Unfathomable Friends (Chapter 1)

Unfathomable Friends Poster

Judul : Unfathomable Friends

Author : autumndoor

Genre : Romance

Length : Multi Chapter

Rating : PG-17

Cast :

You (Park Min Gi), Luhan, Byun Baekhyun, Do Kyungsoo, Park Chanyeol, Oh Sehun, OC (Kim Hyemi)

Deskripsi :

Luhan, seseorang yang mengalami phobia terhadap ketinggian namun memiliki banyak alasan untuk disukai para yeoja. Disisi lain Byun Baekhyun yang selalu merasakan perasaan yang rumit terhadap sahabatnya dan Do Kyungsoo seseorang yang sedang mengalami tahun-tahun tersulit di universitas, yang selalu mengalami masalah dengan kepercayaan diri.

Prolog:

Ini adalah tahun terakhirku di Universitas, beberapa langkah lagi untuk menjadi seorang Jurnalis. Demi memenuhi keinginan orang tuaku, aku meninggalkan China untuk melanjutkan pedidikan di Korea. Aku tidak pernah berpikir akan bertemu seseorang yang menjadi cinta pertamaku setelah betahun-tahun menghilang dan kisah cinta pertama yang tertunda pun kembali dimulai.

Part 1

Coincidental Meeting

Hari ini dipastikan menjadi hari yang berantakan bagiku, setelah semalam suntuk mengerjakan tugas dari Choi-nim sekarang aku diambang keterlambatan masuk ke kelasnya. Bis dipastikan sudah lewat di daerah sekitar apartemenku, kelas Choi-nim akan dimulai pukul 08.30, 30 menit dari sekarang, hari ini aku tidak bisa meminta Baekhyun pergi bersama ke universitas, jadwal kami berbeda dipastikan Baekhyun masih meringkuk diatas tempat tidurnya. Aku berlari menuju perempatan jalan berharap menemukan taksi. ‘Ah, Terimakasih Tuhan’ gumamku dalam hati setelah sebuah taksi berhenti di depanku.

Segera setelah turun dari taksi yang sudah menyelamatkanku aku berlari menuju kelas, melewati kira-kira 3 gedung perkuliahan jurusan lain dan akhirnya sampai di gedung perkuliahan jurusan ilmu komunikasi, beberapa teman yang menyapaku di lorong bahkan aku abaikan, beruntung kelas Choi-nim berada di lantai 1 sehingga energiku tidak habis untuk menaikki tangga. Kulirik jam tangan di pergelangan tangan kiriku ‘Omona! 5 menit lagi’. Aku menaikkan kecepatan berlariku, sampai akhirnya..

‘Bruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuk’

Seseorang menabrakku dari arah berlawanan, oh tidak beberapa kertas hasil kerja kerasku semalam berceceran di lantai, ‘sial !’. Aku sama sekali tidak peduli siapa orang yang telah menabrakku atau yang ku tabrak karena sepertinya padangan ku tidak fokus akibat tidur terlalu larut, kertas-kertas tugasku menjadi benda yang sangat berharga saat ini, dengan segera kuambil satu persatu kertas yang tercecer di lantai, ‘ah 2 menit terakhir’ aku melirik jam tanganku, aku segera berdiri dan berlari menuju kelas tanpa memperdulikan tatapan orang yang bertabrakan denganku, aku hanya melihatnya sekilas bahkan tidak meminta maaf.

Suasana ruang kelas terasa horror bagiku, Choi-nim duduk di meja depan dengan kacamata yang hanya dikaitkan di bagian tengah hidungnya. Aku berjalan menuju mejanya menyerahkan tugasku padanya dan berbalik arah mengedarkan pandanganku kesetiap bagian ruangan mulai mencari tempat duduk yang kosong. Ya, hanya tinggal 1 disini tepat di depanku dan didepan Choi-nim, ini benar-benar hari yang menyeramkan.

2 jam 30 menit aku berusaha menahan rasa kantukku didalam kelas, Choi-nim akan memberi nilai terburuk bagi setiap mahasiswa yang tertidur di kelasnya, ancaman yang mampu membuatku bertahan. Setiap penjelasan yang dikemukakannya seperti angin lalu bagiku, kurasa tak ada satupun kata yang hinggap di otakku, kecuali saat Choi-nim tiba-tiba menghampiriku, menatapku dengan tatapan menyeramkannya dan bertanya, “Nona Park, mengerti dengan apa yang kujelaskan?”.

Aku membeku, Choi-nim pasti menyadari ada dimana pikiranku sekarang meskipun mataku tetap memandangi bagan yang telah ia buat di papan tulis. Lost minditulah yang kurasakan sekarang, aku menghembuskan nafasku mencoba menenangkan diri, dan hanya menjawab “Ne, seongsangnim”. Beruntung jawaban dariku pada Choi-nim menjadi momen terakhir untuk kelas hari ini sehingga dia tidak akan menjeratku dengan pertanyaan-pertanyaan yang lain.

***

“Hey, Mingi-ah kau baik-baik saja?” Hyemi baru saja mengambil sandwich dan segelas jus jeruk dari salah satu kedai di cafetaria dan duduk tepat dihadapanku.

“Buruk, aaaaaaah aku butuh tidur” jawabku frustasi. Aku sama sekali tidak mengubah posisiku sejak pertama kali datang ke cafetaria, menenggelamkan kepala diatas tumpukan kedua lengan diatas meja, kepalaku rasanya memiliki beban sepuluh kali lipat sekarang hingga mataku pun tidak dapat mentolerannya, mataku terpejam sejak tadi mungkin aku tidak akan bangun jika Hyemi tidak datang dihadapanku. Tetapi kedatangan Hyemi sama sekali tidak membuat meninggalkan alam mimpiku. Sebelum seseorang datang menghampiriku..

“Putri tidur bangunlah! Sebelum aku suruh petugas keamanan menciummu” Baekhyun berbisik padaku sembari melingkarkan tangannya di pundakku dari belakang.

Aku terbangun dari tidur singkatku untuk kedua kalinya, mengangkat kepalaku sambil mengucek kedua mataku, mencoba memfokuskan pengelihatanku, kulihat cafetaria tidak seramai biasanya, beberapa bangku kosong di hadapanku dan tidak banyak mahasiswa berseliweran disini. Aku mengalihkan pandangan pada jam dinding besar di tengah-tengah cafetaria, aku hanya tertidur kurang lebih 20 menit sejak pertama aku datang ke tempat ini tepat kelas Choi-nimselesai.

“Ya! Byun Baekhyun, mengapa kau membangunkanku? Ini bahkan belum tengah hari! Lihat ini baru jam 11 siang!” Aku berbicara pada Baekhyun setengah berteriak, bisa-bisanya dia membangunkan tidurku yang baru sebentar padahal dia tahu aku hanya tidur 1 jam semalam.

“Ya Tuhan, Park Min Gi kau akan mempermalukan dirimu sendiri tidur di cafetaria, oh kau sangat menyedihkan seperti seorang gadis remaja patah hati yang tidak tidur semalaman karena menangisi kekasihnya, oh-“

“Oh, bahkan kau tidak berterimakasih padaku ha? Semalam aku membuang waktu mengerjakan tugasku beberapa jam hanya untuk membantumu menerjemahkan bahasa mandarin, Aish kau ini benar-benar tidak tahu berterimakasih!” Tanganku menggebrak meja cafetaria yang sedang kami tempati sambil menatap Baekhyun dengan penuh emosi.

“Min Gi-ah, sahabatku tersayang, bahkan kau tidak harus memintaku berterimakasih” Baekhyun mencondongkan kepalanya kearahku dan menatapku. “Aku punya sesuatu untukmu, Ta Daaaaaaa…..” Sebuah kotak kecil berwarna silver ia keluarkan dari tasnya, kemudian dia beranjak dari kursinya kemudian berjalan ke tempat  kosong disebelah kursiku dan berlutut disampingku.

With my pleasure i give this for my sleeping beauty” Baekhyun menatapku dengan ‘puppy-eyes’ nya dan tersenyum manis padaku. Aku bersumpah jika para ‘fangirl’ Baekhyun ada disini mereka akan menelanku detik ini juga.

Byun Baekhyun, ketua klub musik universitas dengan kemampuan olah vokal diatas standar membuatnya sering mengisi berbagai acara di universitas, suaranya mampu membuat setiap gadis yang mendengarnya meleleh. Selain itu Baekhyun memiliki penampilan yang menarik, ia selalu menggunakan eyeliner, hanya untuk membuat matanya memiliki ‘double-eye-lid’, tidak membuatnya menjadi seperti namja dengan gothic atau emo styledan sial dia terlihat semakin tampan dengan itu. Jadi kiranya itulah yang membuat Baekhyun memiliki banyak ‘fangirl’.

“Woaaaaaaaaah, Baekhyun kau memberinya hadiah? Apa kau mempersiapkan sesuatu untukku juga?” Hyemi hampir tersedak karena mulutnya yang masih dipenuhi sandwich.

“Hyemi, aku sama sekali tidak ingin mencari masalah dengan seseorang seperti Oh Sehun, kau mengerti?” Baekhyun berdeham dan mengalihkan pandangannya ke arah Hyemi.

“Hentikan Baekhyun,  bangunlah! Kau membuat malu.” Aku menarik lengan baekhyun untuk duduk di tempatku, sementara aku bergeser ketempat duduknya yang semula.

“Malu? Wae? Kau seharusnya merasa beruntung mendapat perlakuan seperti ini dariku” Baekhyun memprotes kata-kataku sambil beranjak bangun dari kursinya.

“Jika kau bukan sahabatku, aku akan menendangmu sekarang juga! Duduk! Diamlah, ini perintah!” Aku menarik lengan Baekhyun agar dia duduk di tempat nya kembali dan menginjak sneakersnya dengan sepatuku.

Akhirnya Baekhyun menuruti permintaanku, sekarang dia duduk manis disebelahku tampak seperti anak sekolah dasar sehabis dimarahi gurunya. Tanpa banyak bertanya kuraih kotak silver yang masih ada dalam genggaman Baekhyun dan segera kubuka. Hyemi tak pernah meninggalkan pandangannya dari hadiah yang Baekhyun berikan padaku, aku jamin Hyemi penasaran dengan isinya.

“Baekhyun, ini…. gelang?” Aku memegang benda pemberian Baekhyun dengan jempol dan jari telunjukku dan memerhatikannya dengan seksama.

“Tentu saja bodoh, jika itu kalung diameter lehermu akan sekecil itu daaaan kau mungkin terlihat seperti jerapah” Baekhyun tertawa, mungkin dia sedang membayangkan jika aku menjadi seekor jerapah sekarang.

“Baekhyun kau tidak adil, kau memberikannya gelang dan kau tidak memberiku apa-apa, ah Byun Baekhyun kau sangat menyebalkan” Hyemi mengerucutkan bibirnya dan menatap Baekhyun kesal.

“Kim Hyemi kau sama sekali tidak lucu!Kau dapat meminta 1000 gelang seperti itu pada Sehun” Timpal Baekhyun sembari menekankan jari telunjuknya di kening Hyemi.

“Gomawo-yo Baekhyun” Aku merangkul bahu Baekhyun dengan tangan kiriku dan tersenyum padanya. Sebenarnya yang kulakukan hanya untuk membuat Hyemi semakin kesal, Hyemi seringkali masih menunjukkan sifat kekanak-kanakannya di depan kami, itu membuat kami  ingin membuatnya semakin kesal dan hal seperti ini hanya kami lakukan ketika kami tidak bersama Sehun.

“Ah akhirnya kau yang pertama mengucapkan terimakasih padaku” Baekhyun mengejekku “Min Gi, ini adalah ini gelang keberuntungan. Kau harus tahu gelang ini tidak aku dapatkan dengan mudah, aku meminta Ayahku membelikannya untukku saat dia berada di Paris, jadi jagalah dengan baik” ucap Baekhyun sembari memasangkan gelang tersebut di pergelangan tanganku. Tidak dapat dipungkiri selain tampan dan pandai bernyanyi Baekhyun juga berasal dari keluarga yang kaya raya.

“Baekhyun, kau harus lebih sering berbuat seperti ini padaku dibanding mengejekku dengan leluconmu yang murahan”  Aku melirik kearah Baekhyun diiringi senyuman lebar.

Aku, Hyemi dan Baekhyun akhirnya melanjutkan kegiatan yang seharusnya kami lakukan di cafetaria, ya makan siang.

***

Aku, Hyemi dan Baekhyun berteman sejak kami masuk universitas. Kami berada di kelompok yang sama ketika masa orientasi. Aku mengambil jurusan Ilmu komunikasi, Hyemi Manajemen dan Baekhyun Seni. Kita memiliki kepribadian dan ketertarikan akan suatu hal yang sangat berbeda, tapi itu tidak menjadi masalah, kami selalu membantu satu sama lain seperti aku yang membantu Baekhyun menerjemahkan bahasa mandarin, Hyemi membantuku mencarikan buku-buku yang aku perlukan di toko buku Ayahnya, dan Baekhyun yang selalu menghibur kami dengan lelucon nya yang kukatakan murahan itu tetapi tetap menjadi bahan tertawaan kami. Anggota gang kami bertambah setelah Baekhyun memperkenalkan kami dengan temannya, Park Chanyeol dan Oh Sehun. Chanyeol ada dijurusan yang sama denganku sementara Sehun ada dijurusan yang sama dengan Baekhyun. Mereka berada 1 tingkat diatas kami, tapi semua sama saja bagiku dan Hyemi, hanya kadang-kadang kami memanggilnya dengan panggilan ‘sunbae’ atau ‘oppa’ selebihnya kami sering memanggil nama satu sama lain dengan ejekan. Kecuali Hyemi yang selalu memanggil Sehun dengan panggilan ‘oppa’ karena mereka sudah berkencan selama kira-kira 3 tahun ini.

***

Aku berjalan di lorong universitas, menuju parkiran bersama Baekhyun, Hyemi sudah meninggalkan kami beberapa menit lalu karena sang kekasih ‘Oh Sehun’ meminta Hyemi menemani latihan dancenya.

“Tunggu” Baekhyun menghentikan langkahnya, mengambil handphone nya yang berdering di dalam saku matelnya, kemudian menatapku heran.”Hey, apa yang kau lakukan? Kau meneleponku disaat kita sedang bersamaan, oh kau sungguh-“

“Hey, aku sama sekali tidak melakukan apa-apa disini” Aku menjawab enteng, sebelum menyadari suatu hal.

“Ya Tuhan Baekhyun, handphoneku, handphoneku” Aku berjongkok, menjatuhkan tas ku diatas lantai,  merogoh setiap celah isi tasku yang berantakan, kemudian saku celana dan mantelku. Tidak ada, handphoneku tidak ada “Baekhyun cepat angkat teleponnya!” Perintahku, karena sebelumnya Baekhyun hanya memandangiku dengan wajah polosnya, ah Baekhyun memang kurang peka tehadap situasi semacam ini.

“Yeobseo? Nugu-ya?” Baekhyun mulai berbicara dengan seseorang yang memegang handphoneku sekarang. Aku menghentikan kegiatanku (memasukan barang-barang kedalam tasku).

“Mwo?” Baekhyun mengangkat sebelah alisnya kemudian melanjutkan berbicara “Byun Baekhyun, itu namaku”. Baekhyun melepaskan handphone dari telinganya kemudian menatapku dengan tatapan tajam “Min Gi! Siapa yang memberimu izin menamai kontakku dengan nama ‘Crazy Byunrapper’ Ha?”

Ah aku tertangkap basah, aku menyimpan nomor Baekhyun di speeddial nomor 1, nama itu aku berikan karena Baekhyun yang selalu mengikuti gaya rapper terkenal di klub musik Universitas, Kris Wu. Dia sangat membenci panggilan itu karena dia pikir dia tidak mengidolakan Kris, tapi disisi lain dia melakukan latihan rap seperti yang Kris lakukan, bahkan membeli jaket dan topi dengan brand yang sama dengan Kris. Selain itu dia memang seperti orang gila karena setiap tingkah laku nya yang sama sekali tidak dapat di prediksi.

“Baekhyun, tolong katakan pada seseorang yang sedang berbicara denganmu itu untuk mengembalikan handphoneku, jebaaaaaaaaal” Aku bergelayut di lengan Baekhyun dengan tatapan memohon.

“Ani!” Baekhyun menggelengkan kepalanya.

“Byunnie, jebaaaaaal, kau sangat tampan sekali hari ini” Aku melepaskan tanganku dari lengannya dan memegang pundaknya dengan kedua tanganku.

“Aniya!” Baekhyun berteriak tepat di depan wajahku.

“Byunnie aku akan membelikanmu eskrim, bubble tea, sandwich, burger jebaaaaal” Kuturunkan tanganku dari pundaknya, dan mulai mencari cara mengambil handphonenya dari tanganya. Perlahan tanganku mendekati handphone yang sedang dipegangnya.

“Aniyaaaaaaa!” Baekhyun berteriak dan menjauhkan handphonenya dari tanganku.

“Omo! Baekhyun! Lihat dia mematikan panggilannya, Baekhyun bagaimana jika ia tidak mengembalikannya? Baekhyun kau tahu aku bahkan tidak punya cukup uang untuk membeli yang baru, Baekhyun kau keterlaluan” Aku mulai gusar dan menatap Baekhyun kesal, aku ingin sekali memukulnya sekarang, tapi jika itu aku lakukan hanya akan memperburuk suasana.

“Minta maaf padaku, aku akan menelponnya balik” Baekhyun menatapku dengan tatapan mengejek.

Aku dan Baekhyun mudah sekali bertengkar akibat hal-hal yang kecil sekalipun. Baekhyun selalu menyebalkan, aku yakin dia juga memberi nama yang  aneh pada kontakku. Kali ini aku terpaksa harus menuruti keinginan namja cerewet ini. Aku melangkah mendekatinya, menatapnya dengan tatapan bersalah kemudian memeluknya dan berbisik “Mianhae, Byunnie saranghae” Aku menahan tawa, aku tidak percaya bahkan aku harus melakukan hal seperti ini untuk meminta maaf padanya.

“Apa yang kau lakukan? Aku tidak meminta kau memelukku” Baekhyun melepaskan pelukanku kasar.

Aku menatapnya sinis “Cepat telepon, Baek!”

***

“Ah, ne. Aku akan kesana menemuimu sekarang. Gomawo.” Perkataan terakhir yang kudengar ketika Baekhyun berbicara dengan seseorang yang menemukanhandphoneku ketika aku melanjutkan memasukkan barang-barangku kedalam tas.

“Kajja, Handphonemu ada di Gymnasium” Baekhyun menarik pergelangan tannganku dan aku berjalan mengikutinya.

Seseorang duduk di bangku di depan ruangan Gymnasium, menggunakan mantel hitam, celana jeans berwarna gelap yang cocok dengan warna mantelnya, dan tas slempang berwarna hitam berbahan dasar kulit diatas pahanya. Rambutnya berwarna coklat tua seperti kepunyaan Chanyeol, dia terlihat tampan walaupun hanya dilihat dari samping, kurasa dia lebih tampan jika aku melihatnya dari depan. Tidak ada tanda-tanda adanya orang lain di tempat itu, kupastikan dialahorang yang menemukanhandphoneku.

“Anyeonghaseyo” Sapaku sembari membungkuk di depannya. Mungkin sedikit mengagetkannya yang sedang melamun menatap lapangan ruang gym. Sementara Baekhyun hanya terdiam dibelakangku tanpa ekspresi yang bisa dijelaskan.

“Anyeong….. Ah kau” Namja tersebut berdiri dari posisinya semula. “Min Gi? Park Min Gi?” Dia menatapku dengan senyum sumringah. “Aku benar, kau benar-benar Min Gi” Dia melanjutkan kata-katanya penuh semangat, berjalan mendekatiku kemudian berhenti didepanku dengan jarak yang cukup dekat denganku sehingga aku dapat memandangi wajahnya dengan jelas.

Sekarang dia berdiri tepat di depanku, aku memandanginya dengan seksama sambil mencari beberapa memori tentang namja tersebut di otakku, aku membeku ketika mulai menyadari siapa namja ini, jantungku berdegup lebih cepat dari sebelumnya, aku menunduk beberapa saat untuk menghindari tatapannya sebagai bentuk antisipasi jika aku menunjukan reaksi berlebihan. Beberapa detik berlalu aku menatapnya kembali dan mulai membuka mulutku yang sebelumnya terkunci rapat “Luhan”.

“Min Gi-ah,  sungguh aku tidak percaya kita bertemu disini” Luhan tersenyum sambil mengangkat tangan nya, mengarahkannya jari telunjukknya ke depan wajahku  sebagai bentuk ekspresi ketidakpercayaannya. Dia membuka lengannya lebar mengundangku kedalam pelukannya “Come in! I miss you so much Digimin!”

Aku membeku seperti beberapa saat sebelumnya, mungkin lebih lama dari sebelumnya sehingga  Luhan menjatuhkan kedua lengannya karena aku tak kunjung datang kedalam pelukannya, “Min Gi-ah kau tidak merindukanku? Hampir 6 tahun kita tidak bertemu” Luhan menatapku kecewa.

“Luhan” Aku berdeham kemudian  memeluknya erat “Kau sangat berbeda aku bahkan tidak mengenalimu saat pertama kali kita bertemu, i miss you tooooooooooooooo“.

“Min Gi-ah, aku sudah mengenalimu sejak pertama kali kita bertemu tadi pagi, aku memanggilmu tapi kau sama sekali tak menghiraukankau, beruntung kau meninggalkan handphonemu sehingga kita dapat bertemu kembali” Luhan berbicara di dekat daun telingaku, kemudian mulai mengangkat tangan kananya dan mengusap puncak kepalaku.

“Hello, aku pikir ini bukan shooting sebuah drama atau film romantis” Baekhyun datang menghampiri aku dan Luhan, membuat kami melepaskan pelukan satu sama lain.

“Oh, kau hmmm ‘crazy byunrapper’?” Luhan bertanya pada Baekhyun dan menahan tawanya.

“Apa yang kau katakan? Sungguh diluar bayanganku, kau tidak sopan memanggil orang yang baru saja kau kenal dengan pangilan seperti itu!” Baekhyun menaikkan volume bicaranya.

“Baek, tenanglah, dia hanya bercanda” Aku memegang pundak Baekhyun dan menepuknya perlahan “Luhan, ini Baekhyun dia temanku, dan Baekhyun ini Luhan dia temanku di sekolah menengah” Aku memperkenalkan mereka berdua, merekapun saling berjabat tangan. Beruntung Baekhyun tidak melanjutkan amarahnya pada Luhan.

“Ini milikmu” Luhan menyodorkan Handphone milikku.

Aku mengambil Handphone kembali dan mulai menanyai luhan dengan pertanyaan yang sepertinya lebih mirip interograsi.“Maafkan aku Luhan, tadi pagi aku sedang terburu-buru, aku hampir terlambat masuk kelas dan terimakasih. Apa kau kuliah disini? Kurasa aku tidak pernah melihatmu disini. Apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau tidak pernah menghubungiku? “

“Hey Digimin, kau menanyaiku seperti polisi yang sedang meniterograsi seorang pencuri”

“Min Gi, Luhan” Aku berdeham.

“Arraseo, kau sudah dewasa sekarang ne? Tidak ingin memiliki Digimon ne?” Luhan menggodaku dengan smirk yang biasa ia tunjukan dahulu.

“Hentikan Luhan!  Baekhyun akan menjadikan ini bahan ejekannya, atau kau ingin aku memanggilmu dengan suatu nama yang sangat fantastis?” Aku memutar bola mataku dan menatapnya penuh ancaman.

“Aku tidak mendengar apa-apa Min Gi” sahut Baekhyun yang sekarang sudah duduk di bangku yang di tempati Luhan tadi sembari memainkan handphonenya.

“Ah cukup, Min Gi” Luhan memohon.

“Sekarang jawab pertanyaan ku”

“Arraseo, aku kuliah disini, maksudku di Seoul tapi tidak di Universitas ini. Aku disini karena mengerjakan proyek bersama dengan salah satu mahasiswa disini, dan untuk pertanyaanmu yang lain kurasa butuh waktu yang lama untuk menjelaskannya. Lihat ini hampir malam lebih baik kau segera pulang”

“Hmmmm, aku tahu” jawabku sedikit kecewa. “Berikan aku nomormu” Aku menyodorkan handphoneku kembali kehadapan Luhan.

Luhan mengambil nya, mengetik beberapa nomor dan mengembalikannya padaku “Cute Little Prince? Kau serius? Kau bahkan tampak seperti seorang  Ahjussi, Luhan” Aku tertawa mengejek Luhan.

“Sebelum kau menamainya ‘Crazy Luhan’ kurasa aku harus menamainya dengan nama yang cocok denganku” Luhan berkomentar.

“Ah, kau tidak perlu membahasnya Luhan. Aku tidak punya waktu untuk berdebat tentang hal yang tidak penting, aku sudah cukup lelah hari ini” Kataku lemas.

“Aku tahu, lihat kau sangat berantakan dan kau tidak pernah berubah, ceroboh! kau bahkan menabrakku dan tidak menyadari handphonemu yang hilang selama beberapa jam” Luhan mengelus puncak kepalaku dan menyalipkan rambutku yang terlepas dari ikatan ke belakang telingaku.

“Maafkan aku Lu Haaaaaan” aku membungkuk di hadapannya.

“Ah hentikan” Menarik lenganku agar tidak mebungkuk dihadapannya, kemudian menunjuk Baekhyun yang masih duduk ditempatnya “Maafkan aku juga tidak segera mengembalikan handphonemu, banyak sekali yang harus kukerjakan hari ini. Hmmm kau pulang bersama dia?”

“Ne, apartemen kami berdekatan”

“Baiklah, aku akan pulang sekarang, aku akan meneleponmu begitu aku sampai di apartemen” Luhan menarik tasnya, berjalan menjauh dariku, kemudian berbalik dan melambaikan tangannya padaku disertai senyuman.

“Sampai jumpa Luhaaaan” Aku melambaikan tanganku pada Luhan yang berjalan menuju arah gerbang depan universitas.

***

Waktu menunjukan pukul 7 malam, suasana parkiran sudah sedikit lengang, udara Seoul mulai tidak bersahabat untukku karena sekarang hampir mendekati musim dingin, aku menkancingkan semua kancing di mantelku, melilitkan scraf di leherku dan memakai helmet yang Baekhyun berikan padaku. Baekhyun melakukan hal yang sama denganku, menarik kerah mantelnya setinggi lehernya, sebelum melilitkan scraf disekitarnya. Segera setelah memakai helmetBaekhyun menyalakan mesin sepeda motor ‘moto gp’ nya, menepuk pundakku, memberi tanda agar aku segera naik.

Di sela perjalanan Baekhyun bertanya padaku “Min Gi-ah kau dan Luhan, berteman?”

“Tentu saja Baek” Jawabku datar. Pertanyaan Baekhyun kurasa merupaka pertnyaan retoris, dia tentu saja mendapatkan jawabannya setelah melihat interaksiku dengan Luhan tadi sore.

“Maksudku, berteman hmmmmm berteman dekat?” Tanya Baekhyun lagi.

“Ne, seperti kita” Jawabku.

“Hey, kau sangat senang bertemu dengannya lagi, ne? “

“Baekhyuuuuuuuuuun” Aku mendekatkan kepalaku dan meletakkan daguku di pundaknya.Aku menarik napas dalam, tersenyum, dan berbisik padanya “Dia cinta pertamaku Baek..”

Iklan

15 pemikiran pada “Unfathomable Friends (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s