Dusk (Before the Night) (Part 3)

 

Author : @JiaceSuji

Title : Dusk (Before the Night)

Chapter : 3 (On Going)

Genre : Romance, School life,Drama

Ratting : Teen

Cast  :

Park Chanyeol(Chanyeol) || Kwon Heesun (Oc)

Other cast :

Kai EXO ( Kai) || Jung Hea (Oc) and EXO member (cameo)

Three

 

 

 

 

Heesun membelalakan matanya melihat sesosok anak yang mungkin, sebayanya kini tengah duduk santai di tengah hamparan rumput yang membentuk sebuah lingkaran di sana. Itu, anak laki-laki.

Ia juga melihat anjing kecil berbulu coklat itu kini tengah berada di sana.

Heesun kecil hanya bisa memaparkan ekspresi kikuknya melihat anak itu yang kini menatapnya dengan terkejut.

“kenapa kau bisa disini?” ucap anak tersebut dan menegakkan badannya. “ah.. aku mengikuti anjing ini..”Heesun menunjuk kearah anjing kecil itu, “dan aku.. tersesat”Heesun mengakhiri pernyataannya sembari menundukkan sedikit kepalanya.

“kemarilah…” ucap anak itu dan mengisyaratkan agar Heesun kecil duduk disampingnya. Heesun langsung menurutinya tanpa ragu sedikitpun. Ia, sedikit menggeliat ketika anjing itu kembali mendekatinya dan menjilati tangannya saat ia telah berhasil menduduki rerumputan di sana.

Itu mengundang tawa dari anak laki-laki yang berada disampingnya. “dia menyukaimu!” ucap anak itu.

“hihiii.. oh iya, kenapa kau ada disini?” Tanya Heesun , anak itu menunjukkan wajah kesalnya “aku kesal dengan ayahku!”jawab anak itu dengan terang-terangan. “oh.. kenapa?” Tanya Heesun kembali.

“ayahku bilang aku egois, tapi ayahku lebih egois”anak itu kini mencabik-cabik rumput yang berada dihadapannya, sebagai ungkapan kekesalannya.

“oh..”ucap Heesun kecil sembari memeluk anjing kecil itu dan sesekali mengelusnya. “aku baru melihatmu, kamu ini anak baru pindah ya?” kini giliran anak itu yang bertanya.

 Heesun tersenyum dan menjawab “tidak, aku hanya mengunjungi ayahku.. hihii”  , senyum kudanya membuat gigi seri bawahnya yang baru tanggal itu terpampang.

“hmm.. jalan pulangnya kemana? Aku mau pulang…”Heesun kembali bersuara melihat suasana sore yang kini semakin gelap. Tanda malam akan tiba. Raut wajahnya sedikit ketakutan.

 “hm.. aku mau memberimu jalan keluar, tapi jika kau mau menuruti satu permintaanku”

“apa itu?”

“datanglah besok kesini. Kita main disini” balas anak itu sembari tersenyum. Heesun menganggukkan kepalanya dengan semangat “ya! Baik!”. Dan setelah itu, mereka pun berdiri dan mulai melangkahkan kakinya di tengah tanah Ilalang yang sudah mulai gelap itu. Matahari belum sepenuhnya terbenam, membuat cahaya-cahaya dusky yang tampak indah di barat. Heesun berjalan mengekor anak laki-laki itu yang juga diikuti oleh seekor anjing yang berada ditengah mereka.

Heesun memaparkan senyumnya saat mereka telah berhasil keluar dari tanah itu. Pada saat itu juga, anak itu membalikkan tubuhnya yang semula memunggungi Heesun.

“terimakasih ya” ucap Heesun membungkuk. Anak laki-laki itu tersenyum tipis. “iya, janji ya ,kau besok kesini, jam empat sore!”

“iya!!! Aku janji!!” Heesun bersemangat dan berjalan meninggalkan anak itu, “dah…” salamnya.

Dan di hari itu.. Heesun kecil mendapat satu lagi teman baru..

-::-

Heesun menghitung mundur laju detik jam yang berada pada jam tangan mickeymouse miliknya. Ia menghitung sepuluh detik terakhir agar di hitungan terakhir nanti ia telah sampai tepat di tanah itu. Ia menunggu jarum jam tepat pada pukul empat sore.

Ya, tentu saja ia menepati janjinya.

Heesun kecil membawa dirinya memasuki lebih dalam tanah itu. Namun langkahnya terhenti, ketika ada seseorang yang memegang bahunya. Detik itu juga , Heesun membalikkan tubuhnya dan melihat seseorang di sana.

Ia tersenyum menyambut orang itu.

“ternyata kau datang…” ucap orang itu yang ternyata adalah anak laki-laki yang kemarin. Di sana Heesun mengangguk dan berkata “tentu saja!”. Anak itu segera berjalan melewati Heesun, namun tangannya dengan sekejap telah meraih tangan Heesun dan menariknya untuk mengikuti tiap langkahnya. Anak itu menggenggam tangan Heesun. Mereka bergandengan.

 

“anjing itu kemana?” Tanya Heesun disela-sela perjalanan mereka. “anjing itu di rumah, eomma tidak mengijinkanku untuk membawanya…”

Heesun mengangguk “oh.. siapa nama anjing itu?”.

“belum tahu… anjing itu masih baru” jawabnya masih tetap berjalan menelusuri hamparan ilalang yang tumbuh tinggi itu.

Tepat setelah itu, mereka pun menemukan tempat yang pas dan di sanalah mereka mulai bermain. Namun dari banyak permainan yang mereka mainkan. Hanya bermain petak umpet dan mencetak tanah adalah yang paling lama durasinya. Hingga pada akhirnya dua jam sudah mereka bermain, dan mereka kini kelelahan dan duduk bersampingan melihat matahari senja.

Bodohnya mereka berdua bahkan belum menanyakan nama satu sama lain membuat mereka memanggil satu sama lain masih dengan sebutan ‘kau’

 

“kemarin kau bilang, ayahmu egois… egois kenapa?” Tanya Heesun polos. Tentunya pada akhirnya mereka terjerumus pada pertanyaan yang terkesan membingungkan dan kanak-kanak, namun kali ini ada topic yang lebih menarik.

“dia.. selalu mengaturku… semuanya diatur.. dia melarangku melakukan hal yang kusuka.. dia selalu memarahi ibu.. aku benci dia”anak itu kembali mencabik-cabik rumput dan kali ini ia menemukan krikil kecil dan melemparnya lurus kedepan. Heesun kecil hanya mengerucutkan bibirnya .

“Lalu bagaimana dengan ayahmu?”

“ayahku?” Heesun menunjuk dirinya. “ah dia sangat baik, kata ibuku, semua ayah didunia ini baik pada anaknya” Heesun yang benar-benar innocent itu berkata dengan penuh percaya diri. Namun direspon oleh hembusan nafas panjang dari anak itu “ah.. kecuali ayahku”

“hum.. terserah kau sajalah” Heesun berkata dengan nada biasa. Namun anak tersebut kini justru mengalihkan perhatiannya tepat kearah anak perempuan di sampingnya, Heesun. Ia tak bisa menyangkal bahwa anak perempuan ini memang cantik, dan senyumnya juga indah. Namun, jika ia suka, sepertinya bukan hal itu yang membuatnya suka. Seperti ada sesuatu yang membuatnya tertarik, namun tak bisa dijelaskan.

“hei.. kau besok akan datang lagi-kan?” tanya anak itu. Heesun beralih menatap anak laki-laki tersebut, dan seketika wajahnya berubah sedih, “maaf, tidak.. aku besok harus ke Daegu karena ibuku harus bekerja” Heesun meminta maaf.

Anak itu memaparkan wajah kecewanya , namun pada akhirnya anak itu kembali tersenyum berusaha agar Heesun tak sedih kembali. “Hm.. yasudahlah.. tidak apa-apa..”

Melihat itu, Heesun teringat bahwa ia menyimpan sesuatu pada saku jaketnya. Ia pun mengecek kedua sakunya dan menemukan benda yang ia cari. Ia menyerahkan itu tepat pada anak laki-laki yang berada disampingny. “Ini…”

Adalah sehelai daun yang ditemukan Heesun kemarin. Daun yang di tengahnya berlubang berbentuk hati.  Anak itu memiringkan kepalanya mencerna apa yang diberikan Heesun, namun ia sadar bahwa ada sebuah lubang yang unik didalamnya.

“Untukku?” anak itu tersenyum.

“Ya…”

 

Anak itu meraih dan memegang daun tersebut dengan tangan satunya. Sementara tangannya yang lain sedang meraih sesuatu yang berada di dalam bajunya untuk kemudian ia mengeluarkannya dan menunjukkannya kepada Heesun. Itu merupakan sebuah benda yang sebenarnya tak lazim untuk di simpan di balik baju.


“bunga anggrek.. untukmu..” kali ini giliran Heesun yang memiringkan kepalanya melihat benda yang diberikan anak itu. Namun pada akhirnya ia tersenyum senang melihatnya.

“terimakasih…wah yeppeuda..” Heesun meraih setangkai anggrek yang berisikan tiga buah bunga mekar itu. walau keadaanya sedikit … layu.

 “ya, bunga anggrek adalah favoritku..”anak itu tiba-tiba saja menjelaskan. Heesun pun berpaling padanya. “waeyo?”

Namun seketika anak itu terdiam. Ia terlihat bingung. “hm…” wajahnya terlihat frustasi mencari alasan. Mungkin karena saking frustasinya, ia menyerah dan berkata “ya.. karena aku suka..”

“heum?” Heesun nampaknya masih belum paham.

Anak itu menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menunduk “sudahlah.. aku sendiri juga bingung karena apa..”

Mata mereka berdua bertemu ketika anak itu mengangkat kepalanya kembali. Cukup lama mereka terdiam sampai pada akhirnya mareka seperti tak bisa menahan sesuatu yang akan terpapar di wajah masing-masing. Mereka tersenyum, dan rona merah terlihat jelas di kedua pipi mereka sebelum akhirnya, dua anak kecil itu mengalihkan pandangan ke arah matahari yang kini tengah terbenam.

Mereka menikmatinya…

“kau tau… ibuku pernah bilang sesuatu tentang senja” Heesun berkata, “senja itu katanya hm… begini… ‘ketika senja datang itu pertanda bahwa semuanya akan segera berakhir… dan ketika fajar tiba .. itu pertanda bahwa akan ada sesuatu yang baru’ .” Heesun mengakhiri kata-katanya.

“maksudnya?” Tanya anak itu dengan menaikkan satu alisnya.

“sekarang ini senja.. itu berarti semuanya akan berakhir.. berdoalah agar masalahmu dengan ayahmu dapat terselesaikan” Heesun tersenyum dengan jari tangan kanannya bergestur membentuk ‘peace!’

Anak itu hanya bisa terpukau mendengar perkataan yang baru saja ia dengar.. “ohh..begitu… baiklah…”sedikit di dalam hatinya tengah memaki dirinya bahwasanya ia terlalu bodoh untuk mengerti kata-kata seperti itu. Lihat, gadis di depannya pun mengerti.

Namun tak lama kemudian, terdengar sebuah suara yang sedang menyerukan nama Heesun. Suara itu terdengar tak jauh dari tempat itu dan membuat Heesun dan juga anak itu dapat mendengarnya jelas.

“Heesun!!!!”

“aku dipanggil ayahku….” Heesun segera berdiri dari tempat nya dan diikuti oleh anak itu yang terlihat sedikit gelisah. “kau pulang sekarang?” Tanya anak itu.

“iya..” Heesun menjawab dengan sedikit lirih.

“tapi… tunggu sebentar..” anak itu berusaha menahan Heesun. “aku.. pernah mendengar sepupuku berkata soal cinta pada pandangan pertama….” Ucap anak itu tanpa ragu. Sejujurnya kalimatnya itu masih bersambung.

Heesun menaikkan satu alisnya dan membuka mulutnya “ah?” – “cinta pada pandangan pertama??”

Anak itu mengangguk antusias. “ya!..” –

“aku menyukaimu!” ucap anak itu terang-terangan. Dan Heesun hanya bisa membuka mulutnya lebar-lebar karena saking terkejutnya. Namun anak itu justru meraih wajah Heesun sehingga mulutnya kembali tertutup rapat. Dan dalam hitungan yang singkat, anak itu kini menyentuh bibir Heesun dengan bibirnya. Anak itu menciumnya.

Merupakan sesuatu yang jarang dilakukan anak seusia mereka. Ditambah lagi, mereka lawan jenis bukan? Anak itu sangat berani.

Dan Heesun hanya bisa terdiam mematung dengan mata yang terbelalak. Ia sedikit merasakan bibirnya yang sedikit berdenyut-denyut bahwasanya saat awal anak itu menciumnya, anak itu menekan bibirnya terlalu keras,sehingga bibir heesun bertabrakan dengan giginya dibelakang. Poor Heesun.

Ciuman itu berlangsung singkat sebelum akhirnya anak itu berlari meninggalkan Heesun dengan rasa bangganya. Bangga dengan dirinya sendiri. Dan ditengah anak itu berlari, ia menyelipkan sebuah pesan “semoga kita bertemu lagi!” ucapnya.

Heesun mendengarnya. Namun dirinya masih tetap mematung dan menyentuh bibirnya dengan jarinya. Setelah itu, entah mengapa ia jutru tersenyum dan berjalan mencari jalan keluar dengan tangannya yang masih menggenggam setangkai anggrek itu.

Ia senang…..

-::-

Kali ini Heesun berjalan ditengah siswa-siswi yang tengah melanjutkan aktivitas pagi mereka. Sebagian besar dari mereka melaksanakan aktivitasnya dengan bersemangat , namun tidak dengan Heesun.  Heesun sedari tadi nampak kusut. Dan ini berkat kejadian kemarin.

Ia berjalan menuju lokernya dan meletakkan jaket hijau mudanya di sana. Memang gerakannya tertuju pada cara melipat jaket dengan rapi. Namun pikirannya melayang tentang fakta yang barusaja ia dapatkan kemarin.

Setelah mendengar perkataan Kai, Heesun seakan kembali bertemu dengan sesuatu yang telah lama ia lupakan. Tidak, itu memang kenyataan. Namun ia hanya tidak dapat menyangka bahwa anjing tersebut adalah meonggu. Ya, dugaannya anjing yang dulu sempat ia temui ada meonggu. Dilihat dari fisiknya yang sangat mirip, dan juga dari umurnya yang sudah delapan tahun itu. memungkinkan bahwa anjing itu adalah yang ditemuinya delapan tahun lalu.

Dan ia lebih tidak meyangka lagi , bahwasanya majikan dari anjing tersebut adalah Kai. Mungkinkah Kai adalah anak laki-laki itu? anak laki-laki yang pernah menyatakan perasaanya..

Bahkan menciumnya..

Ia tak menyangka bahwa  ia akan bertemu lagi dengan anak itu. Bahkan kali ini mereka saling kenal. Namun satu pertanyaan dibenak Heesun, yaitu –jika–memang–diaapakah–dia–mengingat–nya ?

Heesun menutup pintunya lemas, namun tiba-tiba saja ada sebuah benda yang membuat ujung kepalanya terasa berat. Segera ia menyentuh ujung kepalanya dan menemukan benda berbentuk silinder disana.

Ia meraihnya , menatapnya lekat-lekat sebelum akhirnya ia mencari sosok siapa yang meletakkan benda ini diatas kepalanya. Dan benar saja, yang meletakkan benda tersebut memang yang ada di dalam dugaan Heesun. Chanyeol. Ia kini telah berjalan menjauh tanpa menghiraukan Heesun.

“eh-hey!” Heesun memanggil. Sekali lagi dia tak mungkin membalasnya. Heesun pun mengrucutkan bibirnya kesal dan memutuskan untuk membuka tutup benda silinder itu untuk melihat isinya.

Heesun,seketika jantungnya berdebar kencang ketika mendapati volume dari salep tersebut ternyata telah berkurang. Didalamnya, atau isi dari salep tersebut yang semula mulus datar dan penuh, kini sedikit berkurang tepat dibagian tengahnya. Tanda bahwa Chanyeol telah memakainya. Ia ingin sekali berteriak untuk saat ini. Namun , belum saja ia melakukan hal itu, ia telah terlebih dahulu terkepung oleh segenap akal sehatnya ‘mengapa teriak? Mengapa aku kegirangan seperti ini’ gumamnya pada diri sendiri.

Di sanalah Heesun menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh terjadi pada dirinya.

-::-

“Heesun.. tadi ada pesan dari Suho sunbae..” ucap Hima. Heesun baru saja tiba di kelas dan meletakkan tasnya di atas meja. “pesan apa?” Tanya Heesun.

Hima , masih dengan gaya cutenya itu kini terlihat memakai sebuah bando pink berenda. Tak lupa ia membawa pensil isi ulang kesayangannya yang berwarna Kuning muda itu, yang pernah suatu hari ia berkata bahwa itu pemberian dari seorang yang istimewa baginya.

“sepulang sekolah, kau mendapatkan tugas piket untuk membersihkan ruangan latihan..” ujar Hima seraya menatap Heesun polos. Heesun hanya menganggukkan kepalanya dan lekas duduk ditempatnya.

“ada apa denganmu Heesun?” Hima bertanya, “kenapa kau lesu seperti itu”

“ah.. tidak ada apa –apa Hima” Heesun berusaha tersenyum. “aku tidak apa-apa”

Mendengar hal itu, Hima justru memutar bola matanya “kau bohong-kan?” ucapnya menuduh. Heesun membelalakkan matanya dan berusaha menyangkal “ah.. aku sungguh” Heesun meyakinkan.

“huh, baiklah.. ceritalah kalau suasana hati mu sudah lebih baik.. aku tahu kau bohong…” Hima mengalihkan perhatiannya ke satu titik.  Heesun sedari tadi hanya menunduk, menemukan dirinya yang kini tak mampu menyembunyikan suasana hatinya itu.

“Heesun, lihatlah….”seru Hima dan bergestur kecil menunjuk sesuatu. Heesun mendongakkan kepalanya dan mengikuti arah pandang Hima. Ia melihat seorang wanita cantik berambut coklat yang kini berjalan masuk kekelasnya yang lalu berhenti di sudut sana. Tepat di bangku paling pojok. Tepat pada bangku milik Chanyeol.

Ia ingat, itu adalah siswi kelas sebelah yang bernama Jung Hea. Ia sangat sering memberikan Chanyeol bekal. Walaupun Chanyeol sering menolaknya. Anehnya, walaupun demikian , ia tetap bersikeras untuk membawakan Chanyeol makanan.

Bisa Heesun lihat saat wanita cantik itu masuk kelas. Banyak namja teman sekelasnya yang memperhatikannya. Namun, banyak juga para yeoja yang menatapnya sinis, seakan dirinya iri. Dan kini ia melihat yeoja itu duduk tepat di depan bangku Chanyeol dengan menghadapkan tubuhnya kehadapan Chanyeol. Chanyeol tampaknya telah menyadari apa maksud yeoja itu duduk tepat di hadapannya, sehingga dirinya memasang earphonenya dan membuang muka. Walaupun sejujurnya earphone tersebut sama sekali tak tersambung dengan mp3nya. Itu hanya trik palsunya.

Gadis itu masih tersenyum dan meletakkan sebuah benda tepat di depannya. Benda tersebut berbentuk kotak berwarna kuning yang ia yakini adalah kotak bekal. Gadis itu berkata “aku yakin, kali ini kau akan menyukainya… aku memasakkan makanan kasukaanmu..”

Awalnya Chanyeol masih tetap menjalani triknya dengan berakting seolah-olah ada sebuah lagu yang didengarkan oleh telinganya. Namun, gadis itu mengguncang tubuh Chanyeol dan berkata untuk yang kedua kalinya.

Mendengar itu, Chanyeol menggerakkan tangannya menjauhkan kotak tersebut dari hadapannya “aku tidak butuh” Chanyeol menghardik “pergi!”. Gadis itu memaparkan rasa kecewanya, “kenapa tidak dicoba dulu?” ucapnya. Namun Chanyeol segera beranjak dari bangkunya dan berjalan meninggalkan gadis itu. Di sana gadis itu tampak terdiam sejenak , menahan air matanya dan berjalan mengikuti Chanyeol sebelum akhirnya gadis itu menahannya dengan memegang lengan namja itu.

Chanyeol berhasil berbalik dan menatap yeoja itu dengan mengangkat dagunya. Tatapannya datar. Yeoja itu menunduk sembari berkata “bisakah kau memperhatikanku sedikit saja?..” suara yeoja itu bergetar, “aku permisi” gadis itu menyelesaikan kalimatnya dan berjalan melewati Chanyeol.  Chanyeol hanya terdiam di tempatnya, memutar bola matanya bosan dan bermaksud untuk kembali ke tempatnya. Sebelumnya ia merasa bahwa masalah sudah selesai dan kini perasaannya telah lega. Namun ketika semua mata sejak tadi ternyata memandang mereka, di sanalah Chanyeol kembali merasa bosan bercampur benci di dalamnya.

Di sisi lain. Heesun merasa kasihan melihat Yeoja bernama Hea tersebut. Betapa kejamnya Chanyeol terhadapnya. Tidakkah seharusnya ia menghargainya walaupun cuma sedikit saja? Dia bersikap seolah-olah seperti menganggap bahwa Hea bukanlah manusia melainkan hewan.

-::-

Jam pelajaran baru saja usai. Heesun berjalan menuju ruang latihan seperti apa yang diperintahkan Suho terhadapnya. Dan dengan perlahan. Ia membuka pintu ruangan latihan di sana dan melangkahkan kakinya ke dalam.

Dua .. tiga langkah ia berjalan, kini matanya disambut dengan sosok yang ahir-akhir ini berada dipikirannya.

Seorang namja yang kini tengah duduk di pinggiran jendela besar yang tengah terbuka. Sibuk dengan mp3nya dengan jemarinya yang bergerak naik turun mencari musik favorit. Matanya seolah diperuntukkan pada layar mp3nya dan mengabaikan seseorang siapa di sana, hingga seseorang yang kini datang dan memandangnya pun ia tak hiraukan.

“Chanyeol.. apa kau ada tugas piket juga?” Heesun memberanikan diri bertanya kepada namja dingin itu. Chanyeol hanya melihat Heesun sekilas dan tetap melanjutkan aktivitasnya tanpa menjawab pertanyaan Heesun.

Kali ini Heesun merasa bahwa Chanyeol memang menyebalkan. Mengingat kejadian sewaktu di kelas tadi , dan kini pertanyaannya bahkan tak dihiraukan oleh namja di depannya ini.

Heesun hanya menghela nafasnya panjang dan meraih sampah-sampah kertas yang sedikit berserakan di ruangan ini. Yah kertas, tentu di dalamnya terdapat coretan-coretan yang entah itu sebuah lirik atau apa. Yang jelas sekali, mereka menulisnya pada kertas not yang menumpuk di sudut ruangan.

Heesun Sebetulnya memang tipe orang yang tidak suka memperpanjang masalah, namun melihat atmosfir kesunyian dan juga bergaris bawah kecanggungan di antara mereka, saat itu juga Heesun punya dorongan untuk merangkai obrolan lebih dari itu. Dan disela-sela ia mengambil sampah itu, Heesun berusaha mencairkan suasana.

 “Chanyeol.. apa, hmm…” Heesun bingung memulai percakapan “ bagaimana dengan bahu-mu itu?” Heesun bertanya.

Chanyeol meliriknya sekilas “sudah baikan”ucapnya datar.

Di sana Heesun tersenyum simpul “hm.. syukurlah.. aku senang mendengarnya” dan setelah itu.. Heesun bermaksud untuk mengambil sebuah bak sampah kecil yang berada di sudut ruangan. Pada saat itu juga, Chanyeol berjalan mendekatinya dan meraih bak sampah itu duluan. “untuk selanjutnya biar aku saja”

Itu dia. Ternyata Chanyeol memang piket hari ini. Heesun hanya bisa mengangguk dan menatap namja itu yang kini tengah membersihkan bagian depan ruangan. Heesun-pun mengikutinya dengan maksud untuk kembali membantunya. Tak enak bukan, hanya terdiam, menonton teman yang sedang bekerja?. Itu juga terjadi dalam diri Chanyeol barusan.

Sampai pada akhirnya mereka berdua kini secara bergantian memasukkan sampah ke dalam bak itu namun suasana di antara mereka masih tetap hening. Lagi pula, Heesun masih  berjuang menemukan kata-kata yang bagus untuk diucapkan kepada Chanyeol.

“Chanyeol.. kenapa bahu mu ……….

 Bisa seperti itu?” Heesun menghentikan gerakannya. Dan melanjutkan kata-katanya. “ahhh…. kalau tidak mau dijawab juga tidak masalah…..” Heesun menunjukkan senyum palsu sembari melambaikan tangannya ke kiri dan ke kanan. Ia sedikit merinding ketika melihat Chanyeol yang menatapnya tajam setelah ia mengutarakan pertanyaanya.

“kau selalu ingin tahu” Balas chanyeol dengan nada datarnya.

Heesun menaikkan satu alisnya dan sedikit membuka bibirnya bingung. Apa benar?. Belum sempat ia berfikir lebih dalam lagi, Chanyeol telah lebih dahulu membuyarkan pikirannya.

“kau juga suka ikut campur…”

“itu menggangguku..” dingin, datar, tajam, menusuk, sakit! Yah tepat, perkataan Chanyeol tadi berhasil membuat darah dalam tubuh Heesun berhenti bergerak untuk sesaat. “…maafkan aku.. ” Heesun tertunduk.

“huh.. dan aku ..

Aku benci itu..” jawab Chanyeol kemudian masih tetap melanjutkan aktivitasnya seolah itu tidak penting baginya.

Jika didengar, sebenarnya perkataan chanyeol makna ganda didalamnya. Namun, tetap saja arti dari jawaban itu terkait kebenciannya terhadap dirinya. Disitu Heesun merasakan sedikit sakit didalam hatinya. Kembali.

Aku dibenci..

Dan benar saja, setelah itu tak ada satupun percakapan yang terjadi di antara mereka. Sampai akhirnya mereka telah selesai dengan tugasnya masing-masing dan berniat untuk mengunci pintu ruangan dan segera pulang.

Heesun mengunci pintu ruangan tersebut dan melihat Chanyeol yang masih berdiri di belakangnya dan meliriknya dengan tatapan datarnya. Heesun hanya bisa tersenyum kecil sebelum akhirnya ia membungkuk memberi salam, berjalan mendahului namja itu.

Chanyeol memutar bola matanya ketika melihat anak itu yang baru saja membungkuk di hadapannya yang kemudian berjalan mendahuluinya.

-::-

Ia baru saja tiba di rumahnya. Ia bisa memprediksi bagaimana keadaan rumahnya saat ini. Kontras dengan hari kemarin.. kali ini berantakan.

Lihat saja, pakaian yang masih berada di atas sofa, lalu kemudian setumpukan bekas-bekas mangkuk mie instan di atas meja. Buku-buku yang berantakkan. Ah, sepatu juga..  dan lebih ke dalam lagi bisa ia lihat kamarnya yang benar-benar seperti kapal pecah itu. Benar-benar berantakkan.

Sprei, selimut, bantal seakan baru saja berperang di atas ranjangnya. Beberapa bantal bahkan tergeletak di bawah.

Chanyeol menghela nafas panjang dan melempar tasnya ke sofa sebelum akhirnya ia memungut satu per satu pakaian kotor yang bertebaran itu dan memasukkannya ke dalam keranjang cuci untuk ia kemas lalu membawanya ke laundry. Ia juga memungut sampah-sampah lain yang memenuhi meja-meja disana untuk ia masukkan ke dalam plastic hitam besar lalu meletakkannya di depan gerbang. Selesai dengan itu, ia menepuk-nepuk tangannya yang kotor dan segera berjalan memasuki rumahnya.

Yah setidaknya, sedikit lebih rapi dari pada tadi. Setelah mengganti pakaiannya, ia beranjak untuk membersihkan sedikit ranjangnya  dan menghempaskan dirinya yang benar-benar lelah itu di atasnya. Ia lega, karena kali ini ia tak perlu membalikkan tubuhnya lagi seperti kemarin-kemarin. Bahwasanya lukanya itu telah sembuh dan bahkan mengering.

Ia meletakkan tangan kirinya tepat diatas dahi dan memejamkan matanya. Namun tiba-tiba saja ia merasakan sebuah getaran pada ponselnya  sehingga membuat acara istirahatnya itu terganggu.

Ia berdecak dan menekan kunci layar pada ponselnya. Matanya menemukan sebuah pesan singkat disana ,lalu  membukanya.

Apa kabar pangeran.. lama tak berjumpa..

Aku dengar , kau kemarin menang melawan Bang ,

Hahaha aku tau kau akan bisa… tapi aku ragu, kalau kali ini kau akan menang melawanku…

 

Hari ini jam 23.00

Dahh.. uri jal saeng-gin wangja ..

From : Hyunggi

Ia membaca kalimat akhir pada pesan itu. Chanyeol hanya bisa menghempaskan kembali tubuhnya. Bisa dibilang ia tak banyak berkomentar tentang pesan itu, karena pesan-pesan seperti itu sangat familiar diotaknya,seperti bagian dari kesehariannya, dan tentu saja ia menerima tantangan-tantangan seperti itu, untuk kemudian ia kembali menang lalu mendapatkan sejumlah uang yang ditaruhkan.

Ia menyeringai … betapa dangkalnya hidupnya itu.

Hidup ditengah para gangster , dengan taruhan , dan perkelahian. Ia sendiri sadar akan apa yang telah dibuatnya. Ia sadar betapa buruknya dirinya saat ini. Ia sadar ketika dirinya dipandang buruk oleh orang sekitar. Ia bahkan sadar ketika dirinya memang salah langkah.

Namun ia punya alasan..

Saat umurnya menginjak delapan tahun , keluarganya tertipa masalah besar hingga bisnis ayahnya bangkrut. Mendengar berita itu, ayahnya menjadi stress dan frustasi, hingga mempengaruhi jiwanya dan dalam sekejap, ayahnya berubah menjadi sosok yang kejam. Karena kekejamannya itu, rumah tangga mereka retak. Tuan dan Nyonya Park bercerai.

Dan disaat itu, ibunya juga meminta hak asuh Chanyeol. Namun ayahnya menolak. Ibunya telah melakukan berbagai upaya, namun hasilnya tetap sama. Alhasil, ibunya terpaksa mengalah dan pergi meninggalkan mereka atas ancaman yang diberikan ayahnya, namun ibunya tak benar-benar meninggalkan Chanyeol. Ia meninggalkan sebuah janji dimana mereka akan bertemu kembali dan disaat itu Chanyeol hanya bisa mengangguk dan menunggu kapan itu.

 Hingga pada suatu hari, ayahnya itu mendapatkan kembali hartanya berkat salah seorang yang dikenalnya, membuat dirinya dan ayahnya itu kembali ke kehidupan semula. Namun semua memang berubah, dimana ayahnya menikah kembali dengan seorang janda kaya raya berputra satu, pekerjaan ayahnya yang kini berubah, dan juga sikap ayahnya yang lebih gelap dan buruk dari sebelumnya.

Dan lagi , semua kasih sayang yang seharusnya ia terima itu telah berpindah kepada saudara tirinya. Seutuhnya telah pergi.

Ia merasakan disaat dirinya ditinggal untuk berlibur, dirinya yang diabaikan, dirinya yang selalu dikambing hitamkan dan bahkan ia lebih memilih untuk bersembunyi dibawah meja makan ketika ada acara keluarga sedang berlangsung.

Itu masih berlangsung sampai umurnya yang sudah menginjak empat belas tahun, ia mendengar ayahnya yang selalu membanding-bandingkan dirinya dengan saudara tirinya. Baik dari segi apapun. Hingga itu membuatnya patah semangat, nilainya menurun, dan dia menjadi pendiam.

Ia juga sering menerima kekerasan fisik, hingga membuatnya memutuskan untuk kabur dari sana. Ia masih memegang janji ibunya itu,namun ibunya tak kunjung memberi kabar, entah dimana beliau sekarang.

Dengan luka memar dimana-mana, dan darah segar yang  tersisa disudut bibir itu (karena sempat bertengkar dengan ayahnya sebelumnya), ia menelusuri dinginnya malam ditemani dengan tas kecil yang hanya berisi beberapa pakaian.Yah, Dia kabur. Ia terus melangkahkan kakinya, melewati tiap lampu-lampu kota, melihat orang-orang malam yang berlalu  lalang, dan juga bau musim gugur yang terasa setiap kali dirinya menghirup udara. Dengan pikiran yang penuh itu, ia berjalan dengan kepala tertunduk, membuat dirinya tidak terlalu memperhatikan jalan dan membuat dirinya sempat bertubrukan dengan beberapa orang.

hingga pada akhirnya, waktu yang semulanya tengah malam itu kini telah berubah menjadi subuh, ia sampai ditempat tujuannya.

Ia memandang gerbang besar coklat itu dengan penuh harapan walaupun matanya yang kini terlihat suram. Bibirnya sangat perih akibat terlalu kering dan juga telinga beserta hidungnya yang sudah tak tahan akan dinginnya udara waktu itu. Tangannya yang lemas itu berusaha menekan bel dan semoga saja dirinya tak dikira orang gila oleh tetangga karena menekan bel dihari yang masih sangat pagi itu.

Akhirnya pintu tersebut terbuka, tersusul oleh seorang wanita yang memakai piama dengan jaket tebal diluarnya. Wanita tersebut tampak kaget dengan siapa yang telah menekan bel rumahnya,dan membuatnya membuka lebar mulutnya tak percaya.

Chanyeol sangat lega melihat siapa yang muncul didepannya itu, namun kakinya sudah tak mampu lagi untuk menopang tubuhnya dan matanya sudah sangat berat ditambah dengan tiba-tiba saja,  cahaya putih memenuhi indera pengelihatannya dan detik itu juga,

Ia jatuh pinsan.. namun sebelumnya ia sempat berbisik  “Bibi kim……..” kepada wanita itu. setelah itu ia tak sadarkan diri.

‘’’

Chanyeol terbangun. Tak sadar dua jam sudah ia tertidur, dan kini ia telah melihat jamnya yang menunjukkan jam tujuh malam. Menyadari itu, ia segera bangun dari tidurnya dan berjalan untuk mandi, mungkin saja setelah mandi ia akan dapat meredakan sedikit rasa capeknya. Akhir-akhir ini, entah mengapa ia merasa staminanya cepat berkurang hingga membuatnya mudah lelah. Ia bahkan tertidur lebih lama dari biasanya.

Setelah berpakaian, Chanyeol mengambil segelas Cappucino yang baru saja ia buat , berharap setelah meminumnya ia akan dapat bergadang untuk beberapa lama. Ingat bukan, bahwa malam ini ia memiliki jadwal?

Sunyi.. memang, setiap hari yang didengarnya adalah suara pergerakannya sendiri dan hembusan angin yang berkunjung dirumahnya. Ia menatap kosong keadaan rumahnya yang sunyi senyap bagai kuburan itu.

Namun , agar dirinya tak begitu hanyut dalam memikirkan keadaannya itu ,Ia segera meneguk Cappucino nya cepat dan mengambil kunci motor sebelum akhirnya ia menghilang dibalik pintu utama .

Tepat satu jam sebelum pertandingan mulai, ia telah sampai di tempat pertandingan itu. tepat di sebuah jalan besar yang sepi. Namun ramai akan motor balap yang terparkir beserta anak muda yang sedang menikmati malamnya disini. Ia membawa dirinya mendekat ke salah seorang yang dikenalnya dengan ekspresi pokerfacenya itu. belum saja tubuhnya itu tepat berada dibelakangnya, orang itu telah menyadari keadaan Chanyeol dan menyapanya. Dialah Hyunggi

Kim Hyunggi merupakan salah satu saingannya dalam dunia ini. Memang, ketika bertemu Hyunggi selalu menyapa dan tersenyum. Namun itu semua palsu. Penuh kebencian dibaliknya. Chanyeol tentu menyadarinya.

“halo.. pangeran!” sapanya. Ia tengah duduk diatas motornya sembari dikelilingi oleh gadis-gadis cantik dengan pakaian minim. Chanyeol tidak merespon ucapannya.

“bersantailah.. masih ada satu jam lagi…ckckck” Hyunggi kembali bersuara dengan nada khasnya yang selalu terdengar meremehkan. Ditambah lagi dengan kebiasaannya memainkan salah satu alisnya ketika berbicara.

Chanyeol mengalihkan pandangannya ke arah anak lainnya yang kini mengadakan battle dance dan hanyut dalam irama musik. Namun sayangnya telinganya masih dapat mendengar jelas suara gadis-gadis didekatnya yang sedang merengek- rengek kehadapan Hyunggi.

Mendengar itu semua telinga Chanyeol terasa sakit, dan dirinya mual mendadak.

“oppa.. siapa dia? dia keren…. Kenalkan aku padanya oppa” rengek gadis itu kehadapan Hyunggi. Tentunya yang dimaksudnya oleh gadis itu tidak lain adalah Chanyeol. Dengan manja, gadis itu bergelayut dipelukannya dan menyentuh leher Hyunggi. Hyunggi hanya terkekeh pelan ketika melihat gadis-gadis lainnya  mengajukan dirinya, melakukan hal yang sama dengan gadis yang pertama itu.

Chanyeol sendiri memutar bola matanya menilai rendahnya mereka. Disedang-sedangnya ia berusaha mengalihkan perhatian, Hyunggi justru memanggilnya dan menawarkan sebuah kotak kecil yang berisi beberapa benda kecil. Itu adalah beberapa batang rokok yang masih tersisa dalam bungkusnya.

“mau?”Hyunggi menawarkan, Chanyeol mengambil salah satunya dan menangkap sebuah korek gas yang dengan tiba-tiba saja dileparkan oleh Hyunggi kepadanya. Ia pun menghidupkan rokok tersebut yang telah berada dibibirnya. Sepertinya ia telah paham bagaimana cara menggunakan rokok tersebut, hingga sampai saat ini ia belum tersedak atau batuk sama sekali.

Chanyeol,Rahangnya mengeras ketika menyadari lengan kirinya kini sedang dipeluk seseorang sembari mengeluarkan suara manjanya yang benar-benar menjijikan ditelinganya.
“oppa.. mau kutemani sebentar?” ternyata seorang gadis yang tadi sempat bersama Hyunggi, beralih mencari Chanyeol.

Chanyeol menatap yeoja itu tajam dan membuang puntung rokoknya. Namun ia menyeringai, seringaiannya itu benar-benar mematikan. Tapi itu disangka jawaban oleh gadis itu.

“jadi.. oppa mau?”ucap gadis itu yang sedang menggerak-gerakkan telunjuknya di dagu milik Chanyeol. Seringaian Chanyeol semakin menjadi-jadi dan dibalas senyum nakal dari gadis itu dengan berasaan bangganya.

“hh… kau kira.. aku akan tergoda oleh gadis menjijikkan sepertimu?…….. pergi”Chanyeol menghempaskan begitu saja pelukan gadis itu dengan keras hingga membuat gadis itu mundur beberapa langkah. Chanyeol membalikkan badannya beralih untuk tidak memperdulikan gadis itu.

Meninggalkan gadis itu yang sebal akan tingkahnya.

‘’

Lampu-lampu kendaraan menyala terang. Suara starter motor mereka terdengar memenuhi jalur sepi ini. Mereka saling menyeringai dan meremehkan satu sama lain. Terkecuali Chanyeol yang justru terfokus dalam satu titik namun tak memandanngnya serius,pandangannya mengambang.

Semua pandangan peserta teralih ketika seoran gadis yang ‘wah’ itu mulai menggerakkan bendera hitam putih tanda pertandingan akan mulai 3 detik terakhir. Dan pada saat itu juga, Chanyeol bisa melihat Hyunggi yang berada disampingnya menyeringai kearahnya dan membalikkan ibu jarinya kearah bawah, meremehkan. “kau akan kalah” ucapnya namun suaranya tenggelam dengan suara motor yang benar-benar berisik itu. tetapi Chanyeol dapat menangkapnya dengan melihat mimic wajahnya itu.

Dan akhir hitungan, mereka telah melesat saling berlomba untuk menjadi posisi utama. Mereka sudah berada di garis kecepatan tinggi namun ada satu yang kini memimpin. Yaitu Chanyeol. Ia terfokus pada jalannya karena jika sekali saja ia tak konsentrasi bisa saja posisinya itu tersebut atau buruknya bisa saja ia keluar jalur dan mengalami kecelakaan.

Ia melihat dari kaca spionnya Hyunggi kini menyusul di posisi kedua dan ada seorang lagi dengan pakaian serba hitam berada dibalik Hyunggi. Ia tak pernah ingat bahwa ada pembalap disini yang terlihat seperti orang itu. Namun ia tak begitu memikirkannya.

Hingga satu tikungan lagi, ia akan berhasil memenangkan ini. Ia puas ketika melihat bahwa keadaan belakangnya kosong. Ia memimpin dan…..

Brakk…

Chanyeol terpental dan terguling jauh diaspal. Motornya terseret kepinggiran arena. Ada seseorang yang tadi sengaja menendang ban belakangnya dengan keras, sehingga membuatnya kehilangan keseimbangan dan terpental begitu saja.

Chanyeol merasakan tangannya yang amat sakit akibat tergores aspal dan mengeluarkan banyak darah. Kaos biru yang sebelumnya ia pakai kini telah robek bagian lengan kanannya dan menyisakan lecet keras disana. Pipinya pun tergores aspal hingga mengeluarkan darah namun tak banyak. Dan untung saja tak ada yang terjadi pada kepalanya walau helmnya itu terlepas dari kepalanya.

.

Dengan masih tersisanya tenaga itu, Chanyeol berusaha bangun walau sakit di tubuhnya itu semakin menjadi jadi ketika otot-ototnya berkontraksi. Ia menggunakan punggung tangan kirinya untuk mengusap darah yang masih keluar disekitar wajahnya. Tetapi ia justru menyeringai, bukan tindakan yang tepat bukan?

Itu karena ia mengerti, ia tahu bahwa ini merupakan sebuah sekrenario yang sengaja dibuat untuk membuatnya kalah. Mungkin juga untuk membuatnya menjadi seperti ini. Namun, seringaiannya itu lebih ia tujukan kepada keadaannya yang saat ini,yang benar-benar menyedihkan.

Ia tak menghiraukan banyaknya peserta lomba yang telah melesat melewati dirinya. Meninggalkan hembusan angin dan kepulan asap mesin yang membuat pernafasannya semakin sesak dan matanya menjadi perih.

Disisi Lain, Hyunggi yang baru saja mendahului Chanyeol mengembangkan senyumnya ketika melihat Chanyeol yang terbaring diaspal lewat kaca spion motornya. Ia lah yang memenangkan pertandingan ini. Seperti yang diduga bahwa pastinya ia menggunakan cara yang curang.

Angin berhembus begitu saja. Chanyeol berjalan meninggalkan arena itu dan meninggalkan motornya sebagai bayaran. Ia tak peduli lagi dengan apa yang dikatakan orang-orang yang saat ini melihatnya penuh luka itu berjalan ditengah keramaian.

Ia sama sekali tak berniat untuk kerumah sakit untuk mengobati luka-luka itu. ia justru memilih untuk kerumahnya dan membersihkan luka-lukanya sendiri dengan seadanya. Bahkan ia juga tidak berniat untuk datang kembali kerumah Kai untuk meminta bantuan. Entahlah.. ia merasa moodnya goyah jika saja ia tak berjalan kerumahnya.

Pelan sekali, Chanyeol merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Ia sudah berjuang untuk menahan  rasa perih ketika ia membersihkan lukanya sendiri. Itupun belum tuntas. Ia tak peduli lagi dengan sisanya, karena ia sudah terlalu lelah dan ingin sekali tidur sekarang.

Namun dengan tak rela ia kembali membuka matanya saat merasakan angin malam berhembus kekamarnya. Ia ingin menutup jendela kamarnya yang tengah tertutup itu. tetapi geriknya terhenti ketika ia mencium aroma musim gugur itu lagi bersamaan angin berikutnya yang berhembus. Ia juga melihat lewat jendela besarnya itu , pohon-pohon yang daunnya berubah coklat dan tampak mati suri. Disanalah ia menyadari musim gugur sudah resmi terjadi.

Sayangnya.. musim gugur itu sendiri membawa kenangan yang mendalam untuknya..

TBC

Next to chapter 4

Hai kawan, -_-v. Sempet dikritik sama sunbaenim dan teman-teman ku kalau fanficku rada freak karena banyak typonya dan tulisannya kurang rapih. Mohon maaf ya kawan, aku memang ceroboh. Tapi aku bakal berubah J, jangan kapok mengikuti ceritanya ya, and… RCL 😉

746

Iklan

10 pemikiran pada “Dusk (Before the Night) (Part 3)

  1. hwaaaaa trnyata Chanyeol broken home beneran. selalu dibedakan, mendapt kekerasan fisik, ditingglkan, tak dihiraukan, tak dipedulikan, kasian Chanyeolnya pnts dia dingin banget.
    truss ngomong2 Jung Hae itu sbnrnya sifatnya gmna sih? abis gak prng digambarn orngnya kyak gmna.

    next update ditunggu
    fighting 🙂

    • thanks chingu atas segala komentarnya, aku liat kamu selalu muncul, terimakasih.

      suji bakal jawab tentang jung hea, (Jung Hae A lho ya namanya. but disingkat Jung Hea)
      dia bakalan menjadi satu karakter yg keluar di chapter2 selanjutnya. cerita ini sejujurnya cukup ‘rumit’, dan suji bakal mempertanggung jawabkannya.

      jangan kapok untuk selalu mensupport cerita ini ya.
      xie xie

  2. Keren thooor , ceritanya seru
    Pergi aja k tempat kai apa salahnya solih chan? Kan ga rugi. Ntar tangan lu infeksi baru tau rasa hihihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s