Cry-Cry (Chapter 1)

pizap.com13927402949902

Cry-Cry

Chapter 1

 

Title: Cry-Cry

Author: Choi Yura a.k.a @JuJuYChoiHan

Cast: – Xi Luhan

– Choi Yura (OC)

– Oh Sehun

Genre: Romance, Family, Sad (Maybe), Angst.

Rated: T. (setiap chapter akan berubah ratednya)

Length: Chapter.

kunjungi blog saya: http://fishytelekinetics.wordpress.com

ini adalah ff pertama yang aku kirim ke sini, tolong aspresiasinya ya chingu. gomawo…

Ini ff terinspirasi dari MV t-ara yang cry cry dan lovey dovey. tapi gak semuanya terinspirasi dari MV karena cuma 20 persen aja dari MV selebihnya pemikiranku sendiri. Semoga kalian suka. Dan ff ini murni dari pemikiranku. Kalau ada kesamaan dalam cerita jangan salahkan aku karena akupun belum pernah baca ff yang ceritanya kayak begini.

DON’T BASH.

DON’T PLAGIAT.

AWAS TYPO BERTEBARAN!.

HAPPY READING……..

**

Author POV.

“perusahaan kita terancam bangkrut karena kita bekerja sama dengan perusahaan tuan Choi.” Kini Seorang lelaki paruh baya sedang berdiri di sebrang meja kerja seorang lelaki muda. Lelaki paruh baya itu menyampaikan hal yang dia ketahui kepada lelaki manis nan mudah yang sedang duduk di kursi kerjanya. Suasana di sana seperti di ruangan kerja.

“aku tau itu semua. Sebaiknya kau urus ini semua dan batalkan kerja sama kita dengan perusahaan tuan Choi. Mereka telah menggelapkan dana perusahaan. Aku paling tidak suka ada penghianat seperti ini di kerja sama kita. Aku tidak ingin perusahaanku terlibat penggelapan dana. Kau laporkan perusahaan tuan Choi ke polisi.” Jawab lelaki manis nan mudah itu sambil membaca sebuah berkas dokumen yang terletak di atas meja kerjanya.

“baik tuan Xi Luhan.” Lelaki paruh baya itu membungkuk memberi hormat dan langsung keluar dari ruang kerja lelaki yang bernama Xi Luhan. Pemuda yang bernama Xi Luhan itu memijat pelipisnya dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dengan kasar.

**

Tok tok tok.

“masuklah.” Perintah seorang lelaki paruh baya setelah mendengar pintunya di ketok oleh seseorang.

Seorang wanita memasuki ruangan itu dengan raut wajah khawatir.

“maaf tuan Choi. Ada yang mencari anda.” Ucapnya dengan nada cemas.

“siapa?” Tanya lelaki paruh baya itu tanpa menatap wajah cemas yang sedang tergambar di wajah wanita itu. Pria paruh baya itu masih bergeming dengan tablet yang sedang berada dalam pegangannya.

“ka-tanya mereka dari kantor kejaksaan.” Jawab wanita itu dengan sedikit terbata dan raut wajah cemas wanita itu belum juga pudar.

Lelaki paruh baya itu langsung menatap wajah wanita itu dengan pandangan tak percaya.

“untuk apa mereka kemari?”

“saya juga tidak tau,tuan.” Lelaki paruh baya itu Nampak berpikir dengan pikirannya. Di dalam hatinya ia masih bertanya-tanya dengan apa yang akan terjadi.

“persilahkan masuk.” Perintah lelaki peruh baya itu dengan wajah yang berubah menjadi serius.

“baik tuan.” Wanita itu langsung keluar dan tidak lama masuklah dua  pria dengan menggunakan tuxedo rapi.

Kedua pria itu langsung menunduk hormat.

“silahkan duduk.” Perintah lelaki paruh baya itu sambil mengangkat tangannya menunjuk dua bangku kosong yang berada di sebrang meja kerjanya.

“sepertinya kami tidak akan berlama-lama di sini.” Lelaki bertuxedo cream itu memasang wajah yang begitu datar namun penuh arti.

Lelaki yang satunya lagi. Yang menggunakan tuxedo hitam maju mendekat ke lelaki paruh baya yang di panggil tuan Choi itu dengan membawa sebuah map dan meletakannya di meja kerja tuan Choi. Tuan Choi membuka map itu dan membaca dokumen yang ada di dalam map. Kedua matanya terbelalak dia tak percaya dengan apa yang baru saja di bacanya.

“apa maksud dari semua ini?” Tanyanya dengan nada geram. Rahangnya mengeras, giginya menggertak menahan emosi yang mungkin saja akan memuncak keluar.

“kami menerima laporan bila perusahaan anda terbukti menggelapkan dana dan terjadi kerja sama yang menyeleweng.” Jelas pria yang bertuxedo cream itu.

Dengan cepat tuan Choi mengambil sesuatu di dalam sakunya. Ya, dia mengeluarkan sebuah ponsel layar sentuh dari sakunya. Dengan gerakan lincah dia mengetik sebuah nomor dan mendekatkan benda persegi itu ke daun telinganya.

“halo sehun. Apa kau mendapat laporan tentang penggelapan dana?. Apa yang kau katakan? Kau tidak mendapat laporan yang sama sepertiku. Bagaimana denganku bukankah kita menjalaninya bersama-sama. Atas kerjasama ini aku tertuduh menggelapkan dana perusahaan. Apa? Kapan kau memutuskan kerja sama di antara kita? Kau yang memulai semua ini. Kau benar-benar tega menjerumuskanku dan menanggung semua ini. ” setelah memutuskan sambungan telephonnya tuan Choi masih saja memasang ekspresi menahan amarah. Dia memegangi dada kirinya yang terasa sesak. Napasnya terdengar tak beraturan. Dia jatuh terkulai kdi kursi kerjanya dengan kasar. Tuan Choi tampak tengah susah bernapas dan makin meremas dada kiriya.

“jantungku…” rintihnya dengan mata yang terbelalak.
Dua pria itu Nampak panik dan mendekat ke arah tuan Choi.

“tuan Choi. Apakah anda baik-baik saja?” Namun tak ada balasan dari pria paruh baya itu. Kini kedua matanya telah tertutup rapat. Genggaman tangan kanan pada dada kirinya mulai merenggang dan terkulai kepangkuannya.

Lelaki yang bertuxedo hitam memeriksa denyut nadi di leher tuan Choi. Setelah di rasakannya ia menggelengkan kepalanya dengan pelan.

“sepertinya dia terkena serangan jantung.”

**

Setelah melemparkan ponsel layar sentuhnya dengan kasar di atas sofa. Lelaki berambut coklat itu mendesah pelan dan menghempaskan tubuhnya di sofa putih miliknya.

“bagaimana tuan Oh Sehun?” Tanya pria paruh baya yang berdiri tidak jauh dari pria yang sedang duduk di sofa.

“untungnya aku sudah memutuskan kerja sama ini secara sepihak. Aku tidak mau menanggung tuduhan itu bersama-sama. Sekarang aku lega karena perusahaan ku berhasil terselamatkan.  Betapa beruntungnya kita mengetahui semua laporan itu duluan.” Ujar namja yang bernama Oh Sehun itu dengan senyum miring yang terlukis di bibir meronanya.

“sekarang aku ingin lihat bukti dan pelapor yang melaporkan tuan Choi.” Pemuda itu mengulurkan tangannya ke samping sisi kanannya yang di situ berada pria paruh baya itu.

“ini tuan.” Pria paruh baya itu memberikan sebuah map ke pada Sehun.

Sehun mulai membuka isi map itu dan membaca isinya.

“oh jadi namja yang melaporkan tuan Choi bernama Xi Luhan.” Ujarnya dengan datar dan terdengar nada penuh dendam saat dia menyebut nama Xi  Luhan.

Dokumen itu berisi biodata si pelapor. Di sana terletak sebuah photo. Tampak sosok pemuda manis dengan tuxedo rapi dan memasang wajah datar yang berada di potho tersebut.

**

“appa…..” panggilan lirih itu keluar dari mulut seorang gadis manis yang mengenakan hanbok hitam. Tangisannya pecah dan menggema di ruangan yang tak lain adalah rumah duka. Gadis itu menangis di depan sebuah peti dan figura tuan Choi.

Ketika gadis itu menangis ternyata Luhan berada di belakangnya dan menatap punggung gadis itu dengan iba.

“kenapa kau meninggalkanku sendiri?” Tanyanya dengan tersedu-sedu. Kedua pelupuk matanya terus saja mengeluarkan bulir bening. Tangisannya tak henti-hentinya berhenti.

“gadis itu siapa?” Gumam Luhan pelan ke pada pria paruh baya yang berada di sampingnya.

“dia anaknya tuan Choi. Yang aku tau, namanya Choi Yura.”

Gadis manis itu merasa terusik. Ternyata dia mendengar semua ucapan kedua namja yang berada di belakangnya. Dengan cepat dia memutar kepalanya ke belakang dan menatap kedua pria itu bingung dengan mata sembabnya.

“kalian siapa?”

Luhan langsung melangkahkan kakinya dan mendekati gadis manis itu.

Dia berjongkok disisi kanan gadis itu, mensejajarkan tubuhnya dengan gadis yang sedang terduduk lemas itu.

“a-ku …. Te-man appamu.” Jawab Luhan sedikit terbata namun terdengar nada tegas di akhir kalimatnya. Sebenarnya dalam hati Luhan dia tidak ingin membohongi gadis itu dengan mengaku sebagai teman dekat ayahnya. Hatinya menjerit untuk tidak membuat kesalahan yang kedua kalinya dan membuat anak tuan Choi hancur. Luhan tidak ingin melihat gadis itu menangis hanya karena kesalahan yang telah di perbuatnya kepada ayah gadis itu.

Gadis itu mengernyitkan dahinya dan menyipitkan kedua matanya yang masih tampak sembab.

“appamu menyuruhku untuk membawamu dan menjagamu bersamaku jika suatu hari nanti dia tidak ada lagi di dunia ini.” Tangan Luhan tidak bisa untuk tidak terangkat. Kini tangan kirinya terangkat untuk mengelus puncak gadis itu dan menenangkan gadis itu dengan caranya sendiri.

“benarkah kau teman appaku?” Mendengar pertanyaan itu membuat Luhan tertegun dan menurunkan tangannya dari kepala gadis itu. Raut wajahnya berubah ragu untuk menjawab pertayaan gadis manis itu. Namun Luhan mendesah pelan untuk menenangkan hatinya.

“iya. Aku teman appamu. Apakah kau tidak mempercayaiku?” Kedua sudut bibir Luhan tertarik untuk meyakinkan gadis ini dengan senyum teduhnya.

“appa juga pernah bilang kalau dia memiliki teman kerja yang dekat dengannya. Appa juga bilang jika suatu hari aku tidak punya siapa-siapa dia ingin aku menemui teman dekat appa yang aku sendiri tidak tau siapa orang itu. Dan aku baru tau jika teman kerja yang appa maksud itu kau.” Ujarnya dengan polos dan juga dengan nada khas orang selesai menangis. Suaranya terdengar serak.

Luhan tidak tau siapa orang yang di maksud gadis yang berada di sebelahnya. Setahu Luhan. Luhan tidak sedekat itu dengan tuan Choi dan dia baru saja mengenal tuan Choi sebelum akhirnya dia mengetahui bila perusahaan tuan Choi menggelapkan dana perusahaan.

“bagaimana? Apa kau mau ikut denganku?” Gadis itu menganggukan kepalanya. Mengiyakan pertanyaan Luhan.

**

“ini fotho keluarga tuan Choi?” Tanya Sehun kepada pria yang berdiri di sebrang meja kerjanya. Sekarang sudah ada sebuah fotho yang berada di pegangannya. Kedua manikya tak urung-urungnya memandang figura fotho itu.

“benar tuan. Itu fotho tuan Choi dengan putrinya.” Jawab pria paruh baya itu membenarkan pertanyaan Sehun.

“siapa namanya?”

“namanya Choi Yura.”

“tuan Choi pernah berbicara tentang putrinya kepadaku dan aku baru tau ternyata ini putrinya.” Ujar Sehun sambil tersenyum dengan senyuman yang sulit di artikan sambil memandang figura fotho yang berada di pegangannya.

“tuan Choi hanya memiliki gadis ini dia tak memiliki keluarga lagi selain gadis ini.” Jelas pria paruh baya itu.

“aku tau. Tuan Choi pernah cerita kepadaku. Sekarang dimana keberadaan gadis ini?”

“apakah anda ingin mencarinya?” pertanyaan Sehun di balas sebuah pertanyaan oleh pria paruh baya itu.

“bagaimanapun aku masih memiliki tanggung jawab. Aku tidak ingin melihat gadis ini terlantar.”

“tapi, setelah kematian tuan Choi keberadaan gadis ini sulit di temui. Bahkan sepertinya jejaknya menghilang.”

“maksudmu setelah kematian tuan Choi gadis ini sudah menghilang?,” Sehun tampak bergelut dengan pikirannya dan menghujam figura itu dengan tatapan tajam.

“Aku tidak mau tau, sekarang kau cari gadis ini. Sepertinya dia adalah gadis yang manis. Aku hanya ingin meminta maaf kepada tuan Choi dengan cara mengasuh gadis ini.” Raut wajah Sehun mulai menampakan ke seriusan. Dan terlihat sekali dia bingung. Bagaimana mungkin gadis itu cepat sekali menghilang setelah semalam adalah hari kematian ayahnya.

**

Hening. Itulah yang tergambar di ruang kerja Oh Sehun. Dia tengah sibuk bergelut dengan kertas-kertas yang terdapat di sebuah map dan berada di atas meja kerjanya.

Tok tok tok.

“masuklah.” Perintahnya tanpa mengalihkan pandagannya pada berkas-berkas yang ada di mejanya.

Masuklah pria paruh baya yang selalu membantu Sehun dalam memberikan informasi. Pria paruh baya itu membungkuk memberi hormat.

“maaf tuan. Tapi nona Choi Yura tidak kami temui di manapun.”

Sehun langsung melempar pandangannya ke pria paruh baya itu dan menatapnya tajam.

“bagaimana bisa gadis itu menghilang tanpa jejak? Apakah kau sudah mencari informasi dimana saja keberadaan gadis itu?”

“sudah tuan. Kami sudah mencarinya di sekolahnya, panti asuhan bahkan di rumahnya yang belum sempat di sita oleh bank. Namun keberadaan gadis itu tetap saja tidak kami temukan.”

“berapa umur gadis itu?” Tanya Sehun dengan nada datar.

“13 tahun,tuan.”

Sehun menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya. Ia memijat pelipisnya yang terasa pusing karena gadis manis yang bernama Choi Yura belum juga ke temu dan menghilang begitu saja seperti terhampas oleh angin.

**

“tuan, dari informasi yang saya dapat. Ada yang mencari keberadaan nona Choi Yura.” Aduh pria paruh baya yang selalu menemani Luhan kepada Luhan. Kini mereka berada di sebuah restoran yang berciri khas tradisional Korea. Mereka duduk saling berhadapan dan hanya di batasi oleh sebuah meja yang berisi makanan Korea. Mendengarsemua itu, Luhan langsung memberhentikan acara menyumpitnya pada makanan korea yaitu kimchi.

“darimana kau dapat iformasi itu?”  Luhan langsung melirik pria itu dengan tatapan yang penuh penekanan.

Pria paruh baya itu memberikan sebuah file dokumen yang terletak di dalam map kepada Luhan. Luhan menerima map itu dan membukanya. Di dalamnya terdapat sejumlah riwayat Sehun. Terdapat fotho Sehun di dalamnya yang memasang wajah datar.

“namanya Oh Sehun. Pria itu teman kerja sama penggelapan dana bersama tuan Choi, tapi kita tidak punya bukti untuk menuduhnya juga dalam penggelapan dana itu. Sekarang dia sedang mencari nona Yura.”

“dia juga ikut terlibat atas penggelapan dana perusahaan?” Kini Luhan menyampakkan map itu ke sembarang arah dengan kasar.

“namun dia cepat-cepat memutuskan kerja sama bersama tuan Choi dan menghapus semua jejaknya untuk tidak terlibat dalam penggelapan dana yang telah dia lakukan bersama tuan Choi.”

“sebaiknya aku harus membawa Yura ketempat yang jauh. Aku tidak mau Yura bertemu orang licik sepertinya. Apa lagi pria ini telah menghianati tuan Choi dengan cara membuat tuan Choi menanggung semuanya.”

“kalau boleh saya tau. Kenapa anda mengasuh nona Choi Yura?” Tanya lelaki paruh baya itu dengan wajah yang menyiratkan ke ingin tahuan lebih.

“karena aku merasa bersalah kepada tuan Choi. Jadi aku ingin memperbaikinya dengan cara mengasuh Yura. Aku tidak mungkin membiarkan gadis itu sebatang kara.”

“tapi bukankah anda tidak mengenal gadis itu ataupun asal-usul keluarga tuan Choi?”

“semenjak berjalannya waktu aku sudah mulai menyayangi gadis itu dan ingin selalu melindunginya.”

**

Matahari begitu terik. Sinar panasnya menghantam sesosok gadis berseragam SMP yang sedang berdiri di depan gerbang sekolah. Sesekali punggung tangannya mengelap pelipisnya yang basah akibat panasnya terik matahari. Gadis itu bergeming di tempatnya berdiri. Pandangannya di edarkannya ke kanan dan kekiri.
Tak lama sebuah mobil sprot berhenti di depannya. Perlahan kaca mobil itu terbuka dan menampakan sesosok lelaki manis.

“apa kau sudah menunggu lama?” Tanya Luhan yang berada di dalam mobil itu.

Yura menatap lelaki yang berada di dalam mobil dengan tatapan mengintimidasi. Ia tetap acuh dan seperti tidak mengenal pria yang berada di dalam mobil itu.

Luhan tau jika gadis itu sedang marah kepadanya karena ia yang terlambat menemui gadis itu.
Luhan itupun turun dari mobilnya dan menghampiri gadis manis itu.

“kalau begitu aku minta maaf.” Ujar Luhan sambil menuntun Yura kepelukannya.

“aku akan mengabulkan permintaanmu. Kita akan pindah ke Jepang.” Ujar Luhan dengan lembutnya dan membuat kedua sudut bibir Yura tertarik. Ia tersenyum di pelukan Luhan. Ia langsung membalas Luhan dan senyuman itu tak henti-hentinya terlukis di bibirnya.

“benarkah ajeossi?” Tanya Yura. Dia masih tidak percaya dengan pernyataan Luhan.

Luhan hanya berdehem. Mengiyakan pertanyaan gadis itu.

Semenjak berjalannya waktu hubungan Luhan dan Yura semakin dekat. Tidak ada lagi kata canggung antara mereka berdua. Kini mereka saling melindungi dan saling menyayangi karena kini Luhan hanya memiliki Yura dan Yurapun begitu juga. Luhan senang karena kini, dia tidak sendirian karena sekarang ada Yura yang selalu berada di sampingnya.

**

“kenapa ajeossi berubah pikiran dan ingin pindah ke jepang? Bukankah kau ingin kita pindah ke Beijing?” Mereka telah berada di dalam mobil. Luhan masih focus terhadap jalanan yang di laluinya. Dan mengacuhkan pertanyaan Yura.

“Xi Luhan ajeossi! Apa kau tak mendengarkanku?” Gadis itu berujar dengan nada yang kesal dan wajah yang kesal karena pemuda yang di panggilnya Xi Luhan ajeossi itu tidak menanggapi pertanyaannya.

Luhan melihat gadis yang berada di sampingnya itu sekilas. Lalu langsung focus kedepan. Ia menggapai puncak kepala gadis itu dengan tangannya dan mengelusnya dengan lembut.

“maafkan aku, Yura. Karena aku mengacuhkanmu tadi. Aku sedang focus terhadap jalan yang sedang kita lalui. Untuk pertanyaanmu tadi aku ingin kita pindah ke Jepang karena ku rasa di sana lebih aman untuk kita berdua. Lagian aku juga ada proyek baru di sana jadi aku memutuskan untuk kita pindah ke sana.”

Yura hanya ber-oh-ria mendengar pernyataan Luhan.

“aku ingin bertanya pada mu ajeossi. Kenapa kau membawaku bersamamu setelah ayahku meninggal?”

“karena kau tidak punya siapa-siapa.” Ya, benar gadis itu tidak punya siapa-siapa dan hanya Luhan yang ia kenal sekarang. Mesikipun baru beberapa bulan mereka tinggal bersama. Tapi tak membuat Yura meragukan Luhan. Dia sangat mempercayai Luhan dan yakin kalau Luhan akan selalu melindunginya.

“ku kira karena kau perduli terhadapku?” Ujar gadis itu. Nadanya terdengar lirih. Bibirnya langsung berubah kerucut.  Ia membuang pandanganya dan menatap jalanan lewat kaca mobil yang berada di sebelahnya.

“benar, itu memang benar. Aku sayang terhadapmu dan perduli terhadapmu. Ayahmu juga ingin aku selalu menjagamu.”

“benarkah itu?” Yura masih belum mempercayai Luhan. Dia kembali bertanya dengan wajah yang menyelidik.

Luhan hanya menggangguk kepalanya dan melemparkan senyuman tulus ke Yura.

“aku kagum kepadamu ajeossi. Kau ini masih terbilang mudah karena umurmu baru 23 tahun tapi kau sudah berhasil menjadi pengusaha mudah.” Ujar Yura dengan polosnya dan membuat Luhan tertawa geli.

**

Seorang gadis cantik yang memakai baju seragam SMA dan memiliki rambut panjang tergurai dengan bando pita kecil yang melilit di kepalanya berlari kecil menuruni anak tangga yang berada di sebuah rumah yang sangat luas.

“ajeossi!” panggil gadis itu kepada Luhan yang sedang mengesap kopinya dan memegang sebuah tablet di tangannya. Ia sedang duduk di depan meja makan yang telah di tempati oleh roti-roti dan susu putih. Luhan mengenakan pakaian kemeja dan jas dengan sangat rapi.

Gadis itu memposisikan duduknya di samping Luhan dan menatap Luhan penuh arti. Kedua sudut bibirnya terus saja tertarik dan tatapannya tak kunjung lepas dari sosok Luhan. Dia menopang dagunya di kedua tangannya yang kedua sikutnya sudah tertekuk diatas meja.

“Xi Yura jangan pernah menatapku seperti itu lagi.” Luhan memperingati gadis itu yang ternyata adalah Yura yang kini sudah menjadi sosok gadis remaja yang sangat cantik.
Luhan tetap bergeming kepada tabletnya tanpa menatap Yura sedikitpun.

“wae? Oh ya ajeossi kenapa margaku kau ganti? Aku ini Choi Yura. Kenapa kau selau memanggilku Xi Yura? Aku bahkan belum menjadi istrimu.” Ujar Yura dengan nada imutnya yang sering ia tunjukan kepada Luhan.

Sontak saja perkataan Yura itu membuat Luhan tersedak dengan air liurnya sendiri. Dia tidak percaya apa yang baru saja di dengarnya.

“aku hanya becanda. Kenapa kau selalu saja menganggapnya serius?” Ujar Yura santai. Dia mengambil salah satu roti tawar itu da mengoleskan selai coklat yang sangat dia gemari.

“ajeossi aku sangat merindukanmu.” Luhan hanya berdehem menjawabnya.

“bagaimana mungkin aku tidak merindukanmu. Setelah kita pulang ke Korea kau langsung pergi ke Beijing meninggalkanku begitu saja. Aku hampir mati bosan karena liburanku hanya ku habiskan di rumah saja.”

“kau kan bisa saja berjalan-jalan sendirian tanpa aku.” Ujar Luhan dengan santai.

“aku tidak ingin melakukan apapun jika tidak ada kau di sampingku.” Yura sering kali menggoda Luhan. Namun, godaan Yura itu selalu saja di anggap serius oleh Luhan. Luhan sering kali salah paham dengan perkataan Yura.

“kau harus ingat sekarang kau ini keponakanku. Dan kau ini sudah memakai margaku. Jangan sampai satu orangpun tau jika kau ini tidak memiliki aliran keluarga dengan ku. Dan satu lagi jangan menggodaku seperti itu lagi!” Luhan beranjak dari duduknya dan berjalan kearah pintu keluar.

“ aku ikut.” Yura langsung mengesap susu putihnya dan berjalan menyusul Luhan.
Tak ketinggalan roti yang berada di tangannya itu tak lepas dari tangannya. Ia memakannya sambil jalan.

**

“aku akan menjemputmu.” Luhan dan Yura berada di dalam mobil. Kini mereka sudah berada di depan gedung sekolah. Yang pastinya itu adalah sekolah Yura.

“sebenarnya aku masih malas bersekolah. Aku masih ingin berdua dengan ajeossi. Selama liburan kau tidak ada dan itu mebuatku benci menghabiskan liburan seorang sendiri.” Ucapnya dengan nada memelas.

“sudahlah sana masuk nanti kau bisa telat.” Dari raut wajahnya Luhan. Terlukis raut wajah malas saat menanggapi ucapan Yura.

“ajeossi. Jelas sekali jika kau tidak merindukanku.” Kini nada suaranya berubah menjadi kesal.

“bukannya begitu. Terkadang kau ini sangat berlebihan. Masih banyak waktu luang yang akan kita habiskan, jadi sebaiknya kau sekolah dengan baik. Lain kali aku akan mengajakmu jalan-jalan seharian penuh jika kau rajin sekolah dan belajar dengan sungguh-sungguh.” Memang benar Yura adalah wanita yang sering kali menganggap semuanya dengan berlebihan. Namun di lain sisi dia juga sering mengganggap hal serius itu menjadi hal candaan. Yang terkadang membuat orang jengkel terhadapnya. Namun hanya Luhan yang mengerti gadis itu dan memahami sifat gadis itu.

“janji?.” Yura mengacungkan jari kelingkingnya di hadapan Luhan. Luhan membalas dengan melilitkan jari kelingkingnya di jari kelingking Yura.

“janji.” Dengan gerakan cepat Yura mencium pipi Luhan singkat dan langsung keluar dari mobil. Meninggalkan Luhan yang tertegun. Luhan masih belum bisa mencerna apa yang telah di lakukan oleh Yura. Ia memegang pipinya dan tersenyum simpul. Ia menatap punggung gadis itu yang semakin lama semakin menjauh.

“aku menyayangimu.”

**

“Yura aku pulang duluan ya. Soalnya ayahku sudah menjemput.” Mendengar nama ayah membuat Yura merindukan sosok ayah yang sudah menjaganya selama 13 tahun.  Raut wajah Yura berubah menjadi datar. Ia hanya menganggukan kepalanya berulang kali dengan pelan dan tersenyum simpul. Ia melihat kepergian Jang Mi sahabat yang baru di kenalnya saat di kelas barunya. Yura melihat Jang Mi dengan tatapan sendu saat Jang Mi memasuki mobil dan langsung pergi dengan ayahnya yang menggunakan mobil.

Warna langit sudah berubah warna menjadi jingga menandakan hari akan menjelang malam. Yura berdiri di depan gerbang sekolah dengan mata menerawang ke depan. Menunggu Luhan yang berjanji akan menjemputnya. Tidak lama kemudian ponselnya bergetar. Segera dia membuka kunci ponselnya yang berada di genggamannya dan membuka pesan yang baru saja masuk.

Maaf Yura aku sedang ada rapat. Bisakah kau pulang sendiri?

_Luhan ajeossi_

Suara decakan kesal keluar dari mulutnya setelah melihat pesan itu.

“selalu saja begini.” Ia langsung memasukkan ponselnya ke saku jas sekolahnya dan tak ada keinginan untuk membalas pesan Luhan.

Akhirnya Yura menyetopkan taxi dan memutuskan pulang dengan taxi.

**
Setelah sampai di rumah dia langsung turun dari taxi dan Pikiran Yura langsung tertuju ke Luhan. Ia membalikan tubuhnya dan memastikan mobil Luhan sudah berada di halam rumahnya atau belum. Ternyata Luhan belum pulang. Ia mendesah dan berjalan masuk dengan gontai saat salah satu pembantu rumah tangganya membukakan pintu gerbang rumah itu.

Ia berjalan menaiki anak tangga dan langsung masuk ke kamarnya yang berada di lantai dua. Di campakann tasnya di sembarang arah dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur dengan kasar.

“kenapa ajeossi belum pulang?” Ia bangkit dari tidurnya dan berjalan ke kamar mandi yang ada di kamarnya.

**

Jam di meja belajar Yura sudah menunjukan pukul 11 malam. Dan wanita itu sudah tertidur di atas meja belajarnya. Ia baru saja mengerjakan tugas dari sekolahnya. Sekolah seharian membuatnya lelah, akhirnya tanpa ia sadari Ia telah tertidur di atas meja belajar.

Suara knop pintu terdengar dari arah pintu Yura dan menampakan sosok Luhan yang masuk dengan baju kemejanya yang lengannya di gulung hingga sikut dan dasinya yang sudah tampak terlihat longggar. Ia mendekati Yura dan melihat wajah Yura dari arah dekat. Kedua lututnya di tumpuhkannya di lantai. Luhan berlutut di samping Yura yang sedang duduk di meja belajarnya sambil menopang kepalanya di atas meja belajar.

Tangan Luhan bergerak untuk membelai rambut serta pipi gadis itu.kedua sudut bibir Luhan tertarik. Ia tidak bisa menahan rasa bahagianya saat melihat malaikat kecilnya sudah berada di sampingnya.

“apa kau lelah?” Tanpa aba-aba Luhan bangkit dari posisinya dan menggendong gadis itu ala bridal style dan membawanya ke kasur yang terletak  di kamar itu juga. Yura masih terlelap dari tidurnya. Sama sekali ia tidak terganggu dengan gerakan Luhan yang baru saja menggendognya.

Luhan menyingkapkan selimut dan menutupi tubuh indah gadis itu. Membelai puncak kepala gadis itu dengan sangat lembutnya dan  Kecupan itu di berikan Luhan di dahi gadis itu. Senyum simpul sesekali terlukis di bibir Luhan. Ia beranjak dan meniggalkan gadis itu yang mungkin sudah terbang kealam fantasinya.

Setelah beberapa lama kepergian Luhan. Yura menggeliat pelan dan membukakan kedua matanya secara perlahan. Kedua maniknya di edarkannya untuk menelusur setiap sisi-sisi kamarnya. Dan wajahnya berubah bingung saat dia melihat tubuhnya sudah berada di tempat tidur dan juga sudah ada selimut yang membalut tubuhnya.

“siapa yang membawaku kesini?” Yura melihat kearah pintu kamarnya yang tertutup rapat. Kedua sudut bibirnya langsung tertarik setelah ia bergelut dengan pemikirannya sendiri.

Ia langsung bangkit dari kasur dan berlari keluar kamar. Ia membuka sebuah pintu yang berada di sebrang kamarnya. knop itu dia buka. Tapi Yura tidak langsung masuk. Dia mengintip situasi kamar itu sebentar dan mendapati Luhan yang sudah tertidur dengan posisi berbaring di atas kasurnya.

Perlahan dia mendekati kasur Luhan dan perlahan juga berbaring di samping Luhan dan memeluk lelaki yang tertidur itu. Luhan perlahan membuka matanya. Ia merasakan gerakan seseorang sedang melingkarkan tangan di pinggangnya, karena gadis itu memeluk pria itu dengan erat dan menopangkan kepalanya di dada Luhan. Seperti seseorang yang sudah lama sekali tidak pernah berjumpa.

Luhan mendongak melihat siapa orang yang sudah berada di sampingnya sambil memeluknya.

“Yura.”

“apa aku membangnkanmu?” Yura kini menelungkupkan tubuhnya di samping Luhan dan menatap Luhan sambil tersenyum manis.

“apa yang kau lakukan disini?” Tanya Luhan setelah lelaki itu membaringkan kepalanya kembali di atas bantal karena Yura sekarang sudah telungkup dan wajah mereka saling berhadapan.

“aku ingin tidur disini. Sudah lama aku tidak tidur denganmu, ajeossi.”

“kau ini sudah dewasa Yura. Sebaiknya kau kembali ke kamarmu.” Perintah Luhan.
Luhan hampir saja bangkit dari tidurnya kalau saja Yura tidak langsung memeluk tubuhnya dan menopangkan kepalanya kembali ke dada Luhan.

“aku tidak mau. Emangnya kenapa bila aku ingin tidur denganmu? Aku ini sangat merindukanmu.”

“merindukanku? Kita ini sering sekali berjumpa. Kenapa kau menjadi seperti ini?”

“aku menjadi seperti ini, karena tadi kau tidak jadi menjemputku.”

“maaf. Tadi aku ada rapat mendadak jadi aku tidak bisa menjemputmu.” Nada bicara Luhan terdengar lirih di pendengaran Yura.

“baiklah aku akan memaafkan ajeossi. Kalau saja kau tidak melarangku untuk tidur bersamamu.”

“tapi kau ini sudah dewasa. Apa kau tidak malu tidur bersamaku, huh?”

“tidak. Karena sudah lama sekali aku ingin tidur bersamamu. Terakhir kali aku tidur bersamamu saat umurku 15 tahun. Itupun tidak setiap hari”

“baiklah terserahmu saja.” Luhan tidak bisa bila tidak membalas pelukan Yura ketika mereka sedang tidur bersama. Akhirnya ia merangkul Yura. Melingkaran tangan kirinya di sela-sela leher Yura. Dan mendekap gadis itu dalam pelukan tidurnya.

“ajeossi.”

Luhan hanya berdehem menjawab panggilan Yura.

“sebenarnya aku takut jika harus kehilanganmu.”

“eoh.” Luhan langsung membuka kedua matanya dan mendongak melihat Yura yang berada di dadanya.

“iya. Aku juga tidak tahu kenapa akhir-akhir ini pikiran seperti itu selalu menghantuiku.” Yura semakin mempererat tangannya yang melingkar di bagian perut dan pinggang Luhan.

“jangan berpikiran seperti itu. Kita ini akan selalu bersama dan aku tidak akan meninggalkanmu jika kau juga tidak meninggalkanku.” Luhan semakin mempererat dekapannya. Ia juga berpikiran yang sama terhadap Yura. Ia selalu takut jika Yura mengetahui semuanya dan akan pergi meninggalkan dirinya begitu saja.

“bagaimana jika kau harus menikah dengan wanita lain? Apakah kau akan meninggalkanku demi wanita itu?” Pertanyaan yang selalu memenuhi rongga pikirannya itu kini telah di ungkapkannya kepada Luhan.

“tidak. Karena aku akan lebih memilihmu.” Luhan meyakinkan gadis itu jika dia sangat menyayangi Yura.

“benarkah?” Yura sampai saat ini masih belum meyakini sepenuhnya ucapan Luhan.

“apa kau tidak yakin terhadapku?” Kecupan yang sering ia berikan kepada Yura di berikannya lagi. Luhan mencium puncak kepala gadis itu sebagai tanda meyakinkan malaikat kecilnya.

“apa kau mencintaiku?” Yura sempat ragu saat menanyakan pertanyaan ini tapi ia harus menanyainya agar memastikan jika lelaki yang hidup selama 4 tahun bersamanya ini benar-benar menganggapnya lebih dari sekedar paman kepada keponakannya.

“sudahlah sebaiknya kau tidur. Aku sangat lelah. Dan ingat kau ini masih kecil jadi jangan pernah bicara soal cinta-cinta lagi dan jangan pernah jalan dengan pria sembarangan.”

Luhan masih ragu dengan hatinya karena di lain sisi dia tidak ingin kehilangan gadis itu karena dia sangat menyayanginya melebihi seorang paman kepada keponakannya tapi dia memikirkan kembali. Dia takut jika hatinya berubah jadi cinta dan takut membuat gadis itu semakin menyayanginya. Dia juga takut jika Yura mengetahui jika ayahnya mati karena tuduhan yang Luhan ajukan kepada ayahnya. Sebenarnya dari tatapan Luhan, lelaki itu menatap Yura sebagai seorang wanita bukan sebagai wanita kecil yang dianggapnya keponakan.Umur juga menjadi kendala di antara mereka berdua. Luhan sudah berusia 27 tahun sedangkan gadis itu baru berusia 17 tahun. Dan di tambah lagi status Yura yang memakai marganya dan mengakui Yura, bila gadis yang berada di dekapannya sekarang ini adalah keponakan kandungnya untuk menutupi identitas asli Yura. Dia sangat menyayangi gadis kecil yang selalu di anggapnya malaikat baginya. Ia tidak ingin melihat Yura menderita, sebisa mungkin dia melakukan apapun untuk membahagiakan Yura.

“baiklah.” Yura tau jawabannya akan seperti ini karena Luhan paling malas membahas soal ini. Akhirnya ia menutup kedua kelopak matanya mulai mengistirahatkan diri.

Luhan masih saja bergelut dengan pikirannya. Ia masih mencerna pertanyaan Yura tadi. Tangan kanannya bergerak membelai rambut Yura dengan lembut dan berusaha membuat gadis itu tertidur dalam dekapannya.

_TBC_

tolong tingglakan jejak ya setelah membacanya. terimakasih…….

 

33 pemikiran pada “Cry-Cry (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s