan melanjutkan studi kulinernya.

Begitu banyak pertanyaan dalam hatinya. Sehun pun memandang langit malam yang mulai gelap karena bintang yang tertutup awan. Apa benar yang Kai katakan? AKU JATUH CINTA? Benarkah?

*t0 be continue

 

Iklan

3 pemikiran pada “Empat Lima Huruf (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s