Neverland (Chapter 2)

TITLE : NEVERLAND (Chapter 2)        | Author : Laras (@arditialarasati)

| Genre : Fantasy, Romance, friendship        | Rating : G              | Length : Multichapter

Cast :

  • Xi Luhan (EXO)
  • Byun BaekHyeon (OC)
  • Alice (Hello venus)
  • Byun BaekHyun (EXO)
  • Oh Se Hoon (EXO)

Support Cast :

  • Akan diketahui di setiap ceritanya^^

 

N

Note :  Akan kuhapus semua kalimat sedih, cerita kita tidak akan pernah berakhir karena kita akan bertemu kembali~ song with EXO-Peterpan

Annyeong ^^ sebelumnya laras minta maaf kalo lama nunggu kelanjutan ceritanya, sibuk tahun ajaran baru lah -.- hehe Laras masih kecil, masih sibuk sekolah 😀

Langsung aja CEKIDOT yoyo #ketularabangYeol <.<

 

|Author Pov|

“Saudaraku, bukankah ini malam yang diramalkan?” suara parau  terdengar dari seorang pria yang duduk gelisah di kursi mejanya. Ia Letakkan lengannya di atas meja dan menangkupkan jemari di wajahnya.

“Benar Jendral, anda akan segera mendapatkan kembali istri tercinta-mu.” Ujar seorang pria yang lebih muda dan postur tubuh lebih kecil di hadapannya.

“Minhyuk, aku telah sangat merindukannya.” Gumaman rendah dan bergetar itu kembali muncul dari pria pertama.

“Permisi Jendral! Kami lapor, mata-mata kita telah melihat bahwa setengah peri itu telah kembali…. Bersama dua orang manusia Fana.” Ujar seorang pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut, berita yang di bawakan oleh pria itu membuat kedua pria dihadapannya menatapnya dengan segelintir harapan.

“selidiki dua manusia Fana itu cepat!” perintah tegas dari pria bernama Minhyuk. Pria pembawa kabar itu pun menunduk dan keluar ruangan dengan segera.

MinHyuk berbalik dan menatap Pria kacau di hadapannya, sungguh miris hatinya melihat tetingginya itu yang makin hari keadaannya semakin memburuk, seperti orang yang tidak memiliki keinginan hidup lagi. Itu semua karena seseorang, seseorang yang sangat dicintainya menghilang. Putri Hye Sung.

 

| Luhan Pov |

Aku menatapnya, gadis di depanku ini sangat lucu saat terlihat takut seperti ini. Ia memejamkan matanya dan menggenggam tanganku erat. Sedetik kemudian, aku mengerutkan dahi saat melihat kalungnya bersinar, Ilusi? Tapi semakin lama, kalungnya makin bersinar. Aku tersenyum pada diriku sendiri, dugaanku benar, kalung itu masih berfungsi.

“bukalah matamu, aku tidak ingin kau melewatkan perubahanmu ini.” ujarku yang terus tersenyum sendiri, entah mengapa gadis ini selalu dapat membuatku tersenyum.

“aku berubah? Apa maksudmu?” Ia langsung membulatkan matanya, pikirannya campur aduk, bahkan aku pusing untuk membaca pikirannya, gadis rumit.

“Ada apa ini?” pikirnya yang melihat kalungnya bersinar terang, aku tersenyum dan mencoba bertelepati kepadanya.

“Lihat sa-“ aku berhenti saat melihat cahaya bergemerlapan terbang keluar dari dalam kalungnya, cahaya itu mengintari tubuh Hyeon.

“Apa ini Luhan?” ujarnya bingung, Ia menggenggam tanganku erat. Cahaya tersebut menyelimuti seluruh tubuh Hyeon, bahkan aku tidak dapat melihat wajahnya. Pikiriannya berkecambuk, umpatan demi umpatan sedang memenuhi pikirannya, aku hanya tersenyum dan bertahan untuk tetap membuka mata walaupun cahaya ini berhasil membuat mataku sakit.

“Eh emm mengapa punggungku terasa berat? Aneh.” Aku membaca pikirannya, dan sekali lagi dugaanku benar.

Kau akan terkejut.”  Ujarku dipikirannya. Sekarang pikirannya di landa kebingungan. Cahaya ditubuhnya meredup, menyisakan serbuk gemerlapan yang menempel di tubuhnya. Aku tercekat saat melihat sesuatu yang terdapat di punggung Hyeon, Sayap besar transparan dengan serat-serat saraf putih halus dan serbuk-serbuk gemerlapan menghiasinya, Sangat cantik.

“Apa yang cantik? Aku? Memang!” sungutnya, aku tersadar bahwa pujianku tadi kukirimkan padanya. Ia masih memejamkan matanya, Ia mengerutkan dahi karena aku tak membalas perkataannya, aku terkekeh pelan.

Pelan-pelan Ia membuka matanya, Ia sedikit menyerngit saat menatap ke lautan luas di bawah kami. Ia berpikir apa ini sudah berada di tempat lain.

“kita sudah sampai, kau sudah mendapat hadiah indah.” Ujarku yang melirik ke Sayap yang tumbuh sempurna di punggungnya. Ia menatapku bingung dan mengikuti arah pandanganku ke balik tubuhnya. Bodoh, Ia malah berbalik, hampir saja sayap besarnya itu mendepakku.

Ia berbalik kembali dan menatapku, menatap tangannya dan tanganku yang sekarang tidak bergandengan.

“huaa..” Ia berteriak saat tubuhnya hampir terjatuh, tetapi dengan cepat aku melingkarkan tanganku dipinggangnya dan menariknya. Kami berdua terlihat seperti berpelukan (?), okey ini gerakan spontan, bukan modus untuk memeluknya, aku bukan pria begitu.

Aku membaca pikiran Hyeon, Ia sangat terkejut dan gugup saat ini, tapi bukan itu yang menarik perhatianku, ternyata dia merasa nyaman dan aman jika seperti ini. aku tersenyum tipis dan menarik diri mundur dengan terus menggenggam tangannya erat.

“kau harus lebih berhati-hati, dalam terbang jangan menggunakan otak tapi perasaan.” Ujarku yang kembali membuatnya bingung, aku tertawa kecil dan membuatnya menaikan sebelah alisnya.

“Dasar bodoh.” ujarku di pikirannya, dia mengernyit sejenak dan memicingkan matanya. Aku tahu sekarang di kesal.

“Lihatlah berkat kalungmu itu, sekarang kau memiliki sayap layaknya peri.” Aku menunjukke sayapnya, Ia menoleh dengan cepat dan aku mendengar pikirannya berteriak tidak percaya. Jujur biarpun Ia berteriak di dalam pikirannya, aku dapat mendengarnya seperti Ia berteriak dengan mulutnya, ini cukup memekakan telinga.

“I-ini s-sayap sungguhan kan?” okey dia mulai gagap, lucu. “kau pikir mainan?” tanyaku balik, dia tersenyum dan menampakkan gigi rapinya tersebut, sungguh manis.

“cobalah sayapmu, ingat terbang jangan pakai otak tapi perasaan, kau harus pe-“ ucapanku terhenti saat dia mencoba untuk terbang naik, aku melepas tangannya dan membiarkannya terbang lebih tinggi lagi.

nah begitu..” aku kembali bertelepati. Ia menunduk dan menatapku sombong, “aku terlalu pintar untuk menjadi murid, ketahuilah itu Luhan.” Ujarnya sombong, aku berdecak dan membalikkan badan untuk membiarkannya mengikutiku di belakang.

“ahh Luhan tunggu dulu!” panggilnya, aku berbalik dan menahan tawa saat menyadari dia masih ditempatnya semula. Aku menghampirinya dan melipat tanganku di dada, jangan sombong di awal Hyeon.

“emm.. bagaimana caraku untuk mengepakkan sayap ini?” tanyanya, aku langsung memasang wajah dingin, Ia menatapku takut. Aku tertawa dalam hati, seseram apa wajahku saat ini? dengan geram aku mencubit hidungnya.

Auuu..” keluhnya yang langsung mengusap hidung manisnya yang memerah akibat cubitanku tadi. “Kau terlalu sombong untuk menjadi muridku, Ketahuilah itu Hyeon.” Ujarku yang membuatnya tertawa kecil.

“aku sudah bilang, jangan pakai otak, jangan terlalu banyak berpikir.” Gumamku layaknya guru, aku terbang ke sampingnya dan menggenggam sebelah tangannya dengan erat, okey sekarang jantung muridku sedang berdetak tak karuan, jujur begitu juga aku di setiap saat aku menyentuhmu Hyeon.

“coba kau maju, tidak usah memikirkannya, kau hanya perlu maju.” Gumamku pelan, “aku menggenggam tanganmu, kau tidak akan jatuh.” Saat mengatakan itu, aku mengeratkan genggaman tanganku. Sebenarnya aku sudah terlalu merasa nyaman untuk menggenggam tangannya yang hangat ini.

“HYEON-AH!!” teriak seseorang namja dengan suara khasnya, kami menoleh dan mendapati kembaran Hyeon-BaekHyun dan sahabatku, si pirang Alice. Aku memosisikan diriku di samping Hyeon, aku menahan tawa saat melihat raut wajah baekhyun yang kaget tak percaya saat melihat sayap indah Hyeon, mereka berdua benar-benar mirip.

“A-apa itu?” Baekhyun menunjuk sayap Hyeon, aku bergeser menatap Alice yang sedang memandang kosong ke… aku mengikuti pandangan Alice dan mendapati bahwa Alice sedang memandangi tangan ku dan Hyeon yang masih bertautan erat.

‘kenapa dia seperti itu? Aneh’ pikirku.

“aku punya sayap!” seru Hyeon. “Mwo?” Baekhyun masih menatap Hyeon tak percaya.

“kalung itu benar-benar berfungsi?” tanya Baekhyun dan di jawab dengan anggukan Hyeon, dengan cepat Hyeon melepas genggaman tanganku dan terbang ke samping Baekhyun.

“aku akan terbang bersamamu eoh. Emm.. luhan terima kasih atas pelatihannya.” Ujar Hyeon dan menarik Baekhyun terbang ke sembarang arah. Hyeon sedang menghindariku, Ia juga menyadari bahwa Alice memandang kami aneh, Ia agak merasa tidak enak.

Hyeon berbalik menatapku kembali, Ia menyegir lucu. Sedangkan Baekhyun hanya memutar bola matanya. “Oh ya, siapa yang mau menjadi petunjuk jalan?” ujar Hyeon polos.

 

|Author pov|

Luhan dan Alice memimpin jalan, di ikuti oleh Hyeon dan Baekhyun di belakang. Luhan melirik kebelakang dan melihat Hyeon mengobrol asyik bersama Baekhyun, entah mengapa rasanya Luhan ingin kembali berada di samping Hyeon dan menggenggam tangannya yang hangat, kali ini hawa dari tubuh Alice berbeda dari biasanya, Alice amat sangat dingin.

Luhan curi-curi pandang pada Alice, raut wajahnya datar nan dalam, ‘apakah aku melakukan kesalahan padanya?’ pikir Luhan.

*

Sebuah pulau terlihat di Kejauhan, pulau tersebut sangatlah terang bercahaya dengan berbagai bangunan yang terlihat seperti Istana yang di kelilingi benteng-benteng pertahanan, biarpun telah banyak bangunan, tapi pulau tersebut terlihat masih sangat alami dan asri.  Luhan melambatkan laju terbangnya, hingga akhirnya Hyeon dan Baekhyun berada di sampingnya, Alice tetap memimpin di depan.

“apakah itu tempatnya? Tempatmu?” tanya Hyeon padaku, aku menggembungkan pipi dan mengangguk membenarkan perkataannya.

“indah.” Gumam Baekhyun yang terkagum, begitu juga Hyeon yang tak kalah mengagumi pemandangan di depannya.

“serbuk cahaya bulan yang membuat pulau kami terlihat bercahaya.” Ujar Luhan.

 

Setelah lebih dekat, pulau tersebut sangatlah luas. Pantai membentang luas, pepohonan rimbun tumbuh subur di pulau tersebut, sebuah deretan bukit membagi dua pulau tersebut. Istana terlihat indah dengan bangunan kunonya yang megah dan di perindah dengan sungai jernih yang mengalir di tengah-tengah istana. Kota yang mengelilingi istana tersebut juga tak kalah indahnya, rumah-rumah kuno, jalanan, taman dan kebun-kebun terlihat sangat damai. Udara di sekitar pulau pun di penuhi dengan serbuk-serbuk cahaya yang berterbangan, Hyeon membulatkan mata saat melihat Aurora berwarna-warni Nampak di langit.

“Aurora? Disini?” gumam Hyeon tak percaya, “tidak ada yang tidak mungkin di pulau ini.” ujar Luhan yang ikut menatap keindahan Aurora yang menari-nari di langit.

“Neverland!” seru Baekhyun, “mwo?” sahut Hyeon. “ini sama seperti gambaran di mana peterpan tinggal, tapi aku yakin pulau ini lebih indah.” Jawab Baekhyun, Ia tersenyum sendiri dan menarik nafas panjang.

“kepada Dunia yang tidak akan pernah di temukan,             BAEKHYUN datang!!!!!!!” teriak konyol baekhyun, Hyeon dan Luhan tertawa bersamaan.

“giliranku.” Gumam Hyeon dan mulai mengatur nafas dan suara, bersiap untuk berteriak.

“A- Ouhukk.. uhukk..” Hyeon terbatuk seketika dan membuat kedua namja di sampingnya tertawa lepas. “Usaha yang bagus Noona.” Baekhyun tertawa sambil mengusap leher belakang Hyeon.

“ah.. lupakan.” Sungut Hyeon yang sedikit kesal karena Baekhyun dan Luhan masih cekikikan.

“emm… apakah kita akan mendarat?” Baekhyun menunjuk ke pantai yang telah berada di bawah mereka.

“belum, tujuan kita ada di balik bukit.” Luhan menjawab. “aku tidak sabar lagi, oh ya di mana Alice?” ujar Baekhyun yang celingukan mencari keberadaan Alice.

Luhan dan Hyeon saling berpandangan sejenak, “kupikir dia duluan.” Ujar Luhan yang agak sedikit ragu.

*

Penduduk kota terlihat beramai-ramai memenuhi jalanan, mereka menari-menyanyi dan anak-anak sibuk bermain kembang api. Sungguh bahagia.

“festival?” tanya Hyeon, Luhan mengagguk. “Festival bulan, festival ini dilaksanakan untuk merayakan kedatangan para peri dari Alam Fana.” Jelas Luhan

“berarti hanya 4 kali dalam 360 tahun?”

Luhan mengangguk membenarkan perkataan Hyeon.

“aku sangat beruntung dapat ke alam Fana.” Sambung Luhan dan di susul dengan senyuman manis Hyeon, lama mereka saling memandang dan tersenyum. Jantung mereka berdua berdegup kencang, mereka merasa waktu berhenti, tidak ada suara lain kecuali suara deru nafas dan degupan jantung mereka. Tiba-tiba Hyeon merasakan banyak kembang api meluncur dan meledak indah di sekitar mereka, ‘kenapa aku berilusi seperti ini?’ pikir Hyeon. ‘sepertinya kau tidak berilusi.’ Luhan bertelepati.

“Lihat! Mereka bersorak pada Kita! Kembang api yang hebat Sobat! Penyambutan yang keren!” teriak Baekhyun yang menyadarkan Luhan dan Hyeon.

Barulah suara siulan, sorakan dan tepuk tangan dapat terdengar oleh Hyeon, sebuah tangan hangat menggenggam tangan kirinya dengan erat, Luhan menggenggam erat tangan Hyeon.  sebuah sengatan listrik  menjalar dari tangannya hingga ke seluruh tubuh Hyeon, wajahnya pun terasa memanas.

“genggam erat Baekhyun, kita kebawah!” perintah Luhan, dengan kikuk Hyeon menuruti perintah Luhan. Tangan sebelah kanannya menggenggam erat Baekhyun.

“kau siap?” tanya Luhan. Hyeon mengangguk. “kita mau-“ Luhan menarik turun mereka dengan cepat dan membuat perkataan Baekhyun tergantung. “Jangan-cepat-cepat- Aku TAKUT!!” teriak Baekhyun.

Luhan membawa mereka terbang tepat di atas para penduduk. sorakan makin meramai, siulan berdenging tak karuan di telinga mereka. Anak-anak terdengar memanggil nama Luhan. Luhan memelankan kecepatan terbangnya dan menemui seorang gadis kecil di sepetak halaman rumah.

“cindy!” Luhan mendarat turun dan diikuti oleh Hyeon yang menggandeng Baekhyun.

“Oppa , festivalnya hebat!” gadis kecil imut itu sambil mengacungkan jempolnya pada Luhan. Luhan berjongkok dan tersenyum pada cindy.

“Oppa memiliki teman baru, mau ku kenalkan?” tanya Luhan ramah. selagi Luhan dan Cindy mengobrol, Hyeon dan Baekhyun memperhatikan sekitar dan tersenyum pada semua penduduk yang sedang memperhatikan mereka.

“Eomma, aku tidak pernah melihat sayap peri seindah itu” pekik seorang gadis yang terdengar oleh Hyeon. Hyeon tersenyum mendengarnya.

“Hyeon-Baekhyun kemarilah, aku akan perkenalkan kalian kepada cindy sepupu kecilku.” Panggil Luhan. Hyeon dan Baekhyun segera mendekat.

“hallo.” Sapa Baekhyun dengan riang.

“apakah dia seperti peri Yeol?” bisik Cindy pada Luhan. “sepertinya tidak, dia tidak akan pernah memaksamu bermain ulat seperti peri Yeol.” Jawab Luhan.

“baguslah.” Gumam Cindy yang mendekat pada Baekhyun.

“Cindy suka Oppa, oppa tampan!” ujar Cindy tanpa diduga oleh mereka bertiga, Luhan dan Hyeon merasa geli sedangkan Baekhyun berjongkok untuk menyetarakan tinggi Cindy.

“Oppa Baekhyun memang tampan.” Ujar Baekhyun yang terlihat agak menyombongkan diri, Hyeon merasa Ingin muntah, sedangkan Luhan hanya berdecak heran pada Baekhyun.

“mau kah oppa menjadi suami ku kelak?” ujar polos Cindy, “Mwo?!” Baekhyun terkejut dengan perkataan Cindy, begitu juga Luhan dan Hyeon, Hyeon menahan tawanya sedangkan Luhan ikut mendekat dan merangkul Cindy.

“kau masih kecil Cindy.” Luhan mengacak-ngacak lembut rambut hitam Cindy.

“kelak aku juga menjadi besar.” Balas Cindy, Luhan dan Baekhyun saling bertatapan. Baekhyun tersenyum dan mencubit pipi tembam Cindy, “maka dari itu cepatlah besar cindy.” Ujar Baekhyun yang membuat Cindy bahagia dan memeluknya.

“Upps.. fans kedua mu.” Baekhyun menatap Hyeon yang masih cekikikan.

“Luhan!” panggil seseorang, mereka semua menoleh dan melihat wanita paruh baya berdiri di ambang pintu rumah.

“Jo Ajhumma.” Gumam Luhan yang berdiri dan membungkuk memberi hormat dan di ikuti oleh Baekhyun dan Hyeon.

“siapa mereka?” tanya bibi Jo yang berjalan mendekat. “Ini Hyeon dan Baekhyun, mereka dari alam Fana.” Jelas Luhan.

“Nuna Mirip Oppa Baekhyun, kalian kembar?” Hyeon baru menyadari bahwa Cindy telah berada di sampingnya.

“Ya, kami kembar.” Jawab Hyeon dan membelai lembut kepala Cindy.

Luhan menjelaskan secara singkat tentang Hyeon dan Baekhyun pada bibi Jo, sedangkan Baekhyun-cindy dan Hyeon asik menonton kembang api.
*

 

Di Balik bukit hanya terlihat sebuah hutan luas yang di kelilingi bukit-bukit, bukit yang mengelilinginya tersebut seperti terkesan melindungi tempat di tengahnya.

|Hyeon Pov|

Aku, Baekhyun berjalan di belakang Luhan, hutan ini gelap dan sunyi, bahkan suara-suara serangga pun tak ada. Masalah begini aku tidak begitu takut, aku hanya merasa aneh, hutan seluas ini seperti tidak memiliki kehidupan. –tidak ada yang tidak mungkin di pulau ini– perkataan Luhan terputar dipikiranku, hutan yang tidak memiliki kehidupan-itu mungkin.

“berapa lama kita harus berjalan?” Baekhyun memecahkan kesunyian, Aku menatapnya-Ia terlihat sedikit kelelahan dan begitu juga aku.

“emm.. sebentar lagi sampai.” Jawab Luhan.

Semak bergemerisik, sontak kami bertiga menjadi lebih waspada. Mata kami menjelajahi hutan, mencari tahu apakah ada bahaya. Bahaya? Ya kupikir setiap hutan memiliki bahaya yang besar, apalagi hutan ini-itu sangat mungkin.

“Ayo, kita sebentar lagi sampai.” Ujar Luhan pelan dan kembali berjalan memimpin kami berdua.

*

Tumbuhan aneh menjalar dan membentuk sebuah Tirai, tumbuhan itu memiliki bunga berwarna putih indah, aku mengintip dari sebuah celah kecil untuk mengetahui ada apa di balik tirai itu. –dan aku hanya mendapatkan cahaya terang.

“ini tempatnya?” tanyaku pada Luhan, Ia berjalan ke sampingku dan menarik ke samping Tirai tersebut. Satu hal yang dapat kuucapkan dari yang kulihat adalah- tempat yang sangat bercahaya.

Luhan kembali memimpin jalan, aku dan baekhyun tercengan saat melihat banyak peri lain yang keluar dari bower mereka, mereka sungguh cantik-cantik dan tampan-tampan, sayap-sayap mereka sangat indah dengan perbedaan warna di setiap orangnya, warna rambut mereka pun tak kalah bervariasinya.

Pohon-pohon yang menjulang tinggi seperti membuat tudung dan menyembunyikan tempat indah ini. serbuk cahaya di tempat ini lebih banyak dari pada di kota-bahkan tanah pun tertutupi oleh serbuk tersebut.

Bower-bower mereka terbuat dari potongan-potongan kayu yang disusun sedemikian rupa dan membentuk setengah lingkaran, dengan sebuah pintu dan beberapa jendela, cukup sederhana.

“ini yang sedari tadi ingin kulihat.” Gumam Baekhyun yang terlihat tercengang, Ia melihat sekitar dan menjatuhkan pandangan kepada gadis-gadis peri yang terlihat terpesona padanya, Baekhyun melempar senyum manisnya dan membuat gadis-gadis tersebut luluh. Aku yang melihatnya pun agak sedikit merasa geli.

“oh ayolah, fans mu semakin banyak.” Bisikku, Baekhyun hanya mengangkat bahu.

“Luhan, kau mengkhawatirkan kami- mengapa kau lama sekali.” Ujar seseorang dengan suara yang sangat dalam dan berat. Aku menoleh dan melihat seorang pria tua dengan tinggi sepantar Luhan, rambut, jenggot, dan kumis telah putih dan sangat lebat. Saat aku melihat sayapnya, dalam sekejap aku terpana, sayapnya sangat indah bahkan lebih indah dari pada milikku, sayapnya besar dan berwarna-warni.

“dia terlihat seperti Dumbledore dari pada peri.” Bisik Baekhyun padaku, aku mengerutkan dahi padanya.

“tetua.. mianhaeyo.” Aku terdiam saat Luhan memanggil pria itu dengan panggilan ‘Tetua’. Pantas saja jika Ia memiliki sayap yang indah, dia adalah pemimpin kelompok.

“Gwenchanayo.” Tetua menepuk bahu Luhan pelan, dari matanya menatap Luhan, Ia terlihat sangat menyayanginya.

“dan apakah kau mau memperkenalkan siapa mereka? Gadis itu memiliki kalung ratu lyle?” ujar Tetua yang melirikku dan Baekhyun. “dan sayap yang indah.” Sambung Tetua.

“lebih baik kita mengobrol di Bowerku Tetua, kupikir aku harus menemui Eomma yang mungkin sekarang khawatir padaku.” Ujar Luhan.

*

“Senang kalian datang demi membantu salah satu dari kami.” Ujar Tetua padaku,

Kami telah berkumpul di bower milik keluarga Luhan, bower ini terlihat kecil dari luar tapi saat masuk ternyata sungguh luas, bahkan bower ini memiliki dua kamar, satu dapur, kamar mandi, dan ruang keluarga.

Kami telah banyak mengobrol dan berbincang, aku dan baekhyun sungguh di sambut hangat oleh Tetua peri dan Nyonya EunHi-Ibu Luhan-. Nyonya EunHi sangatlah cantik dan ramah, wajahnya tampak masih muda dan dia juga sangat pintar, setara dengan pekerjaannya dulu yaitu sebagai penasehat ratu Lyle ke-4.

“em kapankah ikatan ini akan berakhir?” tanyaku pada tetua.

“Roh Bulan lah yang akan mentukannya.” Jawab Tetua singkat dengan tatapan bijaksananya.

“apakah ada tanda-tanda jika ikatan ini akan berakhir?” tanyaku lagi, Tetua mengulas senyum hangat padaku.

“Peri yang terikat akan memiliki kekuatan yang tidak terduga, kekuatan itu akan pelan-pelan menghilang saat ikatan itu akan berakhir.” Jawabnya, aku langsung menoleh pada Luhan yang sekarang sedang menatapku, raut wajahnya tidak terbaca-tatapan matanya sangatlah dalam padaku, perasaan itu datang kembali, perasaan yang berkecambuk di dalam hatiku.

Luhan dapat membaca pikiran ku saat kami telah terikat, jika Ia tak dapat lagi membaca pikiranku berarti semua ikatan ini akan berakhir.

aku masih dapat membaca pikiranmu” aku mendengar suara Luhan di kepalaku. Aku menjulurkan lidahku padanya dan Ia tersenyum lebar hingga menampakkan deretan gigi putihnya, sangat manis.

“Apakah Luhan sudah mendapatkan kekuatannya?” tanya Nyonya EunHi, Aku dan Luhan mengangguk bersamaan.

“apa itu?” tanya Tetua.  “aku dapat membaca pikirannya.” Luhan menunjukku.

Tetua dan Nyonya EunHi mengernyit seketika. “itu bukan kekuatan, itu memang di dapat kepada setiap peri yang terikat, kekuatan yang dimaksud adalah kekuatan yang sangat hebat untuk satu tujuan yaitu melindungi manusia yang terikat.” Ujar Nyonya EunHi yang membuat aku dan Luhan bertatapan bingung.

“ permisi, aku membawa Bakpao!” seru seseorang, kami menoleh dan melihat Xiumin berjalan ke arah kami, Luhan telah memperkenalkan pria ini padaku tadi-dia adalah sepupu Alice.

“tepat sekali- aku sungguh kelaparan.” Ujar Luhan yang langsung menyambar satu Bakpao dari piring yang barusan di letakan Xiumin di atas meja.

“makanlah nak.” Tetua menawarkanku.

Brakkk…

Pintu kamar mandi terbanting terbuka, seorang pria jangkung berjalan keluar. Wajahnya manis dengan sengiran lebar dan mata yang tertarik ke atas, rambutnya yang lebat berwarna hitam kemerah-merahan dan sayapnya yang berwarna merah api itu tidak dapat membuatnya garang, dia tetap terlihat manis dan lucu.

“sejak kapan kau di sana yeol!” seru Luhan yang terlihat sedikit kesal.

“ini jam berapa?” tanya pria jangkung bernama yeol tersebut dengan konyolnya.

“Jangan bilang kau tidur di kamar mandi lagi.” Sekarang Luhan terlihat serius, Nyonya EunHi dan Tetua hanya senyum-senyum seperti menahan tawa. Okey tidur dikamar mandi itu memang konyol.

“sepertinya begitu.” Jawab polos yeol, dan sekarang aku ikut menahan tawa juga.

“oh Eomma, kau membiarkannya saja.” Sekarang Luhan terlihat kesal pada Nyonya EunHi.

“emm.. Hyeon, perkenalkan ini Chanyeol atau kau bisa memanggilnya Yeol, cucu Tetua.” Kalimat terakhir Nyonya Kim berhasil membuatku tersedak air ludah ku sendiri.

“mwo?!” kata-kata itu meluncur cepat tanpa bisa di rem, aku membungkam mulutku dan melirik mereka semua.

“lihat, gadis itupun tak percaya bahwa kau cucuku. Apakah kau benar-benar cucuku?” Tetua tertawa lepas, Nyonya EunHi dan Luhan pun ikut tertawa. Sedangkan aku dan Chanyeol hanya mengernyit.

“oh ayolah kakek, kau mulai lagi.” Gumam Chanyeol dan berjalan masuk ke dalam kamar.

Kyaaaaa!!!!.” Kami mengernyit dan menatap heran saat Chanyeol berteriak parau dan terloncat keluar kamar.

“siapa itu?” Chanyeol menunjuk sesuatu di kamar, aku sekilas melihat Luhan yang memutar matanya, Xiumin yang mengerutkan dahi, Nyonya EunHi dan Tetua terkekeh pelan.

“dia kembaran Hyeon, namanya Baekhyun. Dia kelelahan, aku membiarkannya untuk beristirahat terlebih dahulu.” Ujar Nyonya EunHi.

Chanyeol menatapku dan kedalam Kamar secara bergantian, Ia terlihat bingung. Ya tuhan dia itu terlihat sangat konyol berbeda dengan kakeknya yang sangat hangat dan bijaksana.

Xiumin berjalan dengan langkah berat untuk menghampiri Chanyeol, “Kajja.” Ujar Xiumin yang menarik kasar Chanyeol keluar rumah.

“goodbye!” seru Chanyeol dengan ramah padaku, aku tersenyum padanya, sepertinya dia sangat sempurna untuk dijadikan teman.

Jangan Heran jika tadi Chanyeol juga berbahasa Inggris, tenyata di sini mereka juga dapat berbahasa inggris atau mereka menyebutnya bahasa Asing. Tetua bilang mereka telah banyak di ajarkan oleh manusia fana yang pernah datang ke tempat ini.

“bukankah dia sangat lucu?” tanya Tetua dengan senyum lebarnya.

*

|Author Pov|

Hyeon duduk manis di sebuah bangku taman yang terdapat di halaman bower Luhan, mengayunkan kakinya dan menatap pemandangan asing di depan matanya, pemandangan yang tidak akan pernah di temukan di dunianya. Dunianya? Alam Fana? Apakah dia akan bisa kembali pulang? Biarpun disini indah tetap saja Hyeon memiliki ikatan dengan dunianya, Ia merindukan Ibu dan Ayahnya, rumahnya, sekolahnya, teman-temannya, dan apapun yang ada di alam Fana.

“hei.” Luhan menepuk bahu Hyeon dan berhasil membangunkan Hyeon dari lamunannya.

“tempat ini benar-benar indah.” Gumam Hyeon yang masih memandang lurus kedepan, Luhan duduk di sebelah Hyeon dan juga ikut memandang lurus kedepan.

“tapi tidak seindah tempat tinggalmu.” Ujar Luhan, Hyeon menoleh – menatap wajah tampan Luhan dari samping. Hyeon tahu pasti Luhan telah membaca pikirannya tadi.

“mau ikut?” toleh Luhan, Hyeon yang tertangkap basah sedang memandangi Luhan menjadi gelagapan.

“K-kemana?” tanya Hyeon yang sedikit gagap, Jantungnya berdetak makin cepat saat Luhan mengembangkan senyum manisnya.

“Kita Lihat nanti.” Luhan menautkan jemarinya pada jemari Hyeon, mengajaknya berdiri dan menariknya terbang.

Genggaman tangan Luhan makin erat, Aneh sebenarnya. Bukankah Hyeon sudah memiliki sayap, Ia tak perlu di tuntun lagi-tidak perlu digandeng lagi, Ia dapat terbang sendiri dan mengkutinya. Genggaman tangannya kali ini bahkan lebih hangat dan memiliki makna (?) tapi itu hanya ada pikiran Hyeon.

*

Luhan membawa Hyeon duduk di sebuah batang pohon yang menjulang tinggi, tepat pemandangan di hadapan mereka adalah daratan luas serta bulan yang bulat sempurna. Hyeon memandangi bulan itu, ‘itu adalah pintu untuk kembali ke Alam Fana, bagaimana jika malam ini aku melarikan diri dan kembali, itu sangat mudah bukan?. Tapi bagaimana dengan Baekhyun? aku dapat mengajaknya, dan Luhan.’ Hyeon menghela nafas, ‘Aku tidak bisa melakukan rencana jahat itu, memberikan harapan palsu kepada mereka dan membahayakan nyawa Luhan, aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja- aku tidak bisa sampai ikatan ini berakhir.’ Pikir Hyeon.

Hyeon mengerutkan dahi dan memfokuskan pandangan kepada bulan tersebut, bulan itu terlihat sedikit aneh. Tersadar bahwa bulan malam ini memancarkan sinar kemerah-merahan, ‘apa itu?’ tanya Hyeon dalam Hati.

“maaf.” Gumam Luhan, Hyeon menoleh dan mengeluarkan gumaman yang tak jelas.

Hyeon agak merasa aneh- raut wajah Luhan saat ini sangat dalam, semburat penyesalan terpampang jelas di wajahnya.

“untuk apa?” tanya Hyeon.

“untuk semuanya.” Luhan menghela nafas dan menunduk Lesu. “he-ah?” gumam bingung Hyeon.

“aku tahu kau tidak merasa nyaman-senang dan semacamnya disini, disini memang indah tapi tak dapat dipungkiri bahwa kau lebih merasa senang berada di duniamu.” Luhan mendongak dan menatap Hyeong lekat-lekat.

“karena aku, kau rela meninggalkan apapun yang kau cintai disana hanya untuk menolongku, sekali lagi maaf dan terima kasih.” Lirih Luhan.

Perkataan Luhan membuat hati Hyeon bergetar kali ini, semua perkataannya sangat lah tulus dan di penuhi penyesalan, Hyeon menahan air matanya- entah mengapa Ia merasa ingin menangis, Ia sungguh terharu. Benar-benar terharu dan merasa sedih atas penyesalan yang dirasakan Luhan.

Tidak seperti ini, benar-benar salah jika Hyeon merasa menyesal telah datang kesini, merasa bersalah jika Ia terus di rundung rindu kepada dunianya. Ini lah pilihannya, Hyeon telah memilih untuk menolong Luhan, harusnya Hyeon tidak merasa menyesal atau merasa salah atas pilihan yang sekarang Ia yakini pilihan yang baik dan tepat.

“T-tidak seperti itu, Aku senang disini- Aku sungguh senang.” Hyeon meyakini Luhan. Mereka saling bertatapan, Luhan memandang sendu Hyeon saat mengetahui kebenarannya dari pikiran Hyeon.

“kau tidak sesenang itu, jangan berbohong padaku- aku tahu semuanya.” Ujar Luhan yang terdengar tegas.

Hyeon menelan ludahnya dan menatap Luhan Sendu, Ia seharusnya tidak berbohong kepada Luhan, Ia tahu semuanya yang ada di pikiran Hyeon, berbohong padanya sama saja menyakitinya.

“Luhan, buatlah aku senang.” Gumam Hyeon, Luhan mengerutkan dahi. “maka dari itu, buatlah aku merasa senang disini, bukankah itu tugasmu untuk membahagiakan aku?” Sambung Hyeon dengan mantap.

Luhan terdiam dan menatap Hyeon tak percaya atas perkataannya. Perkataan Hyeon sangatlah benar, Ia seharusnya melakukan tugasnya, bukan malah merasa bersalah seperti ini, toh kan ini sudah menjadi keputusan mereka bersama.

‘berarti tugas pertamaku padanya adalah membuatnya merasa senang disini.’ Pikir Luhan.

Luhan tersenyum begitu juga Hyeon, mereka saling berdiam dan menatap. hingga Luhan menyadari bahwa ada sesuatu di mata sebelah kiri Hyeon, sesuatu yang indah dan mustahil ada.

Luhan tidak mempercayai bahwa Bulan ada dimata indahnya. ‘mata rembulan.’ Pikir Luhan

 

To Be Continued


Mian nih mungkin banyak Typo dan cast Sehun-nya juga gak muncul-muncul. >.> tunggu lanjutannya ya. 😀

Laras mau ngucapin Selamat Hari raya Idul Fitri bagi Readers yang merayakannya, Maafin semua kesalahan yang Laras buat yah^^.

Khamsahamnida.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7 pemikiran pada “Neverland (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s