Cafe

Cafe

Judul              : Cafe (One Shoot)

By                   : Lely M.

Genre            : Sad (Maybe -.-)

Rating           :G

Lenght          : Ficlet (1.548 words)

Main Cast     : You

                        One of EXO member (who you like)

 

*************************************************************

Enjoy it!!!

 

Langit sore berwarna jingga semakin lama semakin gelap tak menghentikan aku menikmati segelas orange jus yang segar ini digenggamanku. Seragam sekolah yang melekat setia ditubuhku tidak membuatku sedikit risih. Ya, inilah rutinitasku setiap pulang sekolah, aku selalu menyempatkan datang ke kafe kecil di depan taman kota yang tidak menarik dan tentunya sepi tidak banyak pembeli, hanya untuk sekedar memperhatikan orang-orang yang melakukan berbagai macam aktifitas di taman kota dari dalam kafe berdinding kaca tebal dan transparan. Menurutku kafe ini sangat strategis, aku menyukainya.

*************************************************************

Pasangan muda itu terlihat sangat akrab, mereka berjalan beriringan sambil bergandengan tangan, sesekali mereka bercanda dan tertawa bersama ditengah perjalanan pulang dari kegiatan sekolah mereka. Orang yang memperhatikan mereka pastilah sangat iri dengan pasangan muda itu, tapi siapa sangka, pasangan itu bukanlah sepasang kekasih, hanya sebatas sahabat. Sahabat.

“Silahkan masuk nona cantik,” terukir jelas senyuman menggoda dari laki-laki tampan beseragam sekolah SMA yang membukakan pintu kaca kafe kecil itu.

“Cih, gombal.” Gadis berambut pendek itu terkekeh geli melihat kelakuan sahabat laki-lakinya itu.

Mereka berdua duduk dimeja paling pojok dekat dinding depan kaca –tempat favorit mereka.

“Aku pesan jus jeruk,” seru gadis itu pada pegawai kafe.

“Selalu jus jeruk, jus jeruk. Apa tidak ada yang lain, huh? Tuh liat disini banyak minuman lain.” laki-laki berambut keemasan sedikit berdecak kesal melihat sahabat gadis didepannya yang tak pernah merubah minuman yang dipesannya dikafe ini.

“Cerewet. Memangnya masalah? Aku suka ko`” kata gadis itu ketus.

“Eum, baiklah terserahlah, aku pesan bubble tea” ucapnya pada seorang pegawai kafe lalu pergi setelah ia menunduk tanda hormat.

“Selalu saja bubble tea, apa enaknya? Masih enak jus jeruk, segarrrr..!!”

“Dasar yeoja cerewet..cerewet..cerewet” laki-laki itu menjulurkan lidahnya dan membuat ekspresi seaneh mungkin untuk mengejek gadis yang duduk manis didepannya.

“Idihh.. kamu tuh, masih pantas yeoja cerewet dari pada namja cerewet.” Gadis itu mengerucutkan bibirnya kesal sambil melipatkan tangannya didadanya.

Tiada hari tanpa perdebatan diantara mereka berdua.

*************************************************************

Setelah puas menikmati segelas orange jus dicuaca yang tidak bisa dibilang panas, aku kembali melanjutkan rutinitas yang beberapa menit lalu tertunda. Hobiku. Hobi yang aneh. Yaitu memperhatikan orang-orang yang melakukan berbagai macam aktifitas seperti jogging, berkumpul dan membicarakan sesuatu yang jelas aku tidak tau, berpacaran, atau sekedar bermain dengan hewan peliharaan mereka dan masih banyak lagi. Sebenarnya bukan kegiatan mereka yang aku perhatikan, tapi penampilan mereka, baju yang mereka kenakan bahkan fisik mereka. Hahaha. Kurang kerjaan.

*************************************************************

“Yak! Kau lihat orang itu!” kata laki-laki itu sambil menunjuk seseorang yang dimaksud dibalik dinding kafe kecil yang terbuat dari kaca tebal yang transparan.

“Mwo? Yang mana?” gadis yang duduk didepannya mencari-cari `obyek` yang dimaksud laki-laki yang duduk dihadapannya yang memakai pakaian sama persis dengannya –seragam sekolah dengan antusias.

“Itu, yang pakai celana pendek!” kata laki-laki.

“Pabo! Disana banyak yang pakai celana pendek!” gadis berambut pendek itu berdecak kesal.

“Aish, baiklah, coba cari sendiri, yang penting orang itu pasti bikin kamu illfeel.”

“Eumm, iya, hmm…” gadis itu mengerucutkan bibirnya berpikir seraya memutar kedua bola matanya mencari `obyek` candaan mereka selanjutnya.

*************************************************************

Aku tertawa melihat penampilan pria yang duduk dibangku taman dengan seekor anjing cihuahua dipangkuannya. Pria yang aku bisa perkirakan umurnya sekitar 34 tahun keatas. Penampilan yang bisa dibilang aneh, celana pendek dan kaos kuning tanpa lengan apalagi ditambah dengan lemak menumpuk disana sini, bukannya menghina secara fisik, tapi pria itu benar-benar membuatku illfeel. Di musim gugur yang cukup dingin apalagi berangin seperti saat ini, pria itu betah memakai pakaian seperti itu, pantas saja banyak orang yang memandangnya heran termasuk aku tentunya. Apakah tidak ada orang dirumahnya yang mengingatkannya? Pria itu kan bisa saja sakit, ceilah sok perhatian. Tapi setelah dipikir-pikir tidak masalah, toh pria itu masih hangat dengan lemak-lemaknya, hehehehe. Piisss!! V

Tinggalkan pria aneh itu. Cari yang lain. Aha! Itu dia, sepasang, eumm… kekasih atau teman, entahlah, tapi mereka terlihat sangat akrab, mereka saling bergandengan tangan sesekali bercanda dan tertawa bersama ditengah perjalanan mereka. Aku jadi iri. Heumm.. jadi ingat seseorang. Lagi.

*************************************************************

“Hari ini ke kafe lagi ya?? Pliiss..” laki-laki berambut keemasan merajuk pada gadis yang duduk didepanya sambil menarik-narik baju seragam gadis –sahabatnya itu dari belakang saat kelas sudah sepi. Tapi gadis itu tak bergeming, masih sibuk berkutat dengan tumpukan buku pelajaran didepannya.

“Aish, jangan ganggu aku!” gadis itu mulai risih.

“Pliiss.. yayaya.. ayo dong! Sudah 2 hari kita tidak kesana pliss!!” laki-laki itu menggunakan puppy eyes andalannya.

“Haaahh.. ya udahlah, terserah, tapi inget! Kamu harus bantu aku mengerjakan ini semua!” akhirnya gadis itu menyerah juga, ia tidak tahan lagi dengan sikap manja sahabatnya yang duduk di bangku belakangnya.

Laki-laki itu menganggukkan kepala senang.

*************************************************************

Kembali ke gadis itu, ya, aku sedang memperhatikan gadis yang duduk santai di bangku taman dengan kedua telinga yang ia tutupi dengan headphone. Gadis dengan tinggi tubuh semampai, kulit putih mulus bak salju dimusim dingin, rambut coklat bergelombang yang dibiarkan terurai begitu saja, wajah yang tentu saja sangat menarik, siapa laki-laki yang tidak menyukainya? Dengan pakaian yang fashionable tapi simple dan sangat cocok dengan tubuh langsing gadis itu membuat semua orang menatap kagum kearahnya, termasuk aku tentunya.

Aku sangat iri. Ya, iri. Beberapa orang dianugerahi fisik yang menarik. Aku tersenyum miris. Itu mengingatkanku pada seseorang. Lagi.

************************************************************

“Gadis itu sangat cantik, bukan?” laki-laki berambut keemasan membuka topik keheningan diantara mereka berdua. Sejak sepulang sekolah mereka hanya diam, datang ke kafe ini juga diam tanpa candaan seperti biasanya.

“Euumm…” gadis itu hanya menganggukkan kepalanya singkat tanpa melihat ‘obyek’ yang sahabatnya tunjukkan.

“Sepertinya aku menyukainya.”

Gadis yang tadinya sibuk mengerjakan tugas sekolah yang diberikan guru Lee mendadak menghentikan aktifitasnya. Gadis itu menatap lekat wajah laki-laki didepannya, sahabat laki-lakinya itu melihat kearah taman sambil tersenyum, itu membuatnya begitu tampan, sangat tampan malah, pikir gadis itu.

Gadis itu melihat kearah pandangan sahabat laki-laki yang ia kenal selama 6 tahun, dilihatnya seorang gadis dengan tinggi tubuh semampai, kulit putih mulus bak salju dimusim dingin, rambut coklat bergelombang yang dibiarkan terurai begitu saja, wajah yang tentu saja sangat menarik, siapa laki-laki yang tidak menyukainya? Dengan pakaian yang fashionable tapi simple dan sangat cocok dengan tubuh langsing gadis itu membuat semua orang menatap kagum kearahnya, termasuk dia dan sahabat laki-laki yang duduk manis sambil menggenggam segelas bubble tea didepannya dari dalam kafe ini.

Gadis itu menghela napas sebentar. “Benar kamu menyukainya? Kamu baru lihat gadis itu sekarang kan?” tanya gadis itu meyakinkan.

Laki-laki itu menganggukkan kepalanya dengan semangat lalu tersenyum simpul kearah gadis yang setia menemaninya selama 6 tahun ini.

“Tentu saja, sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama pada gadis itu, aku harus mendapatkannya!” kata laki-laki itu dangan yakin lalu kembali memperhatikan gadis yang duduk santai di bangku taman dengan telinga yang ditutupi dengan headphone.

Gadis itu tersenyum miris mendengar perkataan sahabat laki-lakinya itu, tanpa diperintah otaknya tetesan cairan bening jatuh dari pelupuk kedua matanya. Cepat-cepat ia menghapusnya dengan punggung tangannya takut kalau sahabat laki-laki yang sebenarnya ia cintai  dari awal pertemuan pertama mereka melihatnya. Tidak, dia tidak boleh melihatku lemah sepertinya, pikirnya.

*************************************************************

Kembali ke gadis cantik itu. Sekarang ia tidak sendiri. Gadis itu telah bersama laki-laki yang aku yakini sekarang sebagai kekasihnya. Laki-laki yang dulu selalu menemaniku. Laki-laki yang dulu selalu membuatku tertawa. Laki-laki yang dulu selalu setiap pulang sekolah mengahabiskan waktu bersamaku di kafe kecil ini. Laki-laki yang dulu mengisi hatiku selama 6 tahun sejak aku bertemu dengannya. Laki-laki  yang meninggalkanku sendiri hanya untuk gadis yang ia akui sebagai cinta pandangan pertamanya.

Aku menangis sejadi-jadinya, ini sudah dua bulan lamanya. Dua bulan ini ia meninggalkanku mengejar gadis cantik impiannya. Dua bulan ini ia meninggalkanku sendiri. Dua bulan ini aku memperhatikannya dengan kekasih, dua bulan ini aku selalu menangis sendiri di kafe kecil ini.

Segampang itukah orang jatuh cinta? Bayangkan saja, aku yang 6 tahun mengenalnya, setiap harinya aku bertemu dengannya dan hal itu juga yang membuatku jatuh cinta tidak dengannya. Tapi dia dengan gadis itu, sebegitu mesranya, bahkan tak jarang aku melihat mereka berciuman. Sakit. Itu yang aku rasakan dua bulan ini.

Setelah merasa tenang aku beranjak dari tempat dudukku lalu membayar minuman yang aku pesan tadi. Aku membuka pintu kaca kafe ini dan keluar. Hari sudah semakin gelap, orang-orang ditaman juga sudah semakin berkurang. Tapi itu tidak menghentikan mereka –sepasang kekasih menghentikan aktifitas mereka. Aku sudah tidak sanggup menopang tubuhku lemas saat laki-laki itu –mantan sahabatku- menatapku dan mata kami saling bertemu. Terlihat gadis –kekasih- yang disampingnya berkata padanya, dari gerakan bibirnya ia bertanya ‘siapa gadis itu oppa’ dengan manja, laki-laki itu beralih lalu menatap dan menggeleng cepat ‘aku tidak tau’ jawabnya diringi senyum simpul, atau bisa dikatakan seringaian?

Hatiku hancur, sangat hancur. Inikah rasa sakit jika seorang yang kamu cintai tidak menganggapmu sedikit pun? Selama 6 tahun kami saling mengenal dan dia dengan entengnya mengatakan aku bukan siapa-siapa pada gadis itu, gadis yang merusak persahabatan kami. Tidak, dia tidak salah.

Air mataku keluar dengan derasnya bak sungai kecil yang mengalir dipipiku lagi. Dengan sangat berat aku melangkahkan kedua kakiku menjauh kafe kecil ini, menjauhinya, menjauhi laki-laki yang telah menghancurkan hatiku.Terimakasih telah menemaniku selama di kafe ini, terimakasih karena telah membuatku mengetahui rasanya jatuh cinta, terimakasih telah membuatku tahu rasanya sakit hati dan tak dianggap.

Semakin jauh dari kafe kecil itu. Kafe kecil yang menyimpan sejuta kenangan indah persahabatan kami. Tapi, aku telah bersumpah tidak akan datang ke kafe kecil ini lagi, besok, lusa dan seterusnya.

___THE END___

 

9 pemikiran pada “Cafe

  1. Sakit banget tuh pasti, ditinggalin sahabat cuma karna pasangan. Harusnya walaupun punya pacar ngga boleh ninggalin apalagi ngelupain sahabat, jleb ouo.

    Kalau aku boleh komentarin bagian yang ada disini mungkin yang bisa dikomentarin adalah endingnya, soalnya menurutku endingnya nggak terlalu nyentuh, terus poin of viewnya juga agak membuat aku sedikit bingung ini itu yang mana, itu ini yang mana (?).
    By the way, author dapat inspirasinya darimana?
    Saranku sih dalam membuat 1 cerita, kita nggak cuma butuh 1 inspirasi doang, kita harus punya banyak inspirasi/pengalaman yang bisa kita uraikan atau sambungkan di dalam sebuah cerita, karna kalau cuma 1 inspirasi doang, cerita itu nggak bakal sempurna dan nggak akan kena feelnya (ceilah bahasanya).
    Dan kita juga harus punya inspirasi ‘pendorong’ maksudnya inpirasi yang membuat kita yakin banget kalo cerita yang kita bikin ini bisa dirasakan juga oleh si pembaca, jadi dalam membuat fic terutama dalam genre comedy, hurt, angst dan sed ending, kita harus bisa mendapatkan feel dan intinya, seperti air aja mengalir tanpa henti, tapi bedanya kalau fic harus ada pemberhentian (end)nya, masa iya nggak selesai2 -_-.

    Kalau untuk tulisan ini sudah bagus, tidak ada kuman, ralat typo yang tersisa sedikitpun /tepuk gong (?), bahasanya juga kurang EYD, tapi tak apa, salah tinggal diperbaiki /wink/.

    Ok, karna saya capek untuk komentar (?), lebih baik saya akhiri saja perjumpaan kita (?). Karya selanjutnya harus lebih baik lagi dan kalau sudah ada tolong dikabarkan supaya saya komentari lagi perkembangannya /?

    • aaahh.. udh dipost ternyata !! khamsa buat putrislsput
      makasih banget saran dan kritiknya -babysbreath69- , itu buatnya jaman dlu -_- . aish emg banyak kekurangannya,
      kurang ngenes pula :3 makasih banget /bow\

      • HAHA, ya, sama-sama… Sesama author harus saling mensupport! ^-^. \
        Kapan-kapan kalau bikin ff yang ngenes, ngenesinnya itu pakai jambak-jambakan biar tambah ngenes /? HAHA XD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s