Goodbye Winter

goodbye winter

Goodbye Winter..

Author : @titayuu

Cast : Kim Jongin, Han Haejin (OC), Jung Soojung | Genre : Romance | Length : Oneshot | Rating : PG-15

A/N : Fanfict ini sudah lama berada di folder saya, tapi belum pernah sempat di post dimanapun. Cerita dan semua yang tertulis di fanfict ini adalah murni berasal dari otak saya. Kalau ada yang kurang, komen aja langsung~~

~*~

Malam ini begitu dingin. Angin seakan tidak ingin berhenti berhembus dan menggoyangkan semua yang berada di bumi. Sepertinya musim dingin kali ini adalah yang paling ekstrim. Salju terus turun dan memenuhi jalanan. Dan membuat sebagian orang memilih untuk tetap berada di dalam rumah di banding berjalan dan menembus salju. Namun tidak bagi seorang gadis yang sedang berjalan menembus angin dan salju. Han Haejin.

Haejin terpaksa berjalan menembus salju demi sebuah panggilan dari sahabatnya, Jung Soojung. Ia harus segera tiba ke kampusnya untuk menemui sahabatnya itu. Saat itu Haejin sedang meneruskan tugas kuliahnya sampai tiba-tiba Soojung menghubunginya dengan nada panik. Soojung memberitahunya kalau dia mengalami cidera saat latihan. Hari sudah gelap dan sebagian mahasiswa sudah pulang. Tak ada yang bisa membantu gadis itu selain Haejin.

Haejin berhenti sejenak lalu merapatkan mantelnya ketika angin mulai berhembus lagi. Ia menengadahkan tangannya dan menatap langit. Saat salju kembali turun dan jatuh di wajahnya, ia mendengus dan menghela napas sehingga menghasilkan sebuah asap dari dalam mulutnya. Disaat sebagian orang menantikan musim ini, Haejin justru membencinya. Ia membenci musim dingin. Ia membenci saat dimana seluruh tubuhnya membeku. Ia juga membenci saat ia tak bisa mendapatkan kehangatan yang seharusnya ia miliki. Ia bisa saja tak mengacuhkan panggilan Soojung dan berdiam di dalam rumah sambil mengerjakan tugas desain yang harus segera di kumpulkan. Namun kenyataannya tidak. Dia tidak dapat membiarkan Soojung begitu saja setelah menutupi sebuah kebohongan yang sedang ia buat.

Langkahnya kembali beradu dengan hembusan angin. Ia tiba di gedung falkutas kesenian. Gedung ini membuat sebuah kenangan di kepalanya berputar kembali. Membuatnya semakin menggigil kedinginan. Setelah berdiri selama beberapa detik di depan gedung itu, Haejin mulai melangkahkan kakinya untuk masuk dan mencari ruang kelas seni tari.

“Han Haejin..”

Haejin terdiam di depan pintu sebuah ruangan ketika Soojung memanggil namanya dengan pelan. Sesaat, suasana ruangan itu membuatnya enggan untuk masuk. Sudah satu bulan ini ia tidak ingin menginjak ruangan ini. Matanya menyusuri tiap sudut ruangan itu sampai ia menemukan Soojung yang sedang duduk di pojok ruangan sambil memeluk kedua kakinya. Gadis itu terlihat pucat karena kedinginan. Sepertinya penghangat ruangan sedang tak berfungsi dengan baik sehingga membuat suhu ruangan itu tak berbeda dengan suhu di luar.

“Kau baik-baik saja? Bagaimana bisa kau berlatih seharian di saat semua orang sudah pulang kerumah? Ini adalah musim dingin, kau bisa mati kedinginan di sini. Seharusnya kau tidak perlu memaksakan diri. Kemampuanmu sudah sangat hebat, apa lagi yang ingin kau capai? Untung saja aku bisa da—” Haejin langsung menyerbu Soojung dengan berbagai macam kalimat sampai Soojung memotong kalimatnya.

“Gomawo..” Soojung mengatakan kalimat itu dengan suara serak. Gadis itu tak merasa kesal karena Haejin langsung mengomelinya, namun ia tersenyum dan memegang lengan Haejin dengan cukup kencang. “Terima kasih telah datang.”

“Kau bicara apa?” Kening Haejin berkerut. Gadis itu mulai merangkul Soojung dan mengenakan mantel yang sudah ia siapkan. “Kau adalah sahabatku, sudah seharusnya aku membantumu. Sudahlah, sekarang yang harus kita pikirkan adalah bagaimana keluar dari sini. Sepertinya badai salju akan datang. Tapi kita juga tidak bisa mati kedinginan di sini.”

“Aku sudah menghubungi Jongin untuk menjemput kita.”

Mulut Haejin terkatup ketika Soojung menyebutkan sebuah nama. Sebuah nama yang masih berusaha ia lupakan. Haejin masih terdiam dan tak berkomentar. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya, dan juga kenangan masa lalunya. Untuk beberapa saat Haejin menyesali kehadirannya di tempat ini. Gadis itu mulai bergumam dalam hati.

Kim Jongin, akan datang?

~*~

Summer 2013

Koridor fakultas seni sedang ramai. Dan hampir seluruh mahasiswa sudah keluar kelas dan berdiri di sepanjang koridor. Ada beberapa mahasiswa yang membawa alat musik sambil memainkannya secara bersama-sama, bahkan ada pula sekelompok orang yang berjalan membawa patung tanah liat. Sepertinya kelas telah usai sehingga suasana menjadi cukup padat. Diantara keramaian tersebut, Haejin berjalan dengan langkah cepat sambil sesekali melihat kearah kertas yang sedang ia pegang. Mungkin Haejin adalah satu-satunya mahasiswi jurusan animasi yang berada di kerumunan itu.

Siang itu Haejin sedang mencari letak keberadaan Soojung. Ia tak hafal letak kelas sahabatnya itu, maka itulah ia membawa secarik kertas yang bisa membantunya untuk menemukan kelas sahabatnya. Sesekali Haejin bertanya kepada beberapa mahasiswa di sana, dan tentu saja ia langsung mendapat jawaban yang selalu tepat. Jung Soojung adalah mahasiswi populer di fakultas itu. Wajahnya yang cantik dan kemampuan menarinya yang sangat luar biasa membuat Haejin mudah untuk menemukannya.

Langkah Haejin berhenti ketika tiba-tiba ia mendengar sebuah musik hiphop di sebuah ruangan tepat di sebelahnya. Pintu ruangan itu tidak ditutup rapat dan membuatnya bisa melihat apa yang sedang terjadi di dalam. Matanya bergerak mengikuti langkah seseorang yang sedang menari di ruangan itu. Seorang lelaki sedang menari dengan luwes mengikuti irama musik. Ia seakan tak mempedulikan keadaan sekitar dan seakan telah masuk kedalam dunianya sendiri. Gerakan lelaki itu terlihat sangat sempurna. Dan itulah yang juga dipikirkan oleh Haejin. Haejin memutuskan untuk mengambil sebuah buku dan pensil dari dalam tasnya. Sambil terus mengamati orang itu, tangan Haejin juga menari-nari diatas kertas sehingga menciptakan beberapa goresan di sana.

Ditengah asiknya memperhatikan orang itu, tiba-tiba sebuah panggilan yang berasal dari ponselnya mengacaukan semuanya. Gadis itu tersentak kaget dan langsung mematikan panggilan itu. Orang di dalam ruangan itu sepertinya menyadari kehadiran Haejin.

“Ya! Siapa di sana?” lelaki itu berjalan keluar untuk memeriksa sesuatu yang membuat konsentrasinya buyar. Namun ia tak menemukan apapun. Hanya sebuah buku sketsa yang tergeletak di depan ruangan itu. Kening lelaki itu berkerut ketika melihat sebuah sketsa dirinya di salah satu halaman buku itu. Sketsa saat dirinya sedang menari—dan ia yakin orang yang menggambarnya sedang memperhatikannya barusan.

“Han Haejin.” Lelaki itu bergumam ketika membaca sebuah nama yang tertera di sampul buku itu. Tanpa ia sadari, bibirnya melengkung membentuk sebuah senyum ketika memperhatikan sketsa wajahnya sekali lagi.

~*~

Autumn 2013

Haejin tak tahu apa yang di lakukannya adalah benar atau salah. Yang ia tahu adalah; ia menyukai lelaki yang kini berada dihadapannya. Seorang lelaki yang beberapa bulan lalu membuatnya terpesona akan tariannya. Seorang lelaki yang menurutnya sempurna. Seorang lelaki yang mau berbagi tawa dengannya. Kim Jongin, dialah lelaki itu.

Haejin tak pernah menyangka kalau buku sketsanya bisa tertinggal di depan ruang tari lelaki itu. Ia juga lebih tidak percaya kalau Jongin mencari pemilik buku itu. Hanya satu kalimat yang terus Haejin ingat ketika Jongin telah menemukannya. Sebuah kalimat yang sebenarnya terdengar menyebalkan namun tetap membuatnya tersenyum. Gambarmu sangat bagus, tapi kau harus meminta izin terlebih dahulu jika ingin menggambarku.

Setelah beberapa hari bertemu dan berbincang, Haejin merasa nyaman di dekat lelaki itu. Begitu pula sebaliknya. Jongin adalah lelaki yang baik. Haejin tak ragu ketika lelaki itu memintanya untuk menjadi kekasihnya. Namun kini keraguan itu datang di benak gadis itu. Keraguan yang mengganggunya.

“Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” Jongin memajukan posisi duduknya ketika ia melihat sebuah rasa gelisah yang di tampilkan dari wajah gadis di hadapannya. Seorang gadis yang selalu bisa membuatnya tersenyum.

“Tidak.” Haejin menggeleng, namun terlihat sebuah keraguan dari kata penyangkalnya. “Aku hanya merasa ada yang salah dengan kita. Aku merasa kalau aku tidak seharusnya melakukan ini. Ini sudah salah dari awal.”

Jongin terdiam menanggapi kalimat Haejin. Mata lelaki itu tak lepas dari wajah Haejin. Ia menghembuskan napas lalu memegang kedua tangan gadis itu—berusaha menenangkannya. Jongin tersenyum. “Don’t worry, It will be ok.”

~*~

First Winter 2013

Jika Haejin bertanya kepada beberapa orang tentang apa perasaannya, mungkin mereka tak tahu persis apa yang sedang ia rasakan. Tak ada yang bisa di salahkan, mungkin hanya dirinya yang patut di tuduh menjadi pembuat masalah. Perasaannya menjadi sangat berantakan akhir-akhir ini. Ia tahu apa yang di sembunyikan tidak akan berakhir dengan baik. Ia tak bisa menyembunyikan semuanya lebih lama lagi, namun ia juga tidak bisa mengungkapkannya dengan mudah. Ia tak nyaman dengan semua ini.

Musim dingin telah tiba dan musim panas sudah berlalu sangat lama. Ia masih menunggu sebuah ketidakpastian. Seharusnya sejak awal ia tak menerima pengakuan Kim Jongin. Seharusnya ia tak membuat sebuah kebohongan. Seharusnya ia bisa menyimpan perasaannya rapat-rapat dan mengendalikan situasi seperti semula. Namun semua terlambat. Kata ‘seharusnya’ sudah tidak bisa di pakai saat ini.

“Ayo kita akhiri semua.”

Setelah beberapa kali menghela napas dan berpikir, akhirnya kalimat itu keluar dari mulut Haejin. Gadis itu memejamkan mata untuk menahan sakit yang tiba-tiba menusuk ketika ia mengatakan kalimat itu. Ia tak berani untuk menatap lelaki di hadapannya.

Jongin tak menjawab. Lelaki itu hanya menunduk dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Haejin tak yakin apakah Jongin merasakan rasa sakit yang sama dengannya.

“Kita tahu kalau semuanya sudah salah dari awal.” Haejin kembali menghembuskan napas dan memberi jeda pada kalimatnya. “Entah siapa yang harus di salahkan dari semua kekacauan ini. Aku tidak bisa membohongi perasaanku dan perasaan Soojung. Soojung adalah sahabat baikku.”

Haejin memberanikan diri mengangkat kepalanya dan menatap lelaki di hadapannya. Jongin masih diam dan membisu—meski kini ia berani menatap mata Haejin. Jika saja mereka tak pernah bertemu, mungkin semuanya tak akan terjadi. Nasi sudah menjadi bubu, dan dia harus tetap memili.

“Biarkan aku menepi sejenak bila tak ada kepastian. Aku bukan lelah menanti, namun apalah artinya jika kita tak bisa utuh. Apakah kau tak merasa bersalah?” Haejin mengerjapkan mata dan berusaha menahan airmatanya untuk tumpah.

“Semua berhak di salahkan.” Akhirnya Jongin membuka mulut. Ia mengangkat kepala dan memberanikan diri menatap Haejin. “Tak pernah ada korban diantara aku, kau dan dia. Hanya ada sebuah kesalahan alami yang menyebabkan kekacauan ini. Kekacauan yang tak sengaja kita buat sendiri.”

Kini giliran Haejin yang membisu. Gadis itu tak tahu apa yang harus ia lakukan sampai ia mendengar kalimat terakhir Jongin.

“Jangan pergi, dan tetaplah disini.”

~*~

“Jongin-a..”

Haejin spontan menengok kearah pintu ruangan ketika Soojung memanggil nama seseorang yang masih memenuhi otaknya. Soojung tersenyum simpul ketika melihat lelaki itu melangkah menghampiri mereka. Sedangkan Haejin hanya bisa menunduk dan tak ingin tatapan mereka bertemu di situasi seperti ini.

Jongin melangkah memasuki ruangan itu dengan sepatu yang licin dan kotor akibat salju yang menumpuk di jalan. Mantel tebal yang ia kenakan juga terlihat tak dapat melindunginya dari dinginnya cuaca di luar. Lelaki itu menatap kedua gadis di hadapannya. Ia tahu kalau Haejin ada di tempat ini. Dan ia tahu kalau Soojung sengaja memanggilnya untuk mempertemukan mereka.

“Kau tidak apa-apa?” Jongin menghampiri Soojung dan membelai rambut gadis itu dengan lembut. Lelaki itu mencoba tak mengacuhkan kehadiran Haejin untuk sesaat. “Ayo, akan kubawa kau ke rumah sakit.”

Soojung mengangguk dan menuruti perkataan Jongin. Gadis itu menengok kearah Haejin yang masih diam. “Haejin-a, ayo pergi.”

Suasana semakin hening dan dingin ketika Soojung menggandeng tangan Haejin dengan erat. Haejin bisa merasakan sebuah rasa dingin yang menjalar tubuhnya ketika Soojung memegang tangannya. Soojung bukan tipe orang yang banyak omong. Gadis itu hanya akan menunjukan apa yang sedang ia rasakan dengan berbagai perbuatan. Haejin tahu maksud dari setiap perbuatan yang Soojung lakukan—termasuk perbuatannya kali ini. Soojung seakan sedang mengujinya. Seperti seorang anak yang melakukan kesalahan, Haejin tak mampu menatap Soojung maupun Jongin. Jika ia bisa menghilang saat itu juga, ia ingin menghilang untuk selamannya.

Haejin membantu Soojung berdiri ketika suasana menjadi semakin canggung dan dingin. Gadis itu memegang pundak Soojung dengan lembut. Namun Haejin merasakan sebuah kehangatan ketika sebuah tangan menyentuh lengannya di balik punggung Soojung. Haejin memberanikan diri mengangkat kepala dan menengok kearah Jongin yang tepat berada di sisi kanan Soojung. Jongin tersenyum padanya. Senyuman yang entah mengapa bisa menghangatkannya.

Untuk saat ini, ia rasa akan mencoba menyukai musim dingin dan merasakan hangat seperti di musim panas. Meski ia tahu kehangatan itu hanya bertahan untuk sesaat. Ia harus segera mengakhiri perasaan ini. Dan juga mengakhiri musim dingin yang membuatnya semakin tersiksa. Ya, semuanya memang sudah harus di akhiri meski sebagian dirinya mengatakan tidak.

END

18 pemikiran pada “Goodbye Winter

  1. Nyesek. Galau. Kampret sekali kau thor:’D ternyata jonginnya syg sama soojung toh bukan sama haejin.. Ffnya nice! Keep writing thor~~~~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s