Confused (Chapter 3)

| Title : Confused | Author : Seo Yuri |

| Main Cast : ♪ Im Yoon Ah SNSD | ♪ Kai Exo-K | ♪ Lee Tae Min Shinee |

| Genre : Romance, Angst, bla bla bla. |

| Length : Chaptered | Rating : PG 16 |

Confused (2) (2)

—oooOoooOooo—

Kai terbangun ditengah malam setelah mendengar suara ponsel Yoona yang sedari tadi berbunyi. Ia mengucek-ngucek matanya kasar dan menguap. Ruangannya masih gelap karena lampunya dimatikan Yoona beberapa jam yang lalu.

Pria tampan itu menatap ruangan gelap ini berkeliling sambil sesekali mengamati benda-benda dihadapannya. Terkadang ia tersenyum kecil begitu melihat benda yang menarik perhatiannya. Terkadang ia juga mendengus pelan sambil mengumpat.

Entah apa yang dipikirkannya, ia hanya mencoba untuk menuruni ranjangnya dan melangkah mendekati benda putih yang sedari tadi bersinar dan menimbulkan suara-suara berisik.

Namun ketika ia hampir mendekati suara itu, benda itu berhenti bersuara dan cahayanya pun meredup sehingga Kai berhenti ditempat dan menggumam tak jelas.

Sinar rembulan menyorot dengan begitu jelas dari arah jendela yang terbuka sehingga menarik perhatian Kai untuk mendekat. Kakinya kembali berjalan menuju jendela. Senyumnya dibiarkan mengembang sehingga matanya berkilat-kilat terkena sinar rembulan.

Ia berjalan melewati Yoona yang tertidur disofa pojok ruangan dan begitu berhasil menjangkau jendela, tangannya refleks bergerak untuk membuka jendela besar itu. Angin malam berhembus menembus baju tipis yang ia kenakan hingga membuatnya menggigil kedinginan.

Tapi senyum itu masih disana, menemaninya menikmati angin, bersamanya menyusuri setiap hempasan angin dingin ke tubuhnya. Ia masih setia berdiri disana sedangkan tubuhnya semakin bergetar.

Hingga sebuah suara membuat ia mematung untuk sesaat. Sebuah suara yang diikuti sinar yang begitu terang hingga membuatnya memejamkan matanya kasar.

Ayo pegang tanganku.

Tubuhnya menegang sempurna. Tangannya yang masih bergetar bergerak menutup telinga dan ia secara tiba-tiba berjongkok dibawah jendela.

Ini fotoku dan fotomu Kai. Ini foto kita berdua.

Segalanya tampak berputar. Ia mendongkakkan kepalanya menatap langit-langit kamar tapi langit-langit itu malah ikut berputar sehingga membuatnya menurunkan kepalanya secara paksa. Kepalanya kembali bergerak kekanan dan kiri. Ia merintih kesakitan sambil terus-menerus menutupi telinganya. Tapi suara-suara itu masih terdengar, membuat telinganya menjadi panas. Kepalanya sangat sakit, ia bahkan tak bisa melihat dengan jelas lagi.

Kai, ini aku. Im Yoon Ah.

Bahunya terangkat naik-turun dengan cepat, deru nafasnya menjadi tak terkendali dan keningnya masih tetap berkerut. Kai bergerak tak tenang. Ia menyeret kakinya menuju pojok ruangan. Wajahnya dibenamkan diantara kaki dan tangannya masih setia menempel pada telinganya.

Tapi begitu suara ponsel Yoona terdengar lagi, tubuhnya semakin bergetar. Tangannya semakin keras menutup telinga, kakinya bergerak tak karuan dan tangisnya pecah. Suara rintihannya terdengar semakin keras. Kakinya kembali bergerak seolah-olah sedang mendorong tubuhnya kebelakang. Tapi punggungnya sudah menyentuh dinding. Dinding dingin yang membuat tangisnya semakin keras. Tangannya bergerak turun dari telinga kedadanya. Ia mengepalkan kedua tangannya erat sambil terus mengamati sekeliling. Mata basahnya dibiarkan terus bergerak seolah-olah mencari sesuatu. Sesuatu yang bisa membuat hatinya menjadi damai, sesuatu yang bisa membuat pikirannya kembali tenang seperti tadi.

Tapi tidak ada siapa-siapa disini. Di kegelapan malam yang mengepungnya, ia hanya sendirian bersama Im Yoon Ah yang masih saja tertidur.

Kai tetap merintih kesakitan, tubuhnya tetap bergetar dan air matanya tak henti mengalir. Malam itu, Kai memukul-mukul dadanya keras, berusaha menghilangkan rasa sesak yang tak beralasan itu. Tapi seberapa keras pun ia memukul, rasa sesak itu, rasa sakit yang ia rasakan, sedikit pun tak berkurang.

—oooOoooOooo—

—there’s a story you’ll never understand—

—OoooOoooO—

Burung-burung berkicau menyambut pagi dihari ini. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat sebagian orang bergegas keluar untuk berlari pagi. Hari ini begitu cerah, berbeda dengan biasanya.

Im Yoon Ah mengemasi beberapa barangnya kedalam tas sambil menggumam tak jelas. Didekatnya ada Kai yang sedang menunduk sambil memainkan ujung kemejanya.

Gadis itu tersenyum kecil begitu semua barang telah dimasukkan kedalam tas, lalu ia bergegas mendekati Kai. “Nah, ayo kita pergi.” Ujarnya. Tangannya bergerak mendekati Kai, tapi tiba-tiba Kai mundur selangkah hingga membuat Yoona terhenti untuk sejenak.

Ini sudah kesekian kalinya Kai bersikap seperti ini pada Yoona. Kai terlihat seperti sedang menghindari Yoona. Ia sungguh tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Ia benar-benar tak tahu kenapa Kai tiba-tiba menjauhinya seperti sekarang. Yang ia tahu hanyalah pagi ini Kai tertidur disamping sofa sambil memeluk kakinya erat dengan mata yang bengkak dan jendela yang terbuka lebar. Bahkan ketika Yoona membangunkan Kai, lelaki itu juga terlihat meringkuk dipojokan sofa sambil terus-menerus menolak melihatnya.

Sebenarnya apa yang terjadi pada Kai semalam? Kenapa ia tiba-tiba tidur disamping sofa? Kenapa jendela terbuka lebar? Dan juga kenapa mata Kai membengkak? Apa Kai menangis? Lantas, kenapa Kai menangis? Pertanyaan itu terus-menerus berputar dikepala Yoona sehingga membuatnya tak bisa memikirkan hal lain lagi.

Lee Taemin masuk kedalam ruangan dan mendapati Kai yang sedang berdiri didekat dinding sambil menunduk lalu Yoona yang menatap tangannya lirih. Dahinya dibiarkan mengerut dan kakinya bergerak mendekati Yoona untuk melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi dengan 2 orang dihadapannya.

“Apa yang terjadi?” Tanya Taemin begitu ia berdiri didekat Yoona. Gadis itu hanya melihatnya sekilas lalu berjalan mendekati Kai.

“Kai, ayo kita pergi.” Ajak gadis itu. Tapi Kai masih saja seperti tadi. Ia tetap mundur selangkah hingga punggungnya menabrak dinding. Im Yoon Ah kehabisan kata-katanya. Ia hanya terdiam dengan mata yang tetap menatap Kai. Sedangkan Kai hanya terdiam dengan punggung yang bersentuhan dengan dinginnya dinding dan kepala yang ditundukkan.

Taemin benar-benar tidak mengerti. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa suasananya menjadi seperti ini? Kenapa Kai bersikap tak seperti biasanya? Padahal biasanya Kai akan senang jika bertemu Yoona, tapi sekarang… kenapa seperti ini?

Yoona maju dan Kai kembali menghindar. Kini ia berjalan menyamping dengan punggung yang masih bersentuhan dengan dinding. “Kai.” Panggil Yoona pelan. Tapi Kai tetap menghindar. Ia berjalan cepat kepojok ruangan dan berjongkok kemudian menyembunyikan wajahnya diantara lutut.

Im Yoon Ah menatap Kai lirih dengan tangan yang mencengkram ujung jaketnya erat. Kenapa rasanya sangat berat? Kenapa hatinya sangat sakit melihat Kai bersikap seperti ini padanya?

Ya! Kim Jong In.” Gadis cantik itu kembali berucap. “Kau tidak mau pergi?” Tanyanya. Diujung sana Kai tetap bergeming, benar-benar tidak memerdulikan Yoona sama sekali.

Taemin benar-benar sudah kehabisan akalnya. Dipikir sebanyak apapun rasanya sangat aneh jika Kai tiba-tiba menghindari Yoona seperti sekarang. Oke, Alzhaimer memang membuat kepribadian Kai menjadi aneh dan susah untuk ditebak. Tapi ini benar-benar diluar perkiraan Taemin. Awalnya Taemin berpikir membiarkan Yoona berada didekat Kai akan membuat proses penyembuhan Kai semakin cepat. Tapi jika akhirnya menjadi seperti ini, apa yang harus dilakukannya lagi?

“Kau benar-benar tidak mau pergi?” Ujar gadis itu lagi. Ia menghela nafas berat dan kembali berkata, “Baiklah jika kau tidak mau pergi. Aku juga tidak akan pergi.”

Taemin menatap gadis itu lirih. Padahal kemarin gadis itu masih tersenyum padanya, tapi hari ini senyum itu sama sekali tak terlihat. Kim Jong In, kenapa kau tega membuat senyuman itu lenyap tak berbekas? Sebenarnya apa yang terjadi padamu?

Merasa tidak bisa membiarkan situasi ini bertahan lebih lama, Taemin bergerak mendekati Yoona dan menenangkannya untuk sejenak. Kemudian ia bergegas mendekati Kai. Ia berjongkok dihadapan Kai dan memanggilnya, “Jong In-ah.”

Kai mengangkat kepalanya sedikit untuk menatap Taemin. Betapa terkejutnya Taemin ketika melihat wajah Kai. Dahinya berkerut dan matanya disipitkan, ia bahkan menggigit bibirnya kuat hingga mulutnya terlihat bergetar. Tangannya terkepal dengan kuat. Bahkan ketika Taemin bergerak untuk menyentuh tangannya, Kai langsung menarik tangan kedalam pelukannya dan semakin mendorong tubuhnya kebelakang, padahal punggungnya sudah bertemu dengan dinginnya dinding.

Lalu, Taemin melirik kebelakang dan mendapati Yoona yang sedang menunduk. Dengan cepat pula ia kembali menatap Kai dan menghela nafas berat. Taemin benar-benar tidak mengerti. Dia tidak mengerti kenapa Kai tiba-tiba bersikap seperti ini. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa semua ini bisa terjadi. Padahal semalam ia masih baik-baik saja. Padahal semalam Kai tidak menghindarinya seperti sekarang. Tapi kenapa sekarang Kai bersikap seperti ini? Sebenarnya apa yang terjadi? Kai, sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa kau menjadi seperti ini?

Taemin menarik nafas panjang kemudian tangannya bergerak untuk memegang bahu Kai. Setelah itu ia pun berkata, “Kim Jong In. Ini aku, Lee Taemin.”

—OoooOoooO—

Yoona melirik Kai melalui kaca spion. Ia duduk dengan mata terpejam. Lelaki tampan itu sedang tidur. Wajahnya sangat damai, seolah tanpa beban. Menyadari hal itu membuat seulas senyum terlukis dengan indah diwajah Yoona.

Lee Taemin mengamati Yoona dari samping. Gadis itu tersenyum. Tersenyum begitu manis hingga tanpa sadar Lee Taemin ikut tersenyum bersamanya. Lelaki itu sangat bersyukur, sekarang gadis itu sudah kembali tersenyum. Ia menghela nafas panjang dan berkata, “Kau senang?” tanya Taemin yang mendapat anggukan dari Yoona.

Gadis itu menatap Taemin senang, “Gomawo-yo, Taemin-ah. Terima kasih sudah membujuk Kai untukku. Jika tadi kau tidak membujuknya, pasti sekarang aku tidak akan merasa selega ini.”

Taemin melemparkan pandangannya kembali kejalan raya sambil sesekali melirik kearah Yoona, “Aku tidak membujuknya, kok. Tapi syukurlah jika kau senang.”

Senyuman kembali terukir diwajah cantiknya hingga membuat Teamin terdiam untuk sesaat. Oh Tuhan, kenapa melihat gadis ini tersenyum selalu bisa membuat Taemin mematung? Sebenarnya apa yang sedang terjadi pada Taemin? Kenapa hatinya ikut merasa senang ketika melihat gadis ini tersenyum? Apa Taemin benar-benar menyukainya?

“Aku tidak menyangka kau akan ikut.” Gadis itu kembali berucap hingga membuat Taemin memalingkan wajahnya—berusaha tak terlihat bodoh dihadapan Yoona. Tapi bibirnya tetap berucap, “Ne?” karena Taemin sungguh tak mengerti apa yang dimaksud Yoona.

Gadis cantik itu melirik sekilas kearah Taemin dan kembali melihat kaca spion yang menampilkan wajah Kai. “Rumahku. Kukira kau tidak akan ikut.”

Taemin mengangguk pelan lalu berkata, “Hari ini aku libur. Lagi pula sepertinya kau perlu bantuan.” Ia melirik kearah Kai sekilas dengan perantara kaca spion dan tersenyum tipis. “Kalau-kalau dia berulah.”

Gadis itu tertawa kecil, “Kai benar-benar sangat beruntung memiliki sahabat sepertimu.” Katanya. Tapi Taemin malah menggeleng pelan dan berkata, “Justru akulah yang beruntung memiliki sahabat seperti Kai. Kau tahu? Dulu kami sering menari di taman untuk mengumpulkan uang.”

Mata gadis itu membulat dan ia menyampingkan tubuhnya menghadap Taemin. “Kau juga bisa menari?” tanyanya penasaran. Lee Taemin mengangguk dan tersenyum, “Aku ini juga lumayan berbakat dalam menari. Setiap saat diakhir pekan, ditaman tempat kita bertemu untuk pertama kalinya. Kau masih ingat?”

Yoona menggaruk tengkuknya pelan dan berkata, “Ah~ taman itu…”

Lelaki cantik itu melirik kearah Yoona kemudian memulai ceritanya yang sempat tertunda. “Awalnya hanya ditaman itu, tapi kemudian kami berpindah dari taman ke taman. Sampai suatu hari adikku jatuh sakit dan Kim Jong In memberikanku seluruh uang yang kami hasilkan bersama. Hari itu aku benar-benar tak habis pikir bagaimana bisa seorang Kim Jong In bersikap begitu baik pada Lee Taemin. Maksudku, itu hasil jerih payah kami, bukan hanya aku. Tapi dia malah menggenggam tanganku dan menyuruhku untuk pulang lebih awal. Dia bahkan membantu mengantarkan adikku kerumah sakit. Membayarkan biaya rumah sakit. Dia melakukan semuanya walaupun aku tidak meminta.” Ucapnya panjang lebar.

Disampingnya, Yoona mendengarkan Taemin bercerita dengan sepenuh hati. Kim Jong In yang dikenalnya memang berhati hangat. Tapi ia sama sekali tidak pernah berpikir kalau Jong In akan melakukannya sampai sejauh itu.

“Kim Jong In.” Yoona mulai berucap, wajahnya tertunduk dan ia tersenyum kecut. “Dia memang sangat baik. Jika ada yang bisa dilakukannya untuk orang lain, bahkan jika harus mengorban dirinya sendiri, ia pasti akan melakukannya. Dia memiliki hati yang besar. Seperti itulah Kim Jong In yang kukenal. Tidak seperti sekarang.” Ujarnya sedih.

Berat memang menerima kenyataan. Kim Jong In berubah, berubah terlalu banyak hingga Yoona hampir tak mengenalnya. Ia ingin kabur dan mencoba melupakan kenyataan. Tapi sebanyak apapun ia mengambil ancang-ancang untuk kabur, sekeras apapun usahanya, hatinya menolak untuk pergi. Tangannya terkepal dengan kuat dan kakinya tetap melangkah menuju Kai. Kai memang berpengaruh besar untuk hidup Yoona. Oleh karena itu, Yoona memutuskan untuk tetap berada disekitar Kai. Walaupun itu hanya akan melukai hatinya lebih dalam.

Ia tak boleh bersedih. Bukankah Kai sudah kembali? Bukankah Kai sekarang ada dihadapannya? Seharusnya ia tersenyum dan tertawa, bukannya bersedih seperti sekarang. Im Yoon Ah, seharusnya kau tetap ceria seperti biasa. Harusnya kau seperti itu.

Gadis itu bersedih. Taemin bisa melihat dari raut wajah yang tergambar dari gadis itu. Entah mengapa, melihat gadis itu bersedih membuat hatinya ikut sakit. Taemin benar-benar tidak suka melihat gadis itu bersedih. Ia benar-benar tak sanggup melihat gadis itu menangis lagi. Sungguh.

Ya! Im Yoon Ah.” Panggil Taemin dengan suara yang keras hingga membuat Yoona mengangkat wajahnya cepat. “Kau masih tidak percaya aku bisa menari?” Lee Taemin mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. Ya, semoga saja dengan begitu gadis itu tidak akan bersedih lagi.

Gadis itu membalas dengan senyuman tipis lalu, “Sejujurnya aku masih sulit untuk percaya.” Katanya sambil tertawa kecil.

Taemin mengerucutkan bibirnya pelan, “Aku ini sangat ahli dalam menari. Bahkan lebih hebat dari Kai.”

Yoona menyipitkan matanya menatap Taemin lalu berkata, “Tadi lumayan sekarang ahli. Aku semakin ragu dengan bakat menarimu.” balasnya yang membuat Taemin terdiam seribu bahasa.

“Y-ya it-itukan… maksudku…”

Tawa Yoona meledak saat itu juga. “Aku hanya bercanda. Haha~ coba lihat ekspresi wajahmu tadi. Wajahmu jadi abstrak. Haha~” Gadis itu memotong dengan cepat dan sekarang malah tertawa terbahak-bahak sambil memukul-mukul pahanya keras. Lee Taemin melirik sekilas kearah Yoona. Mulutnya seperti terhipnotis hingga ia ikut tertawa bersama Yoona tanpa sadar.

Benar. Dia memang suka melihat gadis ini tertawa. Hatinya merasa begitu ringan dan juga damai ketika mendengar suara tawa Yoona. Sehingga senyuman lebar pun terukir dengan sempurna diwajahnya tanpa permisi. Im Yoon Ah, gadis yang berhasil memikat hatinya. Ya, sepertinya Lee Taemin memang menyukai gadis ini. Menyukainya dengan sepenuh hati. Walaupun hati gadis itu sudah milik orang lain.

Yoona menghentikan tawanya kemudian melirik kearah Taemin, “Maukah kau menunjukkannya padaku?”

Taemin tersentak kaget dan berkata, “Ne?” gadis itu tersenyum kecil dan membalas, “Menari. Maukah kau menari dihadapanku suatu hari nanti?”

Haruskah Taemin mengangguk dan berjanji pada gadis dihadapannya? Haruskah ia merasa senang karena gadis ini meminta sesuatu dengannya? Tapi kenapa Lee Taemin malah mematung seperti sekarang? Kenapa lidahnya malah terasa begitu kaku dan mulutnya tak bisa dibuka? Jantungnya berdetak begitu cepat. Ada apa ini? Apa ini gejala penyakit jantung? Oh tidak, apa yang harus dilakukannya sekarang? Kenapa otaknya jadi dipenuhi oleh pertanyaan bodoh seperti ini? Ironisnya, kenapa ia sama sekali tidak bisa menjawab semua pertanyaan ini?

Im Yoon Ah mendelik penasaran karena Taemin tak juga menjawab. Ia menghela nafas kemudian menggigit bibirnya pelan, “Diam berarti setuju. Suatu saat nanti, kau harus menari untukku.” Ia mengambil jeda untuk bernafas dan tersenyum kecil, “Aku benar-benar sudah tak sabar menunggu hari itu tiba.”

Lee Taemin menoleh kearah Yoona yang sedang tersenyum. Tanpa sadar, kedua ujung bibirnya ikut terangkat membentuk sebuah senyum simpul. Baiklah, Lee Taemin memang selalu bertingkah bodoh dihadapan Im Yoon Ah. Tak peduli dimana pun itu, ia selalu kalah jika sedang berhadapan dengan gadis ini. Biarlah~ yang terpenting hatinya merasa sangat senang. Di temani detakkan jantungnya yang berirama, Taemin menghabiskan sepanjang waktunya untuk sesekali mencuri pandang kearah Yoona. Sedangkan Im Yoon Ah sibuk memainkan radio kecil dimobil Taemin sambil sesekali ikut bernyanyi diiringi lagu.

Mereka sama sekali tidak menyadari, sepasang mata lirih mengamati mereka. Sepasang mata kelam milik Kai. Ia menghela nafas panjang kemudian menunduk. Rasanya begitu sesak. Kepalanya terasa berat dan pikirannya melayang kemana-mana. Hatinya tiba-tiba merasa sakit hingga membuat tangannya bergetar dibalik jaket tebal yang menyelimuti tubuh.

Kim Jong In membenamkan wajahnya dijaket tebal dengan pandangan kosong. Ia membiarkan tangannya tetap bergetar dibalik jaket dan tetap membiarkan kehampaan merayapi dirinya.

Ia berusaha kuat mengalihkan pandangannya kearah jalan, berusaha kuat memfokuskan indra penglihatannya pada bangunan-bangunan yang berubah-ubah setiap saat.

Tapi matanya tak mau mendengar. Sekuat apapun ia mengalihkan pandangan, matanya tetap berujung menatap Yoona.

Im Yoon Ah, gadis yang kini menari-nari kecil dan bernyanyi diiringi lagu dari radio. Kim Jong In tetap menatapnya.

 —OoooOoooO—

Aku senang, karena kau kembali.

—oooOoooOooo—

“Taemin-ah, bisakah kau mengambilkan aku itu?” Tanya Yoona sambil menunjuk bantal kecil diruang tamu. Lee Taemin mendekati bantal kecil itu dan menjawab, “Yang ini?”

Gadis itu mengangguk tanpa melihat. Ia terlalu sibuk memindahkan bahan-bahan makanan kekulkas sehingga mengabaikan Taemin dan Kai untuk sejenak.

Diujung sana, Kai sedang duduk dilantai sambil memeluk kakinya erat. Tapi matanya sama sekali tak lepas dari Im Yoona. Sejak mereka sampai dirumah Yoona, ia terus-menerus mengamati gadis itu. Matanya terus melihat walaupun sudah berkali-kali dipergoki oleh gadis itu. Entah mengapa, ia hanya suka melihat gadis itu lama, seperti sebuah kebiasaan mungkin. Tapi jika gadis itu sudah bergerak mendekatinya, dengan cepat ia memalingkan wajah dan bergerak menjauhinya. Sikapnya itu berkali-kali membuat Yoona kebingungan. Bingung karena Kim Jong In tetap menghindarinya.

Im Yoon Ah mengerucutkan bibirnya sebal sementara Taemin berjalan mendekatinya sambil menepuk-nepukkan tangannya yang penuh debu dan terbatuk-batuk. “Kotor sekali.” Ujarnya.

“Kapan terakhir kali kau membersihkan rumah ini?” Tanya Taemin begitu ia berada disamping Yoona. Gadis itu tampak berpikir sejenak sebelum menjawab, “Sudah lama. Ehm, sepertinya hampir 3 minggu.” Ujarnya tak yakin.

Lee Taemin hanya mengangguk-angguk kecil ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi. Ia segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel dalam sekejap. Tangannya bergerak cepat diatas layar dan sedetik kemudian ponselnya berpindah ketelinga. “Ne, Sunbaenim.” Ujarnya singkat. Ia sedikit melirik kearah Yoona kemudian tersenyum kecil dan berjalan menjauh.

Di sisi lain, Yoona menghela nafas panjang dan berkata, “Sudah kubilang kau tidak perlu ikut.” Kemudian ia tersenyum kecut dan kembali bergegas untuk membersihkan rumahnya yang benar-benar kotor.

Pertama-tama, ia membawa seprai baru kekamar dan berniat mengganti seprai ranjangnya. Sementara Kai mengikutinya dari belakang. Masih sama seperti tadi, lelaki tampan itu masih mengamati setiap gerak-gerik Yoona tapi masih tetap menjaga jarak.

Disisi lain, Yoona kesulitan mengganti seprai ranjangnya. Masalahnya ranjangnya lumayan besar, sehingga ia kesulitan menggantinya seorang diri.

“Aish, jinjja. Kenapa tidak rapi-rapi juga.” Runtuknya sambil mengacak-ngacak seprainya. Kemudian ia mendudukkan dirinya diranjang dan menghela nafas berat. Tapi manik matanya menangkap bayangan Kai didekat pintu. Refleks, senyumnya mengembang tanpa bisa dicegah. Ia melambai-lambaikan tangannya pada Kai dan memberi isyarat agar Kai mendekat.

Awalnya Kai terlihat enggan, tapi sedikit demi sedikit kakinya bergerak mendekati Yoona sehingga membuat senyum diwajah gadis itu semakin cerah.

Lelaki tampan itu berjalan sambil menundukkan wajah. Bahkan ketika ia sudah berada tepat dihadapan Yoona, wajahnya masih tetap tertunduk.

Im Yoon Ah mengayun-ayunkan kakinya perlahan. Ketika Kai berada tepat dihadapannya, tanpa sadar tangannya bergerak menarik Kai untuk duduk disampingnya sehingga lelaki itu tampak sedikit terkejut.

Kai tersentak kaget hingga badannya oleng dan ia terduduk dibawah ranjang disamping Yoona. Ia tetap terduduk disana walaupun Yoona sudah menyuruhnya naik. Ia tetap memeluk kakinya walaupun gadis itu kembali menarik tangannya.

Tapi ketika gadis itu menyerah dan membiarkannya duduk dilantai, Kai mengangkat wajahnya menatap Yoona dalam diam. Ia mengamatinya seperti tadi dan senyumnya pun muncul tanpa bisa dicegah. Bagi Kai, Im Yoon Ah itu seperti magnet. Matanya seperti obat bius, wajahnya seperti lem dan sentuhannya seperti aliran listrik. Im Yoona selalu membuatnya ingin menatap wajah itu lama, tapi sentuhannya begitu berbahaya. Seperti yang tadi Kai rasakan, ia merasa seperti disetrum ketika gadis itu menyentuh tangannya. Aliran listrik seakan-akan merayap keseluruh tubuh hingga badannya menjadi oleng seketika. Tapi Im Yoon Ah tetaplah magnet dan lem, seberapa berbahayanya dia, gadis itu tak pernah gagal membius Kai kedalam pesonanya. Sehingga Kai masih tetap menatap gadis itu seperti tadi. Menikmati setiap gerakan-gerakan kecil yang gadis itu lakukan. Hanya mengamatinya.

Im Yoon Ah melihat berkeliling sambil tersenyum. Ia masih mengayun-ayunkan kakinya ketika ia bertanya, “Kau masih ingat tempat ini?” ia menatap Kai sekilas lalu, “Kau pernah kesini untuk memberi kejutan dihari ulang tahunku.”

Gadis itu memejamkan matanya sambil menggerak-gerakkan kepalanya kekanan dan kiri seolah-olah sedang membawa kenangan itu kembali ketempat ini. Mengulang kisah yang pernah dirajutnya bersama Kai satu tahun yang lalu. Ketika semuanya masih baik-baik saja.

“Kau tidak akan datang? Apa kau benar-benar lupa hari ini hari apa?” Air mata hampir terjatuh dari matanya ketika lelaki diseberang sana menjawab, “Mianhae, tiba-tiba ada penambahan jam kerja. Aku tidak mungkin meninggalkan perkerjaanku.”

Im Yoon Ah mengusap kasar air mata yang lolos dari pelupuk matanya dan memandang kue ulang tahun dihadapannya dengan lirih. “Bahkan ketika sudah jam 10 malam?”

Diseberang sana Kim Jong In terdiam untuk sejenak kemudian ia baru menjawab dengan sangat pelan, “Mianhae, mianhae-yo.

Yoona memaksa untuk tersenyum kecil kemudian berkata, “Gwenchana, gwenchana-yo.” Suaranya bergetar sehingga Kim Jong In bertanya, “Kau menangis?”

Gadis itu terdiam sambil mencoba keras untuk menahan air matanya, ia menggigit-gigit bibirnya dan tangannya terkepal dengan erat. Sementara diujung sana Kim Jong In kembali bertanya, “Yoona-ya, kau menangis?”

Ia menggeleng-geleng pelan dan kembali mengusap wajahnya kasar, “Apa kau sesibuk itu? Bahkan sudah jam 10 malam dan kau masih bekerja.”

Mianhae…” Jong In benar-benar sangat menyesal, ia mengucapkan itu berkali-kali hingga Yoona kembali berkata, “Baiklah, tidak ada yang bisa kita lakukan.” Suaranya masih bergetar. Jadi Jong In kembali bertanya, “Apa kau benar-benar tidak apa-apa?”

Air mata itu kembali mengalir, bahkan lebih deras dan tak bisa dibendung lagi. Gadis itu menggeleng kuat dan mencengkram ujung bajunya erat. “Sejujurnya…” ia memejamkan matanya erat dan menggigit bibir. “Sejujurnya tidak…”

Bibirnya bergetar dan tangannya bergerak untuk menopang kepalanya, “Aku sama sekali tidak baik. Aku…” ia mengambil jeda untuk bernafas lalu kembali berkata sambil terisak. “Bahkan ketika hari sepenting… bahkan ketika kau berjanji untuk datang lebih awal… seharusnya kau datang dan menemuiku… seharusnya kau disini dan menemaniku… bahkan… bahkan ketika aku berulang tahun… seharusnya kau tidak perlu berjanji jika kau lupa dan tak akan datang.” Setelah mengatakan itu Yoona memutuskan hubungan dan kembali terisak-isak. Meluapkan sakit hati dan luka hatinya. Hanya malam ini, ia menangis sendirian dihadapan makanan yang masih tersusun rapi, sama sekali belum terjamah.

Setelah puas menangis, Yoona masuk kedalam kamar dan cepat-cepat menuju kamar kecil untuk mencuci muka. Ia tampak mengerikan malam ini. Dandanannya hancur berantakkan karena ia menangis dan sekarang matanya malah menjadi bengkak. Tapi begitu ia melihat pantulan wajahnya dicermin, hatinya kembali merasa sakit. Bukan karena ia masih bersedih, hanya saja tiba-tiba ia merasa tidak harus berkata begitu kasar pada Jong In. dia tidak seharusnya memaksakan keinginannya seperti tadi. Jong In pasti punya alasan kenapa dia bisa melupakan ulang tahun Yoona. Ya, dia pasti punya. Seharusnya Yoona bisa berpikir sedikit lebih jernih dan bisa berpikir dengan sudut pandang Jong In. Aduh! Ia benar-benar merasa buruk sekarang.

Gadis itu keluar dari kamar kecil dengan wajah cemberut. Ia meletakkan kedua tangannya disekitar wajah dan menggeleng-geleng tak jelas. Kemudian ia berbaring diranjang sambil menatap langit-langit.

Jam sudah menunjukkan 11.00 PM, tapi matanya masih belum mau tertutup. Entah mengapa, hatinya merasa tidak tenang. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal dihatinya.

Gadis itu bangkit dan kembali meletakkan kedua tangannya diwajah. Setelah itu ia turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu besar yang terhubung dengan balkon. Mungkin udara segar bisa membantu untuk membuat hatinya kembali tenang dan tidur nyenyak. Semoga saja.

Tangannya bergerak membuka pintu ketika ia berada didepan pintu. Tapi pintu itu tak bisa dibuka. Seperti ada sesuatu yang menimpa pintu itu sehingga tak bisa dibuka. Gadis itu tetap mendorong, agar pintu itu terbuka. Tapi beberapa kali mencoba pintu itu tetap tak terbuka.

Yoona tetap tak menyerah. Ia mundur beberapa langkah lalu menghela nafas panjang. Setelah itu ia mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu itu. Tepat ketika Yoona berlari kearah pintu, pintu itu terbuka sempurna dan muncul seseorang dari balik pintu.

Kakinya tak bisa berhenti dan tubuhnya tetap terdorong kedepan sehingga tanpa sengaja ia ikut mendorong tubuh seseorang dihadapannya dan membuat mereka jatuh dengan posisi Yoona yang berada diatas.

Mata Yoona hampir tak berkedip ketika menyadari siapa yang ditabraknya. Jantungnya memompa dengan cepat dan ia lupa bernafas untuk beberapa detik. Itu Kim Jong In. Itu Kai. Bukankah ia bilang tak bisa datang? Bukankah 1 jam yang lalu ia meminta maaf pada Yoona dan membuat gadis itu menangis? Lalu kenapa tiba-tiba ia muncul disini?

Kim Jong In sedikit merintih kesakitan, tapi ketika mata mereka bertemu, rasa sakit itu seolah-olah menghilang tanpa bekas. Senyumnya mengembang tanpa bisa dicegah dan ia pun merentangkan tangannya lebar-lebar sambil berkata, “Surprise…

Im Yoon Ah kehilangan dirinya untuk sesaat. Untuk beberapa saat ia menjadi bodoh mendadak. Otaknya bekerja dengan sangat lambat. Bahkan ketika Kim Jong In tersenyum sambil berkata ‘Surprise’ ia masih tetap dengan posisinya dan mengerjapkan matanya tak percaya.

Tapi ketika Kim Jong In kembali membuka mulutnya. Ketika Kim Jong In berkata, “Selamat ulang tahun Im Yoon Ah.” Tangannya bergerak menutup mulut. Ia tiba-tiba bangkit dan duduk bersandar dinding. Ia kehilangan kontrolnya untuk sesaat. Air matanya keluar tanpa bisa dicegah dan ia terisak-isak diluar kendali. Bahkan ketika Jong In membawanya kedalam pelukan, gadis itu masih tetap menangis walaupun ia tahu Kim Jong In sudah dihadapannya.

Im Yoon Ah masih memejamkan mata sambil memeluk tubuhnya erat. Kemudian ia melepaskan pelukan dan matanya disaat yang bersamaan. Tapi senyumnya masih disana, masih setia menghiasi wajah cantiknya. Sementara ia kembali berkata, “Hari itu kupikir kau benar-benar tak datang. Kupikir kau benar-benar lupa dengan ulang tahunku. Bahkan aku berpikir kau lebih mementingkan pekerjaanmu daripada aku.” Ia melirik sekilas kearah Kai dan berkata, “Tapi aku salah. Kau tidak pernah lupa. Dan tak akan pernah lupa. Bukankah seperti itu? Kai?”

Berbeda dengan tadi, kini Kai sudah berani menatap mata itu lama. Bahkan ketika Yoona mendekat kearahnya, ia sama sekali tak menghindar. Ia tetap berada diposisinya sementara Yoona menurunkan dirinya perlahan demi perlahan. Yoona ikut duduk dilantai bersamanya. Gadis itu juga ikut memeluk kaki seperti yang dilakukan Kai. Dan tiba-tiba ia tersenyum manis sehingga tanpa sadar memancing senyuman itu muncul diwajah Kai.

Yoona menggenggam tangan Kai lembut dan berkata, “Mungkin sekarang kau melupakanku. Tapi bukankah sudah ku bilang, kau tidak akan pernah lupa. Kai tidak akan pernah melupakan Im Yoon Ah. Walaupun sekarang kau tidak mengingatku. Tapi aku tahu, jauh didalam lubuk hatimu, kau mengenalku. Mengenaliku lebih dari orang lain.” Ia mengambil jeda untuk bernafas lalu, “Aku benar, kan?”

Kai masih menatap mata itu, masih menatapnya hingga ia lupa untuk berkedip. Kepalanya digerakkan kekanan dan kekiri dengan pelan lalu bibirnya tetap melengkuk keatas. Ia tetap melakukannya walaupun sekarang Yoona sudah tak menatapnya. Tapi tiba-tiba mulutnya bergerak dengan sendiri, tanpa sadar ia tiba-tiba berkata, “Cantik.”

Yoona terdiam untuk sejenak. Mulutnya sedikit terbuka dan kepalanya berputar kearah Kai. Sedikit demi sedikit hingga matanya kembali menatap Kai. Menatap mata Kai sementara lelaki itu kembali berucap, “Im Yoon Ah~ Cantik.”

…to be continue…

Iklan

3 pemikiran pada “Confused (Chapter 3)

  1. wow !! daebak !! keren bgt.. aku berasa baca novel romance gitu.. keren bgt thor asli !! nunggu lama juga jd gaberasa.. wkwk next thoorr!! ditunggu ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s