Our Story (Chapter Two: Jongin? Kyungsoo?)

Our Story (Chapter Two: Jongin? Kyungsoo?)

Author:            laelynur66

 

Main cast:        Kim Jongin (Exo)

                     Yoon Sohee (Oc)

                     Oh Sehun (Exo)

                     Do Kyungsoo (Exo)

 

Support cast:     all member Exo

 

Length:            chapter

 

Genre:             romance, friendship, family.

 

Rating:            PG-15

 

Author note: chapter 2 is up.. hehehehehehe.. walaupun peminat dikit, saya akan tetep nglanjutin ini. Dan kayanya, ff ini bakalan panjang, secara pemeran utamanya alias si jongong, ralat jongin munculnya pas di tengah2 cerita.. gitu ajja..enjoy it…

 

 

      

Sohee menatap kosong pada papan tulis di depan kelasnya, sekarang jam pelajaran olahraga, dan Sohee sangat tidak menyukainya dengan alasan sakit Sohee membolos dari pelajaran yang selalu membuat keringatnya bercucuran itu. Disangganya dagunya pada meja, menatap sisa-sisa spidol pada papan tulis yang tidak terhapus seluruhnya.

“Oh Sohee!!!” Suara cempreng seseorang saat memanggil namanya membuat Sohee mengernyit sesaat lalu berbalik pada si empunya suara, Choi Raejoon, Sohee mengenalnya sudah sangat lama sejak mereka di tahun pertama sekolah menengah sampai kini. Hanya sekilas Sohee menoleh, lalu kembali menatap papan tulis di hadapannya.

“Yaa, Oh Sohee-ssi!!” Tegur Raejoon lalu menghempaskan dirinya duduk pada kursi di sebelah Sohee. Sohee hanya menggeram menjawabnya.

“Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah harusnya kau di lapangan?” Tanya Sohee tanpa mengalihkan pandangannya.

“Harusnya tapi jika aku di sana siapa yang menemanimu di sini?” Jawab Raejoon. Sontak Sohee menoleh menatap temannya saat mendengar jawabannya.

“Heheheh, kau terkesan bukan?” Kekeh Raejoon lalu menggulung rambut panjangnya dan menyematkannya dengan pulpen Sohee yang tergeletak di meja.

“Kenapa setiap olahraga kau selalu mengaku sakit? Kau tau kata eommaku kalau kita berbohong maka kebohongan kita itu akan menjadi kenyataan!” Raejoon berbicara panjang lebar tanpa sadar bahwa Sohee sama sekali tidak peduli dengan apa yang di katakannya. Raejoon sangat cerewet dan blak-blakkan, itulah mengapa Sohee sangat suka bersamanya.

“Jadi, untuk apa kau di sini?” Tanya Sohee sekali lagi. Raejoon cemberut. Baru sesaat saat Raejoon akan membuka mulutnya menjawab pertanyaan, dua kaleng jus jeruk mendarat di hadapan mereka dan sontak membuat Sohee dan Raejoon mendongak, seorang gadis manis berdiri di hadapan mereka dengan tatapan dingin menusuk, Han Chaerin. Salah satu sahabatnya di sekolah selain Raejoon.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Sohee dan Raejoon bersamaan. Wajar saja kelas Raejoon dan Sohee berbeda dengan Chaerin, bukankah ini masih jam belajar. Chaerin menarik kursi di samping Sohee dan menghempaskan tubuhnya duduk di sana.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Ulang Raejoon.

“Menemui kalian!” Jawab Chaerin singkat. Kebalikan dari Sohee dan Raejoon, Chaerin tidak banyak bicara, bicara hanya seperlunya saja, tapi anaknya cukup asik, begitu menurut Sohee.

“Kau bolos?” Tanya Sohee. Chaerin hanya mengangguk.

“Wae?”

“Guru Kim tidak datang, kelas sangat berisik!” Jawab Chaerin singkat.

“Lalu?”

“Aku tidak suka, makanya aku di sini!” Jawabnya nyaris berteriak.

“Apa yang sedang dilakukan pandaku?” Tanya Raejoon semangat. Sohee memutar bola matanya, Choi Raejoon menyukai Tao, sangat. Hanya saja karena tidak tau harus berbuat apa, Raejoon selalu berkelahi ataupun saling mengejek. Sohee tidak mengerti, Sohee yakin Tao dan Raejoon saling menyukai, tapi entah mengapa setiap mereka bersama mereka selalu saja bertengkar. Untung saja mereka berbeda kelas, jika tidak, habislah. Berbeda dengan Chaerin, Chaerin sangat mengagumi Chanyeol. Katanya Chanyeol itu keren dan lagi Chanyeol itu pembawa happy virus, julukan yang di berikan Chaerin untuk Chanyeol karena di manapun dia berada Chanyeol selalu membawa kebahagian. Ah, satu lagi, Chanyeol itu anggota club memanah dan menganggap Baekhyun adalah saingan terberatnya. Jadilah Chaerin dan Raejoon saling bertukar informasi, Chaerin selalu melaporkan keadaan Tao yang notabene satu kelas dengannya lalu Raejoon membalasnya dengan hal yang sama. Symbiosis mutualisme, saling menguntungkan satu sama lain. Ahh, tidak lupa, mereka berteman dengan Sohee yang membuat meraka bisa selalu dalam radar pujaan hati mereka. Sohee tersentak saat kedua sahabatnya itu menyandarkan kepala mereka pada pundak kiri dan kanan Sohee.

“Bagaimana denganmu?” Tanya Chaerin.

“Aku? Kenapa denganku?” Jawab Sohee dengan pertanyaan.

“Siapa sebenarnya yang kau sukai?” Tanya Raejoon. Sohee menggeleng.

“Apa itu artinya tidak ada atau kau tidak tau?” Giliran Chaerin yang bertanya.

“Aku tidak tau!” Jawab Sohee.

“Kau masih menunggu sahabatmu yang menghilang tanpa jejak itu?” Tanya Raejoon lalu menatap Sohee tepat di matanya.

“Aniya!!!”  Jawab Sohee cepat. Walaupun dalam hati dia membenarkan.

“bagaimana dengan Kyungsoo?” Jleb, pertanyaan yang ditanyakan Chaerin benar-benar membuat jantungnya kembali bekerja lebih keras. Sohee menoleh menatap bangku kosong  yang ditempati Kyungsoo yang berjarak satu bangku dari bangkunya sendiri.

“Entahlah!” Jawab Sohee lirih.

“Tapi dia sangat perhatian padamu!” Timpal Raejoon dan kembali menyandarkan kepalanya pada pundak Sohee.

“Tentu saja bodoh! Mereka kan bersahabat dari kecil!” Pernyataan yang diucapkan Chaerin begitu terngiang-ngiang di telinga Sohee. Sahabat  sejak kecil.  Tiba-tiba saja Sohee merasakan ada lubang besar yang menganga di hatinya.

“Kurasa bukan hanya Kyungsoo, ketujuh orang itu juga melakukan hal yang sama!” Ucap Raejoon.

“Wae? Kalian benci padaku?” Tanya Sohee berusaha menutupi perasaanya. Kedua sahabatnya itu menatapnya dengan tatapan malas.

“Aku tidak cukup bodoh untuk benci padamu!” Seru Chaerin dan disetujui oleh Raejoon.

“Tapi hampir separuh dari siswi di sini benci padaku!”

“Mereka bodoh Sohee sayang, asal kau tahu saja mereka semua itu bodoh!” Ucap Raejoon.

“Wae?” Tanyaku penasaran.

“Harusnya mereka sadar tidak seharusnya mereka   membencimu, harusnya mereka baik padamu jika mereka ingin mendapatkan hati dari salah satu sahabatmu itu!” Jelas Raejoon dan diiyakan oleh Chaerin. Sohee memutar bola matanya, jengkel.

“Sudahlah, aku ingin kembali ke kelasku!” Kata Chaerin lalu berdiri dan berjalan keluar kelas.

“Kalau begitu, aku juga kembali ke lapangan!!” Seru Raejoon dan berlari keluar kelas. Sohee kembali menatap pada papan tulis di hadapannya, namun kali ini pernyataan Chaerin tadi terus terngiang di telinganya.

***

Setelah cukup lama duduk seorang diri di kelas aku memutuskan untuk keluar, seorang diri di kelas membuatku teringat beberapa film horror yang kutonton bersama Sehun. Dan memutuskan melangkahkan kakiku menuju kantin. Sekolahku cukup luas dan memiliki nama yang baik di mata masyarakat, bukan karena fasilitasnya saja yang lengkap tapi juga karena para pengajar yang diterima di sini dipilih secara teliti. Tapi hal yang membuatku sedikit tidak suka adalah kantin di sekolah ini hanya satu, jadi seluruh siswa yang akan makan siang ataupun sekedar membeli cemilan berkumpul di sini, walaupun ukuran kantin yang cukup luas, tapi tetap saja bagi kami yang masih berada ditingkat satu sedikit canggung dengan para senior. Dan saat aku akan berbelok di ujung koridor, aku berpapasan dengan Suho oppa yang selalu terlihat tampan dengan setelan jas dan sepatu pantovel dan tas kulit yang di jinjingnya. Suho oppa tersenyum padaku, lalu mengusap kepalaku sekilas dan berjalan meninggalkanku. Ahh, ya, Suho oppa itu salah satu pengajar di sekolahku hanya sebagai kerja sampingan, pekerjaan sesungguhnya adalah sebagai akuntan di perusahaan property. Tampan, pintar, pandai berbicara dan memiliki pengalaman menjadi dosen pengganti di universitas membuatnya dengan mudah diterima di sekolahku ini. Kuhentikan langkahku dan berbalik menatap heran oppaku yang sosoknya semakin menjauh, tumben sekali oppaku itu menegurku di sekolah, sudahlah!

“Sohee!” Seseorang memanggilku dan merangkul pundakku. Kuhembuskan nafasku pasrah, tidak perlu bertanya sudah pasti dia adalah Lay oppa.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanyanya sambil menyelaraskan langkah kami.

“Ke kantin!” Jawabku dan berusaha melepaskan rangkulannya di pundakku saat beberapa senior yang lewat di hadapanku menatap tidak suka padaku. Dia bahkan tidak menyadari betapa populernya dia.

“Ahh, kebetulan sekali aku juga akan ke sana! Kajja!” Serunya dan melepaskan rangkulanya, bukannya lega aku malah semakin was-wa saat Lay oppa menggandengku menuju kantin. Aku jamin seluruh senior wanita yang menyukai Lay oppa menaruhku dalam daftar rival yang harus dimusnahkan dan dengan malas aku berjalan dengan menghentakan kakiku.

Lay oppa menarikkan kursi untukku dan mempersilahkanku duduk, sementara dia sendiri memesan makanan. Kantin cukup sepi, jelas saja ini masih jam belajar, hanya ada beberapa senior tingkat 2 dan 3 yang sedang duduk santai menikmati cemilan di hadapan mereka. kusangga daguku pada meja dan menatap kosong pada dinding di hadapanku.

“Kau mau apa?” Tanya Lay oppa yang entah sejak kapan berdiri di sampingku.

“Terserah saja!” Jawabku, lalu kembali menatap dinding di hadapanku. Lamunanku buyar saat Lay oppa menempati kursi di hadapanku, lalu meletakkan nampan berisi roti dan dua buah susu kotak berukuran kecil. Aku memperhatikan Lay oppa yang sibuk melepaskan jas sekolahnya, dan melonggarkan dasinya, Kemeja tipis di balik jas yang dikenakannya dengan sempurna mencetak bentuk tubuh Lay oppa yang lumayan berotot. Aku yakin jika para fans Lay oppa melihatnya mereka pasti akan histeris.

“Kenapa hanya satu?” Tanyaku dan mengalihkan pandanganku darinya.

“Memang hanya untukmu!” Jawabnya lalu mengambil roti membuka bungkusnya dan menyodorkannya di hadapanku.

“Sekarang, aaaaa!” Ujarnya dan menyuruhku membuka mulutku. Aku kembali menoleh ke kiri dan ke kanan, untung saja kantin cukup sepi. Dengan pelan aku membuka mulutku dan menggigit roti yang di sodorkannya. Selai strawberry yang manis meleleh di lidahku.

“Enak?” Tanyanya dan memiringkan kepalanya. Aku hanya mengangguk. Beginilah mereka memperlakukanku, mereka tidak peduli dengan tatapan dan cibiran orang lain, mereka selalu memperlakukanku seperti ini, tidak di rumah, di sekolah, di manapun. Risih? Kadang aku merasakannya, tapi melihat sikap cuek mereka akupun semakin tidak peduli, tohh mereka menyayangiku sebagai sahabat bahkan seperti adik mereka sendiri kurasa.

“Minum?” Tawarnya. Aku menatap susu kotak itu, rasa pisang dan menggeleng cepat. Lay oppa melakukan hal yang sama dan mengerti, lalu berdiri membawa susu kotak itu dan kembali dengan sebuah susu kotak yang baru.

“Maaf, oppa lupa. kau hanya suka susu strawberrykan?” Ucapnya lalu menyodorkan  susu kotak dengan gambar strawberry di bungkusnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanyanya saat aku menerima susu kotak di tangannya.

“Pelajaran olahraga, aku tidak suka!” Jawabku lalu mulai meminum susu di tanganku.

“Bagaimana denganmu oppa? Apa yang kau lakukan  di sini?” Tanyaku kembali Lay oppa menarik nafasnya dalam, “pelajaran olahraga! Eommamu memintaku untuk tidak terlalu lelah!” Jawabnya lalu menyanggakan dagunya pada tangannya. Aku mengangguk, mengerti.

“Oppa!”

“Hmm?”

“Kau ikut club apa?” Tanyaku lalu meneguk susu strawberryku

“Mmm, dulu basket, tapi akhir-akhir ini aku berhenti!” Jawabnya.

“Wae?”

“Eommamu itu cerewet sekali, melarangku ini dan itu!” Rungutnya. Aku tertawa mendengarnya, karena penyakit yang dideritanya Lay oppa terpaksa harus menuruti perkataan eommaku yang merupakan dokter yang menangani penyakitnya.

“Kenapa kau tertawa!” Ujarnya lalu mencubiti pipiku.

“Appo!!!” Aku berteriak dan berusaha melepaskan tanganya dari pipiku. Aku terdiam saat melihat sebuah lebam berwarna biru keunguan di lengannya. Perlahan aku menyentuh lebam itu, Lay oppa mengernyit.

“Sakit oppa?” Tanyaku prihatin. Lay oppa menggeleng. “Benarkah?” Tambahku. Dia hanya mengangguk, mengiyakan. Lalu di gulungnya lengan kemejanya dan memperlihatkan beberapa lebam yang ada di sana, walaupun tidak lebih besar dari yang pertama kulihat. Aku menatapnya prihatin.

“Jangan menatapku seperi itu Oh Sohee, percayalah ini tidak sakit!” Ucap Lay oppa lalu memintaku memegang lebamnya.

“Jadi, kenapa kau bertanya masalah club padaku?” Tanyanya berusaha mengalihkan perhatianku dari lengannya.

Aku mendongak menatap wajahnya. “Aku bingung masuk club apa oppa!” Kataku.

“Kenapa tidak club memasak saja?”

Aku menggeleng “kau ingin aku membakar sekolah?” Tanyaku yang sontak membuat Lay oppa tertawa terbahak-bahak.

“Bagaimana dengan mading?” Lay oppa memberi pilihan lain.

“Ada Sehun di sana sebagai wartawan. Lay oppa mengangguk.

“Mmm, basket?”

“Hahhh, ada Kris dan Tao! Bisa-bisa mereka membullyku terus!” Jawabku asal. Lay oppa tersenyum lagi.

“Osis mungkin?”

“Kau sendiri tau siapa ketua osis kita, aku tidak mau!!! Lagi-lagi Lay  oppa tersenyum.

“Paduan suara?”

“Hahhhh, ada kyungsoo dan Chen, bisa-bisa kami hanya bermain saja!”

“Kalau begitu, bagaimana dengan sains? Kau kan cukup cerdas!”

Kuhembuskan nafasku pasrah, “pembina club sains itu Suho oppa!” Jawabku dengan suara lirih. Lay oppa memasang wajah seriusnya, mungkin mengingat club yang ada di sekolah kami.

“Kalau begitu, tidak usah ikut club saja!” Serunya.

“Tapii…..”

“tapi apa? Aku menawarkanmu mading, kau menolak karena sudah ada Sehun, basket kau takut dibully, osis Kau tidak mau satu club dengan Luhan, paduan suara ada Chen dan Kyungsoo, memasak kau takut membakar sekolah. Apa lagi? Kau ingin masuk club memanah? Atau hipkodo mungkin? Atau club sepak bola?” Lay oppa merangkum semua hal yang kukatakan dan menjelaskan dengan sakali helaan nafas. Aku cemberut.

“Aku hanya bercanda Sohee sayang, ikuti saja kata hatimu!”  Katanya lalu tersenyum dan menampakan lesung pipi miliknya. “Ayo oppa antar ke kelasmu!” Tambahnya dan mengusap kepalaku. Aku berdiri dari dudukku dan berjalan mengikutinya di belakang. Sampai kurasakan tangannya menggenggam tanganku dan sedikit menarikku agar berjalan lebih cepat. Dapat kurasakan tatapan menusuk dari para siswa yang melihat kami, tapi aku tidak peduli tohh Lay oppa saja cuek dan tidak peduli, lalu apa peduliku.

“belajar yang rajin ne!” Ucap Lay oppa dan mengusap kepalaku  saat kami sudah berada di depan kelasku. Aku mengangguk. Lalu Lay oppa berbalik berjalan meninggalkanku, dengan jas yang digantungkan pada pundaknya Lay oppa berjalan tanpa memperdulikan tatapan kagum dari beberapa siswi yang di lewatinya.

“Lay oppaa!!!” Aku berteriak dan sontak membuat seluruh perhatian terarah padaku. Lay oppa berbalik menatapku penasaran.

“Gomawoo, ne!” Seruku lalu membungkuk. Dapat kudengar Lay oppa tertawa. “Ya, sama-sama!!” Jawabnya di sela tawanya. Aku terus menatapnya sampai sosoknya menghilang di belokan koridor kelasnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya seseorang dan membuatku berbalik menatapnya. Kyungsoo. Aku menggeleng lalu berjalan masuk ke kelasku, menghempaskan bokongku di kursi dan menyangga daguku pada tanganku yang bertumpu pada meja. Kuperhatikan Kyungsoo yang berjalan menuju mejanya, baju olahraganya sudah diganti dengan seragam, ujung rambut yang basah karena keringat menandakan dia baru saja olahraga. Kualihkan pandanganku pada papan tulis di hadapanku, perkataan Chaerin tadi kembali terulang, sahabat dari kecil. Kutolehkan pandanganku pada Kyungsoo yang sedang sibuk memasang earphone di telinganya. Sahabat sejak kecil. Tiba-tiba saja aku ingin tau bagaimana perasaanya padaku.

“Kyungsooo!!!” Aku memanggilnya. Tidak ada respon.

“Do Kyungsooo!!!” Panggilku lagi. Masih tidak ada respon.

“Oppaaaaaa!!” Aku memanggilnya dengan berteriak. Semua memperhatikanku, tapi tetap tidak ada respon darinya. Aku menyerah dan memilih diam

“Aku mendengarmu, Sohee chan!” Sahutnya dan memperlihatkan padaku ujung earphone yang belum terpasang pada ipodnya. Aku merengut kesal. “Ada apa?” Tanya Kyungsoo dan menatapku.

“Tidak jadi, aku kesal padamu!!!” Jawabku lalu membuang muka darinya. Kyungsoo tertawa sekilas lalu bangkit dari duduknya dan duduk di kursi di sebelahku.

“Apa yang kau lakukan, itu tempat Raejoon! Minggir sana!” Aku mengusirnya tapi Kyungsoo tidak menggubrisku sama sekali, malah Kyungsoo tampak sibuk memilih lagu pada ipodnya yang seingatku, aku yang memberikannya dulu pada ulang tahunnya yang keenam belas.

“Kau mau mendengar ini?” Kyungsoo menawarkanku earphonenya padaku. Aku mengangguk dan memakainya di telinga sebelah kananku, sementara Kyungsoo memasangnya di telinga kirinya. Perlahan alunan gitar yang lembut memenuhi telingaku.

“Appaku yang yang mengkomposerinya, aku yang bermain gitarnya!” Jelas Kyungsoo. Aku mengangguk.

“hanya instrument?” Tanyaku.

“Ya, appaku memintaku untuk membuat liriknya!” Jawab Kyungsoo.

“Benarkah? Apa judulnya?” Tanyaku penasaran.

“Belum rampung sepenuhnya, aku  memberinya judul goodbye summer!” Jawab Kyungsoo lalu kembali mengulang instrument di ipodnya itu. Kembali terdengar alunan lembut petikan gitar.

“Menceritakan tentang seorang sahabat yang sebenarnya mencintai sahabatnya, dan membenci label sahabat yang ada pada mereka, dan membenci dirinya sendiri karena tidak ada yang bisa dilakukannya selain diam dan menutupi perasaanya dan sampai pada akhirnya mereka berpisah tanpa mengucapkan perasaan masing-masing!!” Jelas Kyungsoo. Kualihkan pandanganku menatap Kyungsoo yang juga menatapku dengan tatapan yang tidak kumengerti sama sekali. Sorot matanya begitu mengikatku kuat, waktu seakan berhenti saat Kyungsoo mengulurkan tangannya mengusap pipiku, kehangatan tangannya begitu terasa di pipiku. Lagi, jantungku bekerja keras memompa darah ke seluruh tubuhku, detak jantungku tidak beraturan, oksigen begitu susah kudapatkan. Sampai pada akhirnya.. “Oh Soheeee!!!!!” Lagi suara cempreng itu membuyarkan segalanya. Dengan cepat Kyungsoo menarik tanganya dan memilih sibuk dengan ipodnya saat aku berbalik menatap Raejoon yang berdiri di ambang pintu.

“Wae!!!” Tanyaku kesal.

“Sehun, Tao dan Kris oppa sedang bermain basket di lapangan, kau tidak ingin lihat!” Seru Raejoon. Aku berbalik pada Kyungsoo yang sibuk dengan ipodnya, aku bangkit dari dudukku dan saat akan melangkahkan kakiku, Kyungsoo menggenggam tanganku menahanku untuk tidak pergi tanpa mengalihkan perhatiannya dari ipod di tanganya. Aku kembali duduk di kursiku, menatap tanganku yang digenggam Kyungsoo.

“Kau tidak ingin lihat?” Tanya Raejoon lagi. Aku menatapnya dan mengangguk. Sampai Raejoon sudah menghilang dari pandanganku, Kyungsoo masih menggenggam tanganku. Aku hanya bisa terdiam dan memandang wajahnya dari samping yang sama sekali tidak menatap wajahku, tapi genggaman tangannya semakin erat menggenggam tanganku.

Oh, tuhaaan jantungkuuu.

***

Gimana? Lanjut? Ehehehehhe…

8 pemikiran pada “Our Story (Chapter Two: Jongin? Kyungsoo?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s