Hyemi’s Tale “Sweet of War” (Chapter 2)

FF “Sweet of War” (Chapter 2 / ?)

That Man / 

Picture15

“Sweet of War” chapter 2

Author                        : Park Sae Young

Main Cast                  : Jung Hye Mi | Wu Yi Fan / Kris and others

                                                        Genre   : Romance               

Rating          : PG-14

Length         : Chaptered

Edited and Artposter : @phiophiooo

Acc Twitter : @pipitsani

Summary :

“kau tahu apa yang disebut rumah ? sebuah rumah dikatakan sebagai rumah bila ada kehangatan, kenyamanan dan ketenangan saat menempatinya. Tempat yang kau tuju saat lelah atau bahagia menyergapmu. Dan kau tahu, bagiku rumah itu kau”

*

            Dan kini Hye Mi menyadari sesuatu,  ia sadar kalau hidupnya tidak akan seperti dulu lagi. Akan ada cerita cerita lain yang tidak akan pernah ia perkirakan sebelumnya. Hidupnya berubah, dan ia tidak ingin hal itu terjadi.

            Tidak, jangan sampai hal itu terjadi.

 

*

            Suasana di dalam apartment mewah para member EXO masih sama gaduhnya seperti beberapa menit yang lalu. Teriakan, canda, tawa dan juga saling merebut makanan masih dilakukan mereka seolah hal itu tidak akan ada habisnya sama sekali. mata Hye Mi masih memandang mereka tidak percaya. Dia mulai masuk , dan duduk ditempat dimana didepannya para pria itu tersenyum  kearahnya lalu kembali aktif melahap semua makanan yang ia bawa.

            “Oh, Bi. Kau datang ?”

            Hye Mi menoleh, ada 3 orang pria yang baru saja datang dan menyapa Ae Bi yang duduk tak jauh darinya, gadis itu mengangguk.

            “ne, oppa”

Sungguh, saat ini Hye Mi tidak tahu harus bersikap seperti apa. Ketiga pria yang baru saja masuk dan langsung menyapa Ae Bi kini menoleh kearahnya dan tanpa menunggu lama mereka tersenyum, menyambut Hye Mi seolah mereka kenal dengan gadis itu.

“ah, apa dia Hye Mi ?”

Baek Hyun bertanya pada Ae Bi lalu disambut anggukan ringan gadis itu. sementara Hye Mi hanya bisa tersenyum kaku. Sebenarnya apa saja yang sudah diceritakan Ae Bi ? mereka seolah mengenal Hye Mi dengan baik. bahkan gadis itu merasa kalau ia tidak perlu repot memperkenalkan dirinya sendiri lagi.

            “ne, dia Jung Hye Mi, sahabatku yang sering kuceritakan. Bagaimana cantik bukan ?”

            Ae Bi merangkulnya yang justru membuatnya salah tingkah. Bukan, bukan karena ia tersanjung akan ucapan Ae Bi barusan tapi karena ia masih belum mengerti situasi apa yang dihadapinya saat ini. Entah bagaimana ekspresinya saat ini yang jelas ia kehilangan kata kata. Lidahnya begitu kelu bahkan untuk mengucapkan salam pada tiga orang yang kini memandangnya dan melemparkan senyum bersahabat kearahnya.

            “annyeong Hye Mi-ya. senang bertemu denganmu. Tenang saja, Bi tidak menceritakan hal-hal aneh tentangmu. Tak usah khawatir”

            Suho mencoba mencairkan suasana saat ia sadar kalau Hye Mi terlihat tidak menyukai suasana barusan. Hye Mi  hanya mengangguk dan kembali tersenyum kaku. Ia masih berusaha mencerna apa yang dialaminya hari ini.

            Bisakah ia berharap kalau semua ini hanya mimpi atau halusinasinya saja ?

            Semuanya larut akan perbincangannya masing masing. Hye Mi sadar kalau Ae Bi sepertinya sudah lama membina hubungan dengan Luhan dan mengenal  mereka semua tidak dalam waktu singkat. Hye Mi tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya selain diam dan tersenyum kaku saat beberapa pria itu melemparkan lelucon kearahnya. Well, mereka hanya berusaha membuat Hye Mi ikut dalam perbincangan mereka karena gadis itu sedari tadi hanya diam seperti patung. Tanpa disadari Hye Mi ada sepasang mata yang kini memerhatikannya dalam dalam dengan pandangan mata yang tidak bisa diartikan.

            Hye Mi sudah tidak tahan lagi. suasana yang sebenarnya hangat itu berubah menjadi dingin. Rasa gelisah, dan takut itu keluar secara perlahan dari benaknya. Ini tidak benar, seharusnya Hye Mi tidak pergi menginjakkan kakinya disini.

            Dunia yang bisa saja membuatnya membuka luka lama, dan merasakan kesakitan yang masih kerap kali hadir setiap kali ia mengingatnya.

            “Bi, sebaiknya aku pulang yah” Hye Mi sedikit berbisik pada Ae Bi. Sontak gadis itu menoleh dan menghentikan tawanya karena lelucon Chanyeol barusan.

            “pulang ?”

            Hye Mi mengangguk. Diperhatikannya wajah Hye Mi yang sedikit memucat. Gadis itu paham dan sangat mengerti mengapa Hye Mi tidak nyaman dengan suasana ini.

            “baiklah aku juga—“

            “tidak tidak” Hye Mi mendorong tangan Ae Bi yang hendak mengambil tasnya. Gadis itu sudah pasti ingin ikut pulang bersamanya.

            “kau disini saja, aku tidak akan langsung pulang ke apartment karena ingin mencari udara segar dulu. Jadi lebih baik kau disini”

            “tapi—“

            “tidak apa Bi. Kau disini saja. Aku baik baik saja” Hye Mi berusaha meyakinkan sahabatnya. Ae Bi awalnya tidak yakin tapi akhirnya ia mengangguk paham. Hye Mi langsung mengambil tasnya lalu beranjak dari sofa.

            “ah, aku harus pergi. Maaf tidak bisa berlama lama” pamit Hye Mi yang sontak membuat semuanya terdiam.

            “biar aku antar” suara berat itu membuat Hye Mi menghentikan langkahnya dan membuat semua pasang mata yang ada di sana menatapnya heran. Bagaimana bisa pria yang terkenal pendiam serta dingin itu menawarkan diri ? Semua terkejut begitupun Hye Mi.

            “tidak usah, aku bisa pulang sendiri. Terima kasih atas tawarannya” tolak Hye Mi halus.

            Ae Bi mendengus lirih, begitupun pria yang baru saja menawarkan bantuan itu. suasana mendadak tidak enak. Ae Bi hanya bisa menunduk sambil meremas tangannya sendiri. Ini semua salahnya, tidak seharusnya ia mengajak Hye Mi ke tempat ini.

            “gwenchana ?”

            Ae Bi menoleh saat ada tangan lain yang kini menggenggam tangannya lalu meremasnya. Luhan menatapnya khawatir. Ae Bi menghela nafas, seharusnya ia tidak membuat pria ini khawatir. Maka dari itu ia tersenyum lalu menggeleng.

            “Gwenchana…”

*

            Hye Mi semakin mempercepat langkahnya begitu keluar dari gedung apartment mewah itu. hatinya kacau juga gelisah diwaktu yang bersamaan Seharusnya ia tidak pernah menuruti kemauan Ae Bi untuk pergi kesana, seharusnya ia menolaknya dan seharusnya ia langsung angkat kaki begitu tahu apartment siapa itu. Hye Mi sangat yakin, bertemu dan berhubungan dengan mereka sama saja membawa pria itu kembali ke hadapannya.

            Orang itu atau lebih tepatnya seorang pria yang dulu menjadi seseorang yang berharga bagi Hye Mi dan satu satunya orang yang bisa membuatnya nyaman hanya dengan berdekatan dengannya.

            Tapi semuanya berubah ketika pria itu bukan lagi sosok yang pertama kali ia kenal dulu. Hye Mi sudah muak, ia tidak ingin melihat atau bahkan bertemu lagi dengan pria itu, sekalipun di mimpinya.

            Megingatnya kembali hanya akan membuat  Hye Mi menangis seperti orang bodoh. Padahal sudah cukup selama ini ia menjadi seperti itu. Toh percuma saja, pria itu tidak akan tahu dan peduli tentang rasa sakit yang dirasakannya selama ini.

            Han River.

            Hye Mi semakin mempercepat langkahnya untuk menuju suatu tempat. Hanya tempat itu yang bisa membuatnya tenang dan bisa melupakan semua masalah yang menerpanya saat ini.

*

            Sepeninggal Hye Mi semua orang yang ruangan besar itu diam dan penuh dengan suasana canggung. Tidak ada lagi tawa, candaan, bahkan teriakan Se Hun dan Baek Hyun yang saling berebut makanan. Semuanya terdiam, sebagian menyibukkan diri dengan menonton tv walau pikiran mereka tidak mengarah kesana.

            “Bi, sepertinya temanmu tidak cukup suka dengan kami” Su Ho membuka suara yang sontak membuat semuanya menoleh terutama Ae Bi. Bukan tanpa alasan Su Ho mengatakan hal itu, hanya saja ia memang sejak tadi mencium gelagat aneh Hye Mi yang tidak nyaman berada ditengah tengah mereka.

            Ae Bi menggeleng.

            “aniyo, bukan itu masalahnya oppa. Percayalah, dia tidak bermaksud begitu tadi. Hanya saja—“

            Ae Bi menggantung kalimatnya.

            “hanya saja ?”

            “dia mungkin teringat dengan seseorang yang tidak ingin diingatnya lagi” bela Ae Bi. Su Ho mengeryit heran dan juga penasaran. Begitupun member lain termasuk Luhan yang kini duduk disebelah Ae Bi.

            “siapa ? apa ada hubungannya dengan kami ?” Su Ho kembali bertanya. Rasa penasarannya keluar begitu saja mendengar pembelaan Ae Bi untuk Hye Mi.

            “tidak. tidak ada hubungannya dengan kalian tapi pasti kalian mengenal siapa orang itu”

            Semuanya semakin terdiam, mencerna dengan jelas apa yang dimaksud Ae Bi barusan. Luhan semakin meremas tangan Ae Bi. Ia tahu kalau gadisnya tengah merasa tidak nyaman. Merasa tangannya semakin digenggam dengan kuat Ae Bi menoleh kesamping dan tersenyum.

            “maaf aku tidak bisa menceritakannya. Jika waktunya sudah tepat aku pasti menceritakannya” ujarnya meyakinkan. Luhan mengangguk begitupun Su Ho dan yang lainnya. Mereka mengerti ini privasi seseorang, dan tentu tidak ada satupun yang berhak memaksa Ae Bi untuk mengatakannya bukan ? jadi mereka hanya diam memakluminya.

            “Hyung, kau mau kemana ?” tanya Chanyeol ketika tiba tiba saja Kris bangkit dan mengambil mantelnya. Wajahnya terlihat kembali muram.

            Kris melirik Chanyeol sekilas dan semakin jelas terlihat raut wajah Kris yang begitu berbeda dibanding beberapa saat lalu.

            “cari angin” jawabnya pendek. Suara debuman pintu meyakinkan semuanya kalau kini mood leader EXO-M itu kembali memburuk. Chanyeol menghela nafas lalu mengeluh pada Baek Hyun disampingnya.

            “sepertinya mood Kris hyung kembali memburuk”

            “Biarkan saja, dia memang seperti itu bukan ?”

            “tapi tadi moodnya tidak separah itu, bahkan saat kita fansign sampai kembali ke apartment wajahnya sangat cerah seperti matahari terbit” keluh Chanyeol lagi tapi kali ini sedikit berlebihan.

            “hentikan Yeol. Biarkan saja dia”

            “tapi—“

            “Kris hyung tidak mungkin membunuh orang karena moodnya rusak”

            Dan untuk kali ini Chanyeol berhenti mengeluh. Ucapan Baek Hyun ada benarnya juga. Lagi pula jika ia melanjutkannya, mungkin akan menambah kecanggungan yang ada di apartment ini bukan ?

*

            Hye Mi’s POV

            “Hye Mi-ya, kapanpun kau bersedih datanglah ke tempat ini, maka oppa juga akan datang kemari untuk menemanimu dan membuat kesedihanmu hilang”

            Kata kata itu jelas masih terngiang dan berputar dikepala Hye Mi. kata-kata yang selalu membuatnya semakin sakit bila mengingatnya. Mengingat dimana pria itu selalu mengucapkan hal yang sama ketika melihat Hye Mi bersedih.

            Dan bodohnya semakin Hye Mi berusaha melupakannya, ingatan itu semakin nyata di benaknya. Membuat dadanya sesak, sakit dan rasanya mati hal yang lebih baik.

            Hye Mi membenci pria itu. semua yang ada dalam dirinya. sebisa mungkin ia membuang semuanya, melupakan dan menghindari hal-hal yang berkaitan dengan pria itu sejak ia memilih jalannya beberapa tahun yang lalu. Tapi ada satu hal yang tidak bisa Hye Mi benci walau sudah jutaan kali ia berusaha untuk membencinya.

            Han River.

            Adalah tempat dimana kenangan kenangan indah bersama pria itu tercipta. Kenangan dimana Hye Mi ingin membuangnya jauh dari hidupnya. Tapi ia tidak bisa. Di sisi lain, hanya tempat ini yang mampu membuang kekesalannya, menjadi tempatnya berkeluh kesah dan membuatnya tenang.

            “kau bohong oppa, kau bohong padaku. Kau tidak pernah datang saat aku membutuhkanmu. Kau juga tidak pernah datang saat aku sedih dan membutuhkan seseorang untuk menghiburku. Kau bohong tentang akan menungguiku sampai aku selesai bersedih. Kau mengingkari janjimu, janjimu itu palsu !”

            Cecaran itu lolos keluar begitu saja dari mulut Hye Mi. sudut matanya kembali menghasilkan cairan bening. Gadis itu kembali terisak, menangis sejadi jadinya saat kenangan masa lalunya berputar dikepalanya lagi. Tangisannya semakin mengencang, seiring kepingan kepingan ingatan memuakkan itu berputar dikepalanya. Pertahannya runtuh, disertai rasa sakit yang semakin menjadi.

            “berhentilah menangis. Wajahmu semakin aneh jika menangis seperti itu”

            Suara berat itu menghentikan tangisan Hye Mi. gadis itu menengadahkan kepalanya dan mendapati seorang pria dengan tubuh tinggi besar dengan wajah tertutup masker berdiri didekatnya, memandangnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

            “siapa ?”

            Hye Mi memerhatikan dengan seksama pria itu. mencoba mengingat apa ia mengenalnya atau tidak. lagipula sekarang sudah gelap, ditambah wajahnya yang tertutup masker. Sulit mengenalinya bukan ?

            Sosok yang ternyata pria itu mendengus kecewa barangkali.

            “Haaahh, ingatanmu itu memang buruk sekali Jung Hye Mi. aku, orang yang kau anggap hantu kemarin malam” ungkap pria itu sedikit jengah lalu mengambil tempat duduk disebelah Hyemi. Hye Mi terdiam sebentar dan baru ingat kalau ternyata pria itu adalah pria yang ia anggap hantu kemarin.

            Kris memang sengaja datang ke sungai Han karena ia tahu pasti kalau akan ada Hye Mi disana. dan benar saja, ia melihat gadis itu memeluk kakinya dari jauh. Kris sebenarnya mendekati Hye Mi untuk memastikan apa gadis itu masih mengingatnya atau tidak. dan ia harus menelan pil kecewa saat tahu kalau Hye Mi sama sekali tidak mengingatnya. Mungkin hal yang wajar mengingat sekarang malam dan ia masing menggunakan masker.

            Tapi betapa terkejutnya Kris saat tahu kalau Hye Mi sedang terisak, menangis lebih tepatnya. Walau gelap Kris bisa melihat dengan jelas mata sembab Hye Mi dan suara seraknya yang membuktikan kalau gadis itu sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.

            “kenapa kau menangis ?” Kris bertanya setelah cukup lama keduanya terdiam, larut akan pikiran masing masing.

            “bukan urusanmu” jawab Hye Mi ketus.

            “cih, sekarang jadi urusanku mengingat kalau aku hampir mengiramu sebagai hantu yang gentayangan malam malam” canda Kris. Hye Mi menoleh dan tersenyum mendengarnya. sepertinya pria ini cukup menyenangkan.

            “jadi sekarang apa alasanmu menangis ?”

            Hye Mi menghela nafas berat. Pria itu kembali mengulang pertanyaannya dan tidak mungkin Hye Mi menjawabnya dengan ketus seperti tadi bukan ?

            “hanya teringat sesuatu”

            “rumah ?”

            “kenapa kau berpikir seperti itu ?” alis Hye Mi mengerut, tidak mengerti kenapa pria itu berpikir kalau alasan ia menangis adalah merindukan rumah.

            “asal kau tahu saja, alasanku menangis kemarin adalah karena merindukan rumah”

            “aku tidak bertanya tuh”

            Jawaban polos Hye Mi yang disengaja itu sontak membuat Kris menatapnya sinis. lebih tepatnya ia tidak terima diejek seperti itu.

            “aish gadis ini ! kenapa kau begitu menyebalkan hah ?”

            Hye Mi tertawa saat melihat pria disebelahnya mulai kesal akan dirinya.

            “kau merindukan rumah ? memang rumahmu dimana ?” tanya Hye Mi yang sekarang mulai tertarik dengan topic pembicaraan yang dimulai pria itu.

            “rumahku jauh sekali dari sini”

            “berapa jauh ?”

            “mungkin ribuan atau jutaan kilometer” jawab Kris serius. Matanya menerawang, menatap lurus kedepan tepat dimana arus tenang Han River tersaji.

            “lalu untuk apa kau disini? Berada sangat jauh dari rumah tuan hantu ?” tanya Hye Mi lagi. Kris menoleh dan mendapati Hye Mi tengah menatapnya dengan serius namun juga polos. Oh oke, mungkin kali ini ia akan membiarkan Hye Mi memanggilnya ‘tuan hantu’

            “untuk mengejar cita citaku tentu saja”

            “jadi kau bukan orang Korea begitu ?”

            “Ya, bisa dibilang begitu. Aku hanya pendatang”

            Hye Mi mengangguk anggukkan kepalanya mengerti. “ahh begitu. Jadi itu sebabnya bahasa koreamu terdengar sedikit aneh. Tidak seperti orang Korea lainnya”

            Hye Mi tersenyum. Bercerita dengan pria yang ia kira hantu ini membuatnya sedikit nyaman. Beberapa kali ia tertawa saat pria itu melemparkan kalimat kalimat aneh. Terdengar biasa tapi entah kenapa jadi begitu konyol saat dia yang mengucapkannya.

            “jadi, siapa namamu tuan hantu ?”

            Kris langsung menampakkan wajah kesalnya saat Hye Mi lagi lagi memanggilnya tuan hantu.

            “aish mana ada hantu tampan sepertiku” sinis Kris.

            “maka dari itu aku perlu tahu namamu” Hye Mi membela diri diselingi dengan kekehan ringan darinya. Ia tidak bisa memungkiri kalau bercerita dengan orang yang tidak ia kenal bisa senyaman ini. entah kenapa.

            “Yi Fan, namaku Wu Yi Fan bukan hantu”

            Hye Mi tersentak. Ia sontak menghentikan tawanya dan menatap pemuda itu tidak percaya. Mendengar pemuda itu menyebut namanya membuatnya berpikir. Nama itu tidak asing, terasa begitu familiar di telinganya. Astaga, bukankah Ae Bi sering mengucapkan nama itu bersama dengan 11 pria yang sering ia elu-elukan itu ?

            Kris yang melihat Hye Mi mematung langsung membuka maskernya, memperlihatkan wajahnya secara langsung dan dari sini Hye Mi bisa melihat siapa pria itu sebenarnya. Dia Kris, teman Luhan, anggota sekaligus leader EXO-M yang beberapa saat lalu ia temui dan pastinya ingin ia hindari.

            “ah, maaf tidak mengenalimu Kris-ssi”

            Hye Mi tersenyum kaku. Memilih untuk menghindar saat tatapan mereka bertemu. Suasana yang tadinya menghangat berubah menjadi dingin dan juga canggung seiring berjalannya waktu. Hye Mi benar-benar tidak tahu kalau pria yang ia sebut hantu sebelumnya adalah Kris dan lagi kenapa bisa ia harus bertemu orang sepertinya disini ?

            “berhenti memanggilku dengan nama panggungku seperti itu. sudah kukatakan bukan, namaku Wu Yi Fan”

            Ada nada tidak suka dalam kalimat Kris barusan. mendengar Hye Mi memanggilnya dengan nama panggung apalagi ditambah kesan formal didalamnya membuatnya kesal sekaligus jengah.

            Hye Mi tidak menjawab. Rasa nyaman yang ia rasakan saat bersama Kris beberapa menit lalu seolah menghilang begitu saja. Ia langsung merapihkan tasnya dan hendak beranjak dari sana.

            “ah, maaf aku harus pergi”

            Ada sesuatu yang aneh dan tidak beres saat Kris melihat Hye Mi tiba tiba saja beranjak. Seperti bermaksud menghindarinya. Kenapa ? ada apa dengan gadis itu sebenarnya ?

            “Tunggu. Jung Hye Mi, kenapa kau seperti menghindar dariku ?” tanya Kris heran. Ia bisa merasakan gelagat aneh yang ditunjukkan Hye Mi padanya saat ini.

            “tidak Kris-ssi, aku tidak apa. Maaf aku harus pergi ada urusan” sanggah Hye Mi cepat. Gadis itu langsung berdiri dan mempercepat langkahnya. Satu satunya hal yang ingin ia lakukan sekarang ini adalah pergi dari sini.

            Tapi belum ada 10 langkah Hye Mi berhenti, sebuah tangan kekar menghentikan langkahnya. Ia terkesiap, Kris menggenggam lengannya begitu kuat namun tidak sakit sama sekali.

            “Bisakah kau bersikap seperti semalam ? seperti beberapa menit lalu saat belum mengenal siapa aku yang sebenarnya ?”

            Hye Mi mengerjapkan matanya beberapa kali, tidak percaya dengan apa yang  baru saja diucapkan oleh pria itu

“lepaskan aku Kris-ssi, aku harus pergi”

            Hye Mi memberontak, berusaha melepaskan cengkraman tangan Kris yang berada di tangannya. Tapi semakin berusaha Hye Mi menarik tangannya, Kris semakin kuat menggenggamnya. Menahan tangan gadis itu.

            “tidak sebelum kau menjelaskan kenapa sikapmu berubah drastis”

            “tidak, kau tidak mengerti !”

            “aku tidak mengerti karena kau tidak memberikan alasannya” bentak Kris halus.

            Hye Mi kembali memberontak, masih berusaha melepas tangannya. Namun usahanya tetap saja sia-sia. Toh cengkraman tangan Kris dilengannya semakin menguat bila ia semakin meronta. Kris tidak tahu kenapa ia melakukan hal ini, maksudnya menahan tangan Hye Mi dan tidak membiarkannya pergi sama sekali. Yang ada dikepala Kris hanyalah ia harus membuat Hye Mi berada disekitarnya, dalam jarak pandangnya.

            “apa alasanmu menahanku seperti ini Kris-ssi ?” Hye Mi mulai kehilangan kesabarannya. Ia memandang Kris sengit.

            “aku ingin menjadi temanmu, bisakah kau bersikap seperti kemarin dan beberapa menit lalu ?”

            Hye Mi mengerjapkan matanya beberapa kali, tidak percaya dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulut Kris barusan. Kalimat itu terdengar seperti sebuah permohonan yang terlalu sulit atau bahkan sangat mustahil dikabulkan oleh Hye Mi. tidak, jika ia mengabulkannya tentu akan semakin membuka jalannya bertemu dengan pria itu.

            “teman ?” alis Hye Mi terangkat. “kau pasti sudah mempunyai banyak teman dan tentunya teman-temanmu itu adalah seorang bintang yang memang pantas berteman denganmu” sinis Hye Mi dengan nada tertahan.

            Ia tidak habis pikir. Bagaimana bisa seorang bintang seperti Kris memohon agar ia menjadi temannya ?

            ‘tidak, jangan. Jangan jadi temanku’

            “tidak. Aku ingin kau yang menjadi temanku. Seseorang yang menganggapku bukan sebagai seorang idol dengan nama panggung Kris. Tapi seorang Wu Yi Fan. Hanya itu” Kris kembali memohon.

            “bukankah sama saja ? Wu Yi Fan atau Kris kau tetaplah seorang idol. Dan seorang idol tidak pantas berteman dengan gadis biasa sepertiku” sinis Hye Mi lagi.

            “sebenarnya  apa masalahmu dengan seorang idol nona Jung ? apakah mereka tidak pantas memiliki teman dari kalangan orang biasa ? apakah seorang idol memang harus memiliki teman yang juga berasal dari kalangan idol juga begitu maksudmu ? aku tidak mengerti jalan pikiranmu itu Jung Hye Mi” Kris mulai tidak bisa mengontrol emosinya. Tentu kalimat Hye Mi barusan menyindirnya habis-habisan.

            “kumohon Kris-ssi, sekarang lebih baik kau lepaskan aku. Tidak ada yang perlu kau mengerti dariku. Kumohon” pinta Hye Mi dengan suara tertahan. Sebenarnya apa yang baru saja diucapkannya ? kalimatnya barusan tidak seharusnya ia ucapkan pada Kris melainkan pria itu, pria yang bahkan tidak ingin Hye Mi sebut namanya lagi. Ia muak, sangat!

            Kris terdiam. Walau sekarang wajah Hye Mi menunduk tapi matanya tidak teralihkan atau berpindah ke objek lain. Hanya ada Hye Mi yang ada dalam penglihatannya. Gadis itu terlihat begitu rapuh dan … sedikit ketakutan.

            Tapi karena apa ?

            Kris mulai melepas cengkraman tangannya pada lengan Hye Mi. ada rasa tidak rela saat ia melakukan hal itu. Hye Mi yang sadar kalau tangan Kris tidak lagi menahannya mulai melangkah mundur lalu membungkukkan badannya.

            “maafkan kalimatku yang sedikit mengganggumu  mungkin. Maaf”

            Dan setelah mengucapkan hal itu Hye Mi berlari. Meninggalkan Kris seorang diri disana.

            Kris masih terdiam ditempatnya, tidak bergeming dan hanya menatap punggung itu sampai akhirnya menghilang di persimpangan. Ia tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Hye Mi dari dulu hingga sekarang.

            Sebenarnya sudah cukup lama Kris memerhatikan Hye Mi. seorang gadis yang selalu datang setiap malamnya lalu duduk ditepian Han River. Jauh sebelum Ae Bi yang notabene-nya kekasih Luhan itu menceritakan Hye Mi sahabatnya yang tinggal satu apartment dengannya.

Tentu Kris ingat bagaimana pertama kalinya sosok itu tertangkap oleh indra penglihatannya, membawanya ke sebuah dimensi dimana hanya gadis itu yang menjadi objeknya. Gadis yang selalu datang, duduk ditepian sungai Han, terlihat begitu sendiri lalu terkadang memergokinya sedang menangis dan tentu mengundang banyak pertanyaan di benak Kris sendiri.

            Kris menarik nafasnya dalam dalam. Masih tidak mengerti dengan alasan kenapa Hye Mi langsung menghindar begitu tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Apa gadis itu punya masalah dengan yang namanya ‘idol’ ? apa ucapan Ae Bi di dorm tadi berkaitan dengan sikap Hye Mi padanya ?

            Ia tidak mengerti. Sangat tidak mengerti.

            “Hye Mi, apa yang sesungguhnya terjadi padamu?”

*

Hye Mi berjalan gontai menuju apartmentnya. Penampilannya terlihat lusuh juga berantakan. Tentu, bagaimana tidak. Gadis itu berlari sepanjang jalan menuju apartmentnya. Di pikiran gadis itu, ia memang harus pergi dari Kris agar pria itu tidak bias menahannya seperti sebelumnya.

Entah kenapa saat mengetahui siapa sebenarnya orang yang ia kira hantu hatinya mendadak kecewa. Ingatan tentang pria itu kembali berputar dan membuatnya pusing juga muak sekaligus. Pria itu, pria yang dulu pernah menjadi satu satunya orang yang mengisi hatinya, satu satunya orang yang membuatnya tahu apa arti dari cinta tapi juga pria itu yang mencampakkannya seperti sampah.

            Hye Mi sampai didepan pintu apartmentnya. Setelah memasukkan kombinasi password pintu terbuka dan Hye Mi masuk kedalamnya seperti mayat hidup. Flat shoes yang dipakainya, langsung dilepas dan entah dilempar kemana.

            “Hye Mi…”

            Hye Mi menengadahkan kepalanya dan betapa terkejutnya ia menemukan Ae Bi sudah berdiri tak jauh darinya dengan gaun tidur dan juga sorot mata khawatir.

            “Bi, kau—“

            Ucapan Hye Mi terputus begitu Ae Bi langsung berlari menghampirinya dan memeluknya dengan erat. Ia mulai terisak.

            “maafkan aku Hye Mi-ya.. maafkan aku. Tidak seharusnya aku membawa mu ke tempat itu. Sungguh, aku tidak pernah bermaksud untuk mengingatkanmu akan ingatan masa lalumu itu. Maafkan aku” sesal Ae Bi. Gadis itu semakin mengeratkan pelukannya, merasa sangat bersalah.

            Hye Mi yang mendengar itu hanya tersenyum kecut. Sebisa mungkin ia bertahan agar tidak lagi menjadi gadis cengeng hanya karena mengingat pria itu. Tapi pertahannya kembali runtuh. Untuk yang kedua kalinya. Pelukan Ae Bi yang semakin erat seperti menyuruhnya untuk mengeluarkan semua rasa sakitnya. Ia menggigit bibir, tidak. ia tidak ingin menangis lagi.

            “sudahlah Bi, aku tidak apa” Hye Mi mengusap punggung Ae Bi lembut. Seolah mengatakan kalau dirinya memang baik baik saja. Ae Bi melepas pelukan Hye Mi dan menatap gadis itu dengan matanya yang sedikit basah. Sedikit pukulan ringan ia daratkan tepat di lengan Hye Mi.

            “anak bodoh ! jangan sok kuat didepanku ! aku lebih suka kau menangis dan mengeluarkan semuanya dibanding menjadi patung yang memendam segalanya!”

            Kalimat Ae Bi sontak membuat Hye Mi berhenti mengeluarkan senyum ‘baik-baiknya’ itu. Perlahan namun pasti Kristal bening itu keluar, dan semakin lama semakin deras. Hye Mi kembali menangis, dan Ae Bi kembali memeluk sahabatnya dengan erat.

            “kau harus berusaha melupakannya Hye Mi-ya. Kau harus melupakan masa lalumu itu dan lihatlah kedepan. Kau pasti bisa. Aku yakin itu” Ae Bi berusaha menyemangati Hye Mi, ia mengusap punggung Hye Mi yang terus bergetar karena isakannya. Dengan lembut seolah menyalurkan kekuatan untuk sahabatnya. Kalau sudah begini Hye Mi tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain mengeluarkan semua kepedihannya didepan Ae Bi. Karena hanya gadis itu yang mengetahui masa lalu Hye Mi dan satu-satunya orang yang ia percaya bisa menjaga rahasianya.

            “aku berusaha keras. Aku berusaha melupakan dia, tapi hasilnya seperti yang selama ini kau lihat Bi” Hye Mi tersenyum kecut, putus asa. Sudah banyak hal yang ia lakukan, tapi tetap saja hasilnya nihil.

            “aku masih tetap mencintainya …”

*

            Seoul 2003

            “appa, eomma kita akan pergi ke tempat oppa ?” tanya gadis kecil yang kira kira berusia 10 tahun itu. Kedua orang tuanya mengangguk sambil tersenyum.

            “iya sayang, kau tak sabar bertemu dengan oppamu hm ?” sang ibu bertanya sambil menolehkan kepala kebelakang. Tepat dimana putri semata wayangnya duduk dengan sebuah boneka teddy bear dipangkuannya. Ia mengangguk antusias, membuat matanya gigi kelincinya terlihat jelas.

            Sang ibu ikut tersenyum, begitupun ayahnya yang melihatnya dari balik kaca spion tengah mobil. Tak butuh waktu lama, mobil Audi putih itu berhenti, terparkir disebuah halaman rumah yang begitu luas dan mewah tentunya.

            Hye Mi kecil keluar dari mobilnya dengan tidak sabaran dan langsung berlari menuju pintu. Ibunya hanya bisa menggeleng pasrah, jika sudah begini ia tidak bisa berbuat apa-apa selain berteriak mengingatkan agar anaknya berhati hati.

            “Ahjumma annyeonghaseyo~!” Hye Mi berlari kearah  seorang wanita yang baru saja selesai menyiram kebun mawarnya. Wanita itu tersenyum lalu merentangkan tangannya, menerima pelukan Hye Mi kecil.

            “aahh~ Hye Mi-ya, kau datang eoh ?” tanyanya yang disambut anggukan ringan gadis kecil itu.

            “ne. ahjumma oppa eodiga ?” pertanyaan polos Hye Mi membuat wanita cantik itu tersenyum dan mengelus rambut panjang Hye Mi.

            “dia ada dikamar, kau bisa langsung naik untuk menemuinya sayang” titah sang pemilik rumah tanpa melepas senyum ramahnya. Hye Mi mengangguk paham dan langsung berlari menuju kamar oppanya itu.

            “oppa !” teriakan nyaring Hye Mi sontak membuat pemuda berusia 17 tahun itu menoleh dan meninggalkan pekerjaan rumahnya. Ia tersenyum dan langsung merentangkan tangannya, memeluk Hye Mi.

            “annyeong, Hye Mi-ya~ kau datang dengan siapa hm ? tanyanya halus sambil mengusap kepala Hye Mi lembut. Gadis kecil itu tersenyum.

            “bersama appa dan eomma. Mereka sedang mengobrol dengan ahjumma dan ahjussi dibawah” ucapnya polos.

            Pemuda itu lagi lagi tersenyum, begitu senang akan kedatangan Hye Mi yang bisa membuat rumah megahnya ini menjadi ramai dan ceria. Hye Mi adalah anak tunggal dan tidak mempunyai teman. Tapi berhubung kedua orangtuanya sering mengajaknya kemari jadilah pemuda tampan yang kini berdiri didepannya menjadi orang yang paling dekat dengannya. Walau perbedaan usia mereka bisa dikatakan cukup jauh.

            “ah Hye Mi-ya, oppa punya kabar gembira untukmu” wajah pemuda itu berbinar membuat Hye Mi penasaran dan mengeryitkan alisnya lucu.

            “kabar gembira ? apa itu ?” tanyanya. Pemuda itu lagi lagi tersenyum. Perasaannya sedang sangat baik saat ini ditambah wajah lucu Hye Mi yang sangat menggemaskan didepannya membuat kesenangannya menjadi berkali lipat.

            “oppa akan menjadi trainee di SM Entertaiment. Oppa akan di training disana lalu setelah itu debut untuk menjadi idola” ujarnya semangat.

            “huaaa, jeongmal ? oppa akan menjadi artis terkenal begitu ?” tanya Hye Mi ikut bersemangat. Pemuda itu mengangguk antusias.  “aku senang sekali oppa, huaaa oppaku akan menjadi artis” raut wajah Hye Mi terlihat sangat bahagia, begitupun oppanya. Suasana bahagia menyelimuti keduanya. tapi tidak bertahan lama. Hye Mi yang awalnya antusias tiba-tiba saja menundukkan kepalanya lesu.

            “Hye Mi-ya, gwenchana ? kau kenapa ?” tanya pemuda itu khawatir dengan perubahan sikap drastis Hye Mi. gadis kecil itu tersenyum getir.

            “tapi oppa, oppa tidak akan melupakanku jika sudah terkenal nanti bukan ? kau tidak akan lupa dengan janjimu untuk menikahiku saat aku besar nanti bukan ?” suara Hye Mi melemah, rasa takut itu tiba-tiba muncul begitu saja dibenaknya. Hye Mi memang masih kecil, tapi ia takut kalau pemuda itu akan melupakannya suatu hari nanti.

            Dan semua janji itu musnah seiring berjalannya waktu.

            “tidak, tentu saja tidak Hye Mi-ya … dengar oppa baik-baik. Oppa tidak akan pernah mengingkari janji pada Hye Mi. oppa tidak akan melupakan Hye Mi sampai kapanpun. Saat Hye Mi sudah menjadi seorang gadis cantik dan pintar oppa akan datang dan menikah dengan Hye Mi. oke ?” pemuda itu tersenyum. Berusaha meyakinkan Hye Mi kalau ia tidak akan pernah mengingkari janjinya.

            Hye Mi kembali menarik kedua sudut bibirnya, membentuk senyuman sehingga gigi kelincinya lagi-lagi terlihat. Ia mengacungkan jari kelingkingnya kehadapan oppanya.

            “janji jari kelingking ?” ucapnya polos. Pemuda itu tersenyum dan ikut mengacungkan jari kelingkingnya.

            “janji jari kelinking. Nah sekarang bagaimana kalau kita pergi ke Han River. Cuaca sedang cerah saat ini dan pasti pemandangan disana indah sekali” ajaknya. Hye Mi yang mendengar itu langsung bersorak gembira.

            “oke, let’s go oppa!~”

 

*

            Seoul, 2005

            Hari itu matahari tidak menampakkan wujudnya sama sekali. yang ada hanya gelapnya awan dan cuaca tidak bersahabat. Harum khas hujan datang, merasuk setiap indra penciuman siapapun yang hadir dipemakaman saat ini. beberapa diantaranya yang hadir mulai pergi, berlalu lalang dihadapan Hye Mi yang masih belum bisa menerima semuanya. Gadis berusia 13 tahun itu hanya bisa menangis di pelukan sahabat orang tuanya.

            Kedua orangtuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat dimana saat itu mereka hendak pulang untuk merayakan hari ulang tahun Hye Mi yang ke 13. tapi takdir berkata lain, kado yang awalnya indah itu berubah menjadi kado terkutuk yang pernah ia dapat seumur hidupnya.

            “ahjumma, dimana oppa… dimana dia sekarang ? kenapa ia tidak datang ?” cecar Hye Mi sambil terus terisak. Acara pemakaman hampir selesai tapi orang yang diharapkannya datang tak kunjung menampakkan diri.  Wanita itu hanya tersenyum sedih lalu kembali memeluknya.

            “maaf sayang, oppamu tidak bisa datang. Ia sedang sibuk saat ini. nanti jika tidak sibuk lagi ia akan datang dan menemui Hye Mi” wanita itu berusaha menenangkan Hye Mi. gadis kecil itu mengangguk, walau rasanya ia ingin berteriak kesakitan sekarang.

            Sepeninggal kedua orangtua Hye Mi, gadis itu mulai tinggal bersama oppa dan keluarganya itu. Awalnya Hye Mi merasa senang. Tinggal bersama oppanya tentu akan membuat rasa sedihnya hilang secara perlahan. Kepergian orangtuanya membuat gadis itu sedikit terguncang, dan ia harap oppanya bisa terus menemaninya hingga keadaannya kembali normal.

            Tapi itu hanya angan, sebuah harapan yang ternyata tidak bisa didapatkannya sama sekali. status pemuda itu berubah. Menjadi seorang training dan mendekati awal debutnya ia jarang atau bahkan tidak pernah pulang kerumah.

            Hye Mi sendirian, ia kesepian dan membutuhkan seseorang untuk berada disampingnya sekedar menemaninya menangis dan bersedih. Tapi satu-satunya orang yang ia percaya bisa menyembuhkannya justru tidak ada disana.

            Ia masih tetap menangis sambil menunggu pemuda itu datang dan kembali memeluknya seperti dulu.

 

*

 

            Seoul, 2009

            Hye Mi genap berusia 17tahun. Gadis itu tumbuh dengan sangat baik. Menjadi sosok gadis cantik dan menarik sekali. selama ia tinggal di keluarga sahabat ibunya itu sudah banyak hal yang berubah darinya. Ia lebih dewasa, lebih bisa berpikir secara matang dan rasional. Berusaha menjadi sosok gadis kuat tegar dan pintar tentunya. Hye Mi bukan lagi gadis cengeng yang selalu mencari oppanya. pada kenyataannya ia memang berubah.

            Hye Mi bahkan tidak pernah lagi bertemu dengan oppa kesayangannya itu. Menjadi seorang artis besar membuat pemuda itu seperti lupa akan dirinya, bahkan sepertinya ia lupa akan dimana tempatnya tinggal mengingat tidak pernah sekalipun pemuda itu menginjakkan kakinya lagi disana.

            Sejak hari pemakaman kedua orangtuanya mereka jarang sekali bertemu. Hubungan keduanya merenggang tapi hal itu sama sekali tidak membuat Hye Mi melupakannya. Ia masih menghormatinya dan mencintainya seperti dulu.

            Langkah kakinya berhenti begitu sampai  tepat didepan sebuah gedung mewah. ‘Star City Apartment’. Adalah tempat dimana oppanya tinggal bersama teman-teman satu grupnya. Dengan memberanikan diri Hye Mi masuk. Tapi baru saja akan masuk ia dihadang oleh petugas keamanan.

            “agasshi, anda ingin kemana ?” tanyanya dengan wajah seram. Hye Mi meneguk ludahnya kesusaha. Pria setengah baya itu menatapnya dari atas sampai bawah seolah-olah ia adalah pencuri yang baru saja mencuri toko perhiasan di “Lotte Avenue’

            “a-aku ingin bertemu dengan oppaku. Dia tinggal disini bersama teman-teman satu grupnya itu” jawab Hye Mi takut-takut. Pria setengah baya itu mengeryit dan tak lama tertawa meremehkan.

            “Hei nona kau ingin membohongiku ? astaga, sudah banyak gadis yang seumuran dengamnu mengaku seperti itu. Ah, pasti kau adalah salah satu sesaeng fans mereka ? atau kau adalah antifans yang ingin mencelakakan mereka begitu ?” cecar petugas keamanan itu yang membuat Hye Mi tersentak.

            Bagaimana bisa ia dituduh sebagai seorang sesaeng fans atau antifans jahat ? apa wajahnya terlihat se-kriminal itu ? kenapa rasanya begitu sulit bertemu dengan oppanya sekarang ini ?

            Hye Mi mendengus, ia baru saja memutar kembali otaknya.

            Jung Hye Mi, sekarang oppamu bukan lagi pemuda biasa. Ia sudah menjadi sosok bintang, terkenal dan dipuja dimana mana. Sadarlah !

            “hentikan ahjussi, dia memang temanku”

            Sebuah suara menghentikan adu argument antara Hye Mi dan petugas keamanan itu. Hye Mi menahan nafasnya, melihat siapa gerangan sosok itu dan benar. Ia tidak mungkin salah lihat. Sosok itu adalah oppanya. ia masih sama tampannya seperti pertama kali bertemu atau bahkan sekarang ketampanannya bertambah berkali kali lipat.

            Pria itu mendekat, setelah meyakinkan petugas keamanan kalau gadis itu – Hye Mi adalah temannya barulah pria paruh baya itu mengangguk dan kemudian meninggalkan keduanya.

            Hye Mi tersenyum senang

            “oppa !” Hye Mi berteriak girang. Terlalu senang karena akhirnya ia bisa bertemu dengan sosok yang dirindukannya selama ini. tapi ada yang berbeda, Hye Mi menangkap sesuatu yang aneh diwajah pria itu. Wajah itu tampan tapi terlihat begitu kelelahan dan senyumnya … senyum hangat itu hilang dari sana.

            “ada apa kau kesini ? cepat katakan maksudmu dan segeralah pulang. Oppa ingin istirahat” ucapnya dengan nada terkesan buru-buru. Hye Mi terdiam, mematung karena terlalu heran dengan apa yang diucapkan pria itu. Hye Mi langsung menunduk, merasa tidak enak.

            “mianhae oppa, aku hanya ingin bertemu denganmu”

            Bohong ! Hye Mi berbohong pada pria itu. Alasan sebenarnya Hye Mi datang kemari bukan hanya untuk bertemu dengannya tapi juga untuk berpamitan padanya karena ia sudah memutuskan untuk tidak tinggal dan merepotkan keluarga pria itu lagi. Sudah waktunya ia hidup mandiri dengan apa yang sudah ditinggalkan orangtuanya.

            Astaga Jung Hye Mi, kenapa kau harus berbohong !

            “hanya itu ?” tanyanya tidak percaya. “astaga Jung Hye Mi, kau menemuiku hanya untuk alasan konyol seperti itu ?”tanyanya dengan nada dingin.

            “lebih baik kau pulang. Aku perlu istirahat dan masih banyak yang perlu kulakukan sesudahnya”

            Hye Mi mengerjapkan matanya beberapa kali. Tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Kemana sosok baik hati pria itu ? kemana senyuman dan janji kalau ia tidak akan pernah berkata dingin atau mengacuhkan Hye Mi seburuk dan selelah apapun dirinya ?

            “sudah sana pulang, mau apa lagi ?” bentaknya jengah. Hye Mi menatap tidak percaya pada sosok pria itu. Ia dingin, tidak lagi hangat seperti oppanya yang dulu. Dan kalimat kalimat yang keluar dari mulunya semakin menyadarkannya akan satu hal.

            Dia bukan lagi oppanya.

            Tanpa menunggu jawaban Hye Mi, pria itu kembali masuk kedalam gedung mewah itu dengan sikap acuh tak acuhnya. Meninggalkan Hye Mi sendirian, diam mematung disana.

Sedingin  itukah oppanya sekarang ? apa menjadi seorang bintang besar membuat pria itu lupa akan dirinya ? apa kebaikan dan kehangatannya menghilang seiring dengan merenggangnya hubungan mereka ?

            Apa Hye Mi sudah tidak berarti lagi dimatanya ?

       Hye Mi berlari darisana. Semakin mempercepat langkahnya seiring dengan hujan yang tiba tiba saja mengguyur kota Seoul saat itu. Tapi ia tidak peduli akan tubuhnya yang mulai basah kuyup.

       Semuanya sudah berubah, berbeda dan tidak sama dengan harapannya selama ini. senyuman yang selalu ditunjukkan pria itu semakin lama semakin membuatnya sadar kalau semuanya palsu. Senyuman itu palsu, begitupun dengan kebaikan hatinya selama ini.

        dalam hati Hye Mi bersumpah tidak akan lagi berhubungan dengan dunia keartisan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan showbiz memuakkan itu.

       Cukup hanya dia yang berubah.

       Cukup pria itu, oppanya sekaligus  cinta pertamanya saja yang berubah.

 

*

            Kris mulai masuk kedalam gedung SM Entertaiment dengan langkah malas. Moodnya memang sudah lebih baik, tapi pikirannya masih menjurus kearah Hye Mi. ia khawatir juga penasaran dengan masalah apa yang dipendam gadis itu.

            Pintu lift terbuka, ia masuk kesana dan mulai bersandar pada tembok lift. Lagu ‘That Man’ Bruno Mars melantun merdu di earphone yang ia pakai saat ini. satu orang tampak ikut masuk mengikutinya, menyadari siapa yang baru masuk Kris langsung memberi salam.

            “annyeonghaseyo hyung~” sapa Kris sambil tersenyum.

            “Ah, annyeong Kris. Kau mau latihan ?” tanya pria yang ternyata sunbae Kris.

            Kris mengangguk. “ne hyung. Kau juga mau latihan ?”

            “Ya begitulah. Kau tahu sebentar lagi kami akan melakukan world tour ke beberapa Negara bukan, jadi latihan semakin giat dilakukan” ucap sunbaenya itu. Kris mengangguk paham.

            Pintu lift terbuka, sunbae Kris keluar lebih dulu dari lift diikuti Kris dibelakangnya. Baru saja berjalan beberapa langkah Kris melihat sesuatu terjatuh dari saku sunbaenya. Ia langsung menunduk dan memungut benda yang ternyata adalah selembar foto.

            “ah, hyung ini terjatuh dari sakumu” panggil Kris, tapi ia terdiam sesaat mencermati wajah gadis yang rasanya sangat familiar baginya. Sunbaenya langsung berbalik dan mengambil foto itu dari tangan Kris cepat.

            “terima kasih memungutnya Kris” ia berterima kasih, Kris hanya mengangguk tapi matanya masih mengarah kearah foto yang kini dipegang sunbaenya itu.

            Rasanya aku pernah melihat gadis itu

            “ah, kalau boleh tahu siapa yang berada di foto itu hyung ? bukankah dia seorang gadis ?” tanya Kris penasaran. Sunbaenya tersenyum penuh arti.

            “ini ? foto calon istriku”jawabnya dengan wajah ceria.

            “jinjja hyung ? aku tidak pernah dengar kau punya kekasih, kau harus mengenalkannya padaku nanti hyung” goda Kris.

            Sunbaenya tertawa. Kris memang cukup dekat dengan sunbaenya yang satu ini.

            “tenang saja aku akan mengenalkanmu nanti” jawabnya tenang. Kris mengangguk lagi lalu sesudahnya ia berpamitan karena di ujung koridor Baek Hyun sudah berteriak padanya agar cepat.

            Pria itu sendiri disana, sepeninggal Kris ia masih tidak bergeming dengan mata yang masih betah menatap selembar foto ditangannya. Ia tersenyum. Raut wajahnya yang tenang tiba-tiba saja mendadak berubah menjadi sendu. Entah kenapa ada rasa sedih dan juga sakit disana.

            “oppa akan segera menepati janji Hye Mi, tunggu saja. Oppa akan segera datang”

*

To Be Continued

           

Komat-kamit sang editor :

Hai readers cantik dan kece parah ~ chapter yang ini feel galaunya setengah mati dibuat. Sampe-sampe harus digangguin makhluk tak kasat mata yang berkeliaran diluar rumah terus cekikikan. Oke ini seriuuuuussss, editor digangguin pas lagi ngedit ini. well, awalnya sih biasa tapi lama-lama merinding juga *plak. Jadi mian yah buat hyungi sama readers sayang kalo banyak typo dan ada kalimat gajelas *bela diri* *biarin elah*

Oke, kritik, saran sama rusuhannya (?) ditunngu. Gamsahamnidaaa~~~ – Yoo Ae Bi :*

Iklan

18 pemikiran pada “Hyemi’s Tale “Sweet of War” (Chapter 2)

  1. aggghhh jeongmal seru bgttttttttt xD
    author daebak..
    oh iya, bnneran thor, author diganggu sama makhluk gaib?? aigooo aku merinding ini, masalahnya aku sendiri di rmh yg belum tidur /.\

  2. kyaaa! makin seru cerita.a! cinta pertama.a Hye Mi siapa sih?? penasaran!>,< kalo gitu aku mw baca next chap ya thor.. 🙂

  3. Hyemi punya trauma berat sm idol…knp si laki2 g prnh jujur wlpn mngkin dia ngelakuin itu bwt melindingi ceweknya tp ttp aja nyakitin….kris dari awal sudah terpesona sm hyemi ya…ayo bang usaha bwt meluluhkan hati hyemi…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s