Na Na Na

securedownload

Na Na Na

Author : indahwonwon | Genre : Fluff, Teen, Romance | Length : Oneshot

| Rating : PG-16 | Main cast : Meifan (OC), Wu Yifan (EXO’s Kris) |

Author’s Notes :

Annyeooooooooong~ aku baru muncul lagi setelah sebulan ga nulis. Dari seluruh isi draft yang berhasil selesai baru tulisan ini, masih ada setumpuk tulisan lagi yang aku gatau juga kapan bakal rampung huhuhu 😥

Mohon maaf juga buat penggunaan kalimat asing aku kalo ternyata ada yg salah J

Happy reading fellows reader-nimLike usual, I need your comment because your comment like Oxygen, guys. And don’t be a silent reader please ^^

Enjoy!!

.

.

.

Na Na Na

 

“Mei, where are youAre you homie?”

Mungkin terdengar menggelikan, kenapa Kris harus bertanya Mei dimana dan apakah ia berada di apartemennya padahal Kris sudah berdiri di ruang tengah apartemen milik Mei. Pertanyaan itu muncul di otak Kris beberapa saat setelah ia membuka lalu menutup kembali pintu apartemen. Sudah hampir lima belas menit ia menekan bel dan sama sekali tak ada yang membukakan jadi tak ada pilihan selain masuk sendiri, lagi pula ia tahu kunci kode pengamannya─ kombinasi tanggal lahir mereka berdua.

Pemandangan yang pertama kali menyapa penglihatannya adalah apartemen yang lebih berantakan di banding kapal titanic yang karam, atau lebih porak-porandah di banding Hiroshima-Nagasaki yang di jatuhi bom atom.

What happen with her?” Kris malah mengajukan sebuah pertanyaan entah pada dirinya sendiri atau udara kosong di sekelilingnya. Karena tak biasanya Mei membiarkan apapun berantakan. Ia paling benci hal yang tidak beraturan. Misalnya saja, Kris selalu mendapat omelan dari Mei karena selalu lupa menggulung kembali kabel charger PSP dan meninggalkannya begitu saja di dekat tv. Padahal itu hal kecil─ setidaknya menurut pemikiran Kris.

Baby,” Kris kembali memanggil Mei kali isi dengan sedikit berteriak.

“Kriiiiis, Yeogi! Tolong aku,” Akhirnya suara Mei terdengar. Suaranya berasal dari arah ruang belakang.

 

Kris muncul di depan pintu ruang belakang atau lebih tepatnya ruang gudang. Mei sendiri sedang sibuk membuka kardus-kardus berukuran besar yang entah apa isinya.

“Kau sedang mencari apa, baby?”

Everything about zoo or animals, ahhh kris help me!” Mei berhenti sejenak dari kesibukannya, menatap sekilas pada Kris sedetik kemudian menggeram sambil mengacak rambutnya gusar.

AnimalsWhat for?”

“Untuk XiaoLing,”

“Maksudmu bocah kecil yang sedang sibuk mencoreti buku-buku sketch milikmu di ruang tengah?” Kris menunjuk dengan arah pandangannya.

OMO! XiaoLing!”

Headline news dari Kris membuat Mei melupakan pekerjaannya barusan. Ia langsung menghambur berlari menuju ruang tengah dan benar saja si kecil XiaoLing yang tengah asik menyapukan spidol, crayon, dan pena tinta secara bergantian ke atas sebuah buku atau lebih tepatnya buku sketch milik Mei, salah satu harta berharga Mei selain kumpulan novel fantasinya.

“XiaoLing, kemana kertas-kertas milikmu? Kenapa kau mencoret buku-buku itu?” Mei berusaha menanyai gadis kecil ini dengan lembut, menyembunyikan air matanya yang sepertinya akan jatuh. Bagaimana tidak, nyaris setengah hasil sketch miliknya sudah tak berbentuk lagi.

“Aku suka buku ini, lebih cantik daripada kertas milikku,” Jawaban polos itu semakin membuat hati Mei mencelos. Bagaimana mungkin ia bisa marah pada gadis kecil yang berusia tidak lebih dari tiga tahun. Mei hanya bisa terduduk pasrah di depan XiaoLing. Menatap nanar buku sketch yang lembar per lembarnya mulai ditutupi beraneka warna dari crayon.

Babygwaenchana?” Kris menyentuh pundak itu pelan. Gadisnya seperti diselimuti awan sebelum hujan. Ia tahu pasti buku sketch itu penyebabnya.

“Bukunya─”

Kris paham dan mulai menepuk-nepuk puncak kepala Mei lembut, ia tahu Mei sendang berusaha keras untuk tak menangis. Entah mengapa ia menjadi geli sendiri, jarang-jarang sekali bisa melihat gadisnya serba salah seperti sekarang.

Sepertinya sentuhan Kris bukannya membuat Mei lebih baik tetapi semakin mendesak air matanya yang sudah susah-susah ia tahan.

“Boleh aku menangis sekarang?”

Kris sambil tertawa menarik Mei kedalam pelukannya. Membiarkan gadis itu menangis dengan idiot.

“Aakhh! Kenapa kau menggigitku?”

 

.

.

.

 

“Bisa jelaskan siapa bocah kecil yang lucu ini?” Kris menunjuk ke arah XiaoLing setelah Mei puas dengan tangisan bodohnya.

“Dia anakku,”

“Anakmu─ WHAAAT? Anak katamu? YA! Kau berselingkuh di belakangku baby?”

Mei malah memukul kepala Kris dengan lengannya.

“Ya! Jangan berteriak-teriak seperti di hutan Kris,”

“Kau yang mulai, bagaimana bisa. XiaoLing anakmu, sejak kapan? Aku tak pernah menghamilimu─”

“Ya! Ya! Ya! Byuntae,” Sekali lagi pukulan mendarat di kepala Kris.

“XiaoLing anakku untuk sehari ini, mengerti?”

Kris mengangguk paham sambil mengusap kepalanya yang mendapat serangan ganda dari Mei.

“Tetapi bagaimana bisa?”

JieJie yang menitipkan XiaoLing padaku sejak pagi tadi, ia ada urusan hingga tengah malam nanti.”

“Tunggu, seingatku kau anak tunggal. Jadi mana mungkin kau punya kakak?”

“Ibu XiaoLing itu kakak sepupuku. Kau ingat mug kesayanganku yang bergambar panda, itu pemberian dari ibu XiaoLing,” Sekali lagi Kris hanya mengangguk paham.

 

“Jadi, bantuan seperti apa yang kau butuhkan dariku?”

“Begini, semenjak pagi XiaoLing sudah merajuk. Bahkan ia tak mau menyapaku. Dan aku baru tahu alasan mengapa ia merajuk karena ia ingin ke kebun binatang.” Mei sedikit berbisik ke arah Kris agar percakapan mereka tak dapat di dengar oleh bocah kecil yang masih sibuk menggambar di atas buku sketch milik Mei.

“Oh hanya itu,”

“Hanya itu katamu, kau gila! Aku bahkan sampai menangis karena bocah lucu ini bahkan tak mau bermain bersama auntynya hanya karena aku lupa menepati janji yang pernah kami buat.”

“Kau bisa mengajaknya berjalan-jalan hari ini kan, jadi janjimu akan impas.”

“Di cuaca seperti ini tuan Wu Yifan? Kau ingin membuat flunya bertambah parah karena berjalan-jalan di luar dengan cuaca sedingin ini. Kalau ia jatuh sakit ibunya bisa membunuhku karena anak kesayangannya sakit saat bersamaku,”

“Kenapa kau jadi marah-marah padaku?”

“Aku tak marah-marah, aku hanya─ aku hanya..”

“Kau hanya lelah, aku tau baby,”

“Kris..”

“Hmm?”

“Apa yang harus aku lakukan?”

Kris terlihat berfikir, dan Mei hanya bisa menunggu ide apa yang akan tercetus dari seorang Wu Yifan.

“Tunggu sebentar, aku akan segera kembali. Aha! Jangan lupa peralatan menggambar milik XiaoLing. Lima belas menit, ok?”

Kris langsung melesat meinggalkan Mei dan XiaoLing yang masih sibuk menggambar yang entah apa dengan spidol dan crayon warna-warni miliknya.

Mei hanya bisa pasrah dan mengikuti saran Kris untuk menyiapkan segala perlengkapan bocah lucu yang sukses membuatnya menangis bodoh beberapa saat yang lalu.

“XiaoLing, jangan kemana-mana. Jika kau butuh sesuatu aunty ada di kamar. Mengerti?”

Bocah kecil itu bahkan tak menggubris sama sekali ucapan Mei. Dan Mei, ia semakin merasa bersalah saja.

 

.

.

.

 

Benar saja, tepat lima belas menit kemudian Kris muncul kembali di apartemen milik Mei dengan dua tumpuk kardus berukuran cukup besar yang ia bawa dari dorm seperti katanya.

“Aku akan menyiapkannya, sekarang kau bisa membujuk XiaoLing ke ruang belakang. Ok?”

“Tapi Kris─”

“Mei, ini pasti berhasil. Kau hanya perlu percaya padaku.”

Mei menghela napas panjang, mengulas sebuah senyuman dengan paksa ke arah Kris.

“Baiklah, aku percaya padamu.”

Kris mendaratkan sebuah kecupan singkat di pipi kanan Mei, sebelum mendorong gadis itu keluar dari kamar.

“Sudah sana, cepat bujuk XiaoLing!”

“Ayay! Captain!”

 

“XiaoLing, lihat apa yang aunty pegang. Tada!” Mei memperlihatkan sebuah peralatan menggambar yang memang ia persiapkan untuk keponakan lucunya ini. Bergambar siluet Barbie berwarna soft pink, favorit XiaoLing.

“Sayang, jangan merajuk lagi pada aunty ya. Maaf karena aunty hampir ingkar janji padamu. Aunty ingin menunjukkan sesuatu padamu. Kau mau kan ikut bersamaaunty?”

XiaoLing masih saja mengacuhkan Mei, sibuk menyapukan crayon berwarna kuning di atas kertasnya.

“Aku tidak mau, aunty.”

“Kenapa sayang?”

“Aku tidak mau kalau bersama auntyaunty bohong padaku.”

“XiaoLing─”

Bahunya merosot lunglai saat XiaoLing menolak jika bersama Mei. Ternyata keponakan lucunya ini sedang dalam tingkat merajuk diatas normal, benar-benar di luar dugaan Mei karena ia pikir anak kecil akan dengan mudah lupa dengan sesuatu. Ternyata hipotesisnya salah besar.

“Bagaimana kalau bersama shushu?” Kris muncul dengan dua buah lollipop tepat beberapa saat setelah XiaoLing menolak Mei.

Tanpa diduga, XiaoLing beranjak dan langsung berlari ke arah Kris. Dengan senang hati Kris sedikit menunduk untuk membawa bocah kecil itu kedalam gendongannya.

“Untukmu. Anak baik, kau siap dengan kejutannya?”

XiaoLing mengangguk antusias. Bahkan kedua makhluk itu bisa dengan sangat mudah menjadi akrab. Padahal Mei sama sekali belum memperkenalkan XiaoLing pada Kris ataupun sebaliknya.

Shu kenapa rambutmu berwarna coklat seperti boneka beruangku?” Pertanyaan lucu itu muncul begitu saja dari bibir bocah kecil itu.

“Hmm.. karena, Kris shu suka sekali makan coklat. Jadi XiaoLing jangan suka makan coklat atau rambutmu juga akan berwarna coklat seperti Kris shu,”

“Tapi Kris shu, aku suka sekali coklat.”

“Mungkin kau masih bisa memakannya satu atau dua keping,”

“Kalau aku makan tiga keping apa rambutku juga akan berwarna coklat?”

“Sepertinya tiga tidak apa-apa, baiklah kau boleh makan tiga. Ingat! Jangan lebih, mengerti?”

Bahkan dengan jawaban mengarang dari seorang Kris bisa membuat XiaoLing tertarik dan mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Mei kembali tersenyum mendengar percakapan kecil antara kekasihnya dan keponakan kecilnya yang begitu konyol.

 

.

.

.

 

“Bagaimana kau suka kejutanmu?”

“Apa ini Kris shu?” XiaoLing turun dari gendongan Kris tapi masih sambil menggandeng sebelah tangannya. Mereka bertiga berada di ruang belakang. Seluruh bagian dinding sudah dilapisi kain-kain putih berukuran besar, di atas meja juga terdapat beberapa kuas lukis, bermacam-macam warna cat air, spidol warna-warni juga tiga buah apron.

“Karena kau sedang flu jadi kita akan buat kebun binatang disini, kau mau?”

“Aku mau!!” Bocah kecil itu terlihat begitu antusias.

“Nanti saat kau sudah sembuh, aunty Mei pasti mengajakmu jalan-jalan,”

Xie xie Kris shu,”

“Aha, seharusnya terima kasih pada aunty Mei.”

Xie xie aunty,”

“Ha? Oh, kau senang sayang?”

Bocah lucu itu hanya mengangguk antusias, dengan senyum polos yang sukses membuat Mei detik itu ingin sekali mencubitnya.

“XiaoLing, sini aunty pasangkan apron untukmu.” Mei memasangkan sebuah apron kecil bergambar kelinci untuk XiaoLing.

“Aku juga mau memasangkan apron untuk aunty,”

“Oh benarkah? Kalau begitu ayo pasangkan untuk aunty,” Mei berjongkok di depan XiaoLing lalu menyerahkan apron miliknya. Gadis kecil itu mengalungkan tali apron ke leher Mei lalu berlari kecil ke belakang Mei berusaha menyimpul talinya.

“Terima kasih sayang,” Mei mencubit pelan pipi XiaoLing, walaupun hasil simpulan talinya tidak seperti yang di harapkan tetapi Mei cukup bangga dan tentunya sangat senang karena akhirnya keponakan kecilnya sudah tidak merajuk lagi padanya, dan ini berkat bantuan Kris.

“Hei, problem solve right?”

Thank you Kris, without you I can’t imagine what will happen between me and that little cuttie pie.

“Bahkan anak kecil sekalipun tak bisa menampik aura ketampananku, lihat XiaoLing. Ia bisa dengan mudah akrab denganku,”

“Idiot, kau curang! Apa maksudnya dua buah lollipop itu. Kau menyogoknya kan?”

“No, I’m not. Itu namanya taktik pendekatan. Yang terpenting aku berhasil membujuknya kan,”

Mei walaupun sedikit geram dengan tingkat percaya diri Kris yang melebihi batas namun ia juga setuju dengan apa yang Kris ucapkan. XiaoLing memang berhasil di bujuk bahkan ia sudah tak merajuk lagi pada Mei.

I will do everything that make you smileI don’t want to see your blue.”

Thank you, Kris.”

Kris tak perlu membalas ucapan terima kasih Mei dengan kata-kata atau rayuan, sebuah senyuman yang terlihat bodoh seperti yang Mei sering katakan sudah menjawab semuanya.

Baby, aku juga mau di pasangkan.”

Baru sedetik yang lalu Kris bersikap sedikit lebih dewasa dan jujur saja Mei sampai di buat terharu tapi untungnya belum sampai meneteskan air mata. Tapi itu hanya bertahan sebentar, dan Kris sudah kembali bertingkah bahkan nyaris sama seperti XiaoLing.

“Kesinikan apronmu, dan menunduk. Kau ingin mengejekku karena aku hanya sebatas bahumu?”

Kris menurut. Ia sedikit menunduk agar Mei bisa dengan mudah mengalungkan apronuntuknya.

Xie xie!”

Mei memang sering kalah cepat. Kris sudah melesat ke arah XiaoLing setelah mengecup singkat pipi kiri Mei. Dan selalu saja hal-hal mengejutkan dari seorang Kris sukses membuat Mei bersemu.

 

.

.

.

 

Ketiganya sekarang sedang sibuk menyapukan cat air warna-warni menggunakan kuas atau langsung menggunakan tangan di atas kain putih yang melapisi permukaan dinding. Menggambar kebun binatang seperti yang mereka janjikan pada XiaoLing.

Untuk urusan menggambar, Mei tak perlu di ragukan lagi. Hampir satu bagian dari kain putih di permukaan dinding sudah berisi gambar jerapah, kuda, kelinci, kangguru dan singa. Dan Kris. Siapapun tahu bahkan ia dengan sangat percaya diri memanggil dirinya Kriscasso. Kris juga sering dengan diam-diam menggambar karya luar biasanya di buku sketch milik Mei.

“XiaoLing coba lihat apa yang Kris shu buat,”

Bocah kecil itu berhenti sebentar dari kesibukannya membuat coretan-coretan, lalu berjalan ke arah Kris.

Shu kau sedang membuat gambar apa?”

“Coba tebak ini hewan apa,”

“Itu ayam!” Jawaban polos penuh semangat itu terlontar dari XiaoLing.

“Bukan, ini naga. Coba lihat sayapnya, juga tanduknya. Ini naga, sayang.” Bocah itu hanya mengangguk paham.

Shu, apa di kebun binatang ada naga dan cicak?”

“Entahlah, Kris shu sudah lama sekali tidak kesana, kenapa?”

“Kalau mereka tidak ada kenapa shu menggambar naga dan cicak? Kita kan sedang membuat kebun binatang.”

“Sayang, ini bukan cicak. Ini buaya, coba lihat gigi-giginya yang tajam. Juga punggungnya yang berduri-duri.” Dan sekali lagi XiaoLing mengangguk-angguk paham dengan penjelasan Kris.

Shu, aku ingin burung hantu! Buatkan aku gambar burung hantu disini.” XiaoLing menunjuk bagian kosong di atas kain putih yang masih tersisa. Kris mulai menyapukan kuas lukis menggambar burung hantu seperti permintaan XiaoLing. Dan mungkin XiaoLing akan kembali mengajukan pertanyaan mengenai hewan yang Kris gambar apakah itu benar-benar burung hantu atau alien.

“Kris bisakah kau berhenti meracuni keponakanku dengan gambar-gambar itu, bisa-bisa ia beranggapan badak memang berbentuk seperti yang sudah kau gambar. Aku bahkan tak yakin itu badak atau siluman kuda nil.”

“Zhang Meifan, lupa dengan boneka pemberian dari fans berbentuk gambar yang ku buat? Kau bahkan pernah meminta satu yang berbentuk naga, lupa?”

“Itu terlihat berkali lipat lebih baik saat fansmu yang membuatnya,”

“Kenapa kau selalu mengejek karyaku?”

“Sayang, aku tidak mengejek aku hanya bilang mereka terlihat lebih baik saat fansmu yang membuatnya,”

Cat air berwarna biru sukses mengotori bagian depan pakaian Mei dan itu ulah Kris.

“Kenapa kau melemparku?”

“Ups, aku tidak sengaja. Catnya jatuh dari tanganku,”

Mei yang kesal membalas perbuatan Kris, tidak hanya mengotori t-shirt milik Kris dengan cat air merah muda tapi juga mencoret wajah Kris dengan sisa-sisa cat air yang melekat di tangannya.

“Ya! Baby kau mengotori wajahku,”

“Ups, aku tidak sengaja. Tadi ada kotoran di wajahmu jadi aku hanya bantu membersihkan,”

Ribut-ribut mereka berdua malah berakhir menjadi saling lempar dan saling coret dengan cat air. Ruangan yang memang sudah berantakan menjadi semakin berantakan dengan tumpahan-tumpahan cat air ulah mereka berdua. XiaoLing yang awalnya masih sibuk menggambar di atas kain terusik kesibukannya setelah mendengar keributan dari shushu dan auntynya.

Aunty─”

Mei dan Kris mematung saat mendengar suara XiaoLing. Mereka berdua benar-benar terlihat sangat bodoh. Pakaian yang sudah kotor terkena cat air juga wajah dan tangan yang kotor berlumur cat.

“Ya sayang, kenapa?” Mei sedikit berjongkok agar sejajar dengan keponakannya.

XiaoLing kecil tiba-tiba saja menempelkan telapak tangannya ke wajah Mei. Menambah noda cat di wajah Mei.

“Aku ingin ikut main bersama aunty,”

Senyuman simpul dari Mei menjadi jawaban persetujuannya. Ketiganyapun berakhir dengan saling mencoretkan cat air atau melempar cat air. Membuat tak hanya ruangan dan pakaian mereka saja yang semakin kotor tapi juga cipratan dari cat air mengenai kain yang berisi lukisan kebun binatang mereka.

“Bagaimana kalau kita berfoto dulu?”

Kris mengeluarkan ponsel dari kantung jeansnya. Mereka bertiga mulai mengatur posisi, Kris berada paling depan sambil memangku XiaoLing, sedangkan Mei di samping Kris.

ReadySay Cheese!!”

Beberapa potret mereka bertiga yang berhasil di abadikan, berantakan karena cat air juga dengan ekspresi-ekspresi aneh yang sengaja di buat.

“Kris jangan simpan yang itu, aku jelek sekali!”

 

.

.

.

 

“Kau senang hari ini sayang?”

“Iya, aku senang. Terima kasih aunty,” Mei sedang sibuk memandikan XiaoLing. Mengusapkan shampoo aroma buah ke rambut sebahu XiaoLing.

Pintu kamar mandi terbuka dan Kris muncul masih dengan pakaian juga wajah yang kotor dengan cat air. Ia keluar dari ruang belakang paling akhir karena bertugas membereskan kekacauan itu.

“Hei aku sedang memandikan XiaoLing. Kau keluar dulu Kris, kalau kau ingin memakai kamar mandi tunggu sampai aku selesai dengan XiaoLing,” Mei membuat gerakan seperti mengusir ke arah Kris, tetapi Kris sama sekali tak menanggapi ucapan Mei.

“Aku harus cuci muka sekarang baby,”

“Di dapur saja Kris,”

“Aku tidak mau,”

“Kriiiis!!”

Mei menyerah dengan Kris yang keras kepala lebih dari apapun. Membiarkan Kris ikut memandikan XiaoLing. Padahal tadi ia bilang harus segera mencuci muka tapi nyatanya ia malah ikut sibuk memandikan XiaoLing. Alibi yang cerdas.

“Kris shu aku saja yang bersihkan wajahnya,”

Kris dengan senang hati membiarkan bocah kecil itu membersihkan wajahnya, membalurkan sabun wajah ke seluruh wajah Kris yang kotor terkena cat air.

“XiaoLing hati-hati lantainya licin,” Si kecil XiaoLing sudah lebih dulu berlari kecil meninggalkan kamar mandi hanya menggunakan handuk.

“Kris kau ganti baju saja dulu, kebetulan bajumu yang waktu itu tertinggal sudah aku cuci. Aku ambilkan pakaian gantimu setelah aku selesai mengurusi XiaoLing, ok?”

“Baiklah, terserah apa kata istri tercintaku ini.”

“Wu Yifan jangan mulai, I’m not your wife.”

“Belum. Tapi akan segera jadi istriku,”

“Kriiiiis─”

Yesmommy?”

“Aku bukan ibumu,”

“Tapi kau yang akan jadi ibu dari anak-anak kita nanti, baby.”

Dan sekali lagi Kris sukses telak membuat Mei bersemu seperti tomat ceri, sekaligus berhasil membungkam gadisnya hingga tak bisa lagi membalas argumen Kris.

Mei yang berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah langsung berbalik meninggalkan Kris yang sibuk mengulum senyumannya.

“Sudah sana cepat ganti baju, aku akan taruh pakaian gantimu di atas meja.”

 

“Selesai!” Mei baru saja selesai mengurusi keponakan kecilnya. Memakaikan pakaian, memoleskan baby powder juga menyisir rambutnya.

Aunty, aku mau susu!”

“Oh kau lapar sayang?” Mei melirik jam di meja belajarnya. Benar saja sekarang sudah hampir sore dan mereka belum makan siang. Pantas saja keponakan kecilnya ini kelaparan.

“Tunggu sebentar, ok? Aunty buatkan susu juga makan siang kita yang tertunda.”

Mei langsung melesat menuju dapur, berkutat membuat susu botol untuk keponakannya ini. Secepat mungkin kembali ke kamar mengantarkan botol susu pada XiaoLing yang sepertinya akan rewel kalau sampai Mei terlambat membuatkannya susu.

“XiaoLing, aunty akan ada di dapur setelah ini. Jadi kalau kau butuh apapun panggil saja aunty atau cari aunty di dapur, mengerti?”

Bocah kecil itu mengangguk paham sambil menyantap susu botolnya.

 

.

.

.

 

Kris baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. Ia keluar dari dalam kamar mandi masih dengan handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut.

Ia tahu Mei pasti di dapur, terdengar dari suara gaduh yang ia yakini Mei yang sedang sibuk memasak.

“Kau masak apa baby?” Kris yang muncul tiba-tiba di belakang Mei dan langsung memeluknya hangat.

“Astaga Kris! Kenapa kau suka sekali mengagetkanku?”

“Karena aku suka melihat ekspresi terkejutmu. Hei kenapa kau belum ganti baju?” Kris masih saja bergelayut manja pada Mei. Kali ini melingkarkan kedua lengannya di bahu Mei.

“Bagaimana bisa aku mengurus keperluanku dulu sedangkan aku harus mengurusi dua bayi sekaligus hari ini,”

“Maksudmu dua─”

“Iya, XiaoLing dan kau. Dua bayi yang harus ku urus hari ini.” Mei masih sambil sibuk memotong sayuran dengan Kris yang juga masih saja memeluknya dari belakang.

“Aku merasa seperti memiliki keluarga kecil saja. Aku seperti suami yang lelah sehabis pulang bekerja lalu kau istri tercintaku yang sedang sibuk memasak untuk makan malam, oh iya juga seorang anak perempuan yang lucu. How cute!”

“Yifan, menyingkirlah agar aku bisa dengan cepat menyelesaikan memasak makanan ini,”

“Jadi kau keberatan kalau aku bermanja-manja padamu? Yasudah aku bermanja-manja pada Stella saja!”

“Yasudah sa─ HEI! Apa maksudmu bermanja-manja pada Stella? Kenapa kau jadi membahas dia, kau menyebalkan!” Mei paling kesal kalau Kris mulai membuat lelucon membawa-bawa nama perempuan yang pernah membuat hubungan mereka berdua memburuk dan hampir berakhir. Ia tahu maksud Kris hanya ingin membuat lelucon sekaligus memancingnya cemburu tapi ia sebal saja. Kekasih mana yang tak sebal jika dalam pembicaraan mereka ada nama perempuan lain yang bahkan hampir menyebabkan hubungan mereka rusak.

“Ahh! Baby, jangan merajuk. Yasudah aku ke kamar saja menemani XiaoLing daripada aku disini membuatmu kesal,” Sebelum Kris meninggalkan Mei sendiri di dapur ia menyempatkan mencuri ciuman dari Mei dan langsung melesat menuju kamar.

“Wu Yifan!!!”

 

Kris memilih menemani XiaoLing yang baru saja selesai menghabiskan susunya.

“Hei, mau Kris shu bacakan cerita?”

“Aku mau! Kris shu bacakan aku cerita ini!” XiaoLing langsung saja menyerahkan sebuah buku cerita bergambar miliknya pada Kris. Kemarin lusa ia bersama ibunya baru saja membeli buku cerita dan akhirnya ia menemukan seseorang yang bisa membacakan cerita itu untuknya.

“Baiklah, ayo kemari duduk di dekat Kris shu,”

Mereka berdua langsung mengatur posisi, duduk bersandar pada kepala tempat tidur dengan XiaoLing berada dalam dekapan Kris. Kris memposisikan buku cerita itu di pangkuannya sehingga mereka berdua bisa melihatnya.

“Pada suatu hari di negeri para peri hidup seorang peri kecil yang selalu bersedih, ia selalu bersedih karena ia tak memiliki seorang sahabat. Ia bahkan sering merasa iri pada peri lainnya yang mempunyai sahabat yang bisa di ajak bermain atau melakukan hal-hal lain bersama. Hingga pada suatu siang─”

Kris menghentikan ceritanya saat ia merasakan berat pada sebelah lengannya. Benar saja bocah kecil itu sudah tertidur. Pasti ia kelelahan setelah bersenang-senang seharian. Kris menyingkirkan bantal yang menjadi sandarannya sepelan mungkin menggunakan sebelah tangan yang bebas. Membiarkan XiaoLing tidur sambil memeluknya. Kris takut XiaoLing tiba-tiba terbangun kalau ia mengubah posisi tidur bocah kecil itu.

Menemani XiaoLing tidur siang ternyata membuat Kris ikut mengantuk pula dan akhirnya ia ikut terlelap bersama XiaoLing. Keduanya sudah sibuk di alam mimpinya masing-masing. Tenang dan lelap.

“Makanannya sudah selesai─” Mei menggantung kata-katanya saat menemukan dua orang yang ia sayang sedang terlelap dengan damai. Ia tak menyangka dua makhluk yang sama keras kepalanya bisa secepat ini menjadi akrab.

Ia teringat sesuatu dan langsung mengambil kamera polaroidnya di laci meja. Secepat mungkin mengabadikan momen langka itu. Dimana Kris dan XiaoLing terlelap dengan polosnya.

“Kau benar-benar terlihat seperti seorang ayah, Kris.” Mei bergumam sambil mengibas-ngibaskan kertas filmnya. Lalu mengantung hasil potretnya di dekat meja belajar.

“Selamat tidur peri kecil,” Sebuah kecupan hangat di kening dari Mei untuk XiaoLing.

“Selamat tidur sayang,” Juga sebuah kecupan hangat di kening untuk Krisnya.

Akhirnya tugas-tugas itu selesai, setelah memilih pakaian ganti dari dalam lemari Mei langsung menghilang masuk ke dalam kamar mandi. Ia butuh membersihkan diri setelah nyaris seharian ia berkutat dengan kesibukannya.

 

.

.

.

 

Baru sepuluh menit yang lalu Mei keluar dari kamar mandi bahkan ia masih mengenakan handuk di atas kepala, ponselnya sudah berdering.

“Halo? Oh, Jie ada apa?” Penelpon di seberang tidak lain adalah ibu XiaoLing.

“Jadi jie tak bisa pulang malam ini, baiklah aku tak keberatan XiaoLing menginap di tempatku hingga besok. Sampai jumpa Jie, hati-hati di jalan.”

Mei menutup sambungan lalu menghela napas. Hari ini akan jadi malam yang panjang antara ia dan keponakan kecilnya. Mereka bisa melakukan banyak hingga besok hari. Atau mungkin untuk mereka bertiga jika Kris ingin tinggal untuk menginap jika ia tak keberatan.

 

.

.

.

 

Kkeut!

Oke, thanks for reading my story till the end guys. Hope you enjoy it ^^

Jangan jadi siders ya guys ^^

Komentar, kritik dan saran yang membangun dari seluruh reader-deul sangat ditunggu.

*deep bow*

Iklan

78 pemikiran pada “Na Na Na

  1. Jadi terharu.. Jadi pengen nikah *eh!!*
    Maksudnya kris sama meifan nikah gtuuuu heheee..
    E tapi jangan dulu, so sweet2an aje dulu ampe puas wkwkwk
    Tetep keren as always thor..
    Tp yg inii yaaduuhh yaampuun, harmonis lucu2 gtu deehhh. Deeuuhh, gemesss.. 😀

    • kris mei belum mau nikah dulu, lagian mei belom lulus sekolah belum lanjut kuliah belum cari kerja terus kris juga lagi sibuk cari duit buat biaya nikah(?) sama mei wkwkwkwk
      tapi di beberapa series kedepan bakal ada kejutan kok :3 semoga kaget yaaaaa xD
      keep waiting~~

    • halloooooo~~ thankyou for reading ya ^^ /blushing/
      demi apa aku masih agak speachless kok bisa krisnya ga ooc, padahal rasanya aku udh menistakan karakter dia deh wkwkwk :3

  2. Kalo baca ini rasanya pengen senyum
    Karakter kris di sini kaya karakter pria idaman
    Kisah cinta yang dibawa simple tapi sweet banget
    Jadi pengen punya pacar #lho?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s