The Dusk ‘Before The Night’ (Chapter 4)

Author : @JiaceSuji

Title : Dusk (Before the Night)

Chapter : 4 (On Going)

Genre : Romance, School life,Drama

Ratting : Teen

Cast  :

Park Chanyeol(Chanyeol) || Kwon Heesun (Oc)

Other cast :

Kai EXO ( Kai) || Jung Hea (Oc) and EXO member (cameo)

 picsart_1382434703126

 

Four..

 

 

“Chukkae Oppa!” Entah berapa kali sudah ucapan itu terdengar di telinga namja itu. Namja berambut pirang dengan penampilan seperti perman. Tidak, dia memang preman. Hyunggi selain itu, ternyata adalah seorang peminpin salah satu gankster yang terkenal di daerah sana. Walaupun umurnya masih terbilang muda.17 tahun.

Ia tersenyum miring kepada gadis-gadis yang kini mengerumuninya dan sesekali memeluknya manja. dan ia juga berhasil mendapatkan sebuah kotak berukuran sedang yang ternyata penuh berisi uang, hadiah bagi pemenang lomba. Ia seperti seorang pangeran yang sedang berada di Surga.

Tetapi yang namanya surga, tidak pantas untuk dihuni oleh seseorang yang jahat seperti dirinya. Surganya itu hanya bertahan satu-dua-tiga menit, sebelum akhirnya ia melihat orang-orang yang lain ( peserta dan penonton yang lain) lebih memilih untuk mengkahwatirkan keberadaan Chanyeol yang hilang ditengah arena setelah terjatuh. Mereka ternyata lebih peduli kepada Chanyeol, dibandingkan sang juara yang baru saja memenangkan pertandingan illegal ini. Tentunya, sang juara itu menggunakan cara yang illegal pula.

Ada seorang namja bertubuh kecil yang berlari dari arah jalur pertandingan menuju ke sekumpulan orang yang berada tak jauh dari garis finish, saat ini ia seperti sedang berlomba lari. Namja itu bernama Baekhyun, Sepertinya ia mengadakan observasi sendiri dengan mengitari jalur pertandingan sembari mencari keberadaan Chanyeol.

“Hey!” Ucapnya sembari menghentikan kakinya. Ia mengatur nafasnya sembari membungkukkan tubuhnya dengan tangannya yang memegang kedua lututnya yang tertekuk. Ia masih mengatur nafasnya, sedangkan yang lain terlihat tak sabar menunggu laporannya, sehingga salah seorang namja disana bernama Kris,membentaknya. Dan ia menaikkan satu jarinya sembari berusaha mengeluarkan suara “chan-Chanyeol….hhh.. Chanyeol dia meninggalkan motornya!.. dan aku menemukan ini” Baekhyun memberikan  dua buah kaleng minuman bersoda yang telah remuk seperti terlindas sesuatu yang berat , kepada Kris yang tadi sempat membentaknya.

“Saat aku temukan benda ini, isinya masih tinggal seperempat.. pasti benda ini sebelumnya terisi penuh… Sepertinya ini yang membuat Chanyeol terjatuh. Dia mungkin tak berhati-hati hingga benda kecil ini Membuat motornya tergelincir…” jelas namja kecil itu,lengkap dengan hipotesanya. Kris memicingkan matanya karena tak percaya, sebelum akhirnya ia melihat kearah peserta balap yang lain. Ia mencurigai orang-orang itu.

Namun, yang sesungguhnya terjadi adalah

Chanyeol, ia berhasil meminpin di depan dengan kecepatannya yang telah ia kurangi hingga hampir 60 km/jam. Itu karena dirinya yang sama sekali tak melihat seorangpun di belakangnya. Mungkin saja mereka tertinggal jauh seperti biasanya.

 

Sampailah ia pada tikungan terakhir menuju garis finish. Tetapi, satu yang membuatnya bingung adalah ketika lampu sepanjang jalan menuju tikungan tersebut dan jalan lurus setelahnya tiba-tiba saja padam secara tak wajar. Mereka seperti telah dikendalikan. Disana Chanyeol tahu, akan ada sesuatu yang tidak menyenangkan.

Dan karena ia larut dalam pikirannya itu, ia sampai baru menyadari bahwa ada seseorang yang kini berada dibelakangnya. Dia adalah yang sempat dilihat Chanyeol sesaat sebelum pertandingan dimulai.  orang yang sepertinya laki-laki dengan pakaian serba hitam dan motorcross hijaunya. Jauh memang, namun kecepatannya itu memungkinkan dirinya yang akan mendahului Chanyeol kurang dari lima detik.

Orang itu baru saja memasuki arena dengan memotong jalur. Namun yang pasti, keberadaan orang itu patut dicurigai. Chanyeol-pun menaikkan kembali kecepatannya agar orang itu tak berhasil mendahuluinya. Dan terakhir, Chanyeol melihat kembali ke arah kaca spion bahwa tak ada satupun orang yang menyusul dibelakangnya selain orang aneh itu.

Namun naas, Chanyeol kalah cepat, orang tersebut telah berhasil sejajar dengannya. Yang terakhir, Chanyeol sama sekali tak bisa berkutik saat orang tersebut telah berhasil menendang ban belakang motornya dengan sangat keras. Entah sepatu seperti apa yang digunakannnya saat itu. namun yang jelas, tendangan kaki itu telah berhasil membuat Chanyeol oleng di kecepatan motornya yang hampir maksimal itu. fatal, motor Chanyeol pun terjatuh, dengan dirinya yang terpental sebelum akhirnya ia terseret di atas aspal. Saat Chanyeol terjatuh, ia sempat melihat  dua kaleng yang sengaja dijatuhkan oleh orang tersebut .. ia menjatuhkan dua buah kaleng soda yang telah remuk.

Itu adalah trik, agar penyebab Chanyeol terjatuh-karena-kecerobohannya kuat.

Dan setelah berhasil, pengendara itu kembali berkendara keluar jalur dan dengan lincah ia melompati pagar pembatas sebelum akhirnya ia mendarat di trotoar dan langsung menghilang entah kemana dengan motornya itu.

Yah, Chanyeol telah menduganya.. Akhirnya hari sial seperti ini datang juga.

Itulah yang sejujurnya terjadi.

Jika ditebak, orang aneh tersebut memang orang suruhan Hyunggi. Entahlah, hyunggi memang sudah kehabisan cara untuk menang. Ini bukan karena soal uang sebagai hadiah, tetapi menang sebagai gelar. Ia frustasi karena akhir-akhir ini ia mendapati dirinya yang kalah, karena seorang newbie yaitu Chanyeol, yang baru satu tahun ini bergabung dengan mereka.

Inilah satu-satunya cara. Cara yang illegal, di tengah pertandingan illegal.

-::-

Mungkin memang sudah terbiasa.

Setiap ia membawa dirinya untuk berjalan bersamaan dengan orang orang lainnya, Hima selalu menerima itu. Mereka adalah berbagai kritik yang diberikan secara tak langsung oleh berbagai orang yang melihatnya. Melihat bagaimana dia. Dimana Kritikan-kritikan itu sangatlah tidak menyenangkan. Namun Hima memang hebat, ia sama sekali tak merespon kritikan-kritikan itu, Bahkan ia menganggap mereka benar-benar tidak ada.

Hima mengidap sebuah penyakit, dimana dirinya –diusianya yang telah enam belas tahun ini- ia masih bertingkah kekanak-kanakan. Itu bukan karena dibuat-buat. Itu memang alami terjadi pada dirinya dan juga itu jelas terlihat dari kesehariannya, dimana ia masih menyukai hal yang berbau kartun untuk anak (ex : Pororo, dsb.),  Imajinasinya yang kuat akan ‘Neverland’, lalu anime, anime dan anime. Ia tak pernah menganggap orang disekitarnya itu ada jika ia telah mulai dengan dunianya, bahkan ia cenderung jarang berinteraksi di sekolah jika ia tidak diketuk bangkunya duluan.

Selain itu, wajahnya yang masih sangat imut dan cantik membuatnya terkadang memang  terlihat lebih muda dari umurnya yang sebenarnya. Jangan lupa dengan tinggi badannya itu yang bisa dibilang ‘sedikit rendah’. Lalu yang menarik adalah rambutnya yang sangat panjang, tebal dan hitam pekat. Rambutnya kurang lebih sudah dibawah pinggulnya, dan tebalnya sulit dideskripsikan. Itu membuat orang disekitarnya yang telah melihat dirinya akan berbisik pada teman sebelah lalu mengomentari penampilannya. “Dia terlihat seperti hantu”.

Tetapi bukankah sejujurnya, penampilan itu tak mengganggu jalan hidup mereka?

Ya, mereka memang jahat dan kurang kerjaan lebih tepatnya. Bahkan pernah Hima dibully sewaktu ia masih di sekolah dasar , karena bagi mereka Hima itu sangat aneh dan lemah. Untungnya, di sekolah menengah ini, ia sudah tidak merasakan itu lagi. Yah walaupun ejekan sering diterimanya. Ia Berdoa semoga itu tidak terjadi lagi!. Karena itu sangat menyakitkan.

Tersenyumlah, ia sudah kebal. Dia memang gadis yang kuat.

“Oppa!” teriak Hima melihat kehadiran sunbae favoritnya.

Hima baru saja memasuki gerbang sekolah dan mulai berjalan untuk menuju kelasnya sebelum akhirnya ia melihat sosok Suho yang datang berlawanan arah bersama teman-temannya.

“Oh, Hima” namja bernama Suho itu melambaikan tangannya, “ Selamat Pagi..” Ucapnya mendahului.

“Selamat pagi juga Oppa.” Balas Hima.

Ah benar, ini akan terjadi. Hendak Hima tadi hanya menyapa. Namun karena sudah berhadap-hadapan seperti ini,ditambah lagi tak ada topic yang ingin dibahas keduanya, mereka kini terlihat canggung dan terdengar seperti ada suara jangkrik musim hujan bernyanyi diantara mereka.

“Apa rencanamu hari ini?” Untungnya, Suho memang pemuda ramah yang pintar mencari topic. “ Aku tidak… hanya saja sepulang sekolah, Hima ingin ke toko buku untuk membeli buku tutorial menggambar anime.. apa Oppa ingin ikut?” Hima menawarkan. Hima juga memiliki kebiasaan dimana dirinya selalu berbicara dengan bahasa formal. Tetapi kini bahasanya sudah mulai stabil.

Suho diam untuk mempertimbangkan sebelum akhirnya ia kembali menoleh kearah Hima dan tersenyum “Baiklah.. kita kesana sama-sama..”  Yak, lihat mudah sekali Suho luluh terhadap Hima. Bahkan kini Suho mengusap pelan rambut Hima disaat Hima mencoba untuk membungkuk, mengucapkan terimakasih. “Nanti aku tunggu digerbang sekolah..” Suho kembali tersenyum.

“Baiklah Oppa.. Kamsahamnida..” Hima bersemangat. Tingkahnya kali ini terlihat menggemaskan. Dan setelahnya, mereka pun Berpisah. Hima kembali berjalan menuju kelasnya dan Suho melanjutkan jalannya bersama teman-temannya.

“Itu Lee Hima kan?” Disaat Suho kembali berjalan, salah seorang temannya bertanya. “Hm..” Suho mengangguk.

“Dia seperti anak kecil..” kini ada teman Suho yang lain yang ikut dalam pembicaraan. Suho tidak merespon walaupun memang itu adalah fakta.

“Ya.. itu benar sekali.. dia juga aneh.. dia terlihat seperti boneka Okiku” orang itu bergestur mengandaikan rambut Hima yang tebal itu berada diatas kepalanya. “ …aku berani taruhan kalau orang seperti itu tidak mungkin bisa merasakan cinta.. fisik dan mentalnya juga masih seperti anak – anak sekolah dasar.. cih..” Kembali orang pertama itu berkata sembari tertawa meremehkan. Benar bukan? Selalu ada saja yang mengkritik Hima dibalik punggungnya.

Suho mendengar pembicaraan mereka , ia seperti berfikir keras saat ini sebelum akhirnya ia kembali menoleh kebelakang, dan melihat punggung Hima yang sudah menjauh dari pandangannya. Namun masih terlihat jelas, Hima saat itu berjalan sambil bersenandung.

“ Mungkin dia akan merasakannya ketika dia sudah menjadi seorang ahjuma.. ahahahaa” Mereka ternyata masih meledek Hima. Hingga tak sadar, Suho meremas kain celananya dan menghembuskan nafas panjang.

 

“Setiap orang memiliki bentuk yang beda-beda.. dan mereka punya daya tarik tersendiri.. bukan aneh.. tetapi unik..”

 

-::-

Cklekk..

Suara pintu terbuka.

Heesun mengalihkan pandangannya kearah namja yang baru saja datang dan berjalan ke arah sebuah meja dan mendudukinya. Chanyeol, Ia duduk di atas meja.

Serasa matanya itu tak dapat terlepas dari objek di depannya. Bagaimana tidak? Tadi pagi Heesun mendapatkan kabar bahwa Chanyeol absen tanpa keterangan, dan kini ia justru melihat namja tersebut lengkap dengan pakaian seragamnya tengah duduk di ruangan latihan musik sekolah dengan santainya.

Tetapi, sebenarnya itu pemikiran tadi. Ia memperhatikan tubuh namja ini yang terlihat sedikit lemas. Hanya Se-Di-Kit. Wajahnya, atau lebih tepatnya pipinya tampak ada luka lecet kemerahan, tangannya terbalut perban kecil dan itu pun belum mampu menutup semua permukaan lukanya hingga masih ada sedikit goresan yang terlihat. Dan jalan namja itu sedikit berubah, seperti menahan sesuatu. Tapi namanya adalah Chanyeol, sesulit apapun dia, keadaannya, yang terlukis diwajahnya hanya wajah datarnya saja seolah tak terjadi apa-apa.

Chanyeol hanya mencari tempat peristirahatan yang nyaman. Alasan mengapa ia tak masuk kelas, tentu karena lukanya. Namun alasan mengapa ia tak tinggal dirumah dan justru kembali kesekolah, itu karena ia ingin menghindari permintaan Hyunggi yang ingin menjenguknya hari ini, Seolah dirinya tak tahu apa-apa soal kecelakaan itu. Biarlah, bagi Chanyeol, Hyunggi itu lebih pecundang dari pada dirinya. Orang itu benar-benar.

Perhatian Chanyeol sempat tertuju kepada Heesun yang tengah duduk di kursi ruangan dan menatapnya dengan kekahwatiran. Namun ia berusaha untuk tidak peduli dan memilih untuk menghembuskan nafasnya panjang.

“Chanyeol-ah…” Heesun memanggil, dan beranjak dari tempatnya, berjalan kearah Chanyeol. Tubuh Chanyeol sedikit merinding ketika Heesun memanggil namanya seperti itu. Ada rasa hangat didalam hatinya.“Kau kenapa?” Lanjut Heesun.

“Jangan bilang pada siapapun bahwa aku kemari” Chanyeol masih menjeda kalimatnya. “Kau tak perlu tahu.. berhentilah disitu dan jangan mendekat..” dan Chanyeol melarangnya dengan nada datar nya. “ Kembali ketempatmu!”

Heesun sempat berhenti pada awalnya, namun selang beberapa lama ia kembali melanjutkan langkahnya semakin mendekat.

Satu.. dua langkah..

“Berhenti!” Chanyeol kembali bersuara, kali ini dengan ekspresi malasnya.

Tiga.. empah langkah..

“Ck… kau tuli?” Chanyeol mulai kesal

Lima.. enam langkah.. dan Heesun sudah berada dihadapannya. “Aku tidak tuli, Yeol. .. ini” Heesun menyerahkan obat luka lain yang dibuat oleh keluarganya, kali ini berbentuk seperti minyak angin. Masih dengan ukuran kecil. “ Pakai pada pinggiran luka dulu.. supaya lukanya mengering dan men…” Ucapanya terpotong

“BUKAN-KAH SUDAH KUKATAKAN A-….” Chanyeol berusaha memotong pembicaraan Heesun, namun justru dirinya yang kini juga tepotong oleh Heesun. “Kau butuh ini yeol, apakah susah mengatakan  jika dirimu itu perlu dibantu?” Heesun berkata tegas.

Hening..

Ini untuk kedua kalinya,Heesun berhasil memotong ucapan Chanyeol. Namja itu terlihat melunak.

Chanyeol seakan tak mampu membalasnya, karena itu sepertinya memang benar. “ Aku hanya tidak suka ketika ada orang lain yang mencampuri urusanku… berhentilah…” Chanyeol berkata, tak ada teriakan atau nada kasar. Yang terdengar justru nada yang sedikit lirih dan pengakuan.

Heesun menundukkan kepalanya, pandangannya otomatis tertuju pada tangan Chanyeol yang penuh luka itu. Luka yang baru itu terlihat sangat parah dan perlu ditangani.

“Tidak..” Heesun tiba-tiba saja meraih tangan Chanyeol yang terluka itu, “ini parah sekali-yeol” ucap Heesun sedikit bergetar.

 

Heesun membuka obat itu dan meneteskan isinya ke permukaan jari telunjuknya sebelum akhirnya ia menyentuh pinggiran luka Chanyeol dan mengolesinya pelan. Chanyeol sendiri tak bisa berkata apa dan justru memperhatikan Heesun yang masih tetap menyentuh tanganya. Ia tak lagi mampu untuk menolak, bahwasanya tangan Heesun yang menyentuh lembut permukaan kulitnya itu telah berhasil membuat dirinya terlasa lemah.

Merasa Chanyeol yang justru terdiam, Heesun kembali melanjutkan pengobatannya dengan melihat ke seluruh sisi tangan Chanyeol untuk melihat dimana luka yang patut diobati lagi, dan ia melihat lengan atas Chanyeol yang sedikit kembung akibat sebuah perban yang terbalut disana.

“boleh aku lihat ini..?” Heesun bertanya tanpa keberanian untuk melihat lurus kedalam bola mata Chanyeol. Tangannya menunjuk kearah lengan seragam Chanyeol.

Chanyeol hanya terdiam dan mengalihkan kepalanya ke arah lain. Namun melihat Chanyeol yang terdiam itu membuat Heesun tak ada pilihan lain selain tetap melanjutkan itu. Karena Chanyeol sendiri tidak memberikan jawaban yang jelas.

Dengan pelan, Heesun melipat keatas lengan seragam Chanyeol itu dan menemukan sebuah perban kecil disana. Perban itu terlihat tidak rapi, seperti asal pakai dengan harapan ‘yang terpenting lukanya mengering’. Masih dengan gerak pelan dan lembutnya itu, ia berusaha melepas perban itu dan menemukan luka yang cukup besar disana. Jujur saja, Heesun sedikit membayangkan betapa sakitnya ini. Luka ini cukup mengerikan. Dan ia-pun mengoleskan obat disana

Perih? Memang. Apalagi, luka yang saat ini disentuh Heesun merupakan luka yang paling parah. Tapi semuanya seakan tak terasa ketika Chanyeol kembali merasakan betapa lembut dan halusnya jari-jari itu menyentuhnya, juga melihat ujung kepala dan kening gadis tersebut yang sangat dekat dengan pengelihatannya. Membuatnya menatap beberapa lama gadis ini.

Heesun tahu betul saat ini dirinya seperti sedang diperhatikan dan membuat gerakannya sedikit bergetar, sama seperti detakan jantungnya yang tak henti berdebar kencang mendapati posisinya yang sangat dekat dengan Chanyeol. Dan Chanyeol menyadari gerakan tangan Heesun yang sedikit bergemetar ringan.

“hey..” Chanyeol memanggil dengan nada.. lembut, “Ada apa?” lanjutnya kehadapan Heesun.

Heesun sedikit terkejut mendengar suara Chanyeol yang tiba-tiba saja berbalik dari biasanya. Dari datar dingin menusuk , menjadi lem~but seperti ini. Heesun mulai salah tingkah “Hh.. tidak ada…..” Heesun menjawab sembari menyelipkan rambutnya kebelakang telinganya yang sangat mengganggunya itu. “ Tapi.. hanya saja luka ini parah sekali… aku bisa merasakannya.” Tentunya itu bukan jawaban yang sesungguhnya mengapa ia bergemetar seperti itu.

Chanyeol hanya terdiam. Masih tetap menatap yeoja ini dengan tatapan yang sulit diartikan. “kenapa bisa begini?”Tanya Heesun.

“kenapa memangnya?” jawabnya datar kembali. Huh sayang sekali suara lembutnya itu sudah kembali berubah wujud.

“kau kecelakaan?” Heesun menebak, ia bisa melihat luka-luka itu seperti goresan-goresan pada permukaan aspal (biasanya kulit yang tergores dengan aspal itu tidak membuat nya menjadi robek/menimbulkan luka dalam. Hanya membuat kulit bagian luarnya menjadi terkelupas dan menimbulkan warna kemerahan disisinya.)

Lagi-lagi Chanyeol terdiam tak mejawab kembali pertanyaannya hingga muncul dibenak Heesun bahwasanya dirinya itu sebenarnya terlalu ikut campur urusan orang lain.

“ah… maaf.. aku terlalu ikut campur…” Heesun meminta maaf sembari menaikkan kedua bahunya dan menundukkan kepalanya. Heesun telah selesai dengan prakteknya dan menutup kembali obatnya. Gerakannya sedikit kaku karena sejak tadi ia merasa persendiannya seolah membeku. Itu dikarenakan keadaan mereka yang sangat dekat itu dan membuat hembusan nafas mereka jelas terdengar satu sama lain. Hembusan nafas Chanyeol yang terdengar ditelinganya membuat darahnya mendesir di daerah pipi.

“ya.. kau memang selalu ikut campur” akhirnya Chanyeol bersuara. Heesun cukup membalasnya dengan mengerucutkan bibirnya

“hh.. baiklah..tapi yeol.. aku ingin bertanya..”

Chanyeol memaparkan ekspresi bosannya “heung?”

 

 

“apa bisa kita berteman? ” Heesun pun mendudukkan kepalanya. Berharap semoga saja jawaban Chanyeol tidak akan menusuk seperti biasanya

“walaupun kau pernah berkata, kau membenciku……”

Ini memang sebuah pertanyaan sederhana ,yang dengan mudah bisa kita jawab.

Sempat terucap kata benci dari mulut Heesun. Ya, itu merupakan kata yang pernah diluntarkan Chanyeol kepadanya. Tetapi andai saja Heesun tahu, bahwa sebetulnya kata benci itu bukan diperuntukkan untuknya dan bahkan memiliki arti yang berbeda. Andai saja..

“kenapa kau ingin berteman denganku?”Tanya Chanyeol.

Heesun terdiam sejenak sebelum akhirnya ia merasa bahwa dirinya lebih rileks sekarang karena sebentar lagi ia akan memberikan sebuah alasan yang memang sejak awal ingin ia berikan kepada Chanyeol.

“Saat aku pindah.. aku banyak menemukan hal – hal baru disini.. aku menemukannya lewat pembicaraan teman-teman disini.. mereka membahas banyak topic, termasuk kau..

jujur, aku mendengar banyak hal buruk tentangmu yang mereka bicarakan..”

Chanyeol mengalihkan wajahnya sembari tersenyum miring. “Aku tahu itu…” jawabnya.

Ya, Chanyeol tahu. Ia tahu bahwa dirinya selalu menjadi bahan pembicaraan diatara kubu-kubu yang dibuat oleh temannya. Tetapi dia Chanyeol. Dia selalu tidak peduli. Toh juga mereka akan lelah dengan sendirinya.

“tapi…”Heesun melanjutkan “aku rasa kau tak sepenuhnya seperti apa yang mereka bicarakan…yah memang pada awalnya aku sempat beranggapan bahwa kau sedikit kejam.. tapi aku yakin semua orang memiliki sisi baiknya masing-masing.. dan aku suka berteman dengan siapa saja..termasuk kau..

Tapi itu jika kau tidak merasa….keberatan..hihii” Heesun tertawa kecil lalu kemudian menundukkan kepalanya. Dalam hati ia berharap, semoga saja jawaban Chanyeol tidak akan menyakitinya. Disisi lain, Chanyeol sedikit terkejut mendengar pernyataan Heesun. Kemudian ia berfikir.. berfikir.. dan berfikir.. hingga akhirnya ia menemukan jawaban disana.

Chanyeol menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong. “hanya lakukan saja…..” Chanyeol sejujurnya masih ingin melanjutkan kata-katanya yang singkat itu.

Heesun mendongakkan kepalanya, ia tak percaya bahwa reaksi Chanyeol seperti ini. Namun , ia melihat sorot mata Chanyeol yang mendung itu. membuatnya berfikir seribu kali, benarkah dia menerimaku sebagai teman? Tetapi kenapa wajahnya seperti itu?

Baru saja Heesun ingin bertanya tentang keadaannya, tetapi Chanyeol telah lebih dulu berkata “asal kau berjanji….”

 

“jangan sampai kau  menyukai-ku” Chanyeol berkata dingin.

“…” Heesun sama sekali tak dapat berkata apa-apa. Ia bingung harus menjawab bagaimana. Janji tersebut terlalu rumit untuk ia cerna dan ia tepati. Hanya saja, ia takut salah bicara.

Jangan menyukai-ku, kalimat itu seakan menggema diruangan ini dan menjadi satu-satunya kalimat yang berada diotaknya.  Namun Heesun, sulit baginya untuk menguraikan apa yang ia rasakan setelah mendengar kalimat itu. ia merasakan jantungnya yang melemah.

Chanyeol justru turun dari meja tersebut dan berjalan meninggalkan ruangan. Ia merasa sesuatu yang bergejolak didalam batinnya. Ia sendiri tidak paham apa itu, tetapi ia yakin jika ia lebih lama tinggal, perasaan itu akan menekannya, itu sebabnya ia memilih pergi dan sayangnya, tak ada satupun kata yang kembali terluntar dari mulutnya.

Di hari-hari berikutnya,  mereka sering berpapasan. Namun, tak ada satu katapun yang kembali terucap semenjak kejadian itu. Satunya ragu untuk memulai pembicaraan atau sekedar menyapa. Namun yang satunya lagi entah merasa enggan atau sama ragunya. Dia terlihat sulit diartikan

Heesun memang ragu. Ada kala dimana ia merasa tak enak hati jika tak bersuara, bukan kah mereka sudah berteman?. Namun melihat Chanyeol yang sering kali dengan begitu saja melewatinya, tanpa sepatah katapun, disanalah Heesun merasa bahwa dirinya telah diabaikan. Pernah terfikir dibenaknya bahwa mungkin saja Chanyeol tak bersungguh-sungguh menganggapnya sebagai teman. Tetapi, menerima fakta itu, entah mengapa ia merasa lebih senang jika ia berusaha terus menyangkalnya. Ia tak ingin merasa kecewa, itu saja.

..mungkin dia tidak melihatku…itulah pegangannnya. Ketika ia berusaha menyangkal bahwa dirinya diabaikan.

-::-

Ini hari rabu, sebetulnya bukan jadwal rutin bagi Heesun untuk membantu ibunya di restoran ini. Bahkan akhir-akhir ini, ia sering datang saat ia pulang sekolah dan mulai membantu. Entah itu untuk sekedar membeli bahan makanan, mengambil sisa-sisa piring, dan menyapu. Ibunya sering berkata, janganlah terlalu sering membantu disini jagalah Mingyu dirumah, Namun Heesun hanya menggeleng tanpa menjawab. Ia memang suka bekerja.

Memang, sebagian besar kegiatan Heesun berlangsung disekolah dan di restoran ibunya, untuk mengantar susu, ia biasa melakukannya pagi-pagi dan jadwalnya pun tidak pasti. Membantu ibunya direstoran adalah yang utama sekarang. Selain belajar, tentunya. Lagi pula, Gaji ibunya menjadi dua kali lipat karena jasanya untuk ikut membantu pekerjaan disini.

Untuk mingyu sendiri, anak itu sudah bisa mengurus diri. Untungnya sampai saat ini, Heesun dan juga ibunya belum mendengar satupun laporan tentang perbuatan buruk mingyu. Anak itu memang asal bicara, tetapi dia sesungguhnya patuh. Anak itu juga sudah mulai dewasa.

Dan Kali ini, Restoran benar-benar ramai. Heesun dan juga satu pegawai lainnya kewalahan untuk mengurusi pelanggan yang datang. Bahkan ibunya tak kalah sibuknya didapur sendirian. Antrian kasir juga semakin memanjang, walaupun pada akhirnya mereka menyusut satu per satu. Hingga pada akhirnya, sang pemilik restoran pun datang membantu dan mulai memakai celemek untuk bergabung bersama ibu Heesun didapur.

Namun, masalah baru datang lagi. Ternyata, beberapa bahan makanan habis, sampai-sampai ibu Heesun berlari untuk menemui Heesun dan menyuruhnya untuk segera pergi kepasar membeli bahan. Perintah itu dituruti Heesun dan ia segera pergi meninggalkan restoran dengan uang dan daftar belanjaan di kantongnya.

Seharusnya, ia telah menjalankan kakinya ketika ia telah berhasil menarik pintu utama restoran. Akan tetapi, Heesun terdiam. Ia terkejut didepan sana. Ia melihat seseorang yang hendak memasuki restoran dan membuka pintu yang sama. Entah ini kebetulan atau kesengajaan. Namun yang jelas, saat ini mereka tengah berdiri di depan pintu, berhadapan dan saling menatap satu sama lain dengan kebingungan.

Mungkin pikiran dan pertanyaan mereka sama.

Kai, ia baru saja pulang dari sekolahnya. Ia lelah setelah menjalani berbagai ujian praktek sebelum akhirnya ia akan benar-benar menerima izin praktek sebagai dokter muda. Jika dilihat, akhir-akhir ini ia memang sangat sibuk. Bahkan menyempatkan diri untuk sekedar pergi ke kedai makanan favoritnya pun tak pernah. Sehingga apa yang dirasakannya sekarang adalah kerinduan akan masakan-masakan tersebut.

Namun sayangnya, kedai makanan favoritnya itu tutup. Ia sangat kecewa melihat papan didepan kedai tersebut yang bertuliskan bahwa kedai tersebut tutup sampai tiga hari kedepan. Terpaksa, ia memutar arah dan berjalan lemas mendapati kenyataan itu. Keinginan untuk memakan kimchi mentimun ter-enak yang menurutnya hanya berada dikedai itupun dengan sangat terpaksa harus ditunda.

Huh, padahal ia juga lapar sekali.

Tetapi, seperti diberi anugerah oleh dewi fortuna, ia melihat sebuah restoran kecil di ujung jalan dengan pelanggan yang sedang ramai-ramainya , itu terlihat dari dinding restoran yang terbuat dari kaca tembus pandang. Disisi lain, ia sangat malas mendapati dirinya yang sampai sana harus mengantri makanan dan itu pasti akan lama sekali. Namun apa boleh buat? Daerah sekitar sana tak ada penjual makanan lagi, hanya deretan toko-toko pakaian yang berblok-blok jumlahnya. Sudah seperti daerah di gangnam saja. Dan akhirnya, Kai memasuki restoran yang bahkan tak dikenalnya itu juga.

Disaat ia mendorong kedalam pintu utama, betapa terkejutnya ia melihat sesosok perempuan yang begitu familiar diingatannya sedang tergesa-gesa berjalan keluar. Bahkan hampir menabraknya jika saja gadis itu tak menyadari keberadaanya.

Gadis itu sama terkejutnya dengan mulut yang menganga, sama seperti kai. Dan yang terlihat sekarang adalah… mereka yang telah berdiam didepan pintu, saling berhadapan, menatap satu sama lain dengan pemikiran sama.. sekaligus menjadi penghalang bagi orang yang hendak memasuki restoran.

Ada beberapa orang dibelakang kai yang hendak memasuki restoran. Namun adegan terkejut-di-depan-pintu-itu telah menyita kesempatan mereka untuk memasuki dan berjalan untuk mengantri. Mereka pun berdeham keras sebelum akhirnya  dua sejoli itu Nampak tersadar dan segera menepi dengan rasa malu. Mereka meminta maaf pada orang-orang yang hendak masuk itu.

“Kai?” Heesun memulai pembicaraannya duluan. “apa yang kau lakukan disini?” Bodoh sekali Heesun bertanya seperti itu.

“sepertinya disini aku yang pantas bertanya seperti itu.. bukan kah itu sudah jelas ini adalah restoran. tentu saja tujuanku adalah makan.. hahaha” Kai bergurau. Yang dikatakannya benar sekali. Sehingga membuat Heesun memukul jidatnya sendiri mendapati dirinya yang sangat bodoh itu.

“Ah!, benar..baiklah.. aku disini hanya membantu sedikit pekerjaan ibuku ..restoran kali ini benar-benar ramai..” Heesun menjelaskan. Kai membulatkan mulutnya setelah mendengar penjalasan tersebut. Baru saja ia hendak bertanya lebih dalam, namun Heesun telah terlebih dahulu mengeluarkan suaranya kembali. “Ah.. matta!, aku harus pergi, kai .. aku akan kembali!” ucap Heesun sembari membungkuk diakhir kalimatnya. Baru kemudian ia kembali berlari, dan mengambil sepeda hijau mudanya untuk kemudian ia berjalan ke pasar dengan sepeda itu.

Disisi lain, Kai memperhatikan gadis itu yang telah melesat dengan cepat. Sepertinya itu hal yang penting. Disana ia menemukan dirinya yang tersenyum karena pada akhirnya ia  melihat gadis itu kembali.

Agar tidak membuang waktu, Kai segera memilih kursi untuk duduk, dan meletakkan tas jinjingnya di kursi sebelahnya. Ia menggerakkan tangan kirinya untuk menyusutkan lengan kemeja kirinya itu agar dirinya dapat dengan jelas melihat arlojinya yang tersembunyi dibalik sana. Ia menarik kembali tanganya setelah ia melihat waktu yang tertera disana. Sepertinya, ia bisa menunggu Heesun disini untuk beberapa jam kedepannya. Semoga saja gadis itu kembali tepat waktu.

Setelah memesan makanan. Kai memilih untuk melihat keadaan sekitarnya yang sudah tak seramai ketika ia masuk. Setidaknya berkurang sedikit. Lalu, pandangannya itu teralih ke sebuah hiasan vas bunga yang berada tepat di tengah mejanya. Vas tersebut adalah vas kecil berbentuk balok tegak, fisiknya terbuat dari kayu yang ringan berwarna coklat dan telah dipernis, namun bukan itu yang menarik dari vas ini. Vas tersebut ternyata berisi sebuah bunga imitasi yang sangat cantik, walaupun itu imitasi tetapi tetap terlihat secantik bunga aslinya.

Bunga itu adalah bunga anggrek. Setangkai anggrek plastic itu berisikan dua bunga mekar dan tiga lainnya dibuat sedang kuncup. Daun-daunnya juga dibuat sangat mirip aslinya walau mereka terbuat dari kain yang dipotong dan dirangkai sedemikian rupa. Sekali lagi, mereka cantik. Dan alasan mengapa kai sangat tertarik pada bunga ini adalah karena, bunga anggrek ungu ini adalah bunga favoritnya. Ia sangat menyukai bunga ini.

Sedikit bercerita bahwa Nyonya Kim atau ibu dari kai, sangat menyukai tanaman hias. Ia sering menghabiskan waktunya untuk berkebun. Bahkan, Beliau memiliki satu rumah kaca didalam rumahnya untuk merawat berbagai tanaman yang sepantasnya dirawat disana. Salah satunya adalah bunga anggrek itu. Terdapat banyak sekali jenis anggrek didalam rumah kaca itu, Kai juga suka mencari apa arti dari masing-masing bunga tersebut dan alasan mengapa Nyonya Kim menanamnya.

Dan pada saat Kai bertanya, Nyonya Kim akan tersenyum sembari menjawabnya tanpa ragu. Nyonya kim memang mengetahui segala sesuatu yang berhubungan dengan bunga dan tanaman hias.

Hingga pada akhirnya, Kai telah bertanya tentang semua arti dari bunga-bunga yang berada disana. Namun hanya satu yang menarik perhatiannya, yaitu bunga anggrek ungu itu. Mereka cantik, begitu katanya.

Kai tersenyum, ia menyentuh permukaan bunga tersebut dengan pelan, seolah ia kini sedang melihat seorang bayi baru lahir dan tak ingin menyakitinya, matanya juga mengagumi keindahan itu.

-::-

Heesun sudah tidak sabar untuk segera mengakhiri perjalanan ini, Ia mempercepat kayuhan sepedanya dengan keranjang depan sepedanya yang telah penuh dengan barang belanjaan.

Satu-satunya alasan mengapa ia begini adalah, tentu karena Kai. Ia berharap semoga saja Kai masih berada disana dan tidak sedang sibuk.

Setelah sampai, Heesun memarkir sepedanya dan mengambil belanjaannya. Ia terpaksa harus mengangkut belanjaan itu dengan kedua tangannya sendiri karena belanjaan itu sangatlah banyak. Jika tidak hati-hati, kemungkinan sekantung tomat yang berada ditumpukan belanjaan paling atas itu akan terjatuh. Ia berjalan pelan menuju dapur restoran sembari sesekali berkata permisi, hingga pelanggan lain berusaha untuk menepi ketika ia lewat.

Sayangnya, dengan banyaknya barang-barang yang dibawa Heesun tadi, ia sampai tidak sempat melihat kai duduk di meja mana. Ia terlalu focus terhadap belanjaannya itu. Heesun berhasil menempatkan kakinya di lantai dapur dan meletakkan bahan-bahan makanan itu di sebuah meja besar, sebelum akhirnya ia merapikan sedikit belanjaan itu dan berkata pada dua orang yang berada didapur bahwa ia telah kembali.

Salah satu disana adalah ibunya, Ibu Heesun berjalan mendekati belanjaan itu dan memeriksanya, sementara Heesun mengalihkan pandangannya ke jendela dapur yang bertatapan langsung dengan meja makan pelanggan, berharap saja ia bisa menemukan Kai di salah satu meja itu.

“Lengkap!” Ibu Heesun berkata setelah selesai memeriksa belanjaan. Heesun memalingkan wajahnya ke arah ibunya, baru kemudian ia mengulas senyumnya.

“bantu ibu sekali lagi, maka kau boleh istirahat..” kali ini giliran Ibu Heesun yang tersenyum sembari berjalan mengambil sesuatu. Disisi lain, Heesun menganggukkan kepalanya dan menunggu apa yang akan ditugaskan untuknya.

Kemudian, ibunya kembali dengan nampan dan semangkuk bubur ikan dan sup ayam gingseng diatasnya. Beliau menyerahkan nampan tersebut kepada Heesun, “Ini, letakkan di meja nomor enam..” Heesun mengangguk paham dan segera berjalan keluar.

Ia menghentikan langkahnya sebentar untuk melihat keadaan sekitar, ia mencari-cari keadaan kai karena sedari tadi ia tak menemukan namja tersebut. Saat kemudian ia melihat ke arah meja nomor enam, disanalah ia menemukan Kai yang sedang sibuk dengan sebuah buku ditangannya. Rupanya pesanan ini miliknya. Beruntungnya Heesun membawakan pesanan ini untuknya, ini seperti telah ditakdirkan.

Dengan pelan, ia berjalan ke meja itu dan meletakkannya dengan pelan saat ia telah sampai disana. Ia memaparkan senyumnya sektika Kai sadar ada seseorang yang berdiri didepannya lalu mendongakkan kepalanya.

“nuna..” Sapa Kai.

“ne.. boleh aku menemanimu disini?”

“oh..” Kai menunjukkan kursi yang berhadapan dengannya, “tentu saja ..aku menunggumu tadi..” lanjutnya sembari menutup buku yang baru saja ia baca. Dengan gerak kaku, Heesun menganggukkan kepalanya baru kemudian ia menarik kebelakang kursi yang ditunjukkan tadi, dan segera duduk disana. Tetapi tunggu sebentar..

Menunggu?

Heesun tak pernah menyangka bahwa kai akan menunggunya. Ini memang harapannya, hanya saja ia senang setelah mendengar kata itu. seperti sebuah perasa       an yang terbalaskan.

Tidak.. belum saatnya untuk berpikiran seperti itu. Heesun kembali membuka pembicaraan “silahkan dinikmati” ucapnya.

 

Kai tersenyum “baiklah..kemana kau tadi, nuna?”

“hm?.. ah, aku membeli bahan makanan, lalu kau? Kau baru pulang sekolah atau apa ?” giliran Heesun yang bertanya. “Bisa dibilang baru pulang praktek..” kai menjelaskan sembari membuka dan menautkan sumpit diantara jemarinya. Entahlah, Heesun kali ini membirakan dirinya memperhatikan gerak-gerik Kai tanpa rasa takut sedikitpun tertangkap basah olehnya.

Ittadadekimasu!” Kai kali ini bergurau, ia meniru gaya orang jepang ketika akan memakan makanan dan juga ucapan selamat makan itu, sehingga Heesun tertawa kecil melihatnya. Kai puas, setelah mendengar suara tawa gadis didepannya ini, lantas ia melanjutkan aktivitasnya untuk mencoba makanan ini dengan rasa puas yang  masih merada didalam dirinya.

Disisi lain, Heesun menyadari bahwa Kai memiliki sedikit sisi humor, atau mungkin, dia adalah tipe orang yang suka menghibur. Dia juga ramah, sama seperti waktu itu. Sama seperti delapan tahun yang lalu, dia sangat ramah, dan juga dia yang menganjurkan untuk bermain bersama padahal pada saat itu mereka baru saja berkenalan, bahkan mereka masih belum mengetahui nama masing-masing.

Lalu tak sengaja pandangan mata Heesun tertuju pada sebuah vas kecil yang berada di meja Kai. Itu vas yang tadi juga sempat menarik perhatian Kai. Sebuah vas yang berisi bunga Anggrek buatan berwarna ungu.

Lalu tebak, Apa reaksi Heesun selanjutnya?

Heesun terdiam menatap bunga itu, ia tak habis pikir kenapa benda itu berada disini? Atau lebih tepatnya diantara dirinya dan Kai?

‘Anggrek? Bagaimana bisa? Apa ini takdir? Apa ini sebuah jawaban?’, Pertanyaan itu menggema dibenaknya. Menyadarinya, ia tiba-tiba merasa senang dan ia menjadi sangat yakin bahwa Kai memang orang itu.

 

Pernahkan kalian, ketika melihat sebuah benda yang sangat kalian sukai, Kalian dengan tidak sadar akan tersenyum kearah benda tersebut? Itulah yang terjadi pada Heesun saat ini. Saking tenggelamnya dengan bunga itu bersamaan dengan perasaannya, ia sampai tak menyadari bahwa sejak tadi Kai memperhatikannya.

 

“Kau menyukai bunga anggrek ?” Kai tiba-tiba saja bertanya, dan membuyarkan lamunan Heesun.

Suka?, apa jika aku berkata iya,dia akan menjawab…

“I-iya…” Heesun mengangguk dan mengalihkan matanya kearah kedua tangannya yang berada diatas lututnya yang tertekuk. hatinya penuh harap..

“ohya?..

Aku juga suka bunga itu, Anggrek adalah bungan favoritku nuna..” Jawab Kai. Namja itu mengulas senyumnya diakhir kalimatnya.

Heesun membulatkan matanya tidak percaya, ini benar-benar terjadi sesuai harapannya. Ah Bukan, sesuai dugaannya. Ia sudah tidak percaya lagi jika ini sebuah kebetulan, ini memang kenyataan. Kai memang orang itu, anak itu, namja itu. dia yang dulu ditemuinya.

Jantungnya berdebar.. Ia senang.. bahwa akhirnya segala pertanyaannya telah terjawab. Walaupun satu yang masih belum terjawab yaitu, apakah kai masih mengingatnya?, itu.

 

Dan di tengah senja yang hangat  itu, Heesun telah berhasil menemukan sesuatu yang sangat dicarinya.

Suho sendiri dilain tempat, sedang  melangkahkan kakinya mengekori seseorang di depannya dengan langkah sedikit lesu. Gadis didepannya itu Hima.

Setelah lama menundukkan kepalanya sembari berfikir keras didalam sana, akhirnya suho mengangkat kembali kepalanya dan menatap gadis didepannya itu dengan tatapan sendunya.

 

Kemudian.. satu lagi..Ditengah senja yang hangat itu…

Chanyeol merebahkan tubunya diantara rerumputan yang mulai menguning dan mengering. Rambutnya terdisibak oleh angin musim gugur yang membawa beberapa dedaunan kering.

Lalu pemandangan itu, Langit diatas yang ia lihat dari tempatnya merebahkan diri, terlihat berwarna oranye dan membentuk gradasi. Semakin kebawah, warna oranye itu semakin cerah dan kemudian berubah menjadi kuning terang, disanalah letak matahari yang sedang terbenam.

 

Selain menatap pemandangan itu, ternyata Ia juga sedang berfikir. Berfikir tentang apa yang terjadi pada dirinya, berfikir tentang dirinya yang bodoh itu dan juga kehidupannya saat ini. Ia juga mencoba memprediksi apa yang akan terjadi didalam dirinya selanjutnya.

Hh, mereka akan tetap parah seperti ini.. atau mungkin akan lebih parah dari ini.. , pikirnya.

 

Chanyeol mengangkat satu tangannya ke atas, dengan sekejap tangannya itu menjadi penghalang sinar matahari yang bergerak lurus ke arahnya.

Hangat.. senja kali ini memang terasa hangat.. tetapi tidak dengan hatinya yang masih membeku dan kedinginan itu. Satu hal yang ia tahu, hari ini ia mengakhiri harinya, masih dengan dinginnya hati itu..

 

 

TBC…

Next to Chapter 5

 

Hola.. salam yeheth… sebelumnya mohon maaf kalau chapter kali ini kurang greget atau apa.. di chapter ini aku buat target untuk nyeritain sedikit tentang tokoh sampingan disini tetapi cerita utama tetep jalan juga dong.

Then, thanks juga buat yang sudah RCL dan jangan kapok ya buat terus ngikutin cerita ini..

 

 

Iklan

18 pemikiran pada “The Dusk ‘Before The Night’ (Chapter 4)

  1. suka banget sama karakter Chanyeol di sini 🙂
    beda dari aslinya. jd tambah keren ^_^
    author penulisan bahasanya bagus. pertahankan dan tingkatkan lagi supaya lebih bagus dan mantap =D

    Jempol!!! *buruan lanjut part 6 nya ya? XD

  2. FF nya keren bangeeett :’)
    Karakter Chanyeol di sini dapet banget feel nya 😀
    banyakin adegan Heesun Chanyeol ya thor? 😀
    Chanyeol yg serem di FF ini malah jd kaya romantis dimata gw. Apa lagi pas dia lompat dari jendela ama Heesun. hadeeehh jd kaya berasa gw yg dipeluk XD wkwkwkwk

    pokoknya keep writing deh! dan lanjut terus yaaa part 7 buruan dilanjoooooott :”’)

  3. makin penasaran.
    ahjuma yg sering ke resto nya Heesun itu jgn2 emak nya Chanyeol 😮 ????

    buruan dilanjut ya thor part 7 nya. penasaran bgt ciuz ~.~
    fighting author!!! :*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s