We Are EXO! (Chapter 1)

Title                 : We Are EXO!

Author             : Elisa Hutami

Main cast      :  Kim Yoo Jung  a.k.a Dara

Oh Sehun a.k.a Sehun

Park Chanyeol a.k.a Chanyeol

Support Cast : Sooyoung a.k.a Bum Ajhumma

Lee Taemin a.k.a Kim Seonsangnim

Lami a.k.a Revi

Changmin a.k.a Satpam ajhussie

Genre              : School life, Fantasy, Family, Romance, Friendship, Mystery

Length            : Chapter

Rating             : PG-15

Disclaimer      : Original

 

Summary         : Planet bumi yang sudah sangat lama dihuni manusia ini ternyata mempunyai banyak rahasia yang mungkin tidak akan masuk di akal manusia biasa. Salah satunya adalah sebuah pohon yang diberi nama pohon kehidupan yang kini sudah mulai mengering karena suatu alasan, dan ke-12 member EXO diperintahkan untuk tinggal di dunia manusia dengan tugas untuk mencari “sesuatu” yang bisa mengembalikan kesuburan pohon kehidupan. Namun ternyata tugas ini sangat sulit bagi mereka, karena selama di dunia manusia mereka harus bertingkah sewajarnya manusia, dan mereka juga harus pergi ke sekolah yang sebelumnya belum pernah mereka lakukan, serta memiliki keluarga baru di bumi. Bagaimana cerita selengkapnya? Pantengin terus We Are EXO!

            1st We Are EXO !
Langit masih terlihat gelap karena matahari masih belum bersinar, semua orang masih tertidur nyenyak di atas tempat tidur ditemani mimpi indah atau buruk mereka.

 

Yang terdengar sekarang hanyalah sebuah suara dari seekor burung hantu yang sedang bertengger di ranting pohon apel yang cukup besar, dekat dengan jendela sebuah kamar di lantai 2.

 

Di tengah-tengah gelapnya kamar itu, tiba-tiba saja abu hitam menyebar di dalam kamar itu, membuat seisi kamar semakin terlihat gelap karena lampu juga tidak dinyalakan. Lalu seorang namja tiba-tiba saja muncul di tengah-tengah abu hitam yang kini sudah menghilang itu.

 

Namja itu tinggi dan memakai jubah biru kehitam-hitaman yang menutupi sampai mata kakinya, itu membuatnya seakan tidak terlihat di dalam kamar itu.

 

Nafas namja itu begitu teratur, dia lalu menarik cindung yang tadinya menutupi wajahnya. Kini yang terlihat hanya wajah seorang namja yang begitu tampan.

 

Dia melihat ke sekitarnya untuk beberapa detik saja, tatapannya lalu kini jatuh kepada sebuah tempat tidur king size berwarna biru langit. Lalu namja itu melangkah dengan pasti mendekati tempat tidur itu tanpa mengeluarkan suara langkah kaki.

 

Namja itu lalu duduk di pinggiran tempat tidur, dia memandangi seorang manusia yang sedang tidur di sampingnya sekarang.

 

Tangan namja itu tidak terasa sedang menjulur mendekati pipi manusia yang ternyata seorang yeoja cantik itu, namun saat tangannya hanya berjarak satu jari kelingking dengan pipi yeoja itu, dia mengepalkan tangannya dan menarik tangannya menjauh.

 

“Kau selalu cantik, bahkan saat kau tertidur” kata namja itu lirih “membuatku selalu merindukanmu” tambahnya yang diakhiri dengan sebuah senyuman.

 

Seorang manusia yang kini sedang tidur di atas tempat tidurnya itu memakai baju tidur lengan panjang berwarna pink, dengan rambut sepanjang bahunya yang terurai. Dia memeluk sebuah bantal guling, dan menggunakkan selimut yang menutupi dari mata kakinya sampai lehernya.

 

Namja itu duduk disana memandangi yeoja cantik itu tanpa terkedip untuk beberapa menit. Dia duduk mematung, dan sesekali jika ada nyamuk yang mencoba mendekati yeoja cantik itu, dia akan membunuh nyamuk itu dengan kedua tangannya.

 

Entah sudah berapa lama namja itu duduk mematung disana.

 

*Kring.. Kring.. Kring*

 

Tiba-tiba sebuah bunyi jam alarm nyaring yang menandakkan sekarang sudah pagi membuat namja itu sedikit kesal, karena itu artinya dia harus segera meninggalkan kamar ini.

 

“Aiishh..” namja itu mengigit bibir bawahnya “rasanya aku ingin menghajar matahari itu jika aku bisa” protes namja itu sendiri.

 

Namja itu menyeringai dengan posisinya yang masih duduk di pinggiran tempat tidur, lalu dalam hitungan beberapa detik saja, tiba-tiba namja itu sudah menghilang dari pinggiran tempat tidur itu tanpa jejak.

 

Yeoja cantik tadi yang terbangun karena bunyi alarmnya itu langsung menutupi kedua telinganya dengan bantal, karena dia tidak tahan dengan volume bunyinya.

 

Karena bunyi alarmnya masih terdengar keras, yeoja itu segera memaksakan diri untuk bangun dan merangkak mendekati lemari kecil yang berada di samping kanan tempat tidurnya dengan kesal dan matanya yang sesekali masih menutup.

 

Untuk beberapa saat dia memandangi bentuk jam alarm itu yang berbentuk serigala berbulu coklat yang sangat lucu.

 

“Bentuknya.. tidak buruk juga..” kata yeoja itu lalu tersenyum “mirip anjing yang pernah aku temui, hoah..” yeoja itu menguap.

 

Dia lalu mengotak-atik jam alarm barunya sampai akhirnya jam alarm itu bisa berhenti mengeluarkan bunyi.

 

Setelah bunyi jam alarm berhenti, dia segera merangkak lagi ke tempat tidurnya yang semula, lalu dia memeluk bantal guling dan menarik selimut hingga menutupi sampai ke lehernya lagi.

 

Namun belum lama setelah yeoja itu ada di posisi tidurnya, bunyi nyaring yang lain muncul.

 

“Non Dara..!” teriakan dari seorang ajhumma yang entah dari kapan sudah ada di dalam kamar itu untuk membuka gorden kamar yang masih tertutup “kenapa anda masih tidur? Lihatlah, sekarang sudah jam 6 pagi, anda harus pergi ke sekolah non..” lanjutnya panjang setelah dia telah selesai membuka seluruh gorden.

 

Dara si yeoja cantik itu tidak mengindahkan perkataan dari pembantunya itu, ya seperti biasanya.. dia masih akan pura-pura tidur.

 

Ajhumma itu berjalan mendekati tempat tidur king size itu tanpa suara, lalu dia membungkukkan badannya, dan mendekatkan wajahnya ke wajah Dara yang sedang pura-pura tidur itu.

 

“Kok sepi? apa ajhumma sudah pergi?” tanya Dara dalam hati karena dia sudah tidak mendengar teriakan pembantunya yang lebih mirip ke lolongan singa.

 

Dara membuka matanya perlahan. Deg!. Begitu terkejutnya Dara melihat dahi pembantunya yang sangat lebar dan berkerut karena faktor usia ada di depan matanya.

 

“Yah..!!! Bum Ajhumma..!” Dara terduduk “kalau kau ingin memamerkan dahimu itu bukan disini tempatnya!” tambahnya dengan nada membentak.

 

Ajhumma yang bernama Bum itu hanya bisa terkekeh melihat ekspresi kaget Dara.

 

“Mianhae non.. hehe”

 

“Yah..! kau berani menertawaiku? Yah, akan aku adukan kau ke..”

 

Tiba-tiba Dara jadi teringat orang tuanya.

 

“Apa eomma dan appa sudah pulang?” tanya Dara lirih.

 

Bum Ajhumma menggeleng-gelengkan kepalanya karena dia anak dugem, eh.. karena eomma dan appa Dara belum pulang.

 

“Ah..“ Dara menundukkan kepalanya dengan posisi kakinya yang menyila dan kedua tangan yang memegangi kedua kakinya.

 

“Non kalau kau tidak cepat mandi akan saya laporkan ke tuan muda loh..” ancam Bum Ajhumma dengan senyuman tipis diakhir kata.

 

“Andwae! Oke aku bangun” kata Dara setelah beberapa detik Dara memikirkan tentang tuan muda yang tadi di sebut oleh Bum Ajhumma, yang tidak lain bebarti adalah oppanya.

 

“Nah.. begitu dong non, ayo cepat mandi”  kata Bum Ajhumma senang.

 

“Iya..iya” kata Dara sambil cemberut dan bangun sambil bermalas-malasan “Bum Ajhumma! Kau tadi lupa tidak mengetuk pintu!” kata Dara yang teringat tadi Dara tidak mendengar suara ketukan pintu.

 

Bum Ajhumma segera berdiri di samping Dara “Ah.. chwesong hamnida non, tapi saya tahu kalau mengetuk pintu kamar non itu percuma” katanya membela diri.

 

“Tapi itu sangat tidak sopan”

 

“Baik, tidak akan saya ulangi non” kata Bum Ajhumma yang lalu menundukkan kepalanya untuk sesaat. “Ah.. kau jadi mengganti topik pembicaraannya lagi non, aish.. cepat mandi! Kalau tidak akan saya laporkan pada tuan muda beneran” tambahnya.

 

“Iya iya.. Eh tapi apakah kau membelikanku jam alarm lagi?”

 

“Non..” Bum Ajhumma menatap Dara tajam ” jangan mengganti topik”

 

“Apa?” tanya Dara datar “aku hanya bertanya sebentar” lanjut Dara.

 

“Hm.. Baiklah.. tentu saja saya membelikan anda jam alarm lagi, karena jam alarm yang baru saya beli kemarin sudah anda rusak”

 

“Hehehe..  Akukan sudah bilang, aku akan selalu merusak jam alarm yang berbunyi terlalu pagi dan terlalu keras! Apa kau lupa?” Dara tersenyum tipis.

 

“Aish.. sudah berapa juta jam alarm yang anda rusak? Ah aniyo-aniyo.. sudah berapa milyar jam alarm yang anda rusak?” bukannya menjawab Dara, Bum Ajhumma malah berkata sendiri dengan mengangkat  jari-jarinya lalu dia seperti sedang berhitung.

 

“Kau terlalu lebay!” bentak Dara langsung  “entahlah.. aku tidak menghitungnya, banyak hal yang lebih penting untuk ku hitung” Dara berpura-pura berhitung seperti Bum Ajhumma “seperti.. berapa banyak keriputmu yang bertambah seharinya, ahahaha..”

 

Dara memang selalu bercanda dengan Bum Ajhumma, karena itu mereka dekat. Bahkan Dara lebih dekat dengan Bum Ajhumma dari pada dengan kedua orang tuanya karena mereka sangat jarang bertemu dan berkomunikasi.

 

“Ah.. itu karena saya sudah semakin tua non” Bum Ajhumma terlihat berpikir “tapi kenapa jam alarm itu masih rapi di tempatnya? Apa non menyukainya?”

 

“Yah.. sejak kapan aku suka serigala? Mereka itu hewan buas, appa melarangku dengan sangat keras mengenai apapun yang berhubungan dengan serigala, lebih-lebih oppa”

 

“O jadi begitu..” Bum Ajhumma terlihat tersenyum mengejek pada Dara tidak percaya.

 

“Aku hanya menyukai anjing kau tahu? Ah sudahlah aku mau mandi!” kemudian Dara segera meninggalkan Bum Ajhumma.

 

“Non.. jam alarmnya bagaimana?” tanyanya Bum Ajhumma dengan suara tawaan kecil di akhir kata.

 

Mendengar suara itu, Dara yang tadinya sudah ada di depan pintu kamar mandi yang ada di dalam kamarnya yang terletak di sebelah kiri tempat tidur Dara, lalu Dara kembali menuju tempat Bum Ajhumma sekarang yang berada di samping tempat tidurnya.

 

Dara menatap tajam Bum Ajhumma yang sekarang sedang menahan tawanya dengan kedua tangannya.

 

Dengan masih menatap Bum Ajhumma dengan tajam, tangan kiri Dara segera menyambar jam alarm yang berbentuk serigala itu lalu membantingnya.   Kemudian Dara segera berjalan ke kamar mandi meninggalkan Bum Ajhumma yang masih ada di samping tempat tidurnya berserta jam alarm yang baru dia beli kemarin, yang kini sudah rusak berkeping-keping karenaa Dara membantingnya dengan keras ya meskipun Dara sangat menyukainya.

 

“Aish.. padahal aku sangat suka jam itu..” kata Dara di dalam kamar mandi.

 

* * *

 

Kini Dara sudah selesai mandi, Dara segera membalut badannya dengan handuk lalu menuju ke lemari besar yang berisi semua pakaian termasuk seragam sekolah. Dara mengambil sebuah seragam berupa baju lengan pendek bergaris dengan warna dasar putih dan rok sepanjang lutut berwarna hitam, lalu Dara memakainya. Setelah itu Dara segera menuju tempat riasnya yang berada di samping kanan dari lemari.

 

Hari ini Dara memilih rambutnya ia gerai dengan sedikit ia buat curly yang membuatnya semakin cantik dan terlihat baby face.

 

Dara mengambil tas berisi buku-buku pelajaran hari ini yang sudah dia siapkan tadi malam. Lalu Dara berjalan ke luar kamar.

 

Hal pertama yang selalu Dara lihat setelah keluar dari kamarnya adalah pintu kamar oppanya yang bertuliskan “Man Only!” ya.. memang kamar Dara dengan kamar oppanya saling berhadapan. Namun meskipun begitu, mereka jarang berkomunikasi dengan mengunjungi kamar satu sama lain.

 

Lalu Dara melewati lorong yang lumayan panjang dan melewati tangga yang bisa dibilang cukup tinggi dan panjang juga, ya seperti tangga-tangga yang ada di dongeng-dongeng. Setelah sampai di lantai, Dara segera menuju ke belakang yang lebih tepatnya ke meja makan untuk sarapan.

 

Di meja makan Dara melihat oppanya yang sedang memakan sebuah roti berselai yang dipegang di tangan kanannya, dengan tangan kiri sedang membalik halaman dari sebuah korang pagi. Tatapannya begitu fokus dan datar, ah.. sungguh tatapan yang hanya dimiliki oleh oppanya seorang.

 

Oppa Dara memakai seragam berupa baju lengan pendek bergaris dengan warna dasar putih seperti Dara, dan celana panjang berwarna bitu tua. Dia menggendong tas sekolahnya sambil duduk.

 

Meja makan ini memiliki meja dari kaca berbentuk persegi panjang yang cukup panjang dengan sebuah kursi di ujungnya berukuran besar dan di ujung satunya berukuran lebih kecil namun lebih besar dari ukuran kursi kebanyakan. Disitulah kursi yang biasanya diduduki oleh appa dan eomma Dara. Sedangkan kursi yang lainnya berjumlah 14, artinya 7 kursi saling berhadapan berbahan kayu dengan ukiran yang sangat detail dan halus.

 

Dara segera duduk di kursi yang berhadapan dengan oppanya, yaitu kursi yang dekat dengan kursi appanya “Oppa good morning! Seperti biasa, kau selalu terlihat keren!” kata Dara ceria.

 

*30 detik.. 1 menit.. 1 menit 30 detik.. 2 menit..*

 

“Yah..Oh Sehun! Kalau orang sudah menyapa, kau seharusnya menyapa balik! Aissh.. sikap dinginmu itu apa tidak bisa kau rubah? Pabo!” kata Dara yang mungkin akan membuat orang yang tidak mengenal hubungan mereka menjadi kaget dengan perubahan nada yang drastis.

 

“Tidak penting membalas sapaanmu” kata oppanya yang tak lain bernama Oh Sehun itu datar dengan tatapannya yang masih ke koran.

 

Dara menyipitkan matanya dan menarik bibirnya sampai berbentuk persegi panjang mendengar ucapan Sehun tadi “Oppa sepertinya ada berita menarik yah?” tanya Dara si tukang perubah topik handal.

 

Sehun memandang Dara untuk beberapa saat lalu memandang kembali ke koran sambil berkata “Ada berita kalau Hutan Worwod kembali memakan korban, kemarin ditemukan 3 mayat yang mati mengenaskan di tengah hutan” kata-kata itu sukses membuat Dara merinding “jadi.. kau jangan ke sana, itu sangat berbahaya” kata Sehun yang lalu menatap Dara dengan sedikit cemas lalu kembali menatap korannya.

 

Deg! Dara langsung kaku karena heran dengan tatapan oppanya tadi, apa tadi itu benar-benar tatapan Oh Sehun si cool cold boy yang sedang cemas? Ah.. Maldwandae!

 

Dara menarik napas panjang lalu berkata “Oppa apa kau sedang mencemaskanku?” ah.. Dara benar-benar bodoh menanyakan itu kepada Sehun, pastinya Sehun akan berkata tidak, kan?

 

‘Oh” jawab Sehun pendek.

 

Tuh kan.. jelas saja dia akan mengatakan.. eh? Apa tadi dia berkatra ‘Oh’ ? Mata Dara langsung melebar dan Dara segera mendekap mulutnya dengan kedua tangannya, wajahnya memerah karena malu. “Wa.. waeyo oppa?” tanya Dara malu.

 

Dara itu sebenarnya adalah tipe yeoja yang sangat pemalu jika ada seorang namja yang perhatian kepadanya. Dan wajahnya akan langsung memerah.

 

“Karena.. kalau kau mati, maka siapa yang bisa aku bully?” jawaban sekaligus pertanyaan itu sukses membuat wajah Dara tambah memerah, bukan karena malu, tapi karena marah.

 

“Mwo? Yah.. Pabo! Oh Sehun Pabo!” bentak Dara.

 

“Yah! Jika oppa setampan ini pabo, bagaimana dengan yeodongshaengnya yang jelek?”

 

“Mwo? Jelek? Yah.. aku ini pintar tau” Dara terlihat berpikir “Ne oppa, tapi.. bagaimana mereka menemukan mayat yang ada di tengah hutan itu?”

 

Sehun menutup korannya untuk sesaat “Ahaha.. kau lucu sekali Daraya.. apakah pintar adalah antonimnya jelek? Hahaha.. bisanya kau mengatakan kau pintar padahal aku sedang berkata jelek” tatapan Sehun kembali datar “sangat tidak nyambung..” tambahnya singkat.

 

Dara menatap tajam Sehun yang telah tertawa lebar karena perkataan Dara tadi.

 

Setelah beberapa detik tertawa, Sehun kemudian membuka lembaran korannya lagi “Kau bilang kau pintar, kalau begitu kau cari tahu saja jawabannya sendiri” Sehun masih menatap halaman akhir koran paginya itu sambil berbicara.

 

“Yah oppa, wajahmu jika tertawa tadi jelek sekali..” Dara tersenyum sinis dengan tatapan ejeknya pada Sehun.

 

Sehun hanya bisa ber’ehem’ lalu segera menutup koran dan dia letakkan di atas meja lalu dia berdiri “Kajja.. kita berangkat sekarang”

 

“Eh? Tapi aku belum sarapan” Dara panik, lalu segera membalik piring yang ada di depannya.

 

“Itu salahmu sendiri..” Sehun menyodorkan wajahnya ke arah Dara “Non Oh yang Smart…”

 

“Yah! Aiish.. Bum Ajhumma..!” teriak Dara yang lebih seperti lolongan singa dari pada teriakan seorang yeoja yang berwajah cantik.

 

Tidak lama kemudian Bum Ajhumma datang lengkap dengan kompor clemek yang dia pakai lalu berdiri di samping kanan Dara “Ada apa Non Dara?” tanyanya singkat

 

“Jangan biarkan oppa memakai mobilku hari ini, sinih mana kuncinya?” tangan kanan Dara dia julurkan ke depan Bum Ajhumma dengan tatapan Dara yang masih tertuju pada wajah Sehun.

 

“Aish.. apa anda sedang berkelahi lagi dengan tuan muda, non? Bukankah kalian baru berkelahi kemarin? Apa harus setiap hari kalian berkelahi?” tanya Bum Ajhumma yang terdengar seperti anak jalanan yang meminta sumbangan.

 

“Aku bilang mana kuncinya?” tanya Dara lagi dengan nada sedikit membentak yang lalu memelototi Bum Ajhumma.

 

Sehun menatap Bum Ajhumma sambil sedikit melotot “Jangan.. berikan”

 

Bum Ajhumma menatap Dara dan Sehun bergantian, dia benar-benar bingung sekarang. Ingin dia rasanya hilang ingatan detik itu juga, atau hanya sekedar pingsan, namun dia tidak bisa.

 

Untuk beberapa menit, Bum Ajhumma hanya menatap Dara dan Sehun bergantian, sedangkan Dara dan Sehun saling memelototi Bum Ajhumma, membuat Sehun sedikit bosan.

 

“Yah Non Oh yang smart! Jika aku tidak menggunakkan mobilmu, kau akan beragkat ke sekolah naik apa?  kau belum mempunyai SIM untuk mengemudikan mobil hadiah ulang tahun ke-16mu itu, kau ingat?” tambahnya.

 

“Aku bisa meminta temanku menjemputku, wee..” kata Dara yang lalu menjulurkan lidahnya ke luar “dan ada apa dengan panggilan Non Oh yang smart itu?”

 

Sehun menyipitkan matanya “Aku kira mungkin temanmu tidak akan menjemputmu karena ini sudah kurang 15 menit sebelum bell masuk dibunyikan”

 

“15 menit?” tanya Dara kaget lalu melihat jam dinding yang ada di ruang makan. “Wah.. harus cepat-cepat ke sekolah nih.. kalau tidak bisa dihukum di lapangan setangah harian..” kata Dara pada dirinya sendiri.

 

“Maka dari itu.. sinih, mana kunci mobilnya?” tanya Sehun yang lalu menjulurkan tangan kanannya pada Bum Ajhumma.

 

Merasa tidak punya pilihan, dan Dara terpikir kalau masuk sekolah lebih dari jam masuk yang ditentukan, maka akan disuruh berdiri di tengah lapangan sampai jam istirahat pertama dibunyikan dan itu akan benar-benar memalukan.

 

Dara segera berdiri lalu merampas kunci mobil dari genggaman Bum Ajhumma. Lalu dia mencoba melemparkannya melewati meja, namun naas, kunci mobil itu malah masuk ke sebuah gelas berisi susu milik Sehun.

 

“Yah! Aishh.. aku bahkan belum meminum susu itu, aishh..” Sehun lalu mencoba memasukkan tangan kanannya ke dalam gelas untuk mengambil kunci “kau benar-benar selalu membuatku marah Oh Dara!”

 

Dara tertunduk “Mi.. mianhae oppa..” Dara mengangkat wajahnya “akan aku buatkan susu yang baru”

 

Sehun mengelap kunci mobil dengan lap makannya “Ah sudahlah, ayo berangkat” katanya yang lalu pergi.

 

“Bahkan wajah marahnya lebih jelek dari saat dia sedang tertawa tadi” gumam Dara, lalu dia berdiri dan meninggalkan meja makan.

 

“Non, anda belum memakan roti tawarnya?” tanya Bum Ajhumma perhatian.

 

Dara menepukkan tangan kanannya ke dahinya “Oh tidak.. aku lupa lagi” kata Dara singkat kemudian kembali ke meja makan lalu mengambil roti tawar dan sebotol selai kacang.

 

Dara berpikir jika Dara mengolesinya sekarang akan memakan banyak waktu, sedangkan sekarang mungkin tinggal 13 menit sebelum bel masuk dibunyikan.

 

Dara segera berlari dengan kedua tangannya yang memegang roti dan selai menuju ke depan rumah. Di depan sudah ada mobil ferari berwarna merah cerah. Dara segera masuk ke dalam mobil di kursi depan yang berdekatan dengan Sehun yang menyetir. Mobilpun dijalankan.

 

Saat diperjalanan..

 

Sehun sedang konsentrasi mengendarai mobil milik Dara, Dara hanya bisa menutup matanya saat mobil yang mereka naiki itu berjalan diantara truck tron-ton berukuran super besar di  antara mobil mereka, yang geser 10cm saja mungkin mereka sudah tidak bernyawa karena bertabrakan atau sekedar tergores kemudian hilang keseimbangan oleh truck tron-ton itu.

 

“Yah..! Oh Sehun! Apa kau gila ? apa kau sudah tidak ingin hidup? Yah.. aku tahu kau baru putus dengan yeojachingumu itu, tapi jika kau bunuh diri jangan membawa-bawa aku! Aku belum menikah!” protes Dara langsung setelah mobil mereka sudah tidak berjalan diantara truck tron-ton.

 

“Sekarang hanya tinggal beberapa menit sebelum bel masuk, jangan protes jika kau tidak ingin dihukum di tengah lapangan”

 

“Yah! tapi tadi kau benar-benar sudah gila, dan aku harus sarapan dulu, aku tidak akan bisa sarapan jika kau mengemudi secepat ini, karena aku juga harus mengoleskan selainya dengan..” kata-kata Dara terhenti mengingat saat ini Dara tidak memegang pisau yang biasa Dara gunakkan untuk mengoleskan selai di atas roti. “Ah.. aku lupa tidak membawa pisau..! Yah.. eotteokhe? aku tidak bisa mengoleskan selainya tanpa pisau”

 

“Pakai saja tanganmu, dan diamlah! aku sedang konsentrasi mengemudi!”

 

Dara hanya bisa diam dengan tatapan kosongnya, masa iya Dara mengolesinya dengan tangannya langsung? Maksudku, itu berarti tangan Dara masuk ke dalam kumpulan selai yang lembek. Membayangkannya saja sudah membuat Dara sedikit mual, jadi Dara putuskan untuk tidak sarapan dan meletakkan roti dan selai di dalam tasnya nanti untuk makan siang, ya mungkin nanti Dara bisa memakai pisau yang ada di kantin sekolah. Pinjam maksudnya.

 

Tiba-tiba perut Dara berbunyi. Dara segera memegangi perutnya, dan wajahnya memerah untuk beberapa detik karena malu.

 

Sehun tertawa sedikit, lalu dia menahan tawanya dengan mengembungkan mulutnya dan kembali berkonsentrasi pada kegiatan mengemudinya.

 

“Aku lapar..” keluh Dara lirih dengan kedua tangannya memegangi perutnya.

 

* * *

 

Setelah 10 menit perjalanan..

 

“Kau bisa berhenti memegangi perutmu, kita sudah sampai” kata Sehun yang lalu menghentikan mobil di antara gerbang masuk sekolah.

 

Dara melepaskan pegangannya “Aku lapar oppa..” Dara memanyunkan bibirnya.

 

“Nanti kau..” belum selesai Sehun berkata, kata-katanya sudah terpotong oleh bunyi bell masuk sekolah.

 

*Tett.. Tett.. Tett..*

 

Seorang ajhussie yang tak lain adalah satpam sekolah segera menghampiri mobil Dara lalu mengetok jendela kaca bertanda supaya dibuka.

 

Sehun segera membuka kaca jendela.

 

“Oh Sehun dan Oh Dara? Yah.. kalian beruntung lagi, kalian selalu datang tepat saat bell dibunyikan akhir-akhir ini, palli.. aku akan menutup gerbangnya” kata ajhussie itu yang lalu menjauhkan wajahnya dari jendela mobil.

 

Dara hanya bisa tersenyum kecil karena dia sudah terkenal selalu datang pas-pasan, lalu kemudian dia kaget karena mendengar orang yang duduk disampingnya berkata “Gomawo” lembut kepada ajhussie itu.

 

Sehun segera menjalankan mobil Dara itu untuk menuju ke tempat parkir.

 

“Aku kira.. tadi ada yang berkata gomawo.. ah.. manis sekali..” Dara mengaitkan tangannya di depan dada dan pandangannya yang tertuju ke langit-langit mobil.

 

Sehun tetap diam sambil membelok-belokkan setirnya.

 

“Yah oppa! Aku sedang bicara padamu tahu!”

 

Sehun masih tetap diam sambil membelok-belokkan setirnya.

 

“Oppa, kenapa kau selalu ramah kepada semua orang kecuali.. aku?”

 

Mobil langsung berhenti di dalam parkiran, lalu Sehun membuka kunci pengamannya “Palli! Kalau tidak kita akan ketinggalan pelajaran pertama” kata Sehun yang lalu keluar dari mobil.

 

“Yah oppa.. aisshh.. cenca..” lalu Dara mengikuti Sehun keluar dari mobil.

 

Sehun berjalan di depan, sedangkan Dara cukup jauh berjalan di belakang Sehun.

 

Sehun lalu berhenti kemudian membalikkan badannya “Yah palli..!”

 

Dara memanyunkan bibirnya “Jika kau takut tertinggal pelajarang pertama, kau boleh berlari kok, tinggalkan saja si pejalan lambat ini” kata Dara sambil menyilakan kedua tangannya di depan perut dan wajahnya yang diarahkan ke samping kanan.

 

“Ah geure? Kerom..” kata-kata Sehun langsung terpotong oleh perkataan Dara “Yah..! apa kau benar-benar akan meninggalkanku? Yah.. oppa macam apa itu?”

 

Sehun menarik napas panjang, lalu dia merogoh-rogoh saku celananya, membuat Dara yang penasaran akhirnya melihat ke arah Sehun “Ini.. makanlah! Kau benar-benar jelek saat kau lapar” Sehun melemparkan sebungkus roti panggang yang dibungkus dengan plastik kepada Dara.

 

Dara lalu menangkap roti itu dengan penuh semangat “Yah oppa.. kenapa kau tiba-tiba jadi terlihat keren? Yah.. kau benar-benar keren oppa..” Dara tersenyum berterima kasih pada Sehun.

 

Sehun membalikkan badannya, lalu dia berjalan dengan kaki panjangnya meninggalkan Dara yang masih kaku memandangi roti panggannya karena terlalu senang.

 

“Oppa.. terkadang kau bisa jadi manusia juga, goma..” kata-kata Dara langsung terhenti ketika dia mengangkat kepalanya dan melihat Sehun yang sudah tidak ada di parkiran itu lagi “yah! Aisshh.. dia benar-benar meninggalkanku? Awas kau oppa..!”

 

Lalu Dara berjalan ke dalam kelas dengan sebuah roti panggang yang tertempel di mulutnya.

* * *

 

Sekarang Dara sudah sampai di depan kelasnya. Dara membuka pintu kelas yang dibelakang sedikit lalu melihat kondisi di dalam kelas saat ini. Dara melihat seonsangnim yang sedang menulis materi di papan tulis, dan semua murid memperhatikannya dengan sangat serius.

Karena Dara mengira ini saat yang tepat untuk menyelinap ke dalam kelas, Dara segera membuka pintu lebar-lebar lalu menutupnya dengan perlahan.

 

Dara segera berjalan mengendap-endap ke dalam kelas, semua teman Dara yang duduk di belakang memandangi Dara tajam tapi tidak ada yang bersuara. Karena sekarang sedang jam pelajaran Kimia, dan seonsangnimnya akan marah jika ada muridnya yang ketahuan tidak memperhatikannya mengajar., apalagi yang telat.

 

Saat ini Dara sudah ada di depan mejanya, yaitu meja paling pojok dan paling dekat dengan pintu masuk yang ada di belakang kelas.

 

“Sepertinya ada tikus masuk disini” Deg! Dara begitu kaget ketika Taemin seonsangnim si guru kimia itu berkata-kata yang padahal tadi dia sedang menulis di papan tulis dan tidak sedikitpun memandang ke belakang “benarkan?” Taemin seonsangnim menghentikan kegiatan menulisnya lalu segera berbalik badan dengan tangan kiri yang memegangi buku dan tangan kanan memegangi kapur tulis.

 

Dara merasa sangat tidak nyaman, kini teman-teman sekelasnya memandanginya beberapa menit tanpa berkedip.

 

Dengan malu-malu Dara segera berdiri dan menaruh tasnya di atas meja “Mianhae.. Taemin seonsangnim” Dara menundukkan kepalanya untuk beberapa saat lalu dia angkat “tapi panggilan tikus itu benar-benar tidak sopan seonsangnim! Bagaimana kalau murid-murid di kelas ini mengikuti kata-kata anda? Anda itu adalah seorang seonsangnim, tidak seharusnya mencontohkan hal yang kurang baik, aissh.. cenca..” Dara semakin mengeraskan suaranya.

 

Taemin seonsangnim memandangi Dara heran “Oh Dara, apa yang kau lakukan?”

 

“Eh?” mata Dara sedikit membesar “tadi.. kau mengatakan ada tikus lewat lalu..” Dara melakukan gerakan tangan tidak jelas.

 

Semua teman kelas Dara tertawa lepas “Hahaha..”

 

“Ah itu.. tadi aku merasa mendengar suara tikus.. jadi aku kira ada tikus lewat, lalu kenapa kau berdiri dan menyebutku mencontohkan hal yang kurang baik?”

 

Dara langsung memasang wajah bodohnya dengan mulut yang terbuka lebar “Pabo..! seharusnya aku tahu Taemin seonsangnim tadi tidak akan mungkin melihatku! Ah.. apa yang harus aku lakukan sekarang? Semua temanku masih memandangiku dan menertawaiku lagi.. aishh.. aku benar-benar mati gaya!” kata Dara dalam hati.

 

Seorang namja yang duduk tepat di depan papan tulis mengangkat tangan kanannya “Dia telat masuk kelas seonsangnim”

 

“Mwo? Apa Dara berangkat telat lagi hari ini chanyeol?” tanya Taemin seonsangnim pada namja yang ternyata adalah Park Chanyeol.

 

“Yah! Aishh.. park chanyeol.. kenapa kau jahat sekali padaku? Aishh..” kata Dara dalam hati.

 

Taemin meletakkan buku dan kapur tulisnya di atas meja “Lalu.. sebagai ketua kelas, kau kira hukuman apa yang seharusnya diberikan kepada murid yang telat lebih dari 3 kali?” Taemin seonsangnim menatap Chanyeol dan Dara bergantian.

 

“Ah.. Seonsangnim!” kata Dara tidak setuju jika dia dihukum.

 

“Atap sekolah sangat kotor, jadi aku kira menyapu atap tidak buruk juga seonsangnim” jawab Chanyeol.

 

“Mwo? Yah..! hukuman macam apa itu? tentu saja jika dihukum, hukumannya adalah berdiri di lapangan..” belum selesai Dara berbicara, Taemin seonsangnim langsung memotongnya “Tidak buruk juga chanyeol, baik.. Oh Dara, hari ini kau harus menyapu atap sekolah sampai bersih!”

 

Dara membuka mulutnya lagi lalu terduduk lemas di atas kursinya “Park Chanyeol.. aku benar-benar akan membunuhmu!” kata Dara lirih sambil menunjukkan evil facenya.

 

Lalu pelajaranpum dimulai..

 

* * *

Sementara itu Sehun…

 

Sehun sedang berjalan dilorong kelas yang panjang, di depannya adalah kelasnya. Namun, dia malah berbelok ke kanan dan berjalan menuju toilet pria.

 

Dia membuka semua pintu yang ada di dalam toilet itu, memastikan hanya dia yang sekarang ada di dalam toilet. Setelah semua pintu terbuka, dia segera mengunci pintu toilet dari dalam.

 

Dia menatap kaca besar yang kini ada di depannya sambil memegangi wajahnya “Manusia? Apa kini aku benar-benar seperti manusia?” lalu dia mengeluarkan smartphone dari dalam tasnya.

 

Dia menyentuh-nyentuh layar smartphonenya lalu membuka yahoo.co.kr, dia membaca semua berita-berita baru tentang kasus-kasus kematian “Tidak ada yang aneh disini..hanya berita tidak jelas tentang Hutan Worwod” Sehun menarik napas panjang “mungkin para mutan itu memiliki tujuan lain di sini..? Ah..!” Sehun mengacak-acak rambutnya “sebenarnya apa tujuan mereka sih? Aiishh.. membuatku harus sekolah di tempat manusia seperti ini dan harus belajar sampai tengah malam, mengerjakan tugas.. aaishh.. malah aku tidak boleh menggunakan kekuatanku sesuka hatiku disini, benar-benar mengesalkan!”

 

Setelah Sehun curhat dengan bayangannya yang ada di dalam cermin, dia lalu memasukkan smartphonenya ke dalam saku celananya, membuka pintu toilet, lalu berjalan menuju ke kelasnya.

 

Namun saat dia sudah sampai di depan kelasnya, Sehun tidak masuk ke kelas, karena dia tahu dia akan kena marah dan buruknya dia yakin pasti akan diberi hukuman, jadi dia hanya berdiri sambil memainkan tangan dan kakinya di samping pintu yang berada di belakang.

 

Masih lama sebelum jam istirahat, namun dia tetap disana, memandangi orang-orang yang lewat di depannya.

 

“Ah.. Sehun oppa!” “Sehun oppa.. dia benar-benar tampan!” “Kya! Oppa!” “Oppa kau benar-benar keren dengan posemu itu..” “Oppa kau tampan sekali!” teriak para yeoja jauh beberapa meter setelah mereka melewati Sehun.

 

Berbeda dengan para yeoja, para namja yang berjalan di depan Sehun malah berbisik di depan Sehun langsung “Apa yang dilakukannya disini” “Ah.. dia pasti telat berangkat lagi..” “Dia akan dihukum” “Pabo!”

 

Sehun hanya tetap berdiri di tempat tanpa menghiraukan hinaan yang dilontarkan untuknya.

 

* * *

“Ah.. aku lupa menyampaikannya!” kata Taemin seonsangnim yang lalu meletakkan tangan kanannya di depan dahi lebarnya di tengah-tengah pelajaran yang membuat seluruh murid bingung, kecuali Dara yang tidak memperhatikannya.

 

“Kalian pasti sudah mendengar berita tentang perkemahan kalian kan?” tanya Taemin seonsangnim.

 

Semuanya menganggukkan kepala mereka karena mereka sudah membuka website sekolah yang memberitahukan bahwa sekolah akan segera mengadakan perkemahan.

 

“Baguslah kalau begitu, jadi sekolah kita akan mengadakan perkemahan, waktunya adalah..  minggu depan” kata Taemin seonsangnim yang membuat seisi kelas saling berbisik-bisik “Mwo? Minggu depan? Kenapa begitu mendadak?” “Piccoseo? Kenapa baru bilang hari ini?” “Dewan guru selalu membuat keputusan yang mendadak” “Aku belum ada persiapan! Matilah aku..” “Emh.. bau kentut.. siapa yang kentut?” ya.. kurang lebih itu yang mereka bisikkan.

 

Melihat para muridnya yang saling berbisik tidak jelas dan membuat Taemin merasa telah dikacangi, Taemin seonsangnim segera menghentikannya “Semuanya diam! Jangan berbisaik! Satu saja yang berbicara!” teriakan keras ala Taemin seonsangnim itu sukses membuat para tikus murid diam.

 

Chanyeol mengangkat tangannya, bukan karena dia tertangkap basah telah mencuri jemuran, tapi dia ingin berpendapat “Minggu depan? Apa semuanya sudah dipersiapkan secara matang Taemin seonsangnim? Aku kira itu terlalu mendadak, dan takutnya persiapannya akan kurang matang”

 

Semua murid menganggukkan kepalanya karena mereka setuju dengan pendapat Chanyeol, kecuali Dara yang melihat ke arah Chanyeol duduk dengan tatapan evilnya tanpa mendengarkan apa yang Chanyeol katakan.

 

“Aniyo.. pihak sekolah sudah mempersiapkannya dengan matang, mulai dari biaya, pakaian, makanan, tempat, dan semuanya sudah dipersipkan dengan matang” kata Taemin seonsangnim santai.

 

“Biaya? Maksud seonsangnim kami tidak usah mengeluarkan biaya untuk perkemahan?” tanya Chanyeol, dan semua murid menganggukkan kepalanya karena setuju kecuali.. ya.. tentu saja Dara.

 

“Iyap.. kalian hanya tinggal berangkat sambil membawa barang-barang yang diperlukan saja, selebihnya sekolah yang menyediakan”

 

Seisi kelas kembali berbisik lagi “Eh? Kenapa” “kenapa sekolah menjadi sangat baik?” “wah.. asyik sekali.. gratis..” “aku jadi tidak usah memecahkan celengan ayamku “apa ini bukan tipuan seperti yang ada di tv-tv?” “ah cenca..! sebenarnya siapa yang kentut sih? Bau banget dah..”

 

“Kenapa kalian berbisik lagi? Ah.. ini seriusan, kalian hanya tinggal berangkat, apa kalian tidak senang?”

 

Kelas hening untuk beberapa detik setelah Taemin seonsangnim berkata-kata.

*prok prok prok* *suit.. suit..*

 

Seisi kelas menjadi ramai karena senang uang mereka tidak akan berkurang.

 

“Dimana lokasi perkemahan kita seonsangnim?” tanya Chanyeol yang membuat kelas hening lagi karena mereka semua penasaran dengan jawaban seonsangnim.

 

“Hutan worwod” kedua kata yang keluar dari mulut Taemin seonsangnim sukses membuat kelas hening untuk beberapa menit.

 

“Aku.. tidak akan ikut perkemahan..” “iya aku juga..” “untuk apa aku ikut..” “apa dewan guru sudah gila?” “kenapa harus tempat itu?” “ah.. benar-benar.. kenapa tidak ada yang mengaku telah kentut sih..?” semua kata-kata itu kini bukan merupakan sebuah bisikan lagi, tapi mereka berbicara dengan nada seperti biasa.

 

“Diam semua!” gentakan Taemin seonsangnim berhasil hanya membuat suara jangkrik lewat yang terdengar saat ini “kita tidak akan masuk ke dalam hutan, hanya di pinggiran hutan saja..”

 

“Tapi seon..” belum selesai Chanyeol berkata, kata-katanya langsung dipotong oleh Taemin seonsangnim, Dara terkekeh memandangi chanyeol “hahaha.. kau sebaiknya diam saja park chanyeol..” dengan evil smilenya di akhir kata.

 

“Diam!” kata singkat itu yang sukses memotong perkataan chanyeol “jadi karena di pinggir hutan, tidak masalah kan?”

 

Murid-murid saling berpikir, lalu mereka menganggukkan kepala sambil bertepuk tangan.

 

Dara yang sedari tadi memandangi Chanyeol tanpa memperhatikan materi apa yang sedang Taemin seonsangnim atau kenapa teman-temannya saling bertepuk tangan itu kini menjadi keheranan.

 

“Yah..!” Dara melutik punggung seorang yeoja yang duduk di depannya “kenapa yang lain bertepuk tangan?”

 

Yeoja itu segera membalikkan badannya dengan posisi duduknya “Mola? Yah.. apa kau tidak memperhatikan apa yang disampaikan Taemin seonsangnim lagi? Atau kau semakin bolot?”

 

“Revi.. berhentilah bertele-tele, hanya jawab pertanyaanku saja.. materi apa yang Taemin seonsangnim bahas tadi? Dan apa Taemin sensangnim berhasil membuat humor jadi yang lain bertepuk tangan?” tanya Dara penasaran.

 

“Bukan itu.. sekolah kita akan mengadakan perkemahan minggu depan”

 

“Oh itu.. aku sudah tahu beritanya di website, lalu kenapa mereka semua bertepuk tangan?”

 

“Itu karena lokasi perkemahannya yang ..”

 

“Yang apa? Apa di luar negri?” Dara membesarkan matanya, mengharap tebakannya tadi adalah kebenarannya.

 

“Hah.. luar negri saja pikiranmu.. tapi bukan, kita akan perkemahan di Hutan worwod”

 

Dara memundurkan badannya dan kembali duduk dengan tenang, menyilakan kedua tangannya di depan perut, wajahnya sangat kelihatan kalau dia sedang mencerna kata-kata Revi tadi “Hutan.. worwod.. sepertinya aku pernah dengar, dimana ya?” kata Dara dalam hati.

 

Revi memandangi Dara heran “Jika kau merasa pernah mendengar nama itu, maka kau pasti sudah membaca koran pagi ini”

 

Pertamanya Dara berpikir “Bagaimana kau tahu aku merasa sudah pernah mendengar nama hutan itu?” lalu kemudian dia berpikir “Koran pagi? Hutan worwod?”

 

Dara langsung berdiri, menggebrakkan kedua tangannya di atas meja yang menghasilkan bunyi yang cukup keras “Mmmmwwwoooo….??!! Yah..! Apa dewan guru sudah gila? Ah.. apa mereka benar-benar menginginkan semua muridnya mati?” teriak Dara langsung.

 

Teriakan Dara itu tertuju kepada Revi tadinya, sekarang seisi kelas memandangi Dara heran, kecuali Revi yang kembali menghadap ke depan sambil menutupi wajahnya karena malu kalau dia juga ikut jadi sasaran pandangan teman-temannya.

 

= TBC Chapter 2=

 

Iklan

7 pemikiran pada “We Are EXO! (Chapter 1)

  1. ide ceritanya aku suka. keren. cuma agak bingung dengan penggunaan bakor yang kakak pakai.
    cenca itu mungkin mksud kakak Jinjja?
    terus piceosso itu mungkin micheosso. lalu kayaknya daripada menggunakan kata ‘non Dara’ lebih enak didengar Dara-agassi.
    mengingat ini FF korea. cuma saran dariku sih.. hhehe. biar pembaca juga nyaman ngebacanya. ^^
    ada beberapa typo tapi nggak mengganggu. masih bisa dimengerti.
    secara keseluruhan FFnya oke. idenya juga fresh..
    cuma tolong diperhatikan bakornya, ne!
    ini nggak ngebash lo.. cuma saran. ^^ hhehe
    fighting next chapter, yo!

  2. Sehun itu bukan manusia?? Trus dia apaan donk??
    Penasaran nih…
    Saran dariku thor.. Ada beberapa bahasa korea yg salah thor,
    Cenca seharusnya jinjja, piccoseo harusnya micyeoseo..

    Next part ditunggu yaa.. 🙂
    Hwaiting!

  3. Sehun bukan manusia? Lohh??
    Bukannya dia dan Dara saudaraan? Adiknya aja manusia masa kakaknya alien?
    Atau jangan2 Sehun memanipulasi pikiran orang2 dan menyamar sebagai kakak Dara?
    Lalu siapa namja yang menghampiri Dara tidur itu? Sehun kah?
    Ah berharap saja itu Chanyeol u,u
    #banyaktanya#

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s