Hello, Goodbye (Chapter 1)

Hello, Goodbye (Chapter one)

 

It’s me who is only looking at you by your side, a fool”

 

Author:

 

@halonays

 

Length: Multi chapters

 

Genre: romance

 

Rating: teenager

 

Starring:

 

–          Oh Se Hun

–          Park Soo Jin

 

ⱷⱷ

 

 

“Jogiyo”

 

            Pagi yang menyebalkan menurut Oh Se Hun, bagaimana tidak? Belum saja dua jam setelah dia bangun tidur, namun ia harus menerima banyak kesialan. Salah satunya adalah mata pelajaran pertama hari ini dikelasnya, sedang mengadakan ulangan matematika untuk penambahan nilai. Dan ia sekarang harus terkurung didepan sekolah karena terlambat.

 

            Keadaan hati lelaki ini sedang tidak baik, raut wajahnya yang terlihat tenang namun terkesan dingin selalu membuat anak murid lain takut untuk menyapanya. Lelaki ini juga tidak terlalu peduli dengan keadaan sekitar. Walaupun banyak anak perempuan yang menggilainya. Sayangnya, ia tidak pernah peduli.

 

            “Mwo?” ucap lelaki itu kasar, gadis yang baru saja memanggil Se Hun, terdiam.

           

            “Kau murid sekolah ini, ya?” Tanya gadis itu. Namun beberapa saat kemudian ia mengerutuki pertanyaannya. Ah… tentu saja dia murid sekolah ini, kan seragamnya sama denganku, batinnya. Gadis itu sudah menyiapkan mental untuk mendengar perkataan kasar dari lelaki yang berada dihadapannya.

 

            “Maaf maaf, maksudku seragam kita sama apa kita satu sekolah?” gadis itu langsung memperbaiki pertanyaannya daripada lelaki yang sedang didepannya membentaknya nanti.

 

            “Ya! Apa kau lihat di sekitar sini ada sekolah lain? Pertanyaan macam itu, bodoh”

 

            Panggil saja gadis ini dengan nama Soo Jin, ia baru saja pindah kesekolah barunya. Namun hari pertama sekolahnya ia harus bertemu dengan seorang anak lelaki yang menurutnya sangat menyeramkan. Aura lelaki ini dapat membuat bulu kuduknya berdiri, apalagi wajah putih pucatnya dan ekspersi dinginnya seakan-akan menyalurkan aura misterius kedalam dirinya.

 

            Sialnya di hari pertama sekolahnya ia datang terlambat , dan satu-satunya yang bernasib sama hanya lelaki yang disebelahnya ini.

 

            “Baiklah, kalau begitu aku simpulkan kalau kau satu sekolah denganku. Perkenalkan namaku Park Soo Jin, kau?” Soo Jin mengulurkan tangannya sambil tersenyum ramah kearah satu-satunya lelaki yang ada dihadapannya.

 

            Namun tidak ada jawaban dari anak lelaki ini, Soo Jin masih tidak mau menyerah ia melihat nametag yang sudah tertempel rapi diseragam lelaki ini, “Oh, namamu Se Hun,” gumam Soo Jin, akan tetapi tetap masih terdengar ditelinga lelaki jangkung ini.

 

            “Hai Se Hun, senang bisa berkenalan denganmu,” ucap Soo Jin ramah, sambil menampilkan senyuman ramahnya. Wajah Soo Jin begitu berseri-seri, matanya akan berbentuk seperti bulan sabit jika sedang tersenyum, dan bibirnya tertarik indah hingga menampilkan senyuman yang cukup menawan.

 

***

 

            Setelah diperbolehkan masuk kedalam sekolah, Soo Jin harus mencari ruang kepala sekolah untuk memenuhi semua administrasi sedangkan lelaki yang bernama Oh Se Hun sudah melenggang pergi tanpa berkata apapun kepadanya.

 

            Gadis ini baru pindah ke Korea sekitar dua minggu yang lalu, sebelumnya gadis ini tinggal di Manhattan, Amerika Serikat. Karena kesehatan Ayahnya yang memburuk, menyebabkan ia harus kembali ke tanah kelahirannya. Ayahnya mengatakan ingin tinggal di Korea untuk beberapa waktu, Ibu Soo Jin? Ibunya sudah meninggal dunia, saat Soo Jin masih berumur enam tahun.

 

            Mungkin gadis ini mempunyai senyuman termanis, semanis madu. Tapi mata gadis ini tidak bisa berbohong, jika gadis ini sedang berada didalam ketakutan. Ia takut, sebagai anak tunggal, ia takut jika Ayahnya akan meninggalkannya kelak. Setelah Ibu nya meninggalkannya saat ia masih kecil, ia tidak mau jika Ayahnya juga ikut meninggalkannya.

 

            “Annyeonghaseyo, Park Soo Jin imnida,” ujarnya saat memperkenalkan dirinya didepan kelas barunya. Banyak anak murid di kelasnya yang menatapnya antusias, namun ada juga yang terlihat tidak peduli. Namun dari beberapa murid yang bersikap tidak peduli, matanya terkunci oleh lelaki yang baru saja ia temui di depan gerbang sekolah.

 

            “Baiklah Soo Jin-ssi, kau bisa duduk disana, disebelah Se Hun,” Soo Jin mengangguk mengerti, sedangkan Se Hun yang mendengar namanya disebut langsung berdiri, “tidak bisa seonsaengnim, disini tempatnya Jong In,” ucap Se Hun, lantang. Terdengar tidak sopan memang, namun Se Hun tidak ingin kesenangannya diusik jika ada seseorang yang tidak dikenalnya duduk didekatnya.

 

            “Oh Se Hun-ssi, jika Jong In duduk di dekatmu? Lalu yang sedang duduk disebelah Do Kyung Soo siapa?”

            Perkataan Seonsaengnim mampu membuat seisi kelas terkikik pelan, mereka tidak berani jika memperlihatkan tawa mereka di depan Oh Se Hun, entahlah lelaki ini tidak pernah melakukan sesuatu yang parah seperti bertengkar atau berkelahi. Tapi seisi kelas hanya tidak kuat dengan aura dingin yang menyelimuti lelaki ini.

 

            “Mian, Se Hun-ah. Aku duduk dengan Kyung Soo saja hehe, sudah sejak sekolah dasar kita sebangku, kau juga perlu teman sebangku baru hahahaha” ujar Jong In santai, terkesan bercanda. Se Hun langsung menatap Jong In dengan tatapan menusuk, namun Jong In hanya menjulurkan lidahnya dan kemudian tertawa kembali.

 

            Hanya Kim Jong In yang berani melakukan hal itu kepada Se Hun, sahabat yang sudah ia kenal sejak di bangku taman kanak-kanak benar-benar mengenal Se Hun diluar maupun dalam. Ia tidak takut dengan Se Hun, karena sebenarnya tidak ada yang perlu ditakuti dari seorang Oh Se Hun.

 

            Soo Jin berjalan mendekati Se Hun, gadis ini merasa senang dapat bertemu dengan Se Hun, lelaki yang sepertinya tidak pernah tersenyum dan memiliki aura menyeramkan. “Hai Se Hun, senang bisa bertemu denganmu lagi,” ucap Soo Jin saat ia sudah duduk tepat disebelah Se Hun.

 

 

            Bel istirahat pun berbunyi, Se Hun yang sedaritadi hanya diam sambil mendengarkan musik melalui headsetnya pun sudah beranjak dari tempat duduknya. Soo Jin menatap Se Hun dengan tatapan aneh, sejak tadi hingga sekarang tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut lelaki itu. Aku kira orang seperti itu hanya ada didalam film batin Soo Jin.

 

            Lamunannya terhenti seketika, saat seorang gadis yang duduk didepannya membalikkan badannya sambil tersenyum ramah, yang membuat Soo Jin membalas senyumannya.

 

            “Hai namaku Kim Min Joo,” ujar gadis itu sambil menyodorkan tangannya, Soo Jin langsung menjabat tangan Min Joo. Setidaknya ia sudah seorang mempunyai teman sekarang.

 

            “Aku Park Soo Jin, senang bisa berkenalan denganmu, Min Joo,”

 

            “Semoga kau betah duduk disebelah Se Hun, ya, Soo Jin. Dia anaknya memang begitu, tapi dia sebenarnya baik kok,” ujar Min Joo, Soo Jin menyiritkan keningnya bingung. Melihat gadis yang sedang berada didepannya berkata seperti itu.

 

            “Lebih baik kita ke kantin yuk, aku sudah lapar,” tawar Min Joo, yang langsung dibalas anggukan semangat dari Soo Jin. Min Joo menarik tangan Soo Jin, hingga mereka berjalan berdampingan. Kim Min Joo gadis yang cantik, tinggi badan Soo Jin dan Min Joo hampir setara, namun wajah gadis ini lebih terlihat oriental.

 

            “Jong In, Se Hun dan Aku adalah teman sepermainan, rumah kami berdekatan, dan kami selalu masuk disekolah yang sama. Jadi kau tak usah kaget saat mendengar perkataanku tadi,” jelas Min Joo, yang seakan-akan mengetahui isi kepala Soo Jin.

 

            “Kau pacarnya Se Hun, ya?” tanya Soo Jin hati-hati, Soo Jin tidak tau apa yang ada didalam pikirannya, tiba-tiba ia sangat ingin menanyakan hal itu.

 

            Min Joo langsung berhenti berjalan, kemudian ia memutar tubuhnya kearah Soo Jin. Dan menatapku dengan tatapan tidak percaya, namun hanya ada tawa yang keluar dari mulutnya. Ia tertawa begitu keras, sehingga orang-orang yang berada di koridor sekolah menatapnya dengan tatapan penasaran.

 

            “Oh my god, kau sungguh lucu, Soo Jin-ah. Ya! Asal kau tau, walaupun dunia kiamat dan Se Hun adalah lelaki yang tersisa, aku lebih memilih membunuh diriku sendiri,” ucapnya disela-sela tawanya, membuat Soo Jin mau tidak mau ikut tertawa pelan.

 

            “Bercanda, maksudku adalah Jong In, Se Hun dan aku sudah seperti saudara sendiri. Lagipula aku sudah mempunyai kekasih, Soo Jin-ah,” lanjut Soo Jin, hingga membentuk huruf ‘o’ dari bibir Soo Jin.

 

            Mereka tiba di kantin sekolah barunya, namun baru beberapa detik mereka sampai kantin sudah ada segerombolan lelaki yang duduk dipojokkan melambaikan tangannya kearah Min Joo, dan dibalas dengan senyum lebarnya Min Joo. Min Joo menarik tangan Soo Jin menuju segerombolan lelaki itu, dan Soo Jin dapat melihat Se Hun sedang duduk diantara mereka.

 

            “Oppa!” seru Min Joo kearah lelaki yang cukup tinggi, yang sedang berdiri di depan Min Joo.

 

            “Aigu, Min Joo akhirnya aku menemukanmu!” ucap lelaki itu dengan suara yang cukup berat, lelaki itu tersenyum kearah Min Joo dan memeluk Min Joo.

 

            “Dia siapa?” ujar lelaki itu, menunjuk kearah Soo Jin, Soo Jin langsung tersentak dan memberikan senyuman yang cukup awkward kepada lelaki itu, ditambah lagi orang-orang segerombolan yang tadinya berisik tiba-tiba diam saat melihat Soo Jin. Membuat Soo Jin ingin menelan dirinya hidup-hidup.

 

            “Ah, dia Soo Jin, Oppa. Dia anak baru,” ucap Min Joo.

 

            “Dan Soo Jin, perkenalkan dia Chan Yeol Oppa, dia pacarku hehe,” Min Joo memperkenalkan Chan Yeol kepada Soo Jin, Soo Jin tersenyum kearah Chan Yeol dan melambaikan tangannya kearah Chan Yeol, “Oh, Chan Yeol-ssi, annyeong” ucap Soo Jin.

 

            Namun Soo Jin langsung disikut oleh Min Joo, ia mendekatkan kepalanya kearah Soo Jin, “dia senior”.

 

            Perkataan Min Joo membuat diri Soo Jin menciut, rasanya ia ingin sekali menjedoti kepalanya ke dinding terdekat. Ia menyesal menjadi orang yang ramah terhadap orang baru, karena pergaulan di Amerika dan Korea sungguh berbeda. Membuatnya sedikit kelabakan.

 

            “Ahhh… Jeongseohamnida, Chan Yeol sunbae,”

           

            Tidak ada jawaban dari Chan Yeol, mereka semua hanya diam. Membuat dirinya ingin sekali kabur dari sini, namun beberapa saat terdengar suara Chanyeol tertawa. Tawanya cukup keras mengisi seluruh kantin ini. Dan kemudian diikuti oleh Min Joo dan teman-teman Chan Yeol yang duduk dibelakang Chan Yeol.

 

            “Aku tidak tau kau sepolos ini, Soo Jin-ah,” ujar Min Joo sambil menghapus air mata yang keluar dari sudut mata gadis ini.

 

            “Ya Ampun, Soo Jin-ssi. Kau kan kelas tiga di sekolah ini, berarti tidak ada yang senior disini,” ucap Chan Yeol, lagi-lagi membuat Soo Jin terdiam dan ingin menghilang dari sini secepatnya, dari sudut mata Soo Jin, ia dapat melihat Se Hun mendesis, “bodoh”.

 

            “Min Joo-ya, kau mengerjaiku, ya?” Tanya Soo Jin, sambil memanyunkan dirinya. Min Joo mengangguk pelan. Pasti untuk sebagian orang yang melihat Soo Jin memanyunkan bibirnya akan terlihat sangat imut, namun untuk kondisi yang seperti sekarang ini Soo Jin lebih terlihat menggemaskan. Hingga akhirnya Min Joo mencubit pipi Soo Jin pelan, “aigu, kau bahkan mempunyai aegyo,”.

 

            “Sudah… sudah… Baiklah, aku perkenalkan teman-temanku, ya,” Min Joo memberhentikan tawanya, dan mulai menunjuk semua anak laki-laki yang duduk didekat mereka. Ada Chan Yeol –pacarnya Min Joo, Kyung Soo lelaki dengan tubuh mungil dan senyuman manis, Jong In lelaki yang sekelas dengannya berkulit agak gelap dan terlihat bad boy, Baek Hyun lelaki yang cukup manis dan lucu, Joon Myeon lelaki yang kata Min Joo sebagai leader. Dan yang terakhir Se Hun, lelaki yang dingin dan misterius. Ditambah lagi semua teman Min Joo benar-benar tampan.

 

***

 

 

            “Aku pulang duluan ya, annyeong!” ujar Min Joo melambaikan tangannya kearah Soo Jin, ia menaiki motor sport berwarna hitam yang dikenadari oleh Chan Yeol. Chan Yeol membuka helm-nya, dan melambaikan tangannya kearah Soo jin, “kami pulang duluan ya, Soo Jin,”. Soo Jin menganggukan kepalanya, “Iya, hati-hati ya kalian,”.

 

            Setelah Min Joo dan Chan Yeol pergi, Soo Jin berjalan menyelurusi trotoar menuju halte bus yang terletak agak jauh di sekolahnya. Hari sudah semakin sore, awalnya Ayah Soo Jin menawarkan untuk menyuruh seketaris Kang datang menjemput Soo Jin, namun Soo Jin menolak karena akan lebih baik jika seketaris Kang menjaga Ayahnya hingga pulih.

 

            Soo Jin menghempuskan nafasnya pelan, ia melihat langit sore yang sedikit kelam. Sepertinya akan hujan, batin Soo Jin. Namun kemudian ia terdiam, dan menyadari bahwa ia tidak membawa payung. Seakan-akan langit mendengar dan mengabulkan yang ada didalam pikiran Soo Jin, berlahan-lahan air turun satu persatu dari langit namun sekarang menjadi lebih deras. Bahkan Soo Jin belum melihat tanda-tanda halte bus didepannya.

 

            “Ahhh… Hujan,” pekiknya, ia berlari-lari kecil, namun Soo Jin cukup ceroboh hingga ia tidak melihat ada batu cukup besar berada didepannya hingga akhirnya Soo Jin terjatuh. Ia mekik pelan, berusaha untu berdiri kembali namun ternyata lututnya berdarah memberikan rasa perih dikaki kanannya.

 

            Kali ini Soo Jin membiarkan dirinya basah terkena hujan, ia terduduk dipinggir jalan. Sambil memegangi kaki kanannya yang terluka, kejadian seperti ini mengingatkan pada kejadian yang paling ia benci, kejadian yang membuat Ibu nya pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.

 

            Di sisi lain, Se Hun yang sedang berjalan santai menuju halte bus ia tau hari ini akan hujan karena Ibu nya sudah mewanti-wantinya sejak tadi pagi menyuruhnya untuk membawa payung. Awalnya Se Hun tidak mau, namun karena Ibu nya terus memaksa membuatnya harus mematuhi perkataan Ibu nya.

 

            “Wah, aku rasa Ibu benar-benar peramal cuaca, hari ini benar-benar hujan. Padahal tadi pagi cerah-cerah saja,” gumam Se Hun, ia membuka payungnya saat hujan mengguyur semakin deras, Se Hun yang masih memikirkan hari sial yang di alaminya hari ini. Dia kesal mendapatkan teman sebangku selain Jong In, tapi kalau dipikir-pikir gadis itu cukup lucu. AHHH Apa yang sedang kau pikirkan Se Hun, batin lelaki ini sambil menggelengkan kepalanya.

 

            Kemudian matanya tertuju kepada seseorang gadis yang sedang duduk di pinggir jalan, sambil memegangi lututnya. Sebenarnya Se Hun bisa saja benar-benar tidak peduli, tapi kali ini dia penasaran. Gadis bodoh mana lagi yang dicampakkan pacarnya, batin Se Hun sok tau.

 

            Lelaki itu semakin dekat kepada gadis yang terkena hujan, tapi ia tidak mendengar isakan atau suara gadis itu. Se Hun sempat menyimpulkan bahwa itu adalah hantu, namun saat Se Hun ingin lari. Gadis itu mengangkat wajahnya, dan melihat kearah Se Hun.

 

            “Hai, Se Hun, annyeong! Kau mau pulang ya?” ujar gadis yang mulai hari ini menjadi teman sebangkunya, Se Hun terdiam sebentar ia sempat berpikir bahwa murid baru ini gila atau sebagainya.

 

            “Kau sedang apa disini?” ucap Se Hun, menghilangkan pikiran negatif yang terus menjamah otaknya. Soo Jin tersenyum kearah Se Hun, membuat Se Hun terdiam sekaligus penasaran kepada gadis ini.

 

            “Ah, terlihat seperti orang gila ya? Hahaha. Aku terjatuh, lututku berdarah dan aku tidak bisa berjalan hehe,” ucapnya santai, bahkan cukup santai untuk ukuran gadis yang bisa dibilang sedang terkena musibah. Biasanya gadis yang sedang terkena musibah akan menangis meraung-raung, sambil meminta tolong kepada orang sekitar.

 

            “Bye Se Hun, semoga kau selamat sampai rumah,” lanjut Soo Jin, membuat Se Hun semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran Soo Jin. Dia kan sedang terluka kenapa tidak meminta tolong? Batin Se Hun.

 

            Tanpa banyak berkata Se Hun duduk disebelah Soo Jin, ia mengelurkan sapu tangan dari dalam sakunya dan menutup luka Soo Jin. Dan kali ini tingkah Se Hun mampu membuat Soo Jin terperangah, antara percaya dan tidak percaya. Seingatnya ia tidak minta ditolong atau dikasihani.

 

            “Se Hun, tak usah repot-repot, sungguh,” ujar Soo Jin, sontak membuat Se Hun tersadar dengan apa yang ia lakukan, dan kemudian berdiri sedikit menjauh dari Soo Jin. Sedangkan Soo Jin hanya tertawa pelan, sekarang ia mengaminkan perkataan Min Joo tentang Se Hun. Ternyata Se Hun tidak sedingin kelihatannya.

 

            “Gumawo, Se Hun-ah,” Soo Jin membenarkan sapu tangan Se Hun yang sudah melekat di kaki kanannya. Ia berlahan-lahan berusaha berdiri, walaupun masih terasa perih tapi sudah sedikit berkurang. Soo Jin menatap Se Hun dengan tatapan yang Se Hun sendiri tidak mengerti, ada detakan aneh didalam dirinya. Biasanya ia tidak pernah merasakan hal ini.

 

            “Terima Kasih sekali lagi Se Hun-ah, padahal aku tidak minta ditolong tapi terima kasih telah menolongku,” ujar Soo Jin, sambil membungkuk kearah Se Hun. Se Hun hanya mengangguk pelan, yang Soo Jin artikan dalam benaknya ‘iya sama-sama’.

 

            Gadis itu masih terkena hujan, sedangkan Se Hun masih berteduh dibalik payung. Membuat Se Hun merasa bukan seperti lelaki yang gentle, tapi dirinya juga tidak mau basah terkena hujan.

 

            “Kau mau kemana?” Tanya Se Hun kepada Soo Jin.

 

            “Mau ke halte hehe, kau pasti mau pulang ya. Kalau begitu hati-hati ya,”

 

            “Ani. Aku juga mau ke halte, ehem… ayo kesana bersama,” ujar Se Hun susah payah, tidak biasanya menawarkan kebaikan kepada orang lain, terlebih lagi orang yang baru saja ia kenal.

 

            “Jinjja? Ah… Gumawo,” akhirnya Soo Jin dan Se Hun berjalan berdampingan, walaupun Soo Jin sedikit sulit untuk berjalan dikarenakan kakinya.

 

 

            Sesampainya dirumah Soo Jin mendapati seketaris Kang sudah berdiri di depan rumahnya, dengan wajah khawatir. Saat seketaris Kang melihat Soo Jin dengan keadaan kacau seperti itu, membuat seketaris Kang berpekik.

 

            “Aigu, agasshi. Gwaenchanayo?” Tanya seketaris Kang, di balas dengan senyuman hangat dari Soo Jin, ia senang mempunyai kolega seperti seketaris Kang. Ia sudah menganggap seketaris Kang seperti pamannya sendiri.

 

            “Gwaenchana, ahjussi. Aku hanya terluka sedikit,” ucap Soo Jin, membuat seketaris Kang tersenyum, ia tau bahwa anak majikannya ini benar-benar gadis yang berbeda. Dari kemewahan yang disodorkan kepada Soo Jin, Soo Jin lebih memilih meninggalkan kemewahan itu, dan ingin menjadi gadis biasa saja.

 

            “Bagaimana keadaan Ayah? Apakah sudah membaik?” ujar Soo Jin, ada perasaan khawatir di setiap kata yang diucapkannya. Seketaris Kang tersenyum sekilas kearah Soo Jin, namun seperkian detik senyuman itu menghilang. Seketaris Kang tau persis apa yang akan Ayah Soo Jin rencanakan.

 

            “Sudah mendingan, tapi besok Tuan Park ingin mengajak Anda berkunjung ke rumah salah satu kerabat dekatnya,” ujar seketaris Kang, tak biasanya Ayahnya mengajak Soo Jin ikut kedalam pertemuan seperti itu. Tapi Soo Jin terus berpikiran positif, ia tidak ingin mengecewakan Ayahnya. Ia harus ikut.

 

            Sesampainya di kamar Soo Jin melihat seluruh barang-barangnya sudah tersusun rapih didalam koper, semua baju, buku, peralatan mandinya sudah ada didepan pintu kamarnya. Keadaan seperti ini membuat Soo Jin kaget setengah mati, mau dibawa kemana barang-barangnya?

 

            Belum sempat ia membersihkan dirinya, ia melihat Ayahnya masuk kedalam kamarnya menggunakan kursi roda yang di dorong oleh seketaris Kang. Keadaan Ayahnya sungguh menyakitkan, badannya yang ringkih, dan sesekali beliau terbatuk. Ingin sekali Soo Jin bertanya ada apa dengan barang-barangnya, tapi sepertinya Ayahnya sudah membaca pikiran Soo Jin.

 

            “Barang-barangmu sudah di packing, Nak. Besok kau tidak usah tingga disini, kau tinggal bersama teman Ayah dirumahnya,” ucap Ayah Soo Jin, dengan suara yang serak. Suara Ayah Soo Jin mampu membuat hati Soo Jin patah berkeping-keping.

 

            “Kenapa, Yah?”

 

            “Maaf baru memberitaumu sekarang, Nak. Tapi besok Ayah akan melakukan pengobatan di Jerman, Ayah tidak mau kau tinggal disini sendirian, karena seketaris Kang juga ikut,” jelas Ayah Soo Jin, membuat Soo Jin ingin sekali menangis, ia kembali ke Korea demi ikut bersama Ayahnya dan sekarang Ayahnya ingin meninggalkannya lagi.

 

            “Jangan menangis, Soo Jin-ah. Ini demimu juga, Ayah ingin kembali sehat agar dapat tinggal bersama denganmu lebih lama. Ayah janji akan kembali dengan kondisi lebih baik nanti,” lanjut Ayah Soo Jin, perkataan yang mampu membuat perasaannya hangat seketika.

 

            “Berapa lama, Yah? Berapa lama Ayah pergi?”

 

            “Ayah tidak yakin berapa lama, mungkin tiga bulan atau lebih. Pokoknya sampai Ayah sembuh,”.

 

 

            Hari ini dimana Soo Jin harus pergi ketempat tinggal barunya, ia sempat masuk sekolah namun pulang lebih cepat. Min Joo sempat menyangkan kepulangan lebih cepat Soo Jin, dikarenakan hari ini Min Joo ingin mengajak Soo Jin jalan-jalan didaerah Hongdae, bersama teman-temannya. Dan yang anehnya hari ini ia tidak melihat Se Hun, ia sempat penasaran kemana Se Hun pergi sampai akhirnya Min Joo berkata, “dia pasti bolos, dia biasa bolos jika ada jam pelajaran yang tidak ia sukai,”.

 

            Ayahnya sudah siap dengan stel-an jas lengkap, beliau tetap bersikukuh untuk mengantarkan Soo Jin dahulu dan kemudian ke bandara. Soo Jin sedih, tapi ini semua demi kebaikan Ayahnya. Dia rela melakukan apapun asalkan Ayahnya sembuh.

 

            “Kajja,” ucap Ayahnya. Soo Jin mengangguk pelan.

 

            Dari dalam mobil ia melihat lampu-lampu pencakar langit mulai dinyalakan, akhir-akhir ini cuaca mulai tidak menentu kemarin hujan dan sekarang cuacanya baik-baik saja. Soo Jin melihat beberapa sepasang anak sekolah berjalan bersama, atau yang sedang bersenda guaru di dalam kedai Ramyeon.

 

            “Jun Seok dan Kyu Won adalah sabahat Ayah ketika Ayah seumuranmu, kami sangat dekat hingga akhirnya Jun Seok menikah dengan Kyu Won. Ayah harap kau bisa beradaptasi dengan lingkungan barumu ya. Ayah dengar mereka mempunyai anak laki-laki yang seumuran denganmu dan anak perempuan yang berumur delapan tahun,” jelas Ayah Soo Jin.

 

            Jelas ada perasaan khawatir dengan lingkungan barunya, ditambah lagi mereka belum pernah bertemu dengan teman Ayahnya itu. Soo Jin menghela nafasnya pelan.  Semoga ini semua adalah awal dari kebaikan, ujar Soo Jin dalam hatinya.

 

            Soo Jin mengedarkan pandangannya kearah rumah yang sekarang berada didepannya, tidak terlalu besar di banding rumahnya. Namun tidak pula terlalu kecil, entah mengapa perasaan nyaman mulai masuk kedalam pikirannya. Ayahnya mulai memencet intercom yang terpasang didepan rumah teman Ayahnya ini.

 

            “Annyeonghaseyo, Jun Seok-ah. Ini aku, Ri Hwan,” ujar Ayahnya, Ayahnya tersenyum sekilas, sontak membuat Soo Jin ikut tersenyum jarang-jarang Ayahnya tersenyum. Maka jika Ayahnya tersenyum karena seseorang maka orang itu benar-benar berharga.

 

            “Ah! Ri Hwan, tunggu sebentar aku akan menyuruh putraku membukakan pintu,” ujar seorang lelaki yang dari suaranya sangat terdengar ramah. Ayahnya tersenyum kearah Soo Jin, membuat Soo Jin juga ikut tersenyum. Soo Jin teringat sesuatu, “Yah, aku mau mengambil tasku di mobil, Ayah bisa duluan masuk,” ujar Soo Jin. Ayahnya mengangguk paham.

 

            Soo Jin langsung berjalan menuju mobil yang telah terparkir di sebelah rumah teman Ayahnya ini. Ia mencari tasnya kecilnya, sebenarnya ia hanya ingin mengecek handphone nya saja, karena Min Joo bilang ia akan meneleponnya malam ini. Setelah menemukan handphone nya dan tidak ada satupun pesan atau panggilan yang masuk, ia cepat-cepat kembali ke tempat Ayahnya.

 

            Ternyata Ayah sudah masuk, batin Soo Jin. Ia melihat pintu rumah Jun Seok ahjussi terbuka, tanpa berpikir panjang ia langsung masuk saja toh Ayahnya sudah masuk duluan. Ia melihat taman yang tertata rapi, dan beberapa jenis bunga yang Soo Jin tidak ketahui namanya bermekeran di halaman rumah ini.

 

            Sebelum masuk kedalam rumah, Soo Jin samar-samar mendengar suara bising di balik semak-semak yang berada di taman itu. Tanpa rasa takut, Soo Jin berjalan kearah semak-semak. Kemudian Soo Jin dapat melihat gadis lucu yang sedang memegang boneka Teddy Bear sedang berjongkok dibelakang semak-semak.

 

            Anak perempuan ini tersenyum renyah, dan melambaikan tangannya kearah Soo Jin, “kau pasti eonni yang akan tinggal dirumahku ya?” ucap anak perempuan itu, Soo Jin ikut berduduk dihadapan anak perempuan itu, dan kemudian tersenyum dan mengelus rambut anak perempuan itu halus, “Eo, kau pasti gadis manis yang tinggal disini, kan? Namamu siapa? Perkenalkan namaku, Soo Jin,”.

 

            “Soo Jin eonni, annyeong! Aku Se Hyun, eonni,” ucapnya. Kemudian gadis kecil ini menarik Soo Jin dari semak-semak ke sebuah bangku taman, “Wah, Eonni cantik ya. Aku senang punya kakak perempuan,”

 

            “Gumawo, kau lebih cantik. Tapi malam-malam begini kenapa kau di semak-semak seperti itu Se Hyun-ah?”

 

            “Eomma menyuruhku untuk tidur, padahal aku ingin melihat Eonni. Jadi aku diam-diam keluar, dan menemukanmu disana hehe,”.

 

            Soo Jin tersenyum kearah gadis kecil ini, sungguh lucu. Ia juga ingin mempunyai saudara, tapi sayangnya ia hanya anak tunggal. Soo Jin mengelus kepala Se Hyun dengan perasaan sayang, walaupun wajah gadis kecil ini nampak tidak asing. Sungguh, rasanya ia pernah melihat wajah yg hampir serupa dengan wajah gadis ini.

 

            Tiba-tiba saja Se Hyun menarik tangan Soo Jin, Soo Jin hanya mengikuti gadis kecil ini. Ia masuk kedalam rumah rumah Se Hyun, saat pertama kali masuk dapat ia lihat seluruh orang yang berada didalam ruangan menatap kearahnya. Tapi Soo Jin berusaha agar tetap tenang, dan tersenyum kearah mereka semua.

 

            “Ini Soo Jin? Ya Ampun, Soo Jin! Kau sudah besar, dulu kau masih kecil sekali,” ucap seorang perempuan setengah baya berjalan kearah Soo Jin dapat disimpulkan jika itu adalah Kyu Won ahjumma.

           

            “Se Hyun-ah, kenapa kau bisa bersama Soo Jin?” tiba-tiba saja perhatiannya teralihkan kearah gadis kecil yang sedang menggenggam tangan Soo Jin, gadis itu memberikan senyuman kearah Ibu nya.

           

            “Aku mau melihat, Eonni. Jadi aku keluar hehe. Maafkan aku Eomma,” ucap Se Hyun, membuat Soo Jin ingin sekali mencubit pipi Se Hyun. Gemas.

 

            “Ayo kemari, Nak” ujar Ayah Soo Jin, sambil menempuk tempat kosong yang berada disebelahnya. Soo Jin berjalan menuju Ayahnya sambil melihat isi dari ruang tamu rumah ini, rumah yang akan menjadi rumahnya untuk setidaknya tiga bulan kedepan. Tidak ada foto didalam ruang tamu, hanya lukisan-lukisan, dan beberapa piagam terpajang di ruangan yang terkesan minimalis ini.

 

            “Se Hyun-ah, tolong panggilkan Oppa-mu. Aigoo, anak itu selalu saja pergi,” ucap Kyu Won ahjumma, baru beberapa menit duduk diam Soo Jin sudah merasa bosan. Ia tidak mengerti dengan arah pembicaraan Ayahnya, Ahjumma dan Ahjussi. Tapi ia harus sopan, tidak baik pergi tiba-tiba seperti hantu. Jadi Soo Jin memutuskan bertahan dengan pembicaraan membosankan itu.

 

            “Apa kau bertemu dengan anak kami disekolah, Soo Jin-ah?” Tanya Kyu Won Ahjumma, Soo Jin sedikit tidak mengerti maksudnya. Seingat Soo Jin, ia masih anak baru dan belum memiliki banyak teman. Soo Jin menggeleng pelan, “sepertinya be –”.

 

            “Waeyo, Eomma?” ujar seseorang yang tiba-tiba saja menyelak perkataan Soo Jin, suara itu sungguh tidak asing di telinga Soo Jin. Hingga akhirnya Soo Jin menoleh kearah sumber suara, rasanya jantung Soo Jin ingin berhenti seketika. Wajah itu, aura itu, dan yang pasti orang itu telah berdiri tidak jauh darinya, dan memanggil Kyu Won ahjumma dengan sebutan Eomma.

 

            “Se Hun-ah, kenapa kau pergi saja. Kenalkan dulu dong anaknya Ri Hwan ahjussi,” ucap Kyu Won ahjumma, Se Hun yang tadinya terlihat malas-malasan seketika tubuhnya menegang, matanya tertuju pada gadis yang sedang duduk disebelah Ahjussi yang beberapa waktu yang lalu ia bukakan pintu. Walaupun tidak terlalu terlihat dari wajahnya jika ia benar-benar terkejut.

 

            “Se Hun,”

 

            “Soo Jin,”

 

Kkeut.

 

Author’s note: Is it good enough? Sebenarnya ini bukan fanfiction pertama aku, tapi ini adalah fanfiction pertama yang berhasil aku garap multi chapter, aku biasanya anti sama yang chapter hahaha. Because I thought that I couldn’t make story more than 14 pages lol. Makanya biasanya sih aku Oneshoot. Entah keruntuhan apaan, aku bisa buat fanfiction yang lumayan buat pundak sama jari-jari aku pegel. Have you read, right? I would be happy if you could leave some comments (bad comment is allowed too)! See ya next chaps! Buing~ halonays.

 

P.S: Judul fanfiction ini berasal dari OST You Who Came from Star. Hello, Goobye by Hyorin. Karena aku lagi ngikutin drama ini jadinya aku jadiin judul ceritaku aja hahaha, dan drama ini bener-bener aku saranin bukan kalian koreandrama lovers. And quote yang ada diataspun juga berasal dari lirik lagu tersebut.

Iklan

8 pemikiran pada “Hello, Goodbye (Chapter 1)

  1. huaaaaa Daebakkk !!! lanjut thor, oh ya aku readers baru disini, ngomong ngomong nama adiknya sehun sama dengan nama koreaku tapi aku Kim Se Hyun, entah kenapa aku jadi seneng sendiri,, next chap jangan lama lama ya thor

  2. Bagus banget! Rapi bahasannya,nice nice. Hello goodbye by hyorin emang keren banget! Ditunggu kelanjutannya, keep writing ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s