Butterfly Girl

spring-photography010

BUTTERFLY GIRLS

Title : Butterfly Girl | Author : @ferrinamd  | Genre : Sweet | Rating : General | Length : Oneshot | Main Cast : Kim Jong Dae (Chen EXO M )

Serangga itu terbang tinggi di langit yang luas. Menjauh dari jangkauan tangan cantik seorang gadis.

“Kemarilah, aku ingin memegangmu,” pintanya. Masih berusaha menggapai asa kosong. Tak ada hasil. Ia pun menaiki sepeda miliknya. Mengendarai, meninggalkan tanah rumput nan luas. Dan juga sosok yang sejak tadi mengamatinya dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya.
.
.

Eomma, aku berangkat.”

“Hati-hati, Hyunmi,”sahut sang ibu. Menghampiri anaknya yang akan segera pergi ke sekolah. Kemudian menyodorkan kotak makanan siap untuk dibawa Hyunmi.

“Bekal lagi? Aku tidak mau membawanya.” Hyunmi menggeleng. Rambut kuncirnya bergoyang mengikuti arah kepalanya bergerak.

Ya ! Kau harus membawanya, nak.” Hyunmi hanya bisa menghela napas mendengar permintaan sang ibu. Mau tak mau dia harus membawanya. Meskipun sebenarnya malas untuk membawa kotak makanan. Padahal sejejeran kantin belakang sekolah siap menyediakan makan dan minum untuk para siswa.

“Baik, eomma. Aku bawa. Sudahkan? Aku berangkat.” Hyunmi mendaratkan ciuman di pipi ibunya yang tersenyum senang.

“Hati-hati di jalan.” Hyunmi sudah pergi. Mengayuh sepedanya dengan tenang. Menyapa beberapa orang yang dikenalnya dekat. Setiap hari, dia melewati taman rumput baginya begitu indah. Hyunmi sangat senang mampir ke tempat terbuka itu. Apalagi bisa melihat kupu-kupu berwarna hitam-orange yang menurutnya sangatlah indah. Seringkali ia mencoba menangkapnya. Namun sayang, karena tidak bisa ia jangkau. Hyunmi cuma bisa melihatnya dari jauh. Terkadang juga, kupu-kupu itu senang hinggap di rambutnya, tangan, bahkan hidung mungilnya. Hyunmi tidak takut, baginya kupu-kupu makhluk yang cantik. Dia tersenyum menikmati keindahan alam beserta hewan-hewan yang berkeliaran tanpa ragu sedikitpun. Ada rasa sesal tidak bisa menyempatkan diri untuk mampir. Mungkin akhir minggu ia baru bisa bermain ke sana.

Ah, aku harus ke sekolah.” Hyunmi kembali mengayunkan pedal sepedanya. Tiba-tiba sudah ada sepeda lain melaju beriringan bersamaan dengannya. Hyunmi sangat kenal siapa pengemudi sepeda antik ini.

“Jongdae oppa.” pekiknya. Tak kaget,melainkan hatinya senang mendapati kehadiran seorang pujaan hatinya yang tak terduga.

Laki-laki tampan, memiliki suara indah. Mereka satu sekolah hanya berbeda satu tingkat dengan Hyunmi. Rumah Jongdae dan Hyunmi tidak jauh hanya berjaral beberapa petak rumah yang memisahkan tempat tinggal mereka. Beberapa kali mereka sering sekali berangkat dan pulang bersama. Hyunmi senang berada dekat dengan Jongdae.

“Kamu baru berangkat? Aku kira kau sudah mendahuluiku.” Hyunmi menggeleng. Dia tidak mungkin meninggalkan sosok Jongdae yang sangat ia harapkan. Mengayuh sepeda bersama terlihat menyenangkan baginya.

“Tidak. Aku baru saja keluar dari rumah.” Jongdae tersenyum lembut. Mampu mengantarkan getaran dalam hati Hyunmi.

Ayo, cepatlah. Sebentar lagi bel masuk.” Jongdae melajukan sepedanya lebih cepat. Hyunmi langsung menyusul sepeda Jongdae.

“Aku duluan,yah,”tutur Jongdae. Meninggalkan Hyunmi masih menata sepedanya agar tegak sempurna di parkiran sekolah.

Ne,” balas Hyunmi membalas lambaian tangan Jongdae.
Jam masuk sekolah sudah tiba, Hyunmi segera memasuki kelas untuk belajar.
.
.

Hari minggu sudah datang, setelah membantu orang tua. Hyunmi keluar dari rumah. Sebelumnya sudah meminta izin akan pergi ke taman itu. Kumpulan rumput yang terhampar luas di seluruh area taman. Banyak pepohonan subur yang berdiri tegap meneduhkan siapapun yang datang kesana. Banyak binatang berkeliaran, serangga yang hilir mudik terbang mencari makan. Serta beberapa tanaman yang tumbuh subur di sekitar   taman. Hyunmi menyukainya, dan Hyunmi akan selalu kemari saat ada waktu untuknya.

Sepeda terus ia kayuh dengan gegap gempita. Tak sabar dirinya untuk melihat lebih dekat serangga indah yang telah menaruh hati pada Hyunmi. Kupu-kupu, sebutlah seperti itu. Setiba disana, Hyunmi menyenderkan sepedanya dibawah pohon besar yang rindang. Rok sepanjang lutut yang dikenakannya tersapu angin sepoi semilir lembut. Rambut yang dibiarkan tergerai menguarkan harum vanilla yang keluar dari helai-helai rambut indahnya. Kedua manik matanya menyusuri sekeliling taman. Tepat pandangannya jatuh dirimbunnya ilalang tak jauh dari tempatnya berdiri. Hyunmi langsung berlari pelan. Kembali merasakan angin sore menyejukkan hati. Semakin terasa ketika ia mempercepat laju tubuhnya. Sedikit demi sedikit ia mulai melihat beberapa ekor kupu-kupu hinggap tepat pada ujung tangkai bunga yang mekar. Senyum Hyunmi terkembang melihat kupu-kupu sangat dekat dengannya. Hanya beberapa langkah mungkin ia akan menangkap serangga itu. Tapi tidak, dia mempunyai sisi manusia untuk tetap membiarkan hewan tersebut tetap bebas meneruskan hidupnya. Hingga matanya menyadari sosok yang sangat dikenali. Laki-laki itu, Kim Jongdae. Ia baru tahu jika Jongdae pernah kemari seperti hari ini. Tanpa memikirkan apa gerangan yang membuat Jongdae terundang ke taman ini. Hyunmi berjalan perlahan menghampiri Jongdae. Yang tengah sibuk mengamati bunga yang sebetulnya tidak terlalu menarik perhatian jika dibandingkan dengan tumbuhan lainnya. Belum sempat Hyunmi menyapa Jongdae, laki-laki itu sudah menyadari betul siapa yang menghampirinya.

“O, Hyunmi.” Jongdae menegakan tubuhnya. Menyudahi kegiatannya mengamati tumbuhan. Dia sudah tahu bahwa Hyunmi sering berkunjung ke taman ini. Hanya kebetulan saja, mereka berdua bisa berpas-pasan. Terutama Hyunmi yang bisa mendatanginya. Bukankah itu berarti Hyunmi mulai menyadari keberadaan Jongdae?

Dia tersenyum menatap sosok bidadari cantik berdiri sangat dekat dengannya. “Oppa, ada apa kemari?” ‘Oppa’, panggilan yang menurut Jongdae dapat membuat hatinya semakin berdegup setiap kali mendengarnya. Jongdae yang meminta Hyunmi memanggil dengan sapaan itu. Beruntungnya, gadis di hadapan Jongdae langsung menuruti tanpa komplain sedikitpun.

“Aku sedang mengamati tumbuhan. Ada tugas dari Cho saem guru Biologiku untuk mencari tumbuhan yang harus diamati. Kamu sendiri ada apa kemari?” Jongdae mengenggam kaca pembesar di sisi tubuhnya. Hyunmi menunduk malu.

“Aku melihat Kupu-kupu.” Jongdae tersenyum lagi mendengarnya. Benar dugaannya, Hyunmi sangat senang mengamati kupu-kupu. Satu hal  tentang Hyunmi sudah ia ketahui.

“Kamu menyukai kupu-kupu?” Hyunmi terenyak. Ia membulatkan matanya. Memperjelas pendengaran dari apa yang ia dengar dari Jongdae.

“Ne?”

“Kamu sangat menyukai kupu-kupu?” tanya Jongdae sekali lagi. Baru mendapat anggukan dari Hyunmi.

“Mau aku tunjukkan kupu-kupu yang lebih banyak?” Jongdae tahu tempatnya karena sebelum itu ia sudah sangat mengenali taman ini lebih jauh daripada Hyunmi. Tangan kanan Jongdae terulur meminta Hyunmi untuk menggandengnya. Gadis itu menerima uluran tangan Jongdae. Mereka berdua berjalan beriringan mengikuti arah jalan yang akan ditunjukkan oleh Jongdae. Ternyata taman ini luas, Hyunmi bisa melihat dengan jelas kumpulan  bunga yang menbentang indah. Bagaikan lukisan yang tercurahkan di atas kanvas. Mensyukuri karunia Tuhan yang luar biasa. Hyunmi masih bergeming, meskipun mereka sudah sampai lima menit yang lalu. Jongdae tersenyum lebar menikmati pemandangan didepannya bersama orang yang dia sukai. Perkataan ibunya benar, kau akan merasa bahagia jika berbagi kebahagian dengan orang yang kau cintai dan sayangi. Kali ini Jongdae merasakannya. Wajahnya berpaling menatap Hyunmi yang tersenyum lebar seperti dirinya. Kemudian kaki ramping Hyunmi melangkah lebih ke tengah. Tidak buruk. Disini ada kupu-kupu saling berterbangan.

“Aku ingin memegangnya,” ujar Hyunmi. Suasana hening, Jongdae tidak mendengarnya. Pandangan Hyunmi beralih mencari Jongdae. Laki-laki bermata indah itu mengamati kupu-kupu di ujung kelopak bunga yang tengah mekar. Selangkah lagi, kupu-kupu berwarna orange dan hitam hinggap di jemari Jongdae. Benar saja, perkiraan Hyunmi tepat. Kupu-kupu tersebut mendarat mulus. Jongdae melihat Hyunmi dengan wajah senang.

“Lihat, kupu-kupunya.” Jongdae setengah berbisik takut kupu-kupu akan pergi entah kemana. Hyunmi berjalan pelan-pelan. Sedekat ini Hyunmi dapat memandang jelas tubuh kupu-kupu yang rapuh. Hatimya berteriak senang. Sama halnya dengan Jongdae, hatinya begitu berbunga dapat menarik perhatian Hyunmi kepadanya. Sang gadis sangat menyukai kupu-kupu rupanya. Lain kali dia harus bisa lebih dekat dengan serangga kecil ini.

“Kamu menyukainya?” Hyunmi menimpalinya seraya menganggukkan kepalanya cepat.

“Aku sangat menyukainya. Bisa aku menyentuhnya.”

“Boleh, asal jangan buat takut dia (kupu-kupu).” Jari-jari kanan Hyunmi terulur sangat pelan. Seiring jantungnya berdegup kencang, sangat takut jika tahu kupu-kupu itu akan pergi. Sedikit lagi Hyunmi akan menyentuhnya.

Andwaeee~,” lirih Hyunmi. Sayang sekali, kupu-kupu terbang meninggalkannya yang menelan kekecewaan begitu dalam. Jongdae terdiam, memikirkan kata yang pantas untuk menghibur Hyunmi.

“Lain kali akan aku tangkap untukmu.”

“Tidak perlu. Aku cuma ingin melihatnya dari dekat.” Hyunmi berbohong. Jongdae sangat tahu gerak tubuh dan ekspresi Hyunmi. Gadis berambut panjang itu berbalik melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Jongdae sendiri. Menyusul sepeda putih-biru miliknya untuk dinaiki.

“Kamu dari mana saja? Eomma mencarimu ke tetangga sebelah tapi tidak ada.”

“Aku bermain ke taman,eomma.”

“Apa yang kau lakukan disana? Bagaimana kalau ada serangga menggigitmu,”

“Tidak ada, bu,” jawab singkat Hyunmi menyudahi percakapan dirinya dengan Ibu. Melanjutkan makan malam bersama kedua orang tua dan adiknya.
.
.

Keesokan harinya, Hyunmi pulang sekolah. Tetap melewati taman itu. Manik matanya menangkap dengan jelas. Hyunmi menurunkan tubuhnya. Tidak mengayuh sepedanya, melainkan berjalan mengiringi kendaraan roda dua dalam diam.

“Hyunmi ! Lee Hyunmi,” teriakan memanggil namanya. Itu Jongdae. Mendekatinya sambil menyodorkan sapu tangan berwarna jingga muda.

“Untukmu,” ucap Jongdae. Sesampainya ia di samping gadis pujaan hatinya.

“Sapu tangan? Untukku?” Jongdae tersenyum seiring matanya yang mengecil.

“Bukalah. Ah, ani, maksudku rentangkan sapu tangannya,” pinta Jongdae tergugup. Hyunmi penasaran. Segera ia turuti permintaan Jongdae. Sebuah kupu-kupu tercetak jelas diatas sapu tangan jingga yang polos. Berada di pojok kiri bawah. Sangat kontras dengan area kosong yang masih tersedia.

Kupu-kupu yang sama dengan kupu-kupu yang selalu Hyunmi bicarakan pada Jongdae. Orange-Hitam. Disulam rapi oleh tangan kuat Jongdae.  Hyunmi tersipu malu. Dia kaget saat tahu Jongdae akan memberikannya. Apa dirinya menjadi orang yang spesial untuk laki-laki dihadapannya?

Wah, kupu-kupu. Bagus sekali.” Jongdae mengusap tengkuknya yabg tak gatal. Hyunmi tersenyum lebar. Dibentangkan lebar-lebar sapu tangan tersebut. Seolah memamerkan bahwa dirinya memiliki barang berharga agar orang lain tahu.

“Aku membuatnya. Agar kau tak perlu menangkap kupu-kupu itu. Kamu menyukainya?” Hyunmi masih tersenyum. Lantas disodorkan badannya memeluk ringan tubuh Jongdae. Tidak ada reaksi yang berarti, Jongdae terlalu kaget. Kupu-kupu dalam perutnya berterbangan. Menyambut hatinya yang riang. ‘dia memelukku.’  batin Jongdae dalam hati.

“Terima kasih sudah memberikannya. Aku sangat menyukainya.” Hyunmi menaiki sepeda kesayangannya. Melaju kecepatan hingga meninggalkan Jongdae yang diam terpaku. Jantungnya masih berdegup kencang.

Oppa, ayo kita pulang,” teriak Hyunmi dari kejauhan. Berbalik memperingati Jongdae supaya pulang bersamanya.

Langsung saja, Jongdae bergerak. Memacu pedal sepeda hitamnya. Mengejar gadis pujaan hatinya. “Tunggu aku, gadis kupu-kupu.” Jongdae sudah dapat menyusul Hyunmi.

Mwo? Kau bilang apa?” Hyunmi tertawa riang. Dia tahu Jongdae hanya bercanda. Tetapi tidak dengan Jongdae yang menganggap itu panggilan kesayangan untuk seorang Lee Hyunmi. Merekapun mengendarai sepeda beriringan untuk pulang ke rumah masing-masing.

‘You’re my butterfly girl.’ -Kim Jong Dae

 

8 pemikiran pada “Butterfly Girl

Tinggalkan Balasan ke jjangjifly Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s