3 Days for Love (Chapter 4)

4

Author:

Quidie (@qui1291)

Cast:

Kris (Exo)

Lay (Exo)

Oh Remi (OC)

Genre: Romance comedy

Length: Multichapter

———————-

“Ada apa? Kenapa menyuruh kami untuk datang kesini?” Tanya Lay pada Kris yang kini berada tepat didepannya.

“Aku ingin mengajak kalian ke sebuah pameran kuda di desa Hamyeon. Tadinya aku ingin mengajak Remi seorang, tapi sepertinya akan lebih baik jika aku juga mengajak kalian berdua. Lagipula kalian juga tidak ada kuliah hari ini kan?” Tanya Kris memastikan, membuat Lay dan Sani mengangguk pelan.

“Pameran kuda?! Wah~pasti menyenangkan. Akan ada banyak kuda-kuda yang dipertunjukkan disana.” Seru Sani antusias membuat Kris tersenyum memandangnya.

“Iya benar. Selain pertunjukan, kalian nanti juga bisa mencoba menunggangi mereka kalau mau.”

“Maaf. Tapi sepertinya aku tidak bisa ikut.” Kata Lay tiba-tiba membuat semua menatap kearahnya. “Aku..sedang malas pergi kemana-mana.”

“Waeyo? Bukankah kau juga tidak ada acara hari ini? Ikutlah. Temani aku, yah?!” Pinta Sani sambil memegang lengan Lay. Namun pemuda itu sepertinya tetap pada pendiriannya.

“Lay, ikutlah.” Ucap Remi tiba-tiba membuat Lay menatap kearahnya. “Lagipula kau tidak ada kegiatan kan hari ini? Sani pasti sedih kalau tidak ada kau yang menemaninya.” Tuturnya.

Lay masih menatap Remi cukup lama, lalu akhirnya tersenyum kecil seraya mengangguk pelan. Membuat raut wajah Sani berubah senang seketika. “Jinjja?! Gomawoyo..~” Serunya senang lalu menggenggam erat lengan Lay.

♥:♥:♥

Setelah menempuh jarak yang cukup jauh dan waktu sekitar 2 jam, mereka ber-4 akhirnya tiba di desa tempat tujuan. Desa yang tidak begitu terpencil dan cukup luas.

“Wah~indah sekali..” Kata Sani takjub saat melihat air yang mengalir di sungai kecil yang terdapat dalam desa.

“Iya benar.” Remi mengangguk mengiyakan sambil tersenyum. “Airnya begitu bening dan bersih. Benar-benar indah.” Tuturnya. Lay dan Kris pun ikut memandang kearah sungai.

Tak lama kemudian mereka pun akhirnya sampai di tempat pameran. Sudah banyak orang yang hadir dalam acara tersebut. Mungkin karna mereka datang saat hari sudah siang.

“Sepertinya acaranya sudah dimulai sejak tadi. Apa mungkin kita datang terlambat?!” Tutur Remi terdengar sedikit kecewa

“Aniya..pertandingannya belum dimulai.” Ucap Kris yang berdiri disampingnya

Remi menatap Kris bingung. “Pertandingan? Memangnya pertandingan apa?”

“Pertandingan balapan kuda.” Kali ini giliran Lay yang bicara membuat Remi dan Sani berbalik menatapnya. “Balapan kuda biasanya juga diadakan saat pameran seperti ini. Dimana kuda-kuda peternakan atau milik sendiri dapat diikutsertakan didalamnya.” Jelas Lay.

“Lay~ah..sepertinya kau tau banyak tentang hal ini?” Tanya Remi

“Tidak juga. Itu hanya karna dulu sewaktu kecil aku sempat diajak ke pameran seperti ini oleh Ayahku.” Tutur Lay. Remi dan Sani kini mengangguk paham. “Tapi ada sesuatu yang menarik. Tadi saat kita baru tiba disini, kau langsung mengatakan bahwa pertandingannya belum dimulai. Seolah tau benar kapan pertandingan itu akan dimulai. Apa mungkin, kau mempunyai peran dalam hal ini?” Tanya Lay yang kemudian berbalik kearah Kris.

Kris tidak langsung menjawab, wajah pemuda itu masih memandang ke depan. Sesaat kemudian ia tertawa pelan lalu berbalik menatap Lay.

“Kau cerdas juga rupanya. Memang benar aku memiliki bagian dalam hal ini. Itu karna, peternakan ini adalah milik Ayahku. Dan dialah yang menyuruhku untuk mengawasi pameran yang sedang dilaksanakan saat ini.” Tutur Kris santai sedangkan Remi dan Sani kini melongo di tempatnya. Tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Kris barusan.

“Wah! Kris~si..kau benar-benar diluar dugaan rupanya.” Kata Sani takjub membuat Kris tersenyum kecil setelah sebelumnya sempat melirik kearah Remi.

♥:♥:♥

Setelah beberapa jam, pameran pun akhirnya selesai juga. Hari sudah beranjak sore saat Kris dan yang lainnnya berjalan menuju peternakan. Mereka sengaja ke tempat itu karna berniat melihat kuda-kuda di peternakan, sekaligus menunggangi mereka jika memungkinkan.

“Silahkan masuk.” Kata salah satu penjaga peternakan saat membukakan pintu masuk menuju kandang kuda. Mereka pun berjalan masuk kedalamnya, dan mendadak takjub seketika. Bagaimana tidak? Selain luas tempat itu juga tertata dengan rapi dan tentunya terdapat bermacam-macam jenis kuda didalamnya.

Satu demi satu kuda-kuda tersebut diperkenalkan oleh sang penjaga peternakan. Mulai dari sifat, perawatan, penjualan dan hal-hal lain yang berkenaan dengan hewan tersebut. Itu tentu saja memberikan banyak pengalaman baru pada mereka semua.

“Boohwal ahjussi..tolong siapkan beberapa ekor kuda di halaman luar. Kami ingin mencoba menungganginya.” Perintah Kris saat mereka sedang menyusuri peternakan.

“Baik tuan muda, saya mengerti.” Ucap Penjaga tersebut seraya menunduk pelan.

♥:♥:♥

Mereka semua kini sudah berada di halaman tempat dimana kuda-kuda peternakan tersebut biasa dilatih. Kris adalah orang pertama diantara mereka yang menunggangi salah satu kuda tersebut. Pemuda itu memperkenalkan sekaligus mengajarkan seperti apa dan bagaimana cara menunggangi seekor kuda. Remi dan Sani sempat kagum saat melihat Kris menunjukkan kemampuannya itu, pemuda itu terlihat begitu lihai dalam mengendalikan kuda. Dan setelah selesai, perlahan Kris pun turun dari tubuh kuda tersebut.

“Giliranmu.” Katanya tiba-tiba pada Remi yang nampak terkejut

“Mwo?! Tid..tidak usah. Aku takut..” Tolak Remi, walaupun sejujurnya ada sedikit rasa penasaran dalam dirinya.

“Gwencana. Kuda ini jinak jadi kau tidak perlu takut. Naiklah!” Kata Kris seraya menatap gadis itu. Remi yang awalnya masih ragu akhirnya perlahan menganggukkan kepalanya. Ia pun naik keatas kuda tersebut.

“Sekarang..tarik talinya pelan-pelan.” Tutur Kris. Namun anehnya Remi tidak melakukan apa-apa. Rupanya gadis itu masih takut dan ragu untuk melakukannya.

Kris yang melihat itu menghela nafasnya pelan lalu tersenyum kecil. Detik berikutnya pemuda itu tiba-tiba saja ikut naik keatas kuda dan duduk dibelakang Remi, membuat gadis itu kembali terkejut.

“Ap..apa yang kau lakukan?!” Tanya Remi terbata

“Dwaesso~jangan komentar terus! Kalau aku tidak naik, kau pasti tidak akan menggerakan kuda ini sampai besok.” Sergah Kris cepat. Remi sendiri hanya mampu memanyunkan bibirnya kesal. “Sekarang tarik talinya seperti ini..” Tuturnya sambil mulai menarik tali yang berada di belakang leher kuda tersebut. Remi yang melihat itu pun mulai mengikuti apa yang dilakukan oleh Kris, membuat si kuda perlahan mulai berjalan.

“Oh?! Kudanya mulai berjalan!” Seru Remi antusias membuat Kris tertawa melihatnya.

Ini pertama kalinya Kris melihat ekspresi Remi seperti ini. Begitu senang.

“Bagus! Sekarang sedikit kencangkan tarikanmu agar langkah kudanya sedikit bertambah cepat.”

Sesuai perkataan Kris, Remi pun sedikit mengencangkan tarikannya dan berhasil. Kuda tersebut menambah kecepatan berjalannya menjadi berlari kecil. Membuat Remi kembali antusias dan semangat. “Wah! Berhasil!! Haha! Aku bisa melakukannya. Kau lihat kan?!” Seruan gadis itu mendadak terhenti saat hendak membalikkan wajahnya.

Kris yang baru saja berniat merespon dengan berbicara disamping wajah gadis itu juga terkejut karna tidak menyangka Remi yang tiba-tiba saja membalikkan wajahnya. Alhasil jarak wajah keduanya kini begitu dekat satu sama lain, hanya beberapa senti. Remi bahkan bisa merasakan hembusan nafas Kris saat ini. Selama beberapa saat keduanya saling menatap, sampai akhirnya Remi lebih dulu tersadar dari lamunannya.

Sayangnya, disaat tersadar gadis itu menjadi salah tingkah dan lupa kalau ia masih menunggangi kuda, hingga tanpa sengaja menarik tali terlalu kencang. Hal itu tentu saja membuat si kuda terkejut dan seketika berlari kencang. Semua yang berada disana nampak begitu terkejut melihat kuda yang tiba-tiba berlari seolah tanpa arah. Karna itu Lay, Sani dan penjaga peternakan memutuskan untuk keluar dari pagar pembatas. Berbeda dengan Kris dan Remi yang masih berada diatas kuda juga sama terkejutnya dengan yang lain kini belum bisa mengendalikan kuda tersebut.

Remi yang nampak kebingungan mendadak diam. Ia sangat ketakutan saat ini.

“Jangan takut.” Seru Kris tiba-tiba, seolah dapat membaca pikiran gadis itu. Remi pun berbalik kesamping. “Akan kupastikan kau akan baik-baik saja. Percaya padaku.” Gadis itu menatap wajah Kris sesaat lalu akhirnya mengangguk pelan. Ia percaya pada pemuda itu. Setelah mengatakan itu Kris langsung mengambil alih tali yang sebelumnya dipegang oleh Remi, lalu berusaha mengendalikan kuda sama seperti yang ia lakukan sebelumnya.

Namun mungkin karna terlalu terkejut membuat cara yang digunakan oleh Kris tidak berguna sama sekali. Kuda itu terus saja berlari mengelilingi halaman sampai Remi dan Kris kehilangan keseimbangan.

Brukk!!

Keduanya terjatuh bersamaan di samping pagar pembatas. Dengan posisi Remi yang menindih Kris.

“Ya! Neo gwencana?!” Tanya Remi pada Kris. Gadis itu berusaha memastikan sesuatu, karna tadi saat jatuh ia sepertinya mendengar rintihan kecil berasal dari belakangnya.

“Waeyo?! Kau khawatir padaku yah?! Jangan-jangan kau mulai menyukaiku..” Sergah Kris seraya tersenyum.

“Kris~si..Remi~ya!! Kalian tidak apa-apa?!” Seru Sani berlari menghampiri tempat mereka, diikuti Lay dan Penjaga peternakan di belakang.

“Isssh!! Namja ini benar-benar..” Ucap Remi geram.

“Sudahlah!” Tambahnya lalu berjalan meninggalkan tempat itu. Membuat Sani dan yang lain menatapnya heran. Sani yang melihat Remi pergi akhirnya mengikuti sahabatnya itu. Sedangkan Kris hanya tersenyum puas melihat semua itu.

“Tuan! Anda baik-baik saja?! Apa anda terluka?!” Tanya Ahjussi itu seraya berniat membantu Kris berdiri.

“Aku baik-baik saja, Ahjussi. Jangan khawatir.” Tutur Kris tersenyum. “Maaf sudah membuat anda panik. Tolong urus kuda-kuda itu yah..” Ujarnya. Penjaga peternakan itu mengangguk mengerti kemudian berjalan pergi dari sana.

“Apa rasanya menyenangkan menyembunyikan luka sendiri?” Tanya Lay tiba-tiba, membuat raut wajah Kris berubah seketika.

“Aku tidak mengerti maksudmu.” Ucap Kris lalu berniat pergi dari sana. Sampai mendadak Lay mencoba memegang tangan kanannya, membuatnya seketika menjauhkan lengannya. Rupanya tadi saat terjatuh, pemuda itu sengaja mengulurkan tangannya agar kepala Remi tidak terbentur pada batu besar yang terdapat di dekat tempat mereka terjatuh. Remi memang tidak terluka sama sekali, namun justru tangan Kris lah yang terkilir saat melakukan itu.

“Jangan beritahu dia.” Kata Kris singkat seraya memandang kearah lain

“Kau..benar-benar menyukai Remi?” Tanya Lay

Kali ini Kris berbalik menatapnya. “Aku sangat menyayanginya. Dan aku, tidak akan pernah membiarkannya terluka.”

Cukup lama keduanya saling menatap satu sama lain. Sampai akhirnya Kris tersenyum kecil. “Kenapa menatapku seperti itu? Apa kau kesal mendengar aku berkata seperti itu?

Lay terlihat cukup terkejut mendengarnya. “Ap..apa maksudmu? Kenapa juga aku harus kesal mendengarnya.” Jawabnya terdengar sedikit gugup

Kris tertawa pelan mendengarnya, namun lebih terdengar seperti ejekan. Ia kembali menatap Lay tajam. “Bagaimana denganmu? Apa rasanya menyenangkan menyembunyikan perasaan sendiri?” Tanyanya lalu berjalan meninggalkan Lay yang kini memandangnya datar dari kejauhan.

♥:♥:♥

Lay sedang memainkan gitar miliknya di teras depan rumah yang terdapat di dekat peternakan saat Remi datang menghampirinya.

“Kau masih suka mendengarkan lagu Mandarin?” Tanya Remi kemudian ikut duduk disamping Lay.

“Benar. Tidak hanya mendengarkan, aku juga suka memainkan gitar sambil menyanyikan lagu-lagu mereka.” Tutur Lay seraya terus memetik-metik pelan dawai gitarnya.

“Aku tau. Bukankah kau pernah mengatakannya saat pertama kali berkenalan denganku?!”

Lay nampak cukup tertegun mendengarnya. “Kau…masih ingat?” Tanyanya membuat Remi mengangguk

“Tentu saja! Mana mungkin aku lupa..” Jawab gadis itu tersenyum. Lay sendiri tidak berkomentar, ia sama sekali tidak menyangka kalau Remi masih ingat hal itu. Padahal itu sudah beberapa tahun yang lalu.

Mendadak Lay tersenyum kecil, kemudian perlahan memainkan gitarnya dan mulai bernyanyi.

Zhi hao rang li wu an jing tang zai wo kou dai

(Akan lebih baik jika aku tetap menyimpan hadiah ini dalam kantongku)

Zhu yuan khan zu ni gen ta kuai le liao dao xiao kai

(Dengan tenang melihatmu dengannya, berbicara hingga kau tertawa)

Dang yong qing liang zi bu zu xing rong wo qing gan

(Dua kata indah yang tidak cukup untuk menunjukkan perasaanku)

Ni bu hui ai, wo de ai wo ming bai

(Kau tidak tau bagaimana untuk mencintai cintaku, aku mengerti)

Ni de zui ai na yi kuai na tian wo cai cun zai

(Kau cintaku yang terindah, bagian hidupku, yang tidak akan kulepaskan)

Wo bu hui ai ni de ai shou shang hai

(Aku tidak tau bagaimana mencintai cintamu tanpa harus terluka)

Suo yi zhu yuan an jing de deng dai..

(Jadi aku memilih untuk diam dan sabar menanti..)

*Bu Hui Ai- Fahrenheit

Selesai sudah permainan gitar yang dilakukan oleh Lay. Belum ada ucapan yang terdengar dari kedua orang itu. Terutama Remi, gadis itu begitu menikmati lagu tersebut. Petikan dawai gitar berpadu dengan suara Lay seolah terdengar begitu indah baginya hingga mampu menghayati makna dari lagu tersebut.

“Indah sekali.” Ucap Remi singkat. Mendengar itu membuat Lay tersenyum senang.

“Kau tau makna dari lagu itu..?” Tanyanya pada Remi

“Tentu saja. Makna dari lagu tersebut begitu indah dan menyentuh.”

“Bagaimana jika..arti dari lagu tersebut kutujukan padamu?” Pertanyaan Lay membuat raut wajah Remi berubah seketika.

“Mwo..?”

#TBC

2 pemikiran pada “3 Days for Love (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s