Triangle (Chapter 4)

poster_triangle

Title                 : TRIANGLE (Chapter 4)

Author                        : D.Kim (@desyEES)

Main Cast       :

  • Kim Jong In (Kai EXO-K)
  • Oh Se Hoon (Sehun EXO-K)
  • Xi Lu Han (Luhan EXO-M)
  • Park Ki Na
  • Kim Min Ra

Support Cast  : Find

Genre              : Friendship, School Life, Romance

Length                        : Multi Chapter

Ratting            : PG 15

Sekali lagi, terima kasih banyak kepada admin yang mau posting FF saya 😀

Hy readers, author yang cinta alay kembali xD seblum’’x saya kan gc pernah banyak bacot nih, ya karena emang saya gc berani banyak ngemeng karena gc PD dng karya abal ini. keke~ FF ini sebenaranya terinspirasi dari berbagai FF yang pernah saya baca, dan juga dari mimpi’’ author yang setiap hari isinya Kai, Sehun, sama Luhan melulu! Author pernah berfikir kalo author ini sudah hampir gila..=__= Dan ampunilah author somplak ini karna FFx datar ato mentah alias gaje brantakan dan tergolong rongsokan. Sehubungan dengan itu, jangan lupa comment ya ^^

 

 

 

 

 

 

 

 

 

16.45 Waktu Korea Selatan

“Ya! Apa yang kau lakukan di dalam sana? Palli!” Kai menggedor-gedor pintu kamar mandi sedari tadi namun tidak ada jawaban. Hampir satu jam Sehun tidak keluar dari kamar mandi. “Sehunie, aku buru-buru..” Kai berteriak-teriak dari luar tapi tidak di gubris sama sekali,  Luhan yang duduk di kasur sibuk sendiri dengan rubiknya yang sudah dia obrak-abrik(?) berkali-kali.

“Palli! Sehun jebal,” Kai hampir frustasi, dan akhirnya Sehun keluar.

“Mian, tadi aku menggosok kulitku supaya kinclong..” Ucapnya saat membuka pintu dengan wajah polos tak berpahala. Kai hanya mendengus kesal dan langsung masuk ke kamar mandi. Ya, hari ini dia ada janji dengan Kina untuk pergi ke taman hiburan dengan berbekal tiket gratis.

Tidak sampai sepuluh menit Kai sudah selesai mandi lengkap dengan baju yang sudah rapih dan kece. Kai segera menyisir rambutnya dan memakai sepatu. Begitu Kai keluar asrama dia langsung bertemu dengan Kina di halaman asrama. Park Kina juga baru saja sampai di sana.

“Kau sudah menunggu lama?” Tanya Kai

“Aku menunggumu sangat lama Kai.” Jawab Kina, Kai langsung merasa tidak enak.

“Mian, Sehun menggosok kulitnya di kamar mandi sangat lama jadi..”

“Hahah,, aku bercanda. Kaja!” Kina langsung menggandeng lengan Kai tanpa sadar. Kai pun mengikuti gadis yang dilihatnya sangat manis hari ini dengan menggunakan pakaian simple tapi imoet dengan bando pink yang cantik. Tapi Kai sendiri nggak kalah keren.

@TamanHiburan

Kina dan Kai memasuki taman hiburan setelah menyerahkan tiket. Suasana yang ramai dan penuh keceriaan. Sudah lama Kai tidak pergi ke tempat seperti ini. Dia tidak percaya akan datang ke taman hiburan seperti ini bersama dengan Park Kina. Kai hanya mengikuti Kina yang terlihat sangat bersemangat mencoba berbagai wahana. Dia memang selalu ceria dan antusias.

Meski tidak terpampang jelas, tapi di raut wajah Kai terlihat kesenangan. Memang sudah sangat lama dia tidak bersenang-senang ala anak TK(?) begini. Tidak ada salahnya, selagi main belum dilarang. Tadi mereka juga bermain di mesin boneka. Dan Kai mengambilkan sebuah boneka imut untuk Kina. Setelah puas mengguncang perut dan adrenalin, mereka kemudian membeli ice cream.

“Kau mau rasa apa?”

“Mmm.. strawberry!”

“Ah jangan, rasa pisang saja.”

“Shireo! Strawberry lebih enak..”

“Tidak, pisang lebih nikmat..

“Strawberry!”

“Pisang!”

Kina dan Kai hanya bisa bengong melihat dua insan manusia di sebelah mereka yang sedang berebut rasa es krim.

“Kai, kau suka rasa apa?” tanya Kina.

“Mmm.. apa saja.” Dengan cepat mereka pun membeli rasa coklat dan mendahului dua orang tadi yang masih sibuk berdebat. Tiba-tiba HP Kai berbunyi. Ternyata ibu Kai menelpon dan menyuruh Kai mampir ke rumah.

“Ada apa Kai?” tanya Kina

“Ibuku memintaku pulang ke rumah..”

“oh arraseo, kalau begitu aku akan kembali ke asrama.” Jawab Kina mengerti bahwa Kai harus segera pulang ke rumahnya, dan dia harus kembali ke asrama sendiri.

“Tapi kau tidak apa-apa?” tanya Kai merasa tidak enak.

“Gwaenchanayeo Kai.. “Meski Kina terlihat senyum-senyum saja dan tidak keberatan, tapi tetap saja Kai merasa tidak enak membiarkan Kina pulang ke asrama sendiri, apa lagi ini sudah hampir gelap.

“Kau ikut saja denganku ya.”

“Mwo? Ke rumahmu? Tidak apa-apa Kai aku bisa pulang naik bis.”

“Kita pergi bersama jadi harus pulang bersama. Kaja!” Kai langsung menarik tangan Kina.

@Kim’s House                                           

Mereka sudah sampai di depan rumah Kai. Kina sedikit ragu, namun Kai memaksanya masuk, akhirnya mereka masuk ke dalam rumah Kai yang mewah. Begitu masuk di dalam sudah ada ayah dan ibu Kai. Tidak lupa Kina memberi salam sambil membungkuk. Ibu Kai menyambutnya dengan ramah, dan ayah Kai juga tidak terlihat galak seperti yang di perkirakan Sehun. Sehun pernah bilang pada Kina “Aku tidak pernah bertemu langsung dengannya, tapi sepertinya sih ayah Kai sangat galak!! Begitu katanya.

“Kau temannya Kai?” Tanya ibu Kai sambil mempersilakan Kina untuk duduk.

“Ne, Park Kina imnida” Jawab Kina sopan.

“Kalian tadi dari mana? Habis kencan?” Tanya ayah Kai tiba-tiba dengan senyum jahil.

“Ani~ya!” Sahut Kai dan Kina kompak. Sekalipun Kina berharap ini kencan, tetap saja ini bukan kencan.  Ayah Kai kemudian tertawa. Ia tau kalau putra sulungnya yang keren badai ini tidak mudah dekat dengan perempuan. Tapi sekarang, sedikit kaget karena Kai membawa teman perempuan pulang ke rumah. Ada kemajuanlah fikirnya.

“Eomma, ada apa menyuruhku pulang?” Tanya Kai akhirnya

“Eomma Cuma mau mengajakmu makan malam.”

“Brrr -_- Kirain ada hal penting apa..” Gumam Kai sambil menghela nafas.

“ Malam ini Eomma masak banyak, jadi kita bisa makan besar bersama. Sayang sekali  Minra tidak bisa pulang. Kau juga jarang pulang ke rumah kan? Kebetulan sekali kau mengajak teman perempuanmu, jadi bisa mengisi kekosongan Minra.” Ucap ibu Kai dengan segala kecerewetannya. Teman perempuan? Kai hampir keselek ludah mendengar ucapan ibunya. Ibu Kai memang adalah tipe tante-tante arisan yang suka bercuap-cuap ria. Ibu-ibu kan memang begitu, ya.

Mereka kemudian diajak makan di meja makan yang sudah penuh dengan berbagai macam hidangan. Kai sedikit takjub melihatnya karena seingatnya ibunya tidak terlalu pandai memasak.

“Ayo jangan sungkan” Ucap ayah Kai pada Kina. Dia juga mengambilkan nasi untuk Kai dan Kina. Akhirnya mereka pun makan malam bersama. Jujur saja Kina sedikit gugup. Ini pertama kali dia bertemu dengan orang tua Kai setelah mendengar hubungan mereka sebelumnya yang sempat renggang. Tapi Kina merasa lega karena dia sudah yakin sekarang kalau Kai dan orang tuanya sudah benar-benar hangat kembali. Di tengah acara makan, tiba-tiba perut Kina sakit. Sontak dia memagang perutnya.

“Gwaencahana?” Tanya Kai yang menyadari Kina sedang kesakitan. Kina mengangguk walaupun rasanya sakit melilit-lilit.

“Ada apa?” tanya ibu Kai kemudian. “Kau sakit?”

“Eomma, jangan-jangan ada yang salah dengan masakkanmu?”

“Aniyo. Aku..ngg.. ini, sudah biasa..” Jawab Kina sedikit canggung.

“Maksudmu?” Ayah Kai menimpali

“Setiap bulan selalu begini..” Kina menggaruk poninya merasa tidak enak.

“Aigoo, aku mengerti!” Seru ibu Kai tiba-tiba. Dia lalu berjalan ke dapur, dan keluar beberapa saat kemudian sambil membawa sesuatu ditangannya. Dia menyodorkan segelas air jamu kepada Kina sambil tersenyum penuh arti.

“Ini jamu warisan keluarga kami secara turun temurun. Dulu saat masih datang bulan aku selalu meminum ini.  Minumlah, ini akan menguragi rasa nyeri pada perut saat ‘Haid’ ucapnyanya dengan bangga. Dan sekali lagi, Kai bahkan ayahnya hampir keselek. Ibu Kai seharusnya tidak memperjelas hal itu apalagi memberikan tekanan pada Kata ‘Haid’. Membuat malu yang mendengar saja.

“Kina~yaa, seharusnya kau bilang -_-“ Kai menghela nafas dan Kina hanya tertawa jijay. Kina kemudian meminum jamu pemberian ibu Kai dan dia berhenti saat meminum seteguk.

“Jika kau tidak kuat jangan dipaksakan.” Bisik Kai pada Kina. Kina tersenyum dan  malah meminumnya sampai habis. Ibu Kai terlihat puas karena jamunya diminum habis oleh Kina padahal selama ini Minra sendiri tidak pernah sudi meminumnya dan selalu menolak karena rasanya yang hancur.

Setelah cukup lama berbincang-bincang Kina merasa nyaman berada di antara keluarga Kai. Walau mereka juga tau, bahwa Kina bukan siapa-siapa Kai melainkan hanya seorang teman biasa. Tapi sepertinya ibu Kai menyukai Kina. Banyak hal yang dia bicarakan kepada Kina bahkan tentang cerita masa kecil Kai sampai Kai sendiri geli mendengarnya. Tidak terasa karena hari sudah hampir larut, Kai dan Kina kemudian pamit untuk kembali ke asrama.

“Lain kali datang lagi ya..” Ucap ibu Kai ramah seperti pelayan di toko. Mereka lalu pergi.

Daun-daun di sepanjang jalan bertiduran di tanah. Angin malam kota seoul berhembus  sangat dingin menembus setiap helai kain yang mereka kenakan. Mereka  berjalan pelan di sekitar jalan setapak kota menikmati udara dingin yang sejuk seolah belum ingin menghabiskan kesenangan mereka hari ini.  Berkali kali Kina menyelipkan rambut panjangnya yang tertiup angin di baling cupingnya.

“Kina~yaa..” Panggil Kai, kina langsung menoleh pada Kai di sampingnya. “Apa perutmu masih sakit?” tanya Kai dengan sedikit canggung

“Gawenchana, jamu pemberian Ibumu benar-benar manjur.“ Kina tersenyum, sambil mendekap boneka pemberian Kai tadi. Wajahnya sudah mulai memerah dan jantungnya berdebar-debar. Bermain dengan Kai, berjalan berdua dengan Kai, dan bertemu keluarga Kai. Sungguh sejak tadi Kina tak bisa berhenti tersenyum. Tapi, hari ini berlalu begitu cepat. Setelah cukup lelah berjalan kaki, mereka akhirnya sampai di asrama.

“Gomapta Kai. Boneka yang kau ambilkan tadi, kau akan melihatnya sampai 100 tahun lagi.” Ucap Kina sumringah, Kai hanya tertawa renyah

“Maaf karena mengajakmu sampai selarut ini.” ucap Kai dengan tatapan mata begitu hangat. Tidak sadar mereka malah menatap canggung satu sama lain. Wajah Kina sudah kelewat merah merona. Ia lalu segera masuk ke asramanya, dan melambaikan untuk Kai. Kemudian Kai juga segera masuk ke kamarnya. Tanpa sadar ia senyum-senyum sendiri. Sehun dan luhan yang sedang main game hanya melongo melihat Kai yang baru datang sambil  senyum-senyum gaje.

“Wae?” Tanya Kai melihat wajah bego teman-temannya. Sehun lalu menggeleng dan kembali terfokus pada komputernya, begitu juga dengan Luhan. Tanpa disadari Luhan Sehun ketawa ketiwi sendiri membayangkan apa yang terjadi pada Kai sampai dia senyum-senyum aneh seperti itu. Kai langsung menuju meja belajarnya, lalu ia membuka laci, dan mengambil cincin. Dipandanginya lekat-lekat cincin itu.

Dear Ring :: Hatiku saat ini, berdebar..

oOo

Pagi itu SMA Triangle disibukkan dengan pesiapan festival tahunan sekolah mereka. Berhubung sekolah ini adalah sekolah yang elit, tidak heran kalau setiap festival yang diadakan selalu mendatangkan banyak tamu. Namanya juga festifal, pasti berkaitan dengan hiburan.

Kelas Kai sedang membagi tugas untuk mengisi segala kegiatan di acara festifal nanti, terutama untuk acara pembukaan. Tidak perlu ditanya lagi, Kai akan tampil pada acara pembukaan dengan modrn dance bersama Sehun. Luhan menyumbangkan sebuah lagu sambil memainkan piano. Suaranya yang lembut dan permainan pianonya yang baik mampu membuat Kwon BoA Saem menunjuknya sebagai salah satu pengisi acara.

Semua sudah mendapat tugas sesuai kemampuan dsan proposi, baik dalam acara membukaan, maupun saat festival berlangsung. Ada yang break dance, traditional dance, modrn dance, jungkir balik (?) *abaikan! Main musik, menyanyi, dan ada juga yang bertugas menjaga stand-stand yang akan diadakan untuk memeriahkan festival. SMA Triangle memang juara di segala bidang, seni, olah raga, dan juga akademik.

Park Kina merupakan murid terbaik di SMA Triangle, ya, dalam bidang akdemik. Kina adalah master ilmiah, tapi itu tidak ada kaitannya dengan fesival. Saat semua sudah mrndapat bagian tugas, Kwon Saem belum memberinya tugas apapun.

“Saem, apa yang harus saya lakukan nanti?” Tanya Kina pada Kwon Saem selaku panitia sekaligus guru seni sambil mengacungkan tangannya. Kwon Saem berdehem pelan kemudian menjawab.

“Tidak ada. Kau bisa membantu dalam bidang admistrasi.” Sahut Kwon Saem kemudian meninggalkan kelas setelah memastikan persiapan semua pengisi acara sudah siap. Kina hanya megehala nafas. Selalu saja seperti ini. Ia tak pernah diberikan kesempatan melakukan apapun kecuali menulis, membaca. Setiap festival ia selalu menjadi penonton, kalaupun bertugas dia hanya diminta mengurus administrasi, mencatat, mengecek, selalu yang berkaitan dengan kemampuan intelektual. Dan tahun ini, sama saja.

Semua siswa sibuk berlaih, sementara Kina hanya ditemani oleh buku-bukunya yang tebal. Ia berjalan melewati ruang musik. Di sana ada Luhan yang sedang latihan. Kina mendengarkannya dengan hikmad, suara piano dan suara Luhan yang menyatu.

”Suaramu sangat lembut..” Kina mendekati Luhan

”Ah, Kina-yaa.hehe”

“Apa aku mengganggu?” tanya Kina sambil mendekati piano besar di hapan Luhan. Jemarinya mengusap kayu yang menyingasanai penghasil melody indah itu.

“Aniyo.. Sebenarnya aku sangat bosan.” Jawab Luhan diselingi cengengesan, Kina hanya tersenyum simpul. Luhan menelusuri tatapan mata Kina. Ada hasrat di sana. Dia kemudian menyunggingkan bibirnya. ”Mmm.. maukah kau mengiringi aku menyanyi?” tanya Luhan yang langsung membuat Kina tesentak.

”Aku? Kau bercanda..” Kina tertawa garing, Luhan tiba-tiba menariknya untuk duduk di sebelahnya. Di bangku yang berhadapan langsung dengan piano besar itu.

”Mainkan..” Titah Luhan. Kina masih melongo, namun jari-jarinya perlahan bergerak dan memainkan piano itu. Melody indah mulai mengalun pelan dan lembut. Luhan tak lantas membuka mulutnya untuk mulai bernyanyi. Ia masih bungkam, menatap dan mendengar sesuatu yang baru saja menggerakkan hatinya. Tanpa sadar sebuah senyum merekah dari sudut bibir Luhan. Menyadari Luhan yang tak lekas menyanyi, Kina kemudian berhenti.

”Kenapa kau diam? Aw, kurasa permainan pianoku benar-benar buruk..” Kina garu-garuk poni

”Kina-yaa, sekarang aku tau kenapa kau disebut jenius.” Ucap Luhan. Kina hanya mengerutkan dahi tidak mengerti.

Neoui sesangeureo..Hahaha..” Luhan  menyanyikan sebaris lagu,  dan kemudian tertawa keras.Kina menatap Luhan bingung, kemudian dia malah ikut tertawa dan menirukan nyanyian Luhan tadi.

“Haha. Neoui sesangeuro..” Deg! sekali lagi Luhan tersentak. Suara itu menyusup melalui telinga hingga ke rongga dadanya. Kina kembali menatap bingung ekspresi Luhan yang berubah tiba-tiba.

“Waeyeo? Mm.. kurasa aku hanya menganggu di sini. Baiklah, aku akan pergi.” Kina tersenyum kemudian meninggalkan ruangan itu. Luhan hanya tersenyum penuh arti dan menyadari satu hal. Setiap orang memiliki bakat dan keistimewaan, sekalipun itu masih tersembunyi. Entah mengapa Luhan baru saja melihat bahwa sosok Park Kina adalah, sempurna.

oOo

Malam hari, banyak lampu di ruangan sekolah yang masih menyala. Semua siswa terlihat benar-benar bekerja keras. Festival memang tinggal seminggu lagi. Kina melihat lampu ruang dance yang menyala terang. Dari jendela Kina sudah bisa melihat Kai yang tengah terhanyut dalam tariannya. Kina kini telah berdiri di ambang pintu, menatap Kai dengan karismanya. Namun sepertinya Kai tidak menyadari kehadiran Kina. Dia masih terbawa dengan duanianya yang penuh gerakan-gerakan indah. Kina hanya berdiri sana, menatap Kai yang menari dengan rambutnya yang basah akan keringat. Ruangan yang luas ini seolah menjadi milik Kai.

“Apa kau akan terus berdiri di sana?” ucap Kai tiba-tiba sambil melihat ke arah Kina. Kina sedikit kaget kemudian mengeluarkan cengiran.

“Oh, aku tidak bermaksud menganggumu Kai. Aku, aku akan pergi sekarang..” Kina baru saja akan pergi, tapi Kai memanggilnya.

“Kina-yaa,, gwaenchana. Duduklah di sini, dan temani aku latihan.” Wajah Kai yang dipenuhi keringat menatap Kina dengan nafas yang masih belum teratur. Suaranya memang terdengar lelah, tapi lebih terkesan lembut. Bulu kuduk(?) Kina langsung berdiri. Berusaha menyadarkan diri, Kina lalu masuk ke dalam ruangan itu, dan duduk di dekat pojokan.

“Baiklah,, aku akan menontonmu latihan sampai selesai..” Ucap Kina dengan senyum manisnya. Kai tersenyum dan memulai kembali tariannya. Jantung Kina berdebar seperti biasa. Kaki-kakinya seakan melayang diterbangkan bersama dengan musik melodis yang mengalun memenuhi ruangan ini. Saat-saat yang indah adalah ketika ia bisa menatap Kai dengan bebas. Bahkan Kai sendiri juga mulai merasakan getaran yang menjalar di sekujur tubuhnya dan merangsang gerakan dancenya semakin mempesona.

Musik yang mengiri tarian Kai masih belum berhenti. Malam semakin larut, mata-mata Kina mulai berat. Wajah Kai terlihat semakin samar, dan.. Kina pun terlelap dalam duduknya. Kai mengehentikan tariannya dan menyadari Kina yang ketiduran. Ia berjalan mendekati Kina dan duduk di sebelahnya. Mata gadis ini tertutup dengan polosnya seolah ia tak memiliki beban sedikitpun. Poni lurusnya menutupi sedikit matanya. Tangan Kai bergerak, menyibakkan rambut itu, dan tanpa sadar ia tersenyum, begitu hangat.

“Dia… Apa dia ini malaikat??” gumam Kai masih sambil menatap wajah Kina yang begitu ‘cantik’ saat tertidur sekalipun.

 

To be Continued..

 

Nah readers, author sudah mulai pijit-pijit jidat lebar author buat mikir sampe mana ujung FF ini =__= Review ya.. Lope u smwa deh! Ghamsahamnida..^^

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

2 pemikiran pada “Triangle (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s