Full Moon (Chapter 4)

Title: FULL MOON [Part 4]

Author: Myka Reien (@mykareien)

Main Cast: KaiSoo, HunHan, ChanBaek (other couple will appear later)

Genre: Drama, Supernatural

Rate: T, GS

Lenght: Multichapter

Note: No bash, no flame, no peanut please~^^ Let’s be a good reader and good shipper~^^

HAPPY READING 뿅~뿅~

.

.

.

FULL MOON

[Part 4]

.

.

.

Kyungsoo membuka mata perlahan dan hal pertama yang terlihat oleh matanya adalah bulan yang bersinar perak di langit.

Apa aku bermimpi? Batin Kyungsoo. Ataukah aku sudah mati?

Samar-samar ingatan tentang peristiwa buruk barusan berkelebat di kepala Kyungsoo, menyadarkan yeoja itu sepenuhnya. Kyungsoo memegang tubuhnya sendiri dengan panik dan langsung heran begitu tahu dia masih memakai pakaian, meskipun itu bukanlah seragam sekolahnya. Si mungil tersebut mengangkat kedua lengannya, memperhatikan hoodie tebal yang sudah menutupi kulitnya dengan hangat bahkan rasa sakit dan nyeri di seluruh tubuhnya sudah banyak berkurang.

Ketika Kyungsoo masih mencoba memahami apa yang sudah terjadi padanya, tiba-tiba sebuah sosok muncul di atas kepalanya, menghalangi sinar bulan, membuat wajahnya tidak jelas terlihat oleh yeoja itu. Sosok itu mendekat pada Kyungsoo, desah napasnya terdengar sangat dekat meniup kulit wajah si mungil. Dan kemudian terasa ada yang menjilati pipi Kyungsoo, awalnya gadis itu merasa sedikit perih karena sepertinya yang kena jilat adalah luka di pipinya tapi lama kelamaan rasa perih itu hilang sama sekali.

Sosok tersebut menarik wajahnya yang masih nampak blur di mata Kyungsoo. Sekarang mereka saling bertatapan dalam jarak yang begitu dekat. Tangan Kyungsoo bergerak menyentuh wajah di depannya dan rasa panas seperti penghangat ruangan seolah langsung melelehkan ujung jari Kyungsoo yang membeku kedinginan. Sosok itu seolah sadar jika gadis di depannya hampir mati beku, dengan lembut dia menarik tubuh Kyungsoo untuk duduk dan memeluknya dengan erat.

Dalam kesadaran yang minim, Kyungsoo bisa merasakan rasa panas langsung merembet di seluruh saraf perasanya, menghangatkan setiap pembuluh darahnya dan sedikit demi sedikit menaikkan suhu tubuhnya. Insting, Kyungsoo balas memeluk orang yang melingkarkan lengan tegapnya mengelilingi tubuh kecilnya itu untuk menghangatkan badan.

Duk, duk, duk, irama teratur degupan jantung terdengar indah seperti melodi pengantar tidur di telinga Kyungsoo. Wajah gadis itu terasa hangat menempel di dada yang sepertinya tidak tertutupi apapun. Namun tidak masalah bagi Kyungsoo saat itu selama dia tidak merasa kedinginan.

Perlahan-lahan mata Kyungsoo kembali menutup dan sebelum kesadarannya benar-benar hilang, sebuah bisikan lirih mampir di telinganya.

“Bertahanlah, kau akan baik-baik saja, Kyungsoo-ya…”

-o0o-

Kyungsoo’s POV

Bertahanlah, kau akan baik-baik saja, Kyungsoo-ya…”

Siapa itu yang bicara? Suara siapa itu? Kenapa sepertinya suara itu tidak asing buatku? Rasanya aku pernah mendengarnya di suatu tempat, di waktu yang jauh…

Author’s POV

~FLASHBACK~

Perlahan sepasang mata hitam Kyungsoo terbuka dan yang nampak olehnya adalah gundukan putih salju. Gadis itu menggerakkan tangan, meremas salju yang terlihat begitu nyata. Kyungsoo memandang kulit tangannya yang sudah memerah dan kuku jarinya yang berwarna biru nyaris ungu. Tarikan napasnya pendek-pendek, begitu sulit menghela udara karena posisi tubuhnya yang tengkurap menempel langsung ke permukaan salju yang dingin. Tubuhnya menggigil kedinginan disebabkan salju yang mencair dan merembes menembus pakaiannya hingga ke bagian terdalam. Belum cukup sampai di situ, Kyungsoo merasa kulit wajahnya sudah menebal beberapa senti karena terbenam di tumpukan salju.

Kenapa aku di sini?

Kyungsoo mencoba menggerakkan tubuhnya tapi tidak berhasil. Rasa dingin yang menusuk sudah membekukan seluruh permukaan kulitnya dan sekarang dalam perjalanan mengkakukan ototnya. Mata Kyungsoo berkaca-kaca.

Unnie…Lay Unnie…

Yeoja itu menangis dalam diam.

Umma…

Ketika memanggil Ibunya, sekelebat kesadaran timbul di kepala Kyungsoo.

Benar, aku pergi mencari Umma dan Appa. Mereka bilang Umma dan Appa terjebak badai salju dan tidak bisa pulang. Mereka bilang Umma dan Appa akan kembali besok, tapi kenapa Unnie menangis? Unnie menangis dan tidak mau bicara denganku. Aku ingat, aku pergi keluar untuk mencari Umma dan Appa, aku yakin mereka tadi bilang akan mengambil tripot kamera yang tertinggal di tempat main ski. Iya, aku harus menjemput mereka sekarang!

Kyungsoo mencoba menggerakkan tubuhnya sekali lagi. Tapi sia-sia saja karena tubuhnya sudah kaku disebabkan hawa dingin yang beberapa puluh angka di bawah nol. Kyungsoo berontak, berteriak, tapi tak sedikitpun suara keluar dari mulutnya yang sudah membiru. Gadis itu menangis, tapi tidak ada air mata yang keluar seolah air mata pun sudah membeku di tempatnya.

Aku tidak mau mati begini! Aku harus menemukan Umma dan Appa! Aku harus kembali ke tempat Unnie! Kyungsoo menjerit dalam hati.

Semakin lama gadis itu merasa separuh tubuhnya semakin mati rasa. Dadanya semakin terasa sesak dengan napas yang mulai putus-putus. Sorot mata Kyungsoo memudar, samar-samar kilat kehidupannya mulai padam. Gadis itu sudah tidak bisa memikirkan apapun lagi, kepalanya terasa kosong dan melayang.

Apa aku akan mati begini? Bisik hatinya lirih.

Dalam kesadaran yang tipis, Kyungsoo mendengar suara riuh salak anjing di sekitarnya. Gadis itu berusaha membuka matanya lagi meski sangat berat. Siluet-siluet tubuh tak jelas langsung menyapanya begitu membuka mata. Lensa mata yang sudah tidak mampu lagi untuk fokus hanya menangkap gambar-gambar blur yang didominasi hitam.

Beberapa moncong anjing membaui wajah Kyungsoo, yeoja tersebut bisa merasakan desah napas mereka yang hangat menerpa kulit pipinya. Dengan cakar-cakar yang tajam, anjing-anjing itu menyingkirkan salju yang menimbun tubuh mungil Kyungsoo. Sambil sesekali mereka menjilati wajah Kyungsoo, seakan memintanya untuk tetap bertahan hidup.

Anjing liar…mereka pikir aku makanan? Setidaknya perasaan Kyungsoo masih belum sepenuhnya ikut lumpuh.

“Hei, apa yang kalian lakukan? Kalian menemukan apa? Tulang?” sebuah suara manusia terdengar, sepertinya dia bicara dalam bahasa Cina.

“Manusia!? Apa itu manusia!?” dia terdengar sangat kaget ketika melihat apa yang sedang digali oleh anjing-anjing peliharaannya. Dengan salakan bersahut-sahutan, para anjing menjawab.

“Apa dia sudah mati? Gali lebih cepat!” perintah suara sedikit bass itu sambil mendekati tubuh Kyungsoo.

“Hei, kau masih hidup?” sosok tersebut melambaikan tangan di depan wajah Kyungsoo yang pucat pasi seperti mayat.

Kyungsoo mengedipkan mata dengan lemah memberi isyarat jika dia masih bernyawa.

“Dia masih hidup. Cepat panggil Umma! Suruh ke sini! Cepat!” sosok itu terdengar panik. Beberapa anjingnya mundur dan berbalik, berlari secepat kilat menjauhi mereka sementara beberapa ekor lain mengeluarkan suara lolongan keras, dan sisanya masih tekun menyingkirkan salju dari tubuh gadis tak dikenal yang sedang meregang nyawa tersebut.

Setelah salju yang menimbun badan Kyungsoo sudah hampir sepenuhnya bersih, sosok manusia pemilik anjing itu meraih bahu Kyungsoo dan membalikkan posisi tubuhnya perlahan-lahan. Untuk sesaat Kyungsoo merasa napasnya jadi sedikit ringan, udara masuk sedikit lebih banyak ketika tubuhnya ditelentangkan di atas lapisan salju.

“Badannya sudah hampir beku,” desis sosok yang masih terlihat samar di mata Kyungsoo tersebut begitu melihat kondisi menyedihkan gadis di hadapannya.

“Pertama singkirkan dulu baju yang basah ini.” Sambil bicara begitu, sosok tersebut memegang kerah pakaian Kyungsoo dan bret! bret! bret! dengan satu tarikan seluruh baju Kyungsoo terkoyak. Sosok itu melepas pakaiannya sendiri dan memakaikannya kepada Kyungsoo yang masih belum bisa bergerak.

“Dia dingin sekali…”

Dalam puzzle kesadaran yang sedikit demi sedikit mulai tertata lagi, Kyungsoo merasa tubuhnya dipeluk erat oleh seseorang. Seseorang bertubuh panas seperti mesin pemanas ruangan. Jari-jari panjang terasa memegang kepalanya dengan lembut, mencairkan tiap helai rambutnya yang terlapisi es dan Kyungsoo bisa mendengar suara detak jantung sangat dekat dengan telinganya.

“Bertahanlah, kau akan baik-baik saja…” bisik sebuah suara di sebelahnya, begitu dekat hingga lembut desah napasnya menerpa kulit leher Kyungsoo.

Ujung jari tangan Kyungsoo bergerak pelan, menemukan kembali nadi kehidupannya. Gadis itu juga sudah bisa menghirup udara lebih banyak untuk mengisi rongga paru-parunya yang sempat hampir berhenti berkontraksi.

Menyadari jika yeoja di pelukannya sudah menampakkan tanda-tanda kehidupan lagi, sosok itu melepaskan dekapannya perlahan. Dia menyingkirkan rambut Kyungsoo yang jatuh berantakan di atas keningnya untuk melihat lebih jelas wajah kecil dengan kulit pipi mulai merona kembali tersebut. Untuk beberapa detik sosok itu tertegun, tidak bergerak dan tidak bicara. Sepasang matanya yang merah tidak kuasa berkedip dan napasnya terhenti, seolah tersihir oleh setiap lekuk halus di wajah gadis di lengannya yang masih belum sepenuhnya sadar itu.

Sepasang mata Kyungsoo terbuka lagi walau belum bisa menemukan fokus dengan baik, tapi dia bisa melihat ada orang di sebelahnya meski samar. Cahaya yang samar dari langit yang tertutupi mendung membuat penglihatan Kyungsoo semakin payah. Dengan tubuh gemetar, Kyungsoo mencoba menggerakkan tangannya. Meraih wajah orang yang berada di sebelahnya, memangku tubuhnya. Tangan Kyungsoo yang dingin bisa merasakan kulit wajah yang ia sentuh begitu hangat dan menenangkan. Bibir Kyungsoo bergerak kecil, mencoba mengeluarkan suara.

“Gomawo…” bisik yeoja tersebut dengan sangat lirih.

Semakin terhanyut, sosok tak dikenal itu memegang tangan mungil Kyungsoo dan terus menempelkannya ke pipinya sendiri. Bahkan ketika mata gadis di pangkuannya kembali terpejam hilang kesadaran, dia masih memegang tangan Kyungsoo.

Terdengar suara salakan anjing yang bersahut-sahutan dari kejauhan dibalas oleh anjing-anjing yang sejak tadi duduk anteng di sekitar majikannya yang sedang menghangatkan Kyungsoo. Sang pemilik anjing langsung tersadar dan menoleh, memicingkan mata mencoba melihat orang yang datang bersama dengan para anjing.

“Dia masih hidup?” seorang wanita muda melompat turun dari punggung seekor anjing besar, hampir sebesar tubuh kuda poni dewasa, dan langsung mendekati Kyungsoo.

“Ne. Aku sudah menghangatkan tubuhnya. Dia sempat sadar tapi sekarang pingsan lagi,” jawab orang yang memangku tubuh Kyungsoo dan membiarkan wanita muda tadi memeriksa gadis itu.

“Bagaimana dia bisa tertimbun salju di sini?” seorang namja muda yang entah datang darimana mendadak ikut mendekati mereka berdua.

“Aku tidak tahu. Mereka yang menemukannya.” Sosok itu menunjuk ke anjing-anjing peliharaannya yang sudah bergabung dengan anjing-anjing yang baru datang.

“Salju akan segera menipis dan pasti akan banyak orang yang datang ke sini. Lebih baik kita bawa dulu dia ke rumah,” ujar si wanita muda saat memastikan Kyungsoo baik-baik saja.

“Ada apa, Umma?” tanya orang yang memangku Kyungsoo, merasa bingung dengan sikap cemas Ibunya.

“Serigala-serigala Appa menemukan ada orang lain yang juga tertimbun badai salju di gunung,” sahut namja berambut pirang yang datang bersama wanita muda tadi.

“Hidup?” saudaranya bertanya dijawab gelengan oleh namja itu.

“Para serigala dan Sehunie sekarang sedang menjaga mayat mereka di tempat kejadian sampai para manusia itu datang menemukannya,” jelas namja berambut pirang dengan suara parau.

“Tidak ada waktu lagi. Gadis ini lebih penting untuk diselamatkan,” tegur wanita muda menyela pembicaraan kedua anaknya.

“Ne.” Kedua anaknya menjawab bersamaan.

“Kami tunggu di rumah,” ujar namja berambut pirang sambil meletakkan kedua tangannya di permukaan salju dan dalam sekejab sosoknya berubah menjadi serigala sebesar kuda poni dewasa, berbulu keemasan, dan bermata merah menyala. Dia merendahkan tubuhnya supaya Ibunya bisa naik ke atas punggungnya.

“Cepatlah, Jonginie!” pesan si wanita muda sebelum jaraknya dan anaknya yang masih memangku Kyungsoo semakin jauh.

“Ne, Umma!” jawab orang yang belum melepaskan tubuh Kyungsoo.

Dengan hati-hati orang tersebut merubah posisi Kyungsoo hingga berada di punggungnya. Dia meletakkan kedua tangannya di tanah dan menutup mata penuh konsentrasi.

Bwosh! Dalam satu kedipan mata, sosoknya berubah menjadi serigala berbulu hitam pekat dengan corak putih di atas masing-masing kedua matanya yang bersinar merah. Tubuh Kyungsoo nampak tergeletak lemas di punggungnya.

“Ayo pulang,” ajaknya pada para serigala yang penampilannya sekilas memang mirip dengan anjing liar.

Mereka berlari cepat di atas salju tebal, menembus kabut sisa badai yang mulai menipis. Angin bertiup keras di tempat yang mereka lalui, membawa butiran salju yang sedikit demi sedikit menutup jejak kaki mereka.

Hangat…perlahan mata Kyungsoo kembali terbuka dan langsung melihat salju di bawah kakinya yang nampak melayang dengan sangat cepat.

Aku sedang terbang? Batin Kyungsoo.

Gadis itu menggerakkan jari tangannya yang langsung menyentuh bulu-bulu lebat yang halus.

Bulu binatang? Apa aku sedang tidur di atas karpet kulit binatang? Kesadaran Kyungsoo masih belum kembali sepenuhnya.

Hangat…tidur di sini benar-benar sangat nyaman…

Kyungsoo menutup mata kembali, membiarkan dirinya terlena dalam ‘mimpi’ yang terasa nyata baginya.

~FLASHBACK END~

-o0o-

“Kyungsoo-ya~!”

Mata Kyungsoo terbuka sekejab begitu namanya dipanggil dengan lantang. Gadis itu bangkit dari tempat tidurnya dengan cepat dan melihat ke sekeliling. Sebuah ruangan 5×7 meter dengan dinding putih bersih dan gorden berwarna soft pink. Perkakas yang didominasi warna-warna lembut lain juga nampak tertata rapi dan terlihat menggemaskan. Kyungsoo mendesah memandang bingkai foto di atas meja belajar yang menampilkan gambar dia bersama keluarganya. Ini kamarnya. Benar-benar kamarnya.

Kepala Kyungsoo neleng, mencoba mengingat-ingat apa yang sudah terjadi semalam untuk memastikan jika dia tidak hanya bermimpi.

Bertahanlah, kau akan baik-baik saja, Kyungsoo-ya…”

Mata Kyungsoo membeliak lebar. Dia ingat kalimat itu, dia ingat satu kalimat itu. Dia ingat dia pergi bekerja ke toko Shindong karena Lay akan pulang terlambat, dia ingat dia bertemu dengan Baekhyun dan bertengkar dengannya, dia ingat memori buruk tentang peristiwa yang nyaris menodai dirinya semalam, dia ingat pemandangan bulan yang tampak begitu dekat di matanya. Dia mulai ingat satu per satu kejadian itu.

Bergegas gadis tersebut turun dari tempat tidur dan berdiri di depan cermin, memperhatikan pakaiannya yang aneh. Kyungsoo masih memakai kaos kaki sekolah dan rok seragam, tapi atasan seragamnya sudah berganti dengan hoodie tebal ukuran XL yang menenggelamkan kedua tangannya. Gadis itu memeriksa kedua lututnya dan kedua sikunya juga beberapa bagian tubuh lain yang dia yakini terluka karena jatuh dan insiden semalam. Semua luka yang seharusnya ada itu, sudah tidak berbekas sama sekali seolah memang sejak awal tidak ada luka.

Kyungsoo memegang kedua pipinya dengan tatapan mata bingung.

Apakah aku semalam hanya bermimpi? Tapi kalau itu cuma mimpi, kenapa aku bisa memakai hoodie ini? Ini hoodie siapa? Batin Kyungsoo heran.

“Kyungsoo-ya…!” mendadak Lay membuka pintu mengagetkan Kyungsoo yang masih berdiri di depan cermin.

“Oh, kau sudah bangun? Kalau kau sudah siap, langsung sarapan ya. Aku ada pemotretan pagi,” ujar Lay. Dia hampir menutup pintu saat melanjutkan kalimatnya.

“Hoodie itu lumayan bagus dan kelihatannya hangat. Tapi lain kali carilah ukuran L atau M saja.” Lay tersenyum dan menutup pintu.

Kyungsoo membalas senyuman kakaknya dengan cengiran.

Apa yang sebenarnya terjadi semalam? Kyungsoo menggaruk kepala tidak mengerti.

. . .

“Unnie, semalam Unnie pulang jam berapa?” tanya Kyungsoo sambil mengunyah pelan rotinya. Mereka sekarang sedang duduk saling berhadapan, sarapan bersama dengan menu seperti biasa, roti selai.

“Sekitar jam 2 kurang. Wae?” tanya Lay.

“Saat itu, apa aku sudah di rumah? Unnie tahu?” tanya Kyungsoo membuat alis Lay mengerut. Wanita yang merupakan satu-satunya saudara kandung Kyungsoo itu sampai meletakkan roti yang masih separuh ke atas piring karena mendengar pertanyaan adiknya yang begitu janggal dan aneh.

“Apa maksudmu?” balas Lay heran.

“Saat Unnie pulang, apa aku ada di kamar?” Kyungsoo memspesifikasikan pertanyaannya.

“Iya, begitu aku pulang aku langsung ke kamarmu dan kau sudah tidur. Ada apa? Pertanyaanmu aneh sekali.”

“Karena semalam rasanya aku mengalami banyak kejadian yang buruk. Tapi sepertinya itu hanya mimpi.” Kyungsoo menelengkan kepalanya dengan wajah bingung.

Lay tertawa. “Jadi karena kau ingin memastikan apa kau bermimpi atau tidak kau bertanya begini padaku? Aku pikir kau mulai terkena sindrom pikun dini,” ujar Lay merasa lucu.

Kyungsoo mendesis. “Mungkin juga itu bukan mimpi.”

“Sudahlah, jangan terlalu berpikir keras dan belajarlah semampu usahamu saja. Kau itu sudah cukup pintar. Jangan terlalu memaksakan diri. Aku tidak mau adikku satu-satunya ini menjadi pikun di usianya yang bahkan belum 17 tahun.” Lay mencubit keras sebelah pipi Kyungsoo sampai adiknya mengaduh.

“Tapi aku masih penasaran…” Kyungsoo mengusap-usap pipinya yang terasa nyeri dicubit oleh tangan berjari lentik kakaknya.

Begitu Kyungsoo selesai menelan gigitan terakhir rotinya dan menghabiskan susu yang selalu disiapkan sebagai pelengkap gizinya di pagi hari, Lay segera memberesi semua piring dan gelas di meja lalu meletakkannya di westafel. Dia mengikuti adiknya ke beranda dengan tangan memegang kamera.

“Kyungsoo-ya,” panggil Lay sudah siap membidikkan shutter kameranya.

Blitz! Kyungsoo berpose dengan enggan, dia menutupi kedua matanya seperti seorang narapidana.

“Ya, ada apa denganmu? Kenapa sepagi ini kau sudah lesu?” tanya Lay heran sekaligus khawatir.

Kyungsoo menggelengkan kepala. “Gwaenchana, ittabayo,” pamitnya lalu membuka pintu dan melangkahkan kaki keluar rumah.

Lay masih memandang pintu rumah yang sudah tertutup dan beralih menatap kameranya yang memperlihatkan ekspresi lesu adiknya barusan. Ada kekhawatiran di mata gadis muda itu.

-o0o-

Yang semalam itu apa aku hanya bermimpi? Tapi kalau aku mimpi, kenapa seragamku sudah berubah? Kyungsoo terus memikirkan kejadian semalam dan pagi ini, mencoba mencari benang merah di antara mereka.

Banyak pikiran membuat Kyungsoo melupakan hawa dingin pagi yang selalu dibencinya. Di samping itu, Kyungsoo juga tidak terlalu merasa kedinginan karena dia sedang memakai seragam olahraga yang berupa jaket lengan panjang dan celana panjang training bergaris, dikarenakan dia tidak bisa menemukan atasan seragamnya dan tidak punya seragam cadangan.

Sekali lagi Kyungsoo mendesah karena tidak memiliki petunjuk apapun mengenai peristiwa semalam dan alasan kenapa dia bisa ada di kamarnya sebelum Lay pulang. Satu-satunya hal yang rasional hanyalah kejadian semalam itu adalah mimpi atau dia memang sudah mulai pikun.

Kalau aku bertanya pada Baekhyun, mungkin dia akan tahu, batin Kyungsoo.

Kyungsoo membelok ke arah jalan menuju komplek pembangunan gedung apartemen yang semalam menjadi setting peristiwa horror di dalam ‘mimpi’nya. Langkah kaki gadis itu melambat begitu melihat ada banyak orang berkumpul di depan sebuah proyek pembangunan gedung yang baru selesai separuh. Bahkan tak jauh dari situ ada sebuah mobil reporter tv dan beberapa mobil patroli polisi yang sedang parkir di pinggir jalan. Setengah berlari, Kyungsoo mendekati kerumunan tersebut.

“Sungguh, Pak Polisi! Ada monster yang datang dan mengamuk di sini. Dia menyerang teman-temanku. Meskipun waktu itu gelap, aku yakin yang menyerang mereka adalah monster! Tidak mungkin kalau bukan monster yang melakukan ini!” seorang pria berumur 20an dengan pakaian preman terlihat sedang bicara pada seorang petugas polisi. Dia bercerita dengan wajah terlihat sangat meyakinkan.

“Ahjumma, apa yang terjadi?” tanya Kyungsoo pada seorang Ahjumma yang ikut menonton, ada keranjang penuh sayuran dan buah di tangannya, menandakan dia baru pulang dari pasar.

“Aku juga kurang tahu. Tadi pagi tiba-tiba saja banyak mobil ambulans ke sini dan pagi ini polisi datang. Katanya ada monster yang menyerang geng motor yang biasa mangkal di sini. Sampah masyarakat itu benar-benar sangat menjengkelkan. Kenapa mereka tidak sekalian saja diserang semuanya sekaligus biar tidak mengganggu daerah ini lagi.” Jawaban Ahjumma berakhir dengan omelan.

“Tadi pagi…” Kyungsoo mendesis lantas kedua matanya terbeliak lebar.

“Ahjumma bilang ‘tadi pagi’. Benarkah?” tanya yeoja tersebut meminta penegasan yang dijawab anggukan heran oleh Ahjumma.

“Lalu, benarkah yang menyerang itu monster?” buru Kyungsoo.

“Entahlah. Cerita mereka seperti dibuat-buat. Ada makhluk besar yang mengaum-lah, bergerak dengan kecepatan kilat-lah, bisa menghilang-lah. Ah, paling-paling mereka berkelahi dengan teman mereka sendiri lalu mengarang cerita supaya biaya rumah sakit ditanggung perusahaan konstruksi. Kalau ada gosip begini ‘kan kemungkinan dana untuk pembangunan gedung ini akan dihentikan.”

Kyungsoo tidak bertanya lagi. Dia mengerutkan kening, teringat dengan suara geraman binatang yang samar-samar dia dengar semalam. Dan tentang sepasang cahaya merah yang terlihat dalam kegelapan, juga raungan keras seekor binatang yang marah.

Monster?

“OMO!”

Kyungsoo terlonjak kaget saat mendengar teriakan di sebelahnya. Dia menoleh dan melihat seorang namja berwajah cantik tapi berpakaian preman sedang memandangnya dengan mata terkejut, takut, dan bingung.

“Kau…kau yang sema…” tunjuk pria itu tanpa meneruskan kalimatnya. Akan berbahaya bagi dia dan teman-temannya jika kelakuan mereka yang hampir memperkosa seorang gadis terbongkar di depan banyak polisi begini.

“Bagaimana kau bisa hidup?” tanya pria itu gemetar, berpikir jika Kyungsoo adalah hantu atau sejenisnya.

“Aku memang masih hidup,” jawab Kyungsoo heran.

“Ahjussi, apa yang terjadi sema…” pria anggota geng motor itu buru-buru menutup mulut Kyungsoo dan menariknya agak jauh dari kerumunan. Kyungsoo memberontak mengira dia akan disakiti lagi.

“Jangan bicara keras-keras! Ada banyak polisi di sini!” bentak si Ahjussi ulzzang ketakutan.

“Kalau Ahjussi takut pada polisi, seharusnya Ahjussi tidak melakukan hal yang buruk!” seru Kyungsoo menahan marah mengingat peristiwa buruk semalam.

“Aigo, anak ini! Kenapa kau malah berteriak, hah? Seharusnya aku yang marah!”Ahjussi itu menjitak kepala Kyungsoo dengan gemas.

“Siapa monster itu? Apa dia temanmu? Apa kau tahu sekarang gara-gara dia teman-temanku ada di rumah sakit? Bahkan ada yang patah tulang.”

“Aku tidak tahu apa-apa!” nada suara Kyungsoo masih tinggi. “Aku pingsan karena ketakutan dan begitu bangun aku sudah di rumah.”

“Di rumah? Siapa yang mengantarmu?” selidik Ahjussi berambut cepak seperti orang yang baru keluar dari wamil tersebut.

“Mana aku tahu, sudah ‘ku bilang aku pingsan.” Kyungsoo terlihat kesal.

“Ya! Kau jangan mencoba menyembunyikan monster itu. Sekarang aku dan teman-temanku harus membalas dendam pada dia.” Si Ahjussi mencoba mengancam.

“Apa untungnya bagiku menyembunyikan apa yang aku bahkan tidak tahu sama sekali. Sudah ‘ku bilang aku tidak ingat apa-apa soal monster atau apapun itu. Yang aku tahu aku sudah ada di rumah begitu aku sadar. Aish!” Kyungsoo semakin frustasi.

“Jinja?” Ahjussi bermata besar tapi memiliki ekspresi galak itu sepertinya ingin mengetes keseriusan Kyungsoo.

“Jinjayo!” jawab Kyungsoo tegas.

“Yakso?” ahjussi menyodorkan jari kelingkingnya membuat Kyungsoo bengong.

“Ahjussi, berapa umurmu? Bagaimana kau bisa main yakso-yakso-an dengan orang lain? Aigoo,” balas Kyungsoo.

“Isshh, aku tidak akan melepaskanmu kalau kau sampai menyembunyikan MONSTER itu. Dan aku pasti akan menangkapnya,” ujar Ahjussi dengan mata penuh keyakinan.

“Ah, terserahlah. Aku mau ke sekolah!” Kyungsoo memegang kepala dengan wajah frustasi.

“Ya, Haksaeng! Aku benar-benar tidak akan melepaskanmu dan teman monstermu itu!” terdengar teriakan Ahjussi.

“Sudah aku bilang dia bukan temanku! Aku tidak kenal dia!” balas Kyungsoo marah.

-TBC-

Wanna read part 4?

Please support me with your review (^_~)❤

Gak usah review gak pa-pa, tapi HARUS komen & tanya-tanya yaa … #samaaja LOL

Hamsahamnida~ *bow*

NB: FF ini pernah di-publish di www.fanfiction.net a/n author Myka Reien

8 pemikiran pada “Full Moon (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s