Littlest Thing Tells A Lot

Title : Littlest Thing Tells A Lot

Author : marchadwirizkika

Genre : angst, friendship

Length : oneshot

Rating : PG

Main Cast(s) : Xiumin, Chanyeol

Warning : suicidal deed

Minseok tidak terlalu menghargai dibangunkan dengan paksa di pagi buta yang begitu dingin. Terlebih demi alasan profesionalitas. Siapa yang mau mengawali hari dengan kegiatan manis memeriksa mayat? Tubuh kaku dan dingin dan―sialnya―kadang-kadang sudah membusuk, menguarkan bau yang meninggalkan perasaan tidak nyaman di dasar lambung. Kau akan kehilangan selera makanmu, dan sebagai reaksi berantai, kau juga akan kehilangan kemauanmu untuk menjalani hidup sepanjang sisa hari.

Minseok mengerang serak kepada bantalnya, bonus satu atau dua kata umpatan, sebelum berguling menyamping sekaligus menyingkirkan lapisan selimut dari tubuhnya. Ia bangkit lalu duduk di tepi ranjang, tangan meraba-raba permukaan kabinet samping tempat tidur dengan mata masih tertutup. Persetan kalaupun ia menyenggol jatuh benda-benda yang ada di sana.

Ia menemukan ponselnya tak lama kemudian, masih berdering dengan nada khusus ‘panggilan kerja’. Benda itu terasa beku ketika Minseok menempelkannya ke bagian samping wajah.

“Tak bisakah seseorang memilih waktu yang lebih manusiawi untuk menemukan mayat?” kata Minseok setengah mencemooh. Suasana hatinya masih terlalu jengkel untuk mengucapkan salam yang normal.

“Um.”

Sahutan di seberang sambungan telepon terdengar ragu-ragu. Bingung barangkali, atau takut. Minseok toh juga sedang terlalu jengkel untuk merasa bersalah. Ia mendesah, lalu mencoba bertanya lagi dengan lebih beradab pada bawahannya. “Ada apa, Yixing?”

“Benar, Sir. Mayat. Mengambang di Inga River, lima ratus meter ke utara dari The Big Bridge.”

Satu erangan serta serentetan gerutu lagi dan Minseok menyangga tubuhnya dengan sebelah tangan untuk berdiri, berjalan malas-malas melewati kegelapan kamarnya, hendak bersiap-siap untuk bekerja.

Saat Minseok melangkah keluar dari Civic putihnya yang ia parkir di pinggir sungai, bersebelahan dengan sebuah mobil polisi, matahari belum lagi terbit. Langit berupa layar biru gelap yang suram, menaungi kota yang tertidur seperti mimpi buruk. Entah setan apa yang menyebabkan dingin tetap menggerayangi meski Minseok sudah mengenakan jas di atas seragam, kedua tangan masuk ke dalam saku, semacam untuk mencegah panas tubuh menguar keluar. Toh ia harus menarik keluar sebelah tangan ketika Yixing berjalan cepat menghampirinya, berhenti satu meter di depan untuk memberi hormat dengan tangan kanan.

“Sir.”

“Yixing.”

Kemudian opsir muda itu mengarahkan Minseok ke suatu tempat dengan lebih banyak lagi petugas. Mereka semua memberi hormat ketika menyadari kehadiran Minseok, tapi Minseok hanya memberi anggukan singkat. Perhatian teralihkan sepenuhnya pada sesosok tubuh yang dibaringkan di tanah. Masih bocah, dengan tubuh tinggi yang akan bertambah tinggi lagi kalau ia hidup, tentu saja. Laki-laki itu mengenakan kaus kuning bergambar karakter film, celana jeans, dan sneakers hitam bertali putih, rambutnya dipotong cepak, hitam dengan sedikit aksen cokelat gelap. Semuanya kuyup.

Wajah dan lehernya pucat, kulitnya membengkak dengan beberapa bercak biru kehitaman, sedikit buih muncul di tepi mulut. Jemari dan telapak tangannya yang membengkak paling parah, beberapa kuku jari bahkan terlepas. Telinganya mengalami pendarahan. Tapi selain itu, keadaan mayat bagus. Air sungai yang dingin melakukan tugas baik dengan memperlambat pembusukannya. Tidak ada tanda-tanda cedera ante-mortem.

“Korban bernama Park Chanyeol, 18 tahun, siswa Silverhound High. Perkiraan kematian: tadi malam, sekitar tengah malam. Penyebab kematian: tenggelam. Apakah ini kecelakaan atau kesengajaan, belum diketahui.” Yixing membaca catatannya dengan nada monoton, tanpa ekspresi sama sekali, sementara Minseok berjongkok di samping mayat dengan dua petugas lain.

“Too young to die, aren’t you, kid? Why, Park Chanyeol, why did you die,” gumam Minseok tidak pada siapa-siapa. Lagipula tidak ada yang memerhatikan. Yixing malah mengajaknya melihat barang-barang milik korban yang tadinya berada di saku celana.

Sama seperti tubuh korban, dompetnya basah total. Hanya ada beberapa benda di dalamnya: tiga lembar uang yang menggulung kumal, kartu identitas, kartu pelajar bertanda Silverhound High, SIM, pick gitar, dan selembar foto berukuran setengah kartu pos dengan tulisan tangan di baliknya. Minseok selalu merasa sedikit lucu ketika membandingkan wajah mayat dengan foto orang tersebut ketika masih hidup, seolah ada yang menonjok rusuknya keras-keras. Lihat saja imaji dua dimensi ini, begitu penuh kehidupan khas pemuda ceroboh. Dan kemudian wajah membengkak di sana. Bukankah memilukan?

Minseok bangkit, foto dan pick gitar di tangan. Entah mengapa dua benda itu paling menarik perhatiannya. Ia kemudian melihat berkeliling, pandangannya jatuh pada seorang pria tak jauh dari sana: warga sipil berpakaian olahraga. Seekor anjing jenis husky dewasa berdiri di dekat kakinya sementara tali pengikat yang berwarna merah melingkar di kaki si pemilik. Seorang petugas tampak sedang mewawancarainya.

“Diakah orang kurang beruntung yang menemukan korban?” tanya Minseok sambil lalu.

“Benar, Sir. Dia sedang berjalan-jalan dengan anjingnya ketika melihat sesuatu mengambang di sungai―”

“Sudahkah seseorang menelusuri sungai ke utara?”

“Zitao sedang melakukannya, Sir. Dengan jangkauan satu kilometer. Aliran air sungai sangat tenang, saya tidak yakin kita akan mendapatkan sesuatu, kemungkinan korban tidak terbawa begitu jauh dari posisi awalnya semalam.”

Saat itu gerakan air memang nyaris nihil. Bahkan akan mengecewakan anak-anak kecil yang ingin bermain perahu kertas. Tapi kemarin sebelum senja sampai dua jam setelahnya turun hujan besar sekali. Air pasti deras saat itu, dan mustahil akan langsung menjadi tenang sampai tengah malam. Tubuh korban pasti terseret lebih jauh dari perkiraan Yixing. Minseok mengantongi pick gitar dan foto milik korban dengan hati-hati. Lalu ia berpindah menuju mobilnya.

“Sir?” Yixing mengikutinya dengan bingung.

“Akan memeriksa lebih jauh.”

“Let me do that, Sir.”

“Tidak, Yixing. Aku saja. You get me a coffee. Black.” Minseok melambaikan tangan pelan untuk mengusir opsir itu sebelum duduk di belakang kemudi. Ketika Civic-nya meninggalkan tempat itu, matahari baru terbit sebagian. Minseok mendengus, merasa konyol sendiri. Siapa pula yang menjual kopi sepagi ini? Ah, persetan. Yixing bisa selalu mendobrak masuk, lalu memamerkan lencana kepolisiannya. Atau menodongkan pistolnya ke pelipis pemilik café, kalau perlu. Terserah. Minseok terlalu sibuk mengingat bagaimana dirinya ketika berusia 18 tahun dulu, bahkan tidak sekalipun pernah berpikir kalau suatu saat nanti ia akan menjadi polisi, terlebih di posisinya sekarang ini.

Minseok berkendara ke utara selama kurang dari sepuluh menit. Mendekati kilometer ketujuh dari titik ditemukannya tubuh korban, ada sebuah van diparkir di tepi sungai. Minseok memarkir mobilnya di pinggir jalan lalu berjalan kaki mendekati van oranye yang warnanya sudah pudar itu. Bahkan ada kemungkinan warna aslinya adalah merah. Van itu menghadap barat laut, dari jejak bannya di tanah berpasir, bisa dipastikan benda itu dikendarai dari arah selatan.

Tidak ada siapa pun di dalamnya, tentu saja. Pemiliknya sudah tewas. Minseok mencoba membuka pintu bagian kemudi dan tidak terkejut sama sekali ketika mendapati pintu itu tidak terkunci, kunci mobilnya sendiri menggantung di dalam. Ia mengamati bagian dalam mobil sekilas. Kemudian ia masuk, menggigil sejenak karena udara di dalam dingin. Bahkan bahan pembungkus jok juga terasa dingin di kulit. Minseok juga tidak terkejut ketika menemukan sesuatu di atas tumpukan kaset musik di dalam panel penyimpanan depan. Bisa dibilang intuisinya sudah meramalkan akan menemukan benda itu di sana―dan benaknya setengah berharap hal yang sama.

Pesan kematian tersebut, atau wasiat, kalau kau lebih suka menyebutnya demikian, dibuat di sebuah kertas sobekan buku tulis yang garis-garis pembatas barisnya berwarna hitam. Minseok membuka lipatannya lalu meletakkan kertas itu di jok sebelah. Ia kemudian mengeluarkan foto yang dibawanya di dalam saku jas. Tulisan tangan di balik foto dengan tulisan di kertas memiliki gaya yang sama, dengan keidentikan paling jelas terlihat di huruf w dan e.

Minseok mengamati tulisan di foto terlebih dahulu. Tinta hitamnya tidak luntur, digunakan untuk menulis huruf-huruf berukuran kecil yang walaupun tidak bisa dikatakan rapi, jelas terbaca. Jarak antarhuruf terbilang sempit sedangkan spasi antarkata sedang dan seimbang. Park Chanyeol ini barangkali tipe pemikir dan perasa memikirkan bagaimana ia menulis di balik sebuah foto lalu menyimpannya di dalam dompet.

23 Juni 2011 di Inga River bersama Baekhyunnie, Kkamjong, & D.O.

We decided to make a band. It’s Pan’s Troop. Cool, huh?

Minseok ganti meletakkan foto itu dan mengamati pesan kematian Park Chanyeol, juga dibuat dengan tinta hitam. Di garis paling atas kertas, dituliskan beberapa kata. Tapi kemudian di atasnya ditambahkan beberapa coretan gusar yang membekas sampai bagian belakang kertas, hitam mencolok dan Minseok nyaris bisa merasakan pahit di pangkal lidahnya. Minseok mengernyit, membayangkan sosok jangkung Park Chanyeol membungkuk di atas meja belajar di sebuah kamar yang temboknya dipenuhi poster band-band asing. Sinar dari lampu meja jatuh menerangi kertas sobekan buku tulis yang garis-garis pembatas barisnya berwarna hitam. Awalnya ia berpikir mengenai hal apa yang sebaiknya ditulis, menimbang-nimbang banyak kemungkinan dan… pada akhirnya memilih untuk menulis tanpa berpikir.

When all of you walk away, why should I stay?

Lalu ia akan mengerutkan kening, membaca ulang kalimat pertamanya dan mendengus nyaris histeris. Terlalu sentimental. Maka ia menyembunyikan kalimat itu di balik garis-garis memanjang.

Pembuka pesan sesungguhnya diselingi tiga baris dari garis teratas.

Halo.

Namaku Park Chanyeol, Minseok meneruskan membaca. My friends called me Chanchan, Channie, Yeol, Yeolo. I like all of them and I love those friends. Thing is, they aren’t around anymore.

It’s sad.

Terlihat jelas penulis mencoba menekan emosinya dengan menghemat kata. Tidak begitu berhasil juga. Inkonsistensi dari kerapian huruf dan ketebalan tinta justru memperlihatkan sebaliknya. Minseok bisa memunculkan imaji Park Chanyeol di benaknya, menulis dengan bibir terkatup kuat-kuat, jemari yang membungkus pena menggenggam terlalu erat. Supaya tidak gemetar barangkali, karena pundaknya gemetar, hampir menangis. Tapi paragraf berikut menunjukkan Park Chanyeol dapat menenangkan diri, bahkan memunculkan sedikit humor di tulisannya.

Well, whoever finds this letter, please contact my parents so that they can carry out my last will. I want Byun Baekhyun to have my guitar (and my guitar pick actually, but I kinda lost it, what a shame). Please make sure Do Kyungsoo get my drum sticks and his CDs back. And for Kim Jongin, I’ll let him take over my signed album of Exo (that thing is rare, Dude, better take care of it).

That’s all.

Minseok kembali mengamati foto, kali ini bagian muka kertas tersebut. Gambarnya berlatar belakang tempatnya berada sekarang, Inga River. Bahkan mungkin posisi van itu kini sama persis dengan di dalam foto. Empat pemuda berseragam berpose di depan van. Park Chanyeol menjulang di bagian paling kiri deretan, lengan kanan melingkari leher pemuda di sebelahnya, sementara tangan kiri diangkat tinggi-tinggi membentuk kepalan. Senyumnya senyum seolah ia akan menaklukkan semesta suatu saat nanti.

Pemuda yang dirangkul Park Chanyeol bertubuh lebih pendek. Matanya menghilang di balik kelopak karena tersenyum, kedua tangannya membentuk lambang Victory. Minseok mengasumsikan pemuda itu sebagai Baekhyunnie dalam tulisan di balik foto, atau Byun Baekhyun di dalam surat. Kkamjong atau Kim Jongin kemungkinan besar merujuk pada pemuda yang warna kulitnya sedikit lebih gelap dari yang lain, berdiri menyeringai di bagian terkanan dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Itu artinya D.O atau Do Kyungsoo adalah pemuda yang berdiri di antara Byun Baekhyun dan Kim Jongin, mengacungkan sebelah ibu jarinya. Hanya ia yang mengenakan blazer abu-abu di atas kemeja putih, sewarna dengan celana panjang. Bordir lambang Silverhound High ada di bagian dada.

Jadi… empat sekawan ini bertengkar atau semacamnya. Dan salah seorang dari mereka mengambil keputusan drastis sekaligus dramatis sebagai epilog.

Sekilas lihat saja kau akan bisa menebak Byun Baekhyun bersifat ambisius. Barangkali ambisi itulah pemicunya, ambisi menyangkut band mereka. Lalu Kim Jongin mengambil peran oposisi berdasarkan sifat sinisnya. Tapi Byun Baekhyun juga keras kepala, akan bereaksi lebih keras ketika ditentang. Dan Kim Jongin sebenarnya mudah terluka meskipun terlihat kuat. Do Kyungsoo awalnya akan memilih menjadi penengah karena ia tenang dan dapat diandalkan, berusaha agar dua temannya tidak saling menyakiti. Pada akhirnya ia akan memihak Kim Jongin, omong-omong, karena ia perfeksionis dan rasional.

Byun Baekhyun akan melihat pada Park Chanyeol. Menuntut pemuda itu, mengingat keduanya sangat dekat seperti yang tersirat di foto dan surat Park Chanyeol, agar berada di pihaknya. Tapi Park Chanyeol membenci konflik. Ia mundur selangkah, kebingungan. Ingin memperbaiki keadaan tapi tidak yakin harus berbuat apa. Lagipula dengan caranya sendiri ia terlalu egois, menyayangi semua temannya seperti anak kecil, terlalu takut kehilangan satu pun.

Lalu semuanya tidak pernah sama lagi. Dan Park Chanyeol sangat membenci perubahan.

Minseok memejamkan mata sementara tangannya yang tidak digunakan untuk memegang kertas foto memijat batang hidung, kepalanya menyandar ke belakang. Ia membayangkan sebuah van oranye―atau barangkali merah―pudar melintasi jalanan sepanjang sungai di tengah malam, sepasang lampu depannya yang menjadi satu-satunya penerangan dalam gelap selain sinar bulan dimatikan ketika kendaraan itu sampai di tujuan. Pemuda jangkung berjalan mendekati sungai, berdiri diam sejenak untuk mengenang beberapa hal dengan mata berair. Barangkali ia sempat menggigil kedinginan ketika angin bertiup, atau tidak. Karena air sungai juga dingin dan ia tidak peduli. Air sungai itu akan membungkusnya dalam kematian yang dingin dan gelap dan sesak―

Minseok menggertakkan gigi, genggamannya pada kertas foto mengencang tanpa sengaja, menyebabkan sebagian kecil foto terlipat kusut. Ia mendesis kesal pada dirinya sendiri, “You are just a kid, aren’t you? Don’t even remember keeping your guitar pick in your own wallet.”

Menjadi polisi itu seperti kutukan. Tidak ada hal yang menyenangkan dari mengetahui orang-orang mati satu per satu, ataupun alasan di baliknya. Tidak menyenangkan untuk merasakan fermentasi dari rasa bersalah, terus menerus menyiksa diri sendiri dengan ribuan ‘bagaimana jika’ serta ‘seharusnya tidak begini’.

Ketika Minseok membuka mata, matahari sudah terbit sepenuhnya. Sekarang langit berupa biru muda lembut dengan lapisan-lapisan putih awan meski udara tampaknya tak menghangat sama sekali. Minseok mengantongi barang-barang milik Park Chanyeol sebelum melangkah keluar dari van. Sebuah mobil polisi diparkir di belakang Civic Minseok di pinggir jalan dan dari bagian kemudinya Yixing muncul dengan gelas plastik di tangan kanan dan kantong kertas di tangan kiri.

“Your coffee, Sir. Dan sandwich. Tampaknya Anda belum sarapan,” kata si opsir begitu ia sampai di samping Minseok, memindah tangankan dua benda yang dibawanya.

Minseok menggumamkan penghargaan dan mengulas senyum, kopi dan sandwich di tangannya menularkan hangat yang membuatnya bersyukur. Wangi kopi yang kuat toh tak mampu menyingkirkan perasaan tersumbat di tenggorokan seperti yang tadinya ia harapkan. Ketika Yixing mulai mengamat-amati van park Chanyeol di belakang punggungnya dengan mata penasaran, Minseok bertanya, “Yixing, where is this Silverhound High?”

“Whiteletter Avenue 27th. Apakah Anda akan melakukan penyelidikan di sana, Sir? Jadi kasus ini adalah pembunuhan?”

“Tidak, Yixing. Bunuh diri. Kau hubungi orang tua anak ini dan lakukan hal-hal yang perlu.”

“So what are you going to do there?”

“Bukan apa-apa. Oh, ya. Sesampainya aku di kantor, kita akan meneruskan kasus penggelapan uang Kim’s Inc.”

Setelah itu Minseok kembali menghempaskan tubuh di jok kemudi mobilnya. Merasa tua dan lelah. Ia menyesap kopinya sekali, tapi sama seperti aroma cairan tersebut, rasa pahitnya tidak membantu banyak dalam mengalihkan perhatian. Ia menatap van di tepi sungai sekali lagi sebelum fokus pada jalanan di depan dan berkemudi.

Minseok tidak memakan sandwich-nya. Dan kalaupun ia tidak banyak bicara sepanjang hari, Yixing tidak bertanya mengapa.

13 pemikiran pada “Littlest Thing Tells A Lot

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s