Cynicalace (Chapter 4A)

Title : Cynicalace

Author : NadyKJI & Hyuuga Ace

Length : Chaptered

Genre : Romance, Comedy, Friendship

Rate : G

Main Cast :

Jung Re In (OC)

Geum Il Hae (OC)

Park Chanyeol (EXO)

Kim Jong In (EXO)

Disclaimer: Annyeong, ff ini adalah murni hasil pemikiran author yang kelewat sangat tinggi, dilarang meniru dengan cara apapun, don’t plagiator. Gomawo #deepbow.

Summary :

Aku tidak membencimu. Aku hanya tidak ingin berurusan lagi denganmu. Tapi mengapa kau selalu hadir di sekitarku layaknya modul akuntansi yang selalu kubawa setiap hari. Wajahmu mengangguku tapi aku mulai merindukannya ketika wajah itu menghilang dari keseharianku. Oh, menyebalkan.

Jung Rein–

Aku tidak sudi, aku tidak sudi, aku tidak sudi! Dia menyebalkan, cuek, dan dingin. Tapi… terkadang dia baik juga walau dengan muka datar, terlihat tulus, dilihat-lihat juga ia lumayan.. bukan, tampan… Argh! Aku menyerah, sepertinya karma itu berlaku.

Geum Ilhae–

Sama seperti panggilannya, yeoja itu memang kelewat bodoh. Sialnya, karena terbiasa menjadi dampak dari perilakunya, aku menjadi terbiasa untuk selalu hadir di sisinya. Namun entah mengapa aku merasakan keberadaanya bagaikan pelangi dalam keseharianku yang hanya dihiasi dua warna – hitam dan putih.

Kim Jong In–

Melihat wajah seriusnya, merasakan kesinisannya padaku. Itulah makanan keseharianku karena ulahku sendiri. Well, kau memang bodoh dan gila jika bersangkutan dengan yeoja itu. Kau terlalu gila Park Chanyeol.. tapi, aku tidak keberatan gila untuknya. It’s a pleasure.

Park Chanyeol–

Author’s Note:

Alohaaa~ *nari” Hawaii (?) Author bahagia sekali karena banyak yang comment di chapter- chapter sebelumnya. Maapkan blm bs bales satu” commentnya, karena online dari hape yang lemotnya ajudubilah (?) itu menyiksa*bahasa apa ini XD. Makasih juga buat yang udah baca FF ini.. yg udh comment sekaligus Silent Readers ^^

Chapter 4 ini kebagi ke dalam 2 part yahhhh~ Dan inilah chapter 4-A nyaaa *pasang backsong tepuk tangan (?) di chapter ini akan muncul karakter baru yang cukup menyebalkan.. wkwkw.. smga pada sabar baca karakter dia yah.. karena kedua author yang nulis FF ini juga sdikit empet ama sifatnya yang Queen Wannabe abiss.

Wakaka, segini ajah cuap- cuap author di edisi ini… gomawo buat admin exo ff yang udh ngepost ff yg cukup absurd ini.

HAPPY READING~

___

-:Ilhae’s PoV:-

Ilhae!”

Aku berjalan cepat menuruni tangga. Baru saja berumur tiga hari aku mendapatkan ponselku dari keadaan mati total. Eomma yang telak seperti tebakanku meneleponku saat ponselku tidak berada di tanganku dan langsung mengamuk tepat ketika aku mengangkat teleponnya pada dering pertama. Sehingga aku harus bersusah payah memberikan alasan yang lebih masuk akal daripada ‘ponselku terbawa oleh namja asing teman Rein’ sudah pasti bukan hanya aku saja yang akan digantung oleh eomma, Rein dan Kai yang secara langsung tidak langsung terlibat akan kena getahnya. Jadi memilih jalan aman aku hanya memberitahukan kalau aku lupa menyimpan charger ponselku dan ponselku mati dengan mengenaskan.

Ya! Ilhae Chankaman!”

Sudah dengan hampir setiap menelepon eommaku, dengan hobi barunya – mengomeli tentang tragedi ‘ponsel missing in actionku’, dan baru-baru ini ada seseorang yang memiliki pekerjaan baru. Yaitu mengikutiku dan menjadikanku serasa artis yang dikejar paparazi. Tapi melainkan paparazi yang berusaha mengorek kehidupan pribadi artis tersebut, paparazi versiku ini menginginkan segala informasi tentang sahabat kentalku Jung Rein. Sudah pasti paparazi versiku ini adalah Park Chanyeol.

GEUM ILHAE!”

Suara yang sudah aku coba abaikan sejak entah kapan itu berteriak dan membuatku terlonjak. Yang puji demi apapun hampir membuatku terpeleset dari tangga batu yang sedang aku lalui. Setelah aman sentosa di akhir tangga, baru aku berani berbalik sambil berkacak pinggang. Mataku melirik tajam pada Chanyeol yang sudah pasti menahan tawa tetapi pada akhirnya ingin tersenyum bahagia karena aku akhirnya menghiraukannya – membuatnya menjadi wajah tersenyum tawa abstrak abad ini.

Tunggu! Jangan pergi dulu. Aku masih ingin bertanya…”

Mengurut dada dalam hati aku menunggu Chanyeol mendekat untuk melakukan tugasnya – mengorek informasi tentang Rein sahabatku – yang menurutku agak kasihan karena disukai oleh Chanyeol yang well, agak miring otaknya.

Jadi apakah aku tahu kenapa kelihatannya Rein dan Kai begitu dekat?”

Aku menggeplak jidatku akan pertanyaannya yang sudah entah keberapa puluh kali mulut bawel itu ucapkan, “Ya ampun! Sungguhan aku tidak tahu apapun tentang mereka! Sebatas yang aku tahu mereka adalah teman dan rekan kerja biasa!” aku berjalan menghentakkan kakiku dengan Chanyeol yang menyusul dengan langkah lebarnya.

Cih, dasar tinggi.

Kau yakin? Sepertinya kau juga cukup dekat dengan Kai?”

Aku berhenti sejenak, “Hei! Kenapa kau menyebutkan nama namja itu dengan bersahabat sekali?”

Karena aku bagaikan bertemu sahabat yang hilang. Ia orang yang menyenangkan.” Ucap Chanyeol.

Aku mendengus, “Ya sudah, kalau begitu kenapa kau tidak tanya langsung padanya? Dia kan sahabatmu yang hilang!”

Ya! Tetap saja, masa aku harus bertanya sendiri?”

Lalu masa aku harus merasa menjadi artis yang diikuti paparazi tapi yang ditanyakan tentang sahabatku dan bukan aku? Seharusnya jika aku artis kau menanyakan tentangku!” akhirnya aku mengeluarkan unek-unekku.

Ohhhh…”

Oh’ panjang bernada mencurigakan langsung mengalir masuk kiri-kanan telingaku, membuatnya bertabrakan di tengah-tengah dan mengendap di otakku, menyisakan rasa cemas. Kenapa tidak masuk telinga kiri keluar telinga kanan saja?!

Kalau begitu… Jadi ada apa sebenarnya antara kau dan Kai?”

Benar saja.

No comment.” Jawabku sadis mengikuti artis-artis papan atas.

Ayolah jawab. Hubungan kalian bukanlah hubungan biasa..”

No comment.”

Jangan-jangan…”

No comment.”

Oke aku merasa seperti artis sungguhan.

Jika memang bukan, adakah hubungannya dengan rekan kerjamu mungkin? Jung Rein?”

Oke. Anak ini semakin melantur.

No comment.”

Ap..”

No comment.”

Ayolah!”

No comment.”

….”

Seperti sudah terbiasa aku tetap mengumankan ‘no comment’ sampai aku mendapati pemandangan janggal dihadapanku yang membuatku terdiam ditempat.

Hei! Jangan berhenti sembarangan… nugu?!”

Sudah kuduga.. pasti nada panik penuh keprotektifan itu muncul.

Aku mencoba membantu Chanyeol yang sudah terlihat seperti orang kesetanan itu dengan mengorek-ngorek isi otakku yang pandai melupakan sesuatu… menyipitkan mata… mengingat-ingat detail yang pernah Rein ceritakan padaku – well, pada akhirnya aku penasaran dan bertanya lebih lanjut.

Oh Sehun?” aku lebih berguman pada diriku sendiri dengan intonasi kalimat pertanyaan yang naik melengkung – well, untuk diingat aku bukan anak sastra, hanya mengingat pelajaran senior high school yang menjengkelkan. Betapa seongsaengnim yang aku lupa namanya itu menyuruh semua murid mengucapkan kalimat tanya, seru, berita, dengan intonasi yang benar. Padahal dalam kehidupan nyata aku bisa dengan mudah membedakannya, lihat saja wajah orang itu. Mendekati melotot – itu seru, muka absurd bodoh itu tanya, muka bersemangat itu berita – pengalaman melihat yeoja-yeoja yang mengumumkan tentang laki-laki idamannya, atau berbagai hal yang hanya bisa dilihat oleh feeling.

Hah? Oh Sehun? Nugu? Siapa?”

-:Rein’s PoV:-

Aku baru saja menyelesaikan kegiatanku di klub panahan bersama Sehun. Perlu diketahui, Oh Sehun adalah temanku yang memilih jurusan accounting sama sepertiku dan teman terdekatku di klub. Mengingat kebanyakan orang disana terlihat segan padaku ― entah karena alasan apa, mungkin karena wajahku yang keseringan memasang wajah serius.

“Apakah kau tidak berat membawa busur panahanmu? Aku bisa membantumu, Rei.”

Aku tersenyum kecil, mendengar penuturan yang sangat ramah keluar dari mulut namja bernama Oh Sehun. Namja ini tidak begitu terbuka pada orang lain, tapi dia sangat baik padaku. Sehun bahkan memiliki panggilan khusus untukku. Yaitu dengan menghilangkan huruf N dalam namaku. Rei.

“Hei, ini hanyalah aku,Hun. Sedikit aneh mendengarmu mengatakan hal itu padaku.” Aku memukul pelan pundaknya sambil terus berjalan melewati koridor Joonmyung yang sangat besar.

“Kau benar juga.”

“Oh yah.. Hun, kau akan menghadiri trip ke Daegu bersama klub minggu depan?”

“Bagaimana denganmu?” Aku memutar bola mataku sambil meliriknya malas. Dia malah bertanya balik padaku.

“Baiklah, kurasa aku tidak akan ikut. Sedikit malas untuk pergi keluar kota dengan cuaca super dingin seperti hari-hari ini.”

“Kau benar, Rei.” Dia mengangguk pelan lalu terlihat sedikit berpikir.

“Lalu bagaimana denganmu?”

“Kurasa aku juga tidak akan ikut.”

“Wae?”

“Karena kau juga tidak ikut.” Aku sedikit tersentak mendengar nada suaranya yang serius, namun aku masih mencoba mencari nada bercanda di balik kalimatnya.

Namun sayangnya, tidak kutemukan. Sehingga aku hanya mencoba membalas ucapannya dengan nada jenaka.

“Mwoya? Ahahaha. Aku tahu alasannya bukan aku. Paling-paling kau juga malas.”

Diluar dugaanku Sehun malah tersenyum kecil, lalu tangan kanannya yang bebas dari menggenggam tas perlengkapan klub mengelus puncak kepalaku. Tentu saja hal ini mengejutkanku.

Di saat bersamaan, sudut mataku melihat Ilhae dan temannya ― ya, ada Chanyeol disitu ― datang ke arahku.

-:Chanyeol’s PoV:-

Aku menatap hal yang baru saja terjadi di depan mataku dengan pandangan cemburu dan mulut ternganga. Namja itu baru saja mengelus puncak kepala Rein dan yeoja itu bahkan tidak melawan.

Harus aku akui, aku sedikit – bukan, amat sangat kesal dengan kenyataan kalau aku tidak mengetahui orang-orang yang ada di sekitar Rein.Yang setelah aku ketahui, sangat tidak menyenangkan, banyak juga namja yang dikenal yeoja itu. Sebenarnya baru 2 – Kai juga namja bernama Sehun Sehun itu, tapi siapa tau akan ada banyak lagi. Terkadang terlalu banyak kejutan di dunia ini.

Oppa!!Chanyeol oppa!!!”

Oh, siapa lagi itu? Aku perlahan menoleh ke belakangku dan menemukan yeoja – ash….

-:Author’s PoV:-

Ilhae melambai-lambai ke arah Rein yang melihat ke arahnya dan juga Chanyeol.Sejujurnya jika dilihat, cengiran dan lambaian yang seharusnya dipantulkan mata Rein adalah the absrud one – berhubung seorang Ilhae sedikit kaget karena sahabatnya itu tiba-tiba menengok ke arahnya. Kakinya tanpa diminta langsung berjalan maju menuju Rein.

Oppa!!Chanyeol oppa!!!”

Ilhae langsung saja terinterupsi dari kegiatannya dan menoleh. Dari arah belakang ia bisa melihat sosok yeoja berambut pirang dengan poni yang tertata rapih, jangan lupakan bajunya yang sangat manis dan sepatunya yang senada. Yang, anehnya wajah itu dikenal oleh otak seorang Ilhae – yang notabenya sangat kurang update tentang yeoja-yeoja Queen Wannabe, seperti contoh yang masih berlari kecil ke arah mereka.Perlu diberi tahu, gangguan dari yeoja itu tidak terlalu membuat permasalahan banyak, dan pada akhirnya tetap membuat Ilhae bergerak menuju Rein danSehun.Tentu saja Chanyeol juga mengikuti walau masih menghadap belakang dan tersenyum tidak niat ke arah yeoja tersebut.

Bola mata Rein lebih terarah pada Chanyeol yang sekarang sedang menatap Do Suyeon dengan tatapan malas.Apakah Chanyeol memiliki hubungan dengan si the most wanted woman at Joonmyung? Tapi sedetik setelah ia menyadari pertanyaan dalam pikirannya, ia merutuki dirinya sendiri yang telah penasaran akan suatu hal yang sangat tidak penting.

Catatan, Rein tentu saja mengenal yeoja itu.Yeoja itu sangat populer. Namanya Suyeon, seorang primadonna Joonmyung. Dari fakultas Design yang berlokasikan di seberang gedung fakultasnya dan Ilhae.

“Annyeong Suyeon.” Sapa Chanyeol ketika yeoja bernama Suyeon, sudah melekat di lengan kanannya.

Terbalik dengan tatapan datar Rein dan Sehun, juga dengan senyum malas-malasan seorang Chanyeol.Wajah Ilhae sama sekali diluar kedua raut wajah tersebut. Pertama wajahnya mengerut dalam, dan setelah ia mendengar nama yang baru saja diucapkan Chanyeol. Mulutnya langsung membuat huruf o besar yang terkesan sangat terjungkir balik dengan senyum manis Suyeon.

“Kau Do Suyeon? Sepupunya Do Kyungsoo?” Tanya Ilhae.

Suyeon langsung menoleh, yang membuat rambut panjang blow dry salonnya teranyun bak iklan-iklan shampoo.

“Ah! Ilhae! Lama tidak berjumpa.”

“Ehehe, ne. Kau kuliah di sini? Apakah Kyungsoo…”

“Aku kuliah di sini, jurusan design.Kalau Kyungsoo dia tidak berkuliah di sini.Dia berkuliah di Makyeol University.”Suyeon memotong perkataan Ilhae dengan gesit.

Seperti tidak memiliki masalah apapun Ilhae hanya menggangguk-angguk, “Oh ya, Suyoen, bolehkah aku minta kontak Kyungsoo?Ehehe.”

Ilhae langsung mengeluarkan ponselnya dari tas dan bersiap mencatat nomor Kyungsoo. Semenjak ia membuat rusak ponselnya 2 tahun lalu, ia langsung kehilangan semua nomor teman-temannya – memang terlalu sial, tapi nyata dan akan selalu nyata dalam kehidupan Ilhae.

“Ini, 0xxxxxxxxx.”Suyeon langsung membacakan nomor yang wajib ada di ponselnya itu – karena sepupu tentu saja.

“Gomawo Suyeon!”

Ilhae sangat gembira, bahkan setelahnya ia tidak membuang waktu untuk langsung mengirimkan pesan pada nomor itu.

Lalu setelah urusannya dengan Ilhae berakhir, Suyeon mengarahkan pandangannya pada seseorang yang berdiri tegak di sampingnya.Chanyeol.

Sementara namja itu sedang menatap dingin ke arah Rein dan Sehun, tentu saja hal itu membuat Suyeon penasaran dan juga terganggu.

“Nugu?!” Rein disisi lain, sedang menatap super bingung ke arah Suyeon yang baru saja mengatakan sesuatu untuknya dengan nada sinis. Satu hal, Rein sangat membenci seseorang yang tidak ia kenal dengan baik lalu menggunakan nada seperti itu secara tiba-tiba untuknya.

“Jung Rein. Ada perlu apa?” Dengan nada datar ia membalas ucapan Suyeon.

“Kau memiliki hubungan dengan oppa?” Chanyeol yang mengetahui siapa oppa dalam kalimat tanya Suyeon mendengus pelan.

“Siapa oppa?”

“Chanyeol oppa!” Rengeknya manja yang membuat Rein makin tidak sanggup berbicara lebih panjang dengan manusia macam Suyeon.

“Tidak.”Tandasnya singkat, yang membuat Chanyeol merasa ingin menendang Suyeon yang telah mempertanyakan hal itu kepada Reinnya.

“Ilhae-ya,” lalu pandangan Rein beralih pada wajah sahabatnya yang sedang menunjukan wajah asyik. Mungkin dalam benaknya, ia menikmati cynical moment yang tercipta antara Rein dan Suyeon. “Kurasa aku harus pergi sekarang, apapun yang ingin kau bahas denganku kita bisa bicarakan di apartement.Kkaja Sehun-ah.” Rein menarik lengan baju Sehun kuat yang membuat Sehun sedikit kaget dengan hal itu.

“Rei, kau bisa merobek bajuku.”

“REI?!”Tanpa sadar Chanyeol menganga di tempat sambil mendenguskan kata itu.

Langsung saja Ilhae yang masih berada di tengah situasi yang amat dingin itu langsung memberikan death glarenya untuk Park Chanyeol.

“Kenapa kau berteriak?!” Desisnya, “Kau akan memperburuk keadaan kau tahu?!”

Setelahnya Ilhae menatap datar kearah Rein yang sudah memberikan tatapan menusuk ingin membunuh ke arah Chanyeol.

Ini semua terlalu rumit, batin Ilhae.

“Ya… Sudahlah.. Rein! Kkaja! Ikut denganku. Kita bicarakan apa yang ingin aku bicarakan di apartmen. Dan… Sehun, aku pinjam Rein-nya ya.”

Tanpa basa-basi Ilhae menggeret Rein menjauh, kini seorang Ilhae yang terancam membuat lengan kaus Rein sobek.

Sebelum menghilang dari pandangan Ilhae menatap tajam kau-berhutang-padaku, kepada Chanyeol.

Sehun yang awalnya ditarik-tarik Rein lalu kemudian ditinggalkannya hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya geli.Lalu berlalu begitu saja ke arah pintu keluar yang berada di koridor utama Joonmyung yang saat itu telah lumayan sepi.

Sekarang hanya tersisa Chanyeol yang sedang berusaha menarik tangan kanannya dari genggaman erat seorang Suyeon dengan cara yang sopan.

Suyeon yang tidak mengerti maksud Chanyeol,semakin mengeratkan genggamannya.

“Suyeon-ah.Bisa kau lepaskan aku?Aku harus pergi sekarang.”Menyerah, akhirnya namja dengan tinggi hampir menyentuh 190 cm itu mengutarakan keinginannya.

“Ah, mian oppa.”Jawab Suyeon dengan wajah yang menurut Chanyeol sok imut itu – yang terpampang jelas.

“Tapi sebelum kau pergi, aku ingin memberikan sesuatu untukmu.” Lalu Suyeon membuka tas Gucci nya dan menyerahkan ampop pink kepada Chanyeol lalu mulai beranjak pergi.

Tapi sebelum itu, ia masih sempat-sempatnya mengucapkan sesuatu yang makin membuat Chanyeol tidak suka.

“Oppa, jangan kau pandangi yeoja menyebalkan itu dengan pandangan seperti itu. Aku tidak sukaaaaa~”

Ingin sekali Chanyeol berteriak, ‘Lalu apa peduliku jika kau tidak suka, huh?!’ Namun karena alasan kesopanan ia tidak mengutarakannya.

Suyeon berlalu begitu saja dan Chanyeol sudah ingin membuang amplop pink yang ia sangka sebagai surat cinta itu jika tidak membaca ada kata INVITATION di pojok kanan amplop.

Sehingga ia menyempatkan diri untuk membaca apa isinya, dan menemukan bahwa yeoja itu akan berulang tahun 2 minggu lagi dan mengundang orang-orang untuk hadir di acara ulang tahunnya di Jeju. Sekaligus merayakan libur natal bersama dengannya selama seminggu penuh gratis di pulau Jeju.

Ulang tahun mewah macam apa ini?

*-*-*

Sementara itu, di dalam mobil Ilhae terjadi keheningan yang amat dasyat.Sejak memasuki mobil, tidak ada yang mencoba berbicara.Lebih parahnya lagi seorang Ilhae lebih sibuk memperhatikan ponselnya – bertukar pesan dengan Kyungsoo. Rein yang menjadi korban pemaksaan mendapatkan tugas untuk menyetir. Menggantikan supir abadi mobilnya – Ilhae, yang sedang ‘sibuk’.

“Hae-ya, hari ini aku akan ke Paulo.Seperti biasa sajalah.Kau mau ikut?” Rein akhirnya bersuara. Namun nada suaranya yang terdengar jahil di telinga Ilhae, membuat kening Ilhae berkerut.”Mungkin saja kau ingin bertemu Kai?”

“KKEUT!”

Rein yang pasalnya sedang dalam keadaan yang lumayan damai, tidak siap dan langsung mengerem mobilnya. Tatapannya langsung menusuk menyampaikan, kau-ingin-membunuh-kita-berdua.

“Rein-ah.Mari kita lupakan yang namanya ribut.Jangan coba-coba jahil padaku, oke?Dan untuk tambahan informasimu, aku tidak sudi bertemu Kai lagi, titik. Sekarang,” Ilhae melirik jam pada ponselnya, “…masih pagi, dan karena aku sedang bosan… Bagaimana kalau kita pergi ke mall? Aku ingin minum bubble tea! Jebal! Nanti kalau kau mau kerja ke Paulos’s akan aku antar lagi… Jangan coba-coba. Aku tahu jadwalmu masih satu setengah jam lagi.” Tandas Ilhae.

“Wae?! Ah shirreo! Aku sedang malas-malasnya berada di kerumunan orang dan mall adalah contoh terbaik dari kerumunan orang banyak.Lagipula, aku tidak keberatan muncul di Paulo satu setengah jam lebih dulu sebelum jadwalku.Nilai kerjaku tentu akan makin baik.” Rein sedang berdaya upaya untuk beralibi sebisanya. Namun ketika melihat wajah sahabatnya yang malah memutar bola matanya bosan, ia takut bahwa usahanya sia-sia. Biasanya jika Ilhae sudah menginginkan sesuatu, itu adalah keputusan multak yang harus dijalankan. Oh sial.

“Aku tahu mukamu sudah menunjukkan kata kalah.Jadi ayolah, kita pergi ya?? Aku akan mengantarmu! Janji!!!” Nada bicara Ilhae sudah terdengar sangat-sangat memaksa dari sana. Sehingga Rein hanya menghela nafasnya dan menginjak kembali pedal gas. Kali ini tujuannya sudah pasti mall yang menurutnya adalah mall tersepi yang pernah ia kunjungi. Rein masih setengah rela di bawa ke mall, tentu saja.

*-*-*

“Taro bubble tea satu! Kau mau apa Rein-ah?” Ilhae yang sudah berdiri didepan counter toko bubble tea bertanya pada Rein. Yang yeoja itu tahu pasti, Rein pasti tidak akan menolak tawaran makan atau minum.

“Nado. Ingat, kau yang bayar.” Rein masih terus memasang wajah kusut kalah perangnya. Namun ketika wangi dari bubble tea kesukaannya yang sedang diolah tercium oleh indranya. Setidaknya wajahnya sedikit hidup, menurut Ilhae.

“Arraseo, walaupun kali ini kau merampokku dengan sukses, dwaesso.”Ilhae mengajak Rein untuk duduk di bangku yang sudah disediakan, menunggu bubble tea mereka.

Setelah 5 menit yang amat lama, dengan Rein yang sedang membuka tutup buku agendanya untuk mengecek jadwalnya besok dan Ilhae yang masih ‘sibuk’ dengan ponselnya, akhirnya nomor antrian 94 dipanggil. Rein yang tahu yeoja di hadapannya itu sedang sibuk sendiri, merelakan diri untuk mengambil minuman mereka. Hal yang menjadi pertanyaan Rein, apa yang membuat Ilhae seharian betah dengan ponselnya.

Rein telah kembali dengan dua large taro bubble tea di kedua tangannya. Masih, Ilhaememfokuskan diri pada ponselnya.Menyebalkan sekali, sahabatnya yang satu ini memaksanya menemaninya untuk ke mall, tapi sekarang dia sendiri yang seakan autis dengan ponselnya dan mengabaikan keberadaan Rein.

“Ya! Sebenarnya apa yang sedang kau kerjakan sedari tadi? Kau membuatku kesal Geum Ilhae!”

“M..mwo?! Ah, mianhae.” Seringai minta dijitak langsung muncul seiring Ilhae mendongak ke arah Rein.

“Aku sedang berkirim pesan dengan Kyungsoo. Dia teman pertamaku di playgroup, ia namja yang imut sekali, baik. Ia sudah seperti adikku saja. Ehehe, dan sebelumnya terima kasih untuk bubble teanya.”Ilhae menusukkan sedotan ke cup bubble teanya dan langsung sibuk.

“Andwae… Kenapa penuh sekali sih… Jadi tumpah..”Keluh Ilhae sembari memainkan sedotannya.

“YA!!!Jorok sekali!” Rein sudah sangat tidak sabar dengan tingkah laku yang dipertontonkan di hadapannya.

“Aish, jangan begitu!”Ilhae menggerutu, namun sudah berhasil meminum bubble teanya dengan sukses.

“Geumanhae. Sekarang aku serius, sebenarnya apa yang ingin kau lakukan disini? Aku yakin kau bukan hanya ingin membeli bubble tea.”

“Ehehehehe.”Ilhae kembali menyeringai, membuat Rein menghembuskan nafas berat.Benar saja, yeoja ini tidak sembarangan mengajaknya ke mall.

“Well, sebenarnya, aku mengajak Kyungsoo bertemu di sini. Tapi masih setengah antara dia bisa datang atau tidak, karena itu aku mengajakmu.Tentu saja karena aku ingin memperkenalkannya padamu disamping segala apapun.”Ilhae menjelaskan.

“Eoh.Dengan begini aku jadi sangat penasaran akan seseorang bernama Kyungsoo itu.” Rein yang sudah mengerti duduk permasalahan ―ya, Rein menganggap keadaannya sekarang adalah sebuah masalah, lebih bisa memasang senyuman di wajahnya.

“Hmmm, kau tidak akan membunuhku bukan?” Ilhae menatap Rein takut-takut masih dengan melirik ponselnya sedikit-sedikit.

“Heol.”Dengusnya singkat, lalu pandangan Rein beralih ke kaca besar di samping mereka.Mulai mengabaikan Ilhae yang kembali sibuk dengan ponselnya.Ia hanya sedang membayangkan mungkin saja sekarang ia bisa bermain bersama Sehun. Karena Sehun baru saja menawarkannya untuk bermain car race di salah satu track di daerah Gangnam beberapa jam yang lalu, dan jika itu benar-benar terjadi, Rein akan kembali memaksa Ilhae menggantikan posisinya di Paulo. Pemikiran yang menyenangkan juga.Namun ketika benaknya melayang-layang pada pemikirannya yang menyenangkan itu, dengan tidak tahu dirinya sebuah cuplikan kejadian mengagetkannya.

Kejadian, dimana Queen Wannabe ―Do Suyeon, bergelayut manja di lengan seorang Park Chanyeol!

Rein yang merasa sangat tidak waras karena mengingat kejadian itu segera menggelenggelengkan kepalanya cepat. Seakan hal itu bisa mengusir bayangan itu.

Apa pedulimu hah Jung Rein, hingga kau mengingat kejadian itu?!

“Hah! Itu Kyungsoo!!” Teriakan Ilhae mengagetkan Rein dari pikirannya yang sudah sangat melantur itu. Kali ini suatu kelegaan bagi Rein – karena ia bisa teralihkan pikirannya.

Rein dapat melihat sosok hyper Ilhae bergerak dari kursinya menuju sosok yang… agak mungil?Yang bisa di pastikan mata namja itu sangat bulat.

“Kyungsoo-ya! Bogoshipo! Lama sekali tidak berjumpa!” Ilhae memeluk Kyungsoo teman kecilnya itu dengan hangat.Yang juga di balas namja bermata bulat itu.

“Ilhae-ya, sudah berapa tahun yah?Terakhir kita bertemu adalah di hari kelulusan dari Elementary. Sedih sekali saat itu aku harus pergi keluar kota untuk melanjutkan sekolah. Juga ponselmu yang tidak bisa dihubungi.Dua hal itu menyebabkan kita kehilangan kontak.” Ilhae mengangguk-angguk mendengar penuturan sahabat lamanya, dan ia harap akan menjadi sahabatnya di masa sekarang. Dan ia yakin itu pasti terjadi, ia sangat yakin.

“Sekarang kita tidak boleh kehilangan kontak lagi!Yaksok?”Yeoja bermarga Geum itu mengacung-acungkan ponselnya ke udara.

Lalu Kyungsoo menangkap phone strap yang ikut begoyang di sana. Sedetik, pikirannya kembali pada ponsel yang pernah dibawa Kai. Sungguhan semuanya sama persis. Tapi pikirannya tidak bisa berlanjut karena Ilhae menepuk pundaknya.

“Hebat sekali!Phone strap yang kau buat untukku saat pelajaran menjahit tidak lapuk oleh waktu, Soo-ya!”Kyungsoo tersenyum senang ketika mengingat bahwa phone strap itu memang buatan tangannya.

Disisi lain, Rein menatap datar ke arah Kyungsoo Ilhae yang terus saja bernostalgia membahas hal-hal yang tidak dia ketahui sama sekali. Perlu diingatkan saja, Rein bertemu dengan Ilhae di Junior High School. Sehingga ia tidak mengenal namja bernama Do Kyungsoo itu.

“Ada yang masih ingat aku ada disini?” Rein kembali mengeluarkan jurus sinisme andalannya. Namun hal itu sukses membuat kedua makhluk yang sekarang sedang loncat-loncatan di hadapannya terdiam dan menolehkan kepalanya untuk pertama kalinya ke arah seorang Jung Rein.

“Mian, mian Chingu.Rein-ah! Inilah Kyungsoo. Ehehe, perkenalkan Kyungsoo-ya, ini sahabatku setelah dirimu, Jung Rein.”

“Do Kyungsoo.” Langsung saja Kyungsoo mengulurkan tangannya ramah.

Rein menelan kekesalan karena terabaikan oleh Ilhae dan Kyungsoo. Lalu dia tersenyum ramah menyambut sahabat Ilhae, wajahnya kebalikan sekali dengannya beberapa detik yang lalu. Selama hampir 1 jam penuh ia mendengar nama Kyungsoo, ia mengira sepupu dari seorang Do Suyeon akan tinggi besar berwajah masculine dan sedikit menyebalkan seperti Suyeon. Tapi nyatanya, seorang bernama Do Kyungsoo adalah namja imut dengan tubuh yang dia takut jika dirinya lebih tinggi dari namja itu. Mata bulat, dan wajah sangat imut!

Kyaaaaaaaaa! Rasanya ingin sekali memiliki Kyungsoo sebagai namdongsaeng!

Setelah pemikiran-pemikiran tersebut, Rein mengulurkan tangannya dan membalas perkenalan yang dimulai oleh Kyungsoo.

“Jung Rein.”

“Nah! Nah! Nah! Apa yang akan kita lakukan sekarang? Bahagianya aku, kedua teman terbaikku akhirnya berkenalan!”Ilhae berbicara dengan nada yang kelewat bersemangat.

“Bagaimana kalau kita makan?Sebentar lagi waktu makan siang.”Kyungsoo memamerkan senyumnya yang kelewat imut itu.

“Rein-ah!Kyeopta sekali bukan?! Aku selalu ingin menjadikannya adik… Sayangnya ia lebih tua dariku…” Bisik Ilhae pada Rein.

“Kyungsoo-ssi.Jangan mau dijadikan adik oleh yeoja ini.Kau bisa dipekerjakan sebagai budak pribadinya.Hahaha.”

“Ah! Ilhae yang dulunya polos itu sekarang sudah berubah jadi brangasan, Rein-ssi?” Kyungsoo yang seolah mengerti akan pancingan yang dimulai Rein melanjutkan kalimatnya dengan nada yang dibuat sejahil mungkin. Tapi yang jadinya terdengar malahan sangat imut.

Rein baru saja hendak melanjutkan kalimatnya untuk membully sahabatnya, namun ponselnya berbunyi.

Bukan panggilan masuk atau apapun, melainkan alarm jam kerjanya telah berdering.

Benar, namun sangat disayangkan aku harus pergi.Aku harus bekerja sekarang Kyungsoo-ssi.Senang sekali berkenalan denganmu.Walau mungkin kita tidak berbincang lama di kesempatan ini aku tahu kau orang yang sangat menyenangkan.Mari bertemu dilain waktu.” Rein menunjukan cengiran bodohnya yang membuat Ilhae yang sudah misuh-misuh sedari tadi semakin menekuk wajahnya.

“Ne, mari bertemu dilain waktu Rein-ssi.”

“Hehehe…. Oh ya Ilhae-ya, kupinjam mobilmu. Annyeong.”Setelah acara perpisahan itu, Rein menghilang begitu saja meninggalkan Ilhae dan Kyungsoo.

“Hei!!! Ya!!! Jung Rein!!! Neo! Berani-beraninya…” Ilhae yang masih sangat tidak terima dengan Rein yang entah kenapa membully dirinya.Namun sayang, yeoja itu telah berjalan menuruni eskalator terdekat setelah sukses merampok kunci mobilnya.

“Hei… Sabarlah ehehe.”Kyungsoo terkekeh di samping Ilhae.

“Heush… Karena aku sangat merindukanmu, mari kita lanjutkan perbincangan kita sebelumnya. Ya! Kyungsoo-ya, mengapa kau tidak mendengar saranku dulu untuk banyak meminum susu hah? Kau tidak malu dengan Rein. Dia sepertinya sedikit lebih tinggi darimu.

Kyungsoo tidak tersinggung dengan penuturan Ilhae, ia malahan keliatan berpikir.

“Sepertinya untuk ukuran seorang yeoja, dia itu raksasa, Ilhae-ya.”

Ilhae menutup mulutnya ― mencoba menahan tawa. Mengapa cara bicara Kyungsoo yang polos itu terdengar sangat menggelikan di telinganya. Apalagi isi perkataannya yang merupakan hinaan untuk Rein.

“HAHAHAHAHA!!!”Dan pecahlah sudah tawa seorang Geum Ilhae.

Drrt…

Kyungsoo merasakan ponselnya bergetar, sembari memperhatikan Ilhae yang sedang tertawa puas, seakan-akan ucapannya adalah hal yang sangat lucu.Ia mencuri lihat pesan yang baru masuk itu.

Suyeon:

Annyeong oppa sepupuku tersayang…

Kau tahu bukan 2 minggu lagi hari ulang tahunku….

Aku ingin kau mengajak Kai ke pesta ulang tahunku itu.Bolehkah? Tentu saja oppa harus ikut, karena Kai tidak akan mau ikut jika tidak ada kau… Jebal, please?

P.S: Kau boleh mengajak temanmu yang lain sebagai gantinya…

Kyungsoo menghela nafas lelah, sudah tabiat salah satu sepupunya itu yang sangat menyukai ketenaran. Sekarang berkat kecelakaan ia memperkenalkan Kai pada Suyeon, yeoja itu langsung menerornya. Padahal sudah pasti – meskipun mereka bersepupu ia tidak ingin repot-repot datang.

“Gwaenchana Kyungsoo-ya?”Ilhae yang telah terhenti dari kegiatan tawanya, bertanya dengan nada khawatir.

“Gwaenchana.Wae?”Kyungsoo memasukkan kembali ponselnya.

“Kau terlihat memiliki beban berat setelah membaca sesuatu dari ponselmu…”

Seketika Kyungsoo mengingat point penting dari pesan Suyeon – tentang ia yang bisa mengajak siapa saja. Well ia bisa mengajak Ilhae. Yeoja ini jelas mengenal sepupunya dan ia tidak akan terlalu bosan jika ada Ilhae.

“Ulang tahun Suyeon 2 minggu lagi, dan dia menyuruhku datang… Aku berpikir, bagaimana kalau kau ikut?Ajaklah Rein jika kau mau.Kalau tidak salah acaranya menginap di Jeju?”Tawarnya.

“Mwo?Ada apa tiba-tiba?”Ilhae menyipit curiga, “…tapi, tentu saja aku mau!Jeju?! Woah sepertinya menyenangkan! Baiklah aku akan mengajak Rein, ehehehe.. Tapi aku harus memaksanya… Yeoja itu terlihat sekali tidak menyukai Suyeon….” Ilhae berguman pada dirinya sendiri.

“Hmmm, bagaimana kalau kau bilang itu adalah ulang tahun adikku saja?”Saran Kyungsoo.

“Ah! Ide bagus!”Ilhae memukulkan kepalan tangannya pada telapak tangan satunya bak orang pintar, “Tapi, apakah benar aku di undang? Maksudku Rein…”

“Tidak apa-apa, Suyeon yang menyuruhku mengajak orang yang aku inginkan, dan aku ingin mengundangmu, jadi Rein?Jika kau harus bersama dengannya, dengan senang hati.”

Ilhae menatap senyum dan kebaikan yang terpancar dari wajah Kyungsoo, “Woah!!! Jeongmal! Kyungsoo jjang!”

Lalu setelah bahasan ini mereka rasa telah clear, Kyungsoo dan Ilhae kembali memfokuskan pembicaraan mereka pada kenangan-kenangan masa kecil mereka.

-:Kyungsoo’s PoV:-

Aku berjalan memasuki apartemenku dan mendapati kalau Kai sudah pulang. Dapat aku lihat sosoknya yang sedang menonton tv, terlihat malas.

“Kai…”

“Oh, kau sudah pulang rupanya.”Jawab namja teman satu apartemenku itu.

“Ne, sekarang aku mempunyai permintaan, mari lewatkan acara basa-basinya… Ini tentang ulang tahun Suyeon…”

“Oh geez, ada apa lagi dengan yeoja itu?” Kai dengan datarnya menatapku yang sekarang hanya menaikan salah satu alis. Aku sudah terbiasa, sedikitpun tidak tersinggung dengan dinginnya Kai jika aku sudah membahas sepupuku yang satu itu. Jika Kai tidak menyukai sesuatu maka dia tidak akan munafik dan menutupinya walaupun itu berhubungan dengan sahabat terdekatnya. Ya, bagaimanapun aku juga akan merasakan hal yang sama jika aku menjadi Kai. Perilaku bak seorang Princess yang dimiliki sepupuku itu memang sangat menganggu terkadang.

“Well, sudah pasti dia memaksaku, untuk, memaksamu datang. Kau harusnya sedikit tenang karena aku juga akan ikut… Kyungah juga ikut.” Aku berkata sembari berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air putih hangat.

“SHIREO!Kau mengerti kata itu, kan?”

Aku mendengus mendengar nada suaranya yang tanpa penolakan, namun sebuah ide bagus mengalir dari benakku.

“Aku akan membayar keperluan bensinmu selama 3 bulan.Eotte?”Aku cukup merasakan kemenangan ketika dia kelihatan berpikir dan menatapku curiga.

“Aku benar-benar tidak yakin… Adakah hal lainyang bisa membuatku benar- benar yakin untuk menghabiskan waktuku bertemu dengan Suyeon?” Kai menyipitkan matanya padaku, pada akhirnya aku harus kembali memutar otak mencari pendukung keinginanku.

“Ayolah Kai. Lagipula kau libur dari pekerjaanmu bukan minggu itu. Dan oh! Aku akan mengenalkanmu pada sahabat baikku sejak kecil. Dia yeoja yang sangat manis..Namanya Geum Ilhae.”

Begitu mendengarku menyebutkan nama teman kecilku, dahi Kai sedikit berkerut dan matanya seakan menerawang menebak sesuatu. Apakah teman kecilku dan Kai saling mengenal?Tapi mana mungkin terjadi?Menurut pemikiranku mereka berada dalam dunia yang berbeda. Tapi karena was-was, “Ada apa Kai?”

“Sepertinya aku mengenal nama itu… Tapi tidak juga, ah baiklah! Aku ikut! Tapi jangan lupa janjimu, Soo!”Kai beranjak dari sofa dengan langkah ringan lalu bergegas memasuki kamarnya.Dia menyetujuinya, semudah itu? Kukira akan jadi lebih panjang lagi durasi pemaksaan yang akan kulakukan.

Bukannya, tersenyum senang.Yang terjadi padaku sekarang ialah penasaran.Tapi apapun, yang penting namja bodoh itu datang.

-:Rein’s PoV:-

Aku baru saja masuk ke dalam apartemen, menyimpan sepatuku di rak dan berbalik ketika pemandangan itu menyambar di depan mataku.

Geum Ilhae sedang menatapku penuh arti, jangan lupakan efek handuk yang masih bergulung di atas kepalanya.Kupastikan dia belum sempat mengeringkan rambutnya yang basah. Ada hal ‘penting’ apa yang ingin dia ceritakan padaku, hingga ia lupa mengeringkan rambut dan menyambutku langsung di depan pintu.

“Rein-ah!”

“Mwohae?”Tanyaku malas-malasan, dan melanjutkan langkahku dan merebahkan tubuhku di sofa putih kesayanganku. Ah, hangat.

Kulihat perlahan Ilhae menuju ke arahku dan mendudukkan diri di kepala sofa, membelakangiku. Jangan di tanya, gaya duduknya sudah masuk dalam kategori bahaya.

“Ehehe, libur natal, kau sibuk tidak?Bekerja?”Tanyannya bersemangat.

“Cafe akan tutup, karena pemiliknya akan berlibur ke Hawaii.Tentu saja dia berbaik hati memberikan libur pada kami, sebagai kado natal. Padahal kalau dilihat dari segi keuangan, akan sangat menguntungkan jika ia membuka cafe ―”

“Ah, kkeut kkeut.Aku tidak ingin mendengar analisa keuanganmu, sobat.”

Aku mendengus, “Aku kan hanya mengutarakan pendapat.”

“Aku ingin mengajakmu… Well memaksa sepertinya, untuk pergi denganku! Ke pulau jeju! Adik Kyungsoo akan merayakan ulang tahunnya di sana.”

“Mwo?! Adik Kyungsoo? Ah shireo. Aku tidak mengenalnya.Kau titipkan saja ucapan selamat ulang tahunku untuknya.”

Lalu aku bisa melihat raut menyebalkan seorang Geum Ilhae, “Ah! Ayolah! Aku juga tidak dekat dengan adiknya! Aku hanya pernah bertemu dengannya… Tunggu.”

Lalu aku bisa melihat Ilhae menghitung dengan jarinya, cih, yeoja ini.

“8 kali, ya 8 kali. Itu juga ketika ia masih menginjak elementary school. Karena itu, tolong temani aku. Walaupun ada Kyungsoo aku ini orang asing… Jebal.”

Aku mendengarkan permohonannya yang panjang merembet, tapi kali ini aku jujur saja, malas.

“Ya, aku malas sekali, sungguh. Kau tahu aku baru saja menolak trip klub panahan dengan alasan yang sama seperti alasanku padamu. Kau ajak saja gerombolan si berat favouritmu itu.”Ya, alasan yang bagus Jung Rein.

Aku bisa melihat bibir mengerucut Ilhae matanya menatapku tajam – yang jujur saja tidak terlalu mempengaruhiku.

Grep.

Tiba-tiba saja yeoja itu memegang salah satu pundakku. Detik berikutnya ia sudah mengguncangkannya dengan tidak beprikemanusiaan.

“Ayolah! Kumohon Rein. Aku tidak mau mengajak gerombolan si berat, mereka akan mencelakakanku… Atau…” Tiba-tiba bibirnya tersenyum usil, “kau mau aku mengajak Park Chan-“

“MENGAPA KAU MENGAJAK ―” Tunggu! Aku menggigit lidahku sendiri sebelum menamati kaliamatku.Mengapa aku harus marah?Aku tidak peduli jika dia mengajak Chanyeol.Dan satu hal, Jung Rein.Sepertinya kau telah terperangkap dalam jebakan manusia bernama Geum Ilhae yang entah mengapa bisa menjadi sahabatmu.

“Terserah padamulah.Ajak saja si Chanyeol itu jika kau mau.” Please! Rein, sekarang nada suaramu seperti orang yang sedang cemburu.

Benar-benar, namanya telah merusak sistemku!

“Hey! Heloo?Rein-ah, aku hanya bilang ‘apakah kau ingin aku mengajak Chanyeol’ tapi bukan berarti aku mengajaknya.Kau tahu dari awal aku sudah bilang tidak mau mengajak gerombolan si berat itu.Hmmm, Rein-ah, ada sesuatu?”Bisa kurasakan nada suara Ilhae yang mengintimidasiku.

Aku hanya menutup mata ― anehnya aku melakukan ini untuk memastikan diriku kembali tenang―. Ada yang terjadi padaku dan aku tidak mengerti apa itu. U-oh!

“Ani, aku hanya sedang stress oleh tugas. Maaf jika aku kurang connect. Dan kembali ke topik awal, aku tetap tidak mau ikut Geum Ilhae, kecuali…” Aku menyeringai seraya menggantungkan kalimatku.

“Wae?” Tanya Ilhae penasaran, sepertinya ia sudah tidak mempermasalahnya ketidak connectkanku, syukurlah.

“Kau… Harus menginjinkanku mengajak Oh Sehun!”Ujarku bersemangat.

‘Oh, sial’ aku bisa mendengar bisikan Ilhae, dan tentu saja aku tersenyum karenanya, sepertinya aku berhasil.

“Rein-ah, ini bukan pestaku… Aku mengajakmu karena Kyungsoo sudah mengenalmu dan dia mengizinkan sebagai perwakilan adiknya… Tapi… Baiklah aku akan bertanya pada Kyungsoo dan Sehun. Kau hanya perlu tahu beres saja, oke?”Senyum cemerlang itu membuatku merasa sedikit curiga.

Tapi, baiklah. Kurasa tidak akan semudah itu mengajak Sehun datang ke pesta seseorang yang tidak dikenalnya, itu juga jika Kyungsoo-ssi membolehkan Ilhae mengajak satu lagi orang asing.

Baiklah! Libur natal nanti akan kugunakan untuk mengerjakan tugas kuliahku yang sudah menumpuk bagai tumpukan baju yang belum disetrika. Ah, mengingat aku tidak pulang ke Incheon saat natal karena aku mengambil waktu libur tahun baru untuk pulang kesana.

Incheon, kampung halamanku dan tempat dimana orang tuaku menghabiskan keseharian mereka dengan Jung Reno, namdongsaengku yang sekarang telah tumbuh dewasa.

Ah, bogoshipo.

Baru saja, benakku melayang-layang mengingat-ingat kampung halamanku.Wajah bodoh sahabatku ini telah muncul lagi dan menyunggingkan senyum penuh arti, namun bagiku membuyarkan angan indahku tentang Incheon.

“Ada apa lagi?”

“Well, kau sudah berjanji akan ikut, jadi kau tidak boleh menariknya kembali, ehehe. Dan tatapan sinis itu… Apa yang kau pikirkan akan aku katakan?”

“Lupakan.Dan perlu diralat, aku tidak pernah berjanji akan ikut.”Aku beranjak dari sofa dan segera menggerakan diriku untuk berjalan ke arah kamar mandi dan memaksa telapak kakiku bersentuhan dengan dinginnya lantai kamar mandi.

“Ah! Rein-ah, shampoonya habis.Hehehehe.”

“Ckkk.. ‘Gomawo’.”Aku mendengus dan menutup pintu kamar mandi dengan cepat sehingga menghasilkan bunyi berdebam yang tidak enak didengar.

“Well, mianhae, dan aku akan membuatmu ikut Rein-ah! Aku memaksa!”Itulah hal terakhir yang dapat kudengar sebelum suara pintu di tutup.Aku hanya dapat menggerutu kesal.

To Be Continue…

18 pemikiran pada “Cynicalace (Chapter 4A)

  1. huaaa pasti bakalan ada hal yg mengejutkan nih….
    semua cast nya saling berkaitan…
    jadi makin penasaran….
    oh ya apa sehun menyukai rein yaa…
    next next…
    keep writing 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s