Cassanova – Lineveur’s

Cassanova

Lineveur’s

cassanovaposter

Starring

Byun Baekhyun

Romance, Angst, Friendship, Psychology

PG-13

Vignette

.

.

.

When  he   become   a  Cassanova,

The   Earth   stop   spinning  again

Cassanova

|||

 Byun Baekhyun. Kuper. Kuper. Kuper.

Byun Baekhyun. Culun. Culun. Culun.

Byun Baekhyun. Kikuk. Kikuk. Kikuk.

Bagaimana jika ia berubah menjadi Cassanova?

Apa kata dunia?

|||

Baekhyun merenungi kopinya. Ia sibuk mengaduk-aduk kopi tawarnya, entah apa yang dipikirkannya. Tak dipedulikannya jeritan para gadis-gadis yang berusaha menendang-nendang kaca jendela kafe tempat ia biasa singgah. Gadis-gadis penggemarnya itu liar sekali, lebih liar daripada monyet-monyet yang biasa melemparinya dengan kacang dahulu.

Baekhyun memasukkan sebongkah brown sugar ke dalam cangkirnya. Well, dari tadi kopi tersebut belum ditenggaknya juga. Baekhyun jelas lebih suka memandangi cairan cokelat pekat tersebut daripada meminumnya. Diaduk-aduknya terus, walaupun ia sudah tahu gula di kopinya sudah larut, sejak … eum, sepuluh menit yang lalu.

Baekhyun memandang ke arah jendela. Memperhatikan para penggemarnya yang justru semakin melejitkan jeritan mereka saat ia menoleh ke arah mereka. Beberapa pejalan kaki dan pelanggan kafe ini merasa risih, sekalipun penggemar-penggemarnya itu tidak diperkenankan masuk kafe dan menyerbunya, tetap saja perasaan itu tak bisa dihilangkan. Terlihat dari kening berkerut orang-orang yang merasa terganggu itu.

Dahulu semuanya tidak semulus sekarang. Baekhyun selalu diabaikan oleh teman-temannya, atau lebih tepatnya dikucilkan. Mungkin karena predikatnya sebagai mahasiswa yang kurang pergaulan, teman-temannya memilih menganggapnya seperti kuman. Diacuhkan, tapi sebenarnya mereka berusaha mengusir Baekhyun dari kehidupannya.

Bermula dari salah seorang Cassanova kelas kakap, Jongin, yang entah prihatin atau tidak, menasihati Baekhyun. Baekhyun sebagai murid kelas teri hanya menuruti nasihat Jongin untuk mengubah sifat dan penampilannya menjadi lebih ‘wah’. Esoknya, Baekhyun diundang secara khusus menjadi anggota geng Cassanova kampus mereka, dan gadis-gadis bersesumbar bahwa mereka adalah penggemar nomor satu Baekhyun.

“Kau tahu, Baekhyun-ssi, hidupmu akan berubah kalau kau mau mengganti sifat dan penampilanmu. Buang kacamata pantat botolmu itu. Dewasa ini sudah tersedia contact lens sebagai pengganti kacamata, Baekhyun-ssi. Hell, apakah kau tidak bosan dengan rambut model mangkukmu itu? Pangkaslah dengan model yang lebih menarik. Buang rasa malumu. Tapi ingatkan aku untuk memberi tahumu bahwa buang rasa malu bukan berarti kau tidak malu ketika bertelanjang. Menjadi seorang Cassanova adalah jalan terbaik untuk masa depanmu, Baekhyun-ssi.” Baekhyun masih ingat kata-kata Jongin waktu itu. Well, saran Jongin tidak buruk juga. Dan ia menurutinya. Entahlah ia yang bodoh atau Jongin yang bodoh.

Kini tidak ada Baekhyun yang diacuhkan. Koridor selalu ramai akan para penggemarnya. Saat pelajaran, tak jarang satu dua murid menyerukan namanya dari luar kelas. Di kelas, para gadis meliriknya kagum sambil memekik-mekik kecil, sementara para laki-laki menatapnya iri. Whew, itu sungguh sebuah perubahan besar baginya.

Namun, ada sesuatu yang mengganjal hatinya.

Apakah ia mengambil jalan yang benar?

Mungkin.

|||

“Kau jahat, Baekhyun! Kau jahat! Tega-teganya kau mencampakkanku! Kau sudah bosan dengan wajah cantikku? Kau sudah bosan dengan tubuh indahku? Jawab, Baekhyun-ah! Jawab!” Kim Hyuna menyerapah sambil menangis dan menghentak-hentakkan kakinya. Tangannya menyeret-nyeret kemeja Baekhyun, menahan agar Baekhyun tidak menjauh darinya.

Baekhyun yang merasa risih menyingkirkan jemari lentik Hyuna dari pundaknya. “Ih! Lepaskan, Hyuna-ssi! Kau menangis sampai berdarah-darah pun aku tidak akan ‘kembali’ padamu. Memangnya kenapa kalau aku sudah bosan denganmu? Kau mau gantung diri? Terserahmu! Aku akan sangat bahagia kalau aku tidak bisa bertemu dengan gadis posesif sepertimu!”

“Ya! Baekhyun-ah! Baekhyun-ah! Baekhyuuuun!” Terpincang-pincang Hyuna mengejar Baekhyun yang sudah menghilang di antara kerumunan orang-orang yang hendak menyebrang jalan. Tanpa memedulikan orang-orang yang memperhatikannya, ia tetap berteriak-teriak merutuki Baekhyun yang sudah mencampakkannya. Padahal lelaki itu baru memacarinya selama beberapa hari. Ugh. Ia tidak tahu akhirnya akan seperti ini. “Terkutuklah kau, Baekhyun! Pergi kau! Enyahlah kau, j*rk!”

Baekhyun tidak memedulikan Hyuna yang berteriak dengan geram. Ia menyebrang jalan, kemudian kembali melanjutkan perjalanannya. Melihat-lihat butik, berharap stelan yang ditunggu-tunggunya telah dipajang di etalase. Mampir ke sebuah cakery, untuk mengisi perutnya dengan sepotong manju cake. Dan akhirnya ia memesan secangkir kopi di kafe langganannya, biasa. Americano ditambah sebongkah brown sugar.

Waitress kafe tersebut, Key, yang merupakan teman lama Baekhyun sewaktu di sekolah menengah dulu menggiringnya menuju meja di pojok kafe, tempat favorit Baekhyun. “Well, kau tahu, sekarang kau terlihat seribu kali lebih tampan,” puji Key sambil meletakkan daftar menu di meja Baekhyun. Baekhyun mengangkat bahunya. “Tidak juga. Eum, mungkin. Sedikit.”

“Kau ingin pesan apa?” Baekhyun mendongak saat Key menanyakan hal itu. “Biasa. Kau pasti tahu apa maksudku, Key-ah,” jawab Baekhyun datar. Key mendecak kesal mendengarnya. “Astaga. Kau tidak bosan dengan Americano ditambah brown sugar kesayanganmu itu? Kalau aku jadi kau, mungkin aku sudah muntah-muntah.”

Baekhyun menggeleng. “Sudah sana, cepat buatkan pesananku. Kau tidak mau, kan, majikanmu ini menunggu terlalu lama, Pelayan Kim?” Key menggerutu mendengarnya. “Ugh. Baiklah, Tuan Majikan Byun yang terhormat.” Terpaksa, Key meninggalkan Baekhyun yang tertawa renyah.

Tak perlu menunggu lima menit, cangkir beralaskan piring kecil yang bermotif etnik ini diletakkan di meja Baekhyun. Asap mengepul-ngepul dari dalamnya, dan Baekhyun suka itu. “Ini. Secangkir Americano siap menemanimu,” Key meletakkan cangkir berisi Americano di meja Baekhyun dengan wajah dilipat. “Terima kasih, Pelayan Kim. Kau sungguh baik,” puji Baekhyun. Ugh, sok bermulut manis, batin Key sebagai respon akan pujian pura-pura Baekhyun tadi. Key buru-buru meninggalkan Baekhyun sebelum lelaki itu menyebutnya “Pelayan Kim” lagi.

Baekhyun menyendokkan brown sugar ke dalam cangkirnya, kemudian mengaduknya, terus mengaduknya hingga beberapa menit, karena Baekhyun suka memperhatikan Americano-nya yang membentuk pusaran air ketika  diaduk. Menggelikan, namun juga menggairahkan. Inilah yang Baekhyun suka dari Americano.

Tidak ada yang bisa mengalahkan pesona Americano-ku malam ini. Tidak satupun.

|||

Namanya Sofie. Manis.

Ia sangat terkejut saat tiba-tiba seseorang yang tidak dikenalnya berlutut dan menyatakan perasaannya. “Aku mencintaimu. Maukah kau menjadi kekasihku?” Sofie masih ingat kata-kata lelaki tersebut yang bernama, eum, Byun Baekjin? Baekyung? Oh bukan, Byun Baekhyun. Sofie hendak menolak halus permintaan lelaki itu, namun Baekhyun menyelanya. “Aku tidak menerima penolakan,” tegas Baekhyun. Ukh. Mana ada wanita yang mau menerima cinta lelaki yang baru dikenalnya?

Baru dikenalnya? Eung, sepertinya bukan. Baekhyun adalah salah satu mahasiswa fakultas Seni di kampusnya yang terkenal baru-baru ini. Sofie memang baru sekali ini melihat sosok Baekhyun, namun ia sudah pernah mendengar tentang lelaki itu sebelumnya. Bagaimana tidak, teman-temannya menceritakan hal itu padanya sambil menjerit-jerit histeris. Tapi Sofie merasa prihatin dengan nasib Baekhyun. Lelaki yang dulunya kurang pergaulan itu harus berubah agar tidak dikucilkan. Sofie memutuskan untuk diam saja, menuruti apa yang diucapkan Baekhyun, karena kekasihnya―Sofie tidak tahu apakah ia benar-benar kekasih Baekhyun atau tidak―itu kemauannya begitu keras.

“Besok aku akan menjemputmu. Di depan rumahmu, tepat jam sepuluh pagi. Jangan sampai telat,” pesan Baekhyun sebelum punggungnya menghilang di balik hiruk-pikuk kampus. Sofie mendesah kesal. Baekhyun sama sekali bukan tipenya.

“Hei,” seseorang menepuk pundak Sofie dari belakang. Sofie yang tersentak menoleh dan mendapati wajah keras Jongin di belakangnya. Lelaki itu ekspresinya netral-netral saja, namun justru membuat Sofie makin takut. Oh, kesalahan apa yang dibuatnya sampai mahasiswa seperti Jongin mendatanginya? “Kau kenal dia?” tanya Jongin, seolah bertanya akan Baekhyun.

Sofie menggaruk-garuk tengkuknya. “Eum, yah, tentu. Memangnya kenapa?” Jawaban Sofie membuat rahang Jongin mengeras. Sofie menatap Jongin takut-takut. “A-apakah ada sesuatu yang salah?” Jongin memalingkan wajahnya dari Sofie. “Dia siapamu?” Sofie berusaha menjawab dengan cepat, namun sorot mata tajam Jongin membuat nyalinya ciut. “K-kekasihku.”

“A-APA? DIA KEKASIHMU?” Jongin mengguncang-guncangkan bahu Sofie. Sofie terdesak, ia hanya menjawab pertanyaan Jongin dengan lirih. “Y-ya. Ia kekasihku. Ada apa memangnya?”

“Jauhi dia. Jauhi dia sejauh yang kau bisa.”

Apa maksudnya?

|||

Baekhyun menduduki salah satu bangku di jembatan Sungai Han. Ia menghembuskan napasnya yang berasap di malam musim gugur ini. Pencahayaan yang remang-remang tidak membuat penglihatannya terganggu. Seharusnya musim gugur tidak sedingin ini, namun sepertinya hawa musim dingin sudah tidak sabar menunggu gilirannya. Membuat Baekhyun harus membebatkan syal di lehernya dan memakai jaket tebal.

Baekhyun merogoh saku jaketnya saat merasakan ponselnya bergetar. Ugh, sebenarnya ia tidak terlalu terbiasa dengan ponsel pintar ini. Matanya menatap ikon berbentuk amplop di sudut kiri atas monitor ponselnya. One message received.

From: Kim Jongin

Dimana kau sekarang? Aku ingin bertemu denganmu.

Sent at 19.14 p.m.

Jari-jari Baekhyun mulai mengetikkan jawabannya di screen keyboard ponselnya. Sekali lagi, ia pun tidak mahir mengetik menggunakan ponsel touch screen.

To: Kim Jongin

Jembatan Sungai Han. Kau bisa menemukanku dengan mudah.

Sent at 19.16 p.m.

Tak perlu menunggu lama, Jongin sudah berlari-lari kecil menghampiri Baekhyun. Baekhyun memang tidak melambai, tapi Jongin tahu bahwa Baekhyun menunggunya. Lelaki itu hanya melirik Jongin sekilas, dengan tatapan hambar. Bahkan ketika Jongin telah berdiri di sisi Baekhyun, lelaki itu tidak mengeluarkan respon apapun. Hanya hembusan napas yang berasap.

“Kau ingin bicara apa?”

Sontak Jongin menoleh ke arah Baekhyun. “Sesuatu.” Ia menatap langit Desember sejenak. “Aku pikir, aku lebih suka kau yang dulu.”

Baekhyun mendelik. “Apa maksudmu? Kau sendiri yang menyuruhku untuk menjadi seperti ini.”

Jongin menghela napas. “Aku tahu. Ini salahku. Dan hentikan itu. Kau membuatku muak. Sudah berapa gadis yang kau lukai hatinya?”

“Kau pikir kau tidak seperti itu?” sindir Baekhyun sarkastik.

Jongin menghentakkan kakinya di tanah. Rahangnya mengeras mendengar ucapan Baekhyun yang begitu menohok. “Kau jangan berpikiran seperti itu.”

Hening.

“Jangan berpikiran seperti itu. Jangan pernah. Jika kau berpikir bila yang lain suka mempermainkan gadis, kenapa aku tidak boleh? Bisa tidak kau menggunakan pola pikir yang lebih baik? Biar saja orang lain di luar sana seperti itu, bahkan seseorang di sebelahmu  ini pun juga, namun … setidaknya kau memulai dari dirimu sendiri, Baekhyun-ssi.”

“Pergi.”

Jongin tersentak. “A-apa?”

“Pergi. Kubilang pergi.” Baekhyun tertunduk. “Pergi, atau―”

“Aku tidak mau.”

Baekhyun mendongak dan memperhatikan wajah dengan guratan keras Jongin. “Turuti apa kataku.”

“Kau pikir kau tidak seperti itu?” Jongin membalikkan keadaan, seperti yang Baekhyun lakukan tadi. “Keras kepala. Kepala batu. Bukankah kita sama saja, Baekhyun-ssi?”

Baekhyun menggeram, kemudian tangan kirinya menyisir rambut kecokelatannya. Ia tahu, ia kalah telak. Jongin adalah sosok yang ahli dalam bergulat argumen. Parah. Ia salah memilih lawan kali ini. “Kumohon. Pergilah. Jangan ganggu aku lagi.”

“Aku akan pergi. Nanti. Tidak, tidak. Maksudku, suatu saat nanti,” ucap Jongin, sedikit pongah, dengan nada mengancam. “Tunggu sampai saatnya nanti, Baekhyun-ssi. Alam memiliki saatnya sendiri untuk membalasmu. Bersiap-siaplah. Aku tidak dapat menjamin masa depanmu nanti, tapi setidaknya aku sudah memperingatkanmu. Pertimbangkan baik-baik. Semuanya ada di tanganmu.”

“Enyahlah kau, Mulut Besar,” Baekhyun menendang udara di hadapannya, hampir mengenai tulang kering Jongin.

“Namaku bukan ‘Mulut Besar’, Baekhyun-ssi. Aku Kim Jongin. Urusi dulu masalahmu sebelum kau urusi nama orang lain,” Jongin menyeringai. Tak ingin mendapati betisnya memar karena ditendang Baekhyun, ia melambaikan tangannya dan berlalu meninggalkan Baekhyun.

Baekhyun terdiam. Ia tidak melambai. Memilih untuk menghela napas. Berat.

Mengapa rasanya berat sekali?

|||

Sofie duduk manis di salah satu kursi kafe yang ia datangi sekarang ini. Baekhyun memintanya untuk datang jam 10 pagi, namun mengingat ia adalah salah satu manusia dengan kadar kecerobohan yang tinggi, kau dapat menemukan sosoknya di kafe ini sejak pukul 9 pagi. Ia harus menunggu lama, tapi tak apalah. Justru akan lebih buruk kalau ia sampai telat.

Sofie melambaikan tangannya saat ia melihat sosok Baekhyun di pintu kafe. Laki-laki itu hanya melirik Sofie sepintas, tanpa menyunggingkan seulas senyum atau sekadar balas melambaikan tangan. Baekhyun menghampiri Sofie di bangku yang gadis itu duduki. Menarik bangku, kemudian menghempaskan pantatnya di bantalan bangku yang empuk.

“Hai. Kau datang sedikit terlambat, Baekhyun-ssi.” Tanpa panggilan sayang. Fine.

Baekhyun mengangkat bahu. “Terserah. Aku harap kau tidak menghabiskan waktumu untuk menghitung berapa menit dan detik aku terlambat. Kau ingin pesan apa? Biar aku yang bayar.”

“Tak usah. Aku bawa cukup uang, kok. Secangkir kopi dan brown sugar seperti biasa untukmu, kan? Aku sudah memesankannya,” jawab Sofie halus.

“Pintar. Kau tahu benar apa yang kusuka,” puji Baekhyun, tapi Sofie menganggap Baekhyun seperti sedang meledeknya. Kau tahu. Pujian sarkastik. Tak ada rona di pipi. Tak ada curi-curi pandang dengan sipu. Sekadar mengucapkan terima kasihpun sebenarnya Sofie enggan.

“Baekhyun-ssi,” panggil Sofie ketika Baekhyun sedang mengaduk-aduk kopinya. “Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Penting. Mungkin. Terserahmu mau menganggapnya apa.”

“Hm. Bicara saja. Aku tidak akan melakban mulutmu, kecuali jika ucapanmu mengganggu,” sahut  Baekhyun. “Mengganggu. Yeah, kau tahu apa maksudnya.”

“Aku pikir, sebaiknya kau kembali menjadi Baekhyun yang dulu.”

Gosh, apakah topik pembicaraan ini lagi nge-tren?

“Aku lebih suka kau yang dulu. Mungkin kau tidak keren, tapi setidaknya kau lebih baik.”

Seseorang, tolong alihkan topik pembicaraan ini. Kumohon.

“Kembalilah seperti dulu lagi, Baekhyun-ssi.”

Tolong sumpal telingaku. Dengan apapun.

“Aku tahu kau hanya mempermainkanku. Aku tahu, Baekhyun-ssi. Pastilah kau akan segera mencampakkanku, esok, atau sekarang atau lusa, tapi aku tahu kau hanya menjadikanku guna-guna. Aku tak memiliki rasa padamu, jadi mungkin ini tidak terlalu bermasalah bagiku, tapi kau harus toleransi, Baekhyun-ssi. Banyak gadis yang tersakiti karenamu. Kembalilah menjadi Baekhyun yang dulu.”

Amarah. Baekhyun. Memuncak.

“Aku tidak mau.”

Sofie menatap Baekhyun. Yang ditatap biasa saja, hanya wajahnya lebih merah daripada tadi. “Kau pasti mau. Kau hanya gengsi untuk mengakui, Baekhyun-ssi.”

“Siapa yang memberitahumu tentang hal itu? Kim Jongin? Oh, si Mulut Besar itu mencetus apapun dari mulutnya. Seakan mulutnya kurang besar saja,” umpat Baekhyun sinis.

“Dia tidak memberitahuku,” sanggah Sofie dengan suara tercekat. “Tidak ada yang memberitahuku. Jadi kau tidak boleh menyangkut pautkan siapapun. Termasuk aku. Ini masalahmu dan jati dirimu sendiri.”

“Jati diriku? Apa peduliku?” Baekhyun tertawa kering. “Dan kau sendiri untuk apa ikut campur urusanku? Kau bukan siapa-siapaku.”

Sofie bangkit dan sedikit menggebrak meja. “Aku bukan siapa-siapamu? Oh, aku tahu kau pasti akan mencampakkanmu, jadi aku dan kamu bukan siapa-siapa lagi. Aku Sofie dan kamu Baekhyun. Aku tidak menuntut banyak, aku hanya ingin membuatmu menjadi Baekhyun yang dulu lagi, tapi kau justru mencampakkanku. Aku tidak mencintaimu, tapi sebagai seorang gadis aku juga punya harga diri dan kau tidak menghargaiku. Aku tidak terima.”

“Terserah,” jawab Baekhyun sekenanya. “Berceloteh sampai mulutmu berbusa pun aku tidak akan menghiraukanmu. Aku juga tidak menuntut banyak. Aku hanya ingin kau pergi dan jangan pedulikan soal aku.”

“Baiklah, aku pergi,” Sofie menyabet tas tangannya. “Tapi kalau kau butuh bantuanku, aku tidak mau membantumu. Sama sekali.”

“Memangnya siapa yang butuh bantuanmu?” decak Baekhyun ketika Sofie sudah melenggang meninggalkannya.

Suatu saat nanti Baekhyun akan  termakan ucapannya sendiri.

Mungkin. Entahlah. Jangan tanyakan aku, dong.

|||

Baekhyun menghembuskan napasnya berat. Ia menekuk kakinya yang tadi diluruskan. Tangannya mencabuti rumput-rumput di sekitarnya dengan kesal. Tatapannya sayu, kosong. Baekhyun menarik rambut cokelatnya untuk melampiaskan kekesalannya. Ia bingung harus melampiaskannya kepada siapa, jadi, mungkin ia harus meminta maaf pada rambutnya suatu kali nanti.

Sebuah kacamata persegi dengan frame hitam terjatuh tepat di samping Baekhyun. Baekhyun mendongak, menatap siapa yang berdiri di sampingnya. Kim Jongin. Oh, bisakah ia tidak bertemu dengan bocah ini, sehari saja? Dan tampaknya Jongin menyadari ketidaknyamanan yang dirasakan Baekhyun akibat kehadirannya. Ia justru terkekeh.

“Kau pasti rindu dengan kacamatamu, kan, Baekhyun-ssi?” goda Jongin, namun kata-katanya terdengar sarkastik.

Baekhyun mencibir. “Tidak, tuh. Justru kamu yang rindu melihatku memakai kacamata itu. Tidak, terima kasih.Aku menolaknya.”

“Kau kesepian,” simpul Jongin. “Kau merasa hidupmu berjalan seperti biasa. Tapi percayalah, Baekhyun-ssi. Kau kesepian. Kau hidup dalam kesendirian di hatimu yang terdalam. Itulah mengapa kau tidak dapat menemukan inti dirimu. Kau kesepian dan kau butuh teman.”

“Aku tidak butuh teman,” sanggah Baekhyun gengsi. “Dan kau, pergilah dari sini! Aku tidak ingin melihatmu menampakkan batang hidungmu lagi. Kau menjijikkan.”

“Tapi kau butuh aku sebagai teman,” sergah Jongin sambil menyeringai. “Lisanmu mengatakan tidak, tapi sebenarnya kau merengek-rengek untuk keberadaanku.”

“Teman gulat lidah, begitu?” Baekhyun tersenyum miring. “Aku sama sekali tidak mengharapkan keberadaanmu. Enyahlah. Lebih baik kau angkat kaki sekarang juga sebelum aku yang akan mengangkat kakimu.”

“Aku tidak akan pergi.”

Suasana hening sesaat. Jongin menunggu jawaban Baekhyun sementara Baekhyun hanya terdiam, memikirkan sesuatu. Baekhyun terus-terusan menghela napas. Dan tatapannya masih sama. Sayu dan kosong. Tak ada sorot bergelora dari iris madu Baekhyun lagi.

“Kau benar, Jongin. Aku kesepian,” aku Baekhyun, kepalanya tertunduk.

Jongin menyeringai. “Kalau begitu kau membutuhkan aku sebagai temanmu.”

Baekhyun mendongakkan kepalanya dan ekspresinya sarat akan kemarahan. “Aku tidak membutuhkanmu. Pergi kau! Pergi! Pergi kau, Kim Jongin! Aku tidak ingin melihatmu lagi.”

Jongin terpojok dan ia berjalan mundur. Baekhyun mengganas. Seolah-olah laki-laki itu hendak menggencet Jongin. Jongin tahu, ini bukan saatnya kabur begitu saja. Ia harus bertindak. Jongin mulai memutar otaknya. Berusaha mencari ide apa yang harus ia lakukan sekarang.

“Hentikan, Baekhyun-ssi.”

Baekhyun tertunduk dengan napas terengah. Sepertinya tadi ia tidak bisa mengontrol amarahnya.

“Aku tidak akan mengusikmu lagi. Aku hanya ingin menuntunmu menjadi Baekhyun yang lebih baik. Tidak seperti yang sekarang ini. Aku ingin membantumu menemukan inti dirimu. Jati dirimu yang sudah kau kubur dalam-dalam. Tapi kau bertingkah seperti ini. Kau justru membuatmu semakin terkungkung dalam kesendirian, Baekhyun-ssi. Aku menyerah. Aku tidak akan membantumu lagi. Lalui hidupmu seperti biasa. Dan aku akan pergi. Selamat tinggal, Baekhyun-ssi.”

Baekhyun jatuh terduduk tepat ketika Jongin berlalu meninggalkannya. Ia sendiri. Kesepian. Tidak ada yang bisa ia lakukan dalam kesendirian ini. Baekhyun menyesal. Ia benci pada dirinya sendiri. Tangannya mulai memukul-mukul kepalanya kesal. Bilur-bilur bening meluncur di pipinya.

“Aku memang kesepian, Jongin …”

Kau tahu sendiri apa yang akan terjadi nantinya.

END

Akhirnya selesai juga ff ini. Aku udah bikin ff ini sejak pertengahan Januari, tapi baru selesai sekarang. Maaf. Aku sempat kehilangan feel sama ff ini, jadi selesainya ngaret banget dari perkiraanku. Maaf banget, ya. Aku juga enggak tau ff ini terlalu panjang atau terlalu pendek buat kalian. 2k words. Entahlah ini masuk Vignette atau Mini-Oneshot, haha …

Aku suka karakter Baekhyun disini. Mungkin agak ribet, tapi yah, entah mengapa ngerasa interested sama Baek. Awalnya mau kubuat happy-end, jadi Jongin & Baek sahabatan gitu, tapi malah jadi ngelantur kayak gini. Keluar dari plot, tapi kupikir jadinya enggak berantakan banget. Maaf ya, tapi aku harap kalian suka sama ff ini. Kalau mau kasih kritik atau saran, atau sekadar ngobrol sama saya, kontak saya di twitter, @lineveur. Thanks.

―Pink x

Lineveur

 

 

 

 

Iklan

8 pemikiran pada “Cassanova – Lineveur’s

  1. Akhirnya, sungguh menyedihkan.. ;_;

    Kesan cassanova Baekhyun disini, dapet abis! Ganteng, keren, terus sifatnya dingin gitu kan, walaupun rada ga cocok sama muka imutnya…. kenapa ga Jongin thor yang jadi main cast???=)) /bawel amat/ Yang pasti, dia playboy banget dan ketus banget-_- gengsi-an pula wkwk aduh Baek awas karma ya. eh udah dapet deng :v

    Jongin? Gimana dia? apakah dia bakalan berubah juga? Atau dia nyuruh Baek berubah tapi dia masih menjadi cassanova kelas kakap? Walaupun dia bijak dan baik gitu, yahh semoga dia tetep jadi cassanova, tapi cassanova yang alim :] sifat peduli dia disini yang aku suka, good friend!x)

    Dan untuk ceweknya, Hyuna; si cewek kelas atas yang (pasti) manja. Keliatan dari cara dia ngehina Baekhyun di pinggir jalan dan memohon gitu, aku bisa membayangkannya!! Sofie; si manis yang polos+bijak kayak Jongin, agak bingung juga kenapa dia bisa diem aja pas Baekhyun nembak dia, mungkin karena polos overdosis._.v Baekhyun juga maksa sih -_-)/

    Aku suka alur ceritanya, feel-nya ngena banget, diksinya bagus thor seriusssss aku suka! dalem banget!! Dan banyak pelajaran (?) yang bisa dipetik (?) dari sini, i like itt! Ditunggu ff ber-maincast Jongin, yah? hehe overall two thumbs upppp!<3 salam kenal, lais 00liner^^

  2. Demi.Apa.Semua.Keren.Apalagi.Gaya.Penulisannya.
    (alay yah, abaikan)
    Berawal dari Soojung’s secret di indo fanfict kpop, aku ngestalk kamu *ketawa evil* ini ff gimana yaa?? gak bisa berkata-kata aaaaa *mulai alay*
    oya, joneun L.JOO imnida, 02line, xiumin’s wife. bangapta!

  3. Ceritanya seruu. Baekhyunnya berubah jadi cassanova. Sukaa. Tapi aku gasuka sama endingnyaaa. Gatau deh kenapaa. Kaya ada yang kurang aja gituuu. Hehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s