Empat Lima Huruf (Chapter 5)

Empat Lima Huruf – Chapter 5

 

Title                        : Empat Lima Huruf – Chapter 5

Author                    : Vio (@violarosaliya)

Main casts            : Oh Sehun, Aira Miranda

Supporting casts : Find it out through the stories

Genre                    : Romance, school life

Rated                     : General

Length                   : Multichapter

Disclaimer            : Fanfiction ini murni hasil karya author tanpa plagiat dari fiksi manapun.

Author’s note        : I hope you enjoy reading this fan fiction. Please leave comments after that. Every comment is so valuable for me. Thank you.

I also post this story on my blog tigahurufundertherain.blogspot.com

Summary              : Tidak mudah menyatakan cinta. Sungguh tidak mudah. Terkadang itu butuh waktu. Jangankan untuk menyatakannya, untuk menyadari dan meyakinkan diri bahwa hatimu telah lumpuh karenanya pun tidaklah semudah yang kau kira. Terkadang hati sulit menerima penolakan. Atau itu karena kau merasa tidak yakin pada hatinya. Hatinya yang mungkin juga jatuh pada hatimu.

(Author POV)

Sehun meringis. Sedikit merasa sakit saat segumpal kecil kapas dengan sedikit alkohol menyentuh sudut bibir kirinya. Tapi itu tidak seberapa bila dibandingkan dengan adegan setelah namja bernama Baekhyun itu memukulnya dengan keras. Ia terdiam. Omma terlihat khawatir melihat anaknya pulang dengan basah kuyup total dan terlihat beberapa bekas luka diwajahnya. Namun, ia menunda niatnya untuk bertanya lebih lanjut ada apa sebenarnya. Ia ingin Sehun sendiri yang memberitahunya. Iapun memilih untuk menyuruh anakknya itu untuk mandi lalu makan malam.

“Sehun-ah, langsung tidur ya. Sepertinya kau terlihat lelah” kata omma sambil mengelus rambut Sehun.

Sehun mengangguk dan iapun bangkit menuju kamarnya. Sebelum ia benar-benar naik menuju lantai dua ia memeluk ommanya itu dan mengatakan bahwa ibunya tidak perlu khawatir karena memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semuanya baik-baik saja. Ia juga tersenyum untuk meyakinkan.

Omma ada di bawah kalau kau perlu sesuatu ya. Selamat malam” ucap ibunya sambil mengecup kening anaknya itu.

Sehun beranjak menuju kamar tidurnya dan menghempaskan tubuhnya ke sebuah sofa besar menghadap keluar jendela memandang langit malam yang kosong. Hujan sudah berhenti tepat saat ia tiba dirumah pukul sembilan malam. Kembali ia meringis saat lukanya terasa sakit. It’s OK if it that’s it. Tapi seketika luka itu terasa sakit beberapa adegan flashback tepat di depan wajahnya seperti potongan film disertai beberapa kalimat yang semakin mengiang ditelinga saat ia mengingatnya.

 

(Sehun POV)

Oppa, apa yang sedang kau lakukan?” teriak Aira pada Baekhyun sebelum akhirnya dia jatuh pingsan di beranda rumah.

Itu kalimat terakhir yang aku ingat setelah aku dihadiahi satu tonjokan di wajahku yang akhirnya sedikit berdarah. Lelaki itu spontan tidak mempedulikan aku saat melihat Aira jatuh pingsan. Mungkin ia memang sudah kelelahan ditambah lagi dengan kondisi dimana kami benar-benar basah kuyup. Ia sudah terlihat tidak sehat tadi. Dan benar sekarang, lelaki itu sudah membopong tubuh Aira dan akan masuk kedalam.

“Kau lihat apa yang sudah kau lakukan padanya. Satu pukulan itu belum cukup” kata namja bernama Baekhyun itu sambil beranjak masuk dan membanting pintu tepat dihadapanku.

“Just be yourself, Sehun-ah. Be the one who make her happy”

Tiba-tiba saja kata-kata Kai pagi tadi ikut merengsek masuk kedalam ingatanku. Dan itu membuat aku marah. Marah pada diriku sendiri. Marah pada keadaan dimana aku gagal. Gagal. Failed. Totally failed. Bahkan untuk hal paling mudah yang mungkin bisa aku lakukan. Membuat yeoja itu senang dan bahagia saat ia bersamaku. Tapi apa yang sudah aku lakukan. Aku malah membuatnya jatuh sakit. Bahkan ia sampai tak sadarkan diri karena kondisi tubuhnya benar-benar lemah. Benar apa yang namja bernama Baekhyun itu katakan. Satu pukulan ini masih belum cukup.

Tenggorokanku terasa tercekat. Aku bangkit dari sofa menuju balkon. Mulai berpikir lagi. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang.

 

(Author POV)

Sehun masih menatap langit kosong dari balkon kamar.Ia terlihat bimbang. Disaat ia ragu akan perasaannya dan takut jika perasaannya mendapat penolakan, ia mendapat kekuatan untuk tidak hanya mempedulikan apa yang dia rasakan. Ia mencoba. Dengan sangat keras untuk memahami apa yang sebenarnya perasaan yang ia rasakan saat ini. Namun, disaat yang sama ia juga dihadapkan pada kondisi dimana ia harus berani. Berani untuk melanjutkan apa yang sudah ia mulai. Ia harus berani memperjuangkan. Memperjuangkan hati dan perasaannya apapun resiko yang harus dihadapinya. Atau mungkin dia akan menyerah begitu saja. Layaknya pengecut yang kalah bahkan sebelum peperangan dimulai.

 

(Kai POV)

Sehun tepat berdiri di tengah-tengah lantai paling atas sekolah. Matanyapun langsung melanglangbuana sejauh mungkin memantau lebih tepatnya mencari satu orang yang sejak ia melangkahkan kaki di sekolah sama sekali tidak terlihat. Dan aku berdiri disampingnya. Memperhatikan gerak-geriknya yang semakin lama semakin terlihat khawatir. Ia tiba-tiba berlari menuju lantai dua, mencoba mencari kelasnya, dan menanyakan hal yang dari tadi ia ingin tahu jawabannya. Setelah kurang lebih 5 menit ia keluar dan berjalan menuju kearahku di dekat tangga. Ia terlihat nelangsa. Seperti baru saja mendengar apa yang tidak ingin dia dengar. Wajahnya kusut. Aku tetap bisa melihat itu walaupun wajahnya masih tetap dalam cool mode. Ia hanya terdiam dan mengajakku kembali menuju kelas.

Selama pelajaran terakhir dan sekarang bel sudah berdentang dengan keras, ia sama sekali tidak berbicara satu katapun. Aku tau pasti ada yang salah sejak aku melihat satu bekas luka disudut bibirnya. Namun, aku memang tidak mau memaksanya untuk mengatakan apapun yang mungkin privasi baginya.

Saat turun dan melewati lapangan basket, ia berhenti sejenak lalu mengeluarkan sebuah bola basket dari dalam tasnya. Ia mengajakku bermain. Sepertinya ada yang mau ia katakan padaku. Ia menghempaskan kasar ranselnya ke pinggir lapangan. Akupun meletakkan tasku disana, melepaskan kancing lengan kemeja panjangku dan menyingsingkannya sampai ke siku. Pertandingan satu lawan satu akan segera dimulai. Tapi kami malah terlihat seperti akan adu jotos.

Sehun mulai mendribel bola beberapa kali dan terlihat akan memasukkannya ke dalam ring. Namun, dengan segera aku menghalanginya lalumencoba merebut bola. Dan berhasil. Aku mendapatkan mendapatkan poin pertamaku. Aku kembali akan memasukkan bola keduaku. Ia mencoba untuk merebut bola dengan kasar tapi ia terlihat tidak fokus. Dengan mudahnya aku menambah poin. Aku tersenyum menyeringai padanya dan mengangkat dua jariku menandakan aku sudah mendapat dua poin. Aku masih memegang kendali. Aku mendribel bola yang kemudian ia rebut sekenanya. Jelas gagal. Aku bermaksud untuk memasukkan bola ketiga namun aku malah melempar bola itu padanya.

“Ada apa?” tanyaku sudah tak sabar saat bola basket itu berada di genggamannya.

“Aku. . aku. .” jawabnya terbata-bata walaupun wajahnya terlihat mengeras menahan perasaannya yang entah sudah tertahan sejak kapan.

“Aku sudah gagal, Kai” katanya sambil kembali melempar bola itu padaku. Ia setengah berteriak setengah terisak meskipun air matanya tidak keluar.

“Gagal kenapa? Apa maksudmu? Ayolah Sehun-ah, kau sudah tidak menganggap aku temanmu lagi, huh?” tanyaku keras padanya.

“Aku sudah gagal, Kai. Aku sudah gagal melakukan bahkan hal kecil sekalipun untukknya. Kau bilang aku harus membuatnya bahagia, membuatnya tersenyum. Tapi apa yang sudah aku lakukan Kai. Aku membuatnya sakit. Aku biarkan dia kehujanan dan hari mulai malam, Kai. Kau tau apa yang paling membuatku sedih. Ia jatuh pingsan tepat di depan mataku dan aku tidak bisa melakukan apa-apa. Dan sekarang Ia terbaring di rumah sakit. Itu semua karena aku Kai. Aku tidak tahu kalau kondisi tubuhnya memang tidak benar-benar fit. Seharusnya kami langsung pulang sore itu” jawab Sehun keras. Matanya nanar menandakan dia sedang kehilangan fokus. Ia terduduk berlutut. Benar-benar terlihat dia merasakan penyesalan yang amat sangat.

“Kau sebaiknya cari tau yang sebenarnya. Mungkin saja dia hanya perlu perawatan. Tapi tidak untuk kondisi yang parah” aku mencoba menenangkannya.

Ia hanya terdiam. Aku berlalu. Membiarkan ia sendiri sejenak. Aku beranjak menuju kantin sekolah untuk membelikannya minuman. Saat aku kembali dia sudah tidak ada di sana. Yang tersisa hanya sebuah bola basket di tengah lapangan.

♪♪♪

(Author POV)

Namja itu terlihat berbeda hari ini. Ia mengenakan jeans hitam dan kemeja biru gelap berlengan panjang. Ia juga terlihat membawa satu buket bunga. Sekarang ia sedang berjalan di lorong sebuah rumah sakit menuju salah satu kamar di lantai dua. Wajahnya sama sekali tidak secerah bunga mawar yang sedang ia genggam. Ia lebih terlihat cemas. Jalannya sengaja ia lambatkan, sambil menimbang apakah ia seharusnya ada disini. Tapi ia sudah datang dan niatnya sudah bulat. Apapun yang terjadi disini beberapa saat lagi, ia tidak peduli. Yang ia tahu dia harus bertemu dengan yeoja itu. Akhirnya satu tangga terakhir membawanya menuju lantai dua rumah sakit yang asri itu. Rumah sakit berlantai dua ini tidak terlihat seperti rumah sakit karena didesain tidak seperti rumah sakit pada umumnya. Sekeliling rumah sakit terlihat hijau karena banyak ditumbuhi pepohonan besar yang meneduhkan. Begitu juga dengan di lantai dua ini, terdapat taman buatan yang berukuran kecil diatasnya terdapat atap transparan yang dapat dibuka dan ditutup sesuai cuaca.

“Kau sebaiknya cari tau yang sebenarnya. Mungkin saja dia hanya perlu perawatan. Tapi tidak untuk kondisi yang parah”

Ia teringat satu kalimat dari sahabatnya kemarin siang ketika menuruni tangga terakhir yang langsung menghadapkannya pada barisan pintu kamar perawatan. Ia mencoba tersenyum untuk menyembunyikan wajah cemasnya.

Berjalan beberapa langkah ia sampai di depan pintu kamar bernomor 21. Sempat ada perasaan ragu yang tiba-tiba datang ketika ia ingin mengetuk pintu kamar tersebut. Seketika ia urungkan saat melihat seorang namja yang sudah memelototinya sejak ia tiba di lorong lantai dua tadi. Mata mereka berdua bertemu dan terlihat seperti ada sorot persaingan diantara keduanya.

“Bisakah kita bicara sebentar, Sehun-ssi?” kata namja itu ketika ia juga sudah berada tepat di depan pintu. Kedua namja itu duduk di bangku kecil di dekat pintu kamar. Cukup lama mereka mengobrol, hampir sekitar 30 menit. Lalu namja itu pergi meninggalkan Sehun yang masih tidak tahu harus mengatakan apa. Sehun akhirnya mengetuk pintu kamar 21 dan mendapati seorang ibu sedang menyuapi yeoja yang ingin aku temui seperti anak perempuannya.

Yeoja itu tersenyum melihat kedatangan Sehun. Ibu itu juga seketika melihatku dan tersenyum, wajahnya mirip dengan namja yang baru saja ia temui di luar tadi.

“Tunggu sebentar, yaa . . “

“Sehun, Oh Sehun namanya, eomma” kata yeoja itu melanjutkan kalimat ahjumma yang terpotong.

“Oh, yaa. Tunggu sebentar ya Oh Sehun. Tinggal beberapa sendok lagi. Dia memang manja kalau sedang sakit. Ini buktinya, dia mau makan kalau aku suapi” katanyalagi.

“Jangan begitu, eomma. Aku kan jadi malu” kata sang yeoja sambil tersenyum malu memamerkan giginya yang putih. Sehun terlihat tersenyum. Ia senang akhirnya bisa bertemu dan melihatnya juga senyumnya. Ia senang yeoja itu baik-baik saja.

“Apa dia selalu begitu?” kata Sehun mulai ikut mencandai.

“Iya, dia selalu begitu saat sedang sakit” katanya sambil memberikan suapan terakhir dan air minum.

“Oke sudah selesai tuan putri, eomma keluar sebentar ya. Sehun tolong jaga Aira ya” katanya sambil beranjak keluar

Klep. Pintu ditutup.

 

(Sehun POV)

Sedikit merasa canggung setelah dua hari aku tidak bertemu dengannya namun tidak aku hiraukan perasaan bodoh itu. Aku sudah berjanji pada namja itu 40 menit yang lalu. Aku kembali teringat pada kata-katanya tadi.

“Ini kesempatan satu kali, aku tidak tahu kenapa aku bisa mengatakan ini padamu. Tapi jika satu kali saja aku anggap kau gagal di kesempatan ini. Maaf kau mungkin tidak hanya punya kesempatan lagi bahkan hanya untuk melihatnya” kata Baekhyun saat kami “mengobrol” di depan tadi.

Oppa, kenapa hanya berdiri disana? Ayo duduk disini” kata yeoja itu menunjuk kursi yang tadi diduduki eommanya. Aku pun duduk disana.

Gwenchana Aira-ssi?” itu kalimat pertama yang ada di pikiranku.

Ne, oppa. Aku baik-baik saja. Seperti yang kau lihat sekarang” katanya sambil tersenyum lebar menujukkan kalau dia baik-baik saja.

“Sebenarnya aku bisa dirawat dirumah, tapi eomma dan Baekhyun oppa terlalu khawatir makanya mereka membawaku agar dirawat disini” dia mulai bercerita.

“Maaf kalau waktu itu aku mengkhawatirkanmu. Maaf juga karena aku kau jadi dirawat disini sekarang” lanjutkupenuh rasa menyesal.

“Ah, tidak. Aku yang seharusnya minta maaf. Seharusnya kita langsung pulang kan sore itu. Tapi aku malah mengajakmu bermain sepeda” itu benar-benar kalimat yang ingin aku sampaikan padanya.

“Apa lukanya masih sakit, oppa?” dia malah bertanya.

“Ah, tidak. Ini bukan apa-apa buatku” kataku sambil memegang bekas lukaku membuatnya hampir tertawa.

“Bagaimana dengan skripdrama kita oppa? Sudah hampirdeadline kan?” tanyanya lagi.

“Dua hari yang lalu kan kita sudah menyelesaikan draftnya kan juga dialog antar karakter. Aku sudah menyelesaikan sisanya. Nanti aku perlihatkan padamu. Kalau sudah fix, bisa langsung kita serahkan pada Mrs. Kim” jelasku berharap dia tidak terlalu cemas pada tugas yang dibebankan pada kami itu.

Jinjjayo, oppa?” katanya tidak percaya.

“Yah, lagi-lagi aku merasa tidak enak padamu” ia memanyunkan bibirnya. Lucu sekali.

“Kau bisa mentraktirku es krim kalau kau mau” kataku berbasa-basi.

“Baiklah, oppa. Tapi nanti setelah aku keluar dari rumah sakit ya” katanya serius. Aku mengangguk disertai rasa kaget ternyata dia menanggapi dengan serius. Tapi mungkin itu ide yang bagus.

“Kapan kau keluar dari rumah sakit? Apa masih lama?” tanyaku.

“Besok sore mungkin. Ada apa?” katanya

“Ah, tidak. Bagus kalau bisa cepat pulang kerumah”

“Iya, oppa. Aku juga sudah bosan disini. Aku ingin masuk sekolah, bertemu dengan teman-teman, bertemu denganmu” katanya. Dengan sangat polos dan membuat aku seketika dalam beberapa detik terdiam. Seakan terlempar ke tumpukan awan.

“Umm . . . Apa boleh aku yang menjemput besok?”aku kembali bertanya.

“Kalau kau tidak sibuk sih aku senang kalau kau bisa menjemput besok”lanjutnya lagi. Aku bersyukur ia tidak melihat kegrogianku dibalik wajahku yang terlihat cool ini.

Kami sudah mengobrol cukup lama saat aku menyadari sesuatu yang aku pegang dari tadi.

“Apa itu untukku, oppa?” katanya menunjuk buket mawar yang sudah aku genggam hampir dua jam.

“Oh, ne” akupun memberikan bunga itu padanya sambil mengutuki diri dalam hati sungguh aku benar-benar sudah terlalu grogi. How come I forgot to give her that roses?

Gomawo, oppa. Bunganya cantik” katanya sambil mencium wangi bunga.

Aku hanya tersenyum. Sungguh aku sudah tak sanggup. Sepertinya benar apa yang Kai katakan. Dasar paranormal itu. Semakin lama aku bersamanya aku seperti tidak ingin setiap detik berlalu begitu saja.

Oppa, bisatolong kupaskan ini untukku?” katanya sambil memberikan sebuah jeruk mandarin padaku. For the first time in my life, aku begitu senang berada di sebuah kamar rumah sakit dan mengupaskan seseorang seperti ini.

Aku baru saja memberikan satu potong kecil jeruk ketika eomma Baekhyun kembali.

“Bagaimana, Sehun? Dia benar-benar manja kan?” katanya saat melihatku mengupaskan jeruk untuk Aira.

“Ah tidak merepotkan kok. Dia hanya sedikit membuatku harus mengupas jeruk, Eomoni” kataku membuat eomma  tertawa dan Aira manyun kembali.

“Tuh, betul kan apa yang eomma bilang tadi” katanya sambil menutup jendela besar yang menghadap ke halaman utama rumah sakit. Ternyata hari sudah beranjak malam. Sekarang sudah tepat jam tujuh malam.

Eomoni, aku pamit pulang. Sudah malam, mungkin Aira mau istirahat. Aku tidak mau mengganggu” kataku berpamitan.

“Oya? Sudah mau pulang? Terima kasih ya sudah menjenguk Aira” katanya ramah.

“Aku pulang ya” kataku pada Aira.

“Bye, oppa. Hati-hati dijalan. Terima kasih untuk ini” katanya sambil menunjuk bunga mawar yang sudah berada di dalam vas kaca sekarang.

Aku mengangguk lalu melambaikan tangan padanya.

What a beautiful night.

Aku berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Aku berikan poin 90 untuk rumah sakit ini. Suasananya yang asri, lingkungannya yang bersih, dan kesan horror rumah sakit benar-benar tidak tampak. Tiba-tiba aku teringat pada sahabat paranormalku itu. Aku mencoba meneleponnya untuk sekedar memberitahukan bahwa ramalannya itu benar. Pasti dia akan lagi-lagi tertawa sangat keras nantinya. Tapi ya sudahlah. Aku sudah biasa pada sikapnya yang aneh itu. Satu kali aku coba meneleponnya, namun tidak ada jawaban. Kedua dan ketiga kali dia tidak mengangkat telepon membuatku sedikit khawatir.

“Mungkin aku harus kerumahnya”

 

(Author POV)

Sehun terlihat setengah berlari menuju pelataran parkir rumah sakit. Ia sedikit bertanya-tanya kenapa Kai sama sekali tidak mengangkat telponnya. Ia memacu BMWnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Kai. KemudianIa berpikir untuk mengajak Kyungsoo. Iapun membelokkan mobilnya ke jalur kiri sebelum menuju rumah Kai. Ia membanting pintu mobil dengan keras ketika sampai di depan rumah Kyungsoo lalu membuka pagar dan mengetuk rumah mungil itu. Aku sudah mengetuk rumah beberapa kali.

“Kyungsoo, apa kau dirumah?” aku putuskan untuk berteriak karena tidak ada jawaban sama sekali dari dalam rumah dan pintu tidak juga dibuka.

“Apa terjadi sesuatu pada mereka berdua?” katanya dalam hati.

Sehunpun mencoba sekali lagi mengetuk pintu. Bila masih tidak ada jawaban ia memutuskan untuk langsung menuju rumah Kai. Tiba-tiba terdengar suara omelan khas Kyungsoo dari dalam.

“Yaa, Sehun-ah. Apa bisa satu hari saja kau dan juga Kai tidak berteriak di sekelilingku?” dia mulai mengomel lagi.

“Jam berapa sekarang? Ada apa kau kesini malam-malam?” tanyanya masih mengenakan kacamata. Kelihatan ia tertidur ketika sedang belajar. Ia juga memegang sebuah pensil di tangan kanannya.

“Kyungsoo, kau ketiduran ya? Sekarang masih jam sembilan malam. Aku kesini mencari Kai. Apa dia ada disini?” tanyaku dengan sangat cepat. Ia terlihat tidak mengerti.

“Tunggu sebentar, Sehun. Tolong bicara dengan jelas dan pelan” katanya meminta Sehun berbicara dengan tenang.

“Kita tidak punya waktu, Kyungsoo. Aku akan jelaskan di jalan. Cepat bersiap-siap kita akan kerumahnya sekarang” Sehun memerintah Kyungsoo.

Ia. menurut. Baru kali ini ia melihat Sehun sekhawatir itu. Kyungsoo masuk ke dalam rumah untuk berpamitan pada eommanya dan mengambil sebuah hoodie berwarna hitam.

 

(Sehun POV)

“Cepat jelaskan ada apa, Sehun?” dia langsung menuntut janjiku tadi saat kami baru saja masuk ke mobil.

“Aku tadi mencoba meneleponnya beberapa kali. Namun ia sama sekali tidak menjawab satupun telponku. Tidak biasanya kan dia seperti ini?” kataku pada Kyungsoo.

“Apa kau serius? Dia sibuk mungkin Sehun. Kau khawatir berlebihan” katanya lagi sambil mengenakan hoodienya.

“Ya, aku serius, Do Kyungsoo.  Apa pernah kau melihat aku sekhawatir ini padanya? Dia bilang hari ini dia ada janji dengan yeoja itu kan?” tanyaku

“Iya. Tapi apa ada sesuatu yang salah dengan yeoja itu?” ia balik bertanya.

“Dia tidak mengatakan secara detail. Tapi dia akan cerita pada kita nanti. Kai hanya mengatakan yeoja itu punya masalah dengan mantan kekasihnya yang suka memukulnya” kataku bergidik.

“Aku mulai khawatir, Sehun. Ayo cepat kita kerumahnya sekarang” kata Kyungsoo lagi. Ia mulai terlihat khawatir.

Aku memacu laju mobil dengan kecepatan cukup tinggi menuju komplek rumah Kai. Setelah 10 menit berkendara kami akhirnya memasuki komplek perumahan dan sampai di depan rumah Kai. Kami bergegas keluar dan dengan sedikit panik langsung menuju beranda. Dan ternyata So Ra noona sedang berbincang dengan seorang namja.

Kami berdua terburu-buru keluar dari mobil lalu menyapa So Ra noona dan namja bernama Kris itu ketika kami tiba di beranda rumah Kai.

“Ada apa Sehun, Kyungsoo? Kalian sepertinya terburu-buru” tanya So Ra pada mereka berdua.

“Kai, noona . . .” kata Kyungsoo

“Sayang sekali dia belum pulang sampai sekarang” kata So Ra noona lagi.

“Apa kau sudah mencoba meneleponnya?” tanyaku.

“Aku sudah mencoba menghubunginya beberapa kali tapi dia sama sekali tidak menjawab” lanjutku.

“Lalu? Kau jangan coba membuatku khawatir, Sehun” katanya lagi. Ia mulai terlihat mengkhawatirkan adiknya.

Ia terlihat mengeluarkan Iphone putihnya dan melakukan panggilan ke nomor Kai. Namun ia tidak bisa menjangkau nomor Kai. Ia terlihat semakin khawatir. Namja bernama Kris itu berusaha membuatnya tenang. Ia lalu mengajakku untuk mencari Kai dan Eun Hee di sekitar taman. Dan menyuruhku untuk menemani So Ra noona.

Omoo, Kaii” ia berteriak histeris ketika melihat dua sosok memasuki halaman rumah.

t0 be continue

5 pemikiran pada “Empat Lima Huruf (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s