Empat Lima Huruf (Chapter 4)

Empat Lima Huruf

Chapter 4

Author                    : Vio (@violarosaliya)

Main casts            : Oh Sehun, Aira Miranda

Supporting casts : Find it out through the stories

Genre                    : Romance, school life

Rated                     : General

Length                   : Multichapter

Disclaimer            : Fanfiction ini murni hasil karya author tanpa plagiat dari fiksi manapun.

Author’s note        : I hope you enjoy reading this fan fiction. Please leave comments after that. Every comment is so valuable for me. Thank you.

I also post this story on my blog tigahurufundertherain.blogspot.com

Summary              : Tidak mudah menyatakan cinta. Sungguh tidak mudah. Terkadang itu butuh waktu. Jangankan untuk menyatakannya, untuk menyadari dan meyakinkan diri bahwa hatimu telah lumpuh karenanya pun tidaklah semudah yang kau kira. Terkadang hati sulit menerima penolakan. Atau itu karena kau merasa tidak yakin pada hatinya. Hatinya yang mungkin juga jatuh pada hatimu.

(Author POV)

Jam dinding menunjukkan pukul tujuh pagi saat Sehun baru saja menyelesaikan sarapannya pagi ini. Tiba-tiba Ia mendapat satu panggilan dan langsung menggeser tombol touchscreen sehingga ringtone Empire State of Mind Jay Z berhenti berdering. Ternyata suara Kyungsoo di ujung telepon meminta Sehun untuk mampir kerumahnya sebelum berangkat ke sekolah.

Pasti aku harus mencicipi masakannya lagi” ujar Sehun dalam hati.

Sehunpun pamit pada Omma-nya yang baru saja kembali dari Skotlandia tadi malam. Omma akhirnya pulang setelah satu bulan menyelesaikan risetnya mengenai beberapa bangunan bersejarah disana. Dia seorang dosen Arkeologi di salah satu universitas ternama di Korea Selatan.

Sehun menstart BMW hitamnya dan mulai bergerak menuju rumah Kyungsoo yang hanya beberapa blok dari rumahnya. Ketika Sehun baru saja memarkir mobilnya di tepi jalan rumah temannya itu, Kyungsoo langsung keluar rumah sambil menjinjing sebuah kantong kertas di tangan kanannya dan menggenggam sebuah laptop tipis padahal dia sudah menggendong sebuah ransel berwarna hitam. Belum sempat aku keluar, ia sudah membuka pintu dan masuk ke mobil.

Annyeong, Sehun-ah. Bagaimana kabarmu?” tanyanya. Dia terlihat bersemangat sekali pagi ini.

Annyeong, Kyungsoo. Aku baik. Kau sepertinya sangat baik pagi ini. Benar-benar bersemangat” jawabku.

“Oya? Masa? Hahaha. Hari ini kelas TOEFL terakhir dan dua minggu lagi aku akan mengikuti ujiannya. Itu persyaratan terakhir untuk melengkapi dokumen pendaftaran universitas disana Sehun” jelasnya kemudian.

“Persyaratan terakhir? Berarti kau bisa segera berangkat ke Amerika?” tanya Sehun lebih lanjut.

“Ya begitulah, Sehun” jawabnya sambil tersenyum. Dia terlihat benar-benar senang dan bersemangat.

“Semangat. Kau harus segera menyusulnya” kata Sehun menyemangatinya.

Lagi-lagi Ia tersenyum. Matanya terlihat berbinar.

Benar-benar luar biasayeoja bernama Hye Ri itu hingga mampu membuat sahabatku kembali pada dirinya. Kembali bersemangat menjalani hari-harinya. Jika aku bertemu dengannya suatu hari, Sehun akan menyampaikan terima kasih padanya. Sepuluh menit kemudian, mereka akhirnya sampai di tempat tujuan Kyungsoo. Diapun beranjak keluar dari mobil.

“Terima kasih, Sehun-ah. Ini untukmu dan Kai. Jangan lupa nanti kirimi aku pesan kalau ada sesuatu yang aneh dengan makanan ini ya. Bye” ucapnya sambil menyerahkan kantong kertas yang sejak tadi dia bawa.

“Bye”

Merekapun berpisah dan Sehun langsung memacu kecepatan. Sepanjang perjalanan menuju sekolah adegan penjemputan Aira kemarin sore seperti berputar tepat di depan mata kemudian beberapa kalimat yang Kai katakan pada Kyungsoo waktu itu terngiang-ngiang di kepalanya. Benar-benar mengganggu.

Sebaiknya aku harus bertanya langsung padanya” kata Sehun dalam hati.

 

(Sehun POV)

Aku tiba di sekolah tepat saat bel berdentang keras pukul delapan pagi. Aku setengah berlari menuju lantai tiga dimana kelasku berada. Ketika berada di tangga lantai dua aku melihat seorang yeoja yang juga sedang berlari menuju kelasnya. Apa mungkin itu Aira? Dia juga hampir datang terlambat? Entah kenapa aku refleks tersenyum melihatnya sepagi ini. Senyumku masih tertahan saat aku memasuki kelas dan duduk di bangkuku di sebelah Kai.

“Yaa, Sehun-ah. Apa yang sedang kau lakukan? Kau menginjak tanganku tau” teriak Kai dengan sangat lantang.

“Yaa, Kai. Kau. Apa yang sedang kau lakukan dibawah mejaku? Bukan salahku kalau tanganmu terinjak, kan” jawabku kemudian masih tersenyum.

“Yaa. Kau bukannya minta maaf Sehun. Dan sekarang kau malah tersenyum, kau mau mati ya?” Kai sudah berdiri dan siap melempar sebuah buku besar didekatnya padaku kalau saja Mr. Kwon tidak masuk ke dalam kelas.

 

(Author POV)

Suasana kantin XOXO High School seketika riuh oleh histerisnya yeojayang sedang berkumpuldi beberapa sudut kantin dengan masuknya dua orang itu ke kerumunan antrian siswa yang sedang memesan makan siang. Keduanya masih tetap mengobrol dengan serius, mungkin itu yang membuat keduanya tidak menyadari kalau mereka sudah dipelototi dan menjadi bahan perbincangan sejak di ujung lorong menuju kantin.

“Itu benar Sehun oppa dan Aira siswi kelas XI kan? Apa sebenarnya hubungan mereka berdua?” tanya seorang siswi kelas X pada temannya di depan sebuah stand es krim.

“Iya. Itu benar mereka berdua. Aku dengar mereka berdua ikut terlibat dalam pementasan drama sekolah setelah mendapat ajakan Kim sangsaenim” jelas teman siswi itu.

“Oh ya? Apakah mereka berdua mendapat peran dalam pementasan drama?” lanjutnya.

“Entahlah. Belum ada informasi apakah mereka ikut pementasan atau hanya di bagian produksi. Kita tunggu saja nanti” jawab temannya lagi.

“Huaa. Aku tidak sabar menunggu pementasan dramanya. Aku merasa mereka berdua benar-benar cocok” siswi itu kembali berkomentar.

“Iya aku juga berpikiran seperti itu” sahut teman siswi itu.

Sehun dan Aira terlihat bersama dalam antrian bubble tea. Saat memesan mereka berdua terlihat serius membicarakan skrip drama Romeo&Juliet yang sudah sedikit mereka bahas kemarin.

“Apaaa?? Mereka berdua akan bertemu diluar sekolah hari sabtu besok?” seorang siswi yang sedang duduk di dekat Sehun dan Aira setengah berteriak saat ia mendengar bahwa keduanya akan bertemu diluar sekolah weekend ini.

“Apa itu benar? Huaa. Apakah mereka akan berkencan? Apa mereka sudah pacaran?” teman siswi yang tadi setengah berteriak ikut histeris. Ternyata keduanya adalah fangirl seorang Oh Sehun.

“Huaa. Aku benar-benar sedih kalo memang seperti itu hubungan mereka” keduanya nyaris menangis di tengah kantin.

Setelah antri cukup lama, akhirnya Sehun dan Aira mendapatkan pesanan. Merekapun memilih untuk duduk di sebuah bangku taman kecil di dekat kantin sambil menikmati bubble tea. Mereka kembali membicarakan skrip drama yang dibebankan pada mereka berdua. Terlihat Aira menulis beberapa catatan pada sebuah notebook kecil berwarna rose setelah mendengarkan beberapa pendapat Sehun. Sesekali ia mengangguk pertanda ia setuju dengan apa yang namja itu usulkan. Kemudian mereka juga terlihat beberapa kali ia juga menambahkan beberapa ide dan Sehun menyetujuinya, iapun kembali menulis. Saat ia menulis untuk kesekian kalinya itu, beberapa helai daun flamboyan kering jatuh dan terselip di helaian rambut Aira. Spontan tangan Sehun menggapai daun flamboyan kering itu dan menyentuh helaian rambut yeoja itu. Terlihat dari kejauhan Sehun seperti menyeka dahi Aira dan itu benar-benar membuat hampir seluruh fangirl Sehun yang berada di dalam kantin histeris. Bahkan ada yang sudah menangis dan berlari menuju kelas.

“Huhuhu. Sehun oppa, apa kau sudah benar-benar menentukan siapa yeojamu?” kata seorang siswi ditengah isak tangisnya.

“Iya benar. Sehun oppa apa yang sedang kau lakukan?” teriak seorang siswi lagi.

“Yaa. Apa kalian tidak malu menangis, histeris, dan berteriak di tengah kantin? Kalian sudah gila?” seorang siswi kelas XII membentak dua siswi yang masih labil itu.

“Kalau kalian memang fangirl Sehun­-ssi, kalian harus terus mensupportnya. Dan aku lihat sepertinya mereka berdua cocok” jawab seorang siswi kelas XII yang lain.

Sesaat setelah Sehun menyingkirkan beberapa serpihan flamboyan kering itu seketika Aira mendongak kearahnya dan menanyakan ada apa di rambutnya, Sehun tiba-tiba terpaku memandang wajah yeoja itu, membeku beberapa detik, merasa ada sesuatu yang salah tentang apa yang dia lakukan tadi. Ia merasa hal itu sesuatu yang awkward. Ia juga merasa takut kalau Aira akan salah paham padanya. Melihat si oppa hanya terdiam dan menggenggam beberapa serpihan daun kering.

 

(Sehun POV)

“Oo, ada daun kering yang jatuh ya,? Oppa, gomawoyo sudah mengambilnya dari rambutku” katanya sambil tersenyum.

Lagi-lagi. Aku sudah tidak sanggup lagi berada disini. Tolong selamatkan aku. Bisa-bisa aku serangan jantung jika lebih lama disini. Teriakku dalam hati.

Aku hanya bisa mengangguk dan mengalihkan pandangan pada smartphoneku yang berdering. Oh, thanks God. Sebuah panggilan dari Tao, salah satu anggota tim basket sekolah. Kami terhubung selama kurang dari dua menit. Ia memberitahuku untuk bisa ke ruang tim basket sekarang. Once again, thanks God. I love you. You are saving me from this situation.

“Oke, Aira. Seperti yang sudah aku bilang tadi bagaimana kalau kita lanjutkan weekend ini karena sekarang aku ada pertemuan dengan beberapa anggota tim basket. Baru saja aku mendapatkan panggilan untuk kesana” aku menjelaskan alasan padanya.

Ne. Arasso, oppa. Mungkin sudah cukup hari ini. Ide bagus kalau kita lanjutkan weekend ini” katanya dengan lagi-lagi tersenyum.

Akupun melangkah pergi sambil menyesap beberapa tetes terakhir bubble teaku. Aku melihat dia melambaikan tangan. Tidak hanya itu aku juga mendapat satu senyum lagi darinya. Tanpa aku sadari aku jadi senyum-senyum sendiri dan memegangi dada sebelah kiriku. Sepertinya jantungku berdetak lebih cepat saat ini. Ketikatersadar kalau aku sudah didepan pintu ruangan tim basket. Seketika otomatis wajahku kembali ke cool mode.

 

Sunday, this weekend, early in the morning

(Kai POV)

Pagi ini ada sesuatu yang terlihat berbeda dari segala sesuatu yang terjadi pada hari sabtu pagi. Bukan karena aku menginap di kamar Sehun, mengacak-ngacak hampir seluruh isinya dan bangun lebih siang dari sang pemilik kamar. Ini lebih pada sikap temanku itu, tidak biasanya dia bangun tanpa bantuan weker dan langsung terbangun sesaat sebelum jam itu berdering dengan hebatnya tepat pukul enam pagi, benar-benar mengganggu tidurku, itu masih terlalu pagi untukku bangkit dan melepaskan diri dari empuknya kasur dan hangatnya selimut. Tidak hanya itu ia juga sedikit melakukan olahraga kecil seperti jogging kemudian berenang dan sekarang tepat pukul delapan pagi saat aku baru saja bangun dia sudah menyantap beberapa buah pineapple pie dan segelas moccabuatanommanya.

“Kai. Kau sudah bangun? Apa kau tidur dengan nyenyak? Ayo cuci muka lalu sarapan ya” suara omma Sehun yang hangat menjadi sapaan pertama yang sepertinya akan membuat baik moodku hari ini.

“Yaa, tukang tidur. Kau baru bangun?”

Belum sempat aku menjawab sapaan omma, sapaan kedua dari Sehun benar-benar berbeda dari sapaan pertama tadi. Aku sama sekali tidak mempedulikannya. Aku tau pasti ada sesuatu dengannya. Benar saja. Seketika ia tersenyum saat membaca sebuah pesan yang masuk.

 

(Author POV)

Kai masih memelototi Sehun saat ia seketika berubah mood dari memarahinya kemudian tersenyum saat melihat sepenggal pesan berbunyi.

 

 

Sebuah pesan singkat dari seorang yeoja. Seorang yeoja yang akan ia temui hari ini. Sang siswi kelas XII. Partnernya membuat skrip drama; Aira.  Namun, ini masih pukul delapan pagi. Sehun benar-benar terlihat begitu grogi sampai-sampai terbangun sepagi itu tadi. Ia masih saja tersenyum ketika membalas pesan itu saat Kai sudah menyantap sarapan paginya. Ia baru sadar kalau dirinya sedang diperhatikan oleh Kai tiba-tiba bertambah grogi seperti anak kecil yang ketahuan berbohong. Matanya fokus pada pinggir gelas kopi yang hanya ia pandangi. Sehunpun kaget karena tiba-tiba mendengar tawa Kai, persis saat mereka berada di kantin ketika ia diperhatikan oleh seisi kantin.

“Kai. Hei, sadar. Kau masih setengah tidur ya?” tanya Sehun.

“Tidak. Aku sudah sepenuhnya sadar. Sadar dari tidurku dan sadar kalau ada yang aneh denganmu” jawab Kai masih tertawa. Terbahak-bahak.

“Oke, Kai. Please stop. Nanti omma terganggu, dia sedang menyelesaikan hasil risetnya dan aku juga tidak mau kalau dia sampai mendengar omongan anehmu tentang jatuh cinta” pinta Sehun.

“Oke, begini Sehun­, teman terbaikku, I will just tell you once, you are tottaly in love. I know it but I don’t know why you always deny all things about it. I told you because you always said it as bullshit” jawab Kai membuat Sehun sedikit tertegun dan memikirkan kata-kata temannya itu, memaknai satu-persatu kata yang seperti tersusun di atas meja makan.

Honestly, at first I tried hard to deny that feeling. But now, it feels like I forgot it. You may look it as a denial, but I totally don’t know what I am feeling right now. If you ask me do I like her or not, I can’t say anything. Also, I don’t know what the reason is” papar Sehun pada Kai yang sedang menghabiskan satu gelas penuh air putih.

Just be yourself, Sehun-ah. Be the one who make her happy. One day you will make yourself believe on it. Do every single good deed, OK?” kata Kai kemudian.

Sehun hanya mengangguk. Dia mengerti apa yang temannya itu katakan. Dia hanya perlu meyakinkan hatinya sendiri. Dan hal itu tidak mudah bagi Sehun. Tidak berpengalaman dalam hal cinta dan melihat perjalanan cinta berliku sahabatnya sendiri membuat Sehun seperti kurang mempercayai sebuah hubungan cinta. Meyakinkan dirinya. Itu yang ia butuhkan sekarang. Dan itu butuh keberanian hatinya.

“And one more, please don’t be late. It will make you regret everything” tambah Kai yang kemudian beranjak menuju pojok halaman belakang yang terdapat kolam kecil berisi beberapa ikan hias.

Sehun masih terpaku di meja makan, di depan segelas kopi dan sebuah piring berisi dua pineapple pie. Ia pun teringat pada laki-laki bermobil sport merah dan kembali larut pada pikirannya.

Pukul 02:00 pm

Aira sudah duduk dengan manis di sebuah bangku di tengah-tengah sebuuah taman bermain yang cukup besar. Hari itu ia mengenakan atasan warna pastel dengan celana jeans biru dan sepasang flat shoes dan postman bag warna coklat muda yang senada dengan atasannya. Rambut hitamnya yang ikal dibiarkan tergerai. Itu membuatnya terlihat berbeda dibandingkan saat ia mengenakan seragam sekolah. Cantik. Ya. Itu kata yang tepat menggambarkan yeoja yang sudah dipandangi Sehun sejak 5 menit yang lalu dari bawah sebuah pohon besar tak jauh dari tempat Aira duduk.

 

(Aira POV)

Aku melihatnya berjalan menuju kearahku. Aku tersenyum. Iapun sama, tersenyum padaku. Tersenyum. Ya. Seperti yang engkau bayangkan. Terlihat berbeda dari dia yang biasanya, tersenyum seperti dipaksakan. Dan kali ini senyum itu terlihat seperti ia sedang bahagia. Ini menjadi salah satu hal sulit bagiku, bertemu dengannya di luar sekolah walaupun yang kami bicarakan juga masih berhubungan dengan sekolah. Setelah kejadian serpihan daun flamboyan kering sebenarnya aku agak sedikit canggung saat dia terlihat seperti membelai rambutku ditambah lagi aku juga mendengar informasi dari teman-temanku kalau ada beberapa siswi fangirlnya yang histeris hari itu. Aku mencoba menganggap semuanya baik-baik saja dan semoga tetap baik-baik saja. Namun, harapan itu tiba-tiba saja sirna ketika kami berdua sama-sama melihat sepasang kekasih yang sedang bersepeda. Scene itu benar-benar tepat terjadi dihadapan kami. Dan ini membuat aku terlihat canggung. Namun, syukurlah dia kelihatannya tidak memperhatikan ekspresiku dan langsung duduk disebelahku.

(Sehun POV)

Annyeong. Apa kabarmu hari ini? Sudah lama kau menungguku?” sapaku pada yeoja yang sudah aku pandangi sejak tadi.

“Hi, Oppa. Aku baik. Mungkin sudah satu tahun aku menunggu disini. Haha” jawabnya dan diapun tertawa.

“Oya? Selama itukah?” tanyaku lagi.

“Haha. It was just kidding, Sehun oppa. Aku baru 10 menit menunggu disini” jawabnya lagi.

“Warna itu cocok denganmu” kataku kemudian.

“Apa? Ini? Gomawo, Oppa” jawabnya sambil merapikan sedikit atasannya yang tidak kusut.

“Oke, beberapa hari yang lalu kan kita sudah menentukan setengah dari karakter yang akan ditampilkan dalam drama, mungkin kita bisa menyelesaikan setengahnya lagi dan mulai fokus pada konten script drama” Aira memulai pembahasan kami hari ini dan aku sudah memperhatikan dia dari tadi. Entah mengapa saat-saat seperti ini terasa begitu berharga dan aku tidak mau melewatkannya begitu saja. Terkadang aku merasa waktu berlalu terlalu cepat saat aku bersamanya.

Hampir dua jam kami membahas tokoh dan masing-masing karakter dalam drama, beberapa monolog, dan mempersiapkan dialog untuk tiap karakter. Berarti sebentar lagi akan selesai pertemuanku dengannya. Tiba-tiba terlintas sebuah ide spontan.

“Aira, apa kau mau langsung pulang? Bagaimana kalau kita bersepeda sebentar. Sepertinya cukup menyenangkan” ajakku.

“Umm. Baiklah, Oppa. Sepertinya itu menyenangkan. Aku juga sudah lama tidak bersepeda” ia mengiyakan ajakanku.

Kamipun menyewa sebuah couple bicycle yang kemudian kami kendarai berdua. Sepanjang track bersepeda kami masih berbincang-bincang, sesekali melempar joke, tertawa dengan keras dan sekarang membeli es krim di sebuah kedai yang masih berada di dalam kawasan taman. Lalu duduk di sebuah bangku kayu yang berjejer di dekat pepohonan di pinggir taman.

Tiba-tiba hujan deras mengguyur. Kami yang sedang menikmati es krim mocca pun segera berlari menuju sebuah pohon besar untuk berlindung. Sepertinya tidak berhasil karena kami berdua benar-benar sudah basah kuyup. Melihat kondisi masing-masing kamipun tertawa. Apalagi melihat es krim yang sudah meleleh dan mengotori tangan kami. Akupun mengeluarkan sebuah jaket tim basket sekolah berwarna merah dari dalam ranselku, menyampirkannya ke bahu Aira dan memasangkan hoodie jaket ke kepalanya. Setelah dua puluh menit, hujan bukannya berhenti tapi malah bertambah lebat padahal hari sudah beranjak malam.

“Bagaimana Aira, hujan masih deras dan hari ini sudah akan beranjak malam. Maaf karena aku kau harus basah kuyup seperti ini” aku menyampaikan rasa sesalku karena sudah mengajaknya bersepeda.

“Tidak apa-apa, Oppa. Aku senang hari ini. Sangat senang. Aku juga sudah lama tidak basah kuyup karena hujan” katanya masih dengan senyum walaupun terlihat sedikit kedinginan.

“Bagaimana kalau kita pulang sekarang? Sepertinya hujan masih lama akan berhenti. Aku akan mengantarmu pulang” kataku sambil menggenggam tangan kirinya yang benar-benar sudah dingin.

Ia menurut. Dia membenarkan posisi hoodie jaket saat kami setengah berlari menuju pelataran parkir. Mesin mobilpun menderu. Sepanjang jalan ia terlihat tertidur dibalik kacamata hitamnya dan terbangun tepat saat kami sampai di halaman sebuah rumah besar bergaya klasik.

Beranjak keluar mobil aku masih memegang tangannya. Ia terlihat sakit. Aku benar-benar merasa bersalah. Aku langsung menekan bel dan ternyata namja bermobil sport yang menjemput Aira beberapa hari lalu yang berada di balik pintu. Ia terlihat shock melihatku yang sedang menggenggam tangan Aira, melihat Aira yang basah kuyup dan terlihat tidak sehat sekarang.

 

(Aira POV)

Aku masih melihat Baekhyun oppa membukakan pintu saat aku pulang. Ia sangat terkejut. Mungkin karena aku pulang dalam keadaan basah total. Namun, dengan spontan ia menepis tangan Sehun oppa. Hal terakhir yang aku ingat aku berteriak pada Baekhyun Oppa.

to be continue

 

 

Iklan

2 pemikiran pada “Empat Lima Huruf (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s