Post Hoc, Propter Hoc (Chapter 4)

Title : Post Hoc, Propter Hoc (Chapter 4)

Author : Hyuuga Ace

Genre : Drama, Hurt, Comfort, Romance, School Life

Length : Multichapter

Rate : PG-15

Web : cynicalace.wordpress.com

Main Cast :

  • Park Gaemi (OC)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Kim Junmyun / Suho  (OC)
  • Oh Senna  (OC)

Other Cast :

  • EXO, some member of Boyfriend and BEAST
  • Yang Chiya, Lee Heyoung, Im Jaelim, Hong Pulip,  Yang Choyun,  Baek Regi (OC)

Disclaimer :  OC and the plot of story are mine and pure from my idea. Don’t plagiarism. Thank you.

Author’s note :

Heyhooo~ (?) Whatsupp. Hyuuga Ace here~ back with PHPH Chapter 4, anyone still waiting for this fanfic? *bayangkan author lg ngerap bareng chanyeol (?)* Kembali ke normal :  yang udh baca + comment di chapter- chapter sebelumnya, author mw ngucapin makasih banget.. Semoga chapter ini ga ngecewain dn bikin tambah penasaran yahh.. XD

Di chapter ini, kalian akan menyadari bahwa kelakuan Gaemi itu sedikit minus. Wakakaka~ dan sejujurnya author krg PD dengan part TBC nya.. Tp gpp, kalian yang nilai yah.. Hehehe

Gomawo bwt admin EXO FF yg udh ngepost FF ini~

Saranghaaaeeee~

Happy Reading ^^

Summary :

“Masa lalu adalah sesuatu yang membentuk dirimu saat ini. Masa lalu terjadi lebih dahulu dibanding hari ini, sehingga hari ini ada karena disebabkan masa lalu. Post Hoc, Propter Hoc. Tapi hanya orang- orang yang memiliki keberanian untuk menatap masa depanlah yang berani untuk melepaskan masa lalu. Dan hidup karena hari ini, dan masa depan.”

Recommended Song : Westlife – Fragile Heart , Westlife – The Rose

Post Hoc, Propter Hoc Verse 1

***

(Author’s PoV)

“Jangan merona, itu membuatku ingin menciummu.”

Awalnya Sehun hanya ingin bermain- main dengan yeoja itu, tapi ekspresi yeoja  itu  membuatnya benar- benar tidak tahan. Dalam sedetik ia kelihatan sewot dan ingin memaki Sehun, tapi semua itu tenggelam digantikan oleh ekspresi malu yang luar biasa.

Tawa tergelincir dari bibirnya. Dan itu akan sulit dihentikan dalam 5 menit ke depan.

“Ya! Jangan bercanda. Aku sedang tidak mood.”

Gaemi sendiri hanya menggerutu ketika melihat Sehun tertawa terbahak- bahak di atas lantai. Tentu saja ia tahu bahwa Sehun sedang  menertawai dirinya. Tapi di sisi lain, ia merasa lega karena Sehun tidak berbicara yang aneh- aneh lagi. Gaemi, ia hanya takut bahwa pemikiran rasionalnya akan pergi jika Sehun mengucapkan hal semacam itu lagi. Dan itu akan membuat Gaemi berpikiran yang tidak- tidak, seperti mungkin saja Sehun memiliki maksud tersendiri dengan ucapannya.

Dan itu tidaklah mungkin! Sehingga ia bersyukur Sehun telah berhenti menjahilinya.

“Bisa kau berhenti dari tawamu? Itu mengganggu.”

Gaemi benar- benar kesal karena Sehun masih juga tertawa lebih dari semenit kemudian. Ia rasa tidak ada yang lucu yang perlu diketawai sampai seperti itu.

Sehun mencoba berbicara di sela- sela tawanya, “Gaemi-ya, wajahmu – pffttt. Priceless sekali!” lalu Sehun kembali tertawa sepuasnya. Dia benar- benar melepas dirinya untuk tertawa, dan itu membuatnya merasa bersyukur.

Sambil menyeka air mata di ujung matanya, ia kembali berceloteh. “Sudah lama sekali aku melupakan caranya tertawa. Neottemune *karenamu*, kau mengingatkanku bagaimana caranya.”

Gaemi hanya menganggap sekilas omongan Sehun, bahkan ia tidak perlu repot- repot mencernanya dengan baik. Dia sudah terlebih dahulu kesal karena keadaan ini, tak tanggung- tanggung ia melupakan bahwa pipinya itu sedang cidera. Dia mengambil kain dari baskom dan menempelkannya ke pipinya dengan cara yang kasar. Dan itu membuatnya kembali berteriak.

“AH APPO!!” Dia meringis keras dan memaki bahwa ia sama bodohnya dengan si Sehun yang sedang mencoba mengangkat tubuhnya dari lantai dan mendudukan dirinya di sisi kanan sofa, di sebelah kanannya.

“Perlu bantuanku lagi?” Sehun menawarkan diri dengan nada geli.

“Tidak, terima kasih.” Jawab Gaemi lantang dan kembali pada pekerjaannya. Sekarang dengan gerakan perlahan dan manusiawi.

Namun ada sesuatu yang membuat Gaemi sedikit penasaran, “Sehun-ssi. Kau tinggal disini sendirian?” Inilah yang menganggu pikiran Gaemi sejak pertama kali ia masuk ke rumah ini. Walaupun rumah ini tertata dengan baik dan bersih, dia tidak bisa menemukan kehangatan di rumah ini. Yah, walaupun dia tidak tahu caranya mengidentifikasi hal semacam itu. Tapi intuisinya berkata seperti itu.

Gaemi menoleh ke samping untuk melihat ekspresi Sehun, dan detik itulah ia melihat bahwa rahang Sehun mengeras dan ekspresinya berubah 180o dari sebelumnya. Ia terlihat dingin.

“Aku tidak jadi bertanya.” Sadar akan keadaannya. Gaemi buru- buru membatalkan pertanyaannya dan langsung melemparkan pandangannya lurus ke depan. Ia tidak ingin melihat Sehun dengan ekspresi itu di wajahnya.

Wae? Padahal aku baru saja mau menjawabnya.” Suara Sehun terdengar datar dan itu membuat Gaemi merasa bersalah. Sehun bisa mengubah moodnya secepat itu hanya karena Gaemi salah bertanya. “Jawaban dari pertanyaanmu itu mudah. Ya, aku tinggal sendiri disini.”

Gaemi merasakan suatu getaran aneh dalam dirinya. Lalu salahkan rasa penasarannya yang selalu saja berlebihan. Kini dengan tidak tahu dirinya, ia bertanya. “Apa kau tidak kesepian?”

Dan sepertinya pertanyaan inilah yang tidak bisa dijawab Sehun. Karena ia hanya terdiam hampir 1 menit penuh. Dan dalam satu menit itu, Gaemi tidak berani menoleh lagi untuk melihat ekspresi Sehun.

“Sebenarnya, aku selalu hidup dalam lingkaran kesepian dalam waktu yang cukup panjang.” Sehun mendesah panjang dan menutup kedua matanya sambil  menyandarkan kepalanya ke belakang.

Gaemi merasakan pergerakan Sehun dan ia tidak bisa mencegah dirinya untuk menoleh. Lalu dirinya bisa mendapati bahwa Sehun sedang menekan perasaannya. Sekali lagi, Gaemi tidak tahu cara mengidentifikasi perasaan semacam itu, terutama dari raut wajah seseorang. Itu hanya intuisinya, intuisinya berkata bahwa Sehun sedang mencoba menahan kesedihannya dengan menekan perasaannya.

Gaemi bingung ingin berkata apa untuk bisa menghibur Sehun. Dia hanya bisa mengingat dirinya, apa yang ia lakukan jika eomma dan appa meninggalkannya sendirian di rumah?

 Musik. Dia selalu menyetel musik keras- keras agar bisa memenuhi seluruh rumahnya. Lalu bernyanyi seperti orang kurang waras.

Biasanya itu berhasil membuatnya terhibur dari rasa sepinya.

Dengan pemikiran sederhana itu, ia bertanya dengan nada riang pada Sehun yang masih menutup matanya. “Sehun-ssi, kau punya speaker?”

Sehun yang kaget karena perubahan topik ini hanya memandang Gaemi dengan pandangan aneh dan bingung. “Aku tidak tahu apa maksudmu, tapi aku sedang malas naik ke lantai atas dan mencari speaker di kamarku.”

Gaemi mengangguk mengerti, “Baiklah, lalu kau suka musik jenis apa? Rock? RnB? Ballad –ah jangan genre ini. Pop?”

Sehun tidak tahan untuk tidak menanyakan apa maksud dari pertanyaan- pertanyaan yeoja itu. “Apa sih maksudmu?”

Gaemi mengeluarkan ponsel dari saku seragam bela dirinya. Ponselnya yang berwarna putih itu terlihat sudah kotor dan kusam jika dibandingkan ponsel Sehun yang tergeletak di meja di hadapannya. Tapi ia berusaha tidak mempedulikannya. Ia mencari sebuah lagu di playlist.

“Ini lagu favourite ku ketika sedang stress.” Lalu lagu Bruno Mars – Today My Life Begins mengudara dengan merdunya.

“Kau mau bernyanyi bersamaku?” Sehun tidak menjawab pertanyaan Gaemi, dia hanya mengerutkan keningnya dan menatap Gaemi layaknya dia adalah makhluk dari planet lain yang aneh.

“Ya sudah kalau tidak mau.” Gaemi mengabaikan rasa nyeri pada pipinya dan bangkit berdiri. Dia memulai aksinya dengan bertepuk tangan mengikuti irama lagu. Dan ketika lagu masuk ke intro ia berteriak seperti orang gila.

OHH~ JUST LIKE ALL THE SEASONS. NEVER STAY THE SAME. ALL AROUND ME I CAN FEEL A CHANGES!! OH YEAHHH!” Sekarang dia bahkan menambahkan improvisasinya sendiri dengan lagu itu. Dia menaik turunkan kepalanya dengan gerakan heboh. “OH YEAH EVERYBODY MAKE SOME NOISEEEEEE!!” Layaknya penyanyi papan atas yang sedang melakukan konser solonya, itulah tingkah Park Gaemi sekarang.

Sehun tidak tahan untuk menahan tawanya, tingkah Gaemi yang spontan dan aneh itu membuat hatinya merasakan getaran aneh seperti kebahagiaan. Dia bahagia melihat Gaemi dengan suara cempreng dan fallsnya bernyanyi seperti hari esok sudah tidak ada.

“Eh Sehun, berdiri dong! Sebentar lagi masuk climax nya nih!” Gaemi terlihat kesal dengan tingkah Sehun yang hanya duduk sambil tertawa terbahak- bahak. “Ah pedulilah.”

Lalu Gaemi menarik napas panjang dan mengeluarkannya dengan jeritan.

“I WILL BREAK THESE CHAINS THAT BIND ME! HAPPINESS WILL FIND ME!! LEAVE THE PAST BEHIND ME~ TODAY MY LIFE BEGINS!!!”

Gaemi masih terus berteriak sampai lagu berakhir dan karena Sehun kasihan melihat Gaemi yang nyanyi dengan gaya lelah itu. Ia menekan tombol pause di ponsel Gaemi yang sekarang tergeletak di sebelah ponselnya di meja di hadapannya. Sebelum lagu bergulir ke lagu selanjutnya, ia harus menghentikan tingkah gila teman sekelasnya ini.

“YA! Aku masih mau nyanyi!”

“Sebelum itu jelaskan dulu padaku apa motivasimu dengan tindakan macam itu.”

Gaemi tersenyum senang, dan Sehun sekali lagi merasakan getaran aneh karena senyum semacam itu. “Tadi kan kau bilang kau kesepian. Aku hanya sedang membagi tips pengusir rasa sepi yang cukup ampuh –setidaknya untuk kasusku.” Gaemi mencoba mengabaikan ekspresi Sehun yang mulai berubah. Dia mencoba mengatakannya dengan nada tenang dan santai. “Saat eomma dan appa meninggalkanku sendirian di rumah saat aku masih kecil. Aku akan menyetel lagu keras- keras –biasanya pakai speaker juga supaya makin keras-  dan menghibur diriku sendiri dengan bernyanyi.”

“Seperti orang gila? Bruno Mars akan kecewa karena lagunya dibawakan secara tidak benar olehmu, tahu?” Sehun berkomentar dengan nada geli. Dan Gaemi bersyukur karena dia menemukan kegelian dalam suara itu. Walaupun pemicunya adalah dirinya sendiri.

“Terserah padaku dong. Itu namanya improvisasi dalam bernyanyi.”

“Kau mengerti apa dalam bernyanyi?”

“Hey, hey! Jangan remehkan aku. Saat aku masih di Elementary aku adalah murid unggulan dari klub paduan suara. Aku mengerti teknik bernyanyi dengan benar.”

Dan dalam waktu 5 menit ke depan, seorang namja dan yeoja yang hendak menyentuh angka 17 tahun itu meributkan masalah teknik bernyanyi yang baik dan benar dan perdebatan ini berakhir ketika bunyi bel rumah Sehun terdengar. Dan Sehun harus memaksa dirinya meninggalkan Gaemi di ruang tamu untuk membuka pintu dan membiarkan siapapun yang menganggu acaranya dengan Gaemi itu masuk ke dalam rumahnya. Tapi sebelum langkahnya mencapai pintu, ia menoleh ke belakang.

“Eh semut, kau merasa nyaman dengan pakaianmu itu?” Sehun teringat sesuatu. Bahwa Gaemi masih memakai seragam bela dirinya.

“Kabar buruknya, seragam sekolahku tertinggal di lokerku.”

“Aish.. SIAPAPUN YANG DILUAR, TUNGGU SEBENTAR.” Sehun berteriak dan menyuruh tamunya menunggu, lalu dia melangkah lebar- lebar ke arah tangga rumahnya.

Gaemi hanya bisa melongo melihat tindakan aneh ini, apa yang direncanakan namja ini?

“Semut! Kau lebih nyaman memakai baju itu atau bajuku?”

“HAH?! BAJUMU? Shireo. Shireo. Aku betah kok memakai seragam ini.”

“Tapi itu membuatku tidak betah, karena seperti yang kukatakan tadi. Imajinasiku meliar hanya karena seragammu itu!” Lalu Sehun menghilang di balik sebuah pintu, dan Gaemi hanya bisa melongo lebih lebar karena kata- kata Sehun yang membingungkannya.

Dengan gerakan tergesa- gesa Sehun menuruni anak tangga beberapa detik kemudian, dia melemparkan T-Shirt dan celananya ke arah Gaemi yang betah dengan posisi melongonya.

“Wajahmu aneh! Cepat ganti baju, disana kamar mandinya.” Sehun menunjuk satu spot di rumahnya dan mendorong punggung Gaemi agar dia bangkit dari sofa dan menukar pakaiannya.

“Ya! Shirreo.” Tapi Gaemi keburu digusur ke kamar mandi dan mau tidak mau dia melepaskan seragamnya dan menukarnya dengan baju Sehun sesaat setelah Sehun menutup pintu kamar mandi dan langkahnya terdengar menjauh.

Sehun mendapati pelototan dari teman- teman sekelompoknya yang lain ketika dia membukakan pintu.

“Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan, Oh Sehun?” Kai tidak bisa menahan dirinya dari dengusan.

“Aku? Entahlah. Kalian masuk saja.” Lalu Sehun meninggalkan pintu dengan keadaan terbuka.

“Aku mendengar suara perempuan, apa Gaemi sudah datang kesini terlebih dahulu? Aku tidak bisa menemukannya di sekolah.” Jaelim memilih untuk tidak mempermasalahkan kejadian di pintu tadi dan mulai menanyakan keberadaan Gaemi yang menghilang di sekolah.

Eoh. Dia sudah ada disini.”

Lalu ketika Jaelim dan yang lainnya mengambil posisi di sofa panjang Sehun, seseorang muncul ke ruangan itu dengan mimik wajah kesal. Namun ketika pandangannya beralih pada teman- teman sekelompoknya yang kini memicingkan mata untuk menatap Gaemi, dan pakaiannya. Dia keburu salah tingkah.

“Kenapa kau memakai baju Sehun?” Komentar Kai.

Sehun melirik ke arah Gaemi yang terlihat kebingungan akan jawabannya, sehingga Sehun membantunya. “Dia tercebur ke got dan tidak membawa baju ganti. Lihat saja pipinya.” Waktu Sehun mengatakan hal ini, semua pandangan kini jatuh pada pipi lebam milik Gaemi. Dan itu membuat Choyun dan Jaelim memekik kaget.

Omo! Apa yang terjadi padamu, Gaemi-ya?”

“Well. Hanya kecelakaan. Hehehe.” Karena risih diperhatikan seperti itu Gaemi buru- buru bergerak menghampiri teman- temannya di sofa.

Tapi itu cukup sulit karena t-shirt Sehun yang terlihat sangat kebesaran untuk tubuhnya. Dan celananya yang harus ia gulung sebanyak 14 kali agar ujung celananya sampai di kaki Gaemi dan memungkinkannya untuk bergerak.

***

4 jam berlalu dengan begitu cepat, tahu- tahu jam dinding sudah menyentuh angka 6 sore dan mengharuskan semua tamu di rumah Sehun untuk pulang sebelum hari  benar- benar gelap. Choyun dan Jaelim dijemput oleh masing- masing namja chingunya. Gikwang dari kelas 10-E dan Doojoon sunbae. Sementara Kai dan Youngmin menghilang begitu saja ketika Jaelim membubarkan kelompok. Kelompok mereka akan melanjutkan tugas Sabtu depan dan masih di rumah Sehun.

Sekarang permasalahannya hanya Gaemi yang tengah kebingungan dengan caranya pulang. Dia tidak mungkin menyuruh appanya menjemputnya karena dia bukan murid di Middle School lagi. Tapi jika memilih angkutan umum seperti bus kota, jujur saja ia merasa tidak nyaman menaiki angkutan umum saat matahari telah terbenam. Kalau taxi, dia akan menghabiskan seluruh uang jajannya di hari Senin hanya untuk membayar taxi. Ah betapa menyebalkannya keadaan ini.

Rupanya Sehun bisa melihat kegelisahan Gaemi sehingga dengan santainya ia menawarkan diri untuk mengantar Gaemi pulang.

Gaemi langsung bereaksi akan hal ini, “Mwo? Shirreo. Shirreo! Aku cukup sekali mengendarai motor bersamamu dan aku tidak menginginkan yang kedua kalinya.” Sehun terkekeh melihat ekspresi trauma dari yeoja itu.

“Siapa yang bilang aku akan mengantarmu pulang dengan motor. Aku bahkan tidak berniat membeli motor sebelum aku punya SIM.” Karena melihat Gaemi hanya menatapnya dalam diam, Sehun menghela napasnya sebelum melanjutkan kalimatnya. “Kau bisa pulang dengan  taxi, kan?”

Gaemi mengangguk, sepertinya jatah uang jajannya harus benar- benar dikorbankan untuk membayar taxi.

Sehun menyetop taxi yang lewat di jalanan besar di belokan rumahnya. Lalu ketika taxi itu berhenti, dan Gaemi berencana akan pulang. Terlebih dahulu ia pamit pada Sehun dan berterima kasih karena meminjamkan baju padanya. Dia akan mencucinya dengan bersih sebelum mengembalikannya di hari Senin.

Sehun mengangguk. Lalu ketika Gaemi masuk ke dalam taxi, Gaemi cukup terkejut karena Sehun juga masuk ke dalam taxi itu bersamanya.

“Ya! Kenapa kau ikut masuk kesini?”

“Kan tadi aku sudah bilang mau mengantarkanmu pulang.”

“Aku bisa pulang sendiri kalau naik taxi, kau tidak perlu repot- repot mengantarkanku.”

Sehun bersikeras.  “Aku ingin menemanimu pulang kalau begitu.”

Gaemi melotot. Tapi ia memilih untuk menyerah, dan melemparkan pandangannya keluar kaca untuk memandang pemandangan malam Seoul di malam hari.

Mungkin pengaruh dari lebam yang terus berdenyut- denyut di pipinya, ia merasa sangat lelah hari ini. Tapi walau fisiknya merasa lelah, hatinya justru merasakan perasaan sejenis, senang? Dia tahu alasan di balik perasaan senang ini. Tapi dia menolak untuk mengakuinya, walau hanya dalam dirinya sendiri.

Sehun hanya diam sepanjang perjalanan. Dan itu membuat Gaemi sedikit lega.

Karena jarak menuju Apgujeong cukup jauh, dia menemukan dirinya sampai di rumahnya pada pukul 7 kurang 15 menit. Dan menurut jadwal di keluarganya, ia telah melewatkan jatah makan malamnya.

Namun baru saja ia memikirkan hal ini, kedua orang tuanya muncul di hadapannya ketika ia keluar dari taxi. Dia ingin membayar taxi sebelum kena omel orang tuanya, tapi hal itu sudah didahului oleh Sehun dan itu membuat keningnya berkerut.

“Park Gaemi! Kenapa kau memakai baju namja, huh?” Benar saja baru saja ia melangkah menuju halaman rumahnya. Eommanya telah menyemprotnya. Sehun terlihat ingin pamit padanya, tapi Gaemi mengulurkan tangannya ke depan untuk menyuruhnya diam dulu.

Eomma…” Gaemi mencoba mencari alasan dan yang dapat ia temukan adalah alasan yang dicetuskan Sehun ketika teman- temannya menanyakan hal yang sama. Oh ya, Gaemi juga tidak berencana akan menceritakan insiden di klub hari ini. Karena itu akan membuat eommanya mengamuk dan memulai pencarian terhadap Yang Hosun dan ketika dia menemukan yeoja itu. Eommanya akan mengomelinya karena insiden ini, layaknya Gaemi adalah bocah yang masih memerlukan hal semacam ini. Tentu saja, ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

“Aku tercebur ke got. Lalu bajuku kotor, sehingga.. dia… temanku, meminjamkan bajunya padaku.”

“Kau tidak memiliki teman perempuan?”

“Ah! Gotnya di depan rumahnya, sehingga aku harus meminjam bajunya.” Eomma dan appa terlihat tidak percaya akan ceritaku sehingga aku harus menguatkan bukti dengan.. yah apalagi.

“Pipiku terbentur batu yang keras saat terjebur. Jadi.. seperti ini.” Dan perhatian orang tuaku yang sedari tadi memelototi Sehun yang masih berdiri di luar pagar rumah teralihkan pada pipiku.

“Astaga!!” dan eomma langsung menghambur ke arahku dan memeriksa keadaanku. Sementara appa, terlihat melangkah melewatiku dan berjalan ke belakang dan membukakan gerbang.

Sehun terkejut ketika melihat Tuan Park menghampirinya. “Apakah kau sudah makan malam, anak muda?” Sehun mencoba sopan dan mengangguk untuk memperkenalkan dirinya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan itu.

Annyeonghaseyo, Gaemi abeonim. Oh Sehun imnida. Teman sekelas Gaemi. Bangapseumnida.” Sehun membungkuk 90o  sebagai tanda hormat. Sementara Tuan Park hanya mengangguk.

“Dan, aku akan makan malam di perjalanan pulang ke rumahku.” Jawab Sehun dengan nada segan.

“Ah, kalau begitu kau makan malam disini saja. Ayo masuk ke dalam. Kuharap kau suka dengan samgyupsal.”

Sehun terlihat bingung ketika Tuan Park menepuk pundaknya dan mempersilahkannya masuk ke dalam. Gaemi eomma melihat hal itu dan langsung merubah sikapnya yang awalnya dingin dan sinis pada Sehun menjadi ramah dan mempersilahkan namja itu masuk.

Bahkan setelah memastikan bahwa anaknya tidak harus dibawa ke rumah sakit. Ia langsung memusatkan perhatiannya pada Sehun dan meninggalkan anaknya sendirian di halaman.

EOMMA!” Jerit Gaemi tidak terima karena perlakuan ini. Sehun yang belum benar- benar masuk ke dalam rumah, tersenyum kecil melihat rengekan Gaemi yang terdengar sangat manja. Sementara Nyonya Park yang berada di sebelahnya hanya menggerutu.

“Maaf karena anakku itu banyak merepotkanmu yah..”

***

(Gaemi’s PoV)

Aku tahu jika keluargaku adalah tipe yang tidak akan membiarkan tamu pulang sebelum kenyang. Tapi tidak begini juga caranya. Masa mereka juga harus mengajak Sehun makan malam disini? Aku bahkan merasa risih untuk turun ke ruang makan setelah eomma menyuruhku untuk mengganti pakaianku. Aku masih betah berdiam diri di kamar dan merebahkan tubuhku di ranjang. Pipiku sudah lebih baik –rasa sakitnya- ketika eomma mengoleskan beberapa obat cair, tapi bentuknya pastilah akan memburuk tiap menitnya.

Sebenarnya aku hanya ingin tidur saja dan terbangun besok siang, kalau bisa. Tapi perutku juga lapar. Jadi mau tidak mau, aku menggeret kakiku untuk keluar dari kamarku. Baju Sehun teronggok begitu saja di ujung kamarku dan aku berjanji akan mengurusnya besok.

Aku menemukan pemandangan yang asing ketika sampai di ruang makan, eomma sedang sibuk menyiapkan makanan di atas meja makan dan appa terlihat mengobrol serius dengan Sehun di ruang tamu di sebelah ruang makan. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan?

Aku menghapiri eomma di ruang makan dan segera menyenggolnya untuk mengalihkan perhatiannya dari mangkuk besar berisi makanan.

“Eomma, apa yang sedang dibicarakan appa dan Sehun? Aku tidak pernah melihat appa berbicara dengan teman sebayaku sebegitu seriusnya.”

Eomma tersenyum kecil dan itu berhasil membuatku penasaran, “Temanmu itu, mengenal dunia sepak bola dengan baik, dan dia juga menggemari M.U.”

“Aku tahu itu tapi apa hubungannya- AH!” Aku melongo karena mengingat bahwa appa adalah fans berat klub sepak bola dari Manchester itu. Bahkan menurut eomma, kamar appa saat ia masih muda dipenuhi dengan warna merah dan poster- poster pemain legendaries Manchester United.

“Aku tahu bagaimana jadinya jika para namja berkumpul dan mendiskusikan permasalahan sepak bola. Itu tidak akan berakhir dengan cepat.” Aku menggerutu dan eomma hanya mencubit pipi kiriku.

“Untung eomma tidak mencubit yang sebelahnya, karena aku jamin aku akan membuat tetangga berhambur keluar rumahnya karena teriakanku.” Aku memperingati eomma dengan nada was-was, sementara eomma hanya mengangkat bahunya.

Aku membantu eomma menyiapkan makanan, sehingga 5 menit kemudian makanan telah tertata rapih di meja makan. Lebih cepat dan efisien. Lalu eomma menyuruhku untuk memanggil kedua namja di ruang sebelah itu.

Appa, makanannya sudah siap.” Ujarku santai, appa menengok ke arahku dan mengangguk.

“Kita lanjutkan pembicaraan ini di lain waktu, Sehun-ah.” Lalu appa meninggalkan ruangan itu. dan menyisakan aku dan Sehun yang masih belum beranjak dari sofa.

“Sehun-ah? Astaga appa memanggilmu dengan cara sok dekat begitu, sih!” gerutuku tidak percaya.

Sehun bangkit dari sofa dan menatapku datar. “Sayangnya, anaknya tidak mencontoh appanya dengan baik.” Sindirnya dan melewatiku begitu saja.

DASAR MENYEBALKAN!

Acara makan malam berjalan dengan seharusnya. Aku melirik sesering mungkin ke arah Sehun untuk memastikan ia tidak merasa terganggu dengan makan malam ini, dan juga untuk memastikan bahwa  makanan buatan eomma cocok di lidahnya. Aku khawatir ketika pada awalnya, saat suapan pertama masuk ke mulutnya. Sehun terlihat tertegun dan terdiam selama 1 detik penuh sebelum cepat- cepat mengubah ekspresinya dan melanjutkan makanannya. Aku bisa melihatnya dengan jelas, entah eomma atau appa memperhatikannya atau tidak.

Sekarang acara makan malam telah berakhir, dan aku tinggal menunggu eomma mengusir Sehun dan aku bisa langsung terkapar di kamar. Tapi bukannya sesegera mungkin mengusirnya, eomma malah menawarkan Sehun untuk menginap di sini ketika dia bermaksud ingin pamit.

Micheosseo!” Omelku tidak terima. “Kenapa Sehun harus menginap disini?”

Eomma memelototiku, “Kasar sekali yeoja ini.” Aku mendengar Sehun tertawa kecil di belakang punggungku tapi aku tidak menghiraukannya. Aku kembali menuntut penjelasan dari eomma.

“Sekarang sudah cukup malam untuk membiarkannya pulang sendiri.”

“Astaga eomma! Dia itu namja!”

Sehun terlihat sekali terhibur karena perdebatanku dan eomma –semua itu terdengar dari tawa gelinya, aku membalikan badanku dan memelototinya.

“Kau mau pulang, kan? Cepat pamit!” Bisikku cepat.

Sehun maju selangkah dan menunduk hormat pada orang tuaku. “Eomonim, abeonim. Terima kasih untuk makan malamnya. Aku pulang dulu.”

Eomma bersikeras, dan aku sudah sangat kesal dengan perilaku eommaku sendiri. “Kau yakin tidak mau menginap disini?”

“Gwaenchana eomonim. Aku lebih baik pulang daripada merepotkan lebih banyak lagi.” Untunglah Sehun tahu diri.

“Tapi kalau boleh, aku ingin meminjam Gaemi untuk 15 menit ke depan. Ada yang ingin kutanyakan padanya.” WHAT?!

Orang tuaku dengan senang hati merelakanku ‘dipinjam’ Sehun. “Sekalian kau antarkan dia ke gerbang yah Gaemi. Appa sudah ingin tidur. Sehun-ah, senang bertemu denganmu. Kau harus sering- sering mampir kesini.” Lalu appa berlalu begitu saja meninggalkan ruangan tamu dan masuk ke dalam kamarnya. Eomma hendak menyusulnya, namun ia mengingatkanku untuk memakai jaket karena diluar cukup dingin.

Ketika kedua orang tuaku telah menghilang aku langsung menarik tangan Sehun untuk keluar dari rumahku. Aku bahkan tidak berencana mengambil jaketku seperti wejangan eomma.

Kami sudah berada di halaman rumahku dan aku baru melepaskan tangannya.

“Sehun-ssi, apa yang ingin kau tanyakan?” ujarku cepat.

Sehun hanya tersenyum. “Awalnya aku ingin menanyakan apakah aku boleh bermain lagi ke rumahmu Sabtu depan. Tapi melihatmu yang tidak menerima keberadaanku dengan baik, aku jadi ragu untuk menanyakan hal itu.”

Aku menganga.. sebenarnya maksud namja ini apa sih? Kemarin- kemarin dia menjauhiku –yah well, walaupun aku juga melakuan hal yang sama. Tapi aku kan memiliki alasan.- sekarang dia ingin main ke rumahku, lagi.

“Tapi kenapa kau ingin datang kesini lagi?” Tanyaku bingung. Aku benar- benar tidak mengerti jalan pikir namja ini. Sehun terlihat bergumul dengan dirinya sendiri sebelum kelihatan ragu untuk mengatakan hal ini.

“Aku hanya ingin… memakan masakan eommamu lagi. Aku ingin melanjutkan perbincangan dengan appamu. Aku hanya… merasa nyaman dengan keluargamu.” Gaemi terhenyak, cara Sehun mengatakan hal ini sama seperti orang- orang yang sudah tidak memiliki keluarga. Kekesalan Gaemi memudar digantikan perasaan.. semacam perasaan sedih?

“Jika keluargaku bisa membuat perasaanmu lebih hangat. Pintu rumahku selalu terbuka untukmu.” Gaemi sudah tidak bisa menyaring kata- katanya lagi. Apa yang dia rasakan, dia ungkapkan.

Eommaku itu cukup aneh dan bawel, dia jarang- jarang menerima seorang namja di rumahku dan bahkan memintanya untuk menginap. Tapi sepertinya dia menyukaimu sehingga dia bisa menerimamu. Appaku tipe yang pendiam, tapi orangnya sangat lucu ketika mengobrol. Itulah keluargaku.”

Sehun terlihat terkejut karena penuturanku, namun di akhir dia tetap tersenyum. “Maaf karena merepotkanmu dan keluargamu.”

Aku tersenyum dan melihat Sehun mulai beranjak dan berjalan ke arah gerbang. Namun dia masih menyempatkan diri untuk berbalik sekali lagi dan menatapku hangat. Dan itu membuat darahku berdesir. Aku suka tatapannya yang hangat.

“Gaemi-ya, gomawo.”

Aku mengangkat alisku, “Untuk?”

“Lagu yang kau nyanyikan untuk menghiburku dan keluarga yang kau kenalkan padaku.” Sehun tersenyum tulus, tapi di balik senyum tulusnya aku bisa merasakan rasa sakit yang begitu besar. Terutama ketika ia menyebut kata keluarga. Lalu ia berbalik dan mulai membuka pintu gerbang dan berjalan melewatinya.

Sebelum Sehun benar- benar pulang, ada sebuah perasaan mengganjal di dadaku yang menyuruhku untuk mengungkapkannya. Dan aku menyerah karena perasaan itu begitu kuat.

“Sehun-ah.” Sehun berhenti namun dia tidak membalikan tubuhnya untuk menatap Gaemi.

“Aku tidak tahu kau memikul beban seberat apa. Dan aku tidak tahu penyebab rasa kesepianmu. Tapi jika kau membutuhkan seseorang untuk mendengarkan, kau bisa mencariku. Aku tidak menjanjikan cara untuk mengatasi masalahmu. Aku hanya bisa, mendengarkanmu.”

Sehun masih tetap bergeming, dan aku rasa namja itu tidak berniat membalas ucapanku.

“Selamat malam, Oh Sehun.” Aku membalikan tubuh dan masuk ke dalam rumah, untungnya aku ingat jika gerbang rumahku memiliki system Otomatic Locked sehingga aku tidak perlu repot- repot menguncikannya dan menunggu Sehun keluar dari gerbang.

Yang kini ingin kulakukan adalah membuang beban pikiranku dan Oh Sehun untuk sementara waktu, dan terjun ke dunia mimpi.

***

3 bangun limas dengan berbagai sisi sudah berhasil kubuat dengan rapih di buku tulisku. Sebenarnya sekarang bukan pelajaran matematika, aku hanya sedang mencuri waktu untuk mengerjakan PR ku yang lupa kubuat. Hari Minggu kemarin, kugunakan untuk tidur setengah hari dan bermain ke rumah Chiya untuk menonton drama sampai malam –tentu saja ia shock berat karena keadaan pipiku namun dia tidak bisa memaksaku untuk istirahat di rumah seharian karena aku bersikeras bahwa aku sudah baik- baik saja-. Sepertinya Chiya juga melupakan PR yang satu ini karena ketika kulirik ke bangku depan, ia terlihat tengah mencuri kesempatan untuk menggaris.

Sekarang adalah pelajaran Lee Songsaengnim, dia adalah guru Konseling kami yang selalu berceramah panjang lebar setiap hari Senin pagi. Di jam pertama di kelasku. Aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan, dan petuah apalagi yang kini ia coba sampaikan pada muridnya yang sebagian besar kalau tidak tertidur pulas, mencuri- curi kesempatan mengerjakan PR –sepertiku, dan pura- pura mendengarkan. Well, bagaimanapun ini adalah tindakan yang tidak baik.

Haksengdeul, apakah kalian bosan dengan pelajaran saya?” Aku mengangkat kepalaku dan menahan tawa yang hampir tergelincir dari mulutku. Pertanyaan retoris macam apa itu. Hmppp–

“NEEEE.” Dengan tidak tahu dirinya, kami menyaut dengan nada keras, tegas, dan jujur. Hahaha.

“Baiklah, hari ini ibu ingin membagi metode baru untuk kalian. Bagaimana jika kita bermain games?” Mungkin sekarang yeoja paruh baya yang menjadi guruku itu bisa bersorak karena tawarannya membuat beberapa di antara kami langsung memusatkan perhatian padanya.

“Sebelum itu yang duduk di sebelah Oh Sehun, Kim Jongin, Lee Jeongmin tolong bangunkan mereka.” Aku berusaha sedaya upaya untuk tidak melirik ke kiri –ke arah bangku Sehun saat Lee songsaengnim menyebut namanya. Walau sulit, sepertinya aku harus tetap menjaga jarak sebisa mungkin dengannya terutama ketika berada di sekolah.

Aku ini memang aneh yah? Beberapa hari yang lalu aku menghindarinya, lalu karena sebuah insiden aku didekatkan lagi dengannya –bahkan aku menawarkannya untuk membagi ceritanya denganku, yang jika dipikir- pikir ini membuatku terlihat seperti yeoja agresif, menurutku- dan kini aku ingin berusaha menghindarinya lagi. Oh micheosseo. Tapi aku tidak akan menolak jika saja suatu saat Sehun datang kepadaku dan menceritakan sesuatu. Walau sepertinya kemungkinan itu tipis sekali.

“Sekarang kerjakan..”  Hah? Hah? Kerjakan apa? Aishh sepertinya aku terlalu larut dalam benakku sendiri dan melupakan Lee songsaengnim yang sepertinya sudah beres menjelaskan gamesnya.

Seperti orang linglung, aku hanya menatap teman-temanku dengan tatapan bingung sementara mereka sudah bangkit dari kursinya dan bergerak- gerak seperti sedang mencari seseorang.

Aku menepuk punggung Heyoung yang duduk di depanku dan menanyakan ada apa dengan situasi ini ketika dia hendak berjalan ke arah sekitar Youngmin. Dia melihatku dengan tatapan ‘oh ya ampun Park Gaemi, kau lupa membawa telingamu yah’ sebelum menjawab pertanyaanku dengan nada malas.

“Baiklah akan kuulangi sekali lagi, Lee songsaengnim meminta kita untuk membentuk pasangan. Aku akan meminta Youngmin menjadi pasanganku, lalu kau harus mendekati pasangan yang mau kau ajak bermain games.”

Aku mengangguk sekali sebelum berkata, “Ah. Geurrae, gomawoyo Heyoung-ah.”

Lalu sekarang aku bingung mau menghampiri siapa? Sehun? Oh tidak mungkin sekali. Lalu aku melihat Suho oppa berjalan ke arahku, dan BINGO!

Oppa, apa kau sudah dapat pasangan?” aku baru mau basa- basi, tapi melihat senyum namja ini. Aku jadi tidak tahan untuk tidak tersenyum. Kim Suho memiliki senyum yang sangat indah.

“Jadi kau sudah memutuskan untuk memanggilku dengan oppa?” tanyanya jahil dan aku hanya bisa menggaruk tengkukku saja.

“Begitulah.” Aku tersenyum salah tingkah, tapi Suho oppa buru- buru kembali pada topik utama mengapa ia menghampiriku.

“Kau bersamaku saja, yah?” ia bertanya to the point dan aku mengangguk penuh semangat.

JA! Apa kalian sudah menemukan pasangan masing- masing?”

“Daehyung, Gonghee dan Minhwan tidak memiliki pasangan, Saem.” Lapor seseorang dan aku teringat bahwa jumlah murid namja di kelas ini memang lebih banyak dari yeojanya.

“Kalau begitu kalian bermain bertiga saja yah.”

“Oh! Menyebalkannya memiliki pasangan yang juga seorang namja.” Celetuk Minhwan yang memanglah paling ribut di antara kedua namja lainnya yang notabene seorang pendiam.

Dan gemparlah tawa seisi kelasku. Aku juga tertawa karena celetukan itu, tapi dalam 5 menit keadaan ribut itu telah berubah menjadi keadaan yang bingung. Semua karena Lee songsaengnim yang tiba- tiba membagikan sebuah kertas yang dilipat- lipat secara misterius pada setiap orang sambil mengatakan untuk tidak membukanya terlebih dahulu.

Lalu ketika dia selesai membagikan, ia mulai bercuap- cuap lagi.

“Hari ini kita akan belajar untuk lebih dekat lagi dengan teman- teman sekelas kita dengan mengetahui isi hatinya. Langsung saja, pasangan Chiya-Jongin silahkan maju ke depan sebagai pasangan pertama.” Aku langsung saja menolehkan kepalaku dengan gerakan cepat ke arah Chiya yang memang benar- benar berpasangan dengan Kim Jongin atau Kai. Entah siapa yang mengajak.

Tapi kurasa, itu bukan Chiya.

Lalu sekali lagi aku berusaha keras tidak melirik ke arah Oh Sehun untuk menemukan dengan siapa dirinya berpasangan. Tapi sepertinya usahaku ini akan berhasil, karena sekarang aku mulai terfokus pada Kai yang sedang membuka lipatan kertasnya dan menanyakan sesuatu untuk Chiya.

“Apa yang kau pikirkan tentang seseorang yang pintar?” Ah, jadi isi kertas ini ternyata adalah rangkaian pertanyaan. Sepertinya guru Konseling kami ini berniat untuk mengeratkan tali persaudaraan kami dengan hal- hal semacam ini. Semoga saja kertas pertanyaan yang akan kutanyakan untuk Suho oppa dan pertanyaannya untukku itu tidak aneh- aneh.

“Orang pintar ada karena ada orang yang malas.” Aku terkekeh mendengar jawabannya yang begitu blak- blakan. Itulah temanku.

Lee songsaengnim menyuruh Chiya membuka kertasnya dan membacakannya dengan lantang. Namun Chiya tidak mengikuti intruksi kedua Lee songsaengnim. Ia malah mengerutkan keningnya dalam.

Saem, pertanyaan macam apa ini?”

Lee Songsaengnim tersenyum misterius sebelum mengatakan, “Sudah bacakan saja.”

Chiya menghela napasnya dan, “Apa yang kau pikirkan tentangku? Ya, ini benar- benar tertulis seperti itu.” Temanku itu bahkan menunjukan kertasnya dengan mengangkatnya ke udara. Aku terkekeh sekali lagi. Terkadang temanku itu sama bodohnya juga denganku.

Kai terlihat mengulum senyumnya, tapi ia berusaha menjawab pertanyaan itu dengan ekspresi santai. “Kau? Menurutku kau itu yeoja yang aneh tapi.. kurasa kau cukup menarik, Yang Chiya.”

Aku menganga dan mencoba mengulang perkataan Kai sekali lagi dalam benakku. Whoa, nice reply, Kai! Karena sekarang Chiya juga terlihat bengong dan menatap Kai dengan pandangan bingung total.

Beberapa detik kemudian, teman- temanku yang lain yang sebelumnya mengalami hal yang sama denganku –shock, mulai bisa menafsirkan sesuatu.

“Ternyata selera yeoja mu itu yang seperti Chiya!”

“Apakah ini bisa dikategorikan sebagai confession? Chukkae Chiya-ya!”

“Wow! Kai kau modus sekali!”

Dan lain sebagainya. Aku lebih minat memperhatikan Chiya yang hanya memasang wajah kesal pada Kai. Aku mencoba menebak apa yang dia pikirkan. Chiya sepertinya kesal sekali.

Sepertinya pemikirannya tidaklah jauh berbeda dengan apa yang baru saja kupikirkan. Aku baru saja berpikir bahwa Kai tidak sungguh- sungguh dalam kalimatnya. Ia hanya ingin sedikit menjahili Chiya dan membuatnya kesal.

Lee songsaengnim menenangkan suasana dengan memanggil pasangan kedua, yang ternyata aku dan Suho oppa.

Chiya-Kai berjalan kembali ke bangkunya masing- masing, Kai dengan wajah puasnya –seakan dia berhasil melakukan sesuatu. Dan Chiya dengan wajah penuh tekukan.

Sesampainya di depan, pandanganku langsung bertumbukan dengan bola mata Sehun yang juga menatapku. Aku melarikan diri dari tatapannya dan melirik ke sebelahnya dan menemukan bahwa dia berpasangan dengan Haeji –teman sekelasku yang sangat cantik dan anggun namun berkepribadian sangat tertutup. Dia sulit dan tidak mau berteman dengan siapapun.

Aku mengabaikannya dan memfokuskan diriku yang berencana membuka kertasku terlebih dulu.

“Apa hal mustahil yang paling kau inginkan? Dan mengapa? Wow. 2 pertanyaan.” Aku nyengir di ujung pertanyaanku.

Suho terkekeh lalu berdeham kecil, sebelum menjawab “Aku ingin mempunyai adik kandung. Supaya aku bisa melindunginya.”

Whoaaa. Aku sempat terpana dengan jawabannya. Sepertinya Suho oppa adalah anak tunggal atau anak bungsu di keluarganya. Ya, terkadang aku juga ingin memiliki seorang adik atau kakak. 16 tahun hidupku selalu kulalui dengan kesendirian di dalam keluargaku. Mengingat aku adalah anak tunggal. Aku jarang –bahkan tidak pernah- bertemu dengan sepupu atau sanak saudaraku yang lain. Karena menurut appa, keluarga besarku itu tinggal di luar Seoul, dan aku sering mengunjungi mereka waktu aku kecil. Tapi sebenarnya aku tidak ingat apa- apa tentang keluarga besarku, yah mungkin karena kenangan masa kecil itu sulit untuk diingat.

Suho membuka lipatan kertasnya dan membacakan pertanyaan yang ada di sana. Sebelum dia mengeluarkan suara, ia sempat tersenyum dan menatapku penasaran.

Membuatku makin penasaran dengan pertanyaannya.

“Bulan depan, tepat pada hari Valentine. Sekolah kita akan mengadakan prom night. Siapa namja yang akan kau pilih untuk menemanimu ke acara itu?”

Prom night?

Sial! Aku melupakan bahwa di Highschool selalu saja ada acara bodoh seperti itu.

Memangnya siapa yang akan kuajak?

Aku berpikir keras tapi rasanya di benakku hanya tertera satu nama saja. Nama yang sebaiknya tidak boleh kusebut.

“Aku… Mungkin aku akan mengajak..”

TBC

15 pemikiran pada “Post Hoc, Propter Hoc (Chapter 4)

  1. Kyaaa lagu fav aku jg thorrr >.< I WILL BREAK THESE CHAINS THAT BIND MEEEEEE!!!!!
    Wkwkkwk pokoknya sehun sehun sehun yg harus diajak ke prommmmmm
    Serius thor, kalo baca ff ini tuh ngerasanya kek gua jd gaemi, kk kls gua jd sehun wakakka
    Jeles gitu kan jdnya kalo baca ini-.-
    Tp yg jelas, NEXTTTTTTTTTTTT~

  2. kyaaaa daebak thor! aku penasaran banget siapa yang bakalan disebut gaemi namanya buat diajak ke promnight wahahaha… oke thor good job. aku mau lanjut baca chapter selanjutnya. daaaahhh hahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s