Ha-Na (Chapter 9)

Title : Ha-Na (Part 9-END)

Author : Lucky Cupcake

Rating : PG-15

Lenght : Chapter

Genre : Romance, Friendship

Cast : Xi Luhan (EXO) Kim Ha Na (OC)

Support cast : Na Eun (A Pink) Sandeul (B1A4) Jong Hun (FT Island)

Disclaimer : Dapet inspirasi dari komik, novel, MV, sama lagu^^

page

 

Ha Na POV

 

Semakin lama masalah semakin rumit. Aku benar-benar tidak tahu menau mengenai latar belakang keluarga Luhan. Selama ini dia belum pernah menceritakan apapun mengenai keluarganya selain neneknya. Aku tidak habis pikir ternyata Luhan adalah anak dari pengusaha kaya di Korea, Tuan Choi Jin Hyuk. Itu berarti Luhan adalah saudara seayah dengan Tuan Choi Min Soo. Tidakkah Luhan tahu semua ini?

“Ha Na…. Kenapa lama sekali?” ibu dengan panik berlari menghampiriku.

“Aku tadi ja-jalan-jalan sebentar… ibu tidak perlu khawatir” ibu mengelus-elus rambutku. Sepertinya dia benar-benar khawatir karena aku belum kembali juga. Aku memberinya senyuman dan meyakinkan padanya bahwa aku baik-baik saja.

“Nyonya Kim, nona Ha Na.. disini anda rupanya” seorang dokter bersama dengan beberapa perawat menemui kami.

“Ada apa dok? Apa ada sesuatu yang ingin disampaikan?” dokter itu tersenyum. Dari apa yang aku baca, dokter akan menyampaikan berita baik. Untuk saat ini, aku memang butuh sesuatu yang baik untuk didengar. Sudah cukup hari ini masalah datang silih berganti.

“Kami sudah menemukan cara lain untuk menyembuhkan pita suara Ha Na” tepat sesuai yang kuinginkan. Akhirnya kata-kata indah itu tiba. Sudah lama aku tidak mendengar berita sebagus ini.

“Benarkah dokter? Itu be-berarti a-aku bisa…”

“Iya, kamu bisa sembuh tapi ada efek sampingnya, jangkauan suaramu tidak akan setinggi dulu lagi, bagaimana?” Ini satu-satunya cara untuk membantumu cepat sembuh, Ha Na.

Ibu menoleh padaku dan mengangguk. Beliau sepertinya menyuruhku untuk menerima saran dokter itu.

“Jangkauan suara Ha Na serendah apapun, suaranya akan tetap indah.” Orang bersuara lembut yang selalu membangkitkan semangatku itu tiba.

“Pengobatan semacam apapun akan dilaluinya, karena Ha Na yang aku kenal adalah perempuan yang kuat. Demi mencapai impiannya, dia akan melakukan apa saja. Benar begitu Ha Na?” dia menoleh padaku dan memberikanku senyuman yang sangat hangat. Tidak mungkin aku melawan perkataan orang ini. Aku melepas tatapanku dengannya dan mengalihkannya pada dokter. Dengan senyuman penuh semangat aku berkata “Aku siap dok! Sekarang pun aku siap!”

Semua orang terlihat senang melihat semangat juangku untuk sembuh. Begitu juga dengan Luhan. Dia tidak henti-hentinya tersenyum padaku. Aku tidak ingin ia berhenti tersenyum. Aku juga tidak ingin orang sejahat Tuan Choi melukai orang baik ini. Dia tidak pantas menjadi korban keegoisan seorang Choi Min Soo. Sudah kuputuskan, kali ini akan aku pastikan Luhan akan selalu bahagia seperti ini. Aku akan melindunginya.

——–

Setelah dirundingkan, akhirnya dokter memutuskan akan melakukan operasi besok pagi. Karena terlalu memikirkan hal itulah, malamnya aku tidak bisa tidur. Berbeda dengan ibu. Ibu sepertinya tertidur dengan lelap disampingku. Ibu kelihatan lelah sekali. Aku turun dari ranjang dan melangkah dengan pelan agar tidak membangunkannya. Aku keluar dari kamar dan pergi menuju teras rumah sakit. Aku duduk di sebuah kursi. Saat itu sangat sepi, tidak ada satu pun orang disana. Aku mencoba menenangkan pikiranku dan membangkitkan kembali semangatku.

“Kamu belum tidur?” tiba-tiba terdengar suara yang tak asing.

“Eh Luhan? Kamu belum pulang?” dia menggeleng dan kemudian memberikanku segelas teh hangat. Lantas dia ikut duduk disampingku.

“Aku belum ingin pulang….” aku hanya mengangguk kecil mendengar jawabannya. Kuhirup sedikit demi sedikit teh hangat yang diberikannya.

“Kenapa kamu belum tidur? Ini sudah larut malam.”

“Aku tidak bisa tidur….” kemudian satu pun dari kami tidak ada yang berani memulai pembicaraan lagi. Kami berdua diam. Aku sempat ingin bertanya mengenai hubungan Luhan dengan Tuan Choi, tapi pertanyaan itu aku batalkan. Aku pikir sebaiknya dia tidak mengetahui apapun mengenai masalah itu. Aku tidak ingin menambah bebannya. Sudah cukup banyak penderitaan yang dialaminya.

“Luhan, bagaimana hubunganmu dengan Naeun?” Aku merubah topik pembicaraan. Ia kemudian menoleh ke arahku dengan wajah penuh kaget. Kebetulan sekali, semenjak kejadian di atap sekolah itu, aku belum bertanya mengenai bagaimana hubungannya dengan Naeun. Aku takut kalau ternyata aku adalah orang ketiga yang merusak hubungan mereka.

Ekspresi wajahnya kemudian berubah. Ia tersenyum kemudian mengelus-elus rambutku sampai-sampai rambutku acak-acakan. “Jangan khawatir…. aku dan Naeun sudah memutuskan untuk berteman saja. Dia juga bilang kalau dia mendukung hubungan kita. Jadi jangan pikirkan masalah itu lagi, pikirkan saja kesembuhanmu dulu.”

Lagi-lagi aku hanya mengangguk. Entah kenapa pikiranku masih tercampur aduk dengan masalah Tuan Choi yang ingin membunuh Luhan. Apa aku mengatakan ini padanya? Atau tetap membiarkan ini menjadi rahasia dan membantunya diam-diam?

Tak berselang lama, Luhan kemudian mengeluarkan dua lembar kertas putih dan dua buah pulpen. Aku sempat kebingungan dengan yang dilakukannya itu.

“Ha Na, tuliskan semua hal-hal yang sedang membebani pikiranmu saat ini dan tuliskan juga harapan-harapanmu.”

“Untuk apa?”

“Iya tuliskan saja, aku tidak akan mengintip. Aku juga akan menulis di kertas yang satunya lagi.”

Akhirnya kami berdua pun sibuk menuangkan isi hati dan pikiran kami berdua di secarik kertas itu. Dan ketika aku sudah selesai, Luhan menyuruhku untuk melipat-lipat kertas itu menjadi sebuah pesawat-pesawatan. Kemudian satu persatu pesawat itu diterbangkan olehnya. Berbeda dengan pesawat-pesawatan yang biasa aku buat, kali ini pesawat itu terbang terbawa angin dan sama sekali tidak menyentuh tanah sesenti pun. Entah kenapa seiring semua masalah dan harapan yang aku tulis itu terbang tinggi di angkasa, semakin tenang pikiranku. Rasanya pesawat itu akan terbang hingga menuju Tuhan dan Beliau akan membaca isi didalamnya.

“Nenek dan aku selalu melakukan ini ketika kami menemui masalah” Luhan mengatakan kata-kata itu dengan raut wajahnya yang sedih. Melihat ekspresinya itu, mungkin ia sudah terlalu sering tertimpa masalah.

“Ngomong-ngomong, apa aku boleh tahu apa saja harapanmu?”

“Tidak boleh!” mendengar jawabanku yang ketus, Luhan kemudian cemberut seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan. Lucu sekali.

“Ayolah katakan saja, aku akan merahasiakannya, ayo Ha Na…”

“Tidak….” tepat setelah mengatakan itu, aku mengecup bibirnya dengan cepat dan kemudian berlari menuju kamar. Entah bagaimana ekspresi wajahnya saat aku melakukan itu, aku tidak tahu. Aku tidak mungkin menyampaikan harapanku padanya.

Semoga Luhan selalu berada disisiku selamanya.

Biarkan aku dan Tuhan yang mengetahui itu.

 

Luhan POV

 

Aku lihat pantulan wajahku di sebuah cermin yang tergeletak di pinggir jalan. Merah. Ternyata wajahku masih merah akibat tindakan mengagetkan yang dilakukan Ha Na tadi. Lama-lama aku terlihat seperti udang rebus.

Jalan menuju ke rumah sangat sepi. Hanya satu sampai tiga kendaraan yang berlalu lalang. Aku sudah terbiasa pulang selarut ini selama aku masih mengamen bersama Sandeul di taman. Nenek akan selalu setia menungguku hingga aku pulang. Padahal sudah aku katakan untuk tidak menungguku lagi dan beristirahat tapi beliau selalu menolak. Kali ini mungkin beliau juga menunggu, ditambah lagi aku hanya sesekali memberi kabar. Aku harap tidak terjadi hal-hal buruk selama aku tidak ada dirumah.

Ternyata tidak sesuai harapan. Dari depan rumah hingga pintu masuk, semua berantakan. Tanaman-tanaman yang ditanam nenek dengan sepenuh hati tiba-tiba hancur dan layu. Apa yang sebenarnya terjadi? Tanpa berpikir lama lagi, aku langsung masuk ke dalam dan menemukan nenek menangisi foto ibuku.

“Nenek! Apa yang terjadi? Apa nenek baik-baik saja? Jawab nek!!”

Dia hanya menggeleng sambil memeluk erat foto itu. Aku tidak bisa memaksa nenek untuk cerita. Kelihatannya beliau sangat trauma dengan apa yang terjadi. Aku pun mengelilingi seluruh ruangan yang hancur dan menemukan sebuah kertas. Sepertinya itu sebuah surat-surat penting karena berisi stempel yang sangat banyak. Dan benar saja, itu ternyata adalah surat yang menyatakan kalau rumah ini akan diambil kembali oleh seseorang bernama Choi Min Soo.

Siapa dia? Mau apa dia mengambil rumah ini? Bukankah ini rumah milik ayah yang diberikan untuk ibu!? Tunggu sebentar. Ayah!? Jangan-jangan ini semua adalah ulah keluarga ayah. Sialan!

“Luhan, kamu mau kemana? Jangan pergi…”

“Maaf nek, aku harus menyelesaikan urusanku ini dengan orang bernama Choi Min Soo” aku mengambil jaketku dan segera pergi menuju alamat perusahaan yang tertera didalam surat itu.

Tak cukup jauh ternyata dari rumah, akhirnya aku sampai ke sebuah gedung besar. Tapi sayangnya perusahaan itu sudah tutup dan hanya beberapa petugas keamanan saja yang masih bertugas disana. Aku tidak kehilangan akal. Aku langsung bertanya kepada petugas tersebut mengenai alamat rumah orang bernama Min Soo itu.

“Dimana alamat rumah Choi Min Soo?”

“Anda siapa ya? Maaf saya tidak bisa memberikan informasi pribadi pada orang asing”

“Aku Xi Luhan!! Aku sangat membutuhkan alamat itu sekarang!!”

“A-a-anda Tuan muda Luhan?”

“Ah?” apa maksudnya dengan Tuan muda? Yang benar saja. Apa dia mengigau? Petugas itu kemudian pergi dan kembali lagi membawa sebuah kartu nama yang berisikan alamat orang jahat itu.

“Maaf atas kelancangannya saya” dia menunduk padaku. Aku sempat bingung dengan perubahan sikap petugas tersebut. Tapi aku tidak terlalu memikirkannya. Setelah menerima kartu itu, aku lantas pergi menuju rumah milik Choi Min Soo itu. Malam selarut ini bukan halangan bagiku untuk segera bertemu dengan orang yang sudah menyakiti nenek itu. Lagi-lagi ada puluhan petugas keamanan yang berjaga didepan rumahnya. Benar-benar orang kaya yang penakut.

“Aku ingin bertemu dengan pemilik rumah ini!”

“Hahaha, bocah ingusan sepertimu ingin bertemu dengan Tuan Choi? Hahaha”

“Katakan padanya bahwa aku, Xi Luhan ingin bertemu dengannya!”

“Eh? Lu-luhan?” lagi-lagi mereka bertingkah aneh setelah mendengar namaku. Apa aku merupakan salah satu target operasi atau namaku terdengar aneh atau apa?

“Ma-maafkan kami, akan kami sampaikan pada Tuan” kemudian salah satu petugas menelepon seseorang. Walau ia bicara dengan berbisik, aku bisa sedikit mendengar pembicaraan mereka.

“Tuan Luhan, maafkan kami, mari saya persilahkan masuk” aku pun diantarnya menuju istana nan megah milik orang itu. Rumahnya berhiaskan benda-benda mewah dengan dikelilingi dengan kebun yang ditata sangat rapi. Dan didalamnya pun tidak kalah mewahnya dengan pemandangan diluar. Benda-benda yang terpajang sepertinya terbuat dari logam berharga tinggi hingga aku tidak berani menyentuhnya. Orang-orang ini benar-benar kaya, tidak heran dia bisa merebut rumah itu.

“Maaf sudah membuatmu menunggu lama, Luhan…” seseorang dengan gaya arogan turun dari tangga. Sepertinya dialah Tuan Choi Min Soo.

“Kau! Kau apakan nenek!? Kembalikan rumahku itu bukan milikmu!”

“Wah wah wah, sayang sekali, tapi nenekmu sudah menandatangani surat-surat dan beberapa hari lagi rumah itu akan jatuh pada pemiliknya yang sah”

“Kau…!!!” aku bermaksud ingin memukul wajah pengecutnya itu tapi sayang tanganku dipegang oleh salah satu petugas.

“Jangan macam-macam adikku, kau sekarang bukanlah apa-apa…” adik katanya? Apa maksud dari perkataannya itu!?

“Apa maksudmu!?”

“Oh ya kau belum tahu ya…. kamu itu adik tiriku atau…. bisa dibilang.. anak buangan ayahku HAHAHA! Jangan salahkan aku, ayah sendiri yang memaksaku untuk melakukan ini, jadi maafkan aku adikku tersayang HAHAHA”

“Yaaaah!!!!! Sialan!” tanganku masih dipegang oleh petugas itu. Aku tidak bisa bergerak. Padahal aku sudah bersiap-siap ingin menghantam orang yang mengaku menjadi kakakku itu.

“Hmmm kalau kau sangat menginginkan rumah itu, bertemulah denganku dua hari lagi, mari kita selesaikan saat itu juga. Bagaimana?” dia tersenyum. Entah apa arti senyuman itu. Apa dia menantangku!?

“Dua hari lagi? Aku tidak bisa” itu bukan waktu yang tepat. Saat itu adalah babak final yang akan diikuti Ha Na, aku tidak mungkin tidak datang. Aku sudah berjanji untuk mendukungnya.

“Tidak ada hari lain, dua hari lagi kalau kamu tidak datang, siap-siap saja tinggal di pinggir jalan, huh”

“Yaaaaah!!!”

“Petugas bawa anak yang tidak tahu diri ini keluar. Aku ingin istirahat.” Orang itu kemudian naik lagi ke atas tangga dengan sombongnya. Sedangkan aku ditarik keluar oleh orang-orang berbadan besar. Sekarang aku mengerti, sepertinya orang itu benar-benar adalah kakak tiriku. Dilihat dari cara petugas yang bersikap aneh ketika mendengar namaku dan kata-kata nenek yang bilang bahwa ayahku adalah orang kaya pemilik perusahaan. Aku memang anak yang tidak sah, tapi aku juga manusia, setega itukah kakakku memperlakukan aku seperti ini. Benar-benar tidak bisa diberi ampun.

 

Keesokan harinya….

Ha Na POV

 

Beberapa jam lagi, operasi akan dimulai. Tetapi Luhan belum juga datang, padahal aku sangat mengharapkan kehadirannya disini. Tiba-tiba pintu kamar terbuka perlahan. Akhirnya dia datang juga, begitu pikirku..

“Luhan, kenapa lama se—“ ternyata bukan Luhan yang datang, tetapi Naeun.

“Maaf Ha Na, apa aku mengganggu?….”

“Te-tentu saja tidak, bagaimana kabarmu?”

“Baik….” dia letakkan bunga yang dibawanya diatas meja dan kemudian duduk disampingku.

“Ha Na maafkan aku….”

“Maaf? Untuk apa? Seharusnya aku yang meminta maaf karena sudah mengingkari janji. Maafkan aku Naeun.”

“Tidak, aku yang harusnya minta maaf karena menjadi penengah hubunganmu dengan Luhan. Apa Luhan pernah cerita kalau aku mengidap penyakit?”

Penyakit!? Apa maksudnya? “Aku tidak ta—“

“Huh, itu semua hanya kebohongan saja. Aku tidak sakit apa-apa. Aku sadar apa yang aku lakukan benar-benar salah. Semenjak aku tersadar, aku jadi mengerti kenapa Luhan lebih memilih kamu ketimbang aku. Ha Na… kamu itu anak yang baik, jujur, dan cantik, sedangkan aku hanya perempuan jahat yang hanya bisa berbohong untuk merusak hubungan seseorang. Aku benar-benar minta maaf Ha Na.”

“A-apa Luhan sudah tahu?”

Naeun menggeleng. “Aku tidak berani mengatakan padanya, aku sudah terlalu sering membuatnya cemas, jadi…. aku memutuskan untuk pergi ke luar negeri dan melanjutkan sekolahku disana. Aku ingin melupakan segalanya dan memulai hari yang baru.”

“Naeun….” aku tidak tahu akan mengatakan apa. Ini diluar dugaanku. Mungkin kalau Luhan tahu tentang kebohongan itu, ia akan kecewa sekali. Lebih baik biarkan ini menjadi rahasia antara aku dengan Naeun.

Tiba-tiba beberapa perawat datang. Sepertinya operasi akan segera dimulai. Mereka memindahkanku menuju kursi roda.

“Ha Na, semoga operasimu lancar, kudoakan agar kamu bisa segera sembuh dan kembali mengikuti kontes. Terima kasih atas segalanya” Aku berhutang banyak padamu. Naeun tersenyum dengan manisnya. Matanya berkaca-kaca. Aku jadi ikut merasakan kesedihan dan rasa bersalah yang dia rasakannya. Dia kemudian melambaikan tangannya dan perlahan-perlahan pergi menjauh.

Aku dibawa menuju ruang operasi. Jantungku terus berdetak sangat kencang. Ibu berulang kali menenangkanku. Tapi seseorang yang kuharap datang belum terlihat batang hidungnya.

“Ha Na, apa kamu sudah siap?” dokter yang akan mengoperasiku bertanya. Aku hanya mengangguk pelan. Kemudian setelah dibius, seketika gelap. Aku tidak merasakan apapun. Aku hanya melihat sebercak cahaya didalam kegelapan. Dalam gelap itu aku hanya berdoa agar pengobatan kali ini dilancarkan.

 

Luhan POV

 

Mungkin akibat kejadian kemarin, kondisi nenek kembali melemah. Badannya demam, wajahnya pucat, dan beliau berulang kali kesusahan nafas. Aku takut beliau akan kenapa-napa. Cuma beliau keluarga yang aku punya di dunia ini. Setelah melihat kondisi beliau yang tidak kunjung sembuh, aku membawanya ke klinik dekat rumah. Walau dengan biaya seadanya, aku tetap meyakinkan dokter untuk menyembuhkan nenek dengan segala cara. Hari ini, Ha Na akan menjalani operasi, tapi aku tidak bisa menemaninya. Saat ini nenek sangat membutuhkanku.

Akhirnya setelah beberapa pemeriksaan, dokter memutuskan agar nenek di opname di rumah sakit. Tapi dokter tidak mengatakan dengan pasti, penyakit apa sebenarnya yang diderita nenek. Jarak rumah sakit ini dengan rumah sakit tempat Ha Na dirawat sangat jauh, jadi kemungkinan aku akan terlambat sampai disana. Nenek berulang kali menyuruhku untuk segera menemani Ha Na, tetapi aku menolak karena aku tidak bisa membiarkan nenek sendirian. Orang bernama Choi Min Soo bisa saja datang dan berbuat macam-macam pada nenek.

Aku pegang tangan nenek dengan kedua tanganku untuk menghangatkan tangannya yang dingin. “Nenek, istirahatlah. Biar aku temani” nenek tersenyum kemudian memejamkan kedua matanya. Tak lama kemudian, beliau mulai mendengkur. Itu berarti beliau sudah tertidur dengan nyenyak.

Beberapa jam kemudian.

Ternyata aku ketiduran. Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Nenek sudah bangun, dengan wajah yang mulai ceria dia mengucapkan salam “Selamat sore Luhan, tidurmu nyenyak sekali. Maaf nenek tidak membangunkanmu, karena kamu kelihatannya lelah sekali, jadi nenek tidak tega”

“Tidak apa nek….. hmmm nek aku permisi sebentar, aku… ingin melihat Ha Na, aku akan segera kembali”

“Sampaikan salam nenek padanya ya”

“Tentu saja” aku kemudian segera pergi menuju rumah sakit tempat Ha Na dirawat. Dengan menggunakan bus, kira-kira 30 menit lagi aku akan sampai disana. Semoga Ha Na belum pulang, begitu pikirku.

Setelah sampai, aku langsung bergerak dengan cepat menuju kamarnya, namun ternyata disana kosong. Aku bertanya dengan salah satu perawat disana. Ia berkata bahwa operasinya berhasil dan Ha Na sedang berada di teras rumah sakit. Syukurlah.

Diteras rumah sakit ternyata dipenuhi oleh banyak orang. Mereka sedang mendengarkan seseorang sedang bernyanyi. Dan tentu saja orang itu adalah Ha Na. Dengan piawainya ia memainkan piano diiringi dengan suara lembutnya. Semua orang tersentuh dengan nyanyiannya. Suaranya sudah kembali dan kini ia sudah kembali ceria. Tepuk tangan yang tiada henti didapatkannya. Rasanya Ha Na sudah membuat konsernya sendiri. Perlahan sang penyanyi turun dari panggung dan datang menghampiriku.

“Maaf aku terlambat….”

Dia menggeleng dan kemudian tersenyum “Tidak apa…”

“Sedang apa kamu disini? Bukankah sebaiknya kamu istirahat.”

“Aku hanya latihan sebentar. Tidak mungkin aku bersantai sedangkan besok adalah babak penentuan.”

“Benar juga…”

“Kenapa kamu terlambat?”

“Ah sesuatu telah terjadi, tapi tidak apa-apa, sudah terselesaikan. Jangan terlalu dipikirkan.” Aku tidak ingin menceritakan kejadian kemarin dan kondisi nenek pada Ha Na agar dia tidak cemas dan fokus pada kontes.

 

Ha Na POV

 

Sesuatu telah terjadi. Jangan-jangan ada hubungannya dengan Tuan Choi. Luhan tidak mau menceritakan masalah itu padaku. Dia terus berkata bahwa itu hanya masalah biasa, tetapi kenapa perasaanku mengatakan bahwa kejadian buruk telah terjadi. Ditambah lagi raut wajah Luhan yang tidak seperti biasanya. Dia terlihat lelah, kantong matanya menebal dan dia terlihat sedih. Bahkan dia memohon pamit padaku begitu cepat. Tapi aku bukan perempuan yang suka mengatur dan memaksa orang. Aku membiarkannya pergi.

“Luhan, berhati-hatilah, e-eh maksudku jaga dirimu baik-baik.”

“Iya..” ia kemudian pergi lagi. Tapi entah kenapa perasaanku berkata bahwa aku tidak akan melihatnya lagi. Aku terus memukul-mukul dadaku untuk meredakan detak jantungku. Perasaanku benar-benar tidak enak. Aku harap Tuan Choi tidak melakukan hal-hal gila lagi padanya.

Keesokan harinya, pukul enam sore.

Hari ini akhirnya tiba. Babak final kontes menyanyi yang ditunggu-tunggu oleh semua orang dimulai. Didampingi dengan ibu dan bu Lee, aku bersiap-siap di belakang panggung. Dan seperti dugaanku, Luhan tidak datang tepat waktu. Entah kenapa sejak kemarin perasaanku tidak enak. Jantungku tidak berhenti-hentinya berdetak sangat kencang. Apa ini efek dari operasi atau memang akan terjadi sesuatu yang buruk? Sebelum para panitia menyuruh kami untuk berpindah posisi di ruang tunggu, aku memohon ijin untuk pergi ke toilet.

Kesempatan ini aku gunakan untuk merenungkan masalah antara Luhan dan Tuan Choi. Apa sebaiknya aku katakan saja tabiat buruk Tuan Choi pada ibu? Apa aku katakan saja pada Luhan kalau ada seseorang yang ingin mencelakainya? Tapi itu susah, aku perlu bukti. Tidak mungkin aku mengatakan kalau aku melihat masa lalu dengan penglihatanku, orang-orang pasti mengira aku sedang berkhayal. Saking seriusnya berpikir, aku sampai tergores paku yang tertancap di dinding. Banyak darah yang keluar dari luka goresan itu hingga beberapa titik darah jatuh ke lantai. Darah yang jatuh ke lantai itu tiba-tiba membawaku ke sebuah penglihatan. Penglihatan yang tak sepantasnya aku lihat. Darah dimana-mana, laki-laki yang sangat aku kenal membawa sebuah pisau tajam dengan ceceran darah diujungnya dengan laki-laki lain yang tergeletak di jalanan, tidak ada yang menolong. Orang itu, yang sedang sekarat dijalanan tidak lain adalah orang yang selama ini aku khawatirkan. Tuhan mungkin ingin memberitahuku sebelum kejadian itu benar-benar terjadi. Setelah penglihatan berakhir, aku segera pergi menuju lokasi itu. Untuk kali ini aku harus pastikan tidak terjadi apa-apa pada Luhan.

 

Luhan POV

Sesuai perjanjianku dengan laki-laki bernama Choi Min Soo itu, aku segera menuju tempat yang sudah disepakati kami berdua untuk bertemu. Tempatnya benar-benar tidak terkesan seperti tempat perjanjian biasanya, tempat ini malah lebih terlihat seperti tempat pembantaian. Didampingi dengan sungai yang berarus keras dan bukit terjal, tempat ini sedikit membuatku tidak nyaman. Apa yang sebenarnya diinginkan orang itu dengan bertemu di tempat seperti ini? Janji pukul empat sore, tapi dua jam menunggu, laki-laki sial itu belum muncul juga. Kalau seperti ini, aku benar-benar bisa tidak hadir di babak final. Sial.

Setelah lama menunggu, akhirnya orang itu tiba. Dengan didampingi penjaga-penjaganya yang berbadan besar, ia turun dari mobil mewahnya dan melangkah menuju kehadapanku.

“Maaf membuatmu menunggu lama adikku” dia tersenyum sinis. Disaat dirinya sudah membuat orang menunggu lama di tempat mengerikan ini dia masih bisa tersenyum!?

“Sudah jangan basa-basi lagi, cepat kembalikan rumah itu, itu bukan hak milikmu!”

“Tenang saja, rumah bobrok itu sudah aku balikkan lagi, tapi sebelumnya……” dia menodongkan sebuah pistol tepat di wajahku. Dan salah satu bawahannya menutup mulutku dan mengikat tanganku. Aku terus melawan tetapi tenaga mereka jauh lebih kuat dari aku.

“Luhaaaaaaaaaaaaaaaaan!!!” Ha Na yang seharusnya berada di kontes tiba-tiba datang dihadapan kami. Wajahnya tentu saja terlihat sangat kaget, melihat aku disekap oleh kawanan pria-pria seram. Aku terus memberontak dan mencoba menyuruhnya untuk segera pergi dari sini. Tapi bukannya menurut, dia malah mendekat dan ingin menolongku. Namun sia-sia saja, Min Soo memegang tangan Ha Na dan menghentikan langkahnya.

“Wah wah, calon anak tiriku sedang apa kamu disini? Disini berbahaya, cepat kembali pada ibumu” Anak tiri katanya!? Jadi Min Soo dan Ha Na sudah saling mengenal!?

“Lepaskan akuuuu!! Kamu bukan calon ayahku!! Aku tidak akan mengijinkan ibuku menikahimu!! Kamu hanya orang jahat yang tidak pantas jadi ayahku!!!” ekspresi wajah Min Soo mendadak berubah. Wajahnya memerah, emosinya memuncak. Aku takut dia akan bertindak buruk pada Ha Na. Dan ternyata benar, dia langsung memukul Ha Na dengan keras dan membuatnya jatuh pingsan. Aku benar-benar tidak mampu menolongnya, tangan dan kakiku diikat, mulutku dilakban. Ha Na yang tidak berdaya itu diikat oleh bawahan Min Soo dan dibawa ke sebuah pondok tua disamping sungai, begitu juga aku. Kami berdua dikunci didalam dengan dijaga oleh bawahan-bawahan Min Soo. Min Soo yang sudah puas melukai kami pun pergi entah kemana.

 

Ha Na POV

Aku membuka mataku secara perlahan, dan meyakinkan bahwa hal yang tadi aku alami hanya mimpi. Tapi ternyata bukan, kejadian tadi memang benar-benar terjadi dan aku sedang dikurung disebuah ruang yang gelap bersama Luhan. Luhan yang menyadari bahwa aku telah terbangun, memberikan isyarat padaku untuk tetap tenang. Aku tidak bisa menahan air mataku, titik demi titik air mataku berjatuhan. Betapa beratnya cobaan yang sedang kami hadapi berdua. Tapi menangis adalah kesalahan, salah satu bawahan Tuan Choi melihatku telah terbangun.

Gadis itu seperti sudah sadar. “Hei hyung kita apakan perempuan ini? Bos menyuruh untuk membereskannya”

“Sudah, kita jual saja, kita akan dapat untung banyak, hahaha” Rejeki bergelimpangan

“Ide bagus” salah satu dari mereka mengangkatku dan mencoba membawaku pergi. Luhan yang melihat itu langsung bertindak. Ia mendorong meja yang berada disebelahnya hingga botol-botol yang berada diatasnya terjatuh dan pecah mengakibatkan orang-orang itu terluka akibat pecahan-pecahan tersebut. Namun akibat ulahnya itu, orang-orang itu menjadi sangat marah dan melampiaskannya dengan memukul Luhan berulang kali hingga wajahnya babak belur dan banyak darah yang berceceran di lantai. Luhan terlihat menahan kesakitan. Untung saja orang kejam itu sudah pergi keluar untuk mengobati luka akibat pecahan tadi jadi aku bisa mendekati Luhan dan mengecek keadaannya. Ketika aku berada disamping, ia memberi isyarat melalui matanya untuk mengambil pecahan kaca itu. Ia menyuruhku untuk melepas ikatan talinya dengan pecahan itu. Walau dengan tangan diikat, aku terus mencoba memotong talinya hingga akhirnya perjuanganku tidak sia-sia. Luhan sudah terlepas dari ikatan di tangannya, kemudian ia melepas lakban yang menempel dimulutnya dan tali yang ada dikakinya. Dia juga melepas ikatan yang ada di tanganku.

“Kamu tidak apa-apa Ha Na?”

Aku menjawabnya dengan mengangguk sambil tak kuasa menetaskan air mataku. “Bagaimana denganmu? Apa kamu baik-baik saja?”

Dia tersenyum dan mengangguk pelan. Disaat-saat begini, masih saja dia tersenyum. Kemudian dengan cepat ia mencoba mencari jalan keluar. Tuhan ternyata masih membantu kami. Tidak lama kemudian, Luhan menemukan sebuah pintu kecil yang cukup untuk membuat kami keluar dari pondok mengerikan itu.

 

Luhan POV

Akhirnya kami berhasil keluar. Tanpa disadari oleh kedua orang tadi, kami pun berlari menjauh dari tempat itu. Tapi rasa sakit akibat pukulan tadi berulang kali menghentikan langkah kami. Ditambah dengan adanya ceceran darah yang berjatuhan di jalan, para bawahan Min Soo yang menjaga kami pun tersadar dengan tindakan kami. Ha Na merangkul pundakku dan membantuku untuk jalan. Tapi para bawahan itu bergerak lebih cepat dari kami. Aku tidak ingin Ha Na terlibat lebih jauh lagi. Aku melepas rangkulannya. Dan menyuruhnya untuk pergi.

“Ha Na cepat pergi dari sini dan bawalah rekaman dalam handphone ini ke kantor polisi!!! Cepat!!!” aku memberikan rekaman yang ada di dalam handphoneku yang berisi mengenai percakapan Min Soo dan anak buahnya yang sempat aku rekam saat awal pertemuan kami. Untung saja sejak awal aku sudah menaruh curiga dengannya, jadi melalui rekaman ini, Min Soo bisa dijebloskan dalam penjara.

“Tapi—.”

“Tidak ada tapi-tapian, cepat pergi!!!!!”

“Tidak mau!! Aku ingin bersamamu!! Ayo kita sama-sama pergi!!”

“Pergilah dulu!! Aku janji aku akan segera menyusul!! Kamu harus memenangkan kontes itu Ha Na!! Cepat pergi!!!!!” Ha Na pun menyerah dan akhirnya pergi. Setelah kupastikan dia sudah jauh dari tempat ini, aku berbalik menghadap para bawahan Min Soo yang sudah siap untuk membunuhku. Untung saja aku menyimpan beberapa pecahan kaca, dengan itu aku lemparkan pada orang-orang itu hingga satu-persatu dari mereka merasa perih kesakitan. Kesempatan itu aku gunakan untuk kabur tapi sayang didepanku Min Soo sudah menungguku dengan membawa sebuah pisau yang tajam. Tidak ada cara lain selain….. byuuurrr. Aku menyeburkan diri ke sungai yang deras ini. Luka-luka yang kudapat membuatku sulit untuk berenang. Hanya keajaiban dari Tuhan yang bisa menyelamatkanku.

 

Ha Na POV

Aku berlari menuju kantor polisi terdekat. Dengan panik, aku memanggil para polisi untuk segera menolong Luhan. Dengan menjadikan rekaman ini sebagai bukti, para polisi pun mulai bergerak dan mengerahkan senjata untuk bersiap-siap menuju lokasi itu. Aku sempat memaksa ikut, tapi polisi tidak mengijinkan. Dan akhirnya aku tersadar, kata-kata Luhan yang menyuruhku untuk kembali ke kontes. Dengan sekuat tenaga, aku kembali berlari menuju tempat diselenggarakannya kontes. Orang-orang disana ternyata sudah panik menungguku. Mereka bertanya kenapa aku menghilang dan sebagainya. Tapi aku hanya bisa menangis dan menggeleng. Para panitia kontes kemudian menyuruhku untuk segera naik ke atas panggung. Dengan sisa tenaga yang ada aku pun menyanyikan sebuah lagu dengan air mata yang tak henti-hentinya mengucur. Semua penonton bertanya-tanya dengan keadaanku yang terlihat buruk. Ada apa dengannya? Kenapa dia menangis? Wajahnya terlihat babak belur dan kotor, sebenarnya apa yang terjadi? Hingga orang yang tidak ingin aku lihat, Tuan Choi sudah ada di bangku penonton dengan senyum jahatnya. Dari sana aku yakin bahwa Luhan benar-benar sudah dibunuhnya. Aku pun menjatuhkan mikrofon sehingga mengakibat suara bising. Para penonton mulai menutup telinga mereka. Aku yang tak kuasa pun jatuh bersimpuh dan tak henti-hentinya menangis. Suara sirine polisi mulai terdengar. Para polisi pun mulai menangkap Tuan Choi yang tidak tahu menahu mengenai adanya polisi yang mengejarnya. Semua orang kebingungan dengan apa yang terjadi. Aku tidak bisa berbicara banyak, pandanganku kosong. Jadi begini akhirnya cerita? Apa harus berakhir tragis seperti ini?

 

10 tahun kemudian

Sepuluh tahun telah berlalu semenjak kejadian itu. Walaupun waktu sudah lama berlalu, tetapi ingatanku padanya tidak bisa hilang. Semenjak ia hilang, duniaku sangat hampa dan sepi. Tidak ada pemenang dalam kontes menyanyi itu. Akibat penangkapan dan kejadian buruk yang menimpaku saat itu, kontes pun dibatalkan. Aku yang saat ini berusia 27 tahun pun kini hanya menjadi seorang guru vokal anak-anak TK. Walau impianku menjadi seorang penyanyi profesional tidak kesampaian, tetapi menjadi guru vokal juga sangat menyenangkan karena aku bisa bernyanyi bersama-sama dengan anak-anak untuk menghiburkan kehidupanku yang menyedihkan ini.

Tuan Choi dan para bawahannya sekarang sudah menerima hukumannya di penjara. Ibu sekarang sudah menjauhi Tuan Choi dan memulai kehidupannya yang baru. Kemudian Sandeul, kini ia sudah berhasil menjadi seorang idol. Ia menjadi salah satu member boyband bernama B1A4. Sedangkan Naeun, kudengar ia akan segera menikah dengan orang yang bernama Jonghun. Aku turut bahagia mendengarnya.

Seperti biasa, hari ini aku harus pergi menuju tempat mengajarku. Namun kali ini sambutan anak-anak terlihat berbeda. Mereka tersenyum dengan aneh dan ada yang menahan sedikit tawanya. Apa rencana kita akan berhasil ya? Aku mohon semoga rencana kali ini berhasil!Pacar bu guru benar-benar romantis. Rencana apa yang mereka rencanakan? Pacar!? Apa aku salah dengar!?

“Bu Guru!” saatnya dimulai. Hihi

“Iya, ada apa Moon Ri?”

“Tolong temani aku ke kamar kecil, aku ingin buang air”

“Hmm baiklah. Anak-anak kalian tenanglah didalam kelas. Ibu akan mengantar Moon Ri sebentar.”

Moon Ri, gadis kecil yang aku antar ini tak henti-hentinya tersenyum. Entah apa yang mereka rencanakan untukku. Kemampuan membaca pikiran sudah mulai berkurang seiring berjalannya waktu. Sepertinya semakin aku menua makin berkurang kemampuanku. Jadi aku sulit mengetahui apa yang sebenarnya yang mereka rencanakan. Setalah mengantar Moon Ri, kami pun segera kembali ke kelas. Dan sepertinya rencana mereka telah dimulai. Anak-anak menghilang. Hanya ada mawar yang berserakan membentuk sebuah jalan yang ada di kelas. Moon Ri menyuruhku untuk mengikuti mawar-mawar itu. Aku hanya menurutinya. Ku ikuti mawar itu hingga sampailah aku pada mawar terakhir yang berada di taman. Disana sudah ada anak-anak yang berkumpul membentuk sebuah barisan di kiri dan di kanan. Mereka menyambut kedatanganku dengan menyanyikan lagu pernikahan. Di ujung tengah barisan itu berdirilah seorang pria yang sudah lama ingin aku temui. Luhan! Orang yang dikatakan telah meninggal dibunuh oleh Tuan Choi sedang berdiri dihadapanku. Apa aku bermimpi? Aku memukul pipiku berulang kali untuk memastikan apakah ini mimpi atau nyata. Dan ternyata ini bukan mimpi, ini memang benar-benar terjadi.

“Si-siapa kamu? Apa kamu—? Tidak, tidak Luhan sudah meninggal.”

“Ha Na, ini aku Luhan. Mungkin kamu tidak percaya. Tapi ini benar-benar aku. Kenapa aku bisa selamat ceritanya sangat panjang. Yang pasti selama sepuluh tahun ini aku tinggal di tempat asing bersama orang-orang yang menyelamatkanku. Aku sempat lupa ingatan tapi satu orang yang tidak bisa aku lupakan, itu kamu, Ha Na…”

Ini benar-benar keajaiban yang kutunggu- tunggu. Luhan ternyata masih hidup dan sekarang dia ada didepanku. Aku tak henti-hentinya menangis. Tiba-tiba Luhan terduduk dan mengambil sesuatu yang ada di kantong jasnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak yang berisi cincin dan diberikannya padaku.

“Maukah kamu menikahi fans pertamamu ini?” dia tersenyum dengan manis. Aku mengangguk dan memeluk erat tubuhnya. Anak-anak yang ada disana merasakan kegembiraan kami. Mereka bersorak gembira melihat kami telah bersatu kembali. Sekarang aku mulai mengerti kenapa aku tidak bisa membaca pikiran Luhan, karena dia adalah orang yang akan menjadi orang terdekatku.

The End

 

Author note:

Huhuhu akhirnya FF ini selesaiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii. Karna FF ini udah tamat, author mau bikin FF lagi yang cast Luhan sama Baekhyun, tolong dibaca yaa, kkkk~ makasi buat yang udah nunggu lama, udah comment, udah setia baca FF ini. Maaf kalo ada salah-salah kata atau typo yang bertebaran. Tolong support terus ya^^

 

 

 

 

Iklan

12 pemikiran pada “Ha-Na (Chapter 9)

  1. aaaaaaaaaa~ hiks hiks!! kirain bakal sad endong (?) tapiiii huaaaaaa gw jadi ikut bahagia chukkae… ~T_T~ aku di undang ya ntar kawinannya (?) aku kan temen sekolah mereka yg gak kesorot di ff ini hhihihi ~
    thor saenghae… i joha (?)your ff
    Salam XOXO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s