Love Constellation (Chapter 3)

Love Constellation [PART 3]

 romance yeol copy copy (1)

Author : G.Lin

Genre : Romance, Happy, School Life, Family

Length : Chapter

Casts : Do Nayeon | Park Chanyeol | Kim Jongin | Oh Sehun |Etc

Beta reader : RahmTalks

—-

Who should i choose?

Happy virus, Park Chanyeol who always make me laugh when I beside him,

Trouble maker, Kai who always make me miss him so much when he’s not in my side, or

The walking ice, Oh Sehun who makes me comfort even he was as warm as ice?

—-

Aku tak masalah kalau Chanyeol menginap tapi kalo Kai? Jangan tanya! Kehadirannya sungguh bukan anugerah.

“Jangan kunci kamar kalian, arrasseo?” perintah Youngra eonni.

“Kau mau apa, Ra? Melihat kami yang sedang tidur? Melihat wajahku yang sangat tampan? Apa kau ingin meraba Kai, kau taukan dia tampan WALAU tidak setampan aku.” Youngra eonni mendelik kesal. Aku hanya bisa memutar bola mataku. Chanyeol oppamemang selalu melebih lebihkan sesuatu hal kecil. Bahkan telur semutpun akan dibuatnya sebesar dan seluas lautan.

“Ehem.” Suara deheman kakakku membuat Chanyeol memamerkan cengiran khasnya –yang baru aku ketahui dari Youngra eonni-.

“Kenapa, Youngie? Kau  takut chagi? Berniat tidur bersama kami?” Oh tidak! Sejak kapan kakakku berubah sangat mesum seperti ini?

“Oppa, kenapa oppa tertular sifat mesumnya Kai?”

“Apa? Kenapa namaku dibawa bawa?” Kai yang sedang tiduran di atas kasur kakakku langsung bangkit.

“Bukankah kau memang mesum?”

“Hanya karena menciummu sekali kau berkata aku ini mesum.” Sial! Pipiku memerah gara gara Kai.

“Kau mencium adikku?” tanya kakakku. Kai hanya mengangguk santai.

“Aish! Jangan bahas itu! Ayo, Eonni!” aku segera menarik Youngra eonni dari kamar laki laki mesum itu.

—-

“Kau sudah pernah er… ber…” Youngra eonni mengentikan bicaranya.

Kisseu?” tanyanya ragu sambil menggesturkan apa yang dilakukan flamingo ketika paruh mereka bersentuhan satu sama lain.

Eonni, kumohon jangan bahas itu. Aku malu.” Aku menutup wajahku dengan bantal. Aku malu! Sangat malu! Apalagi dia mengatakannya di depan Chanyeol oppa, Youngra eonni,dan kakakku.

“Kau menyukainya?”

“Tidak. Aku tidak menyukai Kai.”

“Ngomong ngomong tentang kisseu, eonni sudah pernah loh.”

Eonni jujur banget.” Kataku antusias. Baru pertama kali aku mendengar pengakuan semacam ini dari seorang yeoja.

“Jujur ya?”

“Iya, siapa yang pertama eonn?”

“Tentu saja kakakmu! Kyungsoo. Aku gak tahu kalau dia bisa seliar itu waktu melakukankisseu, aku hampir kehabisan nafas.” Hentikan sampai disini! Aku ini masih sangat polos!

“Kai yang pertama ya?”

“Aku tak mau jawab.” Aku memposisikan diri untuk tidur. Aku merasakan Youngra eonni merebahkan diri di sampingku.

“Ya! Ceritakan pada eonni bagaimana rasanya? Eoh?”

Shireo!”

Waeyo? Aigoo, liatlah pipi ini. Terlalu merah.” Aku malu! Huaa…. aku harap kakakku tidak menggodaku setelah tamu tamu ini pulang.

Eonni…”

“Hm?”

“Kalau jantung kita berdetak cepat ketika berdekatan dengan seseorang lalu seolah ada kupu kupu terbang di perutmu kalau orang itu melakukan hal yang manis padamu dan pipimu merah saat dia memujimu atau melakukan apa yang kau anggap manis, apa itu?”

“Wah, adikku mulai jatuh cinta.” Apa? Jadi benar? YEAY! AKU JATUH CINTA DENGAN CHANYEOL OPPA!!!

“Hayo, katakan pada eonni, siapa laki laki beruntung itu?”

“Tidak mau.”

“Kai ya?”

“Salah telak.”

“Siapa?”

Bye Eonni, aku ngantuk.”

—-

Minggu yang melelahkan, karena ulah kami semalam aku harus kerja rodi bersama kakakku membersihkan rumah. Beruntunglah Baekhyun oppa tidak ikut –kata Youngraeonni, kalau Baekhyun sudah bertemu dengan Chanyeol dunia serasa milik mereka sendiri. Tertawa terbahak bahak, saling mengejek satu sama lain dan banyak kejadian heboh lainnya-.

Oppa, capek.” Aku meletakkan sapu di sampingku dan duduk sambil menjulurkan kakiku.

“Jangan menyerah, Yeonnie. Masih banyak yang harus kita kerjakan.”

“Aku mau es krim!”

—-

“Mana biskuit cokelatku?”

“Habis. Kai sangat menyukainya.”

“Apa? Kai? Dihabiskan Kai? Sendirian?” benar benar manusia itu! Kalau dihabiskan Chanyeol oppa tidak masalah, aku akan dengan senang hati memberikan seribu toples biskuit cokelat asal Chanyeol oppa sering main ke sini.

“Chanyeol juga sih, dia yang paling banyak makan. Kai sih hanya ambil beberapa.” Baik. Ini bisa dimaafkan.

“Buatkan aku 5 toples lagi!” perintahku pada kakakku.

“Maaf, Nona Yeonyeon. Bahan bahan habis kalau kau mau biskuit, berbelanjalah.”

“Baiklah, asal ada biskuit cokelat belanja di galaksi lainpun aku sanggup.”

“Ini uangnya dan ini apa saja yang harus kau beli.”

“Ada uang tip?”

“Apa 5 toples biskuit cokelat masih kurang?”

—-

“Nayeon-ah, mau membuat biskuit ya?” sampai sampai petugas swalayan itu hafal denganku. Aku hanya mengangguk sambil mengacungkan kedua ibu jariku.

“Lain kali ahjusshi bagi ya?”

“Sip. Tapi bayar loh?”

“Bayar?”

“Bercanda ahjusshi.”

Aku gak perlu lagi mencari cari tempat dimana aku harus membeli semuanya. Aku sudah hafal di luar kepala.

Sebentar! Apa itu permen karet favoritku?

MAUU!!!!

Tanpa banyak bicara lagi aku berlari ke arah permen karet favoritku yang tinggal satu –meninggalkan trolly-ku di sana-.

Apa?! Hilang?! Aku kalah cepat! Orang itu mengambilnya. Huaa… kakak… aku mau itu….

Aku merasa ada sesuatu menyenggol lenganku aku menoleh dan…

Sehun sunbae?

Menyodorkan permen karet favoritku?

“Hah?”

“Apa kau hanya bisa bicara ‘hah’?” apa aku mimpi? Sehun yang terkenal anti sosial ini berbicara satu, dua, tiga, empat, lima, enam. Sebegitu panjangnya? Kepadaku? Aku tidak percaya ini.

Aku tidur ya?

“Tidak mau?” nadanya kembali seperti biasa. Datar. Mengalahkan kertas A4 yang ada di meja Ah-ri songsaengnim.

“Waah, gomapta.” Dengan senang hati aku mengambilnya dan segera kembali ke trolly-ku.

Hahaha….

Hari ini tidak sepenuhnya buruk.

—-

“Butuh tumpangan?” BUTUH SEKALI OPPA! KAU SANGAT BAIK!

“Ayo masuk!” Chanyeol oppa membukakan pintu mobil kepadaku. Selain tampan dia juga baik hati. Pria idamanku seutuhnya. Ck! Nayeon, kau benar-benar memiliki tipe lelaki idaman yang sempurna.

Gomawo.” Aku masuk dan menutup pintu mobil.

“Belanja?” aku hanya mengangguk.

“Buat apa?”

“Kyungsoo oppa mau membuat biskuit cokelat tapi bahannya habis, jadi oppamenyuruhku untuk belanja agar dia bisa membuat biskuit cokelat.”

“Wah, aku harus kesana tiap hari. Biskuit itu enak sekali. Maaf ya, Yeon. Tadi malam oppa menghabiskannya.” Tidak masalah oppa! Asal aku bisa melihatmu tersenyum padaku, semuanya tidak masalah.

“Bukan masalah.” Aku harus meremas ujung kaosku agar tidak berteriak kegirangan melihat senyuman Chanyeol oppa yang sangat… KYAAA!!!

“Kurasa Kyungsoo bisa menunggu sebentar. Oppa punya tempat yang bagus. Ayo kita kesana!” mimpi apa aku semalam? Chanyeol oppa? Mengajakku pergi? Waaaa… Dunia harus tau!

—-

“Khamsahamnida, Oppa!” aku melambai lambaikan tanganku pada Chanyeol. Aku sudah menawarinya mampir tapi dia bilang dia ada urusan jadi dia harus segera pulang.

“Kenapa lama sekali, Na-ya?”

“Oh, tadi Chanyeol oppa mengajakku jalan jalan.”

“Ya sudah kalau kau bersama Chanyeol. Tadi Kai ke sini, mencarimu. Jadi oppa bilang kau pergi berbelanja dan dia langsung pergi.”

Huh, manusia merepotkan itu lagi. Aku tidak tahu hidupku ini menderita atau sangat bahagia?

—-

Aku membolak balikkan badanku, sudah jam 11 malam dan aku belum bisa tidur. Aku tak tau kenapa tapi rasanya aku…

Khawatir dengan Kai.

Aku belum mendengar sedikitpun pergerakan dari dalam rumahnya. Aku juga tidak mendengar deru mesin mobil ataupun motornya.

Haish! Laki laki itu memang sukses membuatku gila!

Aku menyibak selimutku dan menyambar jaketku. Membuka pintu perlahan agar tidak membangunkan kakakku.

Malam ini dingin sekali. Kalau Kai mencariku di swalayan sampai detik ini, berarti dia sama bodohnya seperti keledai terbodoh.

Aku mencari cari sosok Kai. Kemana perginya bocah itu?

“Sendirian saja, anak manis?” aku berbalik ke belakang. Kakak, aku takut! Seorang laki laki yang sepertinya mabuk berdiri beberapa meter di depanku. Aku tak tau apa yang harus kulakukan karena aku tak bisa ilmu bela diri.

Lari. Ya, aku harus lari.

“Hey manis, jangan lari!” oh my! Harus bagaimana aku?

BRAKK

Sial! Aku menabrak seseorang dan terjatuh. Aku mohon itu bukan komplotan laki laki pemabuk barusan. Takut takut aku mendongak ke atas dan…

SEHUN SUNBAE?!

Aku heran, Sehun ini hantu atau apa?

Aku menatap Sehun dengan tatapan memohon pertolongan. Kumohon, Sehun. Tolong aku. Jebal juseyo.

“Lari.” Perintahnya pendek sekali.

“Apa?”

“Kau tuli? Cepat lari!” ragu ragu aku lari lalu sembunyi di semak semak. Apa yang akan dilakukan Sehun? Apa dia akan bertengkar dengan laki laki pemabuk itu? Jangan! Kumohon jangan! Aku Tak akan tinggal diam kalo terjadi apa apa dengan Sehun. Tak akan!

Astaga! Laki laki itu meninju Sehun tepat di sudut bibirnya dan dia tetap diam ditempat? Pria bodoh macam apa Sehun itu? Laki laki pemabuk itu menghajar Sehun tapi Sehun diam saja. Berdiri seperti patung. Aku bisa melihat wajahnya memar dan berdarah. Aku harus menolongnya.

Tuhan selalu berpihak pada kebaikan. Aku melihat balok kayu. Aku harus turun tangan.

Aku berjalan perlahan agar tidak menimbulkan kegaduhan yang bisa mengagalkan rencanaku. Jaraknya sudah pas. Aku memukulkan balok ini kencang ke bawah tengkuknya. Tepat! Dia langsung tersungkur.

“Pria jahat!” aku menginjak punggungnya.

“Beraninya dengan orang lemah!” aku memukul punggung laki laki itu dengan menggunakan balok, bertubi tubi. Aku merasakan air mata menggenangi mataku. Oke, aku bukan anak yang cengeng tapi melihat Sehun dipukuli seperti itu aku tidak tahu kenapa hatiku sakit sekali melihatnya.

Sunbae, gwanchana?” tanyaku pada Sehun yang masih diam mematung. Tatapannya kosong.

Sunbae?” aku menyentuh lengannya menggunakan ujung telunjukku.

“Bodoh.” Ucapnya singkat. Apa? Bodoh? Siapa yang bodoh?

Sunbae yang bodoh. Kenapa membiarkan orang jahat ini memukuli sunbaeSunbae tidak tahu? Aku setengah mati khawatir sama sunbae!” aku tidak menyangka aku bisa berteriak sambil menangis di depan orang yang aku tidak begitu kenal. Aku terlihat sangat cengeng dan menyedihkan.

“Apa pedulimu?”

“Apa peduliku?! Oke, aku bukan siapa siapa-nya sunbae. Tapi apa aku tak boleh khawatir terhadap sunbae?” aku tak mengerti kenapa aku bisa bisanya bersikap seperti ini dihadapan Sehun. Sumpah, aku tak mengerti. Beberapa hari ini aku dibuat bingung karena ada banyak orang yang membuatku gila.

Aku melotot kaget. Tentu saja. Sehun menarikku ke dalam pelukannya. Sungguh, ini hal terajaib dalam hidupku. Si anak anti sosial memeluk seorang gadis.

“Jangan menangis.” Aku gak pernah tau kalau dipeluk akan terasa sangat nyaman seperti ini, aku merasa sangat aman dalam dekapannya. Eh? Aku bilang apa? Nayeon, kau menyukai Chanyeol, bukan Sehun, bukan Kai. Hanya Chanyeol oppa!

Cepat cepat aku melepaskan pelukannya dan mengusap air mataku, “Maaf, aku berlebihan tadi.”

“Tidak apa apa.” Kemudian aku terdiam.

“Maaf…”

“… maaf telah membuatmu khawatir.”

“Tidak apa apa.” Aku menunduk. Malu sekali menyadari bahwa kau baru saja menangis di hadapan orang yang kau tidak begitu akrab dengannya.

“Aku antar pulang.” Aku mendongak –dan melotot-.

“Tidak baik anak perempuan berjalan sendirian di tengah malam.” Kurasa perkataan Sehun ada benarnya juga. Tapi, untuk apa dia jalan jalan di tengah malam?

—-

Beruntunglah ada toko 24 jam. Jadi aku bisa mengobati luka Sehun.

“Sshh….” ringisnya.

“Maaf,” ucapku sambil memberikan obat merah.

“Mungkin ini tidak banyak membantu tapi ketika sudah sampai di rumahku, aku akan mengobatinya.”

“Gomawo.” Gumamnya.

“Tidak, aku yang harusnya berterima kasih.” Selesai.

Aku dan Sehun berdiri. Dan …

Sehun menggandeng tanganku? Ini terlalu cepat! Ya, detak jantungku berpacu lebih cepat. Rasanya sangat aman dan er… nyaman ada di genggaman Oh Sehun.

“Sunbae…” aku melirik tanganku dan tangannya yang saling bertautan.

“Malam ini dingin.” Dia mengabaikan panggilanku dan mempererat genggamannya.

“Sunbae sakit?”

“Aku selalu sakit, Yeon-ah.”

Deg! Kenapa? Kenapa dia memanggilku seperti itu? Aish, jinjja! Aku merasakan kehangatan menjalar di seluruh tubuhku. Aku gak mengerti apa ini.

“Sun..sunbae?” aku menoleh ke arah Sehun yang wajahnya terlihat sangat sendu. Apa di balik sikap dinginnya dia menyembunyikan sesuatu?

“Gomawo,” ucapnya singkat dan…

APA ITU? Aku bermimpi? Aku sadar kan? Pertama kalinya aku melihat senyum seorang Oh Sehun. Aku menatap Sehun tanpa berkedip sedetikpun. Tak akan kusia siakan menatap senyumnya hanya karena berkedip.

“Tampan,” gumamku. Tidak sadar. Dan sangat bodoh! Kenapa bisa aku dengan gampangnya mengeluarkan kata kata yang seperti itu? Oh Tuhan! Kurasa mulutku ini sudah tidak mau melaksanakan apa yang ada di otakku.

“Ha?” anugerah apa ini? Aku bisa melihat sisi lain dari Sehun. Sehun berkedip beberapa kali di hadapanku, bibirnya sedikit terbuka, sangat manis. Oh tidak! Kurasa aku salah minum obat.

“Ah.. euh…eum… ani… tidak ada apa apa.” Aku mengalihkan pandanganku dan menatap bintang bintang di atas sana. Menyembunyikan wajahku yang mungkin semerah kaos yang aku pakai.

“Yeon-ah,”

“Eum?”

“Bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan itu?” aku menoleh ke arah Sehun.

“Boleh saja. Asal sunbae tahu, kakakku biasanya memanggilku dengan sebutan ‘chagi’, ‘sweety’, ‘baby’, ‘babe’, ‘sayang’, ‘honey’, ‘na-ya’, ‘yeonnie’, ‘yeonyeon’, ‘nana’, ‘Nak’, dan panggilan panggilan menggelikan lainnya. Jadi aku tak terlalu repot memikirkan bagaimana cara orang memanggilku.” Tangan kiriku kugerakkan menuju ujung jaketku, meremasnya kuat kuat. Aku tidak tahan kalo melihat senyuman Sehun, manis sekali. Aku ingin teriak rasanya.

“Sudah sampai.” Eoh? Aku sampai tidak sadar kalau aku sudah ada di depan rumah.

“Sunbae, masuk dulu. Nanti aku obati.”

“Tidak terima kasih, cepat masuk. Diluar sangat dingin.” Aku tak percaya kalau Sehun lebih hangat dari cokelat panas. Aku bisa tidur nyenyak malam ini.

—-

Maaf ya kalau lama? Soalnya baru sempet ngirim nih eehe:D

Maaf yaa?

Chu~~~

#author pengen jadi Nayeon

 

Iklan

22 pemikiran pada “Love Constellation (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s