Falling For Your Love (Chapter 2)

Falling For Your Love (Chapter 2)

 falling for your love

Tittle : Falling to Your Love

Author : Nia Damaiyantri Pardede

Genre : Romance, Frienship, Marriage life, Drama.

Rating : NC-17

Lenght : Multichapter

Main Cast :

∙ D.O. Kyungsoo

∙ Im Yoona Ah

∙ Krystal Jung

Support Cast : Exo-K, Yoona’s Appa, SooYoung as Yoona’s friend.

 

 

 

Annyeong~

Saya kembali lagi membawakan chapter keduanya *lambai-lambaikan tangan ke kamera* *abaikan*. Di chapter sebelumnya, saya memang hanya mengambil dari satu sudut pandnag saja, mianhea. Tapi kali ini saya tidak akan mengambil dalam satu sudut pandang saja. Dan saya juga minta maaf karena pengeditan gambar yang terkesan ‘aneh’, sejujurnya saya paling ngga bisa masalah pengeditan. Dan juga maaf untuk alur ceritanya yang pasaran dan ngga jelas keberadaannya (?). Sekali lagi, terimakasih telah membaca FF yang tak seberapa ini. Jangan lupa untuk comentnya ya..

Selamat membaca~

-Yoona’s POV-

Aku mereganggkan otot-ototku yang terasa lelah. Aku baru saja melakukan pekerjaan rumah, yang terbilang cukup melelahkan. Semenjak pernikahan itu, aku hanya berdiam diri di rumah. Kadang, jika merasa bosan, aku akan menyusul Kyungsoo ke kantor dan membawakannya bekal. Sama seperti halnya yang akan kulakukan sekarang.

Aku tengah bersiap-siap menuju kantor Kyungsoo, tanpa menghubunginya terlebih dahulu. Aku sudah terbiasa dengan kehidupan pernikahan yang cukup menarik bagiku.

Setiap pagi, aku akan bangun lebih dulu menyiapkan sarapan untuk kami. Mengurus pakaian kerja Kyungsoo, hingga menunggunya hingga larut malam. Tapi, bagiku, itu merupakan hal yang menyenangkan. Dengan hal itu, aku dapat lebih dekat dengan Kyungsoo. Merasakan sengatan akibat senyuman hangatnya.

Aku mengambil tas yang berada di lemari pakaianku, menuju pintu, dan melesat keluar menggunakan mobil biruku.

Aku membawakan Kyungsoo makanan kesukaannya, bibimbap. Aku tersenyum, membayangkan senyum hangatnya yang akan diberikannya kepadaku ketika melihatku muncul di kantor, lagi.

Aku memakirkan mobilku di parkiran kantor Kyungsoo. Keluar dari mobil, menuju lift yang berada di area parkiran ini. Aku menekan angka 5 pada tombol yang berada didinding lift.

Kakiku melangkah keluar dari lift, setelah bunyi ‘ting’ terdengar di indra pendengaranku. Langkah kakiku kemudian menuju ke meja sekertaris Kyungsoo, Jung Hanna, yang berada tepat di depan ruangan Kyungsoo. Namun, meja Hanna terlihat kosong. Mungkin saja, Hanna sedang melakukan pekerjaan di luar kantor.

Langsung saja, aku masuk ke ruangan Kyungsoo, tanpa mengetuk pintu. Tidak sopan memang, tapi, aku kan istrinya. Jadi, tentu saja aku berhak masuk ke ruangan suamiku sendiri. Dan yang kuyakin, Kyungsoo tidak akan marah, jika, tahu aku yang membuka pintu tanpa mengetuk.

Aku mendorong pintu kaca, pembatas ruangan Kyungsoo dan sekertarisnya itu, menyembulkan kepala. Nihil. Mataku tidak menangkap sosok siluet Kyungsoo. Aku malangkah masuk ke ruangan Kyungsoo. Ruangan ini tertata rapi. Sebuah sofa kulit bermotif tutul, menghiasi sudut ruangan ini. Meja kantor yang berada didekat jendela, tepat di sebelah kanan sofa itu, terlihat nyaman dan rapi. Jas Kyungsoo, tergantung manis di kursi kerja.

Entah untuk keberapa kalinya, aku mengamati ruangan kerja Kyungsoo. Tapi, mataku tetap tidak pernah bosan untuk meneliti setiap inchi ruangan ini.

Aku mendudukkan tubuh di sofa. Kyungsoo sangat menyukai keadaan, dimana jendela ruangannya dibuka. Ntah apa alasannya, aku tidak tahu. Angin yang masuk melalui jendela yang terbuka, menerbangkan beberapa helai rambutku yang tidak ikut terikat. Angin ini membuat rasa kantuk datang menghampiriku.

Untuk menghilangkan rasa kantuk, aku mulai membaca surat kabar yang terletak diatas meja.

Ceklek..

Tak seberapa lama aku menunggu, pintu ruangan ini terbuka. Kyungsoo muncul dengan wajah yang melelahkan. Kulihat matanya kini terlihat sayu. Dia sedikit merenggangkan badannya setelah menutup pintu. Kyungsoo masih saja belum menyadari kehadiranku.

“Kyung…”

Kyungsoo terlonjak kaget ketika namanya kusebut. Dia kini menyadari keberadaanku dan merenggut kesal.

“Ah, kau. Kau membuatku kaget saja!” Aku tersenyum kecil melihat ekspresi kagetnya. Lucu.

“Aku membawakanmu makan siang. Apa kau sudah makan?”

“Wah, kebetulan sekali. Aku baru saja akan makan diluar”

“Kalau begitu, kemarilah. Kita makan bersama”

Kyungsoo melepaskan dasinya dan menaruhnya dimeja kerjanya, sebelum menghampiriku dan duduk disebelahku.

Aku membuka kotak makan yang berisi bibimbap kesekuannya. Kulihat secercah kebahagiaan terpancar dari matanya melihat menu yang kumasak hari ini.

“Ayo, makanlah” ajakku kepadanya.

Kyungsoo mengambil sumpit dan mencicipi sepotong bibimbap yang kubuat. “Apakah kau sendiri yang membuatnya? Ini sungguh lezat” pujinya tulus.

“Tentu saja aku yang membuatnya. Dulu, oemma sempat mengajariku memasak. Kau menyukainya?”

“Tentu saja, lain kali kau harus membuatkannya untukku lagi”

Aku tersenyum mendengar perkataan Kyungsoo. Senang. Sangat senang.

***

 

Setelah menghabiskan makan siang bersama, aku dan Kyungsoo memutuskan untuk sedikit menghibur diri, dengan menghampiri sebuah taman dekat daerah perkantoran Kyungsoo. Kami memilih berjalan dibandingkan menaiki kendaraan.

Aku sedikit mengeratkan jaket yang kupakai. Cuaca kali ini memang sangatlah dingin, mengingat musim dingin yang akan segera datang.

“Kau kedinginan? Ayo, sinikan tanganmu.” Ucapnya setelah melihatku sedikit menggigil.

“Tidak, aku tidak apa.”

“Sudah, cepat sinikan tanganmu.”

Dengan sedikit kasar Kyungsoo menghampiri tanganku. Menggengganya dan memasukkan ke saku mantelnya. Hangat. Kurasakan Kyungsoo menautkan jemari-jemari kami. Sudut bibirku tak kuasa untuk tidak tertarik.

“Begini lebih baik bukan?” Katanya sembari menatapku lembut.

“Gomawoya.” Kataku tersenyum menatapnya.

“Kyungsoo? Apakah kau Do Kyungsoo?” Seorang wanita cantik menghampiri kami.

Kyungsoo dan aku serempak menoleh ke arah sumber suara yang berasal dari belakang kami. Kulihat wanita cantik—yang mungkin sebaya denganku, menghampiri kami dengan senyum yang merekah lebar. Wanita ini tampak cantik dengan hot pant dan hodi merah yang dikenakannya. Wajah orientalnya dipadukan dengan hidung mancung yang menambah kesan cantik. Sempurna.

“Oppa, apa kabar?” Sapa wanita itu yang terdengar sedikit.. err.. menggoda.

***

 

-Kyungsoo’s POV-

Aku memalingkan tatapanku dari wajah Yoona, ketika kudengar seseorang menyerukan namaku. Aku sedikit merenggut dan tanpa sengaja mengutuki si pemilik suara. Bagaimana tidak? Suasana yang awal mulainya canggung dan telah mencair sedikit demi sedikit, kini malah dihancurkan oleh kedatangan seorang wanita—yang kurasa aku tidak mengenalnya.

“Oppa. Apa kabar?” suaranya yang menggoda masuk melalui gendang telingaku.

Aku yang menatapnya bingung, hanya dapat mengerutkan kening. Kurasa, aku tidak mengenal wanita ini atau mungkin aku yang lupa siapa wanita ini sesungguhnya.

“Kau melupakanku, Oppa? Aku Krystal. Kau ingat?”

“Kau Krystal? Benarkah? Krystal Jung?” Kataku tak percaya.

Bukankah wanita ini seharusnya berada di Jepang? Bagaimana bisa dia berada disini? Krystal merupakan mantan kekasihku—tunangan lebih tepatnya. Dulu, kami hampir saja menikah. Namun, kandas begitu saja ketika Krystal harus melanjutkan study di salah satu universitas ternama di Jepang. Meski begitu, kami tidak kehilangan kontak sekalipun, tapi itu hanya berlangsung beberapa bulan. Setelah itu, kami kehilangan kontak satu sama lain. Secercah kerinduan menghampiriku. Kerinduan? Tidak, tidak. Kami sudah putus, dan itu sudah sangat lama.

“Kau sudah mengingatku, Oppa?” Tanpa sadar Krystal memelukku, “Aku merindukanmu.”

Aku sedikit terkejut atas perlakuannya saat ini. Aku hanya membalas pelukannya. Jika dilihat, wanita ini tidak berubah sama sekali. Senyuman ramahnya masih sama saja seperti dulu. Rambutnya pun masih panjang, hanya saja, wanita ini mengubah model rambutnya.

“Ehem..”

Kudengar seseorang berdeham cukup keras, menghentikan aktifitas kami. Oh, ya ampun, bagaimana bisa aku melupakan Yoona yang berada disampingku? Kulepaskan pelukanku. Sedikit canggung, menyadari perlakuanku.

“Oh ya, Yoona kenalkan ini Krystal… eh.. mantan kekasihku.” Aku melirik ke arah Yoona untuk melihat reaksinya. Yoona terlihat terlonjak kaget dengan menutupinya dengan senyuman keterpaksaan.

“Dan Krys, ini Yoona.. hmm, istriku.” Krystal sedikit terkejut ketik aku selesai memperkenalkan Yoona, sebagai istriku.

“Kau jahat, Oppa! Kau tidak mengundangku!” Keluhnya, sembari mempoutkan bibir mungilnya.

Aku terkekeh melihat tingkah lakunya, yang masih sama seperti dulu, manja. Tanpa sadar, tanganku sudah mengelus pipi chubby-nya. Kulihat pipinya sedikit merona menyadari tingkah lakuku.

Pipi halus ini, pipi yang dulu, kerap kali ku elus. Darahku terasa berdesir ketika kulit kami bersentuhan. Walaupun sudah lama aku mengenalnya, jantungku selalu berdetak lebih kencang jika berhadapan dengannya, sama seperti sekarang ini.

Jika saja kau tidak ke Jepang pada waktu itu, kita sudah bersama…

Jika saja kau lebih memilih untuk melanjutkan hubungan ini, kita sudah bersama..

Dan jika saja-

“Oppa, lebih baik kita ke cafe itu. Aku ingin bercerita banyak padamu.”

 

-Author’s POV-

Perbincangan kedua manusia yang baru saja bertemu itu, tidak sampai disitu saja. Mereka—Kyungsoo, Yoona dan Krystal—memutuskan untuk melanjutkannya di sebuah cafe terdekat sambil bersantai. Suara Krystal bercerita terdengar yang disusul oleh tawa dari bibir Kyungsoo.

Mereka sangat menikmati setiap detik pertemuan mereka. Tapi jika dilihat sekali lagi, hanya Kyungsoo dan Krystallah yang menikmatinya, tidak dengan Yoona. Sedari tadi, Yoona hanya dapat menatap kedua orang yang sedang bercemkrama tersebut, sambil sesekali menghela nafas.

Yoona merasa dirinya diacuhkan berada disini. Hatinya terasa sakit ketika Kyungsoo memberikan senyuman memikatnya. Hatinya terasa tidak terima akan apa yang dilihatnya ini. Disudut hatinya berontak ketika tanpa sadar tangan Kyungsoo mengelus puncak kepala Krystal dengan lembut.

Mereka masih saja menghiraukan keberadan Yoona, membuat Yoona sedikit kesal. Yoona memalingkan wajahnya dari pemandangan dihapadapannya ke luar jendela. Udara terlihat sangat dingin. Orang-orang berlalu lalang diselimuti jaket tebal yang sedikit menghangatkan mereka. Yoona selalu suka keadaan seperti ini, ketika dia memandangi sejumlah orang yang beraktifitas, menarik menurutnya. Sudut bibir Yoona terlihat tertarik sedikit.

“Aku permisi ke toilet sebentar.”

Suara berat Kyungsoo membuyarkan lamunan Yoona. Yoona memalingkan wajah dan melihat Kyungsoo sedang berbicara pada Krystal, bukan Yoona. Hati Yoona terasa teriris ketika melihat langkah kaki Kyungsoo yang menjauh tanpa melihat Yoona sekali pun.

Apakah aku tak terlihat sedikit pun?, batin Yoona.

Mata Yoona tak berkedip sekali pun menatap nanar punggung Kyungsoo yang semakin jauh. Hatinya terasa terbelah. Remuk dan hancur. Yoona merasa dirinya tidak dianggap dan tidak dirasakan oleh Kyungsoo.

Tidak, tidak, tidak. Kenapa dia harus berpikiran begitu? Bukankah ini hanya pernikahana yang tidak sesungguhnya? Yoona menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

“Pemikiranmu benar.” Kata Krystal, menjawab pemikiran Yoona, “Kyungsoo tidak menganggapmu.”

Yoona menangkap getaran kebencian disetiap katanya. Getaran kecemburuan dan ketidak sukaan yang bercampur. Yoona sedikit kaget menyadari getaran suara itu. Sebisa mungkin Yoona menurtupinya dengan wajah yang dipasang sedater mungkin.

“Kau pikir aku suka dengan pernikahanmu? Cih, Kyungsoo hanya milikku!” Ujar Krystal.

Yoona menghela nafas kecil mendengar perkataan yang dilontarkan Krystal. Sebenarnya, Yoona sudah menduganya sejak awal. Tatapan mata Krystal terhadap Kyungsoo berbeda dan.. istimewa. Hubungan diantar dua manusia ini ternyata belum selesai. Seharusnya,Yoona memang tidak hadir diantar mereka dan menjadi orang ketiga. Hati Yoona yang telah teriris, kembali terasa semakin teriris. Menyakitkan.

“Kau tak perlu khawatir, pernikahan ini-.” Belum sempat Yoona menyelesaikan kalimatnya, suara Kyungsoo terdengar tajam di sampingnya. “Kita pulang. Krys, aku duluan.”

***

 

-Yoona’s POV-

Kyungsoo menarik tanganku dengan kasar. Aku yang merasa heran dengan tingkah laku Kyungsoo, meronta-ronta melepaskan pergelangan tanganku, yang kini terasa sakit dan memerah. Beberapa orang menatap kami dengan pandangan aneh. Kyungsoo tetap saja membawaku pergi. Kyungsoo baru melepaskan tanganku ketika kami sampai di sebuah taman, yang tadinya ingin kami kunjungi.

Walaupun musim akan berganti, pohon-pohon di sini tetap menggugurkan dedaunannya. Daun-daun tampak menghiasi jalan setapak di taman ini. ranting-ranting pohon menyatu membentuk atap di setiap jalan setapak. Burung-burung juga tampak menghiasi jalanan, seperti tak merasakan dinginnya udara menerpa kulit yang dilapisi bulu tebal. Suasana romantis dan indah.

“Bukankah sudah kubilang untuk tidak memberitahu siapa pun mengenai pernikahan bohongan ini?!” Bentak Kyungsoo.

Aku menganga mendengar nada suara Kyungsoo. Untuk pertama kalinya selama hidupku, Kyungsoo membentakku. Aku mengerjap sekali, dua kali, tiga kali. Kyungsoo tetap tidak bergeming. Tatapan matanya memandangku dengan tajam dan dingin. Aku tidak percaya, jika bola matanya memandangku dengan sedingin itu.

Kurasakan genangan air menggenang di pelupuk mataku. Oh tidak, jangan sekarang. Bukankah aku sudah berjanji untuk tidak menangis lagi? Kumohon, bertahanlah.

“Aku tidak mau mendengar apapun. Dan jangan beritahu pada siapapun mengenai pernikahan kita, kecuali aku yang mengatakannya. Mengerti?!” Kyungsoo menarikku menuju parkiran mobil, membawaku pulang ke rumah.

***

 

Sesampai di rumah, kami pun hanya larut dalam keheningan. Kulihat Kyungsoo enggan untuk melihatku dan langsung menyambar handuk, bergegas untuk mandi. Aku menghela nafas. Kepalaku terasa pusing, kupijit-pijit pelipis kepalaku, berusaha menghilangkan rasa sakit, lalu duduk di sofa yang berada di ruang tamu ini.

Kejadian beberapa jam yang lalu kembali menyergap. Tatapan mata Krystal kepada Kyungsoo, perlakuan Kyungsoo yang begitu lembut pada Krystal dan… perkataan Krystal saat Kyungsoo berada di toilet. Apa yang kurasakan? Sakit? cemburu? Tunggu, tunggu. Cemburu? apa yang sedang kupikirkan? Mustahil. Aku tidak mungkin cemburu. Sadarlah, Kyungsoo sahabatmu dan ini hanya pernikahan bohongan. Tapi, kenapa hatiku terasa sakit menyadari kenyataan ini?

Apa aku mencintainya?

Aku menggelengkan kepalaku pelan, berusaha mengenyahkan pemikiran bodohku. Ini tidak benar. Aku tidak boleh mencintainya. Dasar bodoh! Kenapa aku melibatkan Kyungsoo dalam permainan ini? oh ya ampun, aku sudah melakukan kesalahan.

Kepalaku semakin berdenyut-denyut memikirkan perkara ini. Bagaimana pun juga, Kyungsoo tidak seharusnya berada dalam ‘status’nya sekarang. Kyungsoo belum menceritakan apa pun mengenai Krystal. Selama ini, Kyungsoo memang tergolong orang yang tertutup. Sakit dihatiku bertambah mengingat ketidak jujuran Kyungsoo padaku. Aku tidak tahu, sakit karena tidak dipercayai sebagai sahabat atau… sakit karena cemburu. Aku tidak ingin mengetahuinya. Setidaknya, tidak sekarang.

Lebih baik aku tidak memikirkannya. Kepalaku bertambah sakit. Penglihatanku pun semakin tidak focus. Kuharap ini hanya kelelahan saja. Setelah kulihat Kyungsoo keluar dari kamar, aku bergegas mandi dan tidur.

***

 

-Kyungsoo’s POV-

Kukeringkan rambutku yang basah menggunakan handuk. Aku baru saja selesai mandi dan melangkah menuju ruang tamu. Kulihat Yoona yang sedang memijit-mijit kepalanya. Apakah dia sakit? Aku terlalu keterlaluan untuk membentaknya tadi. Sungguh diluar kendaliku.

Aku merasa sangat marah ketika Yoona akan mengatakan tentang pernikahan pura-pura ini. Bukan karena aku takut jika orang-orang mengetahuinnya, entahlah. Dalam sudut hatiku, terasa perih untuk menyadari kenyataan mengenai pernikahan ini. Yang kuinginkan hanyalah orang-orang mengetahui pernikahan ini karena dasar cinta, bukan paksaan atau kepura-puraan.

Kududukkan ke sofa yang tadi diduduki oleh Yoona, menyandarkan punggungku. Ingatanku kembali kepada pertemua pertamaku, setalah kepindahan Krystal ke Jepang. Ternyata Krystal sedikit merubah penampilannya, bahkan aku tak mengenalinya tadi. Rinduku seakan membuncah menjadi satu dengan rasa kekecewaan. Jujur saja, aku merasa kecewa ketika mendengar keputusannya. Namun, itulah Krystal. Bukan Krystal, jika tidak terobsesi menjadi seorang ballerina. Bahkan Krystal rela melanjutkan ke sebuah universitas yang khusus menyediakan kelas ballerina terbaik di Jepang dan meninggalkanku. Aku tersenyum pahit mengingat kembali perpisahan itu.

“Kyaaaaaa….”

Sebuah jeritan mengembalikanku dari alam bawah sadarku. Aku kembali tersadar ke dalam dunia nyata. Kutolehkan kepalaku kea rah sumber suara. Kamar, dan itu merupakan jeritan Yoona. Segera saja aku bangkit menuju kamar.

“Ada apa?” tanyaku ketika sudah berada disampingnya. Dengan cepat, Yoona langsung memelukku sambil menangis. “There is a cockroach. Please take it out. Hiks..”

Aku melihat arah telunjuknya, yang mengarah pada seekor cockroach. Pantas saja, Yoona berbicara dalam bahasa Negara kelahirannya, Canada. Itulah kebiasaannya jika sedang ketakutan atau dalam keadaan yang mengancam. Tanpa sadar aku menghela nafas, mengetahui tidak ada hal buruk yang menimpanya. Apa yang baru saja kupikirkan? Aku mengkhawatirkannya? Entahlah, ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkannya.

“Tunggu disini, aku akan menangkapnya,” kataku menenangkan.

Yoona hanya mengangguk sebagai jawaban. Kuambil sebuah kantong plastic, dan memasukkan cockroach itu kedalamnya, lalu membuangnya kedalam tong sampah.

Glek..

Aku tersadar akan satu hal. Oh ya ampun, bagaimana bisa Yoona hanya memakai handuk, yang hanya menutup sebagian tubuhnya saja? Errr.. tubuhnya terlihat seksi. Aku coba menelan ludahku dengan susah payah. Tidak, tidak, jangan sekarang, aku harus menahannya. Bagaimana pun juga ini merupakan hal yang wajar, bukan? Kurasakan daerah sekitar selangkanganku terasa sesak. Sesutau dalam tubuhku memaksa untuk keluar. Keringat dingin pun meluncur di tubuhku.

“Kyung, kau.. k-kenapa menatapku seperti itu?” Yoona menghampirku denga ketakutan. “Apakah kau baik-baik saja?”

Tanpa sadar aku sudah menempelkan bibirku dengan bibirnya. Hanya sekedar menempelkan. Aku berusaha untuk tidak menyakitinya. Mungkin aku sudah gila karena melakukan hal ini. Kubuka mataku yang sedari tadi kututup, kulihat Yoona pun ikut menutupnya. Aku tersenyum melihat reaksinya. Namun, aku tersadar, aku tidak mau melukainya untuk terlalu jauh. Mana mungkin aku melakukan ‘itu’ dengan Yoona, jika tidak didasari cinta.

Aku melepaskan tautan diantara aku dan Yoona. “Sudah malam. Pakai bajumu dan tidurlah,” kulihat tatapan bingungnya kepadaku, tapi, ia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

Kududukkan badanku ditepi ranjang, ketika kudengar suara pintu kamar mandi tertutup. Aku mengacak rambutku dengan kesal. Hampir saja aku melewati batas. Tapi sungguh, badan Yoona terlihat lebih seksi. Tahanlah Kyungsoo, tahanlah, kami tidak mungkin melakukannya dengan tanpa dasar cinta.

Kurasakan seseorang duduk disebelahku, yang kuyakini adalah Yoona. “Kyung..” kutolehkan kepalaku menghadapnya. Betapa terkejutnya aku menyadari Yoona sedang menangis. Matanya memerah dan menyiratkan ketakutan. Wajahnya terlihat pucat. Apa yang terjadi? Apakah ciuman itu menyakitinya? Kau bodoh, Kyungsoo!

“A-aku.. bertemu dengannya..” Yoona bergumam, namun masih dapat kudengar dengan jelas, “Dengannya. Kris..”

***

 

-Yoona’s POV-

Aku masuk kedalam kamar mandi untuk memakai baju. Kubasuh wajahku di wastafel. Apa yang baru saja terjadi? Benarkah Kyungsoo menciumku? Aku merasa melayang diudara, dimabukkan dalam atmosfer ciuman tersebut. Getaran hebat itu kembali kurasakan. Ciuman yang hangat itu membuatku tak hentinya menarik sudut bibirku.

Aku mengelap wajahku dengan handuk.

DEG..

‘dia’.. itu ‘dia’. Mustahil, ini pasti mimpi. Aku tidak mungkin melihatnya, sedang berdiri menggunakan pakaian serba putih sedang tersenyum padaku, melalui cermin didepanku. ‘dia’ tidak akan pernah kembali, tidak akan pernah.

Kulihat ‘dia’ tersenyum semakin lebar. Tampan. Kurasakan sesak membuncah dalam dadaku. Tanpa sadar air mataku turun. Aku membalikkan badan, dan masih melihatnya berdiri di tempat semula. Melihat senyumannya, aku tersadar, aku merindukan senyuman manis itu. Senyuman maut yang bisa melelehkan hati wanita.

“Kris..” panggilku lirih.

Kris, ‘dia’ lelaki itu, lelaki yang sedang berdiri didepanku, semakin menarik sudut bibirnya mendengar namanya dipanggil, “Yoona, aku merindukanmu.”

Tidak ada yang dapat kulakukan, selain mencoba menggapainya. Nihil. Aku tidak merasakannya, aku tidak dapat menggapainya. Aku menyadari, aku semakin terisak ketika tubuh pria jangkung itu tidak dapat tersentuh sedikit pun.

Pria itu hanya bayangan masa laluku. Kris.. kumohon, aku ingin berdamai dengan masa laluku, batinku terisak.

***

 

-Kyungsoo’s POV-

Aku mengeratkan pelukanku, ketika kusadari kaus putihku sudah mulai basah. Yoona menangis.

Apakah kau masih mencintainya, Yoona?

Yoona baru saja menceritakan apa yang terjadi. Gadis ini baru saja melihat sesosok pria di masa lalunya, yang sangat ingin dilupakannya tiga tahun terakhir ini. Aku memang mengetahui mengenai masa lalunya itu, semenjak itulah, Yoona—gadis periang dan ceria—berubah menjadi sangat dingin, ketika berhadapan dengan seorang pria, kecuali aku dan Ayahnya.

Ingatanku seakan kembali kepada kejadian tiga tahun silam. Aku mengingatnya, mengingat tatapan kosong yang dipancarkan mata gelapnya, air mata yang terus saja mengalir kala itu, dan wajah keterpurukan yang menyelimuti.

Kris, pria masa lalunya itu, meninggalkannya karena kecelakaan. Kecelakaan tragis yang disaksikan langsung oleh mata kepala Yoona. Oleh karena itu, Yoona sempat mengalami depresi dan shock yang cukup berat selama hamper enam bulan.

Orang tuanya selalu berusaha menyemangatinya dan berdiri dibelakangnya, begitu pula denganku. Aku berusaha menggantikan posisi Kris, namun mustahil, Yoona hanya dapat melihat Kris. Baru kusadari, jika aku mencintai gadis dalam pelukanku sekarang ini. Gadis yang telah menemani dan mewarnai hidupku dengan bumbu-bumbu keceriannya.

Kurasakan Yoona melepaskan pelukannya, “Sudah membaik?” tanyaku ketika melepaskan pelukannya.

Yoona mengangguk sembari mengelap sisa air matanya. Aku menatap mata gelapnya dalam. Kulihat, ia membalas tatapanku. Kami bertatapan cukup lama, seakan berbicara melalui tatapan tersebut, yang entah darimana, aku sudah mulai mendekatkan wajahku ke wajahnya. Kulihat Yoona tidak memberontak sama sekali, dan mulai memejamkan matanya.

Kurasakan bibir mungilnya menyentuh permukaan bibirku. Entah sejak kapan kami sudah memulainya dengan lumatan-lumatan lembut, tanpa nafsu dan keterpaksaan. Kurasakan gairah yang membuncah.

Seakan tersadar, aku melepaskan tautan kami, “Apa kau siap?” tanyaku hati-hati kepadanya.

“Tentu, Oppa,” katanya sembari tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia memanggilku dengan sebutan ‘Oppa’.

“Gomawo.. Aku mencintaimu.”

“Nado..”

Malam ini, kami menghabiskan dengan menyatukan rasa cinta yang baru kami sadari tumbuh begitu saja. Saling menghangatkan dan menabur benih yang akan menjadi kebahagian masa depan kami.

 

-To Be Continue-

 

Ngerasa ini FF hancur banget  aaaaa, maafkan kalau ini bener-bener ngga buat puas. Maaf NC nya Cuma segitu, author masih dibawah umur, jadi Cuma bisa buat segitu aja.

Terimakasih sudah membaca cerita yang tidak seberapa ini…

 

19 pemikiran pada “Falling For Your Love (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s