Gone (Chapter 2/2 END)

gone-poster

Gone

Title                                         : Gone

Author                                     : alfykmn (ex-innochent)

Main Cast                                : Xiumin EXO as Kim Minseok and Kim Hyejung (OC/Readers)

Support Cast                           : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Kim Hyunjeong (Hyejung’s father) , and Song Mihye (Minseok’s mother)

Genre                                      : Angst

Lengrt                                     : Twoshot

Rate                                         : PG-14

***

Author POV

“Hyunjeong….”

“Ya?” Tepat saat itu, seorang pria paru baya –yang dipanggil Hyunjeong menatap heran ke arah surat berwarna biru yang disodorkan ke tangannya. Ia menerima surat itu kemudian mengangkat kepalanya untuk meminta penjelasan.

“Itu….surat yang dititipkan Minseok untuk Hyejung sebelum dia pergi. Sekarang sudah tepat 1 bulan Minseok bertemu langsung dengan Hyejung dan sudah saatnya aku menyerahkan ini sesuai permintaan Minseok.”

Hyunjeong bisa dengan jelas melihat mata perempuan di depannya itu berkaca-kaca. Ia hampir mau merekuh tubuhnya ke dalam pelukannya kalau saja ia tidak ingat perempuan itu sekarang bukan miliknya lagi dan sudah memiliki keluarga baru.

 “Hyunjeong…..ini mau sampai kapan?”

Hyunjeong mengerutkan keningnya sebelum ia mengerti maksudnya. “Sampai dia beranjak dewasa, Mihye-ah.”

“Tapi Hyejung sudah besar. Sudah waktunya ia tau,” ujar Mihye terdengan mendesak sebelum ia menutup mulutnya lalu menggumamkan kata maaf atas kelancangannya.

Hyunjeong menghela nafas berat. “Kalau begitu, kenapa kau tidak saja yang cerita? Sekalian kau menyerahkan surat itu. Aku yakin Minseok memintamu untuk menyerahkannya langsung ke Hyejung.”

Mihye menggeleng. “Aku….tidak tega. Hyejung itu…lemah jantung kan? Kalau aku memberitaunya dan memberikan surat ini, dia bisa-bisa pingsan karna mengetahui 3 kenyataan sekaligus,” Mihye tersenyum pahit. “Lagipula seharusnya kau yang mengatakannya sebagai peran single parent.”

“Aku memang ayahnya sekaligus single parent tapi kau tetap ibunya.”

Mihye terkejut. Mata besarnya yang mirip persis milik Minseok terlihat jelas menunjukkan perasaan terkejut dan sedih.

Hyunjeong mengusap kasar wajahnya karena menyadari kecerobohannya. Pasti tidak enak kalau suara bassnya yang seperti bergema itu terdengar sampai ke rumah sebelah.

“Maafkan aku. Aku hanya….marah karna kau dengan seenaknya menyerahkan semua tanggung jawab Hyejung padaku. Aku kan laki-laki tidak mengerti dengan tahap perkembangan seorang perempuan yang lebih rumit.”

Mihye mengangguk pelan lalu menghela nafas. “Maaf. Ini semua salahku. Harusnya aku tidak menurut desakkan ayahku untuk menikah dengan ayah Minseok dan meninggalkanmu serta Hyejung. Kalau hal itu tidak terjadi, pasti tidak sesulit ini.”

Hyunjeong menepuk pundak Mihye. “Jangan bilang begitu. Nanti Minseok sedih karna beranggapan kau menyesal melahirkannya.”

Mihye menggeleng pelan lalu mengusap air mata yang sudah terlanjur jatuh. “Aku….tidak menyesal melahirkan Minseok. Aku hanya menyesal kenapa orang pertama yang disukai Hyejung yang jelas-jelas putriku ini kakaknya sendiri dan baik Minseok maupun Hyejung tidak tau menahu soal hubungan saudara mereka…”

Mereka berdua saling bertukar pandangan  sebelum menghela nafas kembali.

Tanpa mereka sadar, di atas sana Hyejung tengah menatap ke mereka dari jendela kamarnya meskipun ia tau ia tetap tidak bisa melihat tapi setidaknya ia bisa mendengar jelas apa yang mereka bicarakan.

Hyejung tidak marah karena ditipu soal kematian Minseok. Tidak, tentu saja tidak. Ia dari dulu –atau mungkin sudah terlahir untuk tidak menjadi orang pemarah. Ia hanya merasa dadanya sempit dan sesak karna Ayahnya tidak pernah membicarakan soal ibunya dan mengetahui kenyataan bahwa ibunya itu Ibu dari Minseok juga.

Hyejung menangis makin deras –tak peduli air matanya jatuh atau tidak– sampai tak sadar isakkannya mulai terdengar.

Pantas saja Minseok dulu bilang mataku mirip dengan matanya. Alasannya tentu karena kita satu ibu.

Pantas saja aku merasa ganjil saat Minseok kembali bermain piano setelah 2 minggu menghilang.

Pantas saja

Pantas saja Ayah tak suka aku bersama Minseok. Tentu ia takut putrinya menyukai saudaranya sendiri. Namun sudah terlambat….

Kenapa kau harus pergi? Padahal hanya denganmu aku melupakan diriku yang sebenarnya buta?

“Hyejung….”

Tepat saat itu ia merasa bahwa 2 pasang mata sedang menatapnya.

Dengan cepat, ia mengelap air matanya lalu mengumbar senyum selebar yang ia bisa agar tidak terlihat kaku.

“Maaf ya.”

“Tidak sayang. Kau tidak salah.”

Hyejung menguap pelan –pura-pura menguap lebih tepatnya meskipun tau itu alasan terbuurk untuk berkelit.

Appa, Eomma aku tidur dulu ya. Kalian juga jangan menangis mulu dan cepatlah tidur. Kalau menangis terus nanti matanya bengkak. Hm….jaljayo~”

Hyejung memutar tubuhnya dan tepat saat itu ia mendengar suara isakkan pelan dari bawah. Isakkan yang terdengar begitu lemah dan rapuh. Ibu. Ibunya menangis.

Sambil melangkah mendekati ranjang Queen Size, Hyejung melanjutkan tangisannya. Ibu yang melahirkannya tapi tak rupanya tak pernah ia lihat sekarang menangis hanya karnanya. Bisa kau bayangkan betapa kurang ajarnya ia karna membuat Ibunya menangis di hari pertama mereka bertemu?

***

Hyejung

BREAKING NEWS

PIANIST TERKENAL SEKOREA, KIM HYUNJEONG MENIKAH DENGAN PENYANYI SERIOSA ANDALAN KOREA –SONG MIHYE. PASANGAN YANG BENAR-BENAR COCOK!

BERITA UTAMA

SONG MIHYE MELAHIRKAN BUAH HATINYA DARI KIM HYUNJEONG.

Apakah bayi perempuan yang dikabarkan bernama Kim Hyejung ini akan meneruskan karir orang tuanya? Apa dia kana menjadi penyanyi? Atau pianist? Atau keduanya? Mari kita lihat saja nanti seiring dengan berjalannya waktu J

HOT TOPIC!!!

SONG MIHYE DAN KIM HYUNJEONG BERCERAI!

Dikabarkan mereka berpisah karna Ayah Song Mihye yang tidak setuju karna pekerjaan Hyunjeong tidak matang. Apa benarkah begitu? Atau karna merasa tidak cocok? Mana yang sebenarnya benar? Apa yang terjadi pada mereka –pengantin baru yang paling teromantis? Bagaimana nasib anak mereka yang belum berumur 1 tahun ini?

HOT NEWS!!!

SONG MIHYE DIKABARKAN MENIKAH DENGAN KIM JUNHYUNG YANG KAKAK ANGKAT MANTAN SUAMINYA –HYUNJEONG.

Sepertinya alasannya ayah Song Mihye tidak menyetujuinya pernikahan pertama putri semata wayangnya karna pekerjaan mantan suaminya –Kim Hyunseong tidak ‘matang’. Tapi haruskah ayah Song Mihye malah menikahkan anaknya dengan kakak angkat suaminya sekarang –Kim Junhyun yang lebih matang dengan jabatan direktur di namanya.

BREAKING NEWS

SONG MIHYE MELAHIRKAN SEORANG PUTRA LAKI-LAKI YAN DIKABARKAN BERNAMA KIM MINSEOK DARI HASIL PERNIKAHANNYA DENGAN KIM JUNHYUNG.

Aku hanya mendapatkan berita sederhana itu dari hasil mengacak-acak koran-koran entertaiment lama khusus untuk orang sepertiku yang dulu selalu disodorkan bibi sebagai penghusir kebosananku tapi kutolak. Padahal koran-koran yang aku baca terbilang sedikit tapi berjejer berita atas nama ayah –Kim Hyunjeong yang mungkin seharusnya tidak kubaca.

Sudah jelas sekali disana tanpa perlu menanyakan ke ayah. Semua artikel itu bergabung membentuk satu kesimpulan yang menjadi jawaban dari sebuah pertanyaan sederhana dariku saat masih kecil tapi kubiarkan saja karna merasa tidak terlalu penting. Dan rasa penasaranku bangkit lagi setelah kejadian semalam.

Disana aku menarik sebuah kesimpulan pahit dari semuanya: Ayah dan Ibu kemungkinan bertemu karna permainan piano ayah yang memukau layaknya tema-tema drama tahun ini dan saat Ibu pergi, karir ayah hancur dan rasanya ayah begitu sensitif dengan hal berbau musik terutama piano.

Tapi saat tau Minseok itu anak Ibu alias mantan istrinya yang masih di cintainya itu bermain piano, mungkin hanya Minseok yang akan jadi muridnya. Mungkin Minseok hanya dijadikan akal-akalan untuk ayah mendekati Ibu meskipun dengan jarak jauh layaknya kejadian-kejadian di drama masa kini.

Bukan karna aku ini pecinta drama atau orang yang termakan drama tapi terkadang beberapa drama itu berasal dari kisah nyata seseorang. Jadi mungkin kehidupanku dan ayah juga bisa dijadikan drama ya? :v

 Aku menghela nafas berat dan tanpa sadar menepuk keras laptop yang satu-satunya barang berhargaku –sesudah piano tentunya– lalu aku langsung memeluknya dengan penuh kasih sayang –sedikit menghayal laptop itu adalah Minseok.

Oh….Minseok…..Aku rindu adikku ini. Dimana ya dia dimakamkan? Ah pasti jauh dari sini –bahkan begitu jauh, jadi rasanya tidak aneh kalau keluarganya mungkin memakamkannya di tanah kelahirannya –negeri sakura yang penuh sakura seperti yang dikatakan artikel-artikel selama ini.

Hah, pergi ke luar kamar saja sekarang sudah masalah –dan makin parah sejak aku ketahuan menonton kisah romantis picisan antara ayah dan ibu– apalagi keluar negeri hanya untuk mengunjungi makam adikku.

 “Sebentar lagi Hallowen –Hey! Bagaimana kalau kita membahas soal hal-hal mistis?”

“Aku setuju denganmu!”

Suara 2 orang penyiar favoriteku terdengar dari radio yang entah kapan aku nyalakan. Pas sekali mereka membawakan siaran disaat pikiranku mulai melayang entah ke alam bagian mana.

“Jadi mulai dari aku ya! Hm, aku penyukai musik jadi kita bahas lagu mistis dulu. Lagu ini tidak seram hanya menggambarkan perasaan seorang penulis lagu yang sedih karna kehilangan kekasihnya. Lagu apa hayo?”

Sejujurnya, meskipun mereka berdua penyiar favoriteku tapi kuakui mereka cukup konyol. Sering menanyakan sesuatu pada pendengar padahal jelas-jelas jika pendengar menjawabnya tapi mereka tentu tidak bisa mendengar jawaban dari mereka.

Apalagi mereka menanyakan pertanyaan yang jelas-jelas sudah mereka ketahui jawabannya. Acara radio kalau mereka berdua bawakan serasa seperti acara radio untuk anak TK. Tapi herannya, itulah ‘kharismatik’ mereka berdua.

Meskipun selalu bertingkah layaknya membawa acara untuk anak TK dengan umur mereka yang sebaya denganku, tapi tidak pernah ada yang bosan mendengar ocehan ceria mereka.

Ngomong-ngomong, aku sebagai pianist dan penyukai jenis lagu apa saja –kecuali yang membuat telinga sakit– tidak pernah mempermasalahan hal ini tapi mungkin karna moodku hari ini begitu jelek jadi begitulah…..

Mungkin juga efek kemarin malah masih terasa. Biasanya kalau begini aku akan turun ke bawah dan memainkan lagu favoriteku atau Minseok yang memainkan lagu riang sambil bernyanyi bebas tapi enak dibawakan.

Oh…Minseok lagi Minseok lagi….

“…..Sebelum ia membuat lagu keduanya yang kemungkinan bisa meledak seperti lagu pertamanya, penulis lagu ini meninggal –kalau tidak salah disaat ia jatuh pingsan saat lagu karyanya mengalun terus-terusan.”

Aku mengerjapkan mataku. Ya ampun Baekhyun –nama penyiar yang sedang berbicara– berbicaranya cepat sekali. Sepertinya ia begitu bersemangat.

“Wo wo wo….Baek….Berbicalah dengan perlahan….”

Suara tawa yang menyenangkan dan hangat seperti hangatnya cahaya matahari pagi menggema di kamarku.

“Oh oh oh maafkan aku Chanyeollie. Jadi lagu ini berjudul Gloomy Sunday….”

Aku tak menyimak lagi apa yang akan diucapan Baekhyun selanjutnya. Gloomy Sunday…..Namanya menarik sekali meskipun aku tidak tau arti ‘gloomy’ itu apa menyadari nilai bahasa asingku dibawah rata-rata tapi seperti sudah menjelaskan betapa ‘bum’nya lagu tersebut.

Aku penasaran dengan lagu itu. Apa aku harus mendownload lagu itu? Tapi caranya bagaimana? Apa harus meminta salah satu bibi di rumah ini?

“…..Ada yang meninggal di atas lembaran lirik lagu Gloomy Sunday.”

Aku kembali pura-pura menulikan telingaku. Aku tidak suka hal berbau horor atau mistis begitu dan aku yakini Baekhyun juga sama karena suara bass Chanyeol yang memang sudah menyeramkan terdengar untuk menggantikan suara ceria Baekhyun saat menjelaskan kalimat-kalimat yang bagiku sangat ‘tabu’.

“….Aku akan menyanyikan lagu itu satu bait.”

Suara merdu Baekhyun terdengar. Ia menyanyikan salah satu kalimat dari lagu fenomenal Gloomy Sunday dengan bahasa asing. Bukan bahasa Inggris, Mandarin, Melayu, maupun Jepang. Bahasanya lebih rumit tapi Baekhyun menyanyikannya dengan baik.

“Ehem….” dehem Chanyeol setelah Baekhyun selesai bernyanyi. “Kami sengaja menyanyikan lagu itu dalam bahasa sandi acak agar tidak ada yang tau pas artinya. Rumornya, kalau kita mengerti artinya maka kita juga akan meninggal.”

Bulu kudukku meremang tapi sama sekali tidak mengurangi rasa penasaranku.

Penjelasan dari Chanyeol masih berlanjut dengan backsound jeritan horor Baekhyun yang dibuat-buat –saking dibuat-buatnya, setelah berteriak dia tertawa keras– tapi aku lebih memilih untuk mematikannya menggunakan tongkatku yang dipanjangkan kemudian tersenyum samar saat berhasil mematikannya.

***

Aku tidak pernah berpikir sedikitpun akan melihat diriku sendiri tanpa memerlukan cermin atau kedua manik mata bening milik ayah tapi inilah yang terjadi.

Aku juga tidak berniat untuk melakukannya juga tapi inilah yang terjadi (lagi).

Nada-nada lagu –yang kata para petugas, Gloomy Sunday masih terasa menggema ruangan ini padahal sudah sekitar beberapa detik lalu dimatikan. Lagu itu berasal darimana ya? Padahal jelas-jelas aku tidak benar-benar mendownloadnya. Hanya penasaran saat itu. Itu saja tapi kenapa bisa ‘separah’ ini?

Intinya aku yang disana sedang berposisi seperti bayanganku tentang posisi Minseok saat nafasnya hilang di atas piano –lengan kiri berada di atas meja untuk menutupi wajahku dan lengan kanan jatuh dengan posisi lemas mendekati lantai yang dingin.

Banyak yang bilang aku begitu karna dentangan lagu Gloomy Sunday yang sempat mengalun di kamarku tepat saat aku berhenti bernafas tapi aku yakin bukan karna hal itu.

Meskipun aku takut hantu, aku tak percaya pada hal tak rasional begitu. Hey, masa kejayaan lagu itu sudah lewat 40 tahun lebih tapi efeknya masa masih ada? Dan aku yakin 100% saat tubuhku diotopsi, penyebab kematianku pasti bukan karena lagu konyol itu.

Lagipula stasiun, channel, atau siaran mana yang berani menyetel lagu Gloomy Sunday itu? Masa iya siaran yang dibawakan Chanyeol dan Baekhyun? Tidak tidak tidak….

Yah, aku harap bukan dari siaran yang mereka bawakan lah atau aku berharap Ayah tidak menuntut mereka atas membahas lagu Gloomy Sunday yang telah membunuh anaknya.

 Chanyeol mungkin tenang-tenang saja kalau dituntut tapi bagaimana dengan Baekhyun? Ya ampun, anak itu masih kecil jangan tuntut dia Ayah huhuhuhu T.T

Baik kenapa aku jadi ngelantur begini-_-a Baiklah, mungkin ini terjadi karna penyakit radang paru-paruku kambuh seperti yang dialami Minseok dulu. Tapi mungkin aku lebih parah karna ditambah dengan lemah jantung turunan kakek, asma yang kata ayah turunan darinya, dan radang paru-paru yang dialami adikku. Lucu ya.

Ayah, Ibu, dan Paman Junhyung sedang berada di sisi tubuhku yang dibawa dengan tandu oleh tim medis. Ada niat untuk mengikuti mereka tapi langsung sirna saat merasakan pundakku di tepuk dari belakang.

Aku menoleh dan langsung disambut dengan pelukkan dari belakang dan beberapa detik kemudian, leherku sudah basah.

Namsaeng…,” panggilku pelan namun sarat akan kegugupan. Aku tidak pernah memanggil siapapun dengan sebutan namsaeng karna aku tidak dekat dengan adik sepupu laki-lakiku atau dekat sekali dengan adik laki-laki di lingkungan rumahku. Tapi ini lain ceritanya….

Rasanya ingin menangis saja mengingat kenyataan yang mau kau lawan atau hindari sekalipun kenyataan itu tidak akan berubah.

Bahuku sudah berguncang tapi airmataku tak kunjung turun. Mungkin karna sebelumnya kupakai untuk menangis terus.

Ia tertawa diselingi dengan isak tangisnya kemudian berkata, “Kau lebih tua dariku jadi panggil aku Minseok saja.”

“Aku yang harusnya memanggilmu noona ya.”

Aku meringis. “Tak perlu. Oh apa kau sudah tau….”

Dia mengangguk sekilas lalu memelukku makin erat, rasanya jantungku melompat-lompat kegirangan padahal jelas-jelas jantungku sudah tidak berfungsi lagi. Dan oh….sepertinya bukan hanya jantungku saja, jantung Minseok sepertinya juga begitu.

“Dek, aku tidak bunuh diri kok,” ujarku melantur. Eh tapi bisa saja kan ia menangis karna mengira aku bunuh diri dengan lagu ‘Gloomy Sunday’?

“Cukup….”

“Cukup kenapa?”

“Jangan panggil aku adik,” Aku tersenyum pahit. Sangat pahit.

“Ya, baiklah,” Aku menghela nafas meskipun tau jelas-jelas nafasku sudah berhenti. “Kalau begitu jangan panggil aku noona juga.”

Dia mengangguk pelan sebelum kepalanya kembali tenggeleng di leherku.

“Hyejung…,” panggilnya pelan tapi membuat badanku tiba-tiba panas dingin –panas karna panggilannya dan dingin karna aku terlalu gugup karna ia memanggil namaku dengan suara bass yang sedang –tidak terlalu rendah.

“Ya?”

“Aku…mencintaimu dalam segi manapun.”

Aku terkejut. Kemudian aku merasa nyawaku di tarik perlahan untuk keluar dari tubuhku –padahal jelas-jelas memang nyawaku sudah ditarik– sebelum aku tersenyum lemah.

“Aku juga. Aku sangat mencintaimu, Minseok.”

Biarlah 3 kata sederhana ini terbilang sudah terlambat atau memang seharusnya tak boleh diucapkan oleh kakak-beradik. Aku yakin niat Minseok seperti niatku juga. Mengatakan 3 kata itu untuk membuat perasaan kami lega tanpa terhimpit apapun dan bisa hidup abadi disana sebagai kakak beradik.

-END-

Maafkan aku T.T ini ff angst pertama jadi babak belur gimana gitu T.T aku minta komentar dan saran bermutunya untuk ff angst pertamaku ini. jebal T.T

9 pemikiran pada “Gone (Chapter 2/2 END)

  1. Pengen komen tapi gatau mau apa??T-T tolong akuuuu. Oh yaa covernya boleh dong ya tutorialnyaa hakhak. Ceritanya pernah aku bacakan? Atau ada perubahan gitu? ff ini emang ramee terus terus ya aku gabisa berkata kataa hixhix

    • Bukannya pelit tapi aku gak bisa ngajari orang hakhakhak. Ini udah ada sedikit/? perubahan neng’-‘ sampe sekarang pun gue gan ngerti maksud dari ‘ff ini emang rame’ –a

    • angst itu fanfict yang melibatkan tingkat kecemasan tinggi dengan permainan emosional, fisik dan mental (tapi kalo di ff gone ini lebih ke mental ya). Biasanya berakhir sad ending (yaps, ff gone ini sad ending). itu penjelasan credit dari blog shiningstory dan blog yang lain^^
      makasih udah baca ya~~~ dan oh! part 1 ff ini baru aja dipost, baca juga ya^^

    • wah maaf baru bales._. gak ngerti kenapa dan dimanaya? wajar sih merinding, gloomy sunday itu lagu yang katanya kalo kita tau artinya sambil dengerin lagunya itu bakalan meninggal:D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s