Lift

Lift

 elevator-original_0

 

Author                       : © Sisi Shim (@sysie14)

Casts                           : ·All EXO-K members

Genre                         : Horror

Length                        : Oneshot

Rating                         : G

Summary                  : Sehun takut sendirian berada di dalam lift. Semua member EXO mengetahui hal itu dengan baik dan fans pun bahkan juga sudah tahu hal itu.

.

.

 

Hari itu EXO-K pindah ke sebuah apartemen yang tak jauh dari sebuah Universitas swasta yang bergaya Eropa, Universitas Kyunghee. Dorm baru mereka berada di lantai 13 dan terlihat begitu mewah dari luar.

 

Semua sibuk dengan barang masing-masing. Mereka juga dapat dengan bebas memilih kamar sesuai yang mereka suka. Tak terasa malam pun tiba dan hujan mulai turun rintik-rintik.

 

Hyung, persediaan makanan kita sudah habis.” Ucap Dio pada Suho yang sedang sibuk menyapu kamar miliknya dan Sehun.

 

Suho mengangkat wajahnya dan menatap wajah Dio. “Benarkah? Cepat sekali persediaan makanan sudah habis. Lebih baik kita membeli makanan di luar saja.”

 

Hyung, bagaimana kalau makan ddeukbokki? Aku sangat menginginkannya.” Kata Sehun yang sedang tidur di ranjang.

 

“Baiklah. Aku juga ingin. Lalu siapa yang akan pergi beli, hyung? Aku dan Jongin masih sibuk dengan kamar kita.” Kata Dio.

 

“Bahkan aku dan Chanyeol belum membereskan kamar kita.” Sambung Baekhyun yang kebetulan lewat sambil membawa kemoceng.

 

Enam pasang mata milik Suho, Baekhyun, dan Dio bertemu dan kemudian menatap maknae mereka yang sedang asyik tidur di atas ranjang sambil memainkan PSP milik Kai.

 

Sehun yang merasa diperhatikan menekan tombol ‘pause’ dan balik menatap ketiga hyungnya dengan pandangan bingung. “Apa?” Tanyanya heran.

 

“Kau tahu Sehun-ah.. satu-satunya orang disini yang sedang tidak ada kerjaan adalah kau.” Ujar Baekhyun sambil menunjuk wajah Sehun menggunakan kemoceng yang Ia bawa.

 

Sehun mengerutkan alisnya tak mengerti. “Lalu?” Tanyanya. Namun ia segera menyadari apa maksud perkataan Baekhyun itu dan segera duduk dari posisi tidurnya.

 

“Kau ingin menyuruhku untuk pergi berbelanja, kan hyung?” Tanya Sehun dengan nada tinggi sambil melototkan matanya. “Andwae!” Sehun menolak secara mentah-mentah.

 

Kai dan Chanyeol yang sedang merapikan kamar mereka segera pergi ke kamar Leader-Maknae. Jarang sekali bahwa Sehun berbicara dengan nada tinggi seperti itu. Memangnya ada apa?

 

“Aku tidak mau!” Ucap Sehun kemudian.

 

“Yah kau ini kan sedang free. Apa salahnya sih untuk membeli makanan di depan apartemen kita? Lagipula yang ingin makan ddeukbokki itu kan kamu.”

 

“Bagaimana kalau kita bermain kai bai bo saja?” Usul Sehun sambil menyeringai. “Dan yang kalah, dia lah yang akan pergi membeli ddeukbokki.” Tambahnya karena ia sangat yakin bahwa Suho lah yang akan kalah. Suho memang payah jika bermain batu gunting kertas.

 

“Baik, siapa takut?!” Ucap Kai semangat karena ia sangat menyukai permainan.

 

Semua member EXO-K pun berkumpul dan membentuk sebuah lingkaran. Mereka mengepal tangan kanan mereka, bersiap-siap melakukan permainan yang populer di kalangan anak-anak maupun dewasa.

 

“Aku harap tidak akan ada yang curang dalam permainan ini dan siap menerima kekalahan.” Kata Sehun.

 

“Baiklah.. siapa yang kalah, maka ia yang akan pergi ke luar apartemen!” Kata Chanyeol semangat.

 

Mereka pun mengangkat kepalan tangan mereka ke udara dan berkata, “kai bai bo!”

 

Semua jari member membentuk huruf ‘V’ tak terkecuali dengan Sehun yang membuka telapak tangannya. Gunting melawan kertas, tentu saja Sehun kalah.

 

“Kau kalah!” Chanyeol berteriak bahagia sambil menunjuk wajah Sehun yang terlihat terkejut.

 

“Kau yang pergi berbelanja, Sehun-ah. Di dekat ddeukbokki depan apartemen kita ada minimarket. Kau dapat membeli cokelat jika kau mau, hitung-hitung sebagai ongkos kau pergi berbelanja,” Dio memberi uang ke tangan Sehun.

 

“Kai, temani aku!” Pinta Sehun lemas.

 

“Tidak bisa Sehun-ah. Hari ini sudah malam dan aku belum selesai membereskan kamarku dan Dio hyung.” Tolak Kai halus.

 

“Sekarang lihat, siapa yang curang disini?” Ejek Baekhyun. Sehun hanya menatap tajam hyungnya yang satu itu.

 

“Suho hyung..” Sehun memanggil Suho yang masih tetap menyapu.

 

“Ya! Kau tak lihat Suho hyung sedang sibuk? Cepat pergi sana, bilangnya kau lapar?” Tanya Baekhyun heran. “Di luar hujan rintik-rintik lebih baik kau bawa payung ini bersamamu, Sehunnie.” Tambah Baekhyun sambil memberikan Sehun sebuah payung lipat berwarna kuning.

 

“Temani aku sampai ke luar apartemen, hyung.”

 

“Haish kau ini merepotkan saja. Memangnya ada apa sih?”

 

Hyung, kau tahu kan kalau aku takut berada di lift sendiri?”

 

“Kau masih bisa menggunakan tangga, kan?” Jawab Baekhyun. Ia memang punya 1001 alasan untuk menjawab semua pertanyaan Sehun.

 

“Lewat tangga itu melelahkan, hyung. Bayangkan saja, kita berada di lantai 13! Sangat tidak mungkin jika aku naik dan turun melalui tangga. Aku takut berada di lift sendirian.”

 

“Memangnya apa yang kau takutkan? Lewat tangga justru lebih menakutkan dan melelahkan. Lewat lift kau hanya tinggal menekan tombol, masuk, dan tinggal keluar.”

 

“Baiklah Sehun-ah, aku akan menemanimu sampai ke luar apartemen.” Ajak Suho akhirnya karena sudah tidak sabar cepat-cepat mengakhiri perdebatan antara Baekhyun dan Sehun.

 

.

.

 

“Kau hanya perlu menekan tombol, tunggu sampai pintu lift terbuka.” Suho memberi sebuah tutorial cara menggunakan lift sambil menekan tombol yang ia maksud.

 

Sehun hanya mendengus kecil mendengar tutorial dadakan dari Suho. Hey, ia bukan anak kecil lagi yang perlu diajari cara menggunakan lift. Sehun sudah dewasa dan ia tahu benar bagaimana menggunakan lift.

 

Lift terbuka dan Suho pun masuk diikuti Sehun. “Dan tekan lagi untuk menutup pintu dan jangan lupa untuk menekan lantai yang ingin kau tuju. Karena kita ingin ke luar apartemen, maka kita menekan tombol nomor sat—“

 

“Ya hyung!” Sehun memotong ucapan Suho. “Aku sudah tahu cara menggunakan lift. Aku hanya takut, hyung. Aku takut berada sendirian di lift.” Ucap Sehun dengan suara rendah, seolah-olah ada orang lain yang berada di dalam lift selain mereka dan mendengar aib Sehun.

 

“Memangnya kenapa?”

 

“Sudahlah, lupakan saja.” Sehun tak ingin membahas mengenai itu apalagi mereka hanya berdua di dalam lift.

 

Sehun memeluk tubuhnya sendiri. Entah kenapa ia merasa kedinginan dan sedikit merinding padahal ia memakai sweater tebal. Ia melihat Suho yang tampak sedang santai walau ia hanya mengenakan kaus lengan pendek.

 

Hyung, kau tak kedinginan?” Tanya Sehun heran.

 

Ting!

 

Tepat saat itu pintu lift terbuka otomatis. Suho mendorong tubuh Sehun pelan untuk segera keluar.

 

“Sudah, pergi sana aku ingin kembali du—“

 

Hyung, kau harus menungguku disini!” Sehun dengan cepat memotong perkataan Suho. Ia tahu kemana arah pembicaraan sang leader.

 

“Sehun-ah, aku sedang sibuk!” Ucap Suho mencoba untuk membuat maknae itu mengerti.

 

Hyung, aku mohon!” Pandangan mata Sehun membuat Suho luluh. Akhirnya ia mengangguk setuju untuk menunggu Sehun kembali datang dengan membawa ddeukbokki.

 

“Hahh.. baiklah.” Ucap Suho menyerah.

 

.

.

 

Karena menunggu Sehun terlalu lama, Suho tiba-tiba saja merasa ingin buang air kecil. Ia segera pergi ke toilet di lantai dasar. Ia tersenyum lega setelah selesai dan mencuci wajahnya di salah satu wastafel.

 

Ia melihat pantulan wajahnya di cermin dan menyadari bahwa kantung matanya sedikit gelap. Akhir-akhir ini ia memang lebih mudah lelah dan jarang tidur karena jadwal padat. Terlebih lagi ia adalah seorang leader dan mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap grup dan member-membernya.

 

Alis Suho berkerut saat melihat seorang gadis berambut panjang yang menutupi wajahnya dan baju putih yang agak sedikit kotor sedang masuk ke salah satu toilet. Hey, ini kan toilet untuk pria. Yang benar saja?!

 

Suho mendekati pintu dimana gadis itu masuk. “Nona muda, aku rasa anda salah memasuki toilet. Ini toilet khusus pria.” Ucap Suho sopan namun tak ada jawaban.

 

Suho hendak mengetuk pintu itu saat tiba-tiba saja pintu itu terbuka dengan sendirinya. Suho melongo tak percaya. Gadis itu menghilang! Ia tak ada di dalam toilet.

 

Jantung Suho berdetak dengan cepat. Ia yakin bahwa ia baru saja melihat seorang gadis muda memasuki toilet pria. Sekarang gadis itu menghilang, bahkan ia tak sempat keluar dari toilet sebelum Suho menegurnya.

 

Suho menelan salivanya yang terasa kering. Ia berusaha untuk berpikiran positif. ‘Ini hanya halusinasimu saja, Suho!’ batinnya mencoba untuk memberanikan diri.

 

Suho segera keluar dari dalam toilet dengan perasaan campur aduk. Takut, bingung, dan kesal bercampur jadi satu.

 

Semua perasaan campur aduknya menghilang begitu saja saat ia melihat Sehun sedang berjalan memasuki lift.

 

“Yah Sehun, tunggu!” Suho berlari, mencoba untuk mengejar Sehun. Tetapi ia terlambat, Sehun keburu menutup pintu lift.

 

“Dasar maknae nakal! Ia bilang ia takut berada di lift sendiri dan nyatanya ia bahkan meninggalkanku. Awas kau ya!” Suho menggerutu dengan kesal.

 

Ia berdiri di depan pintu lift, menunggu lift itu kembali terbuka. Tak lama pintu itu kembali terbuka. Suho segera masuk dan menekan tombol nomor 13, dimana mereka berenam tinggal.

 

Suho berjalan cepat memasuki kamar apartemen. Lidahnya terasa gatal ingin menceramahi Sehun yang meninggalkannya sendiri di lantai dasar.

 

Ia melihat keempat membernya sedang duduk santai sambil menonton acara TV. Sepertinya mereka sudah selesai mengatur kamar.

 

Hyung, kau sudah kembali. Dimana ddeukbokkinya?” Tanya Kai bahagia karena lapar.

 

“Dimana Sehun?” Tanya Suho cepat, tanpa menjawab. Dio memandang wajah Suho dengan heran.

 

“Harusnya kami yang bertanya seperti itu. Sehun belum kembali.” Jawab Dio.

 

Deg!

 

Suho terdiam membeku. Ia yakin bahwa tadi ia melihat Sehun memasuki lift, meninggalkannya di lantai dasar. Jika Sehun belum kembali, lalu yang tadi itu siapa?

 

.

.

 

Sehun menutup payungnya yang basah karena hujan di luar. Ia membawa dua tas plastik di tangannya dan memasuki apartemen barunya.

 

Hyung!” Panggil Sehun saat ia melihat Suho berada di dalam lift dan bersiap-siap menekan tombol.

 

Hyung, tunggu aku!” Sehun melempar payungnya ke sembarang arah dan berlari menuju lift sebelum Suho benar-benar meninggalkannya sendiri. Namun terlambat. Pintu lift itu tertutup dengan sempurna.

 

Sehun terdiam mematung saat melihat lampu lift itu berhenti di lantai 13. Ia yakin Suho sudah keluar dari lift dan meninggalkannya.

 

Sehun dengan perasaan ragu menekan tombol lift. Tak perlu menunggu waktu lama hingga lift itu terbuka. Ia melangkahkan kaki kirinya masuk lalu menariknya kembali. Entah kenapa Sehun merasa ada seseorang di dalam lift itu padahal nyatanya lift itu kosong.

 

Ia menarik napas panjang, berusaha tenang. Sehun menggigit bibir bawahnya bingung. Akhirnya setelah berpikir dua kali ia pun meninggalkan lift itu dan memutuskan untuk memilih melewati tangga. Tanpa Sehun sadari lift itu pun tertutup dengan sendirinya.

 

.

.

 

Hyung, kau meninggalkanku!” Ucap Sehun marah pada Suho yang tampak sedang membeku di dekat jendela apartemen. Ia sedang mengatur napasnya yang tak beraturan karena kelelahan menaiki tangga sampai ke lantai 13.

 

“Se-Sehun?!” Mata Suho tampak melebar melihat Sehun yang datang. “Kau darimana saja?”

 

“Kau darimana saja?” Sehun mengulang pertanyaan Suho dengan nada mengejek. “Tentu saja membeli ddeukbokki. Apa lagi?” Sehun menjawab dengan mata yang berkaca-kaca. Ia mencoba untuk menahan tangis.

 

Ia sempat berpikir bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk menangis.

 

“Maafkan aku! Aku yang salah.” Suho berjalan mendekat, berusaha untuk memeluk dongsaengnya namun Sehun segera menepis tangan Suho. Ia sudah terlanjur marah.

 

“Yah yah kau kenapa, Sehun-ah?” Tanya Kai bingung.

 

“Suho hyung, sebenarnya ini ada apa?” Tanya Chanyeol heran. Sungguh pemandangan yang langka dapat melihat Suho-Sehun seperti ini.

 

“Aku berjanji akan menunggunya di lantai dasar sampai ia kembali sehabis membeli ddeukbokki tetapi aku malah meninggalkannya.” Tutur Suho dengan jujur. Ia merasa sangat bersalah.

 

“Suho hyung pembohong ih! Melanggar janji.” Ejek Chanyeol. Ia berusaha untuk mencairkan suasana tetapi yang terjadi malah membuat suasana semakin panas.

 

“Sehun saja yang terlalu cengeng begitu. Ditinggal saja sudah menangis.” Kai tertawa geli melihat mata Sehun yang sudah tergenang oleh air mata.

 

“Sudah Sehun-ah tidak apa-apa. Buktinya kamu kembali dengan selamat kan menggunakan lift tadi sendirian?” Baekhyun bertanya heran. Sama seperti Kai, ia juga tertawa geli.

 

“Asal kalian tahu hyung, aku tidak menggunakan lift. Aku menaiki tangga sampai ke lantai 13!”

 

Semua mata memandang Sehun dengan pandangan tak percaya. “Hahaha.” Mereka semua tertawa mendengar penuturan Sehun. Menaiki tangga? Yang benar saja. Buat apa susah-susah menaiki tangga jika sudah disediakan lift? Isn’t it a joke, right?

 

“Sudah hentikan. Lebih baik kita makan dulu!” Ucap Dio setelah ia menghentikkan tawanya.

 

“Aku tidak mau makan!” Jawab Sehun sambil menatap tajam mata Dio.

 

“Ya Sehun-ah, tatapanmu mengerikan. Berhentilah menatapku seperti itu!” Entah kenapa, tatapan itu membuat Dio merinding dan sedikit takut. Seperti bukan Sehun yang biasanya.

 

“Maafkan hyung, Sehun-ah. Hyung janji tidak akan mengulanginya lagi.” Suho merasa sangat menyesal dan membuat Sehun akhirnya juga merasa bersalah karena sudah membentak leadernya.

 

“Aku yang terlalu kasar padamu, Suho hyung. Maafkan aku juga,” akhirnya Sehun dapat memaafkan Suho. Ia berpikir bahwa ia yang terlalu berlebihan.

 

Keadaan kembali seperti biasa. Mereka pun memakan makan malam mereka. Sesekali Baekhyun dan Chanyeol membuat lelucon hingga membuat Kai tersedak.

 

“Ah ya, Sehun-ah! Payung yang aku berikan padamu tadi dimana?” Tanya Baekhyun heran. Payung itu adalah barang kesayangan milik Baekhyun yang diberikan oleh Taeyeon SNSD sebagai hadiah karena Baekhyun sudah memberikannya sebuah eyeliner berkualitas dan tentu saja mahal.

 

Sehun menepuk dahinya keras dan mengumpat kecil. Ia meninggalkan payung itu di lantai dasar saat ia melihat Suho memasuki lift tadi.

 

“Jangan bilang kau meninggalkannya!” Kata Baekhyun dengan pandangan menyelidik.

 

“Ayo biar aku temani untuk mengambilnya, Sehun-ah!” Ujar Suho menawarkan diri.

 

.

.

 

Suho dan Sehun pun berjalan melewati lobi, menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai dasar.

 

Ting!

 

Mereka mempercepat langkah mereka saat mendengar bunyi lift yang menandakan tiba di lantai tujuan. Mereka melihat pintu lift itu terbuka lebar tanpa ada siapa-siapa di dalamnya.

 

Tak ada orang yang masuk ke dalam lift atau pun orang yang keluar dari lift. Lift itu terbuka dengan sendirinya seolah-olah ada yang menekan tombol lift. Tetapi siapa?

 

Suho dan Sehun melihat payung milik Baekhyun di dalam lift itu, tergeletak tepat di tengah-tengah. Suho bingung. Bukannya Sehun pulang tadi tidak menggunakan lift? Bagaimana bisa payung itu berada di dalam?

 

Tetapi lain halnya dengan Sehun. Ia tak memikirkan tentang hal itu. Tanpa berpikir dua kali, ia segera berlari memasuki lift untuk segera mengambil payung kesayangan milik Baekhyun.

 

Hyung, aku menemukannya!” Jerit Sehun bahagia. Ia tak habis pikir bagaimana jadinya jika ia tidak menemukan payung berharga itu. Apakah Baekhyun akan menjadikkannya makan malam ataukah lebih buruk dari itu?

 

Suho berhenti berjalan dan ikut tersenyum melihat Sehun yang menjerit bahagia di dalam sana. Namun senyum malaikat Suho memudar dan kemudian menghilang begitu saja saat ia melihat seseorang yang familiar di matanya.

 

Disana, di dalam lift tepatnya di pojok lift itu berdiri seorang perempuan berambut panjang yang menutupi seluruh wajahnya. Ia menunduk, menatap lantai lift. Bajunya putih sedikit kotor dan lusuh yang panjang hampir menutupi kakinya.

 

Suho mengenal sosok itu! Ia adalah perempuan yang ia lihat di toilet dan tiba-tiba menghilang begitu saja. Bagaimana bisa ia berada di dalam? Suho bersumpah bahwa ia tidak melihat siapa-siapa di dalam lift itu tadi. Apa jangan-jangan?!

 

Bulu kuduk Suho meremang. Udara sekitar terasa dingin begitu saja. Kakinya terasa mati rasa. Ia tidak dapat menggerakkan tubuhnya. Bahkan menelan ludah sendiri saja susah rasanya. Suho sempat berpikir bahwa ini pertama kalinya ia melihat.. hantu?

 

Entahlah, Suho juga tidak yakin mahluk apa yang berada di lift itu bersama Sehun. Eh Sehun?

 

Suho pun sadar bahwa Sehun masih disana.

 

Perempuan misterius itu mengangkat wajahnya. Suho dapat melihat dari jauh bahwa kulit wajah perempuan itu terkoyak dan berdarah. Wajahnya sangat mengerikan, dapat membuat siapa saja akan pingsan saat itu juga. Suho, salah satunya. Ia berdoa dalam hati untuk tidak pingsan dalam suasana yang tidak tepat seperti ini.

 

Suho tidak dapat melihat kaki perempuan itu karena tertutup oleh baju putihnya yang panjang. Namun Suho menyadari bahwa perempuan itu melayang! Ia melayang mendekati Sehun. Dekat dan semakin mendekat.

 

Entah kekuatan darimana, Suho dapat menguasai ketakutannya. Ia adalah leader dan bertugas untuk menjaga seluruh membernya.

 

Ia berteriak sekencang mungkin dan berlari secepat mungkin untuk menyelamatkan Sehun dari dalam lift itu. “SEHUN-AH, KELUAR SEKARANG JUGA!”

 

“Eh?” Sehun bingung dengan reaksi Suho yang tiba-tiba saja berubah panik. Belum sempat ia mengatakan sepatah kata pun, pintu lift itu pun tertutup dengan sendirinya membuat Sehun panik dan ketakutan.

 

HYUNG!” Hanya kata itu yang dapat Suho dengar sebelum pintu lift tertutup dengan sempurna.

 

“Sehun-ah, Sehun-ah, buka pintunya!” Suho menggedor-gedor pintu lift dengan heboh seperti orang tak waras. Ia takut terjadi suatu hal yang buruk dengan Sehun. Sehun takut berada di dalam lift sendirian dan Suho tahu tentang hal itu.

 

.

.

 

Hyung! Hyung!” Sehun menggedor-gedor pintu lift dan menekan tombol lift sebanyak mungkin. Namun lift tidak juga terbuka. Sehun pun panik.

 

Klik!

 

Lampu lift tiba-tiba saja padam meninggalkan kegelapan di dalam sana. Sehun yang panik menjadi tambah panik. Kegelapan membuat jantungnya berdetak tak normal.

 

Hyung!” Sehun menggedor-gedor pintu lift karena ia tahu listrik sedang padam dan percuma saja jika ia menekan tombol lift beribu kali.

 

Hyung!” Sehun hampir menangis. Ia takut berada sendirian di dalam lift terlebih lagi di dalam keadaan gelap gulita seperti ini. Siapa yang akan berani?

 

Sehun menahan napas saat ia merasakan ada sesuatu udara yang hangat di sekitar lehernya. Ia menyadari ada seseorang yang bernapas di belakangnya dan itu menandakan bahwa Sehun tidak sendirian di dalam lift.

 

Sehun juga merasakan bahwa oksigen di dalam lift tiba-tiba menipis sehingga membuatnya sulit bernapas. Udara terasa dingin menusuk membuat Sehun sedikit menggigil.

 

Ia mengepalkan tangannya serapat mungkin. Ia sungguh takut. Keringat dari dahinya mengucur deras dan membasahi wajahnya yang pucat.

 

Sehun terlonjak saat merasakan sebuah tangan yang dingin menyentuh lehernya. Kuku tangan itu pun menusuk pelan leher Sehun, membuatnya meringis kesakitan dan terduduk di pojok lift.

 

Sehun menyentuh lehernya dan merasakan suatu cairan hangat di lehernya. Lehernya terluka!

 

H-hyung.. to-tolong aku!” Ucap Sehun tergagap.

 

Ia berusaha menormalkan detak jantungya dan napas yang tak beraturan. Keadaan memang masih gelap namun Sehun sudah tidak dapat merasakan kehadiran sosok misterius itu. Apa mahluk itu sudah pergi?

 

Sehun kembali merasakan hembusan napas di wajahnya membuat tubuh Sehun kembali menegang. Sosok itu masih berada di sini.

 

Walaupun dalam keadaan gelap, Sehun dapat melihat sileut seorang wanita di depannya dengan rambut panjang. Ia tercekat. Siapa wanita itu?

 

Klik!

 

Lampu lift pun menyala secara sempurna dan Sehun dapat melihat wajah sosok perempuan itu. Kulit wajahnya terluka, ada noda darah disana dan yang membuat Sehun menjerit ketakutan adalah bahwa kedua bola mata milik perempuan itu tidak ada.

 

“Dimana mataku?” Tanya perempuan itu dengan suara yang serak dan menakutkan.

 

HYUUUUNG!” Sehun berteriak sekencang mungkin, berharap bahwa ada seseorang yang mendengarnya dan segera menolongnya.

 

.

.

 

“Sehun-ah! Sehun-ah!” Suho berteriak sambil menggedor pintu lift. Ia melihat ke atas, melihat lampu lift yang menunjukkan angka nomor 13, lantai dimana Suho dan lift itu berada.

 

Lampu lift yang menunjukkan lantai apartemen itu tiba-tiba saja mati membuat Suho semakin panik. Ia yakin bahwa Sehun tidak dapat melihat apa-apa di dalam sana terlebih lagi ia tidak sendirian.

 

“Sehun-ah! Sehun-ah! Buka pintunya!” Suho semakin menggila memanggil Sehun.

 

“Suho hyung, kau kenapa?!” Baekhyun, Chanyeol, Dio, dan Kai segera berlari menghampiri Suho yang tampak seperti orang gila. Suara Suho terdengar sampai dalam kamar apartemen mereka.

 

“Sehun! Sehun!” Suho menunjuk lift.

 

“Sehun kenapa, hyung?” Dio berubah takut melihat ekspresi wajah Suho.

 

Sebelum Suho menjawab, ia melihat lampu lift kembali menyala dan sedang bergerak menuju lantai 14. Tanpa berpikir panjang, Suho segera berlari menuju lantai 14 menggunakan tangga.

 

Keempat member lain yang sedang ketakutan mengikuti Suho yang berlari secepat mungkin. Suho berlari seperti orang yang sedang kehilangan akal sehat.

 

Ting!

 

Lift itu berbunyi, tanda sudah mencapai tempat tujuan. Suho segera berlari mendekati pintu lift.

 

“Sehun-ah!” Suho memanggil nama Sehun seiring dengan lift yang terbuka secara perlahan.

 

Angin kencang seketika menyapu wajah mereka sesaat pintu lift sudah terbuka secara sempurna. Suho membuka matanya dan melotot tak percaya. Lift itu kosong!

 

Sehun tidak berada di dalam lift tersebut. Lift itu hanya menyisakan sebuah payung kuning milik Baekhyun.

 

Suho merasakan bahwa dunianya runtuh saat itu juga. Pandangan Suho mulai kabur. Sebelum ia benar-benar kehilangan kesadaran, ia dapat mendengar suara Sehun yang terdengar seperti meminta pertolongan.

 

“Hyung..” Suho mendengar suara Sehun yang ketakutan.

 

Hyung!!” Kali ini Suho mendengar suara keempat dongsaengnya sebelum semuanya berubah menjadi hitam dan gelap.

 

.

.

 

Sejak malam itu, Sehun menghilang dan sampai sekarang belum ditemukan oleh siapapun. Member EXO-K yang lain juga sudah pindah dorm tiga hari setelah kejadian itu. Mereka semua diam, tidak ada yang berani mengungkit berita mengenai hilangnya Sehun.

 

Sehun menghilang di dalam lift secara misterius. Kini keseluruhan member EXO hanya berjumlah 11, bukan 12. Namun mereka mengakui bahwa setiap kali mereka perform, latihan, atau berada di dorm sekalipun, mereka sering merasakan kehadiran Sehun di tengah-tengah mereka.

 

Apakah kau berani menaiki lift sendirian?

 

THE END

 

.

.

 

[A/N] : Omo omo.. FF macam apa ini? O_O Kasian Sehun diculik hantu lift!

Hahaha. Tiba-tiba saja dapat ide waktu lagi baca fun fact Sehun yang mengatakan bahwa Sehun takut sendirian berada di dalam lift. Terus dijadiin horror deh karena aku emang suka horror. Otomatis cerita ini punyaku tetapi inspirasinya dapat dari fakta Sehun itu.

Oke, kayaknya aku sadar bahwa cerita ini kurang dimengerti dan kurang nyambung. “Bagaimana bisa ada hantu di dalam lift?”, “Kenapa Sehun diganggu hantu?”, atau mungkin, “loh, itu hantu lift? Tapi kok tadi hantunya ada di WC datangin Suho?” XD

Udah, gausah diambil pusing. Intinya ya gitu hantunya gentayangan juga ke WC numpang pipis (?) terus ngilang gitu aja kayak hantu. Eh, emang hantu sih sebenarnya.. wkwkwk.

Cerita jelek jangan salahkan saya, terima kasih^^

Makasih juga buat adminnya!

 

Iklan

99 thoughts on “Lift

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s