We Are EXO! (Chapter 2)

Title                 : We Are EXO!

Author             : Elisa Hutami

Main cast      :  Kim Yoo Jung  a.k.a Dara

Oh Sehun a.k.a Sehun

Park Chanyeol a.k.a Chanyeol

Kim Jong In a.k.a Kkamjong

Byun Baekhyun a.k.a Baekhi

Do Kyung Soo a.k.a Kyung Soo

Support Cast : Lee Taemin a.k.a Kim Seonsangnim

Im Yoona a.k.a Yoona Seonsangnim

Hyuna a.k.a Hyuna Seonsangnim

Lami a.k.a Revi

Son Na Eun a.k.a Naeun

Genre              : School life, Fantasy, Family, Romance, Friendship, Mystery

Length            : Chapter

Rating             : PG-15

Disclaimer      : Original

 

Summary         : Planet bumi yang sudah sangat lama dihuni manusia ini ternyata mempunyai banyak rahasia yang mungkin tidak akan masuk di akal manusia biasa. Salah satunya adalah sebuah pohon yang diberi nama pohon kehidupan yang kini sudah mulai mengering karena suatu alasan, dan ke-12 member EXO diperintahkan untuk tinggal di dunia manusia dengan tugas untuk mencari “sesuatu” yang bisa mengembalikan kesuburan pohon kehidupan. Namun ternyata tugas ini sangat sulit bagi mereka, karena selama di dunia manusia mereka harus bertingkah sewajarnya manusia, dan mereka juga harus pergi ke sekolah yang sebelumnya belum pernah mereka lakukan, serta memiliki keluarga baru di bumi. Bagaimana cerita selengkapnya? Pantengin terus We Are EXO!

            2st We Are EXO !
Kim seonsangnim memandangi Dara sambil melotot. Dara merasa detik-detik kematiannya semakin mendekat saat itu juga, tiba-tiba badannya terasa lemas, dan jantungnya berdetak kencang. Lalu dia menelan ludahnya, dan memantapkan hatinya.

 

“Oh.. Da.. Ra..!” bentak Kim seonsangnim.

 

Semua teman kelas Dara tertawa, namun mereka tahan dengan dekapan tangan atau hanya sekedar menggembungkan mulut.

 

“Diam semua!” bentak Kim Seonsangnim lagi

 

Lalu seisi kelas kembali hening, hanya suara lolongan singa krikan jangkrik yang bisa menemani keheningan itu.

 

Dara menarik napas panjang, menegakkan badannya dan mengangkat kepalanya dengan mantap “chwe song ham ni da!”

 

Chanyeol tertawa lirih membelakangi Dara “Haha..”

 

“Yah.. apa kau tadi tidur di kelas hah?” tanya Kim seonsangnim marah.

 

“Animida!” Dara masih percaya diri dalam posisi tegapnya.

 

Kim seonsangnim menarik napas panjang “Lalu.. kenapa kau tadi berteriak dan mengatakan sesuatu tentang dewan guru sudah gila?”

 

Sebuah pertanyaan yang sukses membuat Dara salting dengan melakukan gerakan tangan tidak jelas “Anu.. emm..” Dara bingung “masa iya aku mau bilang tadi aku memperhatikan Chanyeol terus? Mau ditaruh mana ini muka coba?” pikir Dara bingung “terus aku bilang apa ya? Apa aku..”

 

Belum selesai Dara memikirkan rencana kebohongannya, Kim seonsangnim langsung berkata “Keluar dari kelasku sekarang juga!”

 

“Eh?” Mata Dara membulat besar, dan mulutnya terbuka lebar.

 

“Kau tidak dengar? Aku bilang keluar dari kelasku sekarang! Dan jangan lupa untuk membersihkan atap sekolah!”

 

Dara masih tetap berdiri di tempat dengan polosnya.

 

“Yah! Apa kau ingin aku pukul hah?” Kim seonsangnim langsung mengambil sebuah tongkat panjang yang terbuat dari bambu di belakangnya, yang biasa dia gunakkan untuk menunjuk tulisan di papan tulis.

 

Semua teman kelas Dara langsung menundukkan kepalanya, takut dengan senjata yang sudah sangat dikenal mereka sedang dipegang oleh Kim seonsangnim.

 

“Ah geurae.. aku pergi” kata Dara langsung setelah melihat senjata yang dipegang Kim seonsangnim.

 

Dengan lemas Dara meninggalkan kelas, tatapannya begitu kosong “Bangun pagi kesiangan, di perjalanan kelaperan, cuman sarapan satu bungkus roti, masuk terlambat, disuruh mbersihin atap, terus ini diusir dari kelas kimia? Yaampun.. apa yang bakal kejadian siang atau malam nanti? Hah…” Dara bergumam sambil berjalan meninggalkan kelas.

 

Dara segera berjalan menuju atap sekolah, melewati lorong-lorong kelas yang panjang sampai akhirnya dia sekarang ada di depan lift.

 

Dara kaget melihat di depan lift ada sebuah papan bertuliskan.

 

*Lift sedang dalam proses perbaikan, naik tangga darurat saja*

 

“Mwo? Liftnya rusak? Padahal kemarin baik-baik saja..! Yah.. kenapa hari ini aku sial sekali? Ah cenca..” Dara menarik napas panjang “masa aku harus ke lantai 4 dengan berjalan kaki menaiki tangga itu? yaampun..” kata Dara mengeluh sambil melihat ke arah tangga darurat yang berada di dekat lift.

 

Lalu Dara menaiki berpuluh-puluh atau bahkan sampai seratus lebih anak tangga yang sukses membuat napasnya tidak teratur saat sudah di atap sekolah.

 

Dara mencoba mengatur napasnya. Dia lalu berdiri tegak, dan menyadari bahwa “Sial..! aku tidak bawa sapu! Ah cenca.. apa aku harus kembali ke lantai 1 kemudian kesini lagi? Aish..”

 

Lalu tiba-tiba suara langkah kaki mendekat dari belakang Dara.

 

“Nuguda?” kata Dara yang kemudian langsung berbalik dan mendapati seorang namja berseragam lengkap dengan tinggi badan yang melebihinya sambil memegangi sapu ditangan kanannya.

 

Dara menatap namja itu heran.

 

“Ige, kau membutuhkan sapukan? Ambil saja sapuku” tanya namja itu yang lalu menyodorkan sapunya ke depan Dara.

 

“Emh..” Dara menganggukkan kepala lalu mengambil sapu itu tanpa perlu berpikir panjang, ya jelas saja dia lebih memilih menggunakkan sapu itu dibanding harus kembali ke lantai 1 kemudian kembali ke sini lagikan? “apa yang kau lakukan disini?” tanya Dara penasaran.

 

“No.. apa yang kau lakukan disini?”

 

Dara mencoba berpikir alasan yang tidak membuatnya malu, masa iya dia bilang dia sedang dihukum.. “A.. aku.. sedang.. mengadakan pekerjaan peduli sosial.. iya.. peduli sosial..” kata Dara gelagepan yang pasti semua orang yakin dia itu sedang berbohong.

 

Namja itu tertunduk lalu tersenyum “Aku juga” kata namja itu yang lalu menatap Dara.

 

Karena merasa tidak enak telah membohongi seseorang dipertemuan pertama, Dara lalu mencoba jujur “Sebenarnya.. aku.. aku sedang dihukum” kata Dara lirih yang lalu menundukkan kepalanya.

 

Namja itu masih menatap Dara “Aku juga” lalu tersenyum lagi.

 

“Yah! Sebenarnya apa yang kau lakukan disini? Jangan membohongiku!” kata Dara membentak sambil menatap namja itu sedikit melotot.

 

“Aku tidak berbohong” kata namja itu sambil berjalan ke tepi atap lalu memegangi pembatas atap.

 

Dara mengikuti namja itu sambil memegangi sapu lalu berdiri di sampingnya “Mworaguyo?! Yah.. aku benar-benar bukan anak kecil yang bisa kau bohongi sesuka hatimu kau tahu?”

 

Namja itu memejamkan matanya, menarik napasnya dalam, dan merasakan hembusan angin yang menerjangnya “Aku ikut club peduli sosial, aku juga sedang dihukum, jadi aku tidak berbohong” namja itu membuka matanya lalu menatap Dara sambil tersenyum tipis.

 

“Ke.. kenapa kau dihukum?” tanya Dara penasaran, karena namja ini terlihat namja yang baik, dan sikapnyapun sopan, tidak mungkin kalau dia dihukum.

 

Namja itu menyipitkan matanya “Kepo!” lalu dia mengacak-acak rambut Dara sedikit.

 

“Yah! Apa yang kau lakukan?” Dara menyingkirkan tangan namja itu “Baiklah kalau kau tidak mau cerita..” Dara berbalik badan lalu berjalan menjauhi namja itu.

 

Namun baru beberapa langkah *glep* tangan Dara seperti digenggam dengan sebongkah es, dingin sekali “Yah.. apa yang kau laku..” kata-kata Dara langsung terhenti melihat tangannya terasa dingin karena digenggam namja itu.

 

“Kau..” Dara berbalik badan lalu menatap namja itu heran “dingin..”

 

“Ah mian..” lalu namja itu melepaskan genggamannya. Namja itu tiba-tiba jadi salting, dia menggaruk kepalanya menggerakkan tangannya tidak jelas “aku.. harus pergi sekarang” lalu namja itu pergi meninggalkan Dara yang sedang memegangi sapu keheranan.

 

Dara memiringkan kepalanya “Seperti Edward Cullen saja..” pikir Dara yang teringat tokoh di film favoritnya. Lalu dia segera menyapu atap sampai bersih supaya dia bisa segera kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran berikutnya.

 

Sementara namja itu..

 

“Pabo pabo..!! seharusnya tadi aku tidak memegang tangannya! Aishh..” namja itu mengacak-acak rambutnya sambil berjalan menuruni tangga “dan seharusnya tadi aku tidak usah berbohong padanya, club peduli sosial? Ah.. aku saja tidak tahu club itu benar-benar ada di sekolah ini atau tidak, jika dia tahu, dia pasti akan mengira aku bukan orang yang baik.. lalu.. dia akan menjauhiku! Ah tidak..!” kata namja itu lebay.

 

“Apa yang aku lakukan disini?” tanya namja itu bingung pada dirinya “aish.. kenapa aku malah capek-capek lewat tangga?” lalu tiba-tiba di tangga itu menyebar abu hitam, dan namja itu kini sudah tidak ada disana, begitupun abu yang menyebar tadi.

 

Sementara itu Dara..

 

“Huh.. akhirnya selesai juga!” Dara mengelap keringat di wajahnya dengan tangannya.

 

Atap itu benar-benar bersih sekarang, semua sampah makanan dan minuman, serta daun-daunan kering sudah dia pinggirkan.

 

“Yosh.. saatnya pulang ke kelas! Tapi.. bagaimana dengan sapu ini?” Dara berpikir “aku kembalikan saja ke ruangan club peduli sosial, ya.. begitu saja” Dara lalu berjalan menuruni tangga dengan tangannya yang masih memegangi sapu.

 

Menuruni tangga dari lantai  4 ke lantai 1 sukses membuat Dara kelelahan, namun kemudian dia mengatur napasnya dan kembali berjalan.

 

Begitu kagetnya dia ketika mendengar bunyi lift yang terbuka, matanya langsung melihat ke arah lift sambil melotot “Eh? Kenapa liftnya bisa digunakkan?”

 

“Dara, mowe?” kata Revi polos yang baru keluar dari lift.

 

“Yah! Revi! Apa kau baru naik lift? Kenapa kau tidak naik tangga saja?”

 

Revi memegangi dahi Dara, lalu dia memiringkan kepalanya “Aneh.. padahal tidak panas..”

 

“Yah aku tidak sedang sakit!”

 

“Yah.. tentu saja aku tidak ke kantin lewat tangga, apa kau gila? Terus apa gunanya lift jika kau harus naik tangga?”

 

“Ah bukan itu maksudku.. tapi tadi di depan lift ada papan yang..” belum selesai Dara berbicara, Revi langsung memotongnya “Apa maksudmu papan itu?” Revi menunjuk ke arah papan yang ada di pinggir dekat lift.

 

“Iya itu..”

 

“Yah.. itu hanya ulah murid yang usil, kau tau kan adik kelas? Mereka selalu usil”

 

Badan Dara tiba-tiba lemas “Seharusnya aku tahu karena ini bukan yang pertama kali, ah.. kenapa aku bisa lupa sih?”  tanya Dara lemas.

 

“Lalu, kenapa kau memegangi sapu?”

 

“Kenapa apa maksudmu? Tentu saja karena aku telah menyapu!” kata Dara kesal.

 

“Haha.. kau sangat lucu jika kau marah, eh.. kau mau kemana?”

 

“Kau sendiri?”

 

“Aku mau ke kalas, ah.. kenyang sekali..” kata Revi santai sambil berjalan.

 

“Mwo? kalau begitu sekarang sudah siang?”

 

Revi menghentikan langkahnya lalu berbalik badan “Yah.. kau kan baru dari atap, seharusnya kau tahu sekarang sudah siang karena kepanasan di sana..” Revi menaikkan alisnya heran.

 

“Aku tidak kepanasan kok, biasa saja..” Dara juga heran kenapa tadi dia tidak kepanasan di atas sana “ah molla.. eh Revi temani aku yuk ke club peduli sosial, aku mau ngembaliin sapu ini”

 

“Club peduli sosial?” Revi berpikir “aku belum pernah mendengarnya”

 

“Yah.. apa maksudmu? Tadi aku bertemu seseorang di atap, dia memberikan sapu ini kepadaku, katanya dia dari club peduli sosial, karena itu aku ingin mengembalikannya ke sana” jelas Dara panjang.

 

“Entahlah.. tapi sepertinya aku belum pernah mendengar club itu, ayo kita cek ke ruang kesiswaan” bujuk Revi.

 

“Emh.. kajja..”

 

Lalu Revi dan Dara berjalan ke ruang kesiswaan. Di ruang kesiswaan..

 

“Mwo..?” Dara melotot dengan mulutnya terbuka dan kedua tangannya dia letakkan di atas meja sambil berdiri.

 

Revi duduk di samping Dara sambil menyilakan kedua tangannya di depan perut “Apa aku bilang..” kata Revi santai.

 

“Club peduli sosial tidak diadakan lagi di sekolah ini, dulu pernah ada pada tahun 1988-1989 namun hanya sampai tahun itu saja” kata yeoja seonsangnim bernama Yoona yang merupakan dewan kesiswaan.

 

“Tapi Yoona seonsangnim.. tadi aku bertemu seseorang yang mengatakan kalau dia dari..” Dara berpikir, tiba-tiba jantungnya berdetak kencang, badannya mengeluarkan keringat dingin, dan napasnya terasa berat “yah.. apa tadi aku telah bertemu hantu?” Dara segera memandangi Revi dan Yoona seonsangnim secara bergantian.

 

Yoona seonsangnim dan Revi saling berpandang kemudian secara kompak menjawab “Mungkin..”

 

* * *

Sementara itu Sehun..

 

“Yah.. dari mana saja kau Sehun? Siang hari baru nongol..” kata seorang namja yang duduk di kursi samping kanan Sehun.

 

Sehun terduduk lemas di kursinya dengan kedua tangan dan kepelanya dia letakkan di atas meja “Ah molla.. aku lelah berdiri di depan kelas setengah harian..”

 

“Hahaha.. yah! Siapa suruh kau berdiri di sana, kalau aku jadi kau, aku akan pergi ke kantin”

 

Sehun mengangkat kepalanya “Kenapa aku tidak kepikiran ya?!” matanya membesar.

 

“Pabo !” kata namja itu.

 

“Siapa yang kau bilang pabo, pabo..!” tiba-tiba seorang namja yang duduk di depan Sehun menyambung, padahal tidak ada kebel putus saat itu (?)

 

“Ya Baekhi! Aku sedang tidak berbicara padamu!” kata namja itu pada namja yang duduk di depan Sehun, yang ternyata adalah Byun Baekhyun atau biasa dipanggil Baekhi.

 

“Yah kkamjong! Berhenti memanggilku Baekhi!”

 

“Lalu aku memanggilmu siapa? Inul Daratista? Ahaha..” tanya namja yang disebut sebagai Kkamjong itu meledek.

 

“Yah no..” Baekhi segera berdiri dari kursinya.

 

“Yah kalian! Berhentilah berkelahi!” kata Sehun lantang yang lalu duduk dengan tegak.

 

Kkamjong dan Baekhi saling berpandangan kemudian tersenyum setelah Sehun selesai berbicara.

 

“Siapa bilang kita sedang berkelahi, kita hanya sedang bermain iyakan kkamjong?” Baekhi tersenyum tidak ikhlas pada Kkamjong.

 

Kkamjong memberikan senyuman kepada Baekhi, sebuah senyuman yang sangat menakutkan, bahkan bayi yang sedang menangis akan menangis semakin kencang jika melihat senyuman Kkamjong saat ini “Iya, kita tidak sedang berkelahi kok Sehun..”

 

Lalu Baekhi dan Kkamjong segera berdiri kemudian berpelukan di depan Sehun, Sehun hanya bisa terkekeh melihat kedua temannya yang sedang beracting tapi gagal total.

 

Tiba-tiba seorang yeoja mendekat dan berkata “Kkamjong, Baekhi apa yang kalian lakukan?”

 

Kkamjong dan Baekhi langsung membalikkan badan ke sumber suara, kemudian mereka segera melepaskan pelukan tidak hangat mereka dengan keadaan gugup sekarang.

 

“Yah.. apa kalian homo?” kata yeoja itu yang  kemudian mundur 1 langkah menjauhi mereka.

 

Kkamjong dan Baekhi saling berpandangan “Kita..? Homo..?” kata mereka kompak, kemudian mereka langsung mutah-mutah (?)

 

“Yah Son Naeun! Kalaupun aku homo, aku tidak akan memilih si kkamjong ini” kata Baekhi menunjuk-nunjuk Kkamjong.

 

Yeoja yang bernama Naeun hanya memandangi Baekhi datar.

 

Tiba-tiba Kkamjong merangkul pundak Baekhi dari belakang “Kami memang homo, aku dan Baekhi sudah berpacaran dari tanggal 30 Februari kemarin” lalu Kkamjong memandangi Baekhi sambil tersenyum.

 

“Wae..! No..!” Baekhi memelototi Kkamjong lalu menginjak kaki Kkamjong keras.

 

“Yah..!” bentak Kkamjong langsung karena dia merasa kesakitan, lalu dia melihat ke arah Naeun yang menatapnya heran, Kkamjong mengerutkan dahinya lalu berkata “Wae?” kepada Baekhi dengan lemah lembut lalu merangkul Baekhi kembali, yang diam-diam dia sedang mencubit pundak Baekhi.

 

“Minggir kalian! Aku ingin lewat!” lalu Kkamjong dan Baekhi segera minggir dengan tangan Kkamjong yang masih merangkul Baekhi.

 

Naeun segera duduk di belakang Sehun, kemudian segera membuka lembaran bukunya.

 

Bakhi dan Kkamjong segera terpisah kemudian membawa kursi mereka mendekati kursi Sehun, ya.. kecuali Baekhi yang hanya membalik kursinya.

 

“Sehun kenapa Naeun tidak menyapamu?” kata Baekhi penasaran “Apa kalian baru putus?” tanya Kkamjong menambahkan.

 

Baekhi segera menyikut Kkamjong “Yah.. hust..” Baekhi menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya.

 

“Ah wae..?” tanya Kkamjong membela diri pada Baekhi.

 

“Aku sudah putus dengannya” kata Sehun datar yang sukses membuat kedua temannya tiba-tiba berhenti berdebat dan langsung menangis “kenapa kalian menangis?”

 

“Yah apa aku menangis? Baekhi lihat aku! Apa aku menangis?” tanya Kkamjong yang kemudian memandang Baekhi.

 

“Tidak, yah.. apa tadi kau kelilipan Kkamjong? Sinih aku lihat..” kata Baekhi yang kemudian meniup di depan mata Kkamjong lalu diam-diam menghapus air mata Kkamjong “Pabo! Actingmu buruk sekali, kau perlu belajar padaku Kkamjong!” kata Baekhi dalam hati.

 

“Ah gomawo Baekhiya” kata Kkamjong lembut “eh? Apa kelas ini bocor? Ada air yang menempel di pipimu Baekhiya..” Kkamjong segera menghapus air mata Baekhi yang dia katakan adalah air yang bocor dari atap. Yang sangat sekali tidak mungkin! Karena di atas kelas mereka adalah ruang kelas lagi.

 

Ingin rasanya Baekhi mutah saat itu juga, tapi keadaan sangat tidak memungkinkan.

 

“Yah kalian.. apa yang kalian bicarakan? Kkamjong! Kelas ini selalu bersih, tidak ada debu disini, dan Baekhi! Tidak ada hujan sekarang, bagaimana kelas ini bisa bocor?” tanya Sehun heran.

 

Baekhi dan Kkamjong saling berpandangan.

 

“Sehun.. kau tahu bumi saat ini sedang globar warmingkan?” tanya Baekhi aneh “iya.. dan karena itu beruang kutub yang lucu akan segera punah..” tambah Kkamjong.

 

Kkamjong dan Baekhi saling berangkulan “Karena itulah kami menangis..” kata mereka kompak.

 

Sehun menatap kedua temannya heran “Haaah..?”

 

* * *

 

*Tett.. Tett.. Tett..*

 

Bunyi bell yang bertanda waktu istirahat makan siang selesai telah berbunyi.

 

Dara dan Revi sekarang sudah duduk di kursi mereka dengan rapi.

 

Tidak beberapa lama kemudian, seorang yeoja seonsangnim memakai baju cukup sexy dengan rambut panjangnya yang dia gerai masuk ke dalam kelas, seonsangnim itu mengajar pelajaran Matematika.

 

“Hyuna seonsangnim, kau cantik sekali hari ini!” kata seorang murid namja yang duduk di barisan belakang yang kemudian ditambahi suara siulan dari namja-namja yang lain. Para yeoja hanya bisa terdiam lelah sambil memperhatikan kondisi yang selalu saja terjadi saat Hyuna seonsangnim masuk kelas.

 

“Hahaha..” tawa Hyuna seonsangnim mengerikan “gomawo..” lalu Hyuna seonsangnim tiba-tiba berkata tidak jelas tentang fashionnya hari ini, ya seperti biasa.. “Jadi anak-anak.. baju yang saya pakai hari ini..” bla bla bla.. Hyuna seonsangnim berkata panjang lebar.

 

“Ah seriusan! Ini pelajaran matematika atau fashionsih? Dan ada apa dengan panggilan anak-anak itu?” kata Dara lirih dengan tangan kanannya dia gunakkan sebagai penyangga kepalanya “karena itulah aku benci matematika..” tambahnya datar.

 

Tiba-tiba sebongkah es sebuah kertas yang sudah di tekak-tekuk mendarat tepat di meja Dara yang sebelumya tepat mengenai dahi lebar Dara. Dara memandangi arah datangnya kertas itu tadi, ternyata kertas itu berasal dari temannya yang duduk tepat di samping kirinya.

 

Dara segera membuka kertas itu lebar-lebar, kemudian membacanya.

 

Dara.. gwenchana? Yah.. pasti kau sangat lelah hari ini, mau ku traktir makan?

 

Dara tersenyum membaca surat dari temannya yang begitu perhatian, lalu dia segera menulis di bawah tulisan temannya itu.

 

Gwenchana kyung sooya.. mian, mungkin lain kali saja, commal mianhae.. J

 

Lalu Dara segera melemparkan kertas tadi ke sampingnya. Namja yang bernama Kyung soo itu terlihat kecewa, lalu dia menatap Dara “Gwenchana, lain kali saja tidak apa-apa..” katanya lirih.

 

“Emh.. gomawo..” balas Dara lirih juga.

 

Tiba-tiba meja Dara begerak, dan kemudian Dara sadar kalau orang yang membuat mejanya bergetar itu adalah Revi “Hust..” kata Revi lalu menyodorkan buku kecilnya ke belakang.

 

Dara membaca tulisan di buku kecil itu.

 

Nanti sepulang sekolah temani aku ke super market yah.. aku akan membeli beberapa baju dan makanan untuk aku bawa berkemah

 

Dara menarik napas panjang lalu menulis di buku kecil itu.

 

            Makanan? Yah.. terlalu pagi untuk kau membeli makanan! Apa kau benar-benar berniat membeli makanan untuk kemah hari ini?:/

 

Dara segera menggoyangkan kursi Revi, lalu Revi berbalik badan kemudian mengambil buku itu, membacanya lalu menulis balasannya.

 

Pokoknya temani aku ya..kalau tidak persahabatan kita cukup sampai disini!

 

Menarik napas panjang, ya.. itulah yang dilakukan Dara setelah membaca balasan Revi tadi, lalu Dara segera menulis.

 

            Baiklah.. tapi hanya sampai tengah malam, tidak boleh lebih! Aku sangat lelah hari ini, kau tahukan?

 

Setelah membaca surat itu, bukannya membalas, Revi malah berbalik badan “Oke..!” katanya sambil tersenyum dan memamerkan jempolnya.

 

Dara hanya menatap Revi datar “Hah.. tapi kau harus mentraktirku makan..” katanya lirih.

 

Revi terlihat berpikir keras “Emh.. baiklah, tapi jangan terlalu banyak ya?”

 

Dara menganggukkan kepalanya “Tidak banyak kok, aku hanya akan meminta 1 family portion, tidak banyak…” kata Dara dalam hati yang diakhiri dengan evil smilenya.

 

*Tett.. Tett.. Tett..*

 

Bunyi bell yang artinya pelajaran untuk hari ini sudah berakhir telah berbunyi.

 

“Saya rasa cukup pelajaran untuk hari ini, kalian boleh pulang, dan untuk bimbel hari ini untuk sementara diliburkan” kata seonsangnim mapel Sastra Korea yang lalu meninggalkan kelas.

 

Seisi kelas langsung menyambut bimbel yang libur dengan tepuk tangan, lalu mereka semua segera beridi dan mengambil tas mereka lalu pergi meninggalkan kelas.

 

“Dara..” kata Revi yang sekarang berdiri di samping Dara.

 

“Sekarang?” tanya Dara dengan wajah polosnya.

 

“Tahun depan! Ya sekaranglah Daraku sayang..” kata Revi sambil memasang wajah sok imutnya.

 

“Oke deh, tapi aku cuman nemenin yah.. dan jangan lupa kau harus mentlaktirku!”

 

“Oke oke..” Revi segera menarik tangan Dara, Dara lalu berjalan mengikuti tarikan tangan Revi.

 

“Loh? Kyung Soo sudah pulang?” gumam Dara lirih melihat kursi Kyung Soo yang sudah kosong sekarang.

 

“Hm? Kau tadi bilang apa?” tanya Revi yang sepertinya tadi mendengar Dara bergumam.

 

“Ah lupakan! Kajja..” Dara dan Revi segera keluar dari kelas dan menuju ke super market yang tidak jauh dari sekolah dengan berjalan kaki bersama, tapi sebelum itu Dara mengsms Sehun saat dia ada di depan gerbang sekolah.

 

For : Sehun Oppa

 

Malam ini aku ingin main ke super market yang dekat dengan sekolah bersama Revi, kau pulang saja  duluan, tapi nanti jangan lupa untuk menjemputku jam 12 malam ya oppa. Oppa saranghae ^_^

 

Tidak lama setelah Dara mengirimkan sms itu, Sehun segera membalas dengan sms seperti ini

 

From : Sehun Oppa

 

Pabo! Aku ada bimbel jadi aku tidak bisa pulang sekarang, nanti aku akan menjemputmu, dan berhentilah berkata manis padaku, menjijikan :p

 

Sebuah balasan yang sukses membuat Dara menaikkan alis kirinya “Haish.. orang ini..” kata Dara.

 

Saat Dara dan Revi sudah sampai di super market, Dara dan Revi segera menuju ke sana dan ke sini seperti orang yang tidak tahu jalan “Rasanya sangat ingin mengunjungi dan membeli semuanya!” pikir Dara dan Revi kompak. Ah.. dasar wanita!

 

* * *

Sementara itu Sehun..

 

“Ikut bimbel?” Sehun menarik napasnya panjang “mana mungkin aku ikut bimbel..” lalu Sehun segera menaruh smartphonenya di dalam sakunya “mianhae Dara.. aku membohongimu lagi..” tambah Sehun lirih.

 

Saat ini Sehun sedang berada di lorong sebuah kelas yang sepi, dia sedang bersender ke dinding sambil menghirup udara malam dengan menutup matanya santai.

 

Lalu Sehun membuka matanya dan dia menghadap ke sebelah kanan, Deg! begitu kagetnya dia melihat Naeun, mantan pacarnya sedang membawa beberapa buku di tangannya berjalan ke arahnya.

 

Sehun memandangi Naeun tajam, namun tiba-tiba Naeun berbalik badan lalu dia berjalan berlawanan arah.

 

“Yah Naeun!” bentak Sehun.

 

Naeun segera berhenti melangkah.

 

“Jika kau ingin lewat, lewat saja.. aku tidak akan memakanmu” kata Sehun bercanda.

 

Naeun segera berbalik badan, dia melihat ke sekitarnya, tidak ada seorangpun selain Naeun dan Sehun di lorong ini, lalu dia memantapkan dirinya untuk berjalan ke arah Sehun “Mianhae seh.. un..” katanya memberanikan diri saat sekarang dia sudah persis berada di depan Sehun.

 

“Kenapa kau meminta maaf?”

 

Naeun tetap diam.

 

“Ah..” Sehun teringat “lupakan saja! Aku saja sudah melupakannya..” kata Sehun.

 

Tiba-tiba Naeun menangis sambil memegang bukunya erat di depan Sehun“Mianhae.. commal mianhae..”

 

flashback on

 

Sehun keluar dari kamarnya, dia menggunakkan jaket hangat berwarna coklat dan celana jeans biru, tidak lupa dia juga memakai topi bertuliskan “XOXO” yang berwarna hitam. Dia benar-benar gagah malam itu.

 

Dia melangkah ke depannya, mengetuk pintu kamar Dara dengan kencang “Yah Oh Dara! Buka! Palli!”

 

Tidak berapa lama, pintupun terbuka “Yah.. Apa kau gila? jam berapa sekarang?” kata Dara dari balik pintu yang terbuka sambil mengucek-ucek matanya.

 

“Aku pinjam mobilmu, mana kuncinya?” kata Sehun to the point.

 

“Mwo?” mata Dara membesar “yah.. kau bangunkan aku tengah malam di malam minggu hanya karena kau butuh mobilku? Yah.. apa kau kira aku akan memberikannya? Tidak!” prak! Dara langsung menutup pintunya keras.

 

“Aku akan mentraktirmu makan!” Ups.. Sehun langsung menutup mulutnya ketika dia menyadari bahwa apa yang dia katakan tadi bisa membunuhnya.

 

Pintu kamar tiba-tiba terbuka lebar, memperlihatkan Dara yang tersenyum lebar juga “Geurae, ini..” Dara menyodorkan kunci mobil ke Sehun.

 

Sehun segera menerimanya dengan bingung “Kapan kau mengambilnya?”

 

“Tadi.. hihihi” Dara tertawa kecil “awas saja kalau kau membohongiku! Hidupmu tidak akan lama” kata Dara mengubah ekspresinya menjadi menakutkan secara drastis.

 

“Ah.. ara.. aku pasti akan mati ditendang oleh mantan juara karate nasional sepertimu.. kalau begitu aku pergi” lalu Sehun pergi meninggalkan Dara.

 

Sehun kini sedang mengemudikan mobil di jalanan yang lumayan sepi “Ah.. apa yang harus aku lakukan di kencan pertama? Ah.. cenca.. apa aku harus memegang tangannya saat makan malam nanti? Ah tidak-tidak.. apa aku harus mengajaknya mengobrol? Sudah pasti.. tapi apa yang harus aku obrolkan? Masa lalu? Ah cenca.. aku bisa gila!” kata Sehun sambil tangan kirinya dia gunakkan untuk mengorak-arik model topinya.

 

Mobil berbelok saat menemui sebuah pom bensin.

 

“Selamat malam” kata petugas pom bensin sambil tersenyum terpaksa karena tuntutan pekerjaan.

 

“Sampai penuh” kata Sehun singkat, lalu petugas itu segera mengisi bensin.

 

Sehun mengambil smartphone dari saku celananya. Dia segera menyentuh-nyentu layar smartphone, yang lalu berbunyi “nyut.. nyut.. nyut..” setiap kali Sehun menyentuhnya.

 

Dia mengetik sebuah pesan untuk Naeun.

 

For : Naeun

 

Aku akan datang terlambat di cafe, mian.. J

 

Pengisian bensin sudah selesai, Sehun segera memberikan uang pada petugas lewat jendela mobil, lalu dia memasukkan smartphonenya ke saku celananya lagi.

 

Sudah sekitar 20 menit Sehun mengemudi, kini dia sudah sampai di parkiran sebuah cafe yang buka 24 jam non stop. Sehun segera keluar dari mobil dan melangkah menuju ke pintu depan cafe.

 

Langkah Sehun terhenti “Ah.. aku lupa tidak bawa bunga!” Sehun menepukkan tangan kanannya di dahinya yang lebar.

 

Sehun menatap taman kecil depan cafe itu, dia mendapati sebuah bunga mawar berwarna putih “Mawar putih? Tidak buruk juga kan?” pikir Sehun.

 

Lalu Sehun menatap sekitarnya, dia takut kalau-kalau ada yang melihatnya mencuri mawar, masuk penjara karena mencuri mawar itu tidak lucukan? karena saat itu sedang tengah malam dan sepi, Sehun langsung berjongkok di depan salah satu mawar putih itu, lalu segera memetiknya.

 

Sehun menarik napas panjang, lalu merapikan jaketnya, topinya, juga sepatunya “Semuanya akan baik-baik saja.. aku sudah banyak search di google, tenang.. tenang..” Sehun berkata pada dirinya sendiri “Hah.. hah.. hah..” Sehun membuang napasnya yang lalu ia tangkap di tangannya, kemudian tangannya dia dekatkan ke hidung mancungnya “Hoek.. bau sekali! Aish.. aku lupa tidak sikat gigi..” Sehun lemas “Ah gwenchana, jika aku tidak terlalu dekat dengan Naeun aku rasa tidak apa-apa..” kata Sehun mantap.

 

Sehun lalu berjalan sampai di depan pintu, dia menarik napas panjang lagi lalu membuka pintu dengan mantap.

 

Aroma kopi mulai mampir ke hidungnya. Sehun memperhatikan kursi-kursi yang sedang diduduki oleh seseorang, yang mungkin salah satunya adalah Naeun.

 

“Ah itu dia..” Sehun melihat punggung seorang yeoja dengan rambut terurainya yang khas milik Naeun.

 

Sehun melangkah mendekati kursi di dekat jendela itu, namun tiba-tiba langkahnya terhenti, mawar putih kini lepas dari pegangannya, napasnya tidak beraturan, tatapannya kosong, dan jantungnya berdetak kencang memandangi ada sebuah tangan yang memegangi kepala Naeun, membuat Naeun jadi tertarik ke depan lalu dia menjadi melihat seorang namja yang duduk di depan Naeun, dan namja itu mencium Naeun.

 

Kedua tangan Sehun mengepal keras, matanya memerah karena dia begitu marah saat ini, terlebih-lebih dia melihat Naeun yang tidak melawan, yang pastinya akan membuat hatinya semakin sakit saat itu juga.

 

“Naeun..!” teriak Sehun dari tempatnya sekarang berdiri, dan sukses membuat semua orang di cafe memandangnya saat itu juga, termasuk Naeun yang lalu melepaskan ciumannya kemudian berbalik badan dengan tatapan kagetnya.

 

Naeun langsung berdiri lalu segera melangkah menuju Sehun sekarang berdiri tanpa berpikir panjang.

 

“Se.. sehun sejak kapan kau disini?” tanya Naeun menatap Sehun takut.

 

“Heh” Sehun memiringkan bibirnya “sejak kau berciuman tadi dengannya” Sehun menatap namja yang tadi telah mencium Naeun “yah.. bukankah dia ketua osis?” Sehun menarik napasnya panjang “dibayar berapa kau sampai rela memberikan ciumanmu padanya?” tambah Sehun mengejek karena dia merasa sudah dihianati cinta pertamanya.

 

“Sehun.. aku bisa menjelaskannya..” Naeun memegangi tangan Sehun kencang.

 

Tanpa perlu mengeluarkan banyak tenaga, Sehun segera melepaskan pegangan tangan Naeun “Sudahlah.. aku muak denganmu!” Sehun memandang sekitar “mulai sekarang kita putus..” kata Sehun mantap, bertepatan dengan itu, tiba-tiba ada suara latar yang berbunyi “tus… tuss.. tusss…”

 

Sehun segera berbalik dan keluar dari cafe, meninggalkan Naeun yang kini sedang menangis di tempatnya, si ketua osis yang sekarang malah sedang tidur di atas meja, dan mawar putih yang tidak sengaja di injak Sehun tadi.

 

Sehun mengemudi dengan sangat cepat saat pulang, sampai hanya 10 menit saja dia sudah berada di rumah.

 

Sehun membuka pintu kamarnya, bertepatan dengan pintu yang sudah terbuka, tiba-tiba Dara nongol dengan memakai baju tidurnya “Kenapa cepat sekali pulang?”

 

Sehun melompat saat itu juga “Yah.. kau mengagetkanku!” kata Sehun yang lalu berbalik badan.

 

“Oh ayolah.. kenapa cepat sekali pulang? Apa kau putus dengannya tadi?” kata Dara bercanda yang dia akhiri dengan tawa kecilnya.

 

“Oh” kata Sehun singkat.

 

“Mwo?!” Mata Dara langsung membesar “yah.. aku hanya bercanda tadi oppa, kau pasti juga sedang bercanda kan?”

 

“Anio, ah.. aku lelah.. aku harus tidur sekarang” kata Sehun merubah topik “kau juga harus tidur, besok kita sekolah” Sehun mengacak-acak rambut Dara sedikit, lalu masuk ke kamar dan menutup pintu.

 

Dara masih terdiam kaku ditempat “Padahal aku hanya bercanda tadi..” pikir Dara lalu dia segera masuk ke kamar dan menutupnya.

 

flashback end

 

Naeun masih menangis tertunduk, Sehun hanya menatapnya kasihan.

 

Tiba-tiba Naeun merasa hangat, ternyata saat dia menangis, Sehun memeluknya dari depan. Yang lalu membuat tangisan Naeun semakin kencang “Mianhae Sehun.. mianhae..” kata Naeun tulus sambil menangis.

 

“Tenang saja, aku tidak akan memafkanmu, tapi aku juga tidak akan menjauhimu. Kita akan berteman sepeti dulu lagi, aku tidak mau kehilangan seorang teman yang berharga sepertimu” kata Sehun mencoba tenang, padahal saat dia mengatakannya, hatinya sangat terasa sakit karena harus membohongi dirinya sendiri.

 

Naeun melepaskan pelukan Sehun, dia segera menghapus air matanya “Pelajaran akan segera dimulai” dia mengangkat kepalanya lalu menatap Sehun “aku harus pergi” tambah Naeun yang lalu pergi meninggalkan Sehun.

 

Sementara itu di belakang tembok yang sangat strategis untuk melihat drama gratisan itu..

 

“Yah apa aku bilang Kkamjong.. mereka beneran sudah putuskan?” kata seorang namja dari balik tembok itu mantap.

 

“Yah Baekhi! Apa yang kau maksudkan? Jelas saja mereka tadi berpelukan, sudah pasti mereka masih belum putus” balas namja yang satunya lagi.

 

Ternyata orang yang sedang bersembunyi di balik tembok itu adalah Kkamjong dan Baekhi yang sedang berubah profesi dari pelajar ke  tukang intip.

 

“Apa kau tidak dengar? Naeun tadi meminta maaf.. ah cepat, sinih mana 10.000 wonku?”

 

Dengan berat hati Kkamjong merogoh-rogoh sakunya dan memberikan seluruh uang yang ada di kantongnya pada Baekhi.

 

Baekhi tersenyum sambil menghitung uang yang dia pegang, tidak beberapa lama senyumannya itu langsung hilang “Yah.. ini hanya recehan 5.000 won”

 

“Ah cenca? Kalau begitu sisanya aku hutang hehehe..” kata Kkamjong mantap, Baekhi hanya memandang Kkamjong datar “yah.. kau jelek sekali kalau menatapku seperti itu, akukan sudah bilang sisanya aku hutang padamu”

 

“Aku tahu kau Kkamjong, jika kau berhutang kau tidak akan pernah melunasinya” kata Baekhi dengan tatapan datar.

 

“Apa yang kalian berdua lakukan disini?” Deg! Kkamjong dan Baekhi langsung kaku mendengar suara seorang namja yang mereka yakini adalah Sehun.

 

“Ka.. kami se.. sedang..” kata Baekhi yang tiba-tiba menjadi aziz gagap “kami sedang berdiskusi untuk bimbel hari ini” tambah Kkamjong tenang *prok prok prok*

 

Sehun menatap kedua temannya heran “Yah.. jika kalian sedang berdiskusi seharusnya kalian memegang buku, dan kau Baekhi!” Sehun menunjuk ke tangan Baekhi “kenapa kau malah memegangi uang recehan?” tambah Sehun penasaran.

 

“Yah.. anu.. anu..” Baekhi kembali menjadi aziz gagap “apa yang kau bicarakan Sehun? Tentu saja karena kami telah bertaruhan” kata Kkajong itu dengan tenang.

 

1 detik.. 2 detik.. 3 detik..

 

“Ah!” Kkamjong melongo, Baekhi menepuk dahinya lalu pingsan di tempat  menutup matanya kemudian membukanya sedikit.

 

“Mwo? Apa yang kalian pertaruhkan?” Sehun menatap kedua mangsanya  temannya bergantian. Kkamjong dan Baekhi salting karena dipandangi Sehun. *OMG!*

 

“Apa mungkin..” Sehun berpikir “aku tahu apa yang kalian pertaruhkan tadi” Sehun mengepalkan tangannya lalu berjalan semakin mendekati kedua temannya.

 

“Sehun mianhae..!!” teriak Baekhi dan Kkamjong kompak sambil berpelukkan.

 

* * *

Saat jam bimbel telah selesai..

 

“Enak saja si Kkamjong dan Baekhi mempertaruhkan hubungan pacaranku dengan uang 10.000 won, heh..” Sehun tersenyum miring “paling tidak mereka harus bertaruh 10 juta won! Aaishh..” kata Sehun kesal karena dia kira hubungannya dibilang murah “tapi untunglah mereka memberiku 50.000 won, jadi aku tidak perlu memukul mereka” Sehun menarik napas panjang dan merasakan udara dingin di malam hari.

 

Sehun kini sedang berada di depan super market, atau lebih tepatnya berada di depan jalan yang ada di depan super market.

 

Tiba-tiba saku celananya bergetar, Sehun segera mengambil smartphonenya dari dalam saku celana “Dara?” lalu Sehun segera mengangkat teleponnya.

 

“Yeoboseo?”

 

“Oppa odiseo? aku mencari mobilku di parkiran, tapi kok tidak ada?”

 

“Aku tidak memarkirkan mobil di sana”

 

“Ah aku lupa..” Dara terdengar menarik napas panjang “pasti kau tidak mau mengeluarkan uang 5000 won untuk membayar parkirkan? Dan kau pasti sekarang sedang berada di pinggir jalan dengan mobilku di depan super market inikan?” tambahnya.

 

Apa yang baru dikatakan Dara tadi sontak membuat Sehun kaget sekaligus kagum, dia bisa menebak apa yang terjadi sebenarnya tanpa kesalahan sedikitpun. Yah.. dia memang seorang yeodongshaeng yang paling mengerti keadaan oppanya “Wah.. kau menebaknya tanpa kesalahan sedikitpun! Daebak!”

 

“Oh ayolah.. siapa sih yang tidak tahu kau itu pelit! Kau bahkan tidak mau membeli mobil karena tidak mau mengeluarkan uang, jadi kau selalu meminjam mobilku”

 

“Yaa.. yaa.. yaa. aku tidak pelit.. aku hanya kasihan melihat mobilmu yang tidak terpakai karena kau belum memiliki SIM untuk mengemudikannya, maka dari itu aku membantumu memakainya” balas Sehun yang jelas-jelas kalau dia sedang berbohong, lagi.

 

“Ah terserah, aku akan ke situ oppa, Oppa chakkaman” kata Dara yang lalu langsung memutus teleponnya.

 

Tidak beberapa lama Sehun segera melihat Dara dan temannya, tapi teman Dara sepertinya sudah dijemput karena dia berjalan ke sebuah mobil hitam yang berhenti di pinggir jalan yang lalu meninggalkan Dara di depan zebra cross.

 

Dara tetap diam menunggu sampai warna dari lampu lalu lintas berwarna merah. Setelah warna merah, dia kemudian berjalan diatas zebra cross yang panjang.

 

Baru sampai di tengah jalan, tiba-tiba Dara terdorong oleh kerumunan namja seumuran Sehun yang berjalan berlawanan dengannya. Dara terjatuh di tengah jalan, dan ternyata kakinya terkilir, kemudian lampu lalu lintas berwarna kuning. Tapi Dara belum juga berdiri, Sehunpun sedikit panik, dia memperhatikan yeodongshaengnya dengan sedikit cemas.

 

Sudah lumayan lama sejak lampu menjadi warna kuning, kini lampupun sudah berwarna hijau, semua kendaraan berjalan. Sontak Sehun segera berlari ke jalan raya dengan tergesa-gesa meninggalkan smartphonenya yang tidak terasa jatuh di tanah tadi, Sehun begitu khawatir takut akan terjadi apa-apa pada Dara ditengah jalan pada malam itu.

 

Namun saat Sehun baru sampai di pinggiran zebra cross, tiba-tiba truk dengan sangat cepat datang menuju ke arah Dara yang sekarang terduduk sambil memegangi pergelangan tangannya dan menatap ke depan, ke truk itu.

 

Dara benar-benar ketakutan saat itu, entah kenapa badannya tiba-tiba terasa berat untuk digerakkan “Oppa.. tolong aku..” kata Dara lirih yang lalu menutup matanya.

 

Deg! Jantung Sehun serasa tidak berdetak melihat truk dengan sangat cepat menuju ke arah Dara, dia sangat khawatir dengan Dara sekarang. Rasanya Sehun ingin segera sampai ke tengah jalan untuk menarik Dara ke tepian jalan, atau hanya sekedar mendorongnya supaya dia tidak tertabrak.

 

Tapi Sehun tidak bisa, karena jalan raya ini sangat lebar dan Sehun tidak bisa mencapai Dara sekarang juga.

 

Sehun seperti orang yang akan mati saat ini, apapun akan Sehun lakukan untuk menyelamatkan Dara. Biarpun dia tahu Dara bukan adik kandungnya, jelas saja.. Sehun bahkan bukan penduduk asli disana, tapi dia sudah sangat dekat dengan seorang manusia yang menjadi yeodongshaengnya itu.

 

Sehunpun segera menutup kedua matanya, mencoba untuk berpikir apa yang harus dia lakukan saat ini, lalu tiba-tiba ada pikiran yang melintas di kepalanya “Gunakan saja EXO Powermu wahai aerokinesis!” sedetik kemudian, Sehun langsung membuka matanya

 

Tanpa berpikir panjang, Sehun segera menarik napasnya dalam-dalam, menahannya untuk beberapa detik, saat ini kedua tangannya mengepal kencang sambil sedikit bergetar, lantas napasnya itu dia hembuskan ke truk yang mungkin hanya berjarak 1 meter dari tempat Dara duduk sekarang.

 

Tanpa berlama-lama, truk itu segera terbalik dan terpental menghantam depan gerbang super market dengan suara benturan yang sangat keras.

 

Karena kejadian ini, semua kendaraan di jalan raya berhenti, Sehun segera berlari secepat mungkin melewati kendaraan-kendaraan yang sedang berhenti itu ke tempat Dara yang sudah setengah berdiri sekarang.

 

Saat Sehun sudah sampai di tempat Dara, Sehun segera memeluk Dara dengan sangat erat.

 

“Oppa.. tadi itu.. truk itu.. akan menabrakku tapi.. tapi aku malah..” kata Dara sambil menangis masih di dalam pelukan Sehun.

 

“Gwenchana, sekarang semuanya baik-baik saja” kata Sehun mencoba menenangkan Dara sambil mengelus-elus kepala Dara.

 

“Lalu tiba-tiba.. tiba-tiba..  ada angin yang sangat besar.. dan membuat truk itu terpental lalu terbalik” kata Dara yang tidak mengindahkan apa yang tadi Sehun katakan padanya.

 

“Dara dengar!” Sehun lalu melepaskan pelukannya dan sekarang kedua tangannya memegangi kepada Dara “tenanglah..” kata Sehun halus “oppa akan selalu ada disini untuk melindungimu, tak peduli apa resikonya” lalu Sehun memeluk Dara lagi.

 

Dara menangis semakin kencang dalam pelukan Sehun saat itu.

 

Lalu tiba-tiba Sehun teringat perkataan ketua agensi saat sebelum dia dikirim ke bumi bagian utara.

 

flashback on

 

“Kalau kau menggunakkan kekuatanmu, maka member EXO yang lain akan mengetahui keberadaanmu dan juga para mutan, jadi berhati-hatilah menggunakkan kekuatanmu wahai aerokinesis! Hanya ditempat-tempat tertentu kau bisa menggunakkannya” kata ketua agensi EXO yang berdiri membelakangi Sehun.

 

“Lalu dimana saja tempat itu My Lord?” tanya Sehun sopan sambil berdiri tegak.

 

“Kepo!”  “Kaulah yang harus menemukannya sendiri” jawab ketua agensi EXO yang lalu berbalik badan kemudian menatap Sehun penuh harap.

 

Sehun berpikir “Apakah di Sekolah? Rumah? Aish.. kenapa harus dirahasiakan sih? Apa karena tempat itu tidak sepantasnya disebutkan oleh My Lord? Yah.. apa mungkin di jamban?” pikir Sehun saat itu yang lalu membuat tubuhnya bergetar jijik.

 

“Dan perlu kau tahu, di dunia manusia kau bukanlah makhluk immortal, para mutan sewaktu-waktu bisa membunuhmu jika mereka tahu kau disana” tambah ketua agensi EXO.

 

flashback end

 

Lalu tiba-tiba Sehun menangis, menangis bersama Dara dalam satu pelukan ini “Aku akan selalu melindungimu Dara.. apapun yang terjadi.. karena kau adalah yeodongshaengku.. meskipun aku tahu hubungan saudara ini hanya rekayasa, tapi aku tidak bisa kehilangan sosok manusia berharga sepertimu” kata Sehun dalam hati.

 

Bertepatan dengan Oh Sehun yang menggunakkan EXO Powernya, semua hewan-hewan di dalam Hutan Worwod saling bersuara. Para anjing menggonggong, para singa mengaum, para kucing mengeong, para serigala melolong, para ular mendesis, para burung ber-cicit, beruang dan panda menggeram, semua binatang mengeluarkan suara khas mereka masing-masing.

 

Namun dari semua suara binatang yang bervariasi itu, sebenarnya binatang-binatang itu merasakan dan mengucapkan hal yang sama, yaitu “EXO Power muncul”

 

Berbeda dengan keadaan para hewan di hutan, jauh.. didalam Hutan Worwod, tepatnya di dalam sebuah istana tua yang begitu megah yang terletak tepat di tengah Hutan Worwod, ada segerombolan namja yang menggunakan jubah dengan simbol yang berbeda-beda di lengan kanan jubah, dan simbol itu berbeda antara jubah yang satu dengan yang lain.

 

Salah satu namja yang ada di dalam istana itu berkata “Oh Sehun,  aku menemukanmu lebih dulu!” lalu namja itu tertawa menyeramkan yang kemudian diikuti oleh tawaan namja-namja yang lain.

 

= TBC Chapter 3=

 

 

 

9 pemikiran pada “We Are EXO! (Chapter 2)

  1. Nice thor!
    Sedikit saran lagi..
    Bakor nya ada yg salah thor….
    Mungkin cenca itu jinjja
    Commal itu jeongmal
    No itu neo

    Aku bukan ngebash ya thor
    Cuma ngasih saran supaya kalo baca lebih enak gitu

    Hwaiting for the next chap!! ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s