There is No Rainbow Without Rain (Chapter 4)

KaiHyo Story

“There Is No Rainbow without Rain”

[Chapter 4]

rainbow hyo 4

 

Author             : Inhi_Park a.k.a. RahmaRiess (@Inhi_Park)

Main Cast        : Kim Hyora & Kim Jongin a.k.a. Kai

Support Cast   : Eomma Kai, Yoon Jia, Lee Chunji

Genre              : Romance, sad, drama, angst

Length             : Multichapter

Rating             : PG-15

Disclaimer       : I do own nothing but the story and OC.

Summary         :

Just like the diamond that needs to be shaped before it becomes wonderful,

Likewise our love,

That storm will only make our love more beautiful.

Because I believe, that there is no rainbow without rain.

~***~

(Kai’s side)

Aku melihatnya disana. Di tepi tebing menara Namsan.

Tangannya menggenggam dua buah gembok yang dulu, dulu sekali, sempat kami pasangkan di pagar menara ini dengan sebuah harapan agar kami bisa saling mencintai selamanya tertulis di gembok itu (read: Our Past Future Life).

Ia menoleh kearahku yang berdiri beberapa langkah di belakangnya lalu tersenyum.

Entah hanya perasaanku atau wajahnya memang terlihat sangat pucat.

Tak lama setelah ia kembali menghadap tebing, tangannya terulur. Ia akan menjatuhkan kedua gembok itu.

Aku berlari menghampirinya untuk mencegahnya.

Tapi terlambat.

Aku berdiri di samping Hyo, melihat gembok itu meluncur bebas ke bawah dan entah mendarat dimana.

Saat aku akan menegur Hyo, aku kehilangan sosoknya. Ia tak lagi berdiri disampingku.

Kulihat sekeliling, tapi aku tetap tak menemukannya.

Seketika itu aku tersadar. Aku berada di dalam kamarku yang masih dalam keadaan gelap gulita. Setelah kunyalakan lampu, kulihat jam menunjukkan pukul 8 malam.

Sepertinya aku langsung tertidur sesaat setelah pulang dari kampus tadi. Buktinya, aku masih mengenakan pakaian yang sama saat aku berangkat ke kampus tadi pagi, lengkap dengan sepatu dan segala macam aksesoris seperti jam dan gelang yang juga masih terpasang lengkap.

Mungkin aku terlalu lelah seharian ini hingga setibanya di rumah aku langsung pergi ke kamar dan tertidur sangat pulas, dan lalu bermimpi.

Tiba-tiba perasaanku terasa lain.

Hyo…

Kenapa mimpiku tentang Hyo barusan terasa begitu nyata?

Mungkin karena aku terlalu merindukannya.

Atau mungkin karena pertemuanku dengan Chunji siang tadi.

Ya. Saat pulang kuliah tadi, aku bertemu kawan lama yang sudah hampir empat tahun tidak ku temui itu. Kami sempat menghabiskan waktu cukup lama mengobrol santai di tempat parkir, tempat aku dan dia memarkirkan motor kami, meski aku juga sedikit heran kenapa dia menyimpan motornya di sekitar sini.

Dari obrolan kami itulah akhirnya aku tahu bahwa dia juga sudah bertemu dengan Hyo. Namun, belajar dari pengalaman sebelumnya, aku dengan susah payah menahan emosi agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Dan aku sendiri yakin, meski mereka telah bertemu, tidak ada apapun yang terjadi diantara mereka.

Aku segera bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi. Semoga setelah sedikit menyegarkan tubuh, perasaan, yang entah aku juga tidak tahu apa namanya, ini segera menghilang.

15 menit kemudian.

Badanku memang terasa lebih segar, tapi tidak dengan hatiku.

Entahlah, seperti ada yang mengganjal disini. Di hati ini.

Maka dari itulah aku berada di tempat ini sekarang. Di teras rumah Hyo. Berdiri tegak meski setengah ragu apa gadis itu masih bangun atau sudah tidur.

Aku sedikit menjauh dari depan pintu sesaat setelah ku ketuk pelan pintu itu. Tak lama setelah itu pintu terbuka dan menampakkan Hyo berdiri disana.

(Hyora’s side)

“Neo…?”

Tubuh tinggi tegap itu berputar, dan nampaklah sosok namja barusaja mengetuk pelan pintu rumahku. Kai.

Meski ini bukan kali pertama ia datang secara tiba-tiba, tapi aku tetap saja merasa kaget. Terlebih melihat air mukanya yang nampak tidak seperti biasanya.

Aku dan Kai duduk di teras depan rumahku. Ia menolak saat kutawarkan masuk, jadi terpaksa kami berakhir duduk di lantai yang sebenarnya cukup dingin karena udara malam di musim semi yang kurang bersahabat.

“Aku bertemu Chunji tadi siang.” Katanya.

God…

Apa tujuan Kai datang menemuiku tiba-tiba seperti ini adalah untuk…

“Dia juga cerita kalau kalian…”

“Kami memang sudah bertemu beberapa hari yang lalu.” Kataku cepat. “Maaf aku tidak memberitahumu terlebih dahulu. Aku takut kau akan…”

“Marah?”

“Eung” Kataku tertunduk.

“Maaf kalau dari dulu aku terlalu mengekangmu.”

Aku terbelalak mendengar kata-katanya. “Kau ini bicara apa?”

“Aku terlalu mencintaimu sampai-sampai aku tidak mau ada orang lain yang mendekatimu. Aku terlalu mencintaimu sampai aku takut kehilanganmu. Aku terlalu mencintaimu sampai aku selalu takut jika ada orang yang merebutmu  dariku. Aku terlalu mencintaimu sampai aku takut tidak bisa hidup jika tanpamu.”

Aku dibuat takjub oleh penuturannya barusan. Namun ini terasa aneh, sesuatu terasa menusuk hatiku, terasa sakit,  setiap kali Kai mengucapkan kata-kata seperti itu.

Mungkin karena aku sadar betul kalau situasi kami tidak lagi seperti dulu. Kami akan butuh berjuang dengan sangat keras untuk menjaga hubungan ini. Dan tak tahu bisikan dari mana, aku yakin kalau ini tidak akan mudah.

Tiba-tiba kurasakan mataku memanas. Dan entah dorongan dari mana, aku segera menghambur mendekap tubuh tegap di hadapanku ini seerat yang aku bisa.

“Hyo…” Aku bisa merasakan ia sedikit tersentak menerima reaksiku yang tiba-tiba memeluknya seperti ini. “Ada apa? Tidak biasanya kau bersikap seperti ini.”

Aku hanya terdiam tanpa sedikitpun melonggarkan pelukanku.

“Hey…” Tegurnya. Tapi aku tetap diam.

Semakin lama aku bisa merasakan tubuhku seperti di dekap dengan erat. Ya, Kai membalas pelukanku sama eratnya. Ia juga tak lupa mengelus-elus kepalaku. Dan rasa itu, rasa sakit yang entah dari mana asalnya itu kembali ku rasakan.

Kai, harusnya aku yang berkata seperti itu. Aku yang sangat takut akan kehilanganmu. Aku yang tidak ingin kau tinggalkan.  Aku yang tidak akan bisa jika tanpamu…

<><><>

(Jia’s side)

Sedikit tertegun, aku berdiri mematung di depan gerbang salah satu universitas ternama di Seoul.

Seoul Art University

Begitulah tulisan yang terpajang di dekat gerbang masuk yang cukup megah ini.

Tujuanku datang ketempat ini adalah untuk bertemu seseorang. Menurut ahjumma, orang itu pasti sedang ada di kampusnya hari ini, itu sebabnya aku datang kesini.

Berbekal penuturan singkat dari ahjumma, aku berjalan setenang mungkin, mengamati setiap gedung yang kulewati dan berharap aku tidak akan tersesat nanti.

“Aku yakin kalau tempatnya yang ini.” Gumamku pada diriku sendiri. Ku arahkan pandangaku ke berbagai sudut setelah yakin kalau ini tempat yang kutuju. “Ah benar, itu dia…”

Setengah berlari, aku menghampiri sekelompok orang yang tengah berjalan menuju suatu tempat. Dan setelah jarak kami cukup dekat, aku segera memanggilnya sebelum ia memasuki ruangan dengan tulisan ‘Ketua Jurusan Design dan Grafis’ (?) diatas pintunya.

“Eonni…” Panggilku sambil mendaratkan lenganku di bahu kanannya.

Hyora eonni. Ia menoleh kearahku dengan raut wajah kaget yang sangat jelas terlihat.

“Eoh? Jia-ssi…” Ia nampak kaget melihat keberadaanku disini. “Kau, sedang apa disini?”

Beberapa orang yang tadi berjalan bersamanya nampak sedang mengamatiku. “Tidak, aku hanya ingin mengobrol saja denganmu.”

“Hyora, kalau begitu kami pergi duluan ya?” Satu dari mereka, yang ku yakin pasti teman-teman Hyora eonni, meminta izin untuk pergi duluan.

“Nde, kalian pergi duluan saja. Nanti aku menyusul.”

Setelah membiarkan teman-temannya pergi lebih dulu, ia mengajakku ke cafeteria yang letaknya tidak terlalu jauh dari gedung kuliahnya.

“Kau sedang sibuk ya?” Tanyaku.

Hyora eonni memesankan strawberry smoothies yang katanya paling enak di seantero kampus ini, sementara ia hanya memesan barley tea untuknya.

“Ah, tidak juga…” Jawabnya sambil tersenyum.

Aku seorang anak tunggal di keluargaku. Appa dan Eomma, keduanya sangat sibuk bekerja hingga aku seringkali merasa kesepian. Maka dari itu, aku sangat senang saat mengenal Hyora eonni, rasanya seperti memiliki seorang kakak.

“Eon…” Panggilku.

“Emh…” Ia menggumam pelan.

“Sudah berapa lama kau mengenal Jongin oppa?”

Bisa kutangkap ekspresi wajahnya yang sedikit menegang. Mungkin dia kaget karena yang ku bicarakan adalah Jongin oppa. Namun tidak lama karena ia segera tersenyum sebelum menjawab pertanyaanku.

“Sebenarnya… Sudah cukup lama. Sekitar… 7 atau 8 tahun.” Katanya. “Kalau aku boleh tahu, memangnya ada apa kau menanyakan hal itu padaku?” tanyanya kemudian.

“Aku ingin minta tolong padamu, eon.” Meski sedikit ragu, akhirnya ku utarakan juga niatku.

“Minta tolong? Minta tolong untuk apa?”

Aku sedikit mengulum senyum sebelum menjawab pertanyaannya. “Emh… Aku menyukainya, eon. Bisakah kau membantuku untuk mendekatinya?” Jujurku. “Ku mohon, eonni. Yah… mau yah…?” Pintaku sambil memasang puppy-eyes andalanku.

<><><>

(Hyora’s side)

Aku terduduk sendiri di sebuah bangku kayu di tengah taman di salah satu sudut kota yang tidak terlalu ramai. Tak ada yang kulakukan. Aku hanya duduk diam, memandangi riak air kolam di hadapanku dengan pandangan kosong.

“YA! Kim Hyora…”

Sebuah tepukan yang cukup mengagetkan mendarat di pundak kiriku bersamaan dengan sebuah sapaan dari suara yang cukup familiar di telingaku.

Refleks ku palingkan pandanganku kearah suara itu berasal. “Eoh, neo?” Tanyaku saat mendapati sosok Chunji berdiri di sampingku.

Tak menunggu lama, ia segera mengambil tempat duduk di sebelahku.

“Kau melamun?” Tanyanya. “Aku mencoba memanggilmu dari tadi sampai-sampai tenggorokanku sakit karena kau tak sedikitpun mendengar teriakanku.”

Aku sedikit terkejut. Apa benar sebegitu menghilangnya kah aku dari dunia nyata beberapa saat tadi?

“Mian.” Kataku lemah. “Ada apa?”

Ia sedikit mendelik. “Tck… kau yang ada apa?” Jawabnya balik bertanya.

“Maksudmu?”

“Coba lihat dirimu, ini bukan Hyo yang aku kenal.” Katanya. “Saat ini kau terlihat seperti mayat hidup kau tahu.” Perkataannya menohok perasaanku.

Tak ada jawaban. Aku hanya terdiam sambil kembali memfokuskan perhatianku pada permukaan air yang dijatuhi selembar daun yang berwarna kekuningan sehingga membentuk riak kecil yang kemudian semakin besar lalu memudar .

“Ada masalah?” Tanyanya lagi.

Lagi, tak ada sepatah katapun yang dapat di proses olehku untuk menjawab pertanyaannya. Aku tertunduk. Hanya tertunduk sambil berusaha menahan air mata yang rasanya sudah hampir menjebol pertahananku.

Perlahan aku menggelengkan kepala.

“Kau tak pandai berbohong, Hyo.” Sanggahnya. “Kalau kau mau, aku bersedia mendengarkan semua masalahmu.”

Baiklah, sepertinya aku harus menyerah.

Pertahananku hancur saat air mataku mulai meleleh. Aku menangis. Dan rasanya hatiku semakin terasa sakit.

“Menangislah.” Tangannya terulur dan lalu menarik kepalaku agar bersandar di bahunya yang kokoh. “Menangislah kalau itu bisa membuatmu merasa lebih baik.”

Aku selalu merasa kalau aku adalah seorang wanita yang kuat. Wanita yang tidak akan dengan mudah menyerah pada apapun.

Tapi sekarang aku tahu kalau aku hanya wanita biasa.

Dan akhirnya, ketidaksanggupanku memendam semuanya sendiri membuatku memutuskan untuk menceritakan semua yang barusaja terjadi pada pria di sampingku ini.

Flashback

Hari ini, pagi-pagi sekali sebuah panggilan masuk di handphoneku. Telpon dari eommonim. Eommanya Kai.

Aku sibuk menerka-nerka ada masalah apa sampai tidak ada angin tidak ada hujan eommonim menelponku.

Setelah sedikit berbasa-basi, beliau mengajakku untuk bertemu di suatu tempat. Hanya sedang ingin mengobrol denganku, katanya. Meski aku tidak yakin dengan alasannya mengajakku bertemu. Pasti ada sesuatu.

Maka disinilah aku. Sebuah restaurant Jepang yang terselip diantara puluhan bangunan di sepanjang jalan di daerah Apgujeong ini menjadi tempat yang beliau pilih sebagai tempat untuk kami bertemu.

“Hyo…”

Suara lembut seorang wanita, yang aku yakin itu eommonim, terdengar tak jauh dari tempat dudukku.

Aku berdiri dan sedikit membungkuk memberi hormat saat jarak kami semakin dekat. “Eommonim. Apa kabar?” Sapaku.

Kami berbincang-bincang ringan sambil menunggu pesanan kami, yang keseluruhannya aku yang memilih, datang.

“Bagaimana kuliahmu sekarang? Kai bilang kalau sekarang kau sudah hampir menyelesaikan skripsimu.”

Eommonim kembali menanyakan hal-hal sepele mengenai diriku. Sementara aku rasanya sudah hampir meledak di tengah suasana seperti ini. Bagaimana tidak, sudah hampir 30 menit kami disini, tapi beliau masih belum menyampaikan maksud utama mengajakku bertemu.

Aku benar-benar penasaran dengan tujuannya yang sebenarnya.

“Nde, eommonim. Hanya tinggal menunggu persetujuan dosen pembimbing, aku sudah bisa mengajukan ujian untuk skripsiku itu.” Jelasku.

Eommonim nampaknya sudah selesai dengan makanannya. Ia meletakkan sumpit di sisi kanan piringnya yang sudah kosong. “Hyo?” Beliau kembali bersuara. Dan kali ini dengan air muka yang, entahlah, kurasa lebih serius.

“Nde eommonim…” Jawabku.

“Kau tahu kan kalau aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri.” Tuturnya. “Aku sangat menyayangimu, Hyo.”

Aku tersenyum padanya. “Nde eommonim, aku tahu itu. Terimakasih karena selama ini kau sudah sangat baik padaku dan Rin.”

“Dan aku sungguh senang karena selama ini kau sudah menjaga Kai dengan sangat baik. Aku tidak tahu akan seperti apa jadinya anak itu jika tanpa kau.”

Oh, baiklah, saatnya berbicara lebih serius.

Sesungguhnya, aku datang kemari dengan setumpuk kemungkinan-kemungkin yang tersimpan di kepalaku. Kemungkinan yang bisa jadi adalah alasan utama eommonin ingin bertemu denganku. Dan sepertinya salah satu dari kemungkinan yang aku perkirakan itu benar.

“Tapi…” Ia nampak menghela nafas pelan sebelum akhirnya melanjutkan kata-katanya. “Ini sangat berat untukku. Appanya Kai…”

Dan benar saja, ini masalah Kai. Tepatnya perjodohan Kai yang telah di tetapkan oleh appanya.

“Tanpa sepengetahuanku, dia telah memilihkan gadis yang akan mendampingi Kai di masa depan.”

Hatiku memanas saat kalimat itu meluncur dari mulutnya. Dengan susah payah aku menyembunyikan segala emosi dalam hati yang mungkin bisa tercermin di wajahku dengan menundukkan kepala sedalam-dalamnya.

“Sungguh ini bukan yang ku inginkan, Hyo.” Katanya lirih. “Seandainya aku bisa, aku sangat ingin kau yang menjaga Kai. Sampai nanti. Sampai aku sudah tidak bisa lagi menjaganya. Sampai kapanpun.” Katanya. “Tapi…”

Cukup. Aku benar-benar sudah sangat paham kemana arah pembicaraan kami ini. Maka dari itu, sebelum eommonim sempat melanjutkan penuturannya, aku segera menimpali. “Nde… Aku mengerti eommonim.”

End of flashback

<><><>

Dengan kasar ku daratkan punggungku ke daun pintu kamarku yang baru saja ku tutup. Kakiku rasanya sudah tak sanggup menjadi tumpuan berat badanku hingga kini aku menggelosor di lantai.

Ku pikir aku akan baik-baik saja setelah bercerita dan menumpahkan segala keresahan hatiku pada Chunji beberapa saat yang lalu. Tapi ternyata tidak. Kesendirian kembali membuatku teringat akan permasalahan yang sedang ku hadapi. Dan tanpa terasa cairan bening itu kembali menetes.

Masih di tengah isakanku yang tak kunjung berhenti, ku arahkan tanganku ke dalam tas kecilku untuk meraih handphoneku saat lagu Run Away milik SHINee, nada dering handphoneku, berbunyi.

Aku menatap nanar layar handphone yang menampilkan foto sosok seorang namja yang sejak tadi, bayangannya lah yang menghiasi kepalaku.

Kai…

“Ottokhe…???”

<><><>

(Author’s side)

Angin musim semi di tepian sungai Han tertiup lembut menyapu wajah teduh seorang gadis yang tengah terduduk diatas hamparan rumput nan hijau. Ia memejamkan matanya demi menikmati kedamaian di alam terbuka ini

Suara mesin motor yang berderu kencang memaksanya membuka mata. Gadis itu tak perlu repot-repot melihat siapa yang datang karena hanya dari suara motor itu saja, ia sudah tahu pasti siapa pemiliknya.

“Aku kan bisa menjemputmu di kampus.” Sapa sang pemilik motor yang kini tengah terduduk di samping gadisnya itu.

Merasa ada sesuatu yang tak biasanya, ia menolehkan pandangannya pada gadis di sampingnya yang kini tengah menancapkan pandangannya tepat ke aliran sungai Han yang mengalir dengan tenang. “Tidak biasanya kau meminta bertemu di tempat seperti ini.”

Hyora, nama gadis itu, perlahan menolehkan pandangannya pada namja yang telah lebih dulu menatapnya. “Kai…” Lirihnya.

Keduanya terdiam.

Saling menatap ke kedalaman mata masing-masing. Merasai luapan perasaan yang tak terkatakan. Menikmati kebersamaan yang mungkin tak akan lama lagi akan berakhir.

Setidaknya itu yang ada di pikiran gadis yang kini kembali memalingkan tatapannya.

“Kai, ku pikir… sebaiknya kita berpisah saja.”

Setelah berfikir ratusan, atau bahkan ribuan kali hingga ia bahkan tak sedikitpun memejamkan mata indahnya semalaman, akhirnya kalimat itu mengalir juga dari bibir tipisnya.

Tak habis pikir dengan apa yang barusaja dikatakan gadisnya, Kai segera menunjukkan reaksi penolakannya. “Hah, kau ini bicara apa?”

“Kai…” Lirihnya sekali lagi.

“Sudah. Aku tidak mau mendengar omong kosong.” Namja itu berdiri dan langsung meraih lengan Hyo yang terkulai lemas di atas rerumputan tempatnya duduk. “Ayo pergi, akan ku belikan kau es krim kesukaanmu agar kau tidak memikirkan hal yang tidak-tidak seperti itu lagi.”

Hyo tak bergeming. Dengan tangan kanan yang tengah dicengkeram erat oleh Kai, ia menatap tajam kearah Kai, dan matanya seolah bicara hingga akhirnya cengkraman itu terlepas.

“Aku serius.” Kata gadis itu kemudian. “Let’s stop right here.”

Kai masih tetap berdiri dengan tegap meski kini hatinya sedang bergemuruh. “Kenapa? Memangnya ada masalah apa?”

“Berhenti bersikap seolah semuanya baik-baik saja.” Tegas Hyo. “Apa kau tidak melihat jurang yang memisahkan kita, yang semakin hari semakin dalam dan terjal.”

Rasa sesak menyerang dadanya. Angin yang berhembus pelan tak bisa membantunya bernafas dengan lega.

“Gemanhae…” Suara angin nyaris menguapkan ucapan Hyo yang terdengar sangat pelan. “Geumanhalkka…”

Kai menghela nafas kasar. Perkataan Hyo terasa menusuk langsung ke jantungnya. Tak sekalipun ia terfikir akan terjadi hal seperti ini.

“Ku kira kita sudah sepakat untuk tidak pernah menyerah pada keadaan.” Ujarnya. “Ku kira kau setuju untuk terus bersamaku, sesulit apapun kenyataan yang akan kita hadapi.”

Hyo tertunduk. Ia teringat semua yang telah mereka berdua lalui bersama. “Tenyata aku tidak sekuat itu, Kai.”

“Tidak bisa, Hyo.” Kini Kai bertekuk lutut. Keangkuhannya selama ini bahkan tak sanggup membantunya menahan air mata yang sudah hampir terjatuh kini. “Aku tidak mau.” Katanya pelan. “Aku mencintaimu…”

Sesungguhnya Hyo pun tak bisa menyembunyikan rasa sakit di hatinya. Tak terpungkiri dengan suaranya yang bergetar.

“Aku tahu kau mencintaiku tapi…”

“Tidak. Kau tidak tahu.” Sanggah Kai. “Aku tidak hanya mencintaimu. Lebih dari itu, aku membutuhkanmu. Kau hidupku.”

“Berhenti mencintaimu sama saja seperti aku mencabut urat nadiku sendiri. Aku tidak akan bisa hidup, Hyo.”

“Ku mohon…”

Hyo membuang muka.

Terlalu menyakitkan baginya melihat Kai, namja yang selama ini selalu menunjukkan sisi kuat dan tegasnya pada semua orang, kini ia memohon seperti ini.

“Mianhae…” Suara Hyo terdengar seperti bisikan pelan.

Dan kini keduanya kembali saling terdiam.

Menata perasaan masing-masing. Hyo, dengan rasa sakit bercampur marah pada keadaan dan pada dirinya sendiri. Sementara Kai, dengan rasa sakit yang teramat sangat.

“Jika memang itu yang kau mau, jika memang itu yang kau inginkan.” Kai bangkit dengan sisa cairan bening yang menggenang di pelupuk matanya. “Tapi jangan pernah berpikir kalau semua ini bisa membuat rasa cintaku padamu akan berkurang.”

“Tidak. Sedikitpun. Tidak akan.” Tambahnya.

Hyo masih mematung di tempatnya. Bahkan sampai sosok itu tak lagi di sampingnya ia masih terdiam.

Barulah setelah terdengar suara deru motor yang dikendarai Kai semakin menjauh, dengan segera ia berdiri. Menatap punggung kekasihnya, atau mungkin lebih tepat mantan kekasihnya, yang terlihat semakin jauh dan lalu menghilang. Dan saat itulah, cairan bening itu mengalir deras tak terbendung lagi.

“Mian…” Lirihnya. “Jeongmal, mianhae…”

~to be continue~

4 pemikiran pada “There is No Rainbow Without Rain (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s